Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha

Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

PENGARUH MODEL INQUIRY BERBANTUAN PETA KONSEP


TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS V SD GUGUS V
BANJARANGKAN

Putu Yunia Widayani 1, I Made Putra2, Ni Nyoman Ganing3


1,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

email:yuniawida@ymail.com1,putra_md13@yahoo.com2,
nyomanganing@yahoo.com3

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS
antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran inquiry berbantuan peta
konsep dan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa
kelas V di SD Gugus V Banjarangkan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian
eksperimen semu dengan desain penelitian Non Equivalent Control Group Design.
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus V Banjarangkan yang
berjumlah 136 siswa. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik random sampling yang
diacak adalah kelas dengan hasil pengundian yaitu siswa kelas V SD Negeri 2 Aan
sebagai kelompok eksperimen yang berjumlah 32 orang siswa dan siswa kelas V SD
Negeri 2 Timuhun sebagai kelompok kontrol yang berjumlah 30 orang siswa. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes. Data yang dikumpulkan dianalisis
menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (uji-t). Berdasarkan hasil
analisis data, diperoleh thit = 2,67, sedangkan pada taraf signifikansi 5% dan db n1 + n2 - 2
= 32 + 30 2 = 60 didapat ttab = 2,00. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan melalui model
pembelajaran inquiry berbantuan peta konsep dan siswa yang dibelajarkan melalui
pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat juga dari nilai rata-rata kelompok
eksperimen x = 78,75> x = 74 pada kelompok kontrol. Oleh sebab itu dapat disimpulkan
bahwa penerapan model pembelajaran inquiry berbantuan peta konsep berpengaruh
terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V di SD Gugus V Banjarangkan.

Kata kunci: Model Inquiry berbantuan Peta Konsep, Pembelajaran Konvensional, Hasil
Belajar IPS.

Abstract
This study aims to determine significant differences between the outcomes of social
studies of students who learned by the inquiry learning model assisted concept
mapping and students who learned by conventional learning in class V elementary
school in Cluster V Banjarangkan.This research is a kind of quasi-experimental
research with a Non Equivalent Control Group Design . The population according to
all fifth grade students in Cluster V Banjarangkan amounting to 136 students .
Determination of the samples was done by random sampling technique is a
randomized drawing class with the result that the fifth grade students of SD Negeri 2
Aan as a experiment group totaling 32 students and fifth grade students of SD Negeri
2 Timuhun as a control group totaling 30 students . Data collection method used is the
method of testing . The data collected were analyzed using descriptive statistical
analysis and inferential statistics ( t-test ).Based on the analysis of data , obtained thit =
2.67 , whereas the significance level of 5 % and db = 32 + 30-2 = 60 obtained ttab =
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

2.00 . So it can be interpreted that there are significant differences between the
learning outcomes of social studies students who learned by the inquiry learning
model asissted concept mapping and students who learned by conventional learning .
It can be seen also from the average value of the experimental group x = 78.75 >x =
74 in the control group. Therefore it can be concluded that the implementation of
inquiry learning model assisted concept mapping affect the of students social studies
fifth grade elementary school in cluster V Banjarangkan.

Keywords : Inquiry Model assisted Concept Mapping , Conventional Learning ,Social


Learning Outcomes .

