Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 PT. PLN (Persero)


1.1.1 Sejarah PT. PLN (Persero)
Berawal di akhir abad ke-19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia
mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di
bidang pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan
sendiri. Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-
perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada
pasukan tentara Jepang di awal Perang Dunia II.
Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada
Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini
dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai
Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat berinisiatif
menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan
tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden
Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan
Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5
MW.
Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi
BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di
bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada
saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN)
sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN)
sebagai pengelola gas diresmikan. Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan
Pemerintah No.17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai
Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha
Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi
kepentingan umum.Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan
2

kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik,
maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi
Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan
listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.

1.1.2 Visi dan Misi PT. PLN (Persero)

VISI

Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang, Unggul dan
Terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.

MISI

1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi


pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
3

1.1.3 Struktur Organsisasi PT. PLN (Persero)

Gambar 1.1 Struktur Organisasi PT PLN (Persero)

1.1.4 Unit PT. PLN (Persero)


A. PLN Wilayah & Distribusi
1. PLN Wilayah Nangroe Aceh Darussalam
2. PLN Wilayah Sumatera Utara
3. PLN Wilayah Sumatera Barat
4. PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau
5. PLN Wilayah Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu
6. PLN Wilayah Bangka Belitung
7. PLN Wilayah Kalimantan Barat
8. PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
9. PLN Wilayah Kalimantan Timur
10. PLN Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo
11. PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat
4

12. PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara


13. PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat
14. PLN Wilayah Nusa Tenggara Timur
15. PLN Wilayah Papua dan Papua Barat
16. Distribusi DKI Jaya & Tangerang
17. Distribusi Jawa Barat dan Banten
18. Distribusi Jawa Timur
19. Distribusi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta
20. Distribusi Bali
21. Distribusi Lampung
22. Distribusi Banten

B. PLN Pembangkitan
1. Pembangkitan Sumatera Bagian Utara
2. Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan
3. Pembangkitan Lontar
4. Pembangkitan Tanjung Jati B
5. Unit Pembangkitan Jawa Bali

C. PLN Transmisi
1. Transmisi Jawa Bagian Barat
2. Transmisi Jawa Bagian Tengah
3. Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali

D. PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban


1. PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali
2. PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera.

E. PLN Unit Induk Proyek (UIP)


1. UIP Pembangkitan Sumatera I (UIP I)
2. UIP Sumatera Bagian Utara II (UIP II)
5

3. UIP Sumatera Bagian Tengah


4. UIP Sumatera Bagian Selatan (UIP III)
5. UIP Interkoneksi Sumatera Jawa (UIP IV)
6. UIP Jawa Bagian Barat (UIP V)
7. UIP Jawa Bagian Tengah I (UIP VI)
8. UIP Jawa Bagian Timur dan Bali I (UIP VII)
9. UIP Jawa Bagian Timur dan Bali II (UIP VIII)
10. UIP Kalimantan Bagian Timur (UIP IX)
11. UIP Kalimantan Bagian Tengah (UIP X)
12. UIP Kalimantan Bagian Barat
13. UIP Nusa Tenggara (UIP XI)
14. UIP Sulawesi Bagian Utara (UIP XI)
15. UIP Sulawesi Bagian Selatan (UIP XIII)
16. UIP Papua (UIP XIV)
17. UIP Maluku (UIP XV)
18. UIP Jawa Baguan Tengah II (UIP XVI)

F. PLN Unit Penunjang


1. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
2. Pusat Enjiniring Ketenagalstrikan
3. Pusat Pemeliharaan Ketenagalistrikan
4. Pusat Penelitian dan Pengembangan ketenagalistrikan
5. Pusat Manajemen Konstruksi
6. Pusat Jasa Sertifikasi, bertempat di Jakarta.
6

1.1.5 Logo Perusahaan

Gambar 1.2 Logo Perusahaan PT. PLN (Persero)

Bidang Persegi Panjang Vertikal menjadi bidang dasar bagi elemen-


elemen lambang lainnya, melambangkan bahwa PT PLN (Persero) merupakan
wadah atau organisasi yang terorganisir dengan sempurna.Berwarna kuning untuk
menggambarkan pencerahan, seperti yang diharapkan PLN bahwa listrik mampu
menciptakan pencerahan bagi kehidupan masyarakat.Kuning juga melambangkan
semangat yang menyala-nyala yang dimiliki tiap insan yang berkarya di
perusahaan ini.
Petir atau kilat melambangkan tenaga listrik yang terkandung di dalamnya
sebagai produk jasa utama yang dihasilkan perusahaan.Selain itu, petir pun
mengartikan kerja cepat dan tepat para insan PT PLN (Persero) dalam
memberikan solusi terbaik bagi para pelanggannya.Warnanya yang merah
melambangkan kedewasaan PLN sebagai perusahaan listrik pertama di Indonesia
dan kedinamisan gerak laju perusahaan beserta tiap insan perusahaan, serta
keberanian dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Tiga gelombang memiliki arti gaya rambat energi listrik yang dialirkan oleh
tiga bidang usaha utama yang digeluti perusahaan yaitu pembangkitan,
penyaluran, dan distribusi yang seiring sejalan dengan kerja keras para insan PT
PLN (Persero) guna memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya. Diberi
warna biru untuk menampilkan kesan konstan (sesuatu yang tetap) seperti halnya
listrik yang tetap diperlukan dalam kehidupan manusia. Di samping itu, biru juga
7

melambangkan keandalan yang dimiliki insan-insan perusahaan dalam


memberikan layanan terbaik bagi para pelanggannya.

