Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1. Keadaan Umum Perusahaan

PT Arutmin Indonesia adalah salah satu perusahaan penghasil dan


pengekspor batubara terbesar di Indonesia. PT Arutmin Indonesia menandatangani
kontrak penambangan batubara dengan Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 yang
dikenal dengan nama Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
(PKP2B). Perusahaan mengoperasikan lima lokasi tambang yaitu Senakin, Satui,
Asam Asam, Kintap dan Batulicin serta terminal ekspor batubara yang bertaraf
Internasional. Seluruhnya berlokasi di Kalimantan Selatan. Lokasi tambang Senakin,
Satui dan Batulicin memiliki kandungan Bituminous bertaraf dunia dan Mulia dan
Asam Asam memiliki kandungan Sub-Bituminous yang sangat memadai.
Dengan tingkat produksi dan kinerja penjualan yang tinggi, Arutmin berhasil
menunjukkan peningkatan pesat selama 20 tahun lebih kegiatan operasionalnya. Saat
ini, Arutmin telah menempatkan dirinya di pasar global dan dalam negeri. Secara
alami, cadangan batubara yang memadai memberikan nilai tambah dalam
persaingan, namun yang lebih penting dari itu adalah arus kas yang sehat serta
pengelolaan keuangan, teknis dan masalah sosial yang wajar. Sumber daya manusia
(SDM) yang terdiri dari oang Indonesia, penduduk lokal dan orang asing, namun
semuanya memiliki tujuan yang sama. Dengan kombinasi dari pengalaman dalam
pengelolaan global serta dukungan kondisi setempat menjamin bahwa pengelolaan
lingkungan dan pengembangan komunitas tetap terjaga.

2.2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

PT Arutmin Indonesia site Kintap secara administratif termasuk dalam wilayah


kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan. Lokasi
tersebut terletak kurang lebih 125 km dari kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan
Selatan. Untuk mencapai lokasi PT Arutmin Indonesia site Kintap dari Banjarbaru
menuju Kintap dapat ditempuh melalui jalur darat menggunakan kendaraan roda 4
atau pun roda 2 dengan waktu tempuh 3 jamLokasi kegiatan penambangan
batubara PT Arutmin Indonesia beserta sarana infrastrukturnya di daerah Asam asam,
Kintap, dan Mulia terletak dalam batas koordinat sebagai berikut :
Koordinat UTM (Universal Transfer Mercator) : 288052 Me - 330579 Me
9569507Mn 9590106 Mn
Koordinat Astronomis : 115o0528 115o2826 Bujur Timur
03o4225 03o5333 Lintang Selatan
(Daftar seluruh titik koordinat berdasarkan Keputusan Dirjen Pertambangan Umum)
Secara administrative lokasi tersebut terletak di tiga wilayah Kecamatan dan
dua wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.
Ujung Barat lokasi wilayah pertambangan tersebut terletak pada jarak kurang lebih
122 km sebelah Tenggara ibukota Provinsi Kalimantan (Banjarmasin) dengn jurus
sepanjang sekitar 47 km.

Sumber : PT Arutmin Indonesia, Site Kintap


Gambar 2.1.
Peta Lokasi dan PKP2B PT Arutmin Indonesia Site Kintap
2.2. Flora
1. Vegetasi Daratan
Lokasi pengamatan flora dan fauna (titik sampling) ditetapkan berdasarkan
prediksi area-area yang akan terganggu. Pengamatan pada areal kegiatan
pertambangan PT Arutmin Indonesia di kintap terdiri dari lima jenis habitat yaitu alang-
alang, semak, hutan sekunder, dan hutan tanaman industry. Alang-alang dan semak
belukar serta HTI merupakan kondisi dominan yang berada pada areal lokasi
pertambangan kintap. Jenis tumbuhan berkayu yang dominan pada areal alang-alang
dan semak adalah Alaban yang menguasai tingkatan vegetasi mulai dari semai,
pancang, liang hingga pohon. Jenis ini bukan merupakan jenis komersial tetapi
merupakan jenis pionir pada daaerah-daerah terbuka yang mulai akan kembali
menajdi hutan. Dari data-data tersebut daerah ini merupakan daerah tidak potential
dan tidak produktif apalagi jenis tanaman bawah yang mendominasi pada daerah ini
adalah alang-alang. Tetapi jika melihat suksesi areal daerah ini berpotensi untuk
kembali menjadi hutan apabila tidak terlalu terganggu.

Tabel 2.1.
Tumbuhan tingkat semai di padang alang-alang dan semak

NO Jenis Nama Botani Kr Kr% Fr Fr% INP

1 Akasi acacia Mangium 3.8 61.29 1 38.46 99.75


2 Alaban vitex pubescens 1 16.13 0.8 30.77 46.9
3 Bongkiraj shorea loevifolia 0.6 9.68 0.4 15.38 25.06
mallotus
4 Balik Angin 0.4 6.45 0.2 7.69 14.14
paniculatus
5 Madang litsea sp 0.4 6.45 0.2 7.69 14.14
Tabel 2.2.
Tumbuhan tingkat pancang di padang alang-alang dan semak

NO Jenis Nama Botani Kr Kr% Fr Fr% INP

1 Akasi acacia Mangium 0.14 37.5 1 26.32 63.82


2 Alaban vitex pubescens 0.09 22.92 0.8 21.05 43.97
3 Bongkiraj shorea loevifolia 0.04 10.42 0.6 15.79 26.21
mallotus
4 Balik Angin 0.03 8.33 0.4 10.53 18.86
paniculatus

Berdasarkan hasil analisa begetasi, tumbuhan berkayu pada tingkat semai


dan pancang didominasi oleh jenis akasia dengan INP 99.75% tingkat semai dan
63.82% tingkat pancang.
2. Hutan sekunder
Pada kawasan sekitar kebun karet km 159 ini tumbuhan tingkat semai yang
dominan adalah jenis madang, dengan kerapatan yang tinggi dan penyebaran yang
relative lebih besar dari jenis lainnya. Semua jenis tumbuhan pada tingkat semai ini
termasuk jenis endemic dan tergolong tumbuhan primer, akan tetapi tidak dapat hidup
dalam kondisi sangat terbuka. Secara rinci terdapat pada table berikut :

