Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ANALISIS PANGAN

GAS KROMATOGRAFI : LIPID

KELOMPOK 6 :

Dessy Pratiwi 2016349076


Nur Andini Putriningtyas 2016349086
Rita Indriyani 2016349101
Lisha Yuanita Sari 2016349184

Jurusan Teknologi Pangan

Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Universitas Sahid Jakarta

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komposisi asam lemak yang menyusun minyak goreng berbeda tergantung

kepada sumbernya. Lawler dan Dimick (2002) menyebutkan minyak goreng yang

berasal dari kelapa sawit terdiri dari 12 triasilgliserol utama dan tergolong unik

karena sekitar 10-15% saturated asil ester berada pada posisi sn-2. Komposisi asam

lemak bebas pada minyak kelapa sawit hampir sekitar 5%. Komposisi jenis asam

lemak bebas dalam minyak akan menentukan kualitas dan kemudahan dalam

mengalami kerusakan minyak. Minyak yang terdiri dari banyak asam lemak tak jenuh

(unsaturated) akan lebih mudah rusak dan tidak sesuai untuk digunakan dalam proses

pemanasan suhu tinggi dalam waktu lama. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai

komposisi asam lemak suatu minyak menjadi penting untuk menentukan kualitas dan

kesesuaian penggunaan. Analisis komposisi asam lemak dapat dilakukan dengan

menggunakan instrumen Gas Chromatography (GC). Salah satu syarat suatu senyawa

dapat dianalisa dengan GC-MS adalah senyawa tersebut harus bersifat mudah

menguap (volatil). Pemisahan yang terjadi dapat disebabkan oleh perbedaan titik

didih suatu senyawa dan interaksi senyawa tersebut dengan fase diam dalam kolom.

Suatu asam lemak rantai panjang mempunyai titik didih yang tinggi karena

mempunyai gugus karboksilat yang menyebabkan terjadinya ikatan hidrogen dan

peningkatan jumlah rantai hidrokarbon akan menyebabkan peningkatan titik didihnya

(Fessenden, 1999). Analisis yang dilakukan bertujuan untuk menentukan komposisi


asam lemak dalam minyak goreng dengan menggunakan instrumen GC-MS (Gas

Chromatography Mass Spectrometer).

B. Tujuan

Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui metode

pengujian kandungan lemak pada sampel dengan menggunakan metode uji

kromatografi gas.
BAB II

METODELOGI

A. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan yaitu analisis komponen asam lemak dalam

minyak goreng dengan instrumen Gas Chromatography (GC). Sampel minyak goreng

pada tahap persiapan sampel mengalami tahapan metilasi agar menjadi FAME (Fatty

Acid Methyl Esther) yang bersifat volatil.

B. Alat dan Bahan

Alat yang biasa digunakan dalam analisis ini adalah seperangkat alat

kromatografi gas dan kolom kapiler, peralatan untuk persiapan sampel seperti tabung

reaksi bertutup, gelas piala, pipet tetes, vial, pipet mohr, vortex, dan penangas air

bersuhu 80-90C. Bahan yang biasa digunakan dalam analisis ini adalah sampel

berupa minyak sawit dan standar internal berupa asam lemak margarat (C17), serta

paket standar eksternal. Bahan lainnya adalah pereaksi dalam persiapan sampel

berupa NaOH metanolik 0,5 N, BF3 metanol, heksana, NaCl jenuh, Na2SO4

anhidrous, gas N2 untuk mencegah terjadinya oksidasi atau kerusakan komponen uji.

Gas yang digunakan dalam alat kromatografi adalah helium dan nitrogen sebagai fase

gerak dalam kolom kromatografi yang akan membawa sampel.

1. Gas Pengangkut
Gas pengangkut/ pemasok gas (carrier gas) ditempatkan dalam silinder

bertekanan tinggi. Biasanya tekanan dari silinder sebesar 150 atm. Tetapi tekanan ini

sangat besar untuk digunakan secara Iangsung.

Gas pengangkut harus memenuhi persyaratan :

1. Harus inert, tidak bereaksi dengan cuplikan, cuplikan-pelarut, dan material

dalam kolom.