1.2 PT. PLN (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat


1.2.1 Tentang PT. PLN (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat
PT. PLN (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat berlokasi di
Gandul, Kec. Cinere, Kota Depok, merupakan kantor induk yang memiliki fungsi
dan tugas untuk mengendalikan dan memonitoring pelaksanaan pemeliharaan di
masing-masing Area Pelaksana Pemeliharaan (APP). Pada Unit Transmisi Jawa
Bagian Barat ini membawahi empat APP yaitu APP Cawang, APP Pulogadung,
APP Durikosambi, dan APP Cilegon. Wilayah kerja Unit Transmisi Jawa Bagian
Barat dapat dilihat pada gambar 1.1 dibawah ini :

PT. PLN
G GITET
(PERSERO) P3B
TELUK JAWA BALI
MUARAKA
TELUK GIS
M.TAWAR
CIBA
NAGA
LONT RANG
G
JAKARTA PRIOK
TJ.PRIO KDS TU
AR MUARAKA API
SEPA TIMUR PLUMP MARU
RANG U ANC
TAN CENGKA PRIOK ANG NDA
RENG
TANGERANG OL BARAT PLUMPANG
KEMAYO
MAX BARU ANG
RAN GAMBIR BARU P.KAR
TANGER KE KLPA
IM BUDI MANGGAB BARU ANG
ANG GADING
KEMULYAAN ESAR MANGG KOSA
GRO KETAP GEDUNG ARAI
JATA GITET KBON ANG PEGANG MBI
DURI GOL POLA PULO
KE KEMBAN SIRIH SAAN
KOSAMBI KARET CS MAS
BARUKARETL W GAMBIR PLO BEK
CIKU KEBON
KEMBAN LAMA TANAH GADUNG ASI
PA JERUK AMA TINGGI GIT
GAN TOS
MPANG AN ET
MAMP DUA
NEW ABADI ANG SETIAB
CIPIN
CILED SENAYAN GP DUREN UDI
ANG
PENGGILI BEK
UK TIGA DUKUH NGAN ASI JABAB
BALAR ATAS FAJA EKA
AJA SENA TAMAN RW
PETUKAN
YAN RASUNA CIKAR
GAN DANAY PONDOK JUI
LEG ANG
ASA KEMA KELAPA SHIN CIBA
OK
NG CAWANG TU
CIT LENGK
RA ONG BINTA BARU
RO CAWANG MINIA TAMB
SERP PONDOK GITET TUR
GAN LAMA UN
ONG BINTA INDAH CAWA
DULGITE GANDA
RO 2 RIA
T JATI
CIBIN RANGON
CILEG CIMANONG
ON GGIS GITET
DEP CIBIN
CILEN SAGUL
GIT OK GSI ING
ET SENT SEMEN
UL CIBINONG
GITET SUTET KEDUNG IT
SUTT BADAK P TAS
GI 150
500 kV 500 kV
150
SUTTkV IK
kV
GI 150
kV 70 kV BOGOR
BARU

Gambar 1.3 Wilayah kerja Unit Transmisi Jawa Bagian Barat


8

1.3 APP Pulogadung

1.3.1 Tentang APP Pulogadung

PT PLN (Persero) P3B Region Jakarta dan Banten , UPT Jakarta Utara yang
dahulu adalah eks UPT Pulogadung dan UPT Pulogadung adalah eks unit
kerja PLN Pembangkit dan Penyaluran Jawa bagian Barat , Sektor
Pulogadung yang berlokasi di Jakarta Timur, berdiri pada tanggal 22
September 1974 berdasarkan surat keputusan Direksi nomor 024/DIR/1974 yang
pada awalnya mengelola 2 Unit PLTG dengan daya terpasang masing
masing 21,59 MW melalui GI Pulogadung. GI Pulogadung sendiri diresmikan
pengusahaannya oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, Ir Sutami
pada tanggal 12 Januari 1974, sesuai dengan perkembangan zaman dan
kebutuhan energi masyarakat secara bertahap PLTG Pulogadung bertambah
menjadi 8 Unit dengan daya terpasang 182,3 MW.