Tabel 2.3.
Tumbuhan tingkat semai di hutan sekunder

NO Jenis Nama Botani Kr Kr% Fr Fr% INP

1 Madang Litsea Sp 3.8 45.24 0.8 28.57 73.81


2 Luwa Ficus Wariegata 3 23.81 0.8 28.57 52.38
3 Alaban Vitex Pubescens 1.2 14.29 0.6 21.43 35.71
4 Rukam Flaourtia Rukam 0.4 4.76 0.2 7.14 11.9
5 Jejambuan Sygygium Sp 0.4 4.76 0.2 7.14 11.9
Pada areal kebun karet km 159 pada tingkat tiang sangat didominasi oleh
alaban dengan INP 70.51% dengan kerapatan relative 34.29% dan frekuensi relative
22.73%. Hal ini berarti jenis ini memiliki invididu yang cukup banyak dan cukup
tersebar dibandingkan jenis lainnya. Secara umm jenis-jeni pioneer sangat
mendominasi areal ini.
Jenis kayu komersial yang juga terdapat pada area ini adalah ulin, akan tetapi
kerapatannya sangat rendah, juga didominasi dan frekuensi. Perlu adamya budidaya
tumbuhan ini pada kawasan ini untuk menghindari kepunahan. Iklim mikro terbentuk
sudah cukup mendukung tumbuhnya jenis-jenis komersial seperti ulin dan meranti.
3. Hutan Tanaman Industri
Jenis tumbuhan pada tingkat tiang yang mendominasi areal sekitar hutan
tanaman industry (HTI) adalah akasia (acacia mangium) dan alaban (vitex pbescens).
Demikian juga untuk tingkat semai dan pancang didominasi oleh alaban dan akasia.
Pada areal ini juga terdapat tumbuhan jenis semak dan perdu, yaitu karamunting
(melastoma sp) dan krinyu (chromolaena odorata). Pada setiap lokasi yang disurvei
tidak ditemukan tumbuhan pada tingkat pohon atau diameter lebih dari 20 cm, hal ini
membuktikan kondisi hutan sekunder yang terbentuk masih tergolong muda, dan
masih banyak areal yang ditumbuhi oleh alang-alang dan tumbuhan semak dan perdu.

2.3. Fauna

Dilihat dari kelimpahan yang ditemukan langsung dilapangan ditemukan 10


spesies dengan kelimpahan yang cukup tinggi yang mana artinya sering ditemukan
berkelompok dalam jumlah banyak. Hal ini menunjukkan indiaksi bahwa satwa liar
khususnya dari jenis aves menjadikan hutan sekunder sekitar tambang sebagai
habitatnya. Pada table terlihat bahwa jenis burung yang terdapat pada masing-masing
lokasi baik semak, hutan sekunder, ataupun HTI didominasi jenis-jenis yang hamper
sama, hanya dihutan sekunder relative lebih banyak. Diduga lokasi hutan skunder dan
hutan tanaman industri sebagai tempat hidup atau sarang tmpat burung-burung
tersebut. Jenis-jenis burung yang ditemukan pada ketiga jenis lokasi hanya satu jenis
cuit (nectarinia jugularis) menurut peraturan pemerintah No.7 Tahun 1999 termasuk
satwa yang dilingdungi. Didalam peraturan tersebut dikatakan semua jenis dari family
nectariniidae termasuk yang dilindungi.
1. Biota akuatik
Analisis struktur komunitas biota dengan pemanfataannya sebagai indicator
biologis, dapat berfungsi kuantitatif dan dapat bersifat kualitatif. Indeks biologis
pendekatannya adalah melakukan kalkulasi terhadap komponen-komponen tertentu
dari struktur komunitas. Indeks biologis kualitatif dapat juga digunakan untuk
menentukan kriteria kualitas air. Rona komponen lingkungan biologi akuatik yang
diamati dalam studi ini adalah komunitas plankton, benthos, dan nekton. Titik sampling
ditetapkan berdasarkan prediksi arah pencemaran air, sehingga posisinya juga
disamakan dengan titik sampling kualitas air.
Hasil analisis sampel plankton memperlihatkan adanya sejumlah genera
fitoplankton yang dijumpai diwilayah studi. Hasil identifikasi memperlihatkan bahwa
ada 3 phylum dan 13 genera fitoplnkton yang menempati dan mengkontribusi
keanekaragaman hayati plankton diwilayah studi. Dari genera yang ditemukan
tersebut tidak semua dijumpai pada semua lokasi pegambilan sampel. Kelimpahan
fitoplankton berkisar mulai 270-710 sel/L dengan jumlah taksa antar stasiun
pengamatan berkisar antara 4-6 genera. Meskipun dari kelimpahannya berada pada
perairan dengan tingkat mesotropik kesuburan sedang tetapi jika dilihat dari indeks
keanekaragaman fitoplankton yang berkisar mulai 0.6920 sampai 1.3773 termasuk
kategori perairan kesuburan rendah sampai sedang. Kesimpulan ini mengacu pada
pencapat Wilm et al 1968 yang mengkategorikan bahwa perairan dengan nilai indeks
keanekaragamannya < 1 termasuk perairan oligotropik, nilai indeks .3 tergolong
eutropik (kesuburan tinggi).

2.4. Iklim dan Cuaca

Stasiun klimatologi terdekat dengan wilayah studi adalah stasiun BMG Plehari,
Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan data iklim hujan yang tercatat di Stasiun terdekat
wilayah kajian termasuk kategori iklim tipe Monsoon. Wilayah yang bertipe demikian
sangat dipengaruhi oleh angin Passat timur laut dan anggin Passat tenggara, angin
darat pada malam hari dan angina laut pada siang hari, dan didominasi berada
diselatan sepanjang bulan Oktober-Maret (OKMAR) angina moesoon bergerak dari
Barat Laut ke Tenggara, sebaliknya pada sepanjang April- September (ASEP) angina
bergerak dari Tengara ke Barat Laut.
Secara geografis wilayah studi terletak dekat dengan garis khatulsitiwa. Hal ini
berpengaruh terhadap kondisi iklim wilayah studi yang menyebabkan flutuasi dalam
yang terjadi sepanjang tahun elatif kecil, sehingga tidak terdapat perbedaan yang
cukup ekstrem antara musim hujan dan musim kemarau. Kondisi iklim wilayah kajian
disajikan dalam table 2.4.