2. Murni dan mudah diperoleh, serta murah.

3. Sesuai/cocok untuk detektor.

4. Harus mengurangi difusi gas.

Gas-gas yang sering dipakai adalah : helium, argon, nitrogen, karbon dioksida

dan hidrogen. Gas helium dan argon sangat baik, tidak mudah terbakar, tetapi sangat

mahal. H2 mudah terbakar, sehingga harus berhati-hati dalam pemakaiannya.

Kadang-kadang digunakan juga CO2. Pemilihan gas pengangkut atau pembawa

ditentukan oleh ditektor yang digunakan. Tabung gas pembawa dilengkapi dengan

pengatur tekanan keluaran dan pengukur tekanan.

Sebelum masuk ke kromatografi, ada pengukur kecepatan aliran gas serta

sistem penapis molekuler untuk memisahkan air dan pengotor gas lainnya. Pada

dasarnya kecepatan alir gas diatur melalui pengatur tekanan dua tingkat yaitu

pengatur kasar (coarse) pada tabung gas dan pengatur halus (fine) pada kromatografi.
Tekanan gas masuk ke kromatograf (yaitu tekanan dari tabung gas) diatur pada 10-50

psi (di atas tekanan ruangan) untuk memungkinkan aliran gas 25-150 mL/menit pada

kolom terpaket dan 1-25 mL/menit untuk kolom kapiler.

2. Tempat injeksi ( injection port)

Dalam kromatografi gas cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Gas dan uap

dapat dimasukkan secara langsung. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk

cairan dan padatan. Hingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan

padatan pertama-tama harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk

dalam kolom.

Tempat injeksi dari alat GLC/KGC selalu dipanaskan. Dalam kebanyakan

alat, suhu dari tempat injeksi dapat diatur. Aturan pertama untuk pengaturan suhu ini

adalah batiwa suhu tempat injeksi sekitar 50C lebih tinggi dari titik didih campuran

dari cuplikan yang mempunyai titik didih yang paling tinggi.

Bila kita tidak mengetahui titik didih komponen dari cuplikan maka kita harus

mencoba-coba. Sebagai tindak lanjut suhu dari tempat injeksi dinaikkan. Jika puncak-

puncak yang diperoleh lebih baik, ini berarti bahwa suhu percobaan pertama terlalu

rendah. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab

kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa

yang akan dianalisa.

Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan cara menginjeksikan melalui

tempat injeksi. Hal ini dapat dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering

disebut a gas tight syringe. Perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh
menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena GC sangat sensitif. Biasanya jumlah

cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml untuk gas

dan 0,2 20 ml untuk cairan seperti pada gambar di bawah.

3. Kolom

Coulom, ada dua jenis kolom yang digunakan dalam GC. Yang pertama

adalah kolom kemas, yaitu berupa tabung yang terbuat dari gelas atau steinstless

berisi suatu padatan inert yang dikemas secara rapi. Kolom ini memiliki ukuran

panjang 1,5-10 m dan diameter 2,2-4 nm. Yang kedua adalah kolom kapiler, yang

biasanya terbuat dari silica dengan lapisan poliamida. Kolom jenis ini biasanya

memiliki ukuran panjang 20-26 m dengan diameter yang sangant kecil.


4. Detektor

Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah

dipisahkan dari kolom secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat melakukan pada

suhu yang lebih tinggi. Fungsi umumnya mengubah sifat-sifat molekul dari senyawa

organik menjadi arus listrik kemudian arus listrik tersebut diteruskan ke rekorder

untuk menghasilkan kromatogram. Detektor yang umum digunakan:

1. Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector_ TCD)

2. Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector_ FID)

3. Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector _ECD)

4. Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector _FPD)

5. Detektor nyala alkali

6. Detektor spektroskopi massa

Detector, yang paling umum digunakan dalam GC adalah detector ionisasi

nyala (FID) dan detector kondutivitas termal (TCD). Kedunya peka terhadap berbagai
komponen dan dapat berfungsi pada berbagai konsentrasi. Sementara TCD pada

dasarnya universal dan dapat digunakan untuk mendeteksi setiap komponen selain

gas pembawa (selama konduktivitas mereka berbeda dari gas pembawa, suhu

detektor),dalam jumlah besar sensitif terutama untuk hidrokarbon. Sedangkan FID

tidak dapat mendeteksi air.