Dengan beroperasinya pembangkit besar seperti PLTGU Suralaya,


PLTA Saguling, PLTA Kamojang dan diberlakukannya sistem interkoneksi
Jawa - Bali, maka aktifitas PLTG Pulogadung menjadi Unit Stand by. Sesuai
surat keputusan nomor 027/KJB/1986 tanggal 12 Mei 1986 maka struktur
organisasi PLN Sektor Pulogadung menjadi unit pelaksana mengelola antara
lain :

1. Unit PLTG Pulogadung


2. Unit PLTD Kebayoran
3. Unit Transmisi Plumpang
4. Unit Transmisi Ancol
5. Unit Bengkel
Selanjutnya sesuai dengan surat keputusan pimpinan PLN KJB nomor
005/KJB/1991, tanggal19 Februari 1991, terjadi perubahan organisasi
kembali PLN Sektor Pulogadung berubah menjadi sektor penyaluran sebagai unit
pelaksana meliputi :

1. Unit Transmisi dan Gardu Induk Pulogadung


9

2. Unit Transmisi dan Gardu Induk Plumpang


3. Unit Transmisi dan Gardu Induk Poncol
4. Unit Transmisi dan Gardu Induk Ancol
5. Unit Transmisi dan Gardu Induk Gambir Baru
6. Unit Transmisi dan Gardu Induk Pondok Kelapa
7. Unit Transmisi dan Gardu Induk Krawang
8. Unit Transmisi dan Gardu Induk Kosambi

Berdasarkan keputusan pimpinan PT PLN KJB nomor 020/023/KJB/


1995 tertanggal 28 April 1995 PLN Sektor Pulogadung mengalami perubahan
menyusul dibentuknya anak perusahaan PT PLN PJB 1 dan PT PLN PJB 2,
maka struktur sektor sektor penyaluran terpisah dan dilebur menjadi PT
PLN ( Persero ) Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa - Bali ( PLN
P3B ).

Selanjutnya dengan diterbitkannya surat keputusan Direksi PT PLN (


Persero ) nomor 257.K/010/Dir/2000 tanggal 2 November 2000 tentang
pembentukan organisasi dan tata kerja bisnis strategi penyaluran dan pusat laba (
Profit Centre ) berubah menjadi unit pusat investasi ( Investment Centre ) dengan
nama Unit Bisnis Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa - Bali ( PT PLN
UBS P3B ).

Seiring dengan perubahan tersebut maka struktur organisasi sektor


sektor penyaluran dan unit pengatur beban dikelompokkan menjadi 4 Unit
satuan kerja yaitu :

1. PT PLN ( Persero ) Region Jakarta dan Banten ( RJKB )


berkedudukan di Jakarta
2. PT PLN ( Persero ) Region Jawa Barat ( RJBR ) berkedudukan
di Bandung.
3. PT PLN ( Persero ) Region Jawa Tengah dan Yogyakarta ( RJTD )
berkedudukan di Semarang.
10

4. PT PLN ( Persero ) Region Jawa Timur dan Bali ( RJTB )


berkedudukan di Surabaya.

PT PLN ( Persero )UBS P3B Region Jakarta dan Banten dibentuk pada
tahun 2001 sesuai dengan SK nomor 003.K / 021 / GM-UBS-P3B / 2001
tanggal 16 April 2001, dan mempunyai unit kerja yang terdiri dari 13 Unit
Pelayanan Transmisi ( UPT ) dan 2 Unit Jasa Tehnik ( UJT ). 13 UPT, antara lain:

1. UPT Ancol
2. UPT Bekasi
3. UPT Bogor
4. UPT Cibinong
5. UPT Cikupa
6. UPT Cilegon
7. UPT Duri Kosambi
8. UPT Gandul
9. UPT Karet
10. UPT Pondok Kelapa
11. UPT Pulogadung
12. UPT Rangkas Bitun
13. UPT Suralaya

2 UJT, antara lain :

1. UJT Bogor

2. UJT Jakarta

Salah satu UPT yang membawahi Gardu Induk Pulogadung adalah


UPT Pulogadung, dimana UPT Pulogadung membawahi GI GI, antara lain :

1. GI Gedung Pola
2. GI Gambir Lama
11

3. GI Gambir Baru
4. GI Kandang Sapi
5. GI Marunda
6. GI Penggilingan
7. GI Pegangsaan
8. GI Plumpang
9. GI Pulogadung
10. GI Pangeran Karang
11. GI Tosan Prima
12. GI Wahana Garuda Lestari

UPT Pulogadung melayani pasokan tenaga listrik di


wilayahJakarta Timur , Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Pusat. Sedangkan
Gardu Induk Pulogadung sendiri, adalah pemasok utama tenaga listrik
untuk kawasan Industri Pulogadung, sebagian wilayah Jakarta Timur dan
sebagian Jakarta Utara.

Selanjutnya GM menerbitkan SK tentang penetapan nama nama Sub Unit


Pelayanan Transmisi dengan nomor 027.K/GM-P3B/2005 tanggal 4 Mei
2005, bahwa sesuai hasil kajian yang telah dilakukan secara mendalam,
maka perlu dilakukan penyelarasan struktur organisasi dan penetapan nama
nama Sub Unit Pelaksana UPT pada PT PLN ( Persero ) Penyaluran dan
Pusat Pengatur Beban Jawa Bali sesuai beban kerja dan proses bisnis yang
dilaksanakan.