Unsur iklim
Curah tekanan kelembapan suhu penyinaran
Bulan Hari
Hujan udara udara udara matahari
Hujan % C %
Januari 379.6 14 1009.9 85.3 27.3 19.6
Februari 229.3 12 1010.1 83.8 27.4 29.8
Maret 255.9 13 1009.9 83.7 27.7 34
April 177.1 10 1009.7 83.3 27.7 34
Mei 140.1 7 1009.9 81.5 28.2 45.4
Juni 186.7 8 1010.3 82.7 27.8 43.5
Juli 103.9 5 1010.8 79.8 28.1 53.9
Agustus 69.2 3 1011.1 74.6 28.3 64.1
September 41.2 3 1010.8 75.6 29 57.9
Oktober 111.7 8 1010.5 78.4 28.7 48.1
November 239.6 14 1009.8 82.8 28.2 32
Desember 425.7 18 1010.1 84.9 27.4 25.1
Jumlah 2359.9 115
Rata-rata 1010.3 81.4 28 40.6
CV (%) 5.01 100 0.54 0.08 8.51

Menurut klasifikasi Koppen (1980) tentang pembagian zona iklim, wilayah


studi termasuk dalam daerah beriklim tropika basah dengan satu bulan kurang dari
60 mm dan suhu bulan yang paling dingin measih diatas 18OC. Menurut Schimidt dan
Ferguson dengan jumlah bulan kering sebanyak 2-3 bulan dalam satu tahun termasuk
iklim tipe B dengan ciri wilayah basah dengan vegetasi masih hutan hujan tropika.
Pada bulan-bulan kamarau daerah ini terasa panas dan kering, sebaliknya di waktu
musim hujan terjadi limpasan permukaan.
Cuaca hujan tahunan di wilayah studi termasuk agak tinggi yaitu berkisar
antara 1,416 mm sampai 3,290 mm dengan jumlah hari hujan berkisar antara 82
sampai 144 hari per tahun. Intensitas hujan wilayah ini sebesar 20 mm/hari atau
termasuk hujan normal. Bulan dengan curah hujan terendah terjadi pada juli, agustus
dan September sedangkan bulan dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan
Desember dan Januari.
Suhu udara di wilayah studi sebesar 28OC dengan fluktuasi rerata bulanan
yang kecil dan kelembapan relatif udara rata-rata bulanan 81.4 %. Menurut Thom
(1959) kombinasi suhu dan kelembapan udara menghasilkan indeks kenyamanan
wilayah kajian sebesar 79.9 atau lebih dari 50%.
Pada musim hujan arah angin dominan berhembus ke Utara dengan
kecepatan 4.3 m/detik, sebaliknya pada musim kemarau angin dominan bertiup
kearah Selatan sampai kecepatan rata-rata 2.7 m/detik. Asal angin wilayah ini
didominasi dari wilayah barat mencapai 25% dengan kekuatan 3-7 Knot atau 2.6 - 3.6
m/detik.
1. Data Klimatologi dan Data Curah Hujan
Data klimatologi yang digunakan adalah berasal dari stasiun klimatologi SMPK
Plehari sedangkan data curah hujan berasal dari tiga stasiun curah hujan yaitu Jorong,
SMPK Plehari dan PTPN/PG Ambungan. Data klimatologi yang tercatat pada stasiun
SMPK Plehari adalah temperature udara, penyinaran matahari, kecepatan angina,
penguapan dan kelembapan relative.
a. Data Klimatologi
Berdasarkan klimatologi yang tercatat pada stasiun SMPK Plehari,
temperature udara, kelembapan relative, kecerahan matahari/lama penyinaran
matahari. Kecepatan angin, penguapan di Kabupaten Tanah Laut dapat dilihat pada
Tabel 2.5. dari data diatas temperature udara rata-rata adalah 30.47oC. Temperatur
udara rata-rata tertinggi 38.93oc pada bulan Juli dan Temperatur terendah 26.94oC
pada bulan November. Kelembapan rata-rata adalah 74.49%. kelemabapan rata-rata
terendah 64.95% pada bulan januari. Penyinaran matahari rata-rata adalah 42.50%.
b. Data Curah Hujan
Terdapat tida stasiun hujan yang berada disekitar DAS Asam-asam, kintap,
satui, dan jorong. SMPK Plehari dan PTPN/PG Ambungan Kabupaten Tanag
2.5. Geologi Regional

Perkembangan struktur lipatan wilayah studi diketahui secara umum bahwa


batuan-batuan sedimen mempunyai jurus Barat Daya-Timur Laut (65oN 70oE)
sejajar dengan garis pantai. Di ujung Timur, jurus berubah menjadi hamper Utara-
Selatan. Kemiringan di Mulia dan Jombang umumnya berarah Tenggara sebesar kira-
kira 20o. diwilayah studi terdapat juga sesar. Sesar uatama adalah sesar naik yang
memanjang dari S Naiyah sampai ke ujung Timur. Di Mulia dan Jombang terdapat
patahan dua sesar normal. Dip batubara secara umum 25o di Mulia.
Secara regional formasi batuan pembawa batubara di daerah kerja PT Arutmin
Indonesia, terendapakan pada wilayah anak cekungan Asam-Asam yang merupakan
bagian dari cekungan Barito. Pada anak cekungan Asam-Asam terdapat formasi
batuan sedimen pembawa lapisan batubara. Pada cekungan Barito menunjukkan
umur relatif Kala Eosen hingga Plistosen awal. Pada cekungan tersebut diendapkan
empat formasi yaitu Formasi Tanjung, Formasi Berai, Formasi Warukin, dan Formasi
Dahor.
Lapisan batuan dari Formasi Tanjung, Formasi Warukin dan Formasi Dahor
adalah batuan pembawa batubara ekonomis di daerah Kalimantan Selatan. Formasi
Warukin merupakan pembawa batubara di daerah Tambang Kintap dan Tambang
Asam-asam.
Formasi batuan sedimen tertua yaitu Formasi Tanjung berumur Eosen yang
tidak selaras menindih alas batuan berumur Pra-Tersier. Formasi Tanjung terdiri atas
batuan sedimen klastika kontinen yang berselingan dengan material laut dan napal.
Batuan sedimen dari Formasi Tanjung ini diendapkan selama tahap awal terjadinya
transgresi laut Tersier. Formasi Tanjung ini ditindih selaras Formasi Berai/ Pemaluan
yang berumur Miosen Bawah.
Formasi Berai terdiri atas lapisan tebal batu gamping, masif, berwarna abu-
abu terang, terdapat moluska dan koral. Formasi Warukin diendapkan selama proses
regresi, menindih Formasi Berai. Formasi Warukin berumur Miosen tengah hingga
Miosen atas yang umumnya terdiri atas batuan sedimen klastik berbutir halus, batu
lempung dan sedikit batu lanau dan batu pasir, serta lapisan batubara. Berikut
merupakan gambaran geologi regional PKP2B PT Arutmin Indonesia. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada lampiran A-3 peta Geologi Regional PT Arutmin Indonesia.
Pada kala yang lebih muda diendapkan secara tidak selaras Formasi Dahor
berumur Plio-Plistosen. Formasi Dahor terdiri atas batu pasir dan sedikit batuan
sedimen klastik berbutir halus, serta lapisan lignit. Formasi Dahor ditindih oleh
sedimen kuarter berupa sedimen klastik hasil rombakan batuan sebelumnya.