TCD adalah detector non-destruktif, sedangkan FID adalah detector

destruktif. Biasanya detector ini akan dihubungkan dengan Spektrokopi Masa,

sehingga akan menjadi rangkaian alat GC-MS. Adapun salah satu bentuk dari FID

adalah sebagai berikut :

5. Oven kolom

Kolom terletak didalam sebuah oven dalam instrumen. Suhu oven harus diatur

dan sedikit dibawah titik didih sampel. Jika suhu diset terlalu tinggi, cairan fase diam

bisa teruapkan, juga sedikit sampel akan larut pada suhu tinggi dan bisa mengalir

terlalu cepat dalam kolom sehingga menjadi terpisah.


6. Recorder

Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat

melalui elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang

diperoleh dapat dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif

dengan cara membandingkan waktu retensi sampel dengan standar. Analisis

kuantitatif dengan menghitung luas area maupun tinggi dari kromatogram. Sinyal

analitik yang dihasilkan detektor disambungkan oleh rangkaian elektronik agar bisa

diolah oleh rekorder atau sistem data.

Sebuah rekorder bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu.

Di atas kertas tersebut dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran

detektor sehingga posisinya akan berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran

penguat sinyal detektor. Hasil rekorder adalah sebuah kromatogram berbentuk pik-pik

dengan pola yang sesuai dengan kondisi sampel dan jenis detektor yang digunakan.

Instrumentasi Spektrofotometer Massa

Sistem instrumen spektrometer massa terbagi menjadi 5 bagian yaitu :

1. Sistem penanganan cuplikan

Ini meliputi alat untuk memasukan cuplikan, mikromanometer untuk

menentukan jumlah cuplikan yang masuk, alat (lubang molekul) pengukur cuplikan

yang masuk ruang pengionan serta sistem pemompaan.

Pemasukan gas biasanya mudah, pemindahan dari dari tabung ke alat meter

lalu ke ruang pengionan. Cairan dimasukan dengan menyentuh pipet mikro ke


piringan gelas sintered atau lubang tertentu terbuat dari air raksa atau galium atau

dengan suntikan jarum hipodermis.

Tabung berisi cupikan dipompa dengan es kering (dry ice), lalu dihangatkan

untuk menguapkan cuplikan ke sistem masukan (inlet).Sistem masukan yang

dipanaskan dipakai untuk cairan secara langsung ke ruang pengionan mengurangi

batasa yang disebabkan oleh keatsirian dan kemantapan termal. Teknik pemasukan

langsung ini mengurangi derajat keatsirian yang diperluakn untuk analisis. Karena

pengionan berlangsung dalam keadaan uap, memang masih diperlukan sedikit derajat

keatsirian dan kemantapan termal tertentu.

Pola pemecahan molekul terulang dapat dicapai bagi berbagai senyawa

berbobot molekul tinggi seperti terpenoid, steroid, polisakarida, peptida, dan alkaloid.

Bahkan dengan teknik-teknik khusus ini, senyawa harus mantap pada suhu tatkala

tekanan uapnya pada sekitar harga 10-7 hingga 10-6 Torr. Untuk cairan dan padatan

berkisar dari harga berapa miligram hingga kurang daripada saru mikrogram,

tergantung pada cara pemasukan serta detektornya.

2. Ruang pengionan dan pemercepat

Aliran gas dari lubang molekul masuk ke dalam ruang pengionan (berkerja pada

tekanan 10-6 hingga 10-5 Torr) dan disini ditembaki pada arah tegak lurus oleh

berkas elektron dari suatu filamen panas. Ion-ion positif yang terbentuk karena

antaraksi berkas elektron itu terdorong lewat lubang (slit) pemercepat oleh suatu

medan elektrostatik lemah antara penolak (repeller) dan lubang pemercepat pertama

tadi.
Kemudian suatu medan elektrostatik kuat antara lubang pemercepat pertama dan

kedua tadi makin mempercepat laju layangan ion-ion tersebut. Diantara lubang-

lubang mempercepat tadi juga dialakukan pumpun tambahan. Untuk memperoleh

spektrum, medan magnet pada tabung penganalisis atau tegangan pemercepat antara

lubang pertama dan kedua diubah-ubah. Dengan demikian ion-ion secara berurutan

dipumpun ke lubang pengumpul sebagai fungsi massa.

