Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI YANG MENGALAMI

GANGGUAN DENGAN BBLR

DOSEN PENGAMPUH :
MERY SAMBO, S.Kep., Ns., M.Kep

DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK VII
1. PATRIANI MUSLINDA N. NIM 1614201122
2. RAMDHANI ALI NIM 1614201123
3. RENNY SILFANI NIM 1614201124
4. RESKIANY NIM 1614201125

STIK STELLA MARIS


MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 menyatakan
bahwa semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama dengan
2500 gram disebut low birth weight infant (bayi berat badan lahir
rendah/BBLR), karena morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya
bergantung pada berat badannya tetapi juga pada tingkat kematangan
(maturitas) bayi tersebut. Definisi WHO tersebut dapat disimpulkan secara
ringkas bahwa bayi berat lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang
atau sama dengan 2500 gram.
Menurut WHO, setiap tahunnya 120 juta bayi lahir di dunia secara
global 4 juta (33 per seribu) bayi lahir mati (Stillbirth) dan 4 juta (33 per
seribu) lainnya meninggal dalam usia 30 hari (neonatal). Sebanyak 98% dari
kematian bayi terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang. AKB ini
sangat memprihatinkan yang dikenal dengan fenomena 2/3. Fenomena ini
terdiri dari: 2/3 kematian bayi (berusia 0-1 tahun) terjadi pada umur kurang
dari 1 bulan (neonatal), 2/3 kematian neonatal terjadi pada umur kurang dari
seminggu (neonatal dini), dan 2/3 kematian pada masa neonatal dini terjadi
pada hari pertama kelahiran.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan angka
kematian ibu dan bayi tertinggi. Angka kematian ibu sebesar 19.500 sampai
dengan 20.000 orang setiap tahunnya atau terjadi setiap 26-27 menit.
Sedangkan kematian bayi sebesar 110.000 menjadi 280.000 atau terjadi setiap
18-20 menit, dengan penyebab kematian bayi karena BBLR 15/1000.
Hingga saat ini, Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) masih
merupakan masalah di dunia karena merupakan penyebab kesakitan dan
kematian pada masa bayi baru lahir. Pada bayi dengan BBLR banyak sekali
resiko terjadi permasalahan pada system tubuh, oleh karena kondisi tubuh
yang tidak stabil.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan
masalah yang dibuat kelompok adalah mengetahui lebih jauh tentang Asuhan
keperawatan pada bayi yang mengalami gangguan dengan BBLR.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa/i dapat memahami asuhan keperawatan pada bayi berat
lahir rendah ( BBLR).

2. Tujuan Khusus
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Definisi BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Etiologi BBLR
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Tanda-tanda BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Patoflow BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Pemeriksaan penunjang BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Penatalaksanaan BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Konsep dasar keperawatan BBLR.
Mahasiswa/i dapat menjelaskan Discharge planning BBLR.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari
2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Dahulu neonatus dengan
berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram di
sebut prematur.
Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat
lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infans (BBLR).
Sedangkan pada tahun 1970, kongres European Perinatal Medicini II yang
diadakan di London juga diusulkan defenisi untuk mendapatkan keseragaman
tentang maturitas bayi lahir, yaitu sebagai berikut :
1. Bayi kurang bulan,adalah bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37
minggu (259 hari).
2. Bayi cukup bulan,adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu
sampai 42 minggu (259-293 hari).
3. Bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu
atau lebih (294 hari atau lebih).