Sumber : PT Arutmin Indonesia, Site Kintap


Gambar 2.2.
Peta Geologi Regional

2.5.1. Geologi Lokal

Adapun geologi local PT Arutmin Indonesia Site Kintap terdapat 2 formasi


batuan pembawa batubara yaitu sebagai berikut :
1. Formasi Warukin merupakan bagian utama dari satuan batuan yang tersingkap
di lokasi penelitian. Dicirikan dengan batubara yang tebal dan kadar kelembaban
yang tinggi. Formasi ini terdiri dari perselingan batupasir kuarsa halus-kasar
setempat konglomeratan dan batu lempung, dengan sisipan batu lempung
pasiran dan batubara yang terendapkan pada lingkungan paralik dengan
ketebalan diperkirakan mencapai 1250 m. Formasi Warukin yang berumur
Miosen Tengah merupakan formasi pembawa lapisan batubara pada blok Asam
Mulia, Bunati, Serongga. Formasi ini terbentuk dalam anak cekungan Asam-
Asam dan cekungan Barito.
2. Formasi Tanjung yang berumur Eosen merupakan formasi pembawa lapisan
batubara pada blok Satui, Karuh, Ata, Mereh, Mangkalapi, Saring, Bangkalaan,
Sangsang, Sepapah, Senakin, Pulau Laut dan Tanjung Dewa. Formasi ini
tebentuk dalam anak cekungan Asam-Asam yang melampar sepanjang garis
pantai Kalimantan Selatan dan terdapat di bagian timur dari Meratus High.
Formasi Tanjung diawali dengan endapan konglomerat dengan fragmen
terdiri dari kelompok kuarsa dan sebagian fragmen berupa batuan beku.
Bagian utama fragmen menunjukkan kecenderungan menghalus ke atas.
Batubara dalam formasi ini terdapat di bagian bawah. Formasi Tanjung
diendapkan dalam lingkungan darat sampai delta pada kala Eosen.
Batubara pada Formasi Tanjung ini memiliki kalori tinggi (bituminous), memiliki
kilap terang, sedangkan Formasi Warukin mengandung batubara kalori rendah
(subbituminous), memiliki kilap kusam dan terlihat struktur kayu.

2.5.2. Stratigrafi
Wilayah PKP2B PT Arutmin Indonesia merupakan bagian dari Formasi
Warukin (Tmw) dengan batas atas yaitu Formasi Dahor (TQd) dan batas bawah yaitu
Formasi Berai (Tomb). Formasi Warukin terdiri dari perselingan batupasir kuarsa
halus sampai kasar dan konglomeratan batu lempung dengan sisipan batu lempung
pasiran dan batubara subbitominous. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah
Lingkungan Paralik dengan ketebalan diperkirakan 1.250 meter. Fosil foraminifera
yang terkandung dalam batulempung pasiran antara lain Ammonia Indica (Le Roy),
Cellanthus sp, Amphistegnia sp, Florius sp, Lepidocyclina sp, Austrotrillina howchini
(schlumberger), yang menunjukkan umur nisbi akhir Miosen Awal sampai Miosen
Tengah.
Di bawah Formasi Warukin (Tmw), diendapkan secara selaras Formasi Berai
(Tomb). Formasi ini tersusun atas batu gamping berwarna putih kelabu, berlapis baik,
setempat kaya akan koral, foraminifera dan ganggang, bersisipan napal berwarna
kelabu muda, padat, berlapis baik, mengandung foraminifera plankton dan batu
lempung berwarna kelabu setempat terserpihkan. Kumpulan foraminifera besar yang
terdapat dalam batu gamping adalah Nummulites Fichteli (Michelotti), Heterosgina sp,
Quinquiloculina sp, Lepidocyclina (Eulepidina) sp, Cycloclyeus sp, Gypsina sp,
Echinoid dan Rotalia sp, yang menunjukkan umur Oligosen awal sampai Miosen awal.
Kumpulan Foraminifera plankton yang terdapat dalam napal dan batu lempung
adalah Globorotalia opima (Bolli), Globigerina puchitaenensis (Bolli), Globigerina
unicava (Bolli, Loeblich & Tappan), Globigerinoides quadrilobatus (Banner dan Blow),
dan Cassigerinella chipoinensis (Crushman dan Ponton) yang menunjukkan umur
nisbi Oligosen. Lingkungan pengendapan formasi ini diperkirakan adalah lingkungan
Neritik dan ketebalan formasi ini berkisar 1000 m.
Pada bagian atas Formasi Warukin (Tmw), diendapkan secara tidak selaras
Formasi Dohor (TQd) yang tersusun atas batupasir kuarsa kurang padu, konglomerat
dan batu lempung lunak, dengan sisipan subbituminous, kaolin, dan limonit. Formasi
ini terendapkan dalam Lingkungan Paralik dengan ketebalan formasi berkisar 250
meter dan umurnya diduga Plio-Plistosen.
Sumber : N. Sikumbang & R. Heryanto
Gambar 2.3.
Stratigrafi Formasi Wrukin
2.6. Topografi