Pada kebanyakan radas, sapuan dari massa 12 sampai massa 500 dapat dialkukan

hanya dalam waktu 1 hingga 4 menit. Meskipun demikian, laju sapuan sampai

beberapa detik saja digunakan untuk memperoleh spektra fraksi-fraksi kromatografi

gas.

3. Tabung penganalisis dan mengnet

Tabung logam yang dihampakan (10-7 hingga 10-8 Torr) berbentuk lengkung

tempat melayangnya berkas ion dari sumber ion ke pengumpul.Kutub-kutub magnet

dipasang tegak lurus bidang. Yang terpenting disini adalah terdapatnya medan magnet

yang amat pengganda elektron.

4. Pengumpul Ion dan Penguat

Pengumpul ion terdiri atas satu atau lebih lubang pengumpul (kolimasi) serta satu

atau lebih lubang pengumpul (kolimasi) serta suatu silinder Faraday, berkas ion

menumbuk pengumpul dalam arah tegak lurus, kemudian isyarat diperkuat oleh suatu

pengganda elektron.

5. Pencatat
Pencatat yang digunakan secara luas memakai lima buah galvanometer terpisah

yang mencatat serentak. Penentuan massa dari puncak-puncak catatan spektrum dapat

menimbulkan masalah pada ujung massa yang tertingi sapuannya. Yang biasa

dilakukan ialah memulai seimakan dari ujung massa yang rendah sapuannya, yang

dapat ditepatkan letaknya secara teliti, lalu menghitung puncak-puncak hingga

puncak terakhir yang tercatat.

Hal ini acap kali dapat dilakukan dilakukan karena galvanometer yang paling

peka akan mencatat sedikit arus ion pada tiap satuan massa. Kadang-kadang puncak-

puncak pada ujung setinggi spektrum tampak melebar hingga tidak terbedakan

dengan latar belakang, jika hal ini terjadi, senyawa baku perlu ditambah ke dalam

cuplikan. Beberapa radas dilengkapi dengan penanda massa otomatik tetapi sering

kurang terpercaya justru di daerah ujung tinggi spektrum yang sangat penting dan

diperlukan.

Pen digit yang mencantumkan bilangan massa serta sekuat- kuat puncak nisbi

di layar merupakan peralatan tambahan yang amat berfaedah. Meskipun demikian

dapat terjadi penyimpangan yang menyebabkan berkurang dan berlebihnya satuan

massa penuh dalam suatu sapuan hali ini tentu mencek pendigit terhadap letak

simpangan galvanometer

C. Prosedur Analisis

Prosedur analisis yang dilakukan terdiri dari dua tahapan yaitu tahap

persiapan sampel dan proses analisis menggunakan kromatografi gas. Tahapan

persiapan sampel yaitu proses metilasi asam lemak agar menjadi FAME yang bersifat
volatil. Tahapan reaksi metilasi terdiri dari reaksi penyabunan dimana 1,5 ml NaOH

metanolik 0,5 N ditambahkan ke sekitar 100 mg sampel minyak goreng yang

sebelumnya telah ditambahkan 1 ml standar internal pada tabung reaksi bertutup.

