Anda di halaman 1dari 25

Ikterus fisiologis

Posted on November 12, 2013 by nofitasari310


Standard

2.1 Ikterus fisiologis

2.1.1 Pengertian Ikterus Fifiologis

Ikterus adalah perubahan warna kuning pada kulit dan sclera yang terjadi akibat peningkatan
kadar bilirubin didalm darah (Fraser,2012).

Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam
tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/ml dalam 24 jam, yang menandakan
terjadinya gangguan fungsional dari liper, sistem biliary, atau sistem hematologi (Muslihatun,
2010).

Ikterus adalah salah satu keadaan menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir
akibat terjadinya hiperbilirubinemia.Ikterus merupakan salah satu kegawatan yang sering terjadi
pada bayi baru lahir,sebanyak 25-50% pada bayi cukup bulan dan 80 % pada bayi berat lahir
rendah (Dewi,2012).

Ikterus fisiologis (ikterus neonaturum) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan
selaput mata pada bayi baru lahir karen adanya bilirubin pada kulit dan selaput mata sebagai
akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (Hidayat,2008)

Ikterus pada bayi baru lahir terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi
pada neonatus kurang bulan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis
atau patologis, misalnya pada inkomplitibilitas Rhesus dan ABO, sepsis, penyumbatan saluran
empedu dan sebagainya (Sarwono, 2010).

Bilirubin adalah roduk sampingan dari pemecahan heme yang sebagian besar ditemukan di sel
darah merah.el darah merah yang sudah tua,imatur atau cacat dikeluarkan dari sirkulasi dan
dipecahkan di dalam system retikuloendoelial (hati,limpa dan makrofag) dan haemoglobin
menjadi produk seknder dari heme globin dan zat besi (Fraser,2012)

Kadar bilirubin dalam serum tali pusat yang beraksi indirek adalah 1-3 mg/dl/24 jam,dengan
demikian ikterus dapat dilihat pada hari ke 2 sampai hari 3,biasanya berpuncak antara hari ke 2
dan ke 4 dengan kadar 5-6 mg/dl dan menurun sampai dibawah 2 mg/dl,antara umur ke 5 dan ke
7.Ikterus yang disertai dengan perubahan-perubahan ini disebut fisilogis dan disebabkan karena
kenaikan produksi bilirubin pasca pemecahan sel darah merah janin dikombinasi dengan
keterbatasan sementara konjugasi bilirubin oleh hati.Secara keseluruhan 6-7% bayi cukup bulan
mempunyai kadar bilirubin indirek lebih besar dari 12,9 mg/dL dan kurang dari 3% mempunyai
kadar yang lebih besar dari 15 mg/dL.
Pada bayi prematur kenaikan bilirubin serum cenderung sama atau sedikit lebh lambat dari pada
kenaikan bilirubin pada bayi cukup bulan tetapi jangka waktunya lebih lama,yang biasanya
mengakibatkan kadar yang lebih tinggi,puncaknya dicapai antara hari ke 4 dan ke 7.Biasanya
kadar puncak 8-12 mg/dL tidak dicapai sebelum hari ke 5-ke 7 dan ikterus jarang diamati
sesudah hari ke 10 (Wahab,2012).

2.1.2 Etiologi

1. Prahepatik (Ikterus hemolitik)

Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada proses hemolisis sel darah
merah (ikterus hemolitik).Peningkatan bilirubin dapat disebabkan oleh beberapa
faktor,diantaranya adalah infeksi,kelainan sel darah merah dan toksin dari luar tubuh,serta dari
tubuh itu sendiri.

1. Pascahepatik (Obstruktif)

Adanya obstruktif pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin konjugasi akan kembali
lagi ke dalam sel hati dan masuk kedalam aliran darah,sebagian masuk dalam ginjal dan
dieksresikan dalam urine.Sementara itu sebagian lagi tertimbun dalam tubuh sehingga kulit dan
sclera berwarna kuning kehijauan serta gatal.sebagai akibat dari obstruksi saluran empedu
menyebabkan eksresi bilirubin kedalam saluran pencernaan berkurang,sehingga feses akan
berwarna putih keabu-abuan,liat dan seperti dempul.

1. Hepatoseluler(ikterus hepatik)

Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati mengalami kerusakan,maka secara otomatis akan
mengganggu proses konjugasi bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam aliran
darah.Bilirubin direct mudah diekresikan oleh ginjal karena sifatnya yang mudah larut dalam
air,namun sebagian masih tertimbun dalam aliran darah.

(Dewi,2012)

2.1.3 Faktor Resiko

Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum:

1. Faktor Maternal

a) Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani)

b) Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)

c) Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.

1. Faktor Perinatal
a) Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)

b) Infeksi (bakteri, virus, protozoa)

1. Faktor Neonatus

a) Prematuritas

b) Faktor genetik

c) Polisitemia

d) Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol)

e) Rendahnya asupan ASI

f) Hipoglikemia

g) Hipoalbuminemia

2.1.4 Klasifikasi Ikterus

1. 1. Ikterus Fisiologis
1. A. Pengertian Ikterus fisiologis

Ikterus fisiologis adalah ikterus normal yang dialami oleh bayi baru lahir, tidak mempunyai dasar
patologis sehingga tidak berpotensi menjadi kern ikterus.Ikterus ini memiliki tanda-tanda berikut
:

1. Timbul pada hari ke dua dan ketiga setelah bayi lahir


2. Kadar biliburin Indirect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup bulan dan 12,5
mg% pada neonatus kurang bulan
3. Kecepatan peningkatan kadar biliburin tidak lebih dari 5 mg% per hari
4. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
5. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis
6. Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%
7. B. Ikterus Fisiologis Yang Berlebihan Pada Bayi Prematur

Kondisi ini ditandai dengan kadar bilirubin sebesar 165mol/l (10 mg/dl) atau lebih pada hari ke
3 atau 4 dengan puncak konsentrasi pada hari ke 5 sampai 7 yang kembali ke kadar noermal
setelah bebrapa minggu.Bayi premature berisiko lebih tinggi untuk mengalami kern
ikterus.Faktor penunjangnya antara lain :

1. Keterlambatan ekspresi enzim UPD-GT


2. Waktu hidup sel darah merah yang lebih singkat
3. Komplikasi seperti hipoksia,asidosis dan hipotermia yang dapat mengganggu kemamuan
mengikat albumin

(Fraser,2012)

1. 2. Ikterus Patologis

Ikterus patologis Adalah Ikterus yang mempunyai dasar patologis dengan kadar bilirubin
mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Ikterus patologis memiliki tanda-tanda
berikut:

1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama


2. Kadar bilirubin melebihi 10mg% pada neonatus cukup bulan atau melebihi 12,5 mg%
pada neonatus cukup bulan
3. Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg per hari
4. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama
5. Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg %
6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik

(Mitayani,2010)

1. 3. Ikterus hemolitik

Yang berat umumnya merupakan suatu golongan penyakit yang disebut eritroblastosis etalis atau
morbus hemolitikus neonaturum,penyakit hemolitik ini biasanya disebabkan oleh
inkompatibilitas golongan darah ibu dan bayi.

a) Inkompatibilitas Rhesus

Sangat jarang di Indonesia karna sering terjadi di negara bagian barat karna 15 % penduduknya
memiliki golongan darah rhesus negatif.Bayi Rh positif dari ibu Rh negatif tidak selamanya
menunjukkan gejala-gejala klinik pada waktu lahir (15-20%).Gejala klinik yang dapat terlihat
adalah ikterus yang timbul pada hari pertama dan semakin lama semakin berat disertai anemia
yang berat pula.Bila sebelum kelahiran terdapat hemolisis berat maka bayi lahir dengan oedema
umum disertai ikterus dan pembesaran hepar. Terapi yang ditujukan adalah dengan memperbaiki
anemia dan mengeluarkan bilirubin yang berlebih dalam serum agar tak menjadi kern ikterus.

b) Inkompatibilitas ABO

Isoimunisasi ABO biasanya terjadi saat ibu memiliki golongan darah O dan bayi memiliki
golongan darah A atau lebih jarang dijumpai bayi memiliki golongan darah B.Inkompatibilitas
ABO juga diduga melindungi janin dari inkomptabilitas Rh karena antibodi A dan anti-B ibu
menghancurkan setiap sel janin yang bocor ke dalam sirkulasi maternal.Akibat hemoloisis
inkompatibilitas golongan darah ABO.Ikterus dapat terjadi pada hari pertama dan kedua dan
bersifat ringan.Bayi tidak terlihat sakit,anemia ringan dan hepar.Ikterus dapat menghilang dalam
beberapa hari.Kalau hemolisisnya berat seringkali dilakukan transfusi tukar darah untuk
mencegah kern ikterus.Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan kadar bilirubin serum
sewaktu-waktu.

Tujuan Terapi antara lain :

1. Mencegah hemolisis lebih lanjut


2. Mengurangi kadar bilirubin
3. Mencegah anemia

c) Penyakit hemolitik karana kelainan eritrosit konginetal

Golongan penyakit ini dapat menimbulkan gambaran klinik yang menyerupai erotroblastosis
fetalis akibat iso-imunisasi.Pada penyakit ini biasanya coombs test biasanya negative.Beberapa
penyakit lain yang termasuk disini adalah sterositosis kongenital,anemia sel sabit,eliptositosis
herediter

1. 4. Ikterus Obstruktiva

Obstruksi dalam penyaluran empedu dapat terjadi didalam hepar dan diluar hepar,akibat
obstruksi maka terjadi penumpukan bilirubin tidak langsung,bila kadarnya melebihi 1 mg%
maka dicurigai menyebabkan obstruksi misalnya pada sepsis,hepatitis
neonaturum,pielnefritis,obstruksi saluran empedu.Penyakit lain yang dapat menyebabkan ikterus
obstruktiva adalah atresia biliaris ekstraheptika,kista duktus koledokus,fibrosis kistik
pancreas,kelainan-kelainan duodenum adanya pankreas yang menghalangi pengeluaran bilirubin
dalam air kencing dan tinja.

(Fraser,2012)

2.1.5 Penilaian Ikterus

Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dalam cahaya matahari dan dengan menekan sedikit
kulit yang akan diamati untuk menghilangkan warna karena pengaruh sirkulasi darah.Ada
beberapa cara untuk menentukan derajat ikterus yang merupakan resiko terjadinya kern ikterus.

Penilaian Ikterus Menurut Kramer

Daerah Luas Ikterus Kadar Bilirubin


(mg%)
1 Kepala dan leher 5
2 Daerah 1+ badan bagian atas 9
Daerah 1,2 + badan bagian bawah
3 11
dan Tungkai
4 Daerah 1,2,3 + lengan dan kaki 12
dibawah tungkai
Daerah 1,2,3,4 + tangan dan kaki
5 16

(Dewi,2012)

2.1.6 Bagan Penanganan Ikterus Bayi Baru Lahir

Tanda-tanda Warna kuning pada kulit dan sklera mata ( tanpa hematomegali,
perdarahan kulit, dan kejang-kejang)
Kategori
Normal Fisiologik Patologik
Penilaian
1. Daerah 1 1+2 1 sampai 4 1 sampai 5 1 sampai 5
ikterus
(rumus
Kramer)
2. Kuning hari 1-2 >3 3 >3 >3
ke:
3. Kadar <5 mg% 5-9 mg% 1-15 mg% > 15-20 mg% > 20
bilirubin

Penganan
Bidan atau Terus a) Jemur dimatahari pagi jam 7-9 a) Rujuk
Puskesmas diberi ASI selama 10 menit kerumah sakit

b) Badan bayi telanjang, mata ditutup b) Banyak


minum
c) Terus diberi ASI

d) Banyak minum
Rumah Sakit Sama Sama Terapi sinar Terapi sinar
dengan dengan
diatas diatas
a) Periksa golongan darah ibu dan bayi

b) Periksa kadar bilirubin


Nasehati Waspadai bila Tukar darah
bila semakin kadar bilirubin
kuning naik > 0,5
mg/jam
(coombs test)

(Sarwono,2008)
2.1.8 Manifestasi Klinik

a) Tekanan kulit dapat menampakan kemajuan anatomi ikterus (muka-5 mg/dL, tengah
abdomen -15 mg/dL,telapak kaki -20 mg/dL,tetapi tidak dapat dijadikan tumpuan untuk
memperkirakan kadarnya di dalam darah.Ikterus pada bagian tengah abdomen,tanda-tanda dan
gejala-gejalanya merupakan faktor resiko tinggi yang memberi kesan ikterus non fisiologis atau
hemolisis yang harus dievaluasi lebih lanjut.Ikterometer yang dapat digunakan untuk
menskrining bayi, tetapi kadar bilirubin serum di indikasikan pada penderita-penderita yang
ikterusnya progresif, bergejala atau beresiko untuk mengalami hemolisis atau sepsis.

b) Tampak Ikterus

Sklera, kuku atau kulit dan membrane mukosa.Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama
disebabkan oleh penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetik atau
infeksi.Jaundice yang tampak pada hari kedua atau hari ke tiga dan mencapai puncak pada ri
ketiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari kelima sampai hari ke tujuh yang biasanya
merupakan jaundice fisiologis

c) Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung tampak
kuning terang atau orange,ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit tampak berwarn
akuning kehijauan atau keruh.