PENDAHULUAN sehingga kualitas hasil belajar siswa


Masa usia Sekolah Dasar dapat dioptimalkan. Ada banyak faktor
merupakan tahap perkembangan yang yang mempengaruhi keberhasilan guru
penting dan fundamental bagi dalam mengoptimalkan kualitas hasil
kesuksesan perkembangan selanjutnya. belajar siswa, yaitu proses pembelajaran,
Menurut Piaget (dalam Pitajeng, guru, siswa, sarana dan prasarana,
2006:27), perkembangan kognitif siswa lingkungan sosial, kurikulum, dan sumber
SD masih dalam tahap operasional belajar. Dari beberapa faktor tersebut,
konkret karena siswa SD berada di proses pembelajaran merupakan salah
kisaran umur 7-11 tahun. Pada tahap satu faktor terpenting karena jika proses
operasional konkret siswa mampu pembelajaran berjalan dengan baik maka
berpikir logis melalui objek-objek konkret, hasil belajar yang diharapkan dapat
dan merupakan permulaan berpikir terpenuhi serta akan menghasilkan siswa
rasional. Kegiatan belajar dan berpikir yang bermutu dan mampu bersaing di
anak pada tahap operasional konkret jaman globalisasi seperti sekarang ini.
sebagian besar melalui pengalaman Dalam proses pembelajaran,
nyata yang berawal dari proses interaksi terdapat interaksi guru dengan siswa, dan
dengan objek dan bukan dengan interaksi siswa dengan siswa yang
lambang, gagasan maupun abstraksi. lainnya sehingga terjadi interaksi multi
Siswa pada tahap operasional arah. Interaksi multi arah dapat terjadi
konkret belum mampu melakukan proses apabila dalam pembelajaran, guru
berpikir yang abstrak seperti mampu menciptakan suasana belajar
membayangkan bagaimana proses yang menyenangkan sehingga
fotosintesis ataupun peristiwa gempa menimbulkan minat belajar siswa. Jika
bumi itu terjadi. Namun kemampuan siswa sudah memiliki ketertarikan dalam
untuk melakukan penambahan, mengikuti kegiatan belajar, maka siswa
pengurangan, klasifikasi, perkalian akan mampu berdiskusi baik dengan guru
sederhana dan pembagian telah ataupun dengan temannya tanpa
berkembang. Kemampuan untuk berpikir memandang apakah itu mata pelajaran
sedikit abstrak selalu harus didahului oleh yang ia sukai atau tidak.
pengalaman konkret misalnya untuk Salah satu mata pelajaran yang
dapat memahami dua tambah tiga wajib dipelajari di SD adalah mata
menjadi lima harus dilakukan melalui pelajaran IPS. IPS adalah salah satu
benda nyata seperti lidi, jari tangan dan mata pelajaran yang mengkaji
kelereng. Kemampuan untuk melakukan seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan
klasifikasi juga masih bersifat konkret generalisasi yang berkaitan dengan isu
yaitu melalui bentuk luarnya saja seperti sosial. Pada jenjang sekolah dasar mata
warna, panjang, besar, dan belum dapat pelajaran IPS memuat materi Geografi,
mengklasifikasikan berdasarkan berat Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi (BNSP,
(Trianto, 2007). 2011). Dengan belajar IPS siswa
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan diharapkan mampu memahami gejala-
kreativitas guru dalam membelajarkan gejala sosial yang ada di sekitarnya.
siswa agar pengetahuan yang Siswa diarahkan untuk dapat menjadi
dibelajarkan dapat mudah dipahami warga Negara Indonesia yang demokratis
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

dan bertanggung jawab, serta warga karakteristik materi yang akan


dunia yang cinta damai. IPS merupakan dibelajarkan. Semakin banyak variasi
bidang pengetahuan yang digali dari yang digunakan dan sesuai dengan
kehidupan praktis sehari-hari di karakteristik pembelajaran, maka akan
masyarakat. semakin menimbulkan ketertarikan siswa
Dari pemaparan tersebut, dapat dalam mengikuti pembelajaran sehingga
dilihat jika materi IPS di SD kebanyakan siswa mau aktif dan kreatif dalam
bersifat abstrak sehingga sangat pembelajaran yang tentunya dapat
diperlukan kreativitas guru untuk berpengaruh positif terhadap hasil
membelajarkan materi IPS ini. belajar.
Pembelajaran IPS harus dilakukan Pemilihan model yang sebaiknya
dengan menerapkan model pembelajaran diterapkan adalah model pembelajaran
yang relevan dan mengkombinasikan yang mampu mengajak siswa untuk
dengan media yang tepat agar siswa membangun pengetahuannya sendiri
mudah memahami materi serta proses karena pengetahuan yang dibangun
pembelajaran dapat berjalan dengan baik sendiri oleh siswa cenderung bersifat
dan menyenangkan. Guru harus mampu menetap. Efektivitas hasil belajar tinggi,
memberikan pengalaman langsung apabila langsung mengerjakan dan
kepada siswa terkait dengan materi serta mengalaminya. Sehingga, belajar dengan
mengajak siswa untuk menemukan pengalaman langsung penemuan sendiri
sendiri pemecahan masalah yang siswa akan mempermudah siswa dalam
temukan atau yang diberikan oleh guru memahami suatu konsep.
sehingga pengetahuan yang diperoleh Salah satu model pembelajaran
siswa dapat lebih lama diingat. yang mempunyai karakteristik tersebut
Namun berdasarkan hasil observasi adalah model pembelajaran Inquiry atau
dan wawancara dengan beberapa guru yang dalam bahasa indonesianya inkuiri.
dan Kepala Sekolah di SD gugus V Model pembelajaran inkuiri berarti suatu
Banjarangkan , pembelajaran IPS yang rangkaian kegiatan belajar yang
telah dilaksanakan belum banyak melibatkan secara maksimal seluruh
menggunakan model-model kemampuan siswa untuk mencari dan
pembelajaran yang banyak berkembang menyelidiki secara sistematis, kritis, logis,
seperti sekarang ini. Dalam proses analisis sehingga mereka dapat
pembelajaran guru belum melakukan merumuskan sendiri penemuannya
inovasi dan mengembangkan dengan penuh percaya diri (Gulo 2005).
kreatifitasnya agar pembelajaran menjadi Model Pembelajaran inkuiri didefinisikan
menarik dan lebih bermakna, sehingga sebagai pembelajaran yang
pembelajaran belum dapat berjalan mempersiapkan situasi bagi anak untuk
dengan optimal sesuai dengan harapan. melakukan eksperimen sendiri, dalam arti
Selain itu media serta sarana dan luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin
prasarana di SD gugus V Banjarangkan melakukan sesuatu, ingin menggunakan
belum mampu digunakan secara simbol-simbol dan mencari jawaban atas
maksimal dalam pembelajaran. Hal inilah pertanyaan sendiri, menghubungkan
yang diduga menjadi salah satu penemuan yang satu dengan penemuan
penyebab kurang optimalnya hasil belajar yang lain, membandingkan yang
siswa di gugus V Banjarangkan. ditemukan sendiri dengan ditemukan
Tentunya sebagai seorang guru orang lain.
harus bisa menciptakan proses Hamruni (2011:90) menyatakan
pembelajaran yang menyenangkan agar Pembelajaran inkuiri merupakan bentuk
dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam dari pembelajaran yang berorientasi
proses pembelajaran sehingga kepada siswa (student centered
mendapatkan hasil belajar yang optimal. approach). Dikatakan demikian karena
Untuk mencapai hal tersebut salah dalam pembelajaran ini siswa memegang
satu caranya adalah dengan menerapkan peran yang sangat dominan dalam
model pembelajaran yang relevan, proses pembelajaran. Dalam
bervariasi dan sesuai dengan pembelajaran inkuiri, siswa diberikan
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

