Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

PEMBUATAN SENYAWA KOORDINASI [Ni{NH3}6]I2

KELOMPOK : 2

ELSE YUSNAINI 06101381419052

FAZITA APRITAMA 06101281419036

DUWI AGUSTINA 06101381419054

AFAF LAUDITTA 06101381419048

TYSA DWINTA 06101381419051

DAHLIA 06101381419044

PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
I. PERCOBAAN KE- : 4 (empat)
II. JUDUL PERCOBAAN : PEMBUATAN SENYAWA KOORDINASI,
[Ni{NH3}6]I2
III. TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari pembuatan senyawa koordinasi
[Ni{NH3}6]I2
IV. DASAR TEORI

Senyawa koordinasi adalah senyawa yang mengandung satu atau lebih ion
kompleks dengan sejumlah kecil molekul atau ion di seputar atom atau ion logam
pusat, biasanya dari logam golongna transisi. Ligan adalah molekul atau ion yang
terikat pada kation logam transisi. Interaksi antara kation logam transisi dengan
ligan merupakan reaksi asam-basa Lewis. Menurut Lewis, ligan merupakan basa
Lewis yang berperan sebagai spesi pendonor (donator) elektron. Sementara itu,
kation logam transisi merupakan asam Lewis yang berperan sebagai spesi
penerima (akseptor) elektron. Dengan demikian, terjadi ikatan kovalen koordinasi
(datif) antara ligan dengan kation logam transisi pada proses pembentukan ion
kompleks. Kation logam transisi kekurangan elektron, sedangkan ligan memiliki
sekurangnya sepasang elektron bebas (PEB). Beberapa contoh molekul yang
dapat berperan sebagai ligan adalah H2O, NH3, CO, dan ion Cl- (Chang, 2005).

Senyawa kompleks adalah senyawa yang terdiri dari satu atom pusat atau
lebih yang menerima sumbangan pasangan elektron dari atom lain, gugus atom
penyumbang elektron ini disebut ligan (Pudyaatmaka, 2002).

Ligan didalam ion kompleks berupa ion-ion negatif seperti F - dan CN-atau
berupa molekul-molekul polar dengan muatan negatifnya mengarah pada ion
pusat seperti H2O atau NH3 (Sukardjo, 1997).

Ligan seperti I-, NH3, CN- hanya memiliki satu atom donor pasangan
elektron, dan disebut monodentat. Ligan yang mempunyai atom donor lebih dari
satu disebut multidentat. Bidentat kalau punya dua donor, terdentat bila tiga,
kuadridentat, pentadentat, dan seterusnya bila mempunyai atom donor pasangan
elektron sebanyak 4,5,6. Contoh ligan bidentat adalah etilen diamin, H2N-
CH2CH2-NH2 yang memiliki dua atom donor yaitu kedua atom N dan 8-
hidroksikuinolin (oksin). Sedangkan ligan polidentat contohnya adalah EDTA
yang memiliki enam buah atom donor pasangan elektron yaitu melalui kedua
atom N dan keempat atom O (dari OH) (Harjadi, 1990).

Satu ion (molekul) kompleks terdiri dari satu atom pusat dengan sejumlah
ligan yang terikat erat dengan atom pusat. Atom pusat ditandai dengan bilangan
koordinasi. Suatu angka bulat yang ditunjukkan dengan ligan monodentat yang
dapat membentuk kompleks stabil dengan atom pusat. Pembentukan kompleks
dalam analisis anorganik kualitatif sering trelihat dalam pemisahan dan
identifikasi. Salah satu fenomena yang paling umum muncul jika ion kompleks
terbentuk adalah adanya perubahan warna d dalam larutan. Fenomena lain yang
yang terlihat jika adalah kenaikan kelarutan. Banyak endapan yang dapat melarut
karena pembentukan kompleks (Vogel, 1985).

Kemampuan ion kompleks melakukan reaksi yang mengahasilkan


pergantian satu atau lebih ligan dalam lingkungan koordinasinya oleh yang lain
disebut kelabilan. Kompleks inert adalah yang reaksi pergantian ligannyacukup
lambat. Dengan cara memasukkan bersama-sama zat pereaksi di dalam wadah
(Cotton, 1989).