B. Etiologi
Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan bayi BBLR secara
umum yaitu sebagai barikut :
a. Faktor ibu :
1. Penyakit :
Mengalami komplikasi kehamilan, seperti : anemia sel Berat,
perdarahan ante partum, hipertensi, preeclampsia berat, eklampsia,
infeksi selama kehamilan (infeksi kandung kemih dan ginjal)
menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual,
HIV/AIDS, malaria, TORCH.
2. Usia ibu dan paritas :
Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah kehamilan pada usia <
20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Kehamilan ganda ( multi gravid )
Jarak kehamilan yang terlalu dekat atau pendek (kurang dari satu
tahun)
Mempunyai riwayat BBLR sebelumnya
3. Keadaan sosial ekonomi
Kejadian tertingi terdapat pada golongan social ekonomi rendah
Mengerjakan aktifitas fisik beberapa jam tanpa istirahat
Keadaan gizi yang kurang baik
Pengawasan antenatal yang kurang
kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tida
sah, yang ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi yang
lahir dari perkawinan sah
4. Sebab Lain :
Ibu perokok
Ibu peminum alcohol
Ibu pecandu obat narkotik
Penggunaan obat antimetabolik
b. Faktor Janin
1. Kelainan kromosom (trisomi autosomal)
2. Infeksi janin kronik (inklusi sitomegali,rubella bawaan)
3. Disautonomia familial
4. Radiasi
5. Kehailan ganda/kembar (gemeli)
6. Aplasia pancreas
c. Faktor Plasenta :
1. Berat plasenta berkurang atau berongga atau keduanya (hidramnior)
2. Luas permukaan berkurang
3. Plasentilis vilus (bakteri,virus,dan parasite)
4. Infark
5. Tumor (korioangioma,mola hidatidosa)
6. Plasenta yang lepas
7. sindrom plasenta yang lepas
8. Sindrom transfuse bayi kembar (sindrom parabiotik)
d. Faktor lingkungan
1. Bertempat tinggal di daratan tinggi
2. Terkena radiasi
3. Terpapar zat beracun

C. Manifestasi Klinis
Secara umum, gambaran klinis dari bayi BBLR adalah sebagai berikut :
a. Berat karung dari 2500 gram
b. panjang kurang dari 45 cm
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm
d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
f. Kepala lebih besar
g. Kulit tipis,transparan,rambut lanugo banyak,lemak kurang
h. Otot hipotonik lemah
i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
j. Ekstremitas : paha abduksi,sendi lutut/kaki Fleksi-lurus
k. Kepala tidak mampu tegak
l. Pernapasan 40-50 kali/menit
m. Nadi 100-140 kali/Menit
D. Patoflow Diagram
Faktor Usia ibu < 20 th Sosial Plasenta Perdarahan Faktor
Lingkungan ekonomi previa ante partum janin
Sistem reproduksi rendah (Kelainan
(terkena Kurangnya
imatur Pelebaran Renjatan kromosom,
radiasi, pengetahuan
Nutrisi ibu segmen area
terpapar zat ibu terhadap infeksi
Uterus belum siap saat hamil uterus Prematuritas
racun) nutrisi janin
dgn gestasi lama rendah
kehamilan kronik,
Sinus uterus
Prematuritas robek radiasi,
Status nutrisi
janin menurun kehamilan
Berat janin masih kembar,
rendah aplasia
Berat janin
rendah pancreas

BBLR

Pernafasan Otak Kardiovaskuler Imatur imunologis GI

Imaturitas paru Membran Katub jantung Sistem imun rendah Tidak mampu
hialin belum belum terbentuk mencerna
Membran Surfaktan belum terbentuk MK: Risiko nutrisi
hialin terbentuk Darah kaya O2 infeksi
belum Anoksia otak dan miskin O2 Status nutrisi
terbentuk Dispnue tercampur menurun
Peredaran
Sindrom gangguan spontan pada Hipoksemia MK: Risiko Metabolisme
pernafasan pentrikel otak ketidakseimbangan meningkat
Dispnue nutrisi: kurang dari
Penurunan kebutuhan tubuh Lemak tubuh
kesadaran kurang

MK: Termoregulasi
MK: Ketidakefektifan inefektif
Ketidakefektifan termoregulasi
pola nafas

Pencernaan makan
lemah
Intake tidak Aktivitas otot-otot
adekuat pencernaan menurun

