Anda di halaman 1dari 14

TEOLOGI, MISTISISME, DAN TRANSFORMASI ILMU

PENGETAHUAN (FILSAFAT DAN SAINS) ERA BANI ABBAS

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah


Sejarah peradaban Islam

Dosen Pengampu : Dr. H. Fadil SJ, M.Ag.

Disusun Oleh:

WASILATUN NAFIAH (16710008)

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PROGRAM MAGISTER
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Munculnya pemikiran Islam sebagai cikal bakal kelahiranperadaban Islam
pada dasarnya sudah ada pada awal pertumbuhan Islam, yakni sejak pertengahan
abad ke-7 M, ketika masyarakat Islam dipimpin oleh Khulafa al-Rasyidin
kemudian mulai berkembang pada masa Dinasti Umayyah, dan mencapai puncak
kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketinggian peradaban Islam pada
masa Dinasti Abbasiyah merupakan dampak positif dari aktifitas kebebasan
berpikir umat Islam kala itu. Setelah jatuhnya Dinasti Abbasiyah pada tahun
1258 M, peradaban Islam mulai mundur. Hal ini terjadi akibat dari merosotnya
aktifitas pemikiran umat Islam yang cenderung kepada stagnan.
Keberagaman pemikiran pada era Abbasiyah ini menarik unutk dipelajari
lebih lanjut karena perkembangan ilmu pengetahuan serta filsafat pada saat itu
sangat mempengaruhi bukan hanya peradaban Islam, tetapi peradaban barat
sekalipun. Teologi dan mistisimen yang sangat erat kaitannya dengan dinasti
Abbasiyah, baik pada awal berkuasa sampai runtuhnya dinasti ini, merupakan
faktor internal berkembangnya ilmu pengetahuan saat itu.
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah peradaban dan
perkembangan khusunya teologi, mistisisme, dan ilmu pengetahuan pada dinasti
Abbasiyah, pemakalah menyusun makalah dengan judul Teologi, Mistisisme,
Dan Transformasi Ilmu Pengetahuan (Filsafat Dan Sains) Era Bani Abbas

2
B. Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan teologi, mistisisme, dan transformasi ilmu
pengetahuan (filsafat dan sains) era bani Abbas?

C. Tujuan
Untuk mengetahui perkembangan teologi, mistisisme, dan transformasi ilmu
pengetahuan (filsafat dan sains) era bani Abbas.

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. TEOLOGI
Aktivitas-aktivitas intelektual yang muncul dari kecenderungan orang Arab
sebagai orang Arab dan seorang muslim adalah teologi, hadits, fikih, filologi, dan
linguistik. Kecenderungan tersebut dapat dilihat dari sarjana-sarjana bidang-
bidang ini adalah keterurunan Arab, bukan yang berasal dari Suriah atau
keturunan Persia maupun yang beragama Yahudi seperti para ahli astronomi,
dokter, ahli matmatika maupun ahli kimia saat itu. Perhatian dan minat orang
Arab pada masa awal tertuju pada cabang ilmu yang lahir karena motif
keagamaan. Kebutuhan untuk memahami dan menjelaskan Al-Quran, kemudian
menjadi landasan kajian teologis dan linguistik. Interkasi dengan dengan dunia
kristen pada abad pertama hijriah di Damaskus memicu munculnya pemikiran
spekulatif teologis yang melahirkan mazhab pemikiran Murjiah dan Qadariah.1
Awal munculnya teologi Islam berakar pada perdebatan politis dan teologis
yang bersifat internal semenjak masa pemerintahan Dinasti Umayyah, seperti
Khawarij, Syiah, Murjiah dan Muktazilah. Munculnya istilah teologi tidak
terlepas dari peristiwa perang Siffin yang berujung dengan Arbitrase2. Khawarij
selaku kelompok yang tidak meenyetujui pelaksanaan Arbitrase memberikan
fatwa kepada semua pelaku arbitrase sebagai seorang yang menyimpang dari
ajaran agama bahkan di anggap kafir karena peristiwa arbitrase tidak berdasarkan
hukum Allah. Menurut para kalangan khawarij tidak ada aturan yang patut