d) Muntah, anoresia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja gelap

(Suriadi, 2010)

2.1.9 Pemeriksaaan diagnostik

1. Pemeriksaan Bilirubin Serum

Pada bayi cukup bulan bilirubin mencapai puncak kira-kira 6 mg/dl antara 2 dan 4 hari
kehidupan.Apabila nilainya diatas 10 mg/dl berarti tidak fisiologis.Pada bayi premature kadar
bilirubin mencapai puncaknya 10-12 mg/dl,antara 5 dan 7 hari kehidupan.kadar bilirubin yang
lebih dari 14 mg/dl adalah tidak fisiologis.Ikterus fisiologis pada bayi cukup bulan bilirubin
indirek munculnya ikterus 2-3 hari dan hilang 4-5 hari dengan kadar bilirubin yang mencapai
puncak 10-12 mg/dl.Sedangkan pada bayi premature,bilirubin indirek munculnya 3-4 hari dan
hilang 7-9 hari dengan kadar bilirubin mencapai puncak 15 mg/dl/hari.Dengan peningkatan
kadar bilirubin indirek kurang dari 5 mg/dl/hari.Pada ikterus patologis meningkatnya bilirubin
lebih dari 5 mg/dl perhari dan kadar serum bilirubin total lebih dari 12 mg/dl.

1. Ultrasound untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu


2. Penentuan golongan darah dan Rh dari ibu dan bayi
3. Pemeriksaan kadar enzim G6PD
4. Pada ikterus yang lama lakukan uji fungsi hati,uji urin terhadap galaktosemia

(Suriadi,2010)
2.1.10 Diagnosis Banding

Ikterus yang terdiri atas blirubin indirek atau direk yang ada pada saat lahir atau muncul dalam
umur 24 jam pertama mungkin karena eritroblastosis foetalis,perdarahan yang
tersembunyi,sepsis,penyakit inklusi sitomegali,rubella atau toksoplasmosis congenital.Ikterus
pada bayi yang mendapat transfusi intrauteri ditandai dengan proporsi bilirubin reaksi direk yang
luar biasa tinggi tinggi.Ikterus yang mula-mula muncul pada hari ke 2 atau hari ke 3 biasanya
fisiologis tetapi dapat menggambarkan bentuk yang lebih berat yang disebut
Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.

Iktrerus non hemolitik familial (Sindrom Crigler-Najjar) mulai terlihat pada hari ke 2 atau hari ke
3.Ikterus yang muncul sesudah hari ke tiga dan dalam minggu pertama akan memberi kesan
septicemia yaitu hal ini dapat karena infeksi lain terutama sifilis,toksoplasmosis dan penyakit
sitomegalovirus.Ikterus sekunder akibat ekimosis yang luas atau hematoma dapat terjadi selama
hari pertama terutama pada bayi prematur.Polisitemia dapat menyebabkan ikterus ikterus awal.

Ikterus yang mulai terlihat sesudah usia satu minggu merupakan ikterus karena ASI, septikemia,
atresia kongenital saluran empedu, hepatitis, rubela, hepatitis herpes, galaktosemia,
hipotiroidisme ,anemia hemolitik congenital atau kemungkinan kegawatan anemia hemolitik
lainnya atau anemia hemolitik karena obat-obatan.Bayi beresiko rendah yang ikterus,cukup
bulan,serta tidak bergejala dapat dievaluasi dengan pemantauan kadar bilirubinserum total.
Tanpa memandang umur kehamilan atau waktu munculnya ikterus, hiperbilirubinemia dan
semua penderita dengan gejala-gejala atau tanda-tanda memerlurkan evaluasi diagnostik yang
lengkap, meliputi penentuan fraksi bilirubin direk dan indirek, hemoglobin, golongan darah,uji
Coombs dan pemeriksaan pulasan darah perifer. Bilirubinemia yang bereaksi indirek,
retikulositosis dan pulasan memperlihatkan adanya penghancuran sel darah merah yang memberi
kesan hemolisis, bila tidak ada ketidakcocokan (Inkompatibilitas) golongan darah, hemolisis
akibat non imunologis (Wahab, 2012).

2.1.11 Komplikasi

Kern ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat adanya bilirubin indirect pada otak.Kern ikterus
ditandai dengan kadar bilirubin darah yang tinggi (>20 mg% pada bayi cukup bulan atau >18
mg% pada bayi berat lahir rendah) disertai dengan gejala kerusakan otak berupa mata
berputar,letargi,kejang,tak mau mengisap,tonus otot meningkat ,leher kaku dan sianosis,serta
dapat juga diikuti dengan gangguan berbicara dan retardasi mental di kemudian hari
(Dewi,2012).

2.1.12 Penatalaksanaan Ikterus Fisiologis

Lakukan perawatan bayi seperti :

1. Memandikan bayi
2. Melakukan perawatan tali pusat
3. Lakukan pencegahan hipotermi
4. Menjemur bayi di bawah sinar matahari dari jam 07.00 hingga hjam 09.00 pagi,kurang
lebih 30 menit
5. Berikan ASI secara adekuat
6. Mempertahankan intake (pemasukan jaringan)
7. Monitor intake dan output
8. Berikan terapi infuse pada bayi bila indikasi yaitu meningkatnya konsentrasi urine dan
cairan hilang berlebihan
9. Monitoring temperature setiap 1 jam

(Suriadi,2010)

2.1.13 Penatalaksanaan Terapeutik

1. 1. Terapi sinar (fototerapi)

Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin dalam darah
kembali ke batas normal. Dengan fototerapi, bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan
menjadi mudah larut dalam air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga
berupaya menjaga kadar bilirubin agar tidak terus meningkat sehingga menimbulkan resiko yang
lebih fatal. Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon dengan panjang
gelombang tertentu. Lampu yang digunakan sekitar 12 buah dan disusun secara paralel. Di
bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang disebut flaxy glass yang berfungsi meningkatkan
energi sinar sehingga intensitasnya lebih efektif.

Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi. Seluruh pakaiannya
dilepas, kecuali mata dan alat kelamin harus ditutup dengan menggunakan kain kasa. Tujuannya
untuk mencegah efek cahaya yang berlebihan dari lampu-lampu tersbut. Seperti diketahui,
pertumbuhan mata bayi belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian
retinanya. Begitu pula alat kelaminnya, agar kelak tak terjadi resiko terhadap organ reproduksi
itu, seperti kemandulan.

Meski relatif efektif, tetaplah waspada terhadap dampak fototerapi. Ada kecenderungan bayi
yang menjalani proses terapi sinar mengalami dehidrasi karena malas minum. Sementara, proses
pemecahan bilirubin justru akan meningkatkan pengeluaran cairan empedu ke organ usus.

