Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Timbal atau timah hitam, merupakan jenis logam yang banyak digunakan
sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis perangkat logam, hal ini sudah
diketahui oleh manusia sejak zaman dahulu. Saat ini penggunaan timbal (Pb) sudah
sangat luas cakupannya, mulai dari bahan pipa, kabel, bahan pembuatan cat,
pestisida, serta dalam campuran bahan bakar. Dalam bidang kenukliran sendiri,
timbal banyak digunakan sebagai bahan penahan (perisai) terhadap radiasi terutama
pada radiasi gamma dan sinar-X. Timbal dinilai sebagai salah satu bahan penahan
radiasi yang paling baik sampai saat ini. Tidak semua bahan mampu dan cocok
untuk menahan adanya radiasi gamma maupun sinar-X yang datang, hal ini
tentunya dikarenakan sifat sinar gamma yang memiliki daya tembus besar dan
mampu mengionisasi bahan yang dilewatinya.

Untuk menentukan jenis bahan dasar dari perisai yang akan digunakan,
perlu diperhatikan mengenai densitas bahan yang digunakan, dengan
mengetahui nilai densitas dari bahan yang digunakan, maka besarnya
pelemahan radiasi yang ditimbulkan oleh bahan tersebut bisa dihitung, sehingga
bisa disimpulkan apakah bahan yang digunakan memenuhi standar atau tidak.
Data perbandingan densitas bahan perisai adalah: air 1,00 g/cm 3, tanah 1,61
g/cm3, beton pada rentang 2,35 g/cm 3 5,00 g/cm 3, baja 7,74 g/cm 3, dan timbal
11,45 g/cm3 [1].

Dalam bidang proteksi radiasi, dikenal istilah tiga prinsip dasar proteksi
radiasi. Penggunaan perisai radiasi merupakan salah satu dari ketiga prinsip
tersebut selain pengaturan jarak dan waktu. Prinsip dasar proteksi radiasi ini
merupakan acuan untuk memberikan perlindungan dan rasa aman kepada

1
2

pekerja radiasi, masyarakat umum dan lingkungan sekitar yang bisa saja
mendapat efek samping yang berakibat buruk akibat adanya pemanfaatan sinar-
X atau radiasi pengion yang digunakan. Dalam bidang kenukliran, aspek
keamanan dan keselamatan memang menjadi hal yang utama. Aspek
keselamatan tidak hanya berkaitan dengan pekerja radiasi, masyarakat umum
dan lingkungan sekitar saja, tetapi meliputi setiap peralatan yang digunakan,
desain dari peralatan dan ruangan, serta semua fasilitas kerja yang berkaitan
secara langsung dengan sumber radiasi pengion maupun sinar-X harus
diperhatikan, sehingga meminimalisir bahaya yang mungkin ditimbulkan serta
memastikan bahwa dosis yang diterima oleh pekerja radiasi, masyarakat umum
dan lingkungan masih dalam batas aman.

Seiring berkembangnya teknologi dan kebutuhan, saat ini penggunaan


timbal sebagai bahan penahan radiasi tidak hanya digunakan sebagai pelapis
pada tembok dan langit-langit tetapi juga ditanamkan dalam kaca. Kaca dengan
paduan timbal ini, dikenal dengan istilah kaca timbal (lead glass). Kaca timbal
banyak digunakan dalam ruangan-ruangan yang memiliki instalasi nuklir di
dalamnya, ruang kontrol radiodiagnostik di rumah sakit merupakan salah satu
contohnya. Selain fungsi pelemahan radiasinya, sifat transparan dari kaca
timbal merupakan hal yang dibutuhkan dalam hal ini, karena lewat kaca timbal
ini pengamatan terhadap proses yang berlangsung dalam ruang radiodiagnostik
dilakukan. Prinsip perisai radiasi transparan juga digunakan pada lemari
penyimpanan sumber radiasi dan glove box.

Lemari penyimpanan sumber radiasi digunakan untuk menyimpan dan


mengelompokkan sumber radiasi agar sumber radiasi tidak tercecer. Glove box
adalah suatu alat berbentuk kotak transparan yang dilengkapi dengan sarung
tangan di dalamnya. Glove box banyak digunakan sebagai sarana untuk
mencampurkan atau pengukuran volume suatu bahan kimia ataupun radioaktif.
Contoh glove box yang ada di pasaran ditunjukkan pada Gambar 1.1.
3

Gambar 1.1. Model glove box yang ada di pasaran [2].