1
Philip K. Hitti, History of The Arabs (terjemahan), (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2013),
hal 492
2
Arbitrase merupakan perjanjian damai antara pihak Muawiyah dengan pihak Ali ibn Abi Thalib
saat terjadi perang Shiffin. Pada saat Muawiyah dan tentaranya terdesak, Amru bin Ash sebagai
penasihat Muawiyah yang dikenal cerdik dan bandai berunding, meminta agar Muawiyah
memerintahkan pasukannya mengangkat mushaf Al-Quran di ujung tombak sebagai isyarat
berdamai agar terhindar dari kekalahan total. Ini disebut juga dengan istilah Tahkim [Abdul
Syukur al-Azizi, kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap: Menelusuri Jejak-jejak Peradaban
Islam di Barat dan Timur, (Jogyakarta: Saufa, 2014), hal 115.

4
dipatuhi terkecuali Al-Quran, barangsiapa yang memutuskan sesuatu tidak
berdasarkan hukum tuhan berarti ia kafir dan wajib diperangi. Semboyan yang
digunakan oleh khawarij adalah firman Allah La Hukma Illa Allah. Atas
semboyan itulah para kalangan Khawarij dengan mudah memmbunuh dan
memerangi orang-oang yang tidak sepaham dengan pendapatnya. Kemudian
sebagai respon tehahadap fatwa khawarij munculah kelompok Murjiah yang
menentang pendapat khawarij. Menurut murjiah pelaku dosa besar masih tetap
mukmin selama mengucapkan dua kalimat syahadat. Masalah dosa besar
diserahkan kepada Allah, manusia tidak punya hak menghakimi. Selanjutnya
kaum murjiah dibagi menjadi dua golongan, sepeti al-Jahmiah, al-Yunusiah,Al-
Shalihiah, dan Al-Khasaniah3
Akan tetapi perkembangan permasalahan teologi justru lebih berakar dari
faktor-faktor eksternal yang muncul semenjak abad kedua Hijriyah. Faktor
eksternal yang dimaksud adalah terjadinya kontak dengan pemikiran Yunani yang
membawa pemikiran-pemikiran berbasiskan epistimologi rasional yang
berkontribusi besar terhadap perkembangan pemikiran umat Islam. Di samping
itu, umat Islam pada masa ini telah berkenalan dan berinteraksi dengan bangsa-
bangsa yang secara historis telah memiliki nilai-nilai peradaban tinggi seperti di
Iskandariyah, Mesir, Yudhisapur dan lain-lain. Oleh karena itu, para ulama
dituntut untuk memiliki kemampuan penafsiran sesuai dengan tingkat peradaban
atau alam pemikiran peradaban bangsa-bangsa tersebut.
Pada masa ini, bermunculan beberapa orang ulama dari golongan atau aliran
Mutazilah yang lebih apresaitif terhadap akal atau rasio, seperti Washil bin Atha
(81-131 H.), Abu Huzail (135-235 H.) dan al-Nadzham (185-221 H.). Uraian-
uraian ulama Mutazilah ini lebih rasional dan karena itu memiliki potensi untuk
lebih mudah dimengerti oleh orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang
lebih tinggi. Bahkan pada masa khalifah al-Makmum (198-218 H./813-833 M.),
tepatnya pada tahun 212 H./827M. aliran Muatazilah dijadikan sebagai mazhab