MK: Risiko Merangsang produksi


kekurangan volume HCl meningkat
cairan MK: Risiko
Regurgitasi isi lambung
Aspirasi
E. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi
1. Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan
kurang bulan,dapat dimulai pada umur 8 jam. Gambaran foto thoraks
pada bayi dengan penyakit membran hyalin karena kekurangan
surfaktan beruba terdapatnya retikulogranular pada parenkim dan
bronkogram udara. Pada parenkim dan bronkogram udara. Pada kondisi
berat hanya tampak gambaran white lung.
2. USG kepala terutama pada bayi dengan usia kehamilan 35 minggu
dimulai pada umur 2 hari untuk mengetahui adanya hidrosefalus atau
perdarahan intracranial dengan menvisualisasi fontanel anterior yang
terbuka.
b. Laboratorium
1. Darah rutin
a) Hematokrit (HCT)
1) Bayi usia 1 hari 48-69%
2) Bayi usia 2 hari 48-75%
3) Bayi usia 3 hari 44-72%
b) Hemoglobin (Hb) untuk bayi usia 1-3 hari 14,5-22,5 g/dl
c) Jumlah leukosit
1) Bayi baru lahir 9,0-30,0 x 103 sel/mm3
2) Bayi usia 1 hari/24 jam 9,4-43,0 x 103 sel/mm3
3) Bayi usia 1 bulan 5,0-19,5 x 103 sel/mm3
2. Bilirubin
a) Total (serum)
1) Tali pusat < 2,0 mg/dl
2) 0-1 hari 8,0 mg/dl
3) 1-2 hari 12,0 mg/dl
4) 2-5 hari 16,0 mg/dl
5) Kemudian 2,0 mg/dl
b) Direk (terkonjugasi) 0,0-0,2 mg/dl
3. Glukosa (8-12 jam post natal), disebut hipoglikemi bila konsentrasi
glukosa plasma < 50 mg/dl.
a) Serum
1) Tali pusat 45-96 mg/dl.
2) Bayi baru lahir (usia 1 hari) 40-60 mg/dl.
3) Bayi usia > 1 hari 50-90 mg/dl.
4. Analisa gas darah
a) Tekanan partial CO2 (PCO2) bayi baru lahir 27-40 mmHg
b) Tekanan partial O2 (PO2)
1) Lahir 8-24 mmHg
2) 5-10 menit 33-75 mmHg
3) 30 menit 31-85 mmHg
4) > 1 jam 55-80 mmHg
5) 1 hari 54-95 mmHg
6) Kemudian (menurun sesuai usia) 83-108 mmHg
c) Saturasi oksigen (SaO2)
1) Bayi baru lahir 85-90%
2) Kemudian 95-99%
d) pH bayi premature (48 jam) 7,35-7,50.
c. Tes kocok/shake test
Sebaiknya dilakukan pada bayi yang berusia < 1 jam dengan mengambil
cairan amnion yang tertelan di lambung dan bayi belum diberikan
makanan. Cairan amnion 0,5 cc ditambah garam faal 0,5 cc, kemudian
ditambah 1 cc alkohol 95% dicampur dalam tabung kemudian dikocok 15
detik, setelah itu didiamkan 15 menit dengan tabung tetap berdiri.
Interpretasi hasil:
1. [+] : bila terdapat gelembung-gelembung yang membentuk cincin
artinya surfaktan terdapat dalam paru dengan jumlah cukup.
2. [-] : bila tidak ada gelembung atau gelembung sebanyak permukaan
artinya paru-paru belum matang/tidak ada surfaktan.
3. Ragu : bila terdapat gelembung tapi tidak ada cincin. Jika hasil
menunjukkan ragu maka tes harus diulang.