Pengadukan pada tahapan persiapan yaitu pengadukan campuran dengan vortex,

dilakukan dengan sebelumnya menambahkan terlebih dahulu gas N. Kemudian

campuran dipanaskan dalam penangas bersuhu 80-90C selama 5 menit, lalu

didinginkan. Setelah itu, ditambahkan 2 ml BF3 lalu dilakukan pengadukan dengan

vortex, kemudian dipanaskan kembali pada penangas air bersuhu sama dengan

sebelumnya selama 30 menit untuk mempercepat terjadinya reaksi pembentukan

FAME dari sabun asam lemak. Setelah didinginkan, ke dalam tabung reaksi

ditambahkan 1 ml heksan untuk mengekstrak FAME dari sampel dan alkohol, serta

ditambahkan 3 ml larutan NaCl jenuh untuk memperjelas bidang pemisahan antara

ekstrak dan alkoholnya. Bagian heksan dibagian atas di pindahkan ke dalam vial,

kemudian ditambahan Na2SO anhidrous untuk memerangkap air sehingga mencegah

adanya air di dalam bahan uji. Setelah itu, sampel dimasukkan ke dalam vial kedua.

Sampel lalu dianalisis dengan alat kromatografi gas (Hutami, dkk, 2012).

Proses analisis dengan instrumen kromatografi gas yaitu, sampel sebanyak 1

l disuntikkan ke dalam alat dengan sistem injeksi langsung spitless mode dan suhu

injektor 270C. Suhu kolom yang dapat digunakan adalah gradien suhu dengan suhu

kolom awal 130C selama 4 menit, kemudian dinaikkan hingga 170C dengan laju

peningkatan suhu 6,5C/menit, lalu dinaikkan kembali suhunya hingga 215C dengan

laju peningkatan 2,75C/menit, dan dipertahankan pada suhu tersebut selama 12

menit. Kemudian suhu dinaikkan hingga 230C dengan laju 4C/menit dan
dipertahankan pada suhu 230C selama 3 menit. Suhu detektor yang digunakan

adalah 280C, dengan pengaturan energi elektron detektor MS sekitar 70 eV dan suhu

sumber ion 250C.

Sebelum sampel dimasukkan gas helium dan nitrogen sebagai fase gerak

harus telah mengalir dengan baik. Gas helium diatur tekanannya 1 kg/cm 2 dan

tekanan gas hidrogen serta udara masing masing sekitar 0,5 kg/cm2. Kecepatan alir

gas hidrogen adalah 30 ml/menit, oksigen 400 ml/menit, nitrogen 30,1 ml/menit, dan

helium 46,4 ml/menit.

1. Perhitungan

Perhitungan dilakukan untuk mencari nilai Response Factor (RF). Perumusan

yang digunakan adalah :

Ket. :

ASI = Area standar internal pada kromatogram standar eksternal

Aalx = Area asam lemak tertentu pada kromatogram standar eksternal

BSI = Konsentrasi standar internal pada kromatogram standar eksternal

Balx = Konsentrasi asam lemak tertentu pada kromatogram standar eksternal

Perhitungan juga dilakukan untuk mencari nilai konsentrasi asam lemak

tertentu. Perumusan yang digunakan adalah:

Ket. :
ASI = Area standar internal pada kromatogram sampel

Aalx = Area asam lemak tertentu pada kromatogram sampel

BSI = Berat standar internal yang ditambahkan pada sampel

BS = Berat sampel minyak goreng yang dimetilasi (g)

Alx = Konsentrasi asam lemak tertentu di dalam sampel (mg/g)


BAB III

PEMBAHASAN

A. Hasil Analisis

Hasil analisis yang akan dibahas pada makalah ini berupa analisis kuantitatif.

Setelah dilakukan analisis dengan instrumen, akan dihasilkan suatu gambar di

dalamnya peak-peak yang menunjukkan adanya asam-asam lemak pada sampel

tersebut. Selain pada sampel digunakan juga hasil analisis kromatografi gas pada

standar eksternal. Standar eksternal yang telah diketahui dengan pasti komposisi dan

konsentrasinya diperlukan untuk mengidentifikasi jenis asam lemak dan menentukan

nilai RF. Standar eksternal berupa campuran metil ester dari berbagai asam lemak

yang dapat langsung diinjeksikan ke dalam GC yang terpisah dari injeksi sampel.

Pada standar eksternal ini diperlukan untuk acuan pada sampel, jika pada sampel

minyak terdapat asam lemak yang sama dengan asam lemak standar eksternal, maka

asam lemak pada sampel minyak goreng dapat ditentukan konsentrasinya karena ada

RF yang diacu dari standar eksternal.