3
Supiana dan Karman, Materi Pendidikan Islam, (Bandung: Rosdakarya, 2008), hal 166.

5
resmi Negara4. Teologi Mutazilah sendiri sudah ada pada saat dinasti Umayyah,
tetapi masih sangat sederahana dan berkembang secara terbatas. Karena pada era
Abbasiyah mulai masuk pemikiran Yunani5, teologi Mutazilah dikenal sangat
rasional sehingga mampu mendukung perkembangan keilmuan dalam Islam.
Akibatnya, harus diakui bahwa berkembangnya teologi Mutazilah pada periode
Abbasiyah mempunyai peran dalam perkembangan rasionalitas saat ini.6
Pemikiran Yunani mulai masuk ke dalam dunia Islam ketika dilakukannya
penarjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Dari perkembangan
teologi Mutazilah, pada masa ini muncul pula seorang ulama ilmu kalam yang
terkenal dan sangat besar pengaruh-nya sampai sekarang yaitu Abu Hasan al-
Asyari (259-323 H./873-935 M.) yang berusaha menjembatani pemikiran-
pemikiran Mutazilah dengan al-hadits. Hal ini mampu dilakukannya karena dia
telah lama menjadi pengikut aliran Mutazilah, maka pemikirannya juga telah
lama dipengaruhi oleh aliran pemikiran Yunani. Kemudian muncul pula ulama-
ulama pen-dukung al-Asyari seperti al-Juwaini (419-478 H.) dengan karangannya
yang berjudul al-Luma al-Adillat fi Qawaid Aqidah ahli al-Sunnah wa al-
Jamaah dan al-Irshad ilaa Qawaathii al-Adillat fi Ushul al Itiqad dan Imam Al-
Ghazali (1058-1111 M).
Perselisihan terkait teologi pada masa Abbasiyah dimulai setelah al-Watsiq
meningal dan kekhalifaan dipegang oleh al-Mutawakil. Pada kekahalifaan Al-
Mutawakil inilah paham Mutazilah mulai dijatuhkan dan digantikan dengan
kalam Al-Asyaari dan Al-Maturidi, sementara paham Mutazilah semakin
dikucilkan oleh masyarakat bahkan para tokoh dimusuhi. Semua kitab-kitab yang
mengadung paham Mutazilah disita oleh Negara.7. Gerakan sunni yang berada di
bawah pimpinan Ahmad bin Hambal (164 242 H / 780 -855 M) makin
memperlihatkan pengaruhnya yang bertambah kuat terhadap khalifah al

4
Mutazilah didirikan oleh Wasil bin Ato. Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Mamun, yang pada
periode ini ilmu pengetahuan mencapai masa keemasan, termasuk di antara pendukung aliran
teologi ini. (Lihat Harus Nasution, Islam Ditinjau, hal 40)
5
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), hal 57
6
Muqowim, Genealogi Intelektual Sains Muslim (seri Disertasi), (Jakarta: Kementrian Agama RI,
2012), hal 5
7
Fahsin M. Faal, Sejarah Kekuasaan Islam, (Jakarta: Artha rivera, 2009), hal 85

6
Mutawakkil. Gerakan sunni ini bertujuan memurnikan kembali ajaran islam
agar terbebas dari campur aduk akal dan filsafat, seperti yang dianut oleh kaum
salaf8. Tapi pengaruh yang begitu kuat tersebut sampai melebihi batas sehingga
pada tahun 851 M, keluar dekrit dari khalifah yang memerintahkan
menghancurkan dan perataan terhadap seluruh bangunan yang dimuliakan kaum
Syiah. Termasuk makam Hasan dan Husain di Karbala. Dekrit ini
membangkitkan reaksi dan ketegangan yang tiada terkira pada masa-masa
berikutnya.9 Konflik teologi yyang disebabkan banyak alasan, pada akhirnya
mejadi salah satu faktor runtuhnya dinasti Abbasiyah.
Sejarah berkuasanya dinasti Abbasiyah sendiri tidak terlepas dari isu-isu
faksionalisme sekterian. Menurut teori yang dikemukakan oleh Atho Mudzar,
banyaknya paham politik keagamaan, terutama Syiah, yang menjadi oposisi pada
masa kekuasaan Ummayah, merupakan salah celah bagi bangkitnya dinasti
Abbasiyah dan mudah untuk dipahami jika dikaitkan dengan hal tersebut10.
Kalangan Syiah sendiri turut membantu Bani Abbasiyah merebut kuasa saat itu.
Dukungan kalangan Syiah bisa dimaklumi karena dalam melakukan aksinya,
para aktivis Bani Abbasiyah memba-bawa nama Bani Hasyim, bukan Bani Abbas.
Sehingga secara tidak langsung orang-orang Syiah merasa dilibatkan dalam
perjuangan mereka. Selain kelompok Syiaah yang mempunya sejarah langsung
terkait berkuasanya bani Ummayah, masyarakat lain pada saat itu juga mudah
menerima propaganda yang dilakukan Bani Abbas karena memang mereka sedang
merasa sangat kecewa terhadap pemerintahan saat itu. Gerakan bani Abbasiyah
sendiri sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul
Aziz, khalifah kedelapan Dinasti Ummayah. Gerakannya begitu rapi dan
tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh pihak bani Ummayah.11