Bentuk lahan (land form) dari lokasi daerah tambang dan sekitarnya menurut
katalog land form untuk Indonesia yang dipakai dalam pembuatan land system,
umumnya adalah dataran (plain) dari batuan endapan (lanau, batu lumpur batu pasir)
dengan topografi berombak (undulating) sampai bergelombang dengan kemiringan
lereng 2-8% dan berbukit kecil dengan kemiringan lereng 16-25%. Hampir seluruh
daerah studi memiliki bentuk lahan demikian kecuali beberapa daerah tertentu seperti
disekitar sungai Kintap dan daerahsepanjang pantai antara sungai Kintap dan Satui.
Land form disekitar sungai Kintap dan didekat muara Satui adalah dataran
alluvial dengan kemiringan lereng kurang dari 2 % sedangkan sepanjang pesisir
antara kintap dan Satui dijumpai daerah rawa pasang surut yang merupakan dataran
lumpur dibawah hutan bakau dan pantai.
Elevasi daerah studi berkisar antara 75 m dpl dibagian Utara dan menurun
kesekitar 10 m sepanjang jalan provinsi dan menurun terus sampai kurang dari 2 m
didataran rawa pasang surut. Di bagian Utara daerah studi terdapat daerah perbukitan
dan pegunungan yang disusun oleh batupasir, batulanau, dan batulempung, batuan
bukan endapan, dan dolerite. Sedangkan daerah pegunungan disusun batuan beku
basa terdiri dari peridotit, serpentinit, basal dan batuan metamorf jenis kwarsit dan
sekis.
Sungai utama yang mengalir di daerah ini asalah sungai Asam asam, Rangkin,
Naiyah, Kintap, dan Satui yang berhulu didaerah pegunungan dari bauan ultra basic
sedangkan sungai Cuka yang lebih kecil berhulu didaerah topografi bergelombang.
Sungai-sungai ini umumnya mempunyai pola drainase yang berbentuk sub dendritic,
dendritic dan insequent.

2.7. Gomorfologi
Di wilayah studi hanya ditemukan dua jenis morfologi yaitu morfologi
bergelombang dan morfologi dataran. Morfologi bergelombang dengan ketinggian
maksimum sekitar 75 m dari permukaan laut. Morfologi ini didasari oleh batuan-batuan
sedimen yang berumur Tertier, yaitu formasi-formasi Tanjung, Berai, Pemaluan,
Warukin, Pulau Balang, dan Dahor. Batuan-batuan ini adalah relative lunak dibanding
batuan pra-tersier. Proyek penambangan batubara PT Arutmin terletak dalam
morfologi ini. Lokasi rencana tambang batubara Asam-asam, Kintap dan Mulia
terletak disuatu pegunungan daerah bergelombang yang memanjang dari Barat ke
Timur dengan ketinggian antara 25-60 meter diatas permukaan laut dengan
kemiringan berkisar dari 2%-10%. Pegunungan tersebut dibagian utara sebagian
dibatasi oleh gawir dibagian Selatan lebih landai dengan kemiringan 2-5% dan rata-
rata 4 %.
Didaerah palung selatan, berbatasan dengan laut Jawa terdapat morfologi
dataran dengan ketinggian maksimum sekitar 10 m dari permukaan laut. Didalam
morfologi ini terdapat endapan alluvial dan pasir pantai yang berumur Kwarter
Morfologi ini terdapat enapan alluvial dan pasir pantai yang berumur Kwarter.
Morfologi ini umumnya berbentuk rawa dengan tumbuhan kususnya misalnya nipah
dan bakau. Lebar morfologi ini dapat mencapai 3 km. diwilayah studi terdapat banyak
sungai kecil. Kebanyakan dari sungai-sungai ini bermuara ke tiga sungai utama, yaitu
sungai Asam asam, Sungai Danau, dan Sungai Kintap yang semuanya mengalir ke
Selatan, bermuara ke Laut Jawa. Beberapa sungai kecil di sela-sela sungai utama
tersebut bermuara langsung ke Laut Jawa.
Pola aliran sungai umumnya adalah dendritic. Didekat muara, ketiga sungai
utama membentuk meander yang menunjukkan tingkat morfologi dewasa (thombury,
1954). Sungai-sungai yang langsung bermuara ke Laut Jawa umumnya berupa
sungai kecil dan pendek menunjukkan pola aliran parallel. Sungai Asam asam dan
Naiyah juga menunjukkan stadium dewasa yang terlihat dari endapatnya meander,
anak-anak sungainya menunjukkan aliran yang relative lurus sebagai akibat
perkembangan erosi di bagian hulu sungai yang terus berlangsung.
Daerah proyek penambangan batubara PT Arutmin Indonesia ditutupi oleh
hutan seluruhnya, tetapi keadaan sekarang sudah berubah dengan adanya
penebangan hutan. Didaerah Mulia 80% hanya ditumbuhi oleh alang-alang.

2.8. Kegiatan Penambangan

Pada kegiatan penambangan di site Kintap, alat utama yang digunakan adalah
kombinasi antara alat gali muat excavator, alat angkut dump truck dan bulldozer
sebagai alat dorong dan pemberai. Selain alat utama, terdapat juga alat penunjang
yang dapat membantu aktifitas penambangan, antara lain: motor grader untuk
perbaikan jalan.
Aktifitas penambangan di tambang site Kintap direncanakan dengan beberapa tahap,
antara lain:
1. Pembersihan lahan (land clearing)
2. Pengupasan dan pemindahan tanah pucuk
3. Pengupasan overburden
4. Pengambilan batubara (coal getting)
5. Rehabilitasi lahan dan reklamasi
6. Pengangkutan batubara ke port Pemuatan batubara ke tongkang