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pelaksanaan Terapi Sinar

1. Alat-alat yang diperlukan adalah sebagai berikut

a) Lampu fluoresensi 10 buah masing-masing 20 watt dengan gelombang sinar 425-475


nm,seperti pada sinar cool white,daylight,vita kite blue dan special blue

b) Jarak sumber cahaya bayi 45 cm,diantaranya diberi kaca pleksi setebal 0,5 inchi untuk
menahan sinar ultraviolet

1. Cara terapi
1. Pakaian bayi dibuka agar bagian tubuh dapat seluas mungkin terkena sinar.
2. Kedua mata ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya untuk
mencegah kerusakan retina. Penutup mata dilepas saat pemberian minum dan
kunjungan orang tua untuk memberikan rangsang visual pada neonatus. Pemantau
iritasi mata dilakukan tiap 6 jam dengan membuka penutup mata.
3. Daerah kemaluan ditutup, dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya untuk
melindungi daerah kemaluan dari cahaya fototerapi.
4. Posisi bayi diubah tiap 6 jam, agar tubuh mendapat penyinaran seluas mungkin
5. Suhu tubuh bayi dipertahankan sekitar 36,5C 37C
6. Pemasukan cairan dan minuman dan pengeluaran urine, feses dan muntah diukur,
dicatat dan dilakukan pemantauan tanda dehidrasi
7. Hidrasi bayi diperhatikan, bila perlu konsumsi cairan ditingkatkan
8. Pemeriksaan bilirubin darah setiap hari atau dua hari,setelah terapi sebanyak 3
kali dalam sehari
9. Lama terapi 100 jam atau bila kadar bilirubin darah sudah mencapai 7,5 mg%

Kelainan yang mungkin timbul pada neonatus yang mendapat terapi sinar

1) Peningkatan kehilangan cairan yang tidak teratur (insensible water loss) Energi fototerapi
dapat meningkatkan suhu lingkungan dan menyebabkan peningkatan penguapan melalui kulit,
terutama bayi premature atau berat lahir sangat rendah. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan
pemberian cairan tambahan.

2) Frekuensi defekasi meningkat

3) Meningkatnya bilirubin indirek pada usus akan meningkatkan pembentukan enzim laktase
yang dapat meningkatkan peristaltic usus. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendah akan
mengurangi timbulnya diare.

4) Timbul kelainan kulit flea bite rash di daerah muka badan dan ekstrimitas

5) Kelainan ini akan segera hilang setelah terapi dihentikan. Dilaporkan pada beberapa terjadi
Bronze baby syndrom hal ini terjadi karena tubuh tidak mampu mengeluarkan dengan segera
hasil terapi sinar. Perubahan warna kulit ini bersifat sementara dan tidak mempengaruhi proses
tumbuh kembang bayi.

6) Peningkatan suhu

Beberapa neonatus yang mendapat terapi sinar, menunjukkan kenaikan suhu lingkungan yang
meningkat atau gangguan pengaturan suhu tubuh bayi pada bayi premature fungsi termostat atau
yang belum matang. Pada keadaan ini fototerapi dapat dilanjutkan dengan mematikan sebagian
lampu yang digunakan dan dilakukan pemantauan suhu tubuh neontus dengan jangka waktu
(unterval) yang lebih singkat.

7) Kadang ditemukan kelainan, seperti gangguan minum, lateragi, dan iritabilitas. Keadaan ini
bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya.
8) Gangguan pada mata dan pertumbuhan

Kelainan retina dan gangguan pertumbuhan ditemukan pada binatang percoban. Pada neonatus
yang mendapat terapi sinar, gangguan pada retina dan fungsi penglihatan lainnya serta gangguan
tumbuh kembang tidak dapat dibuktikan dan belum ditemukan, walupun demikian diperlukan
kewaspadaan perawat tentang kemungkinan timbulnya keadaan tersebut.

(Dewi,2012)

1. 2. Fenobarbital

Dapat mengekresi bilirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi.Meningkatkan sintesis


hepatic glukoronil transferase yang mana dapat meningkatkan bilirubin konjugasi dan clearance
hepatic pada pigmen dalam empedu,sintesis protein dimana dapat meningkatkan albumin untk
meningkat bilirubin.Pada suatu penelitian menunjukan pemberian fenobarbital pada ibu untuk
beberapa hari sebelum kelahiran baik pada kehamilan cukup bulan atau kurang bulan dapat
mengkontrol terjadinya hiperbilirubinemia.namun karena efeknya pada metabolisme bilirubin
biasanya belum terwujud sampai bebrapa hari setelah pemberian obat dan oleh Karen
akeefektifannya lebih kecil dibandingkan dengan fototerapi dsn mempunyai efek sedative ysng
tidsk diinginkan dan tidak menambah respon terhadap fototerapi,maka fenobarbital tidak
dianjurkan untuk pengobatan ikterus pada bayi neonatus (Suriadi,2010).

1. 3. Transfusi Tukar

Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus meningkat hingga
mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi transfusi darah. Dikhawatirkan
kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang
harus diwaspadai karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya
keterbelakangan mental, cerebrel palsy, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan
penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang dan
ditukar dengan darah lain.

Tujuan transfusi tukar adalah untuk menurunkan kadar bilirubin indirek, mengganti eritrosit yang
dapat dihemolisis, membuang antibody yang menyebabkan hemolisis, dan mengoreksi
anemia.Transfusi tukar akan dilakukan oleh dokter pada neonatus dengan kadar bilirubin indirek
sama dengan atau lebih tinggi dari 20mg% atau sebelum bilirubin mencapai kadar 20 mg%.
Darah yang digunakan sebagai darah pengganti (darah donor) ditetapkan berdasarkan penyebab
hiperbilirubinemia.

1. A. Indikasi

1) Kadar bilirubin indirect darah 29 mg%

2) Kenaikan kadar bilirubin indirect darah yang cepat,sebesar 0,3-1 mg% per jam

3) Anemia berat disertai tanda payah jantung


4) Bayi dengan Hb tali pusat < 14 mg% dan tes Coombs positif

1. B. Teknik

a) Kosongkan lambung bayi (3-4 jam sebelumnya jangan diberi minum,bila memungkinkan 4
jam sebelumnya diberi infus albumin 1 gram/kgBB

b) Lakukan teknik aseptik dan antiseptic pada daerah tindakan

c) Awasi selalu tanda-tanda vital dan jaga agar jangan sampai kedinginan

d) Bila tali pusat masih segar,potong 3-5 cm dari dinding perut

e) Kateter polietelin diisi dengan larutan heparin kemudian salah satu ujungnya dihubungkan
dengan semprit tiga cabang,sedangkan ujung yang lain dimasukkan dakam vena umbilicus
sedalam 4-5 cm

f) Periksa tekanan pada vena umbilikalis dengan mencabut ujung luar dan mengangkat
kateter naik 6 cm

g) Dengan mengubah-ubah keran pada semprit tiga cabang,lakukan penukaran dengan cara
mengeluarkan 20 ml darah da memasukkan 20 ml darah.Demikian berlang-ulang sampai jumlah
total yang keluar adalah 190 ml/kgBB dan darah yang masuk 170 ml/kgBB

h) Setelah darah masuk sekitar 150 ml,lanjutkan dengan memasukkan Ca glukonat 10%
sebanyak 1,5 ml dan perhatikna denyut jantung bayi.Apabila lebih dari 100 kali per menit
waspadai adanya henti jantung

i) Bila vena umbilikalis tak dapat di pakai,maka gunakan vena safena magma 1 cm
dibawah ligamentum inguinal dan medial dari arteri femoralis.