8
Muhammed Yunis, Politik Pengkafiran & Malapetaka Kaum Beriman: Sejarah-Politik-Ham,
(Jogjakarta: Pilar Media, 2006), hal 66
9
Joesoef Souyb, Sejarah daulah Abbasiyah II,( Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal 14
10
Muqowim ibid, hal 41
11
Abdul Syukur al-Azizi ibid, hal 176

7
B. MISTISISME
Tasawuf merupakan bentuk mistisisme dalam Islam.12 Ada pula yang
menyebutnya sufisme.13 Kata sufisme sendiri merupakan istilah khusus mistisisme
islam, sehingga kata sufisme tidak ada pada mistisme agama-agama lain.14
Pada awal kemunculannya, tasawuf merupakan suatu reaksi perlawanan
terhaddap upaya intelektualisme dan formalisme ajaran Is;am dan Al-Quran yang
berkembang sebagai suatu konsekuensi. Mulanya, tasawuf merupakan gaya hidup
asektis, lebih khusus lagi kontemplatif, sebagaimana dipraktikkan oleh pendeta-
pendeta Kristen. Pada abad kedua Hijriah dan seterusnya, tasawuf berkembang
menjadi gerakan sinkretis, menyerap berbagai elemen dari Kristen, Neo-Platonik,
Gnistisisme, dan Buddhisme, serta berkembang melalui tahap-tahp mistis,
teosofis, dan panteistis.
Pada dasarnya, praktik-praktik tasawuf telah muncul pada zaman Nabi
Muhammad SAW dan para sahabat sebagai wujudan ikhbat al-qalb (khudu dan
khusuknya hati) untuk mencapai derajat ihsan. Namun istilah tasawuf baru
muncul pada masa tabiin. Pada masai ini, terdapat kelompok yang menamakan
diri tawwabin, ubbad, zuhad, dan lain sebagainya. Sebagian besar dari mereka
adalah murud Imam Hasan Basri 15. Dalam segi ajarannyapun pada abad pertama
dan kedua ini masih murni menganut konsep-konsep kehidupan rasullah yang
bersandar kepada al-Quran dan Al-Hadist, memang sewajarnya mempunyai
pandangan demikian karena umat islam pada waktu itu tidak berinteraksi dengan
peradaban-peradaban dengan Negara-negara lain, sehingga ajaran tasawuf masih
murni.16
Puncak perkembangan ilmu taswuf ini terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah.
Inti ajarannya adalah tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah SWT, meninggalkan kesenangan dan perhiasan hidup duniawi.
Berikut beberapa ulama besar di bidang tasawuf.

12
Philip K. Hitti ibid, hal 546
13
King Richard, Agama Orientalisme dan Poskolonialisme, (Yogyakarta: Qalam, 2001), hal 1
14
A. Mustafa. Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaska Setia, 2007), hal 206
15
Abdul Sykur al Azizi ibid, hal 210
16
Abdillah F. Hasan, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Ven Hoeve, 2000), hal 79

8
a. Junais al-Baghdadi(w. 298 H), dianggap sebagai penghulu ulama akhirat. Ia
tergorlong ulama sufi yang sangat teguh menjalankan syariah dan istiqamah
memberikan pelajaran rasawuf pada murid-muridnya tanpa meninggalkan
pekerjaan tetapnya sebagai pedagang.
b. Abu Kasim Abul Karim bin Hawazin al-Qursyairi yang populerdipanggil Al-
Qusyairi (w. 465 H). Selain ahli tasawuf, ia juga dikenal sebagai ahli fiqih,
ushul fiqih, tafsir, hadits, dan penyair. Bukunya yang terknal tentang tasawuf
adalah Risalah Qusyairiyah. Buku ini telah diberi syarah oleh Syaikhul Islam,
Zakaria al-Anshari dengan judul Ihsanud Dilalah fi Syarah Risalah.
c. Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali (w. 1111 M) yang
populer dengan panggilan al-Ghazali. Selain ahli tasawuf, ia dikenal
menguasai berbagai cabag ilmu, seperti kalam, fiqh, filsafat, dan lain-lain.
Dalam bidang fiqh, ia mengikuti madzhab Syafii dan bidang teologi
mengikuti aliran Asyariyah.