F. Penatalaksanaan
a. Pengaturan Suhu
Untuk mencegah hipotermi, diperlukan lingkungan yang cukup hangat
dan istirahat, konsumsi O2 yang cukup. Bila dirawat dalam inkubator maka
suhunya untuk bayi dengan BB 2 kg adalah 35C dan untuk bayi dengan
BB 2-2,5 kg adalah 34C. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok
untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, warna kulit,
pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit dapat dikenali sedini
mungkin.
Perawatan metode kanguru (PMK) merupakan alternatif perawatan
bayi berat lahir rendah < 2.000 gram, agar bayi tetap hangat dan
mendapatkan ASI yang cukup untuk tumbuh. Pada metode ini, bayi dalam
keadaan telanjang (hanya memakai popok, topi, kaus tangan dan kaus
kaki) diletakkan secara tegak atau vertical di dada antara kedua payudara
ibu (ibu telanjang dada) dan kemudian difiksasi dengan selendang serta
ditutupi dengan baju ibu yang longgar. Oleh karena itu terjadi kontak kulit
dengan kulit, bayi mendapatkan kehangatan melalui konduksi.
Selain itu manfaat Perawatan Metode Kanguru (PMK), dapat
meningkatkan ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi, memudahkan bayi
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, mencegah infeksi dan memperpendek
rawat inap sehingga dapat mengurangi biaya perawatan.
b. Pengaturan makanan/nutrisi
Prinsip utama pemberian makanan pada bayi premature adalah sedikit
demi sedikit. Secara perlahan-lahan dan hati-hati. Pemberian makanan dini
berupa glukosa, ASI atau PASI atau mengurangi resiko hipoglikemia,
dehidrasi atau hiperbilirubinia, Bayi yang daya isapnya baik dan tanpa
sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut. Umumnya bayi dengan
berat kurang dari 1500 gram memerlukan minum pertama dengan pipa
lambung karena belum adanya koordinasi gerakan menghisap dan
menelan.
Dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan glukosa 5 %
yang steril untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1000 gram, 2-4 ml
untuk bayi dengan berat antara 1000-1500 gram dan 5-10 ml untuk bayin
dengan berat lebih dari 1500 gram.
Apabila dengan pemberian makanan pertama bayi tidak mengalami
kesukaran, pemberian ASI/PASI dapat dilanjutkan dalam waktu 12-48
jam.
c. Mencegah infeksi
Bayi prematur mudah terserang infeksi. hal ini di sebabkan karena
daya tubuh bayi terhadap infeksi kurang antibody relative belum terbentuk
dan daya fagositisis serta reaksi terhadap peradangan belum baik.
Prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
1. Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir selama 2
menit sebelum masuk keruang perawatan bayi.
2. Mencuci tangan dengan zat anti sebtik atau sabun sebelum dan sesudah
memegan seorang bayi.
3. Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda yang
berhubungan dengan bayi.
4. Membatasi jumlah bayi dalam satu ruangan
5. Memlarang petugas yang menderita infeksi masuk kedalam ruang
perawat bayi.
BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. Pengkajian
a. Biodata Bayi
Nama : By. Ny. -
Tanggal Lahir Bayi :-
Tanggal Pemeriksaan :-
Jenis Kelamin : P/L
Berat Badan Lahir : < 2500 gram
Pengukuran Panjang :
- Tinggi Badan : < 45 cm
- Lingkar kepala : < 33 cm
- Lingkar dada : < 30 cm
b. Identitas Orang Tua Bayi
- Nama ibu : Ny.-
Umur : < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Pekerjaan :-
Pendidikan :-
- Nama ayat : Tn.
Umur :-
Pekerjaan :-
Pendidikan :-
Alamat :-
MRS :-
No. RM :-
Diagnosa sementara : BCB / KMK / SPT.BK
c. Keluhan Utama
Berat badan < 2500 gram, suhu aksila < 360C, lingkar dada < 30 cm, LK
< 33 cm, kesadaran CM.