kesempatan untuk mengajukan Selain itu, penggunaan media juga


permasalahan berupa pertanyaan- akan membantu siswa lebih memahami
pertanyaan, mengajukan hipotesis dari materi sehingga tercipta suasana belajar
pertanyaan tersebut, dan jawaban dari yang diharapkan. Salah satu media yang
pertanyaan tersebut dicari dan ditemukan bisa membantu pemahaman siswa
sendiri oleh siswa. Dalam pembelajaran terhadap materi adalah dengan peta
ini siswa dilatih mengembangkan fakta- konsep. Menurut Martin ( dalam Trianto,
fakta, membangun konsep-konsep, dan 2010) pemetaan konsep merupakan
menarik kesimpulan umum atau teori- inovasi baru yang penting untuk
teori yang menerangkan fenomena- membantu anak menghasilkan
fenomena yang mengembangkan pembelajaran bermakna di dalam kelas.
keterampilan-keterampilan penemuan Susilo (2001) mendefinisikan peta konsep
ilmiah (scientific inquiry) siswa. sebagai suatu alat untuk mewakili adanya
Sanjaya (2008;196) menyatakan keterkaitan secara bermakna antar
bahwa ada beberapa hal yang menjadi konsep sehingga membentuk proposisi.
ciri utama pembelajaran inkuiri. Pertama, Proposisi ialah dua atau lebih konsep
inkuiri menekankan kepada aktifitas yang dihubungkan dengan garis yang
siswa secara maksimal untuk mencari diberi label (kata penghubung) sehingga
dan menemukan, artinya pembelajaran memiliki suatu arti. Peta Konsep adalah
inkuiri menempatkan siswa sebagai suatu alat skematis untuk
subjek belajar. Dalam proses merepresentasikan suatu rangkaian
pembelajaran, siswa tidak hanya konsep yang digambarkan dalam suatu
berperan sebagai penerima pelajaran kerangka proposisi yang mengungkapkan
melalui penjelasan guru secara verbal, hubungan-hubungan yang berarti antara
tetapi mereka berperan untuk konsep-konsep dan menekankan
menemukan sendiri inti dari materi gagasan-gagasan pokok.
pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh Dengan pemetaan konsep, maka
aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan siswa akan dibantu mengorganisasikan
untuk mencari dan menemukan sendiri informasi sebelum informasi tersebut
dari sesuatu yang dipertanyakan, dipelajari. Pengorganisasian konsep-
sehingga diharapkan dapat konsep pada suatu materi pembelajaran
menumbuhkan sikap percaya diri (self akan memudahkan siswa memahami
belief). Artinya dalam pembelajaran cakupan materi yang akan dipelajari
inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sehingga pengetahuan yang diperoleh
sumber belajar, akan tetapi sebagai siswa akan lebih terorganisasi .
fasilitator dan motivator belajar siswa. Berdasarkan hal tersebut, maka
Aktvitas pembelajaran biasanya dalam penelitian ini akan dilakukan
dilakukan melalui proses tanya jawab penelitian dengan menggunakan model
antara guru dan siswa, sehingga pembelajaran inquiry ( yang masih
kemampuan guru dalam menggunakan dibimbing oleh guru) berbantuan peta
teknik bertanya merupakan syarat utama konsep dalam mata pelajaran IPS karena
dalam melakukan inkuiri. Ketiga, tujuan dapat memotivasi siswa lebih aktif
dari penggunaan model pembelajaran sehingga dapat berpengaruh positif
inkuiri adalah mengembangkan terhadap hasil belajar siswa. Dengan
kemampuan intelektual sebagai bagian adanya model pembelajaran inquiry
dari proses mental, akibatnya dalam berbantuan peta konsep ini, diharapkan
pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dapat mempengaruhi proses belajar
dituntut agar menguasai pelajaran, akan mengajar menjadi menyenangkan dan
tetapi bagaimana mereka dapat kondusif serta hasil belajar siswa dalam
menggunakan potensi yang dimilikinya. mata pelajaran IPS yang diharapkan
Ciri tersebut menunjukkan bahwa dapat tercapai. Untuk itu penelitian ini
pembelajaran inkuiri ini berusaha berjudul Pengaruh Penerapan Model
membimbing, melatih dan membiasakan Pembelajaran Inquiry Berbantuan Peta
siswa untuk terampil dalam berpikir. Konsep Terhadap Hasil Belajar IPS
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Siswa Kelas V SD Gugus V O3 = Pretest pada kelompok kontrol