C. TRANSFORMASI ILMU PENGETAHUAN (FILSAFAT DAN SAINS)


Di masa Bani Abbas ini perhatian kepada ilmu pengetahuan dan filsafat
Yunani memuncak terutama di zaman Harun Al-Rasyid (785-809 M) dan Al-
Mamun (813-833 M). Buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat didatangkan dari
Bizantium dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kegiatan
penterjemahan buku-buku ini berjalan kira-kira satu abad. Bait Al-Hikmah, yang
didirikan Al-Mamun, bukan hanya merupakan pusat penterjemahan tetapi juga
akademi yang mempunyai perpustakaan. Di antara cabang-cabang ilmu
pengetahuan yang diutamakan dalam Bait Al-Hikmah ialah ilmu kedokteran,
matematika, optika, geografi, fisika, astronomi, dan sejarah di samping filsafat.17
Tiga arus kebudayaan purba yang mempengaruhi arah perkembangan ilmu
pengetahuan dalam dunia Islam saat itu adalah kebudyaan Yunani (Hellenic),
Persia, dan India. Hellenisme pada dasarnya meliputi filsafat Yunani, Plato,
Aristoteles, pandangan Eunclid dan neo-Platonik, serta tulisa tentang ilmu
kedokteran yang ditulis oleh Hipokrates dan Galen. Selain itu, melalui Spanyol

17
Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI-Press, 1985), hal 70

9
dan Sisilia, orang Arab menebarkan pengetahuan Yunani yang sudah
dikembangkan di Eropa. Pegetahuan yang sudah dikemabngkan di dunia Ara
itulah yang mendorong lahirnya renaisans (kebangktan kembali) di Eropa.
Pengaruh bangsa Persia hanya terbatas pada bidang kesenian dan kesusastraan
yang diwarnai mistisisme. Astronomi, matematika, dan sistem desimal merupakan
unsur pengaruh kebudayaan India.18
Perkembangan ilmu pengetahua dan filsafat pada era Bani Abbasiyah ini
merupakan akbaat positif dari ekpansi besar-besaran yang dilakukan umat Islam
saat itu. Ketika umat Islam di zaman dinasti Umayyah berhasil melakukan
ekspansi secara besar0besaran baik ke wilayah timur maupun barat, ternyata
terdapat sejumlah kota yang merupakan kota pusat pengembangan tradisi ilmiah
Yunani, India, dan persia. Di antara kota-kota yang menjadi pusat pengembangan
tradisi ilmiah tersebut antara lain adalah kota Aleksandria di Mesir, Jundisyapur di
Irak, Bachtra di Syiria, Edessa, Harran,serta Nisibis. Kota-kota ini kemudiaa
menjadi bagian dari wilayah Islam.19
Oleh karena umat Islam mampu menguasai kota-kota tersebut dan menjadi
bagian penting umat Islam, maka mulai terjadi persentuhan antara umat Islam
dengan tradisi ilmiah yang telah berkembang lama di kota-kota tersebut.
Persenuhan umat Islam dengan tempat dan keilmuan yang ada di wilayah-wilayah
itu kemudia lebih nyata dalam bentuk penarjemahan-penahjemahan ke dalam
bahasa Arab, yang didahului dalam bahasa Syiriac. Uapya ini sebenarnya sudah
dilakukan sejak era Dinasti Umayyah di Damaskus oleh Walid ibn Abd. Malik,
tetapi masih bersifat pribadi. Baru pada zaman harus al Rasyid (786-809 M) dan
putranya al-Makmun (813-833 M), gerakan penarjemahan ini menjadi sangan
fenomenal. Langkah-langkah stategis yang dilakukan pada era ini di antaranya
khalifah al-Mansur mendatangkan keluarga Bhakti Yashu, dokter Nestoria
terkenal dari akademi kedokteran Jundisyapur ke instananya untuk menjadi dokter
keluarga instana dan pada akhir abad ke-8 M , Abu Yahya ibn al-Batriq
menarjemahkan karya-karya besar Galen serta Hippocrates. Dari situlah mulai

18
Akbar S. Ahmed dkk, Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi, (Jakarta: Erlangga, 1992),
hal 49
19
Imam Fuadi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Teras, 2011), hal 119.

