Anda di halaman 1dari 3

3.1.2.4.

Cadangan Karbon
Tabel: Plot 1 Hutan Produksi
No Penggunaan Tutupan Manfaat Posisi Tingkat tutupan Jumlah Kerapatan C-
lahan lahan lereng Kanopi Seresah spesies stock

1 Hutan Pinus K T T R 1 S S
(Plot 1) (150)
2 Kopi Bi R R 1 S S
(100)
3 Pisang B, D R R 1 S S (50)

Kode :
Manfaat : B (Buah), D (Daun), A (Akar), K (Kayu), B (Biji). Posisi lereng : A (Atas), T (Tengah), B
(Bawah). Tingkat tutupan kanopi dan sersah : T (Tinggi), S (Sedang), R (Rendah).

Tabel: Plot 2 Agroforestri


Penggunaan Tutupan Posisi Tingkat tutupan Jumlah C-
No lahan lahan Manfaat lereng Kanopi Seresah spesies Kerapatan stock
1 Kopi Bi T T 1 T T (80)
2 Lamtoro D S T 1 S S (50)
3 Durian B, D R T 1 S S (50)
4 Pisang B,D R T 1 R R (20)
Agroforestri
Tanaman T
(Plot 2)
5 Pagar K R T 1 S S(50)
6 Waru D, K T T 1 R R (20)
7 Sengon D, K S T 1 S S (50)
8 Rumput D R T 1 T T (80)

Kode :
Manfaat : B (Buah), D (Daun), A (Akar), K (Kayu), B (Biji). Posisi lereng : A (Atas), T (Tengah), B
(Bawah). Tingkat tutupan kanopi dan sersah : T (Tinggi), S (Sedang), R (Rendah).
Tabel: Plot 3 Tanaman Semusim
Tingkat
tutupan
N Penggunaan Tutupan Manf Posisi Kan Seres Jumlah Kerapa C-
o lahan lahan aat lereng opi ah spesies tan stock
1 Tanaman Kubis D T R 1 T 1
Semusim T
2 (Plot 3) Pisang B R R 1 R 1

Kode : Manfaat : B (Buah), D (Daun), A (Akar), K (Kayu), B (Biji). Posisi lereng : A (Atas), T
(Tengah), B (Bawah). Tingkat tutupan kanopi dan sersah : T (Tinggi), S (Sedang), R (Rendah).
Pada plot ke 3, penggunaan lahan di lokasi tersebut digunakan untuk tegalan dengan
komoditas yang dibudidayakan adalah kubis dan pisang yang ada di pinggir lahan. Pada plot 3
ini penggunaan lahan ditanami oleh tanaman semusim saja, sehingga c-stock yang dapat
diserap lahan hanya bernilai 1. Hal ini menunjukkan bahwa C- Stoknya termasuk dalam kategori
rendah karena tanaman semusim tidak menyerap karbon dalam jumlah banyak, penyebabnya
adalah tanaman semusim memiliki system perakaran yang pendek dan sulit atau bahkan kurang
mampu menyerap c-stock dalam tanah, serta pada lahan tanaman semusim banyak dilakukan
pembukaan lahan yang tidak diimbangi dengan tanaman berkayu ataupun dengan penerapan
agroforestri sehingga nilai c-stock yang ada rendah.

Tabel 3: Plot 4 Tanaman Semusim + Pemukiman


Tingkat tutupan Jumla
Posisi h C-
N Penggunaa Tutupan Manfaa lerenKanop Seresa spesie
Kerapata stoc
o n lahan lahan t g i h s n k
1 Tanaman Jagung B T S R 1 S 1
Semusim &
Pemukima
B
n Pemukima
2 (Plot 4) n / Rumah - - - - - -
Kode :
Manfaat : B (Buah), D (Daun), A (Akar), K (Kayu), B (Biji). Posisi lereng : A (Atas), T (Tengah), B
(Bawah). Tingkat tutupan kanopi dan sersah : T (Tinggi), S (Sedang), R (Rendah).

Pada Plot 1 terlihat bahwa pada lokasi ini memiliki nilai c-stock yang paling tinggi jika
dibandingkan dengan stop yang lainnya karena pada stop 1 ini penggunaan lahannya berupa
hutan produksi, sehingga memiliki nilai c- stok yang paling tinggi jika di bandingkan dengan plot
lainnya. C-stock ini memiliki arti bahwa lahan tersebut mampu menyerap carbon dan
memperbaiki udara yang ada di lingkungan tersebut sehingga polusi ataupun udara tercemar
dapat diserap oleh hutan. Tanaman yang memiliki c- stock tertinggi pada penggunaan lahan
hutan di Plot 1 ini adalah tanaman pinus dengan tingkat kerapatan yang sedang yakni sekitar
150. Sedangkan tanaman yang memiliki c-stock rendah pada penggunaan lahan hutan ini
adalah tanaman pisang memiliki kerapatan yang renggang dengan nilai c- stock sebesar 50.
Pada penggunaan lahan agroforestri juga memiliki nilai c-stock yang tinggi, hal tersebut
terlihat pada tanaman kopi dan rumput dengan tingkat kerapatan tinggi sehingga nilai c-stock
sehingga memiliki nilai c-stock pada lahan hutan sebesar 80. Alasan yang mendasari
agroforestri memiliki nilai c-stock yang lebih rendah dari pada hutan karena pada pertanian
system agroforestri sudah terdapat banyak lahan yang dibuka untuk lahan pertanian system
tegalan ataupun system lain. Pada Plot 2 ini lahan pertanian banyak dibuka untuk tanaman
tahunan yaitu kopi sehingga carbon tidak dapat diserap oleh tanaman.
Pada plot ke 3, penggunaan lahan di lokasi tersebut digunakan untuk tegalan dengan
komoditas yang dibudidayakan adalah tanaman wortel dan terong. Pada plot 3 ini penggunaan
lahan ditanami oleh tanaman semusim saja, sehingga c-stock yang dapat diserap lahan hanya
bernilai 1. Yang artinya, bahwa lahan tersebut tidak mampu menyerap karbon yang ada di
udara, penyebabnya adalah tanaman semusim memiliki system perakaran yang pendek dan
sulit atau bahkan kurang mampu menyerap c-stock dalam tanah, serta pada lahan tanaman
semusim banyak dilakukan pembukaan lahan yang tidak diimbangi dengan tanaman berkayu
ataupun dengan penerapan agroforestri sehingga nilai c-stock yang ada rendah.
Pada plot 4 ini, lahan yang tersedia digunakan untuk penanaman dengan system
tegalan, yang di tanam di sekitar pemukiman masyarakat. Tutupan lahan pada plot 4 adalah
jagung dengan kerapatan sedang. Penggunaan jagung sebagai tutupan lahan yang merupakan
tanaman musiman mempunyai c-stock yang sangat rendah yaitu 1. C-stock yang sangat rendah
ini di sebabkan karena tutupan lahan yang hanya satu jenis dan tanaman semusim sangat
sedikit dalam mengikat c di udara.
Dari hasil data dari tiap plot dan dari analisis, dapat disimpulkan bahwa hutan memiliki
kemampuan menyerap karbon tertinggi dari pada yang lainnya. Menurut pendapat kami, jika
petani menginginkan lahannya dapat tumbuh maksimal dengan kemampuan menyerap karbon
tinggi maka sebaiknya petani tersebut menggunakan system agroforestri dengan tingkat
kerapatan yang tinggi agar lahan tersebut dapat membantu menyerap karbon, selain itu petani
juga akan memperoleh keuntungan yang lebih dari system agrofoestr tersebut.