1. 4. Menyusui Bayi dengan ASI

Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urine, untuk itu bayi harus
mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat
memperlancar buang air besar dan buang air kecilnya. Akan tetapi, pemberian ASI juga harus di
bawah pengawasan dokter karena pada beberapa kasus, ASI justru dapat meningkatkan kadar
bilirubin sehingga bayi semakin kuning (breast milk jaundice).

1. 5. Terapi Sinar Matahari

Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya dianjurkan setelah
bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi dijemur selama setengah jam dengan posisi
yang berbeda-beda. Caranya seperempat jam dalam keadaaan terlentang, misalnya, seperempat
jam kemudian telungkup. Lakukan antara jam 07.00 sampai 09.00. Inilah waktu dimana sinar
surya efektif mengurangi kadar bilirubin. Di bawah jam 07.00, sinar ultraviolet belum cukup
efektif, sedangkan di atas jam 09.00 kekuatannya sudah terlalu tinggi sehingga akan merusak
kulit bayi.Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung ke matahari karena dapat merusak
matanya (Dewi,2012).

DAFTAR PUSTAKA

Dewi,Vivian Nanny Lia.2012.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.Jakarta : Salemba Medika

Rukiyah,Ai Yeyeh.2010.Asuhan neonatus,Bayi dan Balita.Jakarta : Trans Info Media

Muslihatub,Wafi Nur.2010. Asuhan neonatus,Bayi dan Balita.Yogyakarta : Fitramaya

Fraser.M.Diare.2012.Praktek Klinik Kebidanan.Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Wahab,Samik.2012.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta : Buku Kedokteran EGC

Mitayani.2010.bayi Baru Lahir dan Penatalaksanaannya.Sumatera : Baduose Media

Suriadi.2010.Asuhan Keperawatan Pada Anak.Jakarta : Sagung Seto

Sarwono,Prawirohardjo.2008.Buku ilmu kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

EPIDEMIOLOGI

Di Amerika Serikat, dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya, sekitar 65 % mengalami
ikterus. Sensus yang dilakukan pemerintah Malaysia pada tahun 1998 menemukan sekitar 75 %
bayi baru lahir mengalami ikterus pada minggu pertama.
Di Indonesia, didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan.
Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional
Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003, menemukan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir
sebesar 58 % untuk kadar bilirubin di atas 5 mg / dL dan 29,3 % dengan kadar bilirubin di atas
12 mg / dL pada minggu pertama kehidupan. RS Dr. Sardjito melaporkan sebanyak 85 % bayi
cukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin di atas 5 mg / dL dan 23,8 % memiliki kadar
bilirubin di atas 13 mg / dL. Pemeriksaan dilakukan pada hari 0, 3 dan 5. Dengan pemeriksaan
kadar bilirubin setiap hari, didapatkan ikterus dan hiperbilirubinemia terjadi pada 82 % dan 18,6
% bayi cukup bulan. Sedangkan pada bayi kurang bulan, dilaporkan ikterus dan
hiperbilirubinemia ditemukan pada 95 % dan 56 % bayi. Tahun 2003 terdapat sebanyak 128
kematian neonatal ( 8,5 % ) dari 1509 neonatus yang dirawat dengan 24 % kematian terkait
hiperbilirubinemia.
Data yang agak berbeda didapatkan dari RS Dr. Kariadi Semarang, di mana insidens
ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar 13,7 %, 78 % di antaranya merupakan ikterus fisiologis
dan sisanya ikterus patologis. Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13,1 %.
Didapatkan juga data insidens ikterus pada bayi cukup bulan sebesar 12,0% dan bayi kurang
bulan 22,8%.
Insidens ikterus neonatorum di RS Dr. Soetomo Surabaya sebesar 30 % pada tahun 2000
dan 13 % pada tahun 2002. Perbedaan angka yang cukup besar ini mungkin disebabkan oleh cara
pengukuran yang berbeda. Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo ikterus dinilai berdasarkan kadar
bilirubin serum total > 5 mg / dL; RS Dr. Sardjito menggunakan metode spektrofotometrik pada
hari ke-0, 3 dan 5 ;dan RS Dr. Kariadi menilai ikterus berdasarkan metode visual.

www.smallcrab.com/anak-anak/535-mengenal-ikterus-neonatorum

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Angka kematian bayi ( AKB ) di Indonesia, pada tahun 1997 tercatat sebanyak 41,4 per
1000 kelahiran hidup. Dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Sehat 2010, maka salah satu
tolok ukur adalah menurunnya angka mortalitas dan morbiditas neonatus, dengan proyeksi pada
tahun 2025 AKB dapat turun menjadi 18 per 1000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab
mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati bilirubin ( lebih dikenal sebagai kernikterus ).
Ensefalopati bilirubin merupakan komplikasi ikterus neonatorum yang paling berat. Selain
memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral
palsy, tuli nada tinggi, paralisis dan displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup.
Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat tingginya produksi
dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada neonatus. Pada neonatus produksi
bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi dibanding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi
karena jumlah eritosit pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek.
Banyak bayi baru lahir, terutama bayi kecil (bayi dengan berat lahir < 2500 g atau usia
gestasi <37 minggu) mengalami ikterus pada minggu pertama kehidupannya. Data epidemiologi
yang ada menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir menderita ikterus yang dapat dideteksi
secara klinis dalam minggu pertama kehidupannya. Pada kebanyakan kasus ikterus neonatorum,
kadar bilirubin tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan. Sebagian besar tidak
memiliki penyebab dasar atau disebut ikterus fisiologis yang akan menghilang pada akhir
minggu pertama kehidupan pada bayi cukup bulan. Sebagian kecil memiliki penyebab seperti
hemolisis, septikemi, penyakit metabolik (ikterus non-fisiologis).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan selaput akibat penumpukan
bilirubin. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang
menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin yang tidak
dikendalikan.

B. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, dari 4 juta bayi yang lahir setiap tahunnya, sekitar 65 % mengalami
ikterus. Sensus yang dilakukan pemerintah Malaysia pada tahun 1998 menemukan sekitar 75 %
bayi baru lahir mengalami ikterus pada minggu pertama.
Di Indonesia, didapatkan data ikterus neonatorum dari beberapa rumah sakit pendidikan.
Sebuah studi cross-sectional yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Rujukan Nasional
Cipto Mangunkusumo selama tahun 2003, menemukan prevalensi ikterus pada bayi baru lahir
sebesar 58 % untuk kadar bilirubin di atas 5 mg / dL dan 29,3 % dengan kadar bilirubin di atas
12 mg / dL pada minggu pertama kehidupan. RS Dr. Sardjito melaporkan sebanyak 85 % bayi
cukup bulan sehat mempunyai kadar bilirubin di atas 5 mg / dL dan 23,8 % memiliki kadar
bilirubin di atas 13 mg / dL. Pemeriksaan dilakukan pada hari 0, 3 dan 5. Dengan pemeriksaan
kadar bilirubin setiap hari, didapatkan ikterus dan hiperbilirubinemia terjadi pada 82 % dan 18,6
% bayi cukup bulan. Sedangkan pada bayi kurang bulan, dilaporkan ikterus dan
hiperbilirubinemia ditemukan pada 95 % dan 56 % bayi. Tahun 2003 terdapat sebanyak 128
kematian neonatal ( 8,5 % ) dari 1509 neonatus yang dirawat dengan 24 % kematian terkait
hiperbilirubinemia.
Data yang agak berbeda didapatkan dari RS Dr. Kariadi Semarang, di mana insidens
ikterus pada tahun 2003 hanya sebesar 13,7 %, 78 % di antaranya merupakan ikterus fisiologis
dan sisanya ikterus patologis. Angka kematian terkait hiperbilirubinemia sebesar 13,1 %.
Didapatkan juga data insidens ikterus pada bayi cukup bulan sebesar 12,0% dan bayi kurang
bulan 22,8%.
Insidens ikterus neonatorum di RS Dr. Soetomo Surabaya sebesar 30 % pada tahun 2000
dan 13 % pada tahun 2002. Perbedaan angka yang cukup besar ini mungkin disebabkan oleh cara
pengukuran yang berbeda. Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo ikterus dinilai berdasarkan kadar
bilirubin serum total > 5 mg / dL; RS Dr. Sardjito menggunakan metode spektrofotometrik pada
hari ke-0, 3 dan 5 ;dan RS Dr. Kariadi menilai ikterus berdasarkan metode visual.

C. Jenis jenis Ikterus Neonatorum


Ikterus neonatorum sendiri ada 2 jenis yang berbeda tanda, penyebab dan
penanganannya. Ke - 2 jenis tersebut adalah :
1. Ikterus Neonatorum Fisiologis
Adalah keadaan hiperbilirubin karena faktor fisiologis yang merupakan gejala normal dan
sering dialami bayi baru lahir.Ikterus ini terjadi atau timbul pada hari ke - 2 atau ke - 3 dan
tampak jelas pada hari ke - 5 sampai dengan ke - 6 dan akan menghilang pada hari ke - 7 atau ke
- 10. Kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih dari 12 mg / dl dan pada BBLR
tidak lebih dari 10 mg / dl, dan akan menghilang pada hari ke - 14. Bayi tampak biasa, minum
baik dan berat badan naik biasa.
Penyebab ikterus neonatorum fisiologis diantaranya adalah organ hati yang belum
matang dalam memproses bilirubin, kurang protein Y dan Z dan enzim glukoronyl tranferase
yang belum cukup jumlahnya. Meskipun merupakan gejala fisiologis, orang tua bayi harus tetap
waspada karena keadaan fisiologis ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi patologis terutama
pada keadaan ikterus yang disebabkan oleh karena penyakit atau infeksi.
2. Ikterus Neonatorum Patologis
Adalah keadaan hiperbilirubin karena faktor penyakit atau infeksi.
a. Ikterus neonatorum patologis ini ditandai dengan :
1) Ikterus timbul dalam 24 jam pertama kehidupan; serum bilirubin total lebih dari 12 mg / dl.
2) Peningkatan kadar bilirubin 5 mg / dl atau lebih dalam 24 jam.
3) Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada bayi kurang bulan ( BBLR ) dan 12,5 mg %
pada bayi cukup bulan.
4) Ikterus yang disertai proses hemolisis.
5) Bilirubin direk lebih dari 1 mg / dl, atau kenaikan bilirubin serum 1 mg / dl / jam atau lebih 5 mg
/ dl / hari.
6) Ikterus menetap sesudah bayi berumur 10 hari ( cukup bulan ) dan lebih dari 14 hari pada
BBLR.
b. Dibawah ini adalah beberapa keadaan yang menimbulkan ikterus patologis :
1) Penyakit hemolitik, isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti
Rhesus antagonis, ABO dan sebagainya.
2) Kelainan dalam sel darah merah seperti pada defisiensi G 6 - PD, thalasemia dan lain-lain.
3) Hemolisis : hematoma, polisitemia, perdarahan karena trauma lahir.
4) Infeksi : septikemia, meningitis, infeksi saluran kemih, penyakit karena toxoplasmosis, sifilis,
rubella, hepatitis dan lain-lain.
5) Kelainan metabolik : hipoglikemia, galaktosemia.
6) Obat-obatan yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : solfonamida, salisilat,
sodium benzoat, gentamisin dsb.
7) Pirau enterohepatik yang meninggi: obstruksi usus letak tinggi, penyakit Hirschprung,
mekoneum ileus dan lain-lain.
D. Gejala dan tanda klinis
Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat
pula disertai dengan gejala-gejala:

1. Dehidrasi
Asupan kalori tidak adekuat ( misalnya: kurang minum, muntah-muntah )

2. Pucat
Sering berkaitan dengan anemia hemolitik ( mis. Ketidakcocokan golongan darah ABO, rhesus,
defisiensi G6PD ) atau kehilangan darah ekstravaskular.