d. Riwayat Penyakit Sekarang


BBLR, gerak kurang aktif, menangis lemah, tanda vital: HR > atau sama
dengan 140 x/menit, respirasi > atau sama dengan 50 x/menit, suhu <
360C, dan dirawat dalam inkubator.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Status persalinan ibu primi gravida atau multi gravida, jarak kehamilan
terlalu dekat (< 1 tahun), sosial ekonomi yang sangat rendah.
f. Riwayat Penyakit Dahulu / Persalinan
Bayi lahir spontan, tidak langsung menangis kuat, gerak tidak terlalu
aktif, dirujuk ke RS karena bayi BBLR. Riwayat antenatal: ibu tidak rajin
memeriksakan kehamilan.
g. Pemeriksaan Fisik Biologis
- Kepala : Kepala lebih besar dari badan, tidak mampu
tegak, ubun-ubun dan sutura lebar, rambut halus,
tipis.
- Mata : Sulit membuka, ikterik, anemis.
- Telinga : Simetris, tulang rawan dan daun telinga
immature.
- Mulut : Refleks menghisap dan menelan yang belum
sempurna / lemah.
- Leher : Gerak leher lemah.
- Dada : Retraksi sternum iga, pernapasan belum teratur,
tulang teraba lunak, putting susu belum terbentuk
dengan baik.
- Kulit : Tipis, transparan, turgor jelek, rambut lanugo banyak
terutama pada punggung, lemak kurang, kulit dingin.
- Abdomen : Peristaltik usus dapat terlihat.
- Ekstremitas : Paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus, kuku
belum mencapai ujung jari.
- Genitalia : Belum sempurna, labia minora lebih menonjol
(wanita), testis belum turun (laki-laki).
- Aktivitas : Otot hipotonik lemah, gerak kurang aktif.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas b/d imaturitas neurologis
2. Ketidakefektifan termoregulasi b/d usia yang ekstrem
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor
biologis
4. Risiko infeksi b/d imunosupresi

C. Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas b/d imaturitas neurologis
1) Cegah posisi leher yang hiperekstensi
R/ Posisi hiperekstensi dapat mengurangi diameter trakea.
2) Observasi adanya deviasi, atau tanda-tanda distress pernafasan
R/ Untuk mencegah atau mendeteksi adanya sianosis dan apnu.
3) Berikan posisi side lying.
R/ Mencegah aspirasi pada bayi dengan sekret berlebih atau habis
makan.
4) Monitor PO2 serta Sa O2
R/ Mengobservasi keadekuatan O2.
2. Ketidakefektifan termoregulasi b/d usia yang ekstrem
1) Rawat bayi dalam inkubator bersuhu 32-350C.
R/ Mempertahankan suhu tubuh bayi.
2) Pertahankan suhu lingkungan adekuat
R/ Agar tidak terjadi kehilangan panas yang berlebihan.
3) Hindari bayi dimandikan
R/ Memandikan bayi dengan hipotermi bisa memicu terjadinya syok.
4) Monitor suhu tubuh setiap jam
R/ Mengetahui perkembangan / keadaan bayi.

3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor


biologis.
1) Observasi intake dan output setiap hari
R/ Mengidentifikasi keseimbangan antara perkiraan pemasukan dan
kebutuhan nutrisi.
2) Monitor BB setiap hari.
R/ Membantu dalam memantau keefektifan aturan terapeutik
3) Kolaborasi pemberian infus
R/ Ketentuan dukungan nutrisi didasarkan pada perkiraan kebutuhan
bayi.
4. Risiko infeksi b/d imunosupresi
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan.
R/ Mengurangi risiko infeksi nasokomial kepada bayi.
2) Lakukan prosedur dengan teknik aseptic.
R/ Melindungi bayi dari infeksi.
3) Batasi kontak langsung dengan bayi
R/ Meminimalkan terjadinya infeksi.
4) Observasi tanda-tanda infeksi.
R/ Mengetahui adanya indikasi infeksi
5) Kulit dan tali pusat dirawat dan dibersihkan.
R/ Potensial masuknya organisme ke dalam tubuh.
DAFTAR PUSTAKA

1. Indasari, N. (2012). Jurnal Keperawatan Volume VIII. Faktor Resiko Pada


Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), 114-123.
2. Jitowiyono, Sugeng. Kristiyanasari, Weni. (2010). Asuhan Keperawatan
Neonatus dan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
3. Kusparlina, E. P. (2016). Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes.
Hubungan Antara Umur Dan Status Gizi Ibu Berdasarkan Ukuran Lingkar
Lengan Atas Dengan Jenis BBLR, 21-26.
4. Lestari, Titik. (2016). Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.
5. Mahayana, S. A. S, dkk. (2015). Jurnal Kesehatan Andalas. Faktor Risiko
yang Berpengaruh terhadap Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di RSUP
Dr. M. Djamil Padang, 664-673.
6. Proverawati, Atikah. Ismawati, Cahyo. (2010). Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR). Yogyakarta: Nuha Medika.
7. Saputra, Lyndon. (2014). Pengantar Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita.
Tangerang Selatan: Binarupa Aksara Publisher.