Anda di halaman 1dari 10

Yang disebut sebagai pebelajar muda usia di sini adalah siswa sekolah dasar yang

berusia antara 6-12 tahun. Mereka dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaituyounger group (6-
8 tahun) dan older group (9-12 tahun). Menurut jenjang kelasnya, mereka bisa disebut anak-
anak lower classes, yaitu anak kelas 1, 2, dan 3 serta upper classes siswa kelas 4, 5, dan 6.
Sementara itu, Scott dan Ytreberg (1990) membagi mereka dalam kelompok level one atau
tingkat pemula (5-7 tahun) dan level two (8-10 tahun). Kelompok level two juga bisa
disebut beginners jika mereka baru mulai belajar bahasa inggris pada usia itu.
Saat ini banyak anak preschool atau siswa taman kanak-kanak yang juga belajar
bahasa Inggris sehingga kita dapat mengelompokkan mereka dalam kelompok sendiri, yaitu
kelompok very young learners. Dalam pembelajaran bahasa Inggris kematangan siswa di
kelas tidak hanya ditentukan oleh siswa atau jenjang kelas mereka saja, tetapi juga oleh
banyak faktor lain, seperti lingkungan (perkotaan atau pedesaan), budaya setempat, minat,
dan pengaruh orang tua. Dengan demikian, program dan jenis kegiatan yang dilaksanakan
oleh guru banyak ditentukan oleh pemahaman mereka terhadap lingkungan, sikap, minat,
dan latar belakang anak.
Pada dasarnya, yang perlu diingat sebagai salah satu tujuan penting dalam
pembelajaran bahasa Inggris di sekolah dasar adalah menumbuhkan minat anak dalam
belajar bahasa Inggris.
2.2 Ciri-Ciri Pebelajar Muda
Berikut ini karakteristik atau ciri-ciri pebelajar muda secara umum :
Pada umumnya, anak-anak yang berusia 5-7 tahun memiliki sikap egocentric di mana ada
kecenderungan mereka suka menghubungkan apa yang mereka pelajari atau mereka lakukan
dengan dirinya sendirinya. Mereka menyukai materi pelajaran yang berhubungan dengan
kehidupan mereka sehari-hari dan sekelilingnya, misalnya kata yang menggunakan kata atau
frasa, seperti my ...: my family, my house .... Mereka juga memberikan perhatian lebih
pada kalimat atau frasa yang menyangkut benda-benda miliknya atau yang dipakainya
bahkan pada anggota tubuhnya.
Ketika anak-anak bertambah usia, yaitu ketika menginjak usia 10 tahun (kelas 4 sd)mereka
sedang dalam proses perubahan yang tadinya egocentric menuju ke hubungan timbal
balik atau reciprocity. Perhatiannya tidak lagi berpusat pada dirinya, tetapi sudah mulai
memerhatikan orang lain. Pada masa-masa itu, topik yang semula sebagian besar berfokus
pada i, my, atau me, dengan you dan your yang ditujukan untuk anak lain atau temannya.

1. Pebelajar muda kelompok level one, yaitu usia 5-7 tahun masih sulit membedakan hal-hal
yang konkrit dan yang abstrak. Garis pembatas antara dunia nyata dan dunia imajinasi
tidak atau belum jelas bagi mereka.
Pada waktu memperkenalkan bahasa Inggris kepada anak-anak, sebaiknya diawali dengan
hal-hal yang konkrit sebelum menuju ke hal-hal yang bersifat abstrak. Selain itu, jangan
hanya mengandalkan bahasa lisan karena bahasa lisan saja tidak cukup. Kegiatan untuk
anak-anak juga harus melibatkan aspek pikiran (kognitif) dan gerakan tubuh. Banyak benda
objek dan gambar yang bersifat konkrit yang bisa digunakan untuk memberi gambaran
tentang lingkungannya, misalnya kursi, meja, papan tulis, pintu, jendela, dan alat tulis.
Benda-benda tersebut dapat dikemas dalam sebuah nyanyian seperti yang ada di bawah ini.