3. Trauma lahir
Bruising, sefalhematom ( peradarahn kepala ), perdarahan tertutup lainnya.

4. Pletorik ( penumpukan darah )


Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat, bayi KMK

5. Letargik dan gejala sepsis lainnya


6. Petekiae ( bintik merah di kulit )
Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis

8. Mikrosefali ( ukuran kepala lebih kecil dari normal )


Sering berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati

9. Hepatosplenomegali ( pembesaran hati dan limpa )


10. Omfalitis ( peradangan umbilicus )
11. Hipotiroidisme ( defisiensi aktivitas tiroid )
12. Massa abdominal kanan ( sering berkaitan dengan duktus koledokus )
13. Feses dempul disertai urin warna coklat
Pikirkan ke arah ikterus obstruktif, selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.
E. Etiologi dan Faktor Risiko
1. Etiologi
Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir, karena:
a. Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih
pendek.
b. Fungsi hepar yang belum sempurna ( jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase, UDPG / T
dan ligand dalam protein belum adekuat ) - > penurunan ambilan bilirubin oleh hepatosit dan
konjugasi.
c. Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih berfungsinya enzim - > glukuronidase di usus
dan belum ada nutrien.
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan ( ikterus nonfisiologis ) dapat disebabkan
oleh factor / keadaan:
a. Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus, defisiensi G6PD, sferositosis
herediter dan pengaruh obat.
b. Infeksi, septikemia, sepsis, meningitis, infeksi saluran kemih, infeksi intra uterin.
c. Polisitemia.
d. Ekstravasasi sel darah merah, sefalhematom, kontusio, trauma lahir.
e. Ibu diabetes.
f. Asidosis.
g. Hipoksia/asfiksia.
h. Sumbatan traktus digestif yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi enterohepatik.
2. Faktor Risiko
Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum:
a. Faktor Maternal
1) Ras atau kelompok etnik tertentu ( Asia, Native American,Yunani )
2) Komplikasi kehamilan ( DM, inkompatibilitas ABO dan Rh )
3) Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.
4) ASI
b. Faktor Perinatal
1) Trauma lahir ( sefalhematom, ekimosis )
2) Infeksi ( bakteri, virus, protozoa )
c. Faktor Neonatus
1) Prematuritas
2) Faktor genetic
3) Polisitemia
4) Obat ( streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol )
5) Rendahnya asupan ASI
6) Hipoglikemia
7) Hipoalbuminemia

F. Efek Hiperbilirubinemia
Perhatian utama pada hiperbilirubinemia adalah potensinya dalam menimbulkan
kerusakan sel-sel saraf, meskipun kerusakan sel-sel tubuh lainnya juga dapat terjadi. Bilirubin
dapat menghambat enzim-enzim mitokondria serta mengganggu sintesis DNA. Bilirubin juga
dapat menghambat sinyal neuroeksitatori dan konduksi saraf (terutama pada nervus auditorius)
sehingga menimbulkan gejala sisa berupa tuli saraf.
Kerusakan jaringan otak yang terjadi seringkali tidak sebanding dengan konsentrasi
bilirubin serum. Hal ini disebabkan kerusakan jaringan otak yang terjadi ditentukan oleh
konsentrasi dan lama paparan bilirubin terhadap jaringan.
Ensefalopati bilirubin
Ikterus neonatorum yang berat dan tidak ditata laksana dengan benar dapat menimbulkan
komplikasi ensefalopati bilirubin. Hal ini terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan
lipid dinding sel neuron di ganglia basal, batang otak dan serebelum yang menyebabkan
kematian sel. Pada bayi dengan sepsis, hipoksia dan asfiksia bisa menyebabkan kerusakan pada
sawar darah otak. Dengan adanya ikterus, bilirubin yang terikat ke albumin plasma bisa masuk
ke dalam cairan ekstraselular. Sejauh ini hubungan antara peningkatan kadar bilirubin serum
dengan ensefalopati bilirubin telah diketahui. Tetapi belum ada studi yang mendapatkan nilai
spesifik bilirubin total serum pada bayi cukup bulan dengan hiperbilirubinemia non hemolitik
yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada kecerdasan atau kerusakan neurologik yang
disebabkannya.
Faktor yang mempengaruhi toksisitas bilirubin pada sel otak bayi baru lahir sangat
kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Faktor tersebut antara lain: konsentrasi albumin
serum, ikatan albumin dengan bilirubin, penetrasi albumin ke dalam otak, dan kerawanan sel
otak menghadapi efek toksik bilirubin. Bagaimanapun juga, keadaan ini adalah peristiwa yang
tidak biasa ditemukan sekalipun pada bayi prematur dan kadar albumin serum yang sebelumnya
diperkirakan dapat menempatkan bayi prematur berisiko untuk terkena ensefalopati bilirubin.
Bayi yang selamat setelah mengalami ensefalopati bilirubin akan mengalami kerusakan
otak permanen dengan manifestasi berupa serebral palsy, epilepsi dan keterbelakangan mental
atau hanya cacat minor seperti gangguan belajar dan perceptual motor disorder.

G. Pencegahan
Perlu dilakukan terutama bila terdapat faktor risiko seperti riwayat inkompatibilitas ABO
sebelumnya. AAP dalam rekomendasinya mengemukakan beberapa langkah pencegahan
hiperbilirubinemia sebagai berikut:
1. Primer
AAP merekomendasikan pemberian ASI pada semua bayi cukup bulan dan hampir cukup
bulan yang sehat. Dokter dan paramedis harus memotivasi ibu untuk menyusukan bayinya
sedikitnya 8 - 12 kali sehari selama beberapa hari pertama.
Rendahnya asupan kalori dan atau keadaan dehidrasi berhubungan dengan proses
menyusui dan dapat menimbulkan ikterus neonatorum. Meningkatkan frekuensi menyusui dapat
menurunkan kecenderungan keadaan hiperbilirubinemia yang berat pada neonatus. Lingkungan
yang kondusif bagi ibu akan menjamin terjadinya proses menyusui yang baik.
AAP juga melarang pemberian cairan tambahan ( air, susu botol maupun dekstrosa ) pada
neonatus nondehidrasi. Pemberian cairan tambahan tidak dapat mencegah terjadinya ikterus
neonatorum maupun menurunkan kadar bilirubin serum.
2. Sekunder
Dokter harus melakukan pemeriksaan sistematik pada neonatus yang memiliki risiko
tinggi ikterus neonatorum.
a. Pemeriksaan Golongan Darah
Semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus serta
menjalani skrining antibodi isoimun. Bila ibu belum pernah menjalani pemeriksaan golongan
darah selama kehamilannya, sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan golongan darah
dan Rhesus. Apabila golongan darah ibu adalah O dengan Rh-positif, perlu dilakukan
pemeriksaan darah tali pusat. Jika darah bayi bukan O, dapat dilakukan tes Coombs.
b. Penilaian Klinis
Dokter harus memastikan bahwa semua neonatus dimonitor secara berkala untuk
mengawasi terjadinya ikterus. Ruang perawatan sebaiknya memiliki prosedur standar tata
laksana ikterus. Ikterus harus dinilai sekurang-kurangnya setiap 8 jam bersamaan dengan
pemeriksaan tanda-tanda vital lain.
Pada bayi baru lahir, ikterus dapat dinilai dengan menekan kulit bayi sehingga
memperlihatkan warna kulit dan subkutan. Penilaian ini harus dilakukan dalam ruangan yang
cukup terang, paling baik menggunakan sinar matahari. Penilaian ini sangat kasar, umumnya
hanya berlaku pada bayi kulit putih dan memiliki angka kesalahan yang tinggi. Ikterus pada
awalnya muncul di bagian wajah, kemudian akan menjalar ke kaudal dan ekstrimitas.