10
tampak ketertarikan umat Islam pada stidi filsafat serta ilmu pengetahuan
lainnya.20
Pada masa khalifah al-Mamun (813-833), pengganti al-Rasyid, perhatian
terhadap ilmu pengetahuan sangat meingkat bahkan ia dikenal sebagai patron ilmu
pengetahuan. Yang laur biasa. Untuk menarjemahkan buku-buku peninggalan
peradaban Yunani ia menggaji penarjemah-penarjemah dari golongan Kristen dan
Sabi. Untuk mengakses peradaban sebelumnya, khususnya Yunani, dia membuat
tim khusus untuk mengumpulkan manuskrip yang kemudian diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Untuk mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan, ia
mendirikan Bayt al-Hikmah. Melalui usaha-usaha tersebut, muncullah para
ilmuwan terutama di bidang sains. Di masa al-Mamun, Baghdad benar-benar
menjadi pusat peradaban dunia yang sebelumnya terjadi di Alexandira. Hal ini
juga terwujud antara lain kaena pola pikir al-Mamun yang terbuka dan kritis
sebagai cerminan dari aliran Mutazilah yang ia anut karena Mutazilah dikenal
sangat kritis dan terbuka dalam kalam.21
Selain sains, bagi bangsa arab filsafat merupakan pengetahuan yang penting
karena merupakan pengetahuan tentnag kebenaran dalam arti sebenarnya, sejauh
hal itu bisa dipahami oleh pikiran manusia. Secara khusus, nuansa filsafat mereka
berakar pada tradisi filsafat Yunani, yang dimodifikasi dengan pemikiran para
penduduk di wilayah taklukan, serta pengaruh Timur lainnya, yang disesuaikan
dengan nilai-nilai Islam, dan diungkapkan dalam bahasa Arab.22 Singkatnya,
konsep filsafat Islam bukan mengambil dari konsep filsafat Yunani.23 Yang
membedakan filsafat Islam dan filsafat Yunani adalah pemikiran teologi Islam
didasarkan pada teks suci sedangkan filsafat Yunani didasarkan pada premis-
premis yang bersifat logis, pasti, dan baku. Pemikiran dan filsafat Yunani baru
masuk lewat program penerjemahan setelah sistem penalaran rasional dalam Islam
mapan, khususnya dalam teologi dan yurisprudensi

20
Ibid, hal 120
21
Muqowim, ibid, hal 43
22
Phillip K. Hitti, ibid, hal 462
23
Oliver Leaman, History of Philosophy, (Iran: Ansariyan Publication: 2001), hal 8

11
Perkembangan-perkembangan di dunia sains dan filsafat ini tidak terlepas
dari strategi politik penguasa saat itu. Untuk mencapai kejayaan tersebut,
tergambar bahwa strategi dan aktivitas yang efektif dilakukan oleh para Khalifah
Dinasti Abbasiyah adalah, Pertama, keterbukaan. Jika dibandingkan dengan masa
kekhalifahan Umayyah yang sangat membatasi diri dengan pihak luar, keadaan
pemerintah Dinasti Abbasiyah sebaliknya. Bentuk pemerintahan Dinasti Umayyah
lebih menonjol kepada pemerintahan Arab, sedangkan politik Dinasti Abbasiyah
merupakan pemerintahan campuran dari segala bangsa. Kedua, kecintaan pada
ilmu pengetahuan. Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu pengetahuan Islam banyak
digali oleh para ulama (intelektual) Islam. Sebab para Khalifahnya sangat senang
dengan ilmu pengetahuan. Karena itu dinasti ini sangat besar jasanya dalam
memajukan peradaban Islam di mata dunia. Ketiga, toleran dan akomodatif.
Corak kehidupan orang-orang Abbasiyah lebih banyak meniru tata cara kehidupan
bangsa Persia. Pada masa ini kebudayaan Persia berkembang sangat maju, sebab
bangsa Persia mempunyai kedudukan yang baik di kalangan keluarga istana.
Banyak orang Persia yang dipilih untuk mengendalikan pemerintahan Dinasti
Abbasiyah24.
Melalui historitas Islam di atas, kemajuan sains dan filsafat muncul karena
adanya interaksi keilmuan secara intensif yang dilakukan oleh saintis dan filsuf
muslim dengan saintis dan filsuf lain tanpa memandang latar belakang agaman,
ras, suku, dan faham. Dengan kata lain, ada kecenderungan bahwa intellectual
networking itu terbangun ketika sekat-sekat formal tesebut berhasil
dikesampingkan oleh saintis dan filsuf muslim25.
Ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu secara garis besarnya
terbagai kepada dua bagian, yaitu : 1. Ilmu-Ilmu Naqliyah yang terdiri dari ilmu
tfsir, hadits, kalam, tasafuw, bahasa, dan fiqih; 2. Ilmu-Ilmu Aqliyah (Ilmu
Pengetahuan Umum) yaitu filsafat, ilmu kedokteran, ilmu optik, ilmu matematika,
astronoi, ilmu kimia, serta ilmu sjarah dan ilmu bumi.