This is the window (sambil menunjuk jendela),


That is the door (sambil menunjuk pintu),
That is the black board (sambil menunjuk papan tulis),
And this is the floor (sambil menunjuk lantai).

Ketika menginjak usia 8-10 tahun, mereka sudah bisa membedakan antara fakta dan fiksi,
juga bisa mengerti hal yang abstrak. Pada usia 10 tahun, mereka bisa disebut anak yang
matang dengan kedewasaan di satu sisi dan kekanak-kanakan di sisi lainnya. Perbedaan
antara orang dewasa dan anak-anak dalam menyikapi sesuatu hal yang belum dimengerti,
yaitu anak-anak tidak selalu dapat mengerti apa yang diperbincangkan oleh orang dewasa
begitu pula sebaliknya. Orang dewasa akan mencari tahu dengan cara bertanya, tetapi anak-
anak tidak selalu mau bertanya. Mereka kadang berpura-pura mengerti atau mereka
mengerti, tetapi menurut pemahaman mereka sendiri.

2. Anak-anak juga cenderung imajinatif dan aktif. Mereka menyukai pembelajaran melalui
permainan, cerita maupun lagu sehingga mereka akan lebih termotivasi untuk belajar
bahasa Inggris walaupun secara tidak langsung. Belajar berbahasa sambil bermain
merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak atau sering disebut
sebagai recreational time out activities.
Ur (1996) mengatakan ada tiga sumber perhatian untuk anak-anak dalam kelas, yaitu
gambar, dongeng, dan permainan. Dalam permainan, ada kebutuhan untuk berkomunikasi
dan ini mendorong anak untuk berbicara. Mereka bisa berbicara dengan dirinya sendiri atau
dengan temannya, bernyanyi dan bermain dengan kata-kata yang sedang dipelajari.
Misalnya, dengan menyamakan bunyi /e/ dan /ai/

Contoh :

Lets go Pets go
Blue eyes Blue pies
Meskipun kata-kata itu tidak memberikan makna, tetapi hal ini secara umum ditemui pada
tingkat awal pembelajaran bahasa asing. Kegiataan ini memberikan kegembiraan pada
anak-anak (scoth dan ytreberg, 1990).

1. Perasaan mudah bosan juga merupakan salah satu ciri anak-anak. Merekamempunyai
tingkat konsentrasi dan perhatian yang pendek. Untuk mengatasi kebosanan mereka,
kegiatan belajar harus variatif dan perlu diganti setiap 10-15 menit. Variasi bisa diciptakan
dalam kegiatan belajar pada pengelompokkan siswa, jarak waktu kegiatan, bahan ajar
maupun variasi suara dan pemanfaatan barang-barang buatan di sekitar kita juga dapat
bermanfaat dalam kegiatan belajar. Anak-anak older group atau upper classes bisa
berkonsentrasi lebih lama, tetapi variasi kegiatan masih diperlukan.

2. Kehidupan anak-anak penuh warna dan keceriaan. Kegiatan dan tugas yang disertai
dengan gambar yang menarik dan berwarna-warni akan membuat anak-anak lebih gembira.
Tugas untuk mewarnai tentu akan dikerjakan dengan gembira sambil mengenal dan
mempelajari nama-nama warna dan benda-benda yang tercantum pada gambar tersebut.
Berbagai media berupa flash card dan puppets dengan warna-warna yang ceria akan sangat
membantu melancarkan proses belajar mengajar bahasa Inggris. Keceriaan anak-anak bisa
juga dituangkan dalam lagu. Anak-anak biasanya cepat hafal nyanyian yang sederhana,
riang, dan mudah untuk diucapkan, apalagi bila nyanyian itu dilagukan dengan gerakan
yang sesuai.

3. Anak-anak menyukai cerita sebagaimana mereka menyukai permainan. Melalui cerita,


siswa dapat dilatih untuk lebuh memusatkan perhatian pada konteks secara keseluruhan
daripada jika dinyatakan per kata. Sementara melalui permainan, siswa lebih terdorong
untuk lebih aktif dan lebih bebas dalam menggunakan bahasa inggris yang kadang-kadang
akan terucap bahasa menurut versi mereka. Dalam kegiatan bercerita, anak dapat belajar
bahasa dengan menyimak atau menerima pesan yang terkandung di dalamnya.