Adapun kaca timbal yang digunakan dalam berbagai instalasi nuklir


masih mudah pecah dan harganya yang masih sangat mahal. Harga kaca Pb
Ukuran 120x80 cm, tebal 15 mm yang bisa ditemui disalah satu toko penyedia kaca
timbal mematok harga Rp. 22.500.000,- per unitnya, tentunya harga yang relatif
mahal. Hal tersebut menjadi kendala tersendiri bagi instalasi nuklir yang ingin
menggunakan kaca timbal, oleh karena itu perlu adanya bahan alternatif yang
bisa digunakan untuk membuat perisai radiasi transparan yang mampu
menggantikan fungsi dari kaca timbal [3,4].

Pada penelitian ini digunakan resin bening (thermoplastic acrylic)


sebagai bahan dasar pengganti kaca. Resin bening ini yang nantinya akan
mengikat Pb sehingga hasilnya akan menjadi perisai radiasi yang sifatnya
transparan. Dari campuran bahan tersebut, diharapkan dapat diketahui nilai
koefisien atenuasi serapan timbal acrylic (lead acrylic) terhadap radiasi sinar-
X dan sumber radiasi lain yang digunakan dalam penelitian ini.

Kaca timbal memang umumnya digunakan sebagai perisai terhadap


paparan radiasi sinar-X, namun dalam penelitian ini, sampel dari Pb acrylic
yang dihasilkan, tidak hanya diuji menggunakan sinar-X, tetapi juga diuji
4

menggunakan sumber radiasi lain seperti cesium-137 dan juga strontium-90.


Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan sampel dalam melemahkan
datangnya radiasi, ketika sumber yang digunakan merupakan bahan radioaktif
cesium-137 dan juga strontium-90.

Adapun Pb yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pb asetat


(Pb(CH3COO)2) karena Pb asetat ini dapat larut dalam katalis resin
(thermoplastic acrylic). Selain Pb asetat terdapat Pb oksida (PbO) dan Pb nitrat
(Pb(NO3)2). Pb oksida tidak dipilih karena, warnanya yang berwarna merah
atau kuning, titik leburnya yang sangat tinggi dan tidak larut dalam katalis
resin. Begitu pula dengan Pb nitrat yang tidak larut dalam katalis resin dan juga
harganya yang cukup mahal jika dibanding Pb asetat, selain itu titik lebur dari
Pb nitrat juga jauh lebih tinggi jika dibanding Pb asetat [4].

I.2. Perumusan Masalah

1. Berapa besarnya nilai pelemahan radiasi dari sampel Pb acrylic yang


telah dibuat, jika dipapar menggunakan sinar-X 60 kV, cesium-137
atau strontium-90?
2. Bagaimana hubungan antara komposisi resin dan Pb yang digunakan
terhadap nilai koefisien atenuasi yang dihasilkan?
3. Berapa nilai kuat tekan sampel Pb acrylic yang telah dibuat?

I.3. Tujuan

1. Mendapatkan nilai besarnya pelemahan radiasi dari sampel Pb acrylic


yang telah dibuat, jika dipapar menggunakan sinar-X 60 kV, cesium-
137 atau strontium-90.
2. Mendapatkan hubungan antara komposisi resin dan Pb yang
digunakan, terhadap nilai koefisien atenuasi yang dihasilkan
3. Mendapatkan nilai kuat tekan dari sampel Pb acrylic yang telah dibuat.
4. Menentukan karakteristik timbal acrylic yang mampu menggantikan
kaca timbal.
5

I.4. Batasan Masalah

1. Penelitian ini dibatasi pada pembuatan sampel perisai radiasi tembus


pandang dari paduan resin thermoplastic acrylic dengan Pb asetat.
2. Pada penelitian ini, dilakukan variasi terhadap perbandingan
komposisi antara Pb dengan resin thermoplastic acrylic dalam basis
massa.
3. Komposisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 100% acrylic,
10% Pb, 20% Pb, dan 30% Pb.
4. Analisis kekuatan sampel bahan meliputi uji non-destructive dan uji
destructive.
5. Uji non-destructive yang dilakukan meliputi: uji densitas sampel
secara langsung, uji radiasi dengan sinar-X 60 kV, uji radiasi dengan
sumber cesium-137, dan uji radiasi dengan sumber strontium-90. Uji
destructive yang dilakukan adalah uji kuat tekan.

I.5. Manfaat

1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat memberikan


sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya dibidang nuklir dalam hal pembuatan perisai radiasi
dengan bahan Pb acrylic. Semoga hasil dari penelitian ini, juga bisa
menjadi referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya dengan tema
yang terkait.

2. Bagi Penulis

Penulis dapat menambah pengetahuan dalam bidang kenukliran,


menerapkan ilmu-ilmu yang sudah didapatkan selama kuliah dan
mengaplikasikannya dalam bentuk pembuatan perisai radiasi tembus
pandang berbahan Pb acrylic.