Proses pembentukan senyawa kompleks koordinasi adalah perpindahan


satu atau lebih pasangan elektron dari ligan ke ion logam. Jadi, ligan bertindak
sebagai pemberi elektron dan ion logam sebagai penerima elektron. Sebagai
akibat dari perpindahan kerapatan elektron ini, pasangan elektron menjadi
kepunyaan bersama antara ion logam dan ligan, sehingga terbentuk ikatan
pemberi penerima elektron. Keadaan-keadaan antara mungkin saja terjadi, namun
jika pasangan elektron itu terikat kuat pada kedua sarah tersebut, maka ikatan
kovalen sejati dapat terbentuk. Bergantung pada susunan elektronnya, ion logam
dapat menerima sejumlah pasangan elektron, sehingga ion logam itu dapat
berikatan koordinasi dengan sejumlah ligan. Jumlah ligan yang dapat diikat oleh
ion logam itu disebut bilangan koordinasi senyawa kompleks (Sunarya, 2003).

Bilangan koordinasi adalah jumlah ligan yang terikat pada kation logam
transisi. Sebagai contoh, bilangan koordinasi Ag+ pada ion [Ag(NH3)2]+ adalah
dua, bilangan koordinasi Cu2+ pada ion [Cu(NH3)4]2+ adalah empat, dan bilangan
koordinasi Fe3+ pada ion [Fe(CN)6]3- adalah enam. Bilangan koordinasi yang
sering dijumpai adalah 4 dan 6 (Chang, 2005).
Muatan ion kompleks adalah penjumlahan dari muatan kation logam
transisi dengan ligan yang mengelilinginya. Sebagai contoh, pada ion [PtCl6]2-,
bilangan oksidasi masing-masing ligan (ion Cl-) adalah -1. Dengan demikian,
bilangan oksidasi Pt (kation logam transisi) adalah +4. Contoh lain, pada ion
[Cu(NH3)4]2+, bilangan oksidasi masing-masing ligan (molekul NH3) adalah 0
(nol). Dengan demikian, bilangan oksidasi Cu (kation logam transisi) adalah +2.
Berikut ini adalah beberapa aturan yang berlaku dalam penamaan suatu
ion kompleks maupun senyawa kompleks :
1. Penamaan kation mendahului anion; sama seperti penamaan senyawa
ionik pada umumnya.
2. Dalam ion kompleks, nama ligan disusun menurut urutan abjad, kemudian
dilanjutkan dengan nama kation logam transisi.
3. Nama ligan yang sering terlibat dalam pembentukan ion kompleks dapat
dilihat pada Tabel Nama Ligan.
4. Ketika beberapa ligan sejenis terdapat dalam ion kompleks, digunakan
awalan di-, tri, tetra-, penta-, heksa-, dan sebagainya.
5. Bilangan oksidasi kation logam transisi dinyatakan dalam bilangan
Romawi.
6. Ketika ion kompleks bermuatan negatif, nama kation logam transisi diberi
akhiran at. Nama kation logam transisi pada ion kompleks bermuatan
negatif dapat dilihat pada Tabel Nama (Sukadjo, 1992).

Senyawa Nikel(II)
Sebagian besar senyawa kompleks nikel mengadopsi struktur geometri
oktahedrom, hanya sedikit mengadopsi geometri tertrahedron dan bujursangkar.
Ion heksaakuanikel(II) berwarna hijau; penambahan amonia menghasilkan ion
biru heksaaminanikel(II) menurut persamaan reaksi :
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 6NH3 (aq) [Ni(NH3)6]2+ (aq) + 6H2O (l)
Penambahan larutan ion hidroksida ke dalam larutan garam nikel(II)
menghasilkan endapan gelatin hijau nikel(II) hidroksida menurut persamaan
reaksi:
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 2OH- [Ni(OH)2] (s) + 6H2O (l)
Seperti halnya kobalt(II), kompleks yang lazim mengadopsi geometri
tertrahedron yaitu halide, misalnya ion tertrakloronikelat(II) yang berwarna biru.
Senyawa kompleks ini terbentuk dari penambahan HCl pekat kedalam larutan
garam nikel(II) dala air menurut persamaan reaksi:
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 4Cl- (aq) [NiCl4]2- (aq) + 6H2O (l)
Hijau biru
Senyawa kompleks nikel(II) bujursangkar yang umum dikenal yaitu ion
tetrasianonikelat(II). [Ni(CN)4]2-, yang berwarna kuning, dan bis
(dimetilglioksimato) nikel(II), [Ni(C4N2O2H7)2] yang berwarna merah pink. Warna
yang karakteristik pada kompleks yang di kedua ini merupakan reaksi penguji
terhadap ion nikel(II) ; senyawa kompleks ini dapat diperoleh dari penambahan
larutan dimetilglikosim (C4N2O2H8 = DMGH) ke dalam larutan nikel(II) yang
dibuat tepat basa dengan penambahan amonia menurut persamaan reaksi:
[Ni(H2O)6]2+ (aq) + 2DMGH (aq) + 2OH- [Ni(DMG)2] (s) + 8H2O (l)