Nama nama UPT di RJKB adalah :

1. UPT Banten
2. UPT Bekasi
3. UPT Bogor
4. UPT Jakarta Barat
5. UPT Jakarta Pusat
6. UPT Jakarta Selatan
12

7. UPT Jakarta Timur


8. UPT Jakarta Utara
9. UPT Tangerang

GM juga menerbitkan SK tentang penetapan nama nama Sub Unit


Pelaksana UJT, nomor 026.K/GM-P3B/2005 tanggal 4 Mei 2005. Nama
nama UJT di RJKB adalah :

1. UJT Banten
2. UJT Bogor
3. UJT Jakarta
Gardu Induk Pulogadung walaupun beralamat di jalan Raya Bekasi Km
21 Jakarta Timur, namun masuk dalam wilayah UPT Jakarta Utara. GI
Pulogadung, Pangeran Karang, Tosan Prima dan Wahana Garuda Lestari
adalah satu kesatuan yang dibawahi 1 orang Kepala Gardu Induk dan 9 orang
operator. Satu regu operator sebanyak 3 orang, bertugas 12 jam sehari. GI
Pangeran Karang, Wahana Garuda Lestari dan Tosan Primatidak di tunggu
oleh operator, maka 2 orang operator bertugas patroli, 1 orang operator
stand by di Base Camp. Berpatroli dengan menggunakan sepeda motor .

Dalam perkembangannya pengusahaan Gardu Induk berubah seiring


dengan kebijakan program LASO ( Less Attended Substation Operation ). Pola
kerja Gardu Induk di pimpin oleh 1 orang supervisor dan 3 orang assisten
supervisor. Restrukturisasi juga menyatukan 2 unit yakni, UPT Jakarta Utara
dengan UPT Jakarta Pusat menjadi 1 yaitu APP Pulogadung yang membawahi 2
basecamp yaitu basecamp Karet dan basecamp Pulogadung. Sehingga, Gardu
Induk dibawah pengusahaan APP Pulogadung diantaranya adalah :

A. Wilayah Basecamp Pulogadung

1. GI Ancol
2. GI Gambir Baru
3. GI Mangga Besar
13

4. GI Kandang Sapi
5. GI Kemayoran
6. GI Pegangsaan
7. GI Plumpang
8. GI Plumpang Baru
9. GI Priok Barat
10. GI Priok Timur
11. GI Priok Timur Baru
12. GI Pulogadung
13. GI Pangeran Karang
14. GI Tosan Prima
15. GI Wahana Garuda Lestari
16. GI Kelapa Gading

B. Wilayah Basecamp Karet


1. GI Karet
2. GI Karet Baru
3. GI Setiabudi
4. GI Dukuh Atas
5. GI Manggarai
6. GI Gedung Pola
7. GI Kebon Sirih
8. GI Budi Kemuliaan
9. GI Gambir Lama
10. GI Ketapang
11. GI Taman Rasuna
12. GI Abadi Guna Papan
13. GI Danayasa
14. GI CSW
15. GI Senayan
14

1.3.2 Struktur Organisasi

Untuk mengetahui keterlibatan user dalam sistem yang akan dibangun di


PT. PLN (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat maka perlu adanya
struktur organisasi dan uraian jabatan yang melekat pada jabatannya. Struktur
organisasi PT. PLN (Persero) Unit Transmisi Jawa Bagian Barat dapat dilihat
pada gambar 1.4 di bawah ini:

Gambar 1.4 Struktur Organisasi PT. PLN (Pesero) TJBB APP Pulogadung
1.4 Tujuan
Tujuan yang diinginkan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :
1. Mengetahui tentang dunia kerja yang sebenarnya.
2. Mengenal dan memperluas wawasan kerja di bidang Energi dan Sistem
Tenaga Listrik.
3. Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan pada dunia kerja.
4. Melatih kemampuan diri dalam bekerja sama, komunikasi, dan beberapa soft
skills lainnya pada dunia kerja.
5. Memenuhi syarat untuk mata kuliah Kerja Praktek.
15

1.5 Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup yang akan dibahas pada penulisan laporan kerja
praktek ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sistem kerja dari neutral grounding resistor (NGR)
2. Mengetahui cara pemeliharaan dari neutral grounding resistor (NGR)
16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Pentanahan

Sistem pentanahan atau biasa disebut sebagai grounding adalah sistem


pengamanan terhadap trafo dari lonjakan listrik, petir, dll.

2.1.1 Tujuan Utama Sistem Pentanahan

Tujuan utama sistem pentanahan adalah sebagai berikut :

a. Membatasi besarnya tegangan terhadap bumi agar berada dalam batasan


yang diperbolehkan
b. Menyediakan jalur bagi aliran arus yang dapat memberikan deteksi
terjadinya hubungan yang tidak dikehendaki antara penghantar dan bumi.

2.1.2 Jenis-Jenis Sistem Pentanahan

Terdapat beberapa type pentanahan yang digunakan berdasarkan standar


IEEE yang menjadi acuan terhadap sistim pentanahan pada suatu instalasi, sbb :

1. TN-S (Terre Neutral - Separate)

Pada sebuah sistem TN-S, bagian netral sumber energi listrik terhubung
dengan bumi pada satu titik saja, sehingga bagian netral pada sebuah instalasi
konsumen terhubung langsung dengan netral sumber listrik. Type ini cocok pada
instalasi yang dekat dengan sumber energi listrik, seperti pada konsumen besar
yang memiliki satu atau lebih HV/LV transformer untuk kebutuhan sendiri dan
instalsai/perlatan nya berdekatan dengan sumber energi tersebut (transformer).
17

Gambar 2.1.1 TN-S System

2. TN-C-S (Terre Neutral - Combined - Separate)

Sebuah sistem TN-C-S, memiliki saluran netral dari peralatan distribusi


utama (sumber listrik) terhubung dengan bumi dan pembumian pada jarak tertentu
disepanjang saluran netral yang menuju konsumen, biasanya disebut sebagai
Protective Multiple Earthing (PME). Dengan sistim ini konduktor netral dapat
berfungsi untuk mengembalikan arus gangguan pentanahan yang mungkin timbul
disisi konsumen (instlasi) kembali kesumber listrik. Pada sistim ini, instalasi
peralatan pada konsumen tinggal menghubungkan pentanahannya pada terminal
(saluran) yang telah disediakan oleh sumber listrik.