4. Younger group lebih menyukai mengerjakan tugas sendiri, tetapi dengan teman di
dekatnya. Mereka belum bisa berbagi dan sangat self-centered sampai batas usia 7
tahun. Pada usia 8-9 tahun, mereka sudah bisa bekerja sama dan belajar dari orang
lain. Bentuk kerja sama dapat in pairs atau in groups. Mereka merasa lebih aman jika dalam
mengerjakan tugas bekerja sama, sesuai dengan kemauannya karena bisa saling membantu
dan mengoreksi. Sekali anak-anak merasa aman dan senang dalam kelas bahasa Inggris,
mereka bisa diberi semangat agar lebih berani dan lebih aktif dalam pembelajaran bahasa.

5. Pebelajar usia 8-10 tahun cukup mempunyai kesadaran dan kesiapan berbahasa.
Sementara itu, pada usia sebelumnya, sebenarnya mereka belum menyadari untuk apa
belajar bahasa asing walaupun mereka merasa senang dan bersemangat tinggi. Anak-anak
dapat mengerti konteks dari suatu percakapan tanpa harus mengerti arti kata per kata.
Sebenarnya, intonasi, isyarat, ekspresi wajah, dan berbagai gerak akan membantu mereka
untuk mengerti suatu kata atau kalimat yang belu mereka ketahui.
6. Pada dasarnya, anak-anak menyukai percakapan instrik untuk berinteraksi dan berbicara
tentang apa yang dimiliki. Mereka harus berbicara dan berinteraksi dalam bahasa Inggris
dengan sesama teman dan dengan guru bahasanya karena mereka harus belajar bagaimana
menggunakan bahasa Inggris. Satu-satunya cara yang paling efektif bagi anak untuk belajar
menggunakan bahasa termasuk bahasa asing adalah dengan jalan menggunakan bahasa itu
sendiri.

7. Siswa sekolah dasar pada umumnya adalah pebelajar yang merupakan pemikir aktif.
Mereka senang belajar sesuatu, termasuk juga belajar bahasa dengan cara melakukan
sesuatu (learning by doing), misalnya bermain atau bernyanyi dengan menggerakkan
anggota tubuh untuk memberi isyarat atau memberi makna ungkapan yang diucapkan.
Aktivitas yang menggunakan contoh, gerak, ekspresi, dan pemanfaatan objek atau gambar-
gambar yang dapat mempermudah anak belajar bahasa. Kegiatan semacam itu dapat
membantu anak-anak untuk memahami kata-kata atau frasa yang baru diberikan dan baru
mereka dengar.

3 Faktor yang Memengaruhi Pembelajaran EYL


2.3.1 Bahasa Ibu
Insting, karakteristik, dan keterampilan yang sudah terbentuk dalam mempelajari
bahasa ibu atau bahasa pertama sangat membantu anak dalam mempelajari bahasa baru,
dalam hal ini bahasa inggris. Ada persamaan antara pola pembelajaran bahasa ibu dan
bahasa asing, tetapi banyak pula perbedaan terutama dalam hal ejaan, ucapan termasuk
tekanan dan intonasi, struktur, dan kosakata. Perbedaan ini dapat memengaruhi proses
belajar bahasa asing bagi anak-anak. Tidak jarang pengaruh bahasa pertama menjadi
penghambat dalam mempelajari bahasa asing.
a red chair kursi merah
adj N N adj

Sulit bagi anak indonesia mengucapkan bunyi huruf hidup yang panjang, seperti pada
kata food; room; diftong /ei/, /au/, /ou/ seperti pada kata away,now |nau|, dan road |roud|.
Juga pola kata benda yang dikombinasikan dengan kata sifat, misalkan a redchair dalam
bahasa indonesia letaknya berbeda jika dibandingkan dengan kursimerah.