H. Tatalaksana
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan fisiologis, tidak berbahaya dan tidak
diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya. Prinsip
pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.
Tujuan utama penatalaksanaan ikterus neonatal adalah untuk mengendalikan agar kadar
bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/encefalopati biliaris,
serta mengobati penyebab langsung ikterus tersebut. Pengendalian bilirubin juga dapat dilakukan
dengan mengusahakan agar kunjugasi bilirubin dapat dilakukan dengan megusahakan
mempercepat proses konjugasi.
1. Pemberian ASI ( Air Susu Ibu )
Pada bayi yang kuning sebagian ibu-ibu menghentikan pemberian ASI. Justru pemberian
ASI tidak boleh dihentikan, bahkan harus ditingkatkan ( lebih kurang 10 - 12 kali sehari ).
Banyak minum ASI dapat membantu menurunkan kadar bilirubin, karena bilirubin dapat
dikeluarkan melalui air kencing dan kotoran bayi. Sedangkan pemberian banyak air putih tidak
akan menurunkan kadar bilirubin.
2. Terapi sinar
Dilakukan di klinik atau rumah sakit. Caranya yaitu dengan memberikan sinar lampu
berspektrum 400 - 500 nanometer pada kulit bayi. Dengan terapi sinar bilirubin dalam tubuh bayi
dapat dipecah sehingga mudah larut dalam air, dieksresikan dengan cepat ke dalam kandung
empedu dan dikeluarkan dari dalam tubuh.
3. Transfusi tukar
Ialah suatu tindakan mengganti darah bayi yang mengandung kadar bilirubin yang sangat
tinggi ( lebih dari 20 mg / dl pada bayi usia 2 hari, lebih dari 25 mg / dl pada bayi usia lebih dari
2 hari ) dengan darah donor yang sesuai dengan darah bayi.
4. Terapi dengan sinar matahari
Terapi dengan sinar matahari saat ini masih menjadi perdebatan. Dasar pemberian sinar
matahari karena sinar matahari mempunyai panjang gelombang sekitar 450-460 nm. Sinar yang
mempunyai spektrum emisi pada panjang gelombang tersebut ( warna biru, putih dan sinar
matahari ), akan memecah bilirubin menjadi zat yang mudah larut dalam air.
Bayi yang kuning dengan kadar fisiologis, dapat dijemur di bawah sinar matahari pagi
antara pukul 07.00 sampai 08.00, adalah merupakan waktu yang paling efektif, jadi tidak dapat
sepanjang waktu, serta belum terlalu panas. Penjemuran biasanya diberikan selama lebih kurang
15 hingga 30 menit. Bayi dijemur tanpa busana, lindungi mata dan kemaluan bayi dari sorot
sinar matahari secara langsung.
Beberapa ahli yang tidak setuju dengan penjemuran, berpendapat bahwa meletakkan bayi
dibawah sinar matahari tidak akan menurunkan kadar bilirubin dalam darah. Malahan sinar
matahari tersebut akan menyebabkan luka bakar pada kulit. Selain itu bayi akan kedinginan.
Oleh karena itu yang terpenting ialah memberikan ASI secara cukup dan teratur pada bayi-bayi
yang kuning, bahkan dengan frekuensi yang lebih ditingkatkan.
Kuning ialah suatu pertanda, merupakan proses alamiah walaupun dapat pula menjadi
sesuatu yang patologis. Yang penting diperhatikan ialah kuning harus dapat dikendalikan
sehingga tidak menjadikan bahaya. Penjemuran dengan sinar matahari masih dapat dilakukan
dengan memperhatikan kondisi-kondisi yang menjadi kontra indikasi.
Tata laksana Awal Ikterus Neonatorum Fisiologis ( WHO )
1. Mulai terapi sinar bila ikterus diklasifikasikan sebagai ikterus berat.
2. Tentukan apakah bayi memiliki faktor risiko berikut: berat lahir < 2,5 kg, lahir sebelum usia
kehamilan 37 minggu, hemolisis atau sepsis
3. Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin serum dan hemoglobin, tentukan golongan darah
bayi dan lakukan tes Coombs:
a. Bila kadar bilirubin serum di bawah nilai dibutuhkannya terapi sinar, hentikan terapi sinar.
b. Bila kadar bilirubin serum berada pada atau di atas nilai dibutuhkannya terapi sinar, lakukan
terapi sinar
c. Bila faktor Rhesus dan golongan darah ABO bukan merupakan penyebab hemolisis atau bila
ada riwayat defisiensi G6PD di keluarga, lakukan uji saring G6PD bila memungkinkan.
4. Tentukan diagnosis banding.

I. Komplikasi
Jika bayi kuning patologis tidak mendapatkan pengobatan, maka akan terjadi penyakit
kern ikterus. Kern ikterus adalah suatu sindrom neurologik yang timbul sebagai akibat
penimbunan tak terkonjugasi dalam sel-sel otak. Kern ikterus dapat menimbulkan kerusakan otak
dengan gejala gangguan pendengaran, keterbelakangan mental dan gangguan tingkah laku.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva dan selaput akibat penumpukan
bilirubin. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang
menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin yang tidak
dikendalikan. Ikterus dapat menjadi komplikasi bila tidak segera ditangani, namun hal itu tidak
terjadi bila dilakukan terapi yaitu dengan pemberian ASI secara dini, terapi sinar, transfuse tukar,
dan terapi dengan sinar matahari.

B. Saran
Diperlukan ketelitian sebagai orang tua untuk segera memeriksakan bayinya kepelayanan
kesehatan bila bayi tampak kuning sehingga tidak sampai terjadi komplikasi. Mengingat ikterus
dapat dicegah Dokter dan paramedis harus memotivasi ibu untuk menyusukan bayinya
sedikitnya 8 - 12 kali sehari selama beberapa hari pertama.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. http://www.smallcrab.com/anak-anak/535 Mengenal Ikterus Neonatorum. 20


Juni 2010,16.00
Lia., 1 Desember 2010. http://www.klikdokter.com/illness/detail/212, 20 Juni 2010, 16.30
Nugraheny,Esti, dkk..2010. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta: Pustaka Rihana
Depkes RI. 2003. Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir untuk Dokter, Bidan,
dan Perawat di Rumah Sakit. Jakarta: IDAI