Anda di halaman 1dari 10

BAB V

DIFUSI GAS BINER

A. TUJUAN
1. Mempelajari difusi suatu spesies di dalam suatu campuran gas biner.
2. Membandingkan waktu difusi antara percobaan dengan perhitungan
teoritis.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi difusi suatu larutan gas
biner.

B. DASAR TEORI
Difusi merupakan peristiwa perpindahan massa yang berpindah dari
suatu keadaan yang memiliki konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.
Perpindahan massa yang terjadi dapat berlangsung dalam fasa gas
maupun dalam fasa cair. Peristiwa difusi akan terus berlangsung hingga
tercapainya kondisi kesetimbangan antara dua keadaan dimana
sebelumnya terdapat perbedaan besarnya konsentrasi suatu komponen
pada masing-masing keadaan.
(Mc Cabe, Unit Operation of Chemical Engineering edisi ke-5, 1993, hlm. 647)
Difusi molekular dapat didefinisikan sebagai perpindahan atau
pergerakan suatu molekul melewati suatu fluida dengan pergerakan yang
acak. Suatu molekul yang bergerak lurus kemudian akan bergerak secara
acak karena bertabrakan dengan molekul yang lain, pergerakan molekul
seperti ini disebut random-walk process. Laju difusi dapat dinaikkan
dengan cara pengadukan sehingga kondisi kesetimbangan dapat lebih
cepat tercapai.
Gambar V.1 Skema Proses Difusi Molekuler
Pada gambar V.1, tampak bahwa molekul A berjalan acak berdifusi
melewati molekul B dari titik (1) ke titik (2). Apabila jumlah molekul A
pada titik (1) lebih banyak daripada yang berada pada titik (2), dan
molekul berdifusi secara acak pada dua arah yang berlawanan, maka
molekul A akan lebih banyak berdifusi dengan arah titik (1) ke titik (2)
daripada dengan arah sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa A
bergerak dari daerah konsentrasi tinggi ke daerah konsentrasi rendah.
(Geankoplis, Transport Process and Unit Operations edisi ke-3, 1993,
hlm. 383)
Pada fase gas, terdapat 2 jenis difusi molekuler, yaitu :
a. Difusi ekuimolal berlawanan arah
Difusi ekuimolal berlawanan arah pada fase gas dijelaskan pada
gambar V.2. Pada awalnya, terdapat dua jenis gas yaitu A dan B pada
tekanan total P dimana difusi molekular dalam keadaan steady state
terjadi antara dua buah tangki yang saling dihubungkan dengan pipa.
Angka 1 menunjukkan tangki sebelah kiri dan angka 2 menunjukkan
tangki sebelah kanan. Pengaduk berfungsi menjaga konsentrasi pada
setiap tangki homogen/seragam. Tekanan parsial pada gas A yang
terjadi adalah pA1> pA2 dan pada gas B adalah pB2> pB1. Molekul A
akan berdifusi ke tangki sebelah kanan dan molekul B akan berdifusi
ke tangki sebelah kiri karena perbedaan konsentrasi.
Gambar V.2 Difusi Ekuimolal Berlawanan Arah untuk Gas A dan B

Karena tekanan total P konstan, maka jumlah total molekul A


yang berdifusi ke tangki sebelah kanan harus sama dengan jumlah
molekul B yang berdifusi ke tangki sebelah kiri. Jika hal ini tidak
berlangsung maka tekanan total tidak akan konstan. Pada difusi
equimolal berlawanan arah, berlaku persamaan :

Persamaan tersebut menunjukkan pada campuran biner gas A


dan B, koefisien difusi DAB (menentukan laju difusi gas A melalui
gas B) akan sama dengan DBA (difusi sebaliknya/berlawanan arah).
(Geankoplis, Transport Process and Unit Operations edisi ke-3,
1993, hlm. 386)
b. Difusi A melalui B stagnan (diam)
Peristiwa difusi gas satu arah yaitu peristiwa berdifusinya
molekul A melalui molekul B yang tidak berdifusi. Pada keadaan ini
terdapat daerah batas yang sifatnya impermeable (tidak dapat
ditembus) sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui molekul B
sehingga molekul B tidak dapat berdifusi.
Sebagai contoh adalah difusi benzene (A) yang terdapat pada
bagian bawah pipa kapiler menuju bagian atas dimana terdapat
molekul udara (B) yang mengalir pada bagian atas, yang dijelaskan
pada gambar V.3.a.

Gambar V.3 Difusi Komponen A melalui Komponen B yang Stagnan : (a)


Difusi Benzene ke Udara, (b) NH3 Diserap oleh Air.