a. Sifat-Sifat
Nikel berwarna putih keperak-perakan dengan pemolesan tingkat tinggi.
Bersifat keras, mudah ditempa, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor
yang agak baik terhadap panas dan listrik. Nikel tergolong dalam grup logam besi-
kobal, yang dapat menghasilkan alloy yang sangat berharga.

b. Kegunaan
Nikel digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan baja tahan karat
dan alloy lain yang bersifat tahan korosi, seperti Invar, Monel, Inconel, dan
Hastelloys. Alloy tembaga-nikel berbentuk tabung banyak digunakan untuk
pembuatan instalasi proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi
air segar.
Nikel, digunakan untuk membuat uang koin,dan baja nikel untuk melapisi
senjata dan ruangan besi (deposit di bank), dan nikel yang sangat halus, digunakan
sebagai katalis untuk menghidrogenasi minyak sayur (menjadikannya padat).
Nikel juga digunakan dalam keramik, pembuatan magnet Alnico dan baterai
penyimpanan Edison.

Senyawa Iodida
Ditemukan oleh Courtois ada tahun 1811. Iod tergolong unsur halogen,
terdapat dalam bentuk iodida dari air laut yang terasimilasi dengan rumput laut,
sendawa Chili, tanah kaya nitrat (dikenal sebagai kalis, yakni batuan sedimen
kalsium karbonat yang keras), air garam dari air laut yang disimpan, dan di dalam
air payau dari sumur minyak dan garam. Iod atau Yodium yang sangat murni
dapat diperoleh dengan mereaksikan kalium iodida dengan tembaga sulfat. Ada
pula metode lainnya yang sudah dikembangkan.

a. Sifat-sifat
Iod adalah padatan berkilauan berwarna hitam kebiru-biruan, menguap
pada suhu kamar menjadi gas ungu biru dengan bau menyengat. Iod membentuk
senyawa dengan banyak unsur, tapi tidak sereaktif halogen lainnya, yang
kemudian menggeser iodida. Iod menunjukkan sifat-sifat menyerupai logam. Iod
mudah larut dalam kloroform, karbon tetraklorida, atau karbon disulfida yang
kemudian membentuk larutan berwarna ungu yang indah. Iod hanya sedikit larut
dalam air. Ada 30 isotop yang sudah dikenali. Tapi hanya satu isotop yang stabil,
127 131
I yang terdapat di alam. Isotop buatan I, memiliki masa paruh waktu 8 hari,
dan digunakan dalam proses penyembuhan kelenjar tiroid. Senyawa yang paling
umum adalah iodida dari natrium dan kalium (KI), juga senyawa iodatnya
(KIO3). Kekurangan iod dapat menyebabkan penyakit gondok.

b. Kegunaan
Senyawa iod sangat penting dalam kimia organik dan sangat berguna
dalam dunia pengobatan. Iodida dan tiroksin yang mengandung iod, digunakan
sebagai obat, dan sebagai larutan KI dan iod dalam alkohol digunakan sebagai
pembalut luar. Kalium iodida juga digunakan dalam fotografi. Warna biru tua
dengan larutan kanji merupakan karakteristik unsur bebas iod.