Gambar 2.1.2 TN-C-S System


18

3. TT (Double Terre)

Pada sistem TT, bagian netral sumber listrik tidak terhubung langsung
dengan pembumian netral pada sisi konsumen (instalasi peralatan). Pada sistim
TT, konsumen harus menyediakan koneksi mereka sendiri ke bumi, yaitu dengan
memasang elektroda bumi yang cocok untuk instalasi tersebut .

Gambar 2.1.3 TT System

4. TN-C (Terre Neutral - Combined)

Pada sistem TN-C, saluran netral dari peralatan distribusi utama (sumber
listrik) terhubung lansung dengan saluran netral konsumen dan frame dari
peralatan yang terpasang.
Dengan sistim ini konduktor netral digunakan sebagai konduktor pelindung dan
gabungan antara netral dengan pembumian sisi frame peralatan dikenal sebagai
konduktor PEN (Prtective Earthing and Neutral).

Gambar 2.1.4 TN-C System


19

5. IT (Isolated Terre)

Dari huruf pertamanya ( I ) sudah jelas bahwa , pada sistim pembumian


dengan jenis IT ini, netral nya isolated (tidak terhubung) dengan bumi. Titik PE
tidak terhubung ke saluran netral tetapi lansung dihubungkan ke pembumian.

Gambar 2.1.5 IT System

2.2 NGR (Neutral Grounding Resistor)

Salah satu metoda pentanahan adalah dengan menggunakan NGR. NGR


adalah sebuah tahanan yang dipasang serial dengan neutral sekunder pada trafo
sebelum terhubung ke ground/tanah. Tujuan dipasangnya NGR adalah untuk
mengontrol besarnya arus gangguan yang mengalir dari sisi neutral ke tanah.
Pentanahan dengan NGR dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

1. Sistem pentanahan dengan tahanan rendah (12 dan 40 Ohm)

2. Sistem pentanahan dengan tahanan tinggi ( 200 dan 500 Ohm)

Penggunaan NGR dengan jenis rendah maupun tinggi tergantung dari desain
subsistem tenaga listrik, pada dasarnya semakin besar nilai NGRnya maka arus
gangguan phasa ke tanahnya semakin kecil.

Berikut gambar sistem pentanahan NGR pada transformator


20

Gambar 2.1 Pentanahan Langsung dan Pentanahan melalui NGR

2.2.1 Fungsi NGR

Fungsi dari NGR adalah untuk menghambat atau membatasi arus hubung
singkat satu fasa ketanah, sehingga nilainya dibawah arus Nominal Trafo.

2.2.2 Jenis-jenis NGR

NGR memiliki dua jenis yaitu:

1. NGR Liquid
resistornya menggunakan larutan air murni yang ditampung di dalam
bejana dan ditambahkan garam (NaCl) untuk mendapatkan nilai resistansi
yang diinginkan.
2. NGR Solid
NGR jenis solid terbuat dari Stainless Steel, FeCrAl, Cast Iron, Copper
Nickel atau Nichrome yang diatur sesuai nilai tahanannya.
21

Gambar 2.2 NGR Jenis Liquid dan NGR jenis Solid

2.2.2 Keuntungan dan Kerugian Pentanahan dengan NGR

Keuntungan :

1. Besar arus gangguan tanah dapat diperkecil

2. Bahaya gradient voltage lebih kecil karena arus gangguan tanah kecil.

3. Mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat arus gangguan yang


melaluinya.

Kerugian:

1. Timbulnya rugi-rugi daya pada tahanan pentanahan selama terjadinya


gangguan fasa ke tanah.
2. Karena arus gangguan ke tanah relatif kecil, kepekaan rele pengaman
menjadi berkurang dan lokasi gangguan tidak cepat diketahui.

2.2.3 Parameter dalam Pemilihan NGR

Saat merancang dan mengukur NGR, insinyur harus mempertimbangkan


parameter ini:
22

1. Tegangan terukur: tegangan garis-ke-netral.

2. Arus terukur: arus maksimum yang akan mengalir melalui resistor saat dingin.

3. Peringkat tugas atau rating waktu: lama waktu NGR harus mentolerir arus
pengenal.

4. Peringkat waktu singkat: biasanya 10 detik atau 60 detik tergantung pada


parameter desain sistem proteksi.

5. Peringkat kontinu: biasanya 10% arus beban penuh untuk resistor pembumian
netral sistem yang sehat dirancang untuk penilaian kontinyu 5% sampai 10% arus
beban penuh (jika diperlukan).