2.3.2 Bahan Ajar


Pemilihan materi sebagai bahan ajar dengan teknik pembelajaran yang sesuai dengan
usia dan minat anak akan dapat menyenangkan siswa EYL.Anakanak mempunyai perhatian
yang besar terhadap hal-hal yang menyangkut interest mereka, misalnya tentang binatang
peliharaan, sepak bola, keluarga, dan hobi. Dalam memilih buku untuk siswa, guru perlu
mempertimbangkan banyak hal.
Bahan ajar hendaknya yang dapat merangsang siswa belajar aktif dengan tujuan
yang jelas dan bermakna dengan instruksi jelas. Latihan, tugas, dan kegiatan belajarnya
harus melibatkan siswa. Pilihan kata dan tingkat kesulitan tata bahasa perlu disusun secara
runtut, dari yang mudah ke yang lebih sukar.

2.3.3 Interaksi Sosial


Komunikasi antara siswa dan guru serta siswa dan siswa yang hangat akan
memberikan rasa aman pada pembelajaran pemula dan meningkatkan rasa percaya diri
dalam mempelajari bahasa baru. Interaksi sosial membantu anak untuk menggunakan
bahasa dan membuat mereka untuk saling belajar.
Hubungan ini bisa terjalin melalui permainan, lagu, dan kegiatan belajar yang
dilakukan secara berpasangan (in pairs) dan secara berkelompok (in groups). Komunikasi
dengan teman dalam bentuk tanya jawab dapat membantu siswa menjadi berani
menggunakan bahasa.
Jarak yang ada antara guru dan siswa dapat dikurangi dengan adanya kegiatan-
kegiatan yang mudah dan menyenangkan, komunikasi antarsiswa jadi meningkat, demikian
pula peran serta siswa terlihat sehingga kegiatan tersebut memberikan rasa percaya diri,
terutama bagi siswa yang pemalu. Dengan adanya interaksi sosial diharapkan mereka tidak
merasa malu untuk menggunakan bahasa yang baru dipelajari. Pertama dengan cara
meniru, kemudian menjawab, dan bertanya. Selanjutnya, mereka dapat menyampaikan suatu
pesan dalam bahasa Inggris.

2.3.4 Media Pembelajaran


Pembelajaran EYL akan lebih efektif jika guru menggunakan media untuk menunjang
kegiatan belajar mengajar karena anak-anak menyukai hal-hal yang bersifat visual.
Penggunaan alat bantu ajar atau media yang berbentuk benda nyata, gambar, puppets, dan
miniatur dapat membuat penyajian materi lebih menarik dan menyenangkan.
Guru dapat menyiapkan alat bantu yang diambil dari koleksinya sendiri, misalnya
gambar, foto, dan benda nyata, seperti pen, watch, dan bag atau gambar dalam bentuk flash
cards atau pictures.

2.3.5 Latar Belakang Keluarga


Faktor latar belakang keluarga atau sosial juga dapat menunjang atau menghambat
keberhasilan anak belajar bahasa Inggris. Tersedianya kamus, buku, dan fasilitas lain di
rumah serta support orang tua juga merupakan faktor yang dapat memengaruhi proses
belajar bahasa asing. Benda di lingkungan anak dapat menambah kosakata, misalnya TV,
sofa, cupboard, buku siswa, kamus, dan buku bacaan yang dibelikan orang tua akan
membantu siswa belajar bahasa Iinggris.

2.4 Kegiatan belajar EYL


Kegiatan siswa dalam pembelajaran bahasa inggris mencakup semua kompetensi
bahasa yang berupa keterampilan
menyimak (listening), berbicara(speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).

2.4.1 Listening (keterampilan menyimak)


Bagi sebagian siswa EYL, menyimak adalah satu kegiatan yang sulit karena kosakata
mereka masih sangat terbatas. Kesulitan mereka akan terbantu jika apa yang disampaikan
guru diiringi dengan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan gerak tubuh. Anak-anak dapat
lebih memusatkan perhatian terhadap apa yang mereka dengarkan jika disertai kegiatan
yang melibatkan mereka. Kemudahan ini akan membuat mereka termotivasi daripada jika
mereka disuruh mendengar kemudian menulis apa yang baru didengar.