24
Mugiono, Perkembangan Pemikiran dan Peradaban Islam dalam Perspektif Sejarah, (JIA/Juni
2013/Th.XIV/Nomor 1/1-20). Lebih rinci lihat Yunus Ali Al Muhdar dan Bey Arifin, Sejarah
Kesusastraan Arab, (Jakarta: Bina Ilmu 1983) hal 183
25
Muqowim, ibid, hal 10

12
BAB III

KESIMPULAN

Awal munculnya teologi Islam berakar pada perdebatan politis dan teologis
yang bersifat internal semenjak masa pemerintahan Dinasti Umayyah, seperti
Khawarij, Syiah, Murjiah dan Muktazilah. Teologi sangat mendominasi pola pikir
dinastiAbbasiyah saat itu hingga aliran Mutazilah dijadikan sebagai mazhab
resmi negara. Dijadikannya aliran Muazilah sebagai mazhab resmi negara
berdapak positif dan negatif. Positfnya adalah aliran yang rasioanalis ini
membantu mempermudah interaksi Islam dengan Yunani, Persia, dan India yag
saat itu tdi beberapa kotanya sudah mengalami perkembangan peradana ilmu
pengetahuan. Runtuhnya aliran Mutazilah karena berbagai faktor dan beralhinya
paham menjadi tasawuf saat itu juga sempat membuat perkembangan ilmu
pengetahuan stagnan.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa bani Abbas banyak dipengaruhi
oleh paham teologi dan mistisisme yang berkembag saat itu. Interaksi dengan
Persia, Yunani, dan India sebagai akibat dari ekspansi wiliyah yang sudah
dilakukan sejak era bani Umayyah sangat berpengaruh terhadap perkembangan
sains dan filsafat saat itu. Para khalifah-khalifah bani Abbasiyah yang berpikiran
terbuka serta orientasi politik yang sudah pada perkembangan peradaban
merupakan beberapa di antaranya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Ahmed Akbar S. dkk. 1992. Citra Muslim: Tinjauan Sejarah dan Sosiologi.
Jakarta: Erlangga

al-Azizi , Abdul Syukur, 2014. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap:


Menelusuri Jejak-jejak Peradaban Islam di Barat dan Timur. Jogyakarta:
Saufa.

Faal , Fahsin M. 2009. Sejarah Kekuasaan Islam. Jakarta: Artha rivera.

Fuadi, Imam. 2011. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Teras

Hasan, Abdillah F. 2000. Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Ven


Hoeve

Hitti, Philip K. 2013. History of The Arabs (terjemahan), Jakarta: PT. Serambi
Ilmu Semesta

Leaman, Oliver. 2001. History of Philosophy. Iran: Ansariyan Publication

Mugiono, Perkembangan Pemikiran dan Peradaban Islam dalam Perspektif


Sejarah, (JIA/Juni 2013/Th.XIV/Nomor 1/1-20).

Mustafa, A. 2007. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaska Setia.

Muqowim, 2012. Genealogi Intelektual Sains Muslim (seri Disertasi). Jakarta:


Kementrian Agama RI.

Nasution, Harun. 1985. Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya.Jakarta: UI-Press

Richard, King. 2001. Agama Orientalisme dan Poskolonialisme. Yogyakarta:


Qalam,

Souyb, Joesoef. 1977. Sejarah daulah Abbasiyah II. Jakarta: Bulan Bintang.

Supiana dan Karman. 2008. Materi Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya.

Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam,. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Yunis, Muhammed. 2006. Politik Pengkafiran & Malapetaka Kaum Beriman:


Sejarah-Politik-Ham. Jogjakarta: Pilar Media

14