6. Isolasi: ditentukan berdasarkan tegangan line.

7. Kenaikan suhu: kenaikan suhu maksimum untuk elemen resistif adalah 760 C,
menurut IEEE32.

8. Tipe Elemen: resistor logam biasanya ditentukan dari cairan karena tidak
mengalami penguapan, pembekuan dll dan tidak memerlukan pasokan tambahan.

9. Peringkat IP: perlindungan ingress biasanya ditentukan di IP23 namun


peringkat yang lebih tinggi tersedia untuk lingkungan yang keras, walaupun hal
ini dapat mempengaruhi pendinginan unit secara signifikan.

10. Penutupan: biasanya tersedia di stainless steel, baja ringan atau aluminium
tergantung spesifikasi atau aplikasinya.

11. Item tambahan: kontaktor vakum, transformator arus, relay proteksi dan
peralatan pemantau adalah tambahan opsional.
23

BAB III
PEMBAHASAAN

3.1 Definisi dan Tujuan Pemeliharaan

Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah serangkaian tindakan


atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa
peralatan dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah
terjadinya gangguan yang menyebabkan kerusakan.

Tujuan utama pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk


menjamin kontinuitas penyaluran tenaga listrik dan menjamin keandalan, antara
lain :

a. Untuk meningkatkan reliability, availability dan effiency.


b. Untuk memperpanjang umur peralatan.
c. Mengurangi resiko terjadinya kegagalan atau kerusakan peralatan.
d. Meningkatkan tingkat keamanan pada peralatan.
e. Mengurangi lama waktu padam akibat sering gangguan.

Faktor yang paling dominan dalam pemeliharaan peralatan proteksi adalah


memperoleh keyakinan bahwa peralatan proteksi tersebut dapat bekerja sesuai
fungsinya.

Dalam pemeliharaan peralatan proteksi, kita membedakan antara


pemeriksaan atau monitoring (melihat, mencatat, meraba serta mendengar) dalam
keadaan operasi dan memelihara (kalibrasi / pengujian, koreksi / resetting serta
memperbaiki / membersihkan ) dalam keadaan padam.

3.2 Klasifikasi Pemeliharaan

Pemeriksaan atau monitoring dapat dilaksanakan oleh operator atau


petugas patroli setiap hari dengan sistem check list atau catatan saja. Sedangkan
pemeliharaan harus dilaksanakan oleh regu pemeliharaan. Pemeliharaan pada
NGR dapat dibagi menjadi 4 macam :
24

3.2.1 Predictive Maintenance (Condicional Maintenance)

Predictive Maintenance (Conditional Maintenance) adalah pemeliharaan


yang dilakukan dengan cara memprediksi kondisi suatu peralatan listrik, apakah
dan kapan kemungkinannya peralatan listrik tersebut menuju kegagalan. Dengan
memprediksi kondisi tersebut dapat diketahui gejala kerusakan secara dini.

Cara yang biasa dipakai adalah memonitor kondisi secara online baik pada
saat peralatan beroperasi atau tidak beroperasi. Untuk ini diperlukan peralatan dan
personil khusus untuk analisa. Pemeliharaan ini disebut juga pemeliharaan
berdasarkan kondisi (Condition Base Maintenance).

3.2.2 Preventive Maintenance (Time Base Maintenance)

Preventive Maintenance (Time Base Maintenance) adalah kegiatan


pemeliharaan yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan
secara tiba-tiba dan untuk mempertahankan unjuk kerja peralatan yang optimum
sesuai umur teknisnya. Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala dengan
berpedoman kepada Instruction Manual dari pabrik, standar-standar yang ada
(IEC, CIGRE, dll) dan pengalaman operasi di lapangan. Pemeliharaan ini disebut
juga dengan pemeliharaan berdasarkan waktu (Time Base Maintenance).

3.2.3 Corrective Maintenance

Corective Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan secara


terencana ketika peralatan listrik mengalami kelainan atau unjuk kerja rendah
pada saat menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk mengembalikan pada
kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan instalasi. Pemeliharaan ini
disebut juga Curative Maintenance, yang bisa berupa Trouble Shooting atau
penggantian part atau bagian yang rusak atau kurang berfungsi yang dilaksanakan
dengan terencana.
25

3.2.4 Breakdown Maintenance

Breakdown Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan setelah


terjadi kerusakan mendadak yang waktunya tidak tertentu dan sifatnya darurat.

3.3 Pedoman Pemeliharaan

Berdasarkan fungsinya dan kondisi peralatan bertegangan atau tidak, jenis


pemeliharaan pada NGR dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. In Service / Visual Inspectiona


2. In Service Measurement / On Line Monitoring
3. Shutdown Measurement / Shutdown Function Check/Treatment
4. Conditional (Pasca relokasi / Pasca Gangguan/bencana alam)
5. Overhaul

In Service Inspection, In Servise Measurement / On Line Monitoring,


Shutdown Measurement / Shutdown Function Check, Conditional dan Overhaul
sebagaimana dimaksud dalam butir 1 sampai dengan 5 di atas, merupakan bagian
dari uraian kegiatan pemeliharaan yang tertuang dalam KEPDIR
114.K/DIR/2010.