Molekul udara (B) tidak dapat berdifusi ke daerah yang


mayoritas benzene, hal ini disebabkan oleh karena adanya daerah
batas 1 dimana udara tidak dapat larut dalam benzene. Pada titik 2,
tekanan parsial pA= 0, karena tidak sebanding dengan volume udara
yang melalui titik tersebut. Contoh lainnya adalah seperti
ditunjukkan pada gambar dimana terjadi absorbsi uap NH3 (A) yang
berada dalam udara menuju air. Permukaan air bersifat impermeable
terhadap udara (B), karena udara hanya sedikit larut dalam air.
Karena komponen B tidak dapat berdifusi, maka NB = 0.

Untuk menurunkan persamaan difusi komponen A melalui


komponen B yang tidak dapat berdifusi dapat disubstitusi dengan
persamaan umum :

, untuk ;
Karena tekanan total p adalah konstan, dengan mensubstitusi

persamaan , , ke persamaan diperoleh :

D AB dp A
+ PA
RT d z P

Dengan menyusun ulang persamaan tersebut untuk kemudian


diintegrasikan :

P D AB dp A
1 A = -
P RT d z

PA1
z2
D AB dPA
dz =
z1 RT
1 p
PA 2 A /P

D AB P P PA2
ln
RT ( z 2 z1 ) P PA1

Persamaan di atas merupakan persamaan akhir yang dapat

digunakan untuk menghitung fluks A. Karena

, maka dan

. Persamaan tersebut juga sering dituliskan dalam

bentuk lain, nilai log mean inert B dapat didefinisikan sebagai


berikut :

PB 2 PB1 PA 2 PA1

ln( PB 2 / PB1 ) ln[( P PA 2 ) /( P PA1 )]

Dengan mensubstitusikan dengan persamaan sebelumnya


diperoleh :
D AB P
( PA1 PA 2 )
RT ( z 2 z1 ) PBM

(Geankoplis, Transport Process and Unit Operations edisi ke-3, 1993,


hlm. 389)

Dari persamaan di atas, dapat dicari koefisien difusi gas yang


memiliki persamaan :

S merupakan slope yang didapat dari plot grafik antara ketinggian


larutan (Z) dengan waktu (t). PT merupakan tekanan uap total. Untuk
mencari waktu difusi, dapat dimasukkan selisih ketinggian akhir dan
ketinggian awal larutan, sehingga didapat persamaan :

A R.T .PBM ( z F2 z 02 )
tF =
2 BM A D AB PT ( PA1 PA 2 )
C. SKEMA KERJA
1. Alat

a b c d

e f g

h i

Gambar V.4 Peralatan Difusi Gas Biner


Keterangan :
a. Gelas ukur 10 mL
b. Pipet ukur 10 mL
c. Ball filler
d. Piknometer 5 mL
e. Neraca analitik
f. Kipas angin
g. Aluminium foil
h. Penggaris
i. Pengaduk kaca

2. Bahan
a. Larutan Aseton 16 mL
b. Larutan n-Heksana 12 mL
c. Larutan Etanol 8 mL

3. Skema Kerja
a. Difusi Campuran Aseton dan n-Heksana ( A dan B)

Aseton n- Heksana
8 ml 4 ml

Mengukur densitas
Piknometer dan massa campuran

Gambar V. 5 Skema Kerja Difusi Campuran Aseton dan n-Heksana


Mengukur perubahan
Kipas angin Gelas Ukur
ketinggian permukaan
b. Difusi Campuran Aseton dan Etanol (A dan C)

8 ml Asetone Etanol 4 ml

Mengukur densitas
Piknometer dan massa campuran

Mengukur perubahan
Kipas angin Gelas Ukur ketinggian permukaan

Gambar V. 6 Skema Kerja Difusi Campuran Aseton dan Etanol


c. Difusi Campuran n-Heksana dan Etanol (B dan C)
n-Heksana
Etanol
8 ml 4 ml

Mengukur densitas
Piknometer dan massa campuran

Mengukur perubahan
Kipas angin Gelas Ukur
ketinggian permukaan
Gambar V. 7 Skema Kerja Difusi Campuran n-Heksana dan Etanol
DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C.J. 1993. Transport Process and Unit Operations, edisi ke-3.
Prentice-Hall, Inc. New Jersey, USA.
Lajeng, Ummu, Fitri Ramadhani, dkk. 2014. Jurnal Praktikum Difusi Gas. UIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Karina, Nelli, Novadyanti, dkk. 2012. Makalah Farmasi Fisik Difusi dan
Disolusi. Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura, Pontianak.