Ada beberapa contoh kegiatan listening :


- Listen and imitate
Kegiatan ini dapat digunakan untuk mempelajari kosakata baru dengan menggunakan
gambar atau flash cards. Siswa mendengarkan terlebih dahulu apa yang diucapkan guru
kemudian menirukan dengan ucapan yang benar.
- Listen and repeat
Kegiatan ini dapat berupa permainan dengan materi berupa serangkaian kalimat yang
sudah dipersiapkan guru. Pada kalimat tersebut terdapat kata atau frasa dan struktur bahasa
yang sedang dipelajari. Guru membisikkan kalimat pada siswa pertama, lalusiswa pertama
membisikkan kalimat tersebut pada siswa kedua. Pengulangan akan dilakukan oleh siswa
kedua pada siswa ketiga, dan seterusnya. Ketika sampai pada siswa terakhir guru dapat
mengecek apakah kalimat yang disampaikan siswa terakhir masih tetap sama seperti yang
diberikan guru.
- Listen and follow instructions
Dalam kegiatan ini siswa harus mendengar dengan seksama instruksi yang diberikan
guru kemudian diikuti dengan mengerjakan kegiatan sesuai instruksi, misalnya listen and
guess, yaitu siswa mendengarkan kemudian menebak apa yang disampaikan guru
atau listen and do something,misalnya :
Close your eyes;
Touch your hair;
Open your book;
Kegiatan ini dapat juga digunakan untuk mempelajari preposisi in, on,
dan under, misalnya : put your pen under your book
Kemudian diulangi lagi put your pen under your book
- Listen and match
Guru membacakan kalimat dan siswa menghubungkan gambar yang tepat dengan
kalimat yang baru disampaikan oleh guru. Misalnya, ada beberapa gambar kemudian guru
bicara dengan menyebut nama yang ada digambar. Siswa akan menjodohkan dan memberi
nomor yang ada pada gambar.

this is an apple, lalu siswa memberi nomor 1 (satu) pada gambar apel.

2.4.2 Speaking (keterampilan berbicara)


Dari semua insting yang dimiliki anak sebagai pelajar muda bahasa Inggris, insting
untuk berinteraksi dan berbicara adalah yang paling penting untuk pembelajaran bahasa
Inggris. Anak-anak biasanya ingin segera menggunakan bahasa yang mereka pelajari untuk
berkomunikasi. Dalam kegiatan speaking, guru harus memerhatikan tujuan dari kegiatan
tersebut. Pada kegiatan terkontrol dimana tujuannya adalah mempraktikkan bahasa yang
dipelajari dengan benar dan mengutamakan accuracy , guru dapat mengoreksi kesalahan
pada waktu itu juga.
Dalam kegiatan speaking yang bersifat lebih bebas, misalnya pada kegiatangames,
role play, dan questions and answer, tujuannya adalah memberi semangat kepada siswa
untuk mengemukakan idenya dan fokusnya pada content dan bukan pada struktur.
Kegiatan speaking bias berupa :
- Short dialogue; - Questions and answer;
- Games; - Role play;
- Retelling story.
Short dialogue, questions, and answer, dan games bisa dilakukan secara berpasangan.
Kegiatan berpasangan ini lebih memotivasi anak untuk berbicara aktif. Kegiaan tanya jawab
dapat meningkatkan kebutuhan siswa untuk berkomunikasi dengan temannya.
Role play juga merupakan aktivitas yang merangsang siswa untuk berbicara dan melatih
kelancaran dengan menggunakan bahasa inggris. Dalam role play, siswa diberi kesempatan
untuk mempraktikkan bahasa yang telah dipelajari dalam konteks tertentu.
Kegiatan speaking bisa menjadi lebih hidup jika guru juga menggunakan objek atau alat
bantu ajar yang sesuai dengan topiknya.