V. ALAT DAN BAHAN


Beaker gelas 100 mL
Batang pengaduk
Corong Hirsch
Kertas saring
Silinder pengukur 10 mL
H2O2 3%
Ammonia 1 M
Etanol
Nikel klorida heksahidrat
Potassium iodide
Indikator amilum
Tabung reaksi dengan label
VI. PROSEDUR KERJA

Larutkan 1 gr nikel Letakkan dalam lemari Tambahkan 2,6 gr


klorida heksahidrat asap + 10 ml larutan potasium iodida
dalam beker gelas berisi NH3 pekat (15M)
5 ml air

Keringkan kristal
Pindahkan kelebihan diudara terbuka Kumpulkan kristal
pelarut dengan dalam corong Hirsch,
menekan kristal cuci 2x dengan 2 ml
diantara 2 kertas saring Pindahkan kristal etanol 1:1 + 2 ml
kering dalam kertas etanol
saring

Pindahkan hasil ketabung


yang telah ditimbang. Lakukan tes pengujian
Timbang berat tabung + adanya ion nikel dengan
isi dan hitung persentase cara
berat yang dihasilkan

Larutkan sedikit sampel


Lakukan tes pengujian
(~0,001 gr dalam 0,5 ml
adanya ion iodide dengan
air) tambah 2 tetes
cara
larutan NH3 5 M

Larutkan sedikit sampel


Tambah 5 tetes larutan
(~0,001 gr dalam 0,5 ml
dimetil glioksim, maka
air) dan asamkan dengan
akan terbentuk
2 tetes larutan H2SO4 5 M
endapan merah
stawberry bila
Tambah larutan H2O2 3% uji mengandung nikel (II)
dengan larutan amilum.
Timbul warna biru
kehitaman menunjukkan
adanya iodin
VII. HASIL PENGAMATAN

NO PROSEDUR HASIL PENGAMATAN


1. 1 gr nikel klorida + 5 mL air Nikel klorida (hijau) + air (tak
berwarna) nikel larut dalam air
dan larutan berwarna hijau.

2. Campuran no.1 + 10 mL NH3 15 M Campuran (hijau) + NH3 (tak


berwarna) larutan berubah
menjadi berwarna biru.

3. Campuran no.2 + KI 2,6 gr Campuran (biru) + KI (s) (putih)


Diamkan beberapa menit larutan terpisah menjadi 2
bagian. Bagian atas berwarna biru
dan bawah terdapat endapan kristal
ungu

4. Kristal disaring dan dicuci dengan Filtrat berwarna biru terang dan
etanol 1:1 + 2 ml etanol terdapat endapan ungu

5. Kristal dikeringkan beberapa menit Kristal mengering dan tetap


berwarna ungu

6. Pindahkan kristal kering dalam kertas Kristal kering


saring

7. Pindahkan kelebihan pelarut dengan Kristal menjadi lebih kering


menekan Kristal diantara 2 lembar
kertas saring.

8. Pindahkan kristal pada wadah dan Hasil timbangan:


ditimbang. - Kertas saring = 0,368 gr
- Kertas saring + kristal =
1,308 gr
Berat kristal = 1,308 gr - 0,368 gr
= 0,94 gr

9. Uji ion nikel Larutan berwarna ungu dan


0,1 gr kristal larutkan dalam 0,5 mL endapan berwarna merah
air + 2 tetes NH3 + 5 tetes dimetil strawberry yang menandakan
glioksim. adanya ion nikel dalam campuran
larutan tersebut

10. Uji ion iodin larutan berwarna biru kehitaman


0,1 gr kristal larutkan dalam 0,5 mL yang menandakan adanya ion
air + 2 tetes H2SO4 5 M + H2O2 3% iodide dalam campuran larutan
dan uji dengan indikator amilum tersebut
VIII. MEKANISME REAKSI

Reaksi Pembentukan Senyawa Koordinasi


NiCl3 (s) + 6H2O (s) NiCl3.6H2O (aq)

NiCl3.6H2O (aq) Ni 3+ (aq) + 3Cl- (aq) + 6H2O (aq)


Ni 2+ (aq) + 2NH3 (aq) + 2H2O (aq) Ni(OH)2 (s) + 2NH4- (aq)

Ni(OH)2 (s) + 6NH3 (aq) [Ni{NH3}6] 2+ (aq) + 2OH- (aq)


[Ni(NH3)] 2+ (aq) + 2KI (aq) + 2OH- (aq) [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2KOH (aq)

Pengujian Ion Nikel


[Ni{NH3}6]I2 (s) + 2H2O (l) + NH3 (aq) Ni 2+ (aq) + 7NH3 (aq) + 2I- (aq) +
2OH-(aq) + 2H+(aq)