Sumber : Visitor Presentation PT Arutmin Indonesia Site Kintap


Gambar 2.4.
Kegiatan Penambangan PT Arutmin Indonesia Site Kintap

2.8.1. Perbersihan Lahan (Land Clearing)

Sebagian besar pepohonan yang berukuran besar dilokasi penambangan


telah tidak ada lagi karena kegiatan penebangan yang dilakukan sebelum kegiatan
pertambangan PT Arutmin Indonesia berlangsung terutama oleh kegiatan
penebangan yang dilakukan kegiatan HPH maupun oleh perambah hutan. Daerah ini
juga termasuk bekas area bukaan lahan kegiatan Penambang Tanpa Izin (PETI).
Dalam pembersihan lahan yang akan dilakukan, pepohonan kecil dan semak-semak
dibersihkan secara langsung dengan menggunakan bulldozer. Namun jika masih
ditemukan pohon yang berukuran besar, maka terebih dahulu dipotong dengan
menggunakan gergaji baru kemudian akarnya digal dengan bantuan excavator.
Hasil pembersihan lahan berupa potongan-potongan batang pohon dan
lainnya dikumpulkan dan dibuang ke lubang bekas galian tambang sedangkan sisa-
sisa tumbuhan dipindahkan ke tempat penyimpanan tanah pucuk atau disebarkan
langsung ke daerah yang sedang direklamasi.
Pembersihan lahan disuatu lokasi dilaksanakan paling cepat satu tahun
sebelum dilakukan kegiatan penambangan dan disesuaikan dengan rencana
kemajuan bukaan tambang. Sesuai dengan rencana produksi dan luas area yang
sebelumnya telah dibuka, luas pembersihan lahan bervariasi dari tahuan ke tahun dan
antar pit tambang. Di tambang Kintap berkisr antara 23.36 266.95 ha.

Sumber : Visitor Presentation PT Arutmin Indoensia Site Kintap


Gambar 2.5.

2.8.2. Pengupasan dan Penempatan Tanah Pucuk


Sesudah lahan yang dibersihkan, tanah pucuk dengan ketebalan tertentu
digali dengan dua cara, yaitu dengan cara penggalian secara langsung menggunakan
excavator yang langsung dimuat ke dalam dumptruck atau dengan cara dikupas dan
didorong terlebih dahulu menggunakan bulldozer baru dimuat ke dalam dumptruck
menggunakan excavator. Cara pertama biasa digunakan untuk menggali tanah pucuk
yang kondisinya cukup datar dan mudah digali. Sedangkan cara kedua bisa
diterapkan untuk daerah-daerah lereng atau pada permukaan yang tidak rata
(bergelombang). Ketebalan pengupasan tanah pucuk berkisar antara 0.5 1.5 m,
tetapi tidak menutup kemungkinan menggali lebih dalam lagi kalau memang masih
dapat dikategorikan sebagai tanah pucuk yang mengandung zat hara organik.
Lapisan tebal seperti ini sering ditemukan di daerah lembah dan cekungan.
Tanah pucuk hasil penggalian dipindahkan ke area penempatan sementara
atau langsung ditebarkan di area yang sedang dalam tahap reklamasi akhir. Area
penempatan sementara dipilih lokasi yang datar dan cukup tinggi agar terbebas dari
gangguan erosi. Apabila waktu penempatan sementara tanah pucuk diperkirakan
mencapai lebih dari 12 bulan, maka pada area penempatannya tersebut ditanami jenis
tumbuhan cover crop disamping agar terhindar dari efek erosi juga agar tetap dapat
menjaga tingkat kesuburannya. Pengupasan tanah pucuk di Tambang Kintap
diprediksi mencapai 501.14 ha dengan volume galian sebesar 3.758.537 bcm dan
area penempatan seluas 70.16 ha.

2.8.3. Pemindahan Tanah Penutup


a. Metode Pemindahan
Lapisan batuan ada yang dapat digali dengan metode penggalian secara
langsung menggunakan excavator atau dengan digaru terlebih dahulu menggunakan
indicator yang dilengkapi pisau bajak (ripper blade) dan ada beberapa area yang
harus diledakkan terlebih dahulu. Lapisan batuan penutup yang telah dibongkar pada
tahap awalnya dipindahkan ke tempat penimbunan diluar tambang (out pit dump).
Metode ini digunakan pada beberapa tahun awal penambangan sampai kemudian
dapat diterapkannya metode back filling (back filling digging method) ke dalam bekas
lubang bukaan tambang ini yang dilanjutkan dengan pengaturan elevasi dan bentuk
timbunan yang mendekati kondisi rona awalnya, diharapkan tidak terjadi perubahan
topografi atau bentang alam yang signifikan akibat dari kegiatan penambangan
tersebut. Selama belum dapat dilakukannya penimbunan atau back filling ke lubang
tambang, untuk mengakomodir volume batuan penutup yang dipindahkan, diperlukan
tambahan area proyek diluar PKP2B (project area) karena terbatasnya areal
penimbunan diluar tambang (OPD) didalam wilayah tambang Kintap. Area proyek
untuk penimbunan batuan penutup dluar PKP2B PT Arutmin Indonesia ini telah
memperoleh persetujuan dari Bupati Tanah Laut. Penempatan batuan penutup diluar
tambang disebabkan oleh keterbatasan area outpit dump. Sequence penambangan
di area tambang Kintap berada disebelah selatan dari PKP2B PT Arutmin Indonesia
dengan luas 119 ha. Kegiatan penimbunan telah dilakukan sjak akhir tahun 2013 lalu.
Penetapan pola geometri timbunan batuan dan lereng dinding bukaan tambang
beserta factor keamanannya didekati melalui analisa tersendiri dengan spesifikasi
parameter geoteknik disetiap lokalitas bukaan tambang dan area penimbunan.
2.8.4. Penggalian Batubara (coal getting)
Setelah lapisan batuan penutup batubara dipindahkan, maka permukaan
batubara dibersihkan terlebih dahulu dari sisa-sisa lapisan pengotor menggunakan
grader atau bulldozer berukuran kecil. Lapisan batubara yang dapat hilang dari
kegiatan ini sekitar 5-10 cm. setelah bersih dari lapisan pengotor baru dilakukan
pemberaian batubara dengan metode penggaruan (ripping) menggunakan bulldozer
yang dilengkapi ripper. Batubara hasil pembongkaran dan pemberaian dimuat ke
dalam truck jungkit menggunakan wheel loader untuk selanjutnya diangkut ke ROM
Stockpile. Untuk lapisan batubara yang tidak terlalu keras, penggalian dapat dilakukan
secara langsung menggunakan excavator dan langsung dimuat ke dalam truck
jungkit. Kegiatan penggalian atau pengambilan batubara dilakukan secara berurutan
setiap strip dan block penambangan.