2.4.3 Reading (keterampilan membaca)


Dalam melaksanakan kegiatan membaca, siswa hendaknya paham tujuan dari
kegiatan tersebut, apakah mereka membaca untuk mengerti inti dari bacaan itu atau mereka
harus membaca untuk mendapatkan suatu informasi tertentu saja. Siswa tidak harus
mengerti arti kata per kata, yang penting mereka bisa mengerti konteks dari suatu bacaan.
Penting bagi seorang guru untuk memberikan rambu-rambu agar siswa mempunyai strategi
dalam membaca suatu wacana.
Pengetahuan umum dan perbendaharaan kata yang telah dimiliki serta penggunaan
gambar diharapkan dapat membantu anak dalam mengerti isi suatu bacaan. Pengetahuan
awal ini merupakan dasar yang kemudian ditambah dengan pengalaman belajar, akhirnya
dia akan mendapatkan pengetahuan baru.
Sebaiknya untuk kegiatan membaca dipilih topic yang berhubungan dengan minat
anak, sesuatu yang ada hubungan dengan lingkungannya, sesuatu yang indah dan menarik
serta berhubungan dengan topic yang akan dibahas pada saat itu.
Tingkat kesulitan maupun panjang bacaan hendaknya disesuaikan dengan
kemampuan siswa. Ada beberapa hal yang dapat membantu agar kegiatan membaca menjadi
lebih menarik, antara lain sebagai berikut:
- Menggunakan gambar sebagai alat bantu,
- Memberikan pertanyaan-pertanyaan,
- Menunjukkan judul dan meminta siswa untuk menebaknya,
- Kalimat-kalimat tidak terlalu panjang agar tidak membingungkan siswa,

Kegiatan membaca dalam kelas EYL biasanya meliputi kegiatan:


- Membaca suatu wacana pendek atau dalam hati;
- Memasang kata atau kalimat pada gambar yang cocok;
- Mencocokkan pertanyaan dan jawaban yang ada;
- Menjawab pertanyaan berdasarkan teks yang sudah dibaca;
- Melengkapi kalimat yang belum lengkap.

Jika dalam kegiatan listening dan siswa mampu menginterpretasikan konteks tanpa
harus mengerti kata per kata dengan bantuan ekspresi wajah, inotasi, atau pun bahasa tubuh
maka pada kegiatan reading gambar yang tepat dan kata kunci akan banyak membantu
siswa dalam memahami wacana bahasa inggris.

2.4.4 Writing (kegiatan menulis)


Keterampilan menulis merupakan kelanjutan dari kegiatan yang terdahulu. Kegiatan
ini hendaknya disesuaikan dengan usia dan tingkat kemampuan siswa dalam menggunakan
bahasa inggris. Writing merupakan keterampilan yang kompleks karena memerlukan
kemampuan mengeja, struktur, dan penggunaan kosakata.

Dengan memperhatikan tingkat kemampuan siswa menulis bisa dibedakan dalam dua
kategori berikut:

a. Menyalin kata, kalimat, atau wacana pendek. Menyalin diterapkan untuk pebelajar pemula.
Materi yang ditulis biasanya terbatas pada kata per kata. Tujuannya untuk melatih menulis
tangan dengan ejaan yang benar dan mengenal kosakata yang baru. Contohnya membuat
daaftar nama binatang, alat tulis, mengisi teka-teki, label dari sebuah gambar, dan
mengelompokkan kata dari sebuah topic.
b. Menulis yang menuntut kreativitas siswa sebaiknya diterapkan pada siswa tingkat kelas lebih
tinggi. Tujuannya untuk melatih siswa menulis dan mengeja, memakai tanda baca, dan
mengenal kosakata baru serta struktur kalimat. Materi yang ditulis berupa frasa atau kalimat
dengan satu pola yang telah dipelajari sebelumnya. Pada kegiatan ini siswa mempunyai
kesempatan untuk mempraktikkan pola bahasa yang baru dipelajari dalam kalimat yang
bermakna.

Jenis kegiatan menulis dapat berupa menulis kalimat singkat untuk menjelaskan suatu
gambar, menyusun kalimat, menjawab pertanyaan, atau menggabungkan penggalan kalimat
sehingga menjadi kalimat yang benar dan bermakna. Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa
pembelajaran pola bahasa yang diintegrasikan meelalui kegiatan terdahulu (listening,
speaking, dan reading) bisa untuk mengetahui apakah anak-anak sudah menguasai bahasa
inggris melalui kegiatan menulis.
Dalam pelaksanaanya tidak mungkin masing-masing pembelajaran keterampilan
berbahasa ini dilakukan secara terpisah. Siswa menyimak sesuatu kemudian dia akan
bertanya atau menjawab (speaking) secara lisan atau dapat pula menulis jawaban untuk
pertanyaan dari guru. Kegiatan belajar bahasa merupakan kegiatan terpadu yang dikemas
oleh guru dengan baik.