CH3-C=N-OH
Ni 2+(aq) + 2 + 2OH- (aq) Ni(C4H7N2O2)2 (s) + 2H2O(l)
CH3-C=N-OH (aq)
(dimetil glioksim) (nikel dimetil glioksim)

Pengujian Ion Iod


[Ni{NH3}6]I2(s) + H2O(l) + H2SO4(aq) [Ni{NH3}6]2+(s) + 2I- (aq) + H2SO4(aq) +
H2O (aq)
- +
H2O2 (aq) + 2I (aq) + 2H (aq) I2 (aq) + 2H2O (aq)
IX. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai pembuatan
senyawa koordinasi. Percobaan pembuatan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2 ini
bertujuan untuk mempelajari langkah-langkah pembuatan senyawa koordinasi.
Selain itu, melalui percobaan ini dilakukan pengujian nikel dan iodin pada
senyawa koordinasi yang akan dibuat. Pertama, melarutkan serbuk nikel klorida
dalam aquadest sehingga membentuk larutan berwarna hijau (NiCl3.6H2O).
Serbuk nikel klorida dapat larut dalam air dikarenakan nikel klorida bersifat polar,
sehingga akan larut dalam pelarut yang polar juga. Setelah nikel klorida larut
dalam air, larutan nikel klorida ini lama-kelamaan terionisasi menjadi ion Ni 3+ dan
Cl- dengan reaksi sebagai berikut :
NiCl3 (s) + 6H2O (s) NiCl3.6H2O (aq)
NiCl3.6H2O (aq) Ni 3+ (aq) + 3Cl- (aq) + 6H2O (aq)
Nikel klorida yang larut dalam air akan menghasilkan larutan berwarna hijau.
Selanjutnya larutan tersebut di tambahkan dengan larutan NH 3 pekat 15 M dan
menghasilkan larutan yang berwarna biru. Warna biru yang dihasilkan merupakan
reaksi antara Nikel (II) hidroksida dan Ammonia pekat yang menghasilkan
senyawa kompleks [Ni{NH3}6] 2+.
Ni 2+ (aq) + 2NH3 (aq) + 2H2O (aq) Ni(OH)2 (s) + 2NH4- (aq)

Ni(OH)2 (s) + 6NH3 (aq) [Ni{NH3}6] 2+ (aq) + 2OH- (aq)


Kemudian campuran ditambahkan lagi dengan KI sebanyak 2,6 gram
menghasilkan larutan yang berwarna ungu, lalu didiamkan beberapa menit
sehingga terlihat adanya endapan atau kristal yang berwarna ungu sedangkan
larutannya tidak berwarna. Kristal yang terbentuk inilah yang merupakan
senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2. Pada saat direaksikan, ion heksa amin nikel (II)
yang bermuatan +2 ini akan berikatan dengan ion iodide yang berasal dari kalium
iodide dan menghasilkan senyawa koordinasi [Ni{NH3}6]I2 yang berupa kristal
ungu. Dengan reaksi:
[Ni{NH3}6] 2+ (aq) + 2OH- + 2KI (s) [Ni{NH3}6]I2 (s) + 2KOH (aq)
Karena produk utama yang inginkan adalah kristal [Ni{NH3}6]I2, maka dilakukan
penyaringan untuk memisahkan endapan tersebut dari filtratnya. Untuk
mendapatkan kristal yang lebih murni, dilakukan dua kali pencucian dengan
menggunakan etanol. Etanol disini befungsi sebagai pelarut. Etanol memiliki titik
didih rendah sehingga mudah menguap dan mengakibatkan mudah tebentuknya
kristal. Selain itu, etanol tidak bereaksi dengan endapan yang didapatkan. Larutan
etanol ini akan membersihkan kristal-kristal [Ni{NH3}6]I2 yang terbentuk dengan
mengikat sisa-sisa air dan KOH yang tersisa pada endapan tersebut. Setelah itu,
kristal diangin-anginkan untuk menghilangan sisa-sisa air yang masih terkandung
dalam kristal. Karena kristal belum kering maka kristal diletakkan dikertas saring
dan ditekan-tekan diantara dua lembar kertas saring sampai benar-benar kering.
Setelah benar-benar kering, kristal ditimbang dan dihitung persentase beratnya.
Setelah ditimbang, didapatkan kristal [Ni{NH3}6]I2 sebanyak 0,94 gr.
Selanjutnya adalah uji ion nikel, ke dalam kristal [Ni(NH3)6]I2 yang
terlebih dulu dilarutkan dalam air ditambahkan larutan ammonia dan dimetil
glioksim. Penambahan ammonia disini adalah agar larutan berada dalam suasana
basa sehingga akan memepercepat terbentuknya endapan nikel. Sedangkan dimetil
glioksim berfungsi sebagai indikator yang menunjukan adanya ion nikel dengan
munculnya warna merah strawberry. Pada praktikum kami, endapan yang
dihasilkan dari reaksi ini adalah endapan berwarna merah strawberry. Endapan
merah strawberry ini menunjukkan adanya ion nikel dalam larutan itu. Endapan
merah ini terbentuk dari larutan yang tepat basa dengan ammonia. Endapan ini
adalah nikel dimetilglioksim dengan rumus Ni(C4H7N2O2)3.
Dengan reaksi:
CH3-C=N-OH
2+
Ni (aq) +2 + 2OH- (aq) Ni(C4H7N2O2)2 (s) + 2H2O(l)
CH3-C=N-OH (aq)
(dimetil glioksim) (nikel dimetil glioksim)