Banjarangkan. O4 = Posttest pada kelompok kontrol
X=Perlakuan dengan model
METODE pembelajaran Inquiry berbantuan peta
Penelitian yang telah dilaksanakan konsep yang diberikan pada kelompok
ini adalah penelitian eksperimen. eksperimen. Sedangkan untuk
Mengingat tidak semua variabel (gejala kelompok kontrol dibelajarkan melalui
yang muncul) dan kondisi eskperimen pembelajaran konvensional.
dapat diatur dan dikontrol secara ketat, Agung (2011:45) menyatakan
maka penelitian ini dikategorikan bahwa populasi adalah keseluruhan
penelitian eksperimen semu (quasi objek dalam suatu penelitian.
experiment) dengan desain non- Berdasarkan hasil wawancara dengan
equivalent control group design. ketua gugus V Banjarangkan,
Sugiyono (2011:114) menyatakan pengelompokan kelas di Gugus V
Desain ini mempunyai kelompok kontrol, Banjarangkan ini dilakukan secara acak
tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya sehingga tidak terdapat kelas unggulan
untuk mengontrol variabel-variabel luar maupun non unggulan. Populasi pada
yang mempengaruhi pelaksanaan penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas V
eksperimen. Rancangan ini dipilih di SD Gugus V Banjarangkan tahun
karena selama eksperimen tidak ajaran 2013/2014. Terdapat 5 SD dalam
memungkinkan mengubah kelas yang gugus ini, yaitu SD Negeri 1 Aan, SD
ada. Negeri 2 Aan, SD Negeri 1 Timuhun, SD
Penentuan kelompok eksperimen Negeri 2 Timuhun, dan SD Negeri 1
dan kelompok kontrol dilakukan dengan Nyanglan.
cara mengacak kelas karena tidak dapat Dari populasi tersebut, diambil dua
mengubah kelas yang telah terbentuk sampel melalui teknik random sampling
sebelumnya. Kelompok eksperimen dengan cara undian untuk diuji
mendapat perlakuan dengan kesetaraannya. Teknik ini digunakan
menggunakan model pembelajaran karena individu-individu dalam populasi
inquiry berbantuan peta konsep telah terdistribusi ke dalam kelas-kelas,
sedangkan kelompok kontrol mendapat sehingga tidak mungkin dilakukan
perlakuan dengan menggunakan pengacakan individu dalam populasi.
pembelajaran konvensional. Pemberian Pengujian kesetaraan dilakukan dengan
Pre test dilakukan pada kelompok- menggunakan analisis uji-t. Tujuan dari
kelompok ini hanya untuk mengetahui uji kesetaraan ini untuk mengetahui ada
kesetaraan antara kelompok satu dengan tidaknya perbedaan rata-rata
yang lainnya dengan menggunakan soal- kemampuan belajar IPS siswa dari kedua
soal yang mengacu pada pelajaran kelompok sampel.
sebelum diberikan treatment pada Berdasarkan hasil analisis uji
kelompok siswa. Dan yang dibandingkan kesetaraan yang telah dilakukan dengan
dalam penelitian ini adalah skor post test menggunakan uji-t, diperoleh thitung = 1,69
saja. Berikut adalah pola rancangan dan ttabel dengan taraf signifikansi 5% dan
penelitian yang digunakan dalam dk n1 n2 -2 = 32 + 30 2 = 60 adalah
penelitian ini. 2,00, sehingga t-hitung lebih kecil dari t-
tabel maka kedua kelompok penelitian ini
O1 X O2 dinyatakan setara.
-------------------- Setelah kedua sampel dinyatakan
O3 O4 setara, sampel tersebut diundi lagi untuk
menentukan kelompok eksperimen dan
Gambar 1. Pola Non Equivalent Control kelompok kontrol. Berdasarkan
Group Design (Sugiyono 2011: 79). pengundian tersebut, diperoleh siswa
kelas V SD Negeri 2 Aan sebagai
Keterangan: kelompok eksperimen dan siswa kelas V
O1 = Pretest pada kelompok eksperimen SD Negeri 2 Timuhun sebagai kelompok
O2 = Posttest pada kelompok eksperimen kontrol. Kelompok eksperimen mendapat
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