Pada kenyataannya, kegiatan guru EYL lebih banyak kegiatan yang berupa mengembangkan
keterampilan berbahasa yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Keterampilan
berbahasa dapat disajikan secara terpadu. Kegiatanlistening dipadukan
dengan speaking dan reading diikuti oleh speaking kalau siwa diminta membaca. Hal ini
dapat diteruskan dengan kegiatan-kegiatan lain, sepertiwriting, yaitu siswa diminta membuat
ringkasan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pebelajar muda usia adalah siswa sekolah dasar berusia antara 6-12 tahun. Dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu: younger group (6-8 tahun) dan older group (9-12 tahun).
Menurut jenjang kelasnya, yaitu: lower classes (kelas 1, 2, dan 3) dan upper classes (kelas 4,
5, dan 6). Menurut Scott dan Ytreberg (1990), yaitu: level one (5-7 tahun) dan level two (8-
10 tahun).

Ciri-ciri pebelajar muda:


1. Usia 5-7 tahun memiliki sikap egocentric, namun menginjak usia 10 tahun (kelas 4 sd)
mengalami perubahan ke arah reciprocity.
2. Usia 5-7 tahun masih sulit membedakan hal-hal yang konkrit dan yang abstrak, namun usia
8-10 tahun sudah bisa membedakan antara fakta dan fiksi, juga bisa mengerti hal yang
abstrak.
3. Anak-anak cenderung imajinatif dan aktif.
4. Mudah bosan, mempunyai tingkat konsentrasi dan perhatian yang pendek.
5. Kehidupan anak-anak penuh warna dan keceriaan.
6. Anak-anak menyukai cerita dan permainan.
7. Usia 5-7 tahun lebih menyukai mengerjakan tugas sendiri, belum bisa berbagi dan
sangat self-centered, namun usia 8-9 tahun, sudah bisa bekerja sama dan belajar dari orang
lain.
8. Pebelajar usia 8-10 tahun cukup mempunyai kesadaran dan kesiapan berbahasa.
9. Anak-anak menyukai percakapan instrik untuk berinteraksi dan berbicara tentang apa yang
dimiliki.
10. Siswa sekolah dasar pada umumnya adalah pebelajar yang merupakan pemikir aktif.

Faktor-faktor yang memengaruhi pembelajaran EYL, yaitu: bahasa ibu, bahan ajar,
interaksi sosial, media pembelajaran, dan latar belakang keluarga.
Kegiatan dalam pembelajaran bahasa Inggris mencakup semua komponen bahasa
yang berupa keterampilan menyimak (listening), berbicara (speaking), membaca (reading),
dan menulis (writing). Keterampilan bahasa ini disajikan secara terpadu, seperti yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

3.2 Saran
Dengan adanya pembahasan mengenai Pebelajar Muda Bahasa Inggris diharapkan
kita memahami karakteristik siswa EYL, sehingga dapat menjadi bekal pengetahuan saat
menangani kelas EYL.

DAFTAR PUSTAKA

Suyanto, Kasihani K. E. 2008. English for Young Learners: Melejitkan Potensi Anak melalui English
Class yang Fun, Asyik, dan Menarik. Jakarta: bumi Aksara.

Website ini Bukan Investasi, Bukan Cara Instan Cepat Kaya, Tapi Sebuah
WEBSITE PEMBELAJARAN ONLINE yang MENGAJARKAN Anda Cara Dan
RAHASIA Menghasilkan Uang Di Internet dengan Cara yang LEGAL, SMART Dan TERBUKTI
BERHASIL! ... Info lebih lanjut klik Pembelajaran Bisnis Online

Link download Makalah Pebelajar Muda Bahasa Inggris, klik download


Segera laporkan jika link download mati atau error.
Terima Kasih atas kunjungan anda, jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan komentar atas
postingan ini...