Sumber : Foto Lapangan, 2017


Gambar 2.5.
Coal Getting

2.8.5. Pengoperasian Rom Stockpile dan Pengangkutan Batubara


Batubara hasil penggalian yang telah dikumpulkan di Rom Stockpile pit
tambang selanjutnya diangkut menuju Coal Preparation Plant (CPP) di mulut
tambang untuk batubara dari tambang Asam asam dan Kintap ke terminal atau
pelabuhan. Produk batubara dari Tambang Asam asam dan Kintap yang telah
diproses di CPP mulut tambang diutamakan diangkut menggunakan Overland
Conveyor (OLC) menuju Terminal Khusus (Tersus) milik PT Mitratama Perkasa (MP)
di Desa Muara Asam asam dan Desa Mekarsari (Kecamatan Kintap) untuk dimuat ke
tongkang dan dikirim kepada pembeli. Untuk tambang Kintap selain menggunakan
Tersusu milik PT Mitratama Perkasa (MP) juga sedang dikaji untuk memanfaatkan
pelabuhan yang sudah ada milik PT Pribumi Citra Megah Utama (PCMU) yang terletak
di Desa Muara Kintap.

Sumber : Foto Lapangan, 2017


Gambar 2.6.
Stockpile

2.9. Reklamasi dan Rehabilitasi Lahan

1. Reklamasi
Kegiatan reklamasi dilakukan pada setiap selesai proses penambangan
disetiap pit tambang. Kegiatan reklamasi mencakup kegiatan-kegiatan penimbunan
kembali bekas lubang akhir galian tambang. Pembentukan kontur daerah yang sudah
ditambang, pelapisan atau penebaran tanah pucuk, penanaman dan pemeliharaan
vegetasi dan pemeliharaan tanaman, penanaman kembali dilaksakan secepat
mungkin setelah penyebaran lapisan tanah pucuk. Penanaman pada kegiatan
revegetasi diawali didaerah perpotongan gradient dengan tanaman penutup untuk
mencegah erosi selama tanaman tersebut tumbuh, selanjutnya dilakukan
pemupukan.
Kegiatan reklamasi pada umumnya merupakan upaya pemulihan fngsi lahan
dan ekosistem pasca operasi penambangn agar tetap terintegrasi dengan ekosistem
bentang alam sekitarnya. Reklamasi lahan bekas tambang yang direncakan pada
tambang Kintap berupa kegiatan penyiapan lahan, pengaturan bentuk lahan,
penyebaran tanah pucuk (top soiling) dan penanaman atau revegatsi yang dilakukan
secara progresif dengan kemajuan penambangan.
Pada areal bekas tambang dimulai dengan melakukan pengisian kembali
lubang tambang yang telah final (mined out) melalui metode backfilling dengan
material batuan penutup yang berasal dari lubang tambang lain yang baru dibuka.
Pada areal luar lubang tambang, misalnya areal timbunan batuan penutup yang sudah
final, reklamasi dilakukan langsung dengan tahap berikutnya yaitu penataan lahan
(recontouring atau regarding) untuk membentuk lereng agar mendekati topografi awal
dengan kemiringan maksimal 25%.

Nama Kegiatan Deskripsi Cakupan


Penataan Lahan Meliputi areal di pit penambangan yang telah selesai dan
ditimbun kembali, areal penimbunan batuan penutup (OPD)
dan areal fasilitas lainnya yang siap untuk direklamasi.
Kemiringan lereng diupayakan maksimal 25% ketinggian
timbunan diupayakan 10 m
Penebaran Tanah Penebaran tanah pucuk dilakukan pada minimal 90% areal
Pucuk yang telah ditata. Ketebalan tanah pucuk minimal 30 cm,
tergantung pada ketersediaan tanah pucuk disetiap lokasi.
Tanah pucuk diambil dari tempat penyimpanan tanah pucuk
dengan jarak tempuh maksimal ke areal reklamasi
diupayakan 1 km. jika diperlukan dapat dilakukan pemberian
kapur dan unsur hara untuk memperbaiki dan meningkatkan
kualitas tanah sebagai media tanam.
Pengendalian erosi Pembuatan guludan dan saluran pengelak dibuat pada jarak
setiap 25 m searah kontur dan searah lereng. Penanaman
tanaman penutup tanah dari jenis cover cop atau pemberian
mulsa dan pembuatan sarana pengendali erosi lainnya jika
diperluakn seperti rip rap dan lainnya
revegetasi Penanaman dilakukan pada seluruh areal yang telah diberi
tanah pucuk. Jarak tanam adalah 4 x 4 m atau jumlah
tanaman per hektar minimal 625 pohon. Jenis tanaman yang
ditanam terdiri dari 60% jenis tanaman cepat tumbuh dan
40% jenis spesies local.
Reklamasi Perawatan tanaman dilakukan secara berkala hingga
tanaman reklamasi mencapai usia 3 tahun. Keberhasilan
tumbuh tanaman minimal 90%.

Kegiatan revegetasi dilaksanakan secepat mungkin setelah peyebaran lapisan


tanah pucuk atau lapisan tanah perakaran yang diawali dengan penanaman jenis
tumbuhan penutup tanah untuk mencegah erosi dan mempecepat kesuburan tanah.
Ada beberapa jenis tumbuhan penutup yang digunakan antara lain Pueraria Javanica,
Callopogonium Mucunoides. Langkah selanjutnya adalah penanaman dengan jenis
cepat tumbuh dan tanaman multi guna seperti Akasia, Sengon, Gmelina, Mahoni, jenis
buah-buahan yang lainnya. Pemupukan dan perawatan tanaman tersebut dilakukan
selama 2-3 tahun pengelolaan. Selanjutnya kemudian dilakukan pengayaan dengan
jenis local dan berdaur panjang seperti ulin, meranti, keruing, dan lainnya bersamaan
dengan kegiatan penambangan. Hal tersebut dilakukan agar pada saat penutupan
tambang hanya sebagian kecil atau bekas bukaan fasilitas penunjang saja yang
direklamasi dan direvegatasi. Seluruh kegiatan evegetasi tersebut berdasarkan
kriteria keberhasilan reklamasi atau pedoman dari peraturan pemerintah dan
keputusan menteri yang menyangkut hal tersebut.
Sumber : Foto Lapangan, 2017
Gambar 2.7.
Reclamation