perlakuan dengan model pembelajaran yang dibelajarkan melalui pembelajaran


inquiry berbantuan peta konsep konvensional yaitu dengan menghitung
sedangkan kelompok kontrol mendapat mean, standar deviasi, median dan
perlakuan dengan pembelajaran modus.
konvensional. Kemudian dilanjutkan dengan uji
Dalam penelitian ini terdapat dua hipotesis dengan analisis uji-t dengan
jenis variabel, yaitu variabel bebas rumus :
(independen) dan variabel terikat
(dependen). Variabel bebas adalah thitung = (1)
variabel yang mempengaruhi dan
menjadi penyebab perubahan atau
timbulnya variabel terikat dan variabel Namun sebelum dapat
terikat adalah variabel yang dipengaruhi menggunakan uji hipotesis dengan
atau yang menjadi akibat dari adanya menggunakan uji-t, terlebih dulu
variabel bebas (Sugiyono, 2012:39). dilakukan uji prasyarat, yaitu uji
Yang termasuk variabel bebas adalah normalitas dan uji homogenitas. Uji
model pembelajaran inquiry berbantuan normalitas menggunakan analisis Chi-
peta konsep yang diterapkan pada kelas Square dan uji homogenitas
eksperimen dan model pembelajaran menggunakan analisis Anava Havley.
konvensional yang diterapkan pada kelas
kontrol. Sedangkan variabel terikatnya HASIL DAN PEMBAHASAN
adalah hasil belajar IPS siswa kelas V SD Data yang terkumpul dalam
Gugus V Banjarangkan tahun ajaran penelitian ini adalah data hasil belajar
2013/2014. (post-test) siswa kelas V di SD Negeri 2
Dalam penelitian ini, data yang Aan dan SD Negeri 2 Timuhun dalam
dikumpulkan adalah data tentang hasil ranah kognitif . Dari data yang terkumpul,
belajar siswa pada mata pelajaran IPS diperoleh deskripsi data berupa mean,
dalam ranah kognitif. Menurut Arikunto median, modus, standar deviasi, varian,
(2005) metode pengumpulan data adalah nilai minimum, nilai maksimum, dan
cara-cara yang dapat digunakan oleh rentangan dari data hasil belajar IPS
peneliti untuk mengumpulkan data. siswa kelas V di SD Negeri 2 Aan
Untuk mengumpulkan data hasil belajar (kelompok eksperimen) dan SD Negeri 2
digunakan dengan metode tes. Tes yang Timuhun (kelompok kontrol).
digunakan berupa tes hasil belajar yang Deskripsi data kelompok
sudah divalidasi. eksperimen yaitu : mean sebesar 78,75 ,
Sebelum tes dapat digunakan, standar deviasi sebesar 6,7 , varian
terlebih dahulu tes harus diuji coba dan sebesar 43,55 , median adalah 80, modus
selanjutnya diuji kevalidan atau adalah 87, nilai minimun adalah 70, nilai
kesahihan instrument penelitian yaitu maksimum adalah 87. Sedangkan
dengan Uji Validitas Tes, Uji Daya Beda, deskripsi data di kelas kontrol yaitu :
Uji Tingkat Kesukaran , dan Uji mean sebesar 74 , standar deviasi
Reliabilitas . sebesar 7,4 , varian sebesar 54,62 ,
Setelah dilakukan pengujian, median adalah 77, modus adalah 80, nilai
terdapat 30 soal yang layak digunakan minimun adalah 60, nilai maksimum
untuk menguji pemahaman siswa tentang adalah 87.
materi IPS yang diajarkan. Analisis data kelompok eksperimen
Sebelum dilakukan uji hipotesis, dan kelompok kontrol dilakukan dengan
terlebih dahulu dilakukan deskripsi data menggunakan uji-t. Namun sebelumnya
dengan menggunakan teknik analisis dilakukan uji prasyarat agar uji-t dapat
statistik deskriptif. Teknik analisis statistik dilaksanakan yaitu dengan uji normalitas
deskriptif digunakan untuk dan uji homogenitas.
mendeskripsikan data hasil belajar IPS Hasil uji normalitas data kelompok
siswa yang dibelajarkan melalui model eksperimen dengan menggunakan
pembelajaran inquiry berbantuan peta analisis Chi-Square (X2) sebesar 6,92,
konsep dan data hasil belajar IPS siswa
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