Terakhir adalah uji iodide, kristal [Ni(NH 3)6]I2 yang telah dilarutkan ke
dalam air lalu ditambahkan dengan asam sulfat. Ketika ditambahkan dengan asam
sulfat endapan yang terbentuk sedikit larut. Fungsi asam sulfat disini sebagai
pemberi suasana asam pada larutan, sehingga akan mudah dioksidasi menjadi iod
bebas dengan sejumlah zat pengoksidasi. Kemudian ditambahkan larutan H2O2
3%, ketika ditambahkan dengan H2O2 3% perubahan warna biru yang dihasilkan
menjadi lebih pekat dan berubah menjadi coklat tua. H2O2 berfungsi sebagai zat
pengoksidasi yang mngoksidasi kristal [Ni(NH3)6]I2 menjadi iod bebas.
Selanjutnya ditambahkan dengan larutan amilum. Larutan amilum berfungsi
sebagai indikator. Setelah ditambahkan amilum, larutan berubah warna menjadi
biru kehitaman. Warna inilah yang menunjukkan adanya ion iodide pada larutan
tersebut.

X. KESIMPULAN
1. Pembuatan senyawa koordinasi [Ni(NH3)6]I2 adalah dengan proses
kristalisasi.
2. Etanol berfungsi untuk mengikat sisa air dan larutan lain yang masih
terkandung dalam kristal.
3. Endapan berwarna merah strawberry pada uji ion nikel menunjukkan
adanya ion nikel dalam larutan.
4. Ammonia pada uji nikel berfungsi sebagai pemberi suasana basa.
5. Larutan berwarna biru kehitaman setelah ditambahkan indikator amilum
pada uji iodide menunjukkan adanya ion iodide pada larutan tersebut.
6. Fungsi asam sulfat sebagai pemberi suasana asam pada larutan, sehingga
akan mudah dioksidasi menjadi iod bebas dengan sejumlah zat
pengiksidasi.
7. Kristal [Ni{NH3}6]I2 yang dihasilkan adalah sebanyak 0,94 gr.

DAFTAR PUSTAKA

Azzahra, Fleur. 2011. Pembuatan Senyawa Koordinasi, [Ni(NH3)6]I2, (Online).


(http://fleurazzahra.blogspot.com/2011/12/pembuatan-senyawa-
koordinasi-ninh36i2.html. (diakses 25 Februari 2017).
Chang, raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.

Cotton, F. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: UI.

Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.

Munika. 2011. Percobaan 4 Pembentukan Senyawa Koordinasi, (Online).


(http://www.scribd.com/document_downloads/direct/69964588?
extension=docx&ft=13947145. (Dikases 25 Februari 2017).

Pudyaatmaka, Ahmad. 2002. Kamus Kimia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sunarya, Yayan. 2003. Ikatan Kimia. Bandung: JICA.

Sukadjo. 1992. Kimia Fisik. Jakarta: Rineka Cipta.

Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro.
Jakarta: Media Pustaka.

LAMPIRAN