PT Arutmin Indonesia akan mereklemasi areal bekas penambangan Tanpa


Izin (PETI) di dalam wilayah konsesi yang digunakan untuk kepentingan operational
penambangan Arutmin. Akibat tidak tersedianya tanah pucuk yang telah terbuang
atau tercampur dalam penambangan oleh PETI, lahan yang sudah dibentuk ditanami
dengan metode system potting ataupun hydroseeding dari selanjutnya ditanami
dengan tanaman cepat tumbuh dan tanaman multi guna seperti Sengon, Gmelina,
Mahoni, buah-buahan dan lain-lain. Jika tanah pucuk yang tersedia mencukupi, maka
akan dilakukan penebaran tanah pucuk pada lahan bekas PETI dan dilakukan
penanaman.
Sesuai dengan rencana operasi produksi selama tahun 2015-2020 pemulihan
area terganggu akibat penambangan melalui kegiatan reklamasi di Tambang Kintap
dicantumkan pda table dibawah ini. Rencana kegiatan reklamasi tersebut telah
mencakup proses regarding, topsoiling dan revegetasi.
Lokasi Tahun Regrading Topsoiling Revegetasi
2015 55.5 55.5 76
2016 142.2 142.2 143.5
2017 120.3 120.3 120.3
Tambang Kintap
2018 118.2 118.2 118.2
2019 115.3 115.3 115.3
2020 113.2 113.2 113.6
Jumlah 664.7 664.7 686.8

2. Pembentukan Void dan Pembuatan Reservoar


Dalam kegiatan pertambangan secara tambang terbuka, keberadaan
suatu lubang bukaan pada akhir tambang (void) merupakan konsekuensi
teknis yang lazim terjadi. Beberapa penyebab utamanya adalah diambilnya
deposit batubara itu sendiri sebagai produk, selebihnya karena
ketidakmenerusan pit akibat adanya struktur geologi, sungai dan desa,
pengurangan jumlah material dalam pit akibat keharusan untuk menempatkan
material diluar pit sebelum dapat dilakukan penimbunan kembali (backfilling),
penyusutan volume dari tanah penutup yang telah di backfilling akibat
terpadatkan didalam pit, serta penggunaan tanah penutup untuk pembuatan
jalan penghubung. PT Arutmin Indonesia telah mengoptimalkan tahapan
penambangan dan penjadwalan yang tidak hanya bertujuan untuk
meminimalkan biaya dan memaksimalkan tingkat produksi tapi juga dengan
meminimalkan biaya dan memaksimalkan tingkat produksi tapi juga dengan
meminimalkan sisa bukaan di akhir tambang. Pendekatan yang telah
dilakukan untuk meminimalkan sisa bukaan di akhir tambang diantaranya
adalah
1. Menggunakan metode penambangan back filling
2. Melakukan optimasi arah kemajuan penambangan

2.10. Pelaksanaan CSR

PT Arutmin Indonesia ingin terus tumbuh dan berkembang bersama


masyarakat sekitar, membangun hubungan yang harmonis di tengah-tengah
lingkungan yang lestari dan dapat memberi manfaat seluas-luasnya untuk memenuhi
harapan para pemangku kepentingan. Sebagai perusahaan tambang dengan area
kelolaan yang luas, Arutmin selalu melaksanakan tanggung jawab social perusahaan
atau Corporate Social Responsibility (CSR) dengan terus mendorong pertumbuhan
ekonomi dan membangun kemandirian masyarakat serta berupaya memperbaiki
kualitas lingkungan hidup. Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
PT Arutmin Indonesia Tambang Asam-asam, Mulia dan Kintap dilakukan dengan
sasaran masyarakat di sekitar wilayah operasi mulai dari tingkat desa sampai k tingkat
Kabupaten.
Kegiatan CSR yang dilakukan difokuskan pada pegembangan 6 bidang
kegiatan yang meliputi Pembangunan dan Pengembangan Infrastruktur, Pelestarian
Sosial dan Budaya, Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Peningkatan Sumber Daya
Manusia melalui Pendidikan, dan Pengembangan Ekonomi Lokal. Hal ini sesuai
dengan visi CSR PT Arutmin Indonesia yaitu Berdayanya Masyarakat Lingkar
tambang menjadi mandiri dan Sejahtera. Sedangkan misi adalah memberdayakan
sumber daya local dengan berdagang pada nilai-nilai adat dan budaya setempat.
Selain itu kegiatan CSR juga berkaitan dengan Rencana Penutupan Tambang (RPT)
dimana program-program CD yang terkait dengan pengembangan ekonomi lokal
sudah dimulai sejak sekarang. Dengan Visi dan Misi tersebut maka PT Arutmin
Indonesia dalam setiap operasi pertambangannya akan selalu berpartisipasi dalam
pembangunan daerah dengan tujuan :
1. Berpartisipasi dalam pembangunan daerah dengan membangun struktur
komunitas yang tidak berdaya menjadi lebih berdaya dalam menciptakan
kemandirian dan kesejahteraan masyarakat setempat.
2. Menjalin hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan berdasarkan
atas keyakinan, saling percaya, kebersamaan dan saling menguntungkan.
Guna mewujudkan visi dan misi CSR tersebut, PT Arutmin Indoensia dalam
setiap program pemberdayaan masyarakat selalu menerapkan startegi CSR yang
telah digariskan yaitu :
1. Membangun kemitraan atas dasar saling menguntungkan antara perusahaan,
masyarakat, pemerintah dan mitra kerja.
2. Hidup berdampingan dengan masyarakat, harmonis dan saling percaya dimana
perusahaan beroperasi.
3. Membangun keswadayaan masyarakat dalam rangka mengelola dan
mengembangkan potensi sumberdaya lokal.
4. Berbasis komunitas dan sumberdaya local
5. Melaksanakan prinsip-prinsip pengembangan Masyarakat (Community
Development).
Upaya PT Arutmin Indonesia dalam memberdayakan masyarakat lingkar
tambang salah satunya dengan pelaksanaan program pengembangan masyarakat
dibidang pembangunan atau perbaikan sarana dan prasarana umum. Program CD
dibidang infrastruktur ini ditujukan kepada sector pendidikan, kesehatan, social,
budaya dan pengembangan ekonomi dan dilaksakana dengan membangun kemitraan
atas dasar saling menguntungkan antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah.
Prinsip keswadayaan masyarakat dibangun pula dalam kerangka pemanfaatan dan
pengelolaan sarana dan prasarana tersebut.

Sumber : Foto Lapangan, 2017


Gambar 2.8.
Corporate Social Responsibility (CSR)