sedangkan untuk taraf signifikansi 5 % pembelajaran Inquiry berbantuan peta


(= 0,05) dan derajat kebebasan (dk) = 5 konsep dengan siswa yang dibelajarkan
diperoleh 2tabel = 2(=0,05, 5) = 11,07 , melalui pembelajaran konvensional yang
karena X2tabel > X2hitung maka H0 diterima berarti penerapan model pembelajaran
(gagal ditolak) yang berarti sebaran data Inquiry berbantuan peta konsep
nilai post-test IPS di kelompok berpengaruh terhadap hasil belajar IPS
eksperimen (SD Negeri 2 Aan) siswa.
berdistribusi Normal. Dan untuk Hasil uji Dalam penelitian ini, terdapat dua
normalitas data kelompok kontrol dengan kelompok yang diteliti yaitu kelompok
menggunakan analisis Chi-Square (X2) eksperimen dan kelompok kontrol.
adalah sebesar 2,61 , sedangkan untuk Kelompok eksperimen diberikan
taraf signifikansi 5 % ( = 0,05) dan perlakuan dengan menggunakan model
derajat kebebasan (dk) = 5 diperoleh pembelajaran Inquiry berbantuan peta
2 2 2 konsep, sedangkan kelompok kontrol
tabel = (=0,05, 5) = 11,07, karena X tabel >
X2hitung maka H0 diterima (gagal ditolak), diberikan perlakuan dengan
dan berarti sebaran data nilai post-test menggunakan pembelajaran
IPS di kelompok kontrol (SD Negeri 2 konvensional. Perlakuan diberikan
Timuhun) juga berdistribusi Normal. sebanyak 7 kali pertemuan baik untuk
Untuk uji homogenitas data kelompok eksperimen maupun kelompok
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selanjutnya dilakukan pemberian
kontrol dengan menggunakan analisis uji- tes akhir (posttest) pada kedua kelompok
F, diperoleh hasil F hitung sebesar 1,25 yang hasilnya dianalisis dengan
ini kemudian dibandingkan dengan nilai menggunakan uji-t.
Ftabel. Derajat kebebasan pembilang 30 Berdasarkan analisis uji-t yang
1 = 29 dan derajat kebebasan penyebut telah dilakukan, diperoleh thitung > ttabel. Ini
32 1 = 31 dengan taraf signifikansi 5 %, berarti hipotesis yang menyatakan bahwa
maka diperoleh Ftabel = 1, 84. Nilai Fhitung < terdapat perbedaan yang signifikan hasil
Ftabel , ini berarti nilai post-test IPS ke dua belajar IPS pada kelas yang dibelajarkan
kelompok yaitu kelompok eksperimen melalui model pembelajaran Inquiry
(SD Negeri 2 Aan) dan kelompok kontrol berbantuan peta konsep dengan kelas
(SD Negeri 2 Timuhun) adalah Homogen. yang dibelajarkan melalui pembelajaran
Oleh karena data hasil post-test konvensional siswa kelas V SD Gugus V
kedua kelompok berdistribusi normal dan Banjarangkan pada taraf signifikansi 0,05
homogen, maka analisis dapat dilanjutkan diterima.
dengan pengujian hipotesis Hal ini disebabkan karena model
menggunakan uji-t. Dari analisis data nilai pembelajaran Inquiry berbantuan peta
post-test, didapatkan hasil X1=78,75, X2= konsep adalah model pembelajaran yang
74, n1= 32, n2= 30, Varians 1 (s12)= 43,55, menekankan keterlibatan siswa secara
Varians 2 (s22) = 54,62 aktif dalam pembelajaran untuk
Sebelum menghitung dengan menemukan pengetahuannya sendiri
rumus uji t terlebih dahulu perlu dihitung melalui masalah yang diajukan oleh
Sgab dengan hasil 48,90. Setelah siswa itu sendiri dan kemudian
diperoleh Sgab akan dilanjutkan dengan memecahkan masalah tersebut. Dengan
menggunakan rumus uji- t . bantuan peta konsep, siswa akan lebih
Berdasarkan hasil analisis data terorganisir dalam memahami konsep
diperoleh thitung sebesar 2,67. Dengan dari materi IPS yang dibelajarkan
menggunakan taraf signifikansi 5% dan sehingga siswa lebih dapat memahami
dk = 60 diperoleh batas penolakan apa saja yang akan ia pelajari. Hal ini
hipotesis nol sebesar 2,000. Berarti thitung akan merangsang siswa untuk dapat
> ttabel maka Ho yang diajukan ditolak dan mengajukan pertanyaan atau masalah
menerima Ha. Maka dapat dikatakan dari materi yang dibelajarkan. Setelah
bahwa terdapat perbedaan yang beberapa masalah diperoleh, siswa juga
signifikan hasil belajar IPS antara siswa dituntun oleh guru untuk dapat belajar
yang belajarkan melalui model memberikan hipotesis atau jawaban
sementara dari masalah tersebut.
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Kemudian siswa mencari data-data untuk Timuhun yang menggunakan