Periode pemeliharaan shutdown measurement dan shutdown function


check dilaksanakan setiap 2 Tahun dan kegiatan pemeriksaan maupun pengujian
mengacu kepada Failure Mode Effect Analysis ( FMEA) dari setiap komponen
peralatan tersebut.

3.4 In Service/Visual Inspection

In Service Inspection adalah inspeksi atau pemeriksaan terhadap peralatan


yang dilaksanakan dalam keadaan peralatan beroperasi atau bertegangan (on-line),
dengan menggunakan 5 panca indera (five senses) dan metering secara sederhana,
dengan pelaksanaan periode tertentu (Harian, Mingguan, Bulanan, Tahunan).

Inspeksi ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui atau memonitor kondisi


peralatan dengan menggunakan alat ukur sederhana atau umum (contoh
26

Amperemeter) yang dilaksanakan oleh petugas operator/asisten supervisor di


gardu induk (untuk Tragi/UPT PLN P3B Sumatera/Wilayah) atau petugas
pemeliharaan/supervisor gardu induk (untuk APP PLN P3B JB).

3.5 Neutral Grounding Resistor yang digunakan pada Trafo Gardu Induk
Pulogadung

Gardu Induk Pulogadung ini berada di Jalan Pulo Gadung RW.3, Rawa
Terate, RW.3, Rw. Terate, Jakarta Timur, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus
Ibukota Jakarta. Di dalam gardu induk ini terdapat NGR yang dipasang pada trafo
150KV yang memproteksi trafo tersebut. Seperti pada peralatan listrik lainnya,
NGR pun juga perlu dilakukan pemeliharaan mengingat fungsi dari NGR sangat
penting dalam melakukan perlindungan pada trafo yang ada pada gardu induk ini
Adapun alasan NGR harus dipelihara karena NGR merupakan suatu alat
pelindung bagi trafo dari arus hubung singkat, selain melindungi peralatan dari
arus hubung singkat , NGR mengontrol besarnya arus gangguan yang mengalir
dari sisi neutral ke tanah sehingga nilainya dibawah arus nominal trafo.

3.5.1 Jenis NGR yang digunakan pada Trafo Gardu Induk Pulogadung

Jenis NGR yang digunakan pada trafo 150KV ini adalah jenis NGR solid.
Alasan dari pemilihan NGR solid ini yaitu pemeliharaannya yang mudah daripada
NGR liquid. NGR yang digunakan adalah merk M.S.Resistance yang di produksi
pada tahun 2011.
27

3.5.2 Spesifikasi NGR Trafo Gardu induk Pulogadung

Merk : M.S.Resistance

Tipe : G-20-1000-10-S-LH-TT

Tegangan : 11,5 kV

Resistansi : 12 Ohm

Arus : 1000A

Serial : O NE 11 04 009-1/003

Berat : 600 kg

.
Gambar 3.1 NamePlate NGR GI Pulogadung

Pemeliharaan pada NGR trafo gardu induk Pulogadung ini mengikuti Periode
pemeliharaan 2 tahunan pada trafo yang meliputi pengukuran tahanan NGR,
Pengukuran tahanan pentanahan dan elemen NGR, Pemeriksaan dan pembersihan
isolator, dan pemeriksaan keadaan fisik NGR.
28

3.5.3 Alat-Alat Pengujian yang Digunakan


Alat yang digunakan untuk melakukan pengujian pada NGR meliputi
a. Voltage slide regulator
voltage slide regulator adalah alat pengatur tegangan output, sehingga
besarnya tegangan input yang akan digunakan dapat disesuaikan. Prinsip
dasarnya tegangan masuk yang nilainya besar masuk ke slide regulator
kemudian pada slide regulator terdapat switch penunjuk skala tegangan yaitu
0, 20V, 40V, 60V dan seterusnya sampai 240V. Dan besarnya nilai input
dapat kita sesuaikan dengan kebutuhan, hanya dengan memutar tombol
skala tegangan tersebut. Elemen pada NGR akan diuji dengan tegangan
listrik yang dimasukkan oleh voltage slide regulator.

Gambar 3.2 Voltage Slide Regulator

b. AVO Meter
AVO Meter adalah suatu alat untuk mengukur arus, tegangan, baik
tegangan bolak-balik (AC) maupun tegangan searah (DC) dan hambatan
listrik. AVO disini digunakan sebagai pengukur tahanan pada NGR.
29

Gambar 3.3 Voltmeter


c. High voltage insulation tester
High voltage insulation terster adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tahanan isolasi pada penghantar yang digunakan pada NGR sehingga
diharapkan tidak terjadi arus bocor yang membahayakan operator.

Gambar 3.4 High Voltage Insulation Tester


30

d. Earth Tester
Earth tester adalah alat yang digunakan untuk mencari nilai tahanan dari
pentanahan NGR. Cara pengukurannya yaitu dengan menancapkan 2 buah
elektroda ke tanah dengan jarak 5 meter dan dihubungkan dengan earth tester
kemudian pentanahan yang akan diukur dihubungkan dengan earth tester.