Gambar 1. Contoh Kromatogram Sampel Minyak

Gambar 2. Contoh Kromatogram Standar Eksternal

Kuantifikasi asam lemak yang dilakukan pada analisis ini menggunakan

perhitungan faktor respon (RF) dan perbandingan luas area (luas area peak standar

internal, luas area peak standar eksternal, dan luas area peak sampel). Nilai Response

Factor (RF) asam lemak dari standar eksternal disajikan pada Tabel 1. Pada Tabel 1,

dapat diketahui bahwa terdapat 10 peak yang menunjukkan asam lemak pada standar

eksternal. Waktu retensi (tR) dan luas area didapatkan dari hasil kromatogram dari

pengujian Kromatografi Gas standar eksternal.

Tabel 1. Nilai Respon Faktor (RF) pada Standar Eksternal


Setelah diketahui nilai RF, maka dilakukan perhitungan kembali untuk

menentukan konsentrasi komposisi asam lemak (mg/g) pada sampel minyak. Analisis

kuantitatif sampel dengan waktu retensi 14,380; 22,156; 28,459; 32,698; 35,875; dan

40,878 tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2. Konsentrasi Asam Lemak dalam Sampel

Contoh perhitungan untuk C12:0 :


Diketahui :
RF = 0,435
Aalx = 268857439
ASI = 683037961
BSI = 1,036 mg
BS = 111,30 mg
Perhitungan dengan rumus :

Alx = 1,59 mg/g


BAB IV

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Analisis pendugaan komposisi asam lemak dalam sampel minyak sawit

dilakukan terhadap lima peak pada kromatogram yang memiliki kelimpahan tinggi.

Peak tersebut memiliki waktu retensi 14,380; 22,156; 28,459; 32,698; 35,875; dan

40,878. Analisis senyawa dengan menggunakan MS terhadap kelima waktu retensi

secara berurutan adalah dodecanoic acid, methyl ester (methyl laurat ), tetradecanoic

acid, methyl ester (methyl myristate), 9-hexadecenoic acid, methyl ester (methyl

palmotoleate), 9-octadecenoic acid, methyl ester (methyl oleate), dan 11-eicosenoic

acid, methyl ester. Pendugaan ini didasarkan pada nilai similiarity index tertinggi.
Berdasarkan analisis kuantitatif, diketahui bahwa sampel mengandung asam

lemak dodekanoat (C12:0) sebanyak 1,59 mg/g, asam lemak tertradekanoat (C14:0)

sekitar 4,87 mg/g, asam lemak 9-Hexadekanoat (C16:1) sekitar 0,59 mg/g, asam

lemak 9-Octadekanoat (C18:1) sekitar 22,41 mg/g, dan asam lemak 11-Eikosanoat

(C20:1) sebanyak 0,46 mg/g. Asam lemak 9-octadekanoat (oleat) memiliki persentase

terhadap kandungan asam lemak total sampel tertinggi yaitu sekitar 39,17%.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzi. 2016. Analisis dan metodelogi kromatografi gas tipe GC MS. Di akses pada [2
Juli 2017]: http://kimiafum.com/kromatografi-gas-tipe-gc-ms/

Fessenden, R. J., Fessenden, J. S.,1999, Kimia Organik, a.b.: Pudjaatmaka, A. H.,


Jilid 2, Edisi ketiga, Erlangga, Jakarta., 409-410.

Hutami, R., Haryati, W., Amalia, U., Rachmani, I. D., Tanniah, Wirasuwasti. 2012.
Analisis Komponen Asam Lemak dalam Minyak Goreng dengan Instrumen GC-
MS (Gas Chromatography-Mass Spectrometer). [Tesis]. Institut Pertanian
Bogor.

Lawler, P. J. dan P. S. Dimick. 2002. Crystallization and polymorphism of fats. In:


Akoh, C. C. dan D. B. Min (eds.). Food Lipids Chemistry, Nutrition, and
Biotechnology second edition. Marcel Dekker, Inc., New York.