memecahkan masalah tersebut dari pembelajaran konvensional, selama
beberapa sumber yang siswa punya dan proses pembelajaran siswa terlihat
yang telah disiapkan oleh guru. Hasil dari kurang aktif dan takut untuk mengajukan
diskusi siswa dibacakan sendiri oleh pendapat ataupun pertanyaan. Hal ini
siswa sehingga dapat melatih keberanian disebabkan karena dalam penerapan
siswa. pembelajaran konvensional, guru
Dengan penerapan model memberikan materi dengan lebih banyak
pembelajaran Inquiry berbantuan peta menggunakan metode ceramah sehingga
konsep di SD Negeri 2 Aan, siswa siswa bosan dan kurang berminat untuk
dilibatkan secara penuh dalam terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa
pembelajaran sehingga pembelajaran hanya terpusat pada guru yang lebih
lebih bermakna dan efektif dalam banyak memberikan ceramah dari pada
merangsang keberanian dan keaktifan kegiatan yang melibatkan siswa secara
siswa serta kecerdasan siswa dalam aktif. Pembelajaran konvensional
memecahkan masalah. mengakibatkan siswa sangat tergantung
Ini sejalan dengan pendapat pada guru, hal ini dapat mengakibatkan
Roestiyah (2001: 76) yang menjelaskan aktivitas siswa kurang optimal. Sehingga
beberapa keunggulan dari model inquiry, siswa hanya menerima apa yang
yaitu: disampaikan guru.
a. Dapat membentuk dan Hal ini mendukung hipotesis yang
mengembangkan konsep dasar menyatakan bahwa terdapat perbedaan
kepada siswa sehingga siswa dapat yang signifikan hasil belajar IPS pada
mengerti tentang konsep dasar ide-ide kelompok yang dibelajarkan melalui
dengan lebih baik. model pembelajaran Inquiry berbantuan
b. Membantu dalam menggunakan peta konsep dengan kelas yang
ingatan dan transfer pada situasi dibelajarkan melalui pembelajaran
proses belajar yang baru. konvensional siswa kelas V SD Gugus V
c. Mendorong siswa untuk berfikir dan Banjarangkan.
bekerja atas inisiatifnya sendiri, Disarankan guru dapat lebih
bersifat jujur, obyektif, dan terbuka. memotivasi siswa dalam belajar dengan
d. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif penerapan model pembelajaran yang
dan merumuskan hipotesisnya sendiri. relevan agar pembelajaran lebih efektif
e. Memberi kepuasan yang bersifat dan bermakna. Model pembelajaran
intrinsik. Inquiry berbantuan peta konsep ini
f. Situasi pembelajaran lebih dapat dikembangkan dan diterapkan
menggairahkan. dalam pembelajaran sebagai
g. Dapat mengembangkan bakat atau pengembangan dari hasil penelitian ini.
kecakapan individu.
h. Memberi kebebasan siswa untuk
SIMPULAN DAN SARAN
belajar sendiri.
i. Menghindarkan diri dari cara belajar Setelah melaksanakan dan
tradisional. memperoleh hasil dari penelitian, maka
j. Dapat memberikan waktu kepada diperoleh kesimpulan sebagai berikut.
siswa secukupnya sehingga mereka Nilai hasil belajar IPS siswa kelas
dapat mengasimilasi dan V SD Negeri 2 Aan yang dibelajarkan
mengakomodasi informasi. melalui penerapan model pembelajaran
Selain itu, hasil penelitian dari Inquiry berbantuan peta konsep
Arseni (2012) juga mendukung pendapat memiliki prosentase 62.5%6 dengan
tersebut yang menunjukkan bahwa model kategori sangat baik dan 37.5% dengan
pembelajaran Inquiry dapat kategori baik.
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Nilai hasil belajar IPS siswa kelas
IPA siswa kelas IV B SDN 7 Pemecutan. V SD Negeri 2 Timuhun yang
Berbeda dengan pembelajaran IPS dibelajarkan melalui penerapan
di kelompok kontrol yaitu di SD Negeri 2 pembelajaran konvensional memiliki
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

prosentase 53,33% dengan kategori diperoleh hasil penelitian yang lebih


sangat baik dan 46.67% dengan kategori komprehensif.
baik.
Dari perhitungan uji-t yang telah
dilakukan oleh peneliti dengan DAFTAR PUSTAKA
menggunakan taraf signifikansi 5% ( =
Agung, A. A. Gede. 2010. Pengantar
0,05) atau taraf kepercayaan 95%
Evaluasi Pendidikan. Singaraja:
dengan dk = 60, diperoleh ttabel sebesar
Jurusan Teknologi Pendidikan
2,000 dan thitung sebesar 2,67. Kedua nilai
Fakultas Ilmu Pendidikan
tersebut dibandingkan maka diperoleh
Universitas Pendidikan Ganesha
thitung ttabel (2,67 2,000). Dari
perbandingan ini maka H0 ditolak Ha Agung, A. A. Gede. 2011. Metodologi
diterima yang artinya terdapat perbedaan Penelitian Pendidikan. Singaraja:
yang signifikan hasil belajar IPS antara Fakultas Ilmu Pendidikan
siswa yang dibelajarkan melalui model Universitas Pendidikan
pembelajaran Inquiry berbantuan peta Ganesha.
konsep dengan siswa yang dibelajarkan
melalui pembelajaran konvensional. Arikunto, Suharsimi. 2002. Manajemen
Selain itu, hasil penghitungan rata-rata Penelitian. Jakarta: Rineka
nilai hasil belajar akhir siswa antara Cipta.
kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol adalah 78,75 dan 74 sehingga X Arikunto, Suharsimi. 2005(b). Manajemen
eksperimen X kontrol yang berarti penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
penerapan model pembelajaran Inquiry
berbantuan peta konsep berpengaruh Arseni.2012. Implementasi Pendekatan
terhadap hasil belajar IPS siswa. Pembelajaran Inkuiri Untuk
Adapun beberapa saran yang dapat Meningkatkan Keaktifan Dan Hasil
disampaikan setelah melaksanakan dan Belajar Ipa Siswa Kelas Iv B Di
memperoleh hasil dari penelitian yaitu Sd N 7 Pemecutan Denpasar. .
sebagai berikut. Skripsi (tidak diterbitkan). Jurusan
Bagi guru, dengan diadakan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
penelitian ini, guru disarankan untuk lebih Fakultas Ilmu Pendidikan.
mengembangkan inovasi dalam Undiksha.
menerapkan suatu model pembelajaran
khususnya dengan model pembelajaran BSNP. 2011. Standar Kompetensi dan
Inquiry berbantuan peta konsep pada Kompetensi Dasar Sekolah
mata pelajaran IPS sehingga dapat Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
tercipta suasana pembelajaran yang aktif Jakarta: Kementrian Pendidikan
dan bermakna. Nasional.
Bagi siswa, diharapkan dengan
penelitian ini, siswa menjadi aktif dan Gulo, W. 2005. Strategi Belajar Mengajar.
dapat lebih mudah memahami konsep Jakarta: PT Gramedia.
dari materi yang dibelajarkan dalam
proses pembelajaran sehingga
Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran.
pembelajaran menjadi bermakna
Yogyakarta: Insan Madani
khususnya dalam mata pelajaran IPS.
Bagi sekolah, diharapkan dengan
Pitajeng. 2006. Pembelajaran Matematika
hasil penelitian ini sekolah mampu
yang Menyenangkan. Jakarta:
mengadakan kebijakan baru terkait
Depdiknas.
dengan meningkatkan kualitas proses
pembelajaran di sekolah.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar
Bagi peneliti lain, diharapkan Mengajar. Jakarta: PT Rineka
peneliti selanjutnya melakukan penelitian Cipta.
dengan skup yang lebih luas, sehingga
Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi


Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian


Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian


Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian


Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian


Pendidikan Kompetensi dan
Prakteknya. Jakarta: Bumi
Aksara.
Trianto. 2007. Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Surabaya: Kencana Prenada
Media Group.

Trianto. 2010. Mendesain Model


Pembelajaran Inovatif-Progresif.
Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.