Gambar 3.5 Earth Tester


3.6 Langkah Pemeliharaan
3.6.2 Pemeriksaan Kondisi NGR
Pemeriksaan kondisi NGR meliputi 3 bagian yaitu :
1. Grounding
pada bagian grounding pemeriksaan meliputi pemeriksaan kawat pentanahan
apakah baik atau sudah harus mendapatkan pemeliharaan lebih lanjut. Kemudian
memeriksa kekencangan baut mur pada terminal NGR. Kekencangan baut mur
pada terminal ini berpengaruh pada nilai tahanan NGR sehingga harus selalu
diperiksa kekencangannya.
2. Isolator
Pemeriksaan pada bagian isolator yaitu pemeriksaan permukaan isolator apakah
ada retak atau pecah pada bagian isolator tersebut. Setelah diperiksa kemudian
dilakukan pembersihan permukaan isolator dari debu-debu yang menempel pada
isolator menggunakan kain lap.
31

3. NGR
Pemeriksaan pada NGR dilakukan pada bagian dalam NGR yaitu pemeriksaan
elemen-elemen pada NGR dari debu dan kotoran. Debu-debu yang menempel pada
elemen NGR akan dibersihkan menggunakan kain lap kering. Debu yang menempel pada
NGR dapat mempengaruhi kinerja NGR itu sendiri. Sehingga pembersihan element NGR
dari debu dijadwalkan setiap dua tahun sekali.

Gambar 3.6 Pembersihan Elemen NGR

3.6.1 Pengukuran Tahanan Isolasi


Pengukuran tahanan isolasi pada NGR dilakukan dua kali yaitu tahanan
isolasi antara elemen ke body NGR dan body NGR ke ground. Pengukuran
tahanan isolasi ini menggunakan alat AVO Meter yang sudah di set untuk
mengukur tahanan listrik. Kemudian AVO meter dihubungkan dengan plat
elemen dan body trafo sehingga menghasilkan nilai tahanan yang dimiliki oleh
NGR. Nilai tahanan tersebut kemudian di catat dan di analisis apakah masih bagus
atau sudah perlu dilakukan pemeliharaan lebih lanjut. Kemudian langkah tersebut
dilakukan kembali untuk mengukur tahanan antara body NGR dengan pentanahan
NGR.
32

Gambar 3.5 Pengukuran Tahanan Isolasi


3.6.3 Pengukuran Tahanan Pentanahan
Pengukuran tahanan pentanahan dilakukan dengan menggunakan alat earth
tester. Alat ukur grounding Earth tester atau grounding tester ini, dilengkapi 3
(tiga) buah lubang konektor dan 3(tiga) kabel ukur yang akan digunakan.
Ketiga kabel tersebut yaitu :
1. Kabel berwarna merah (C), dihubungkan ke lubang konektor berwarna merah
pada alat ukur, dan ujung satunya dihubungkan ke stick/tongkat besi yang tersedia
dan sudah ditancapkan ke bumi/tanah.
Usahakan jarak antara stick atau tongkat besi yang satu dengan yang lainnya
sekitar 5m 10 m.
2. Kabel berwarna kuning (P), dihubungkan ke lubang konektor berwarna kuning
pada alat ukur, dan ujung satunya dihubungkan ke stick/tongkat besi yang tersedia
dan sudah ditancapkan ke bumi/tanah. Usahakan jarak antara stick atau tongkat
besi yang satu dengan yang lainnya sekitar 5m 10 m.
Begitu juga jarak antara masing-masing stick / tongkat besi dengan titik
grounding atau pentanahan yang diukur juga harus memiliki jarak antara 5m 10
m.

3. Kabel berwarna hijau (E), Kabel berwarna Hijau (E), dihubungkan ke lubang
33

konektor berwarna Hijau pada alat ukur (Earth Tester), dan ujung satunya
dihubungkan ke kabel penghantar pada titik Grounding atau pentanahan NGR
yang akan di ukur
Setelah itu putar selektor pada alat ukur (Earth Tester) untuk kita arahkan pada
pengukuran dengan nilai tertinggi (skala 100 ) terlebih dahulu, lalu tekan tombol
test.
Jika jarum ukur belum bergerak atau bergerak namun sangat kecil, putar selektor
untuk mengubah satuan skala yang lebih kecil (10 ).
Jika jarum ukur masih bergerak hanya sedikit juga, maka bisa kita coba lagi
dengan skala ukur yang lebih kecil (1 ), untuk mendapatkan hasil pengukuran
yang lebih akurat.

Gambar 3.7 pengukuran tahanan pentanahan NGR


34

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan

Neutral Grounding Resistors digunakan dalam jaringan distribusi AC untuk


membatasi tegangan lebih transien yang mengalir melalui titik netral
transformator atau generator ke nilai yang aman selama terjadinya gangguan.
NGR Umumnya dihubungkan antara ground dan neutral transformer, NGR
mengurangi arus lebih menjadi nilai maksimum yang telah ditentukan sebelumnya
yang menghindari shutdown jaringan dan kerusakan pada peralatan, namun
memungkinkan aliran arus yang cukup untuk mengaktifkan perangkat proteksi
untuk menemukan dan mencegah kerusakan. Serangkaian pemeliharaan neutral
grounding resistor pada trafo gardu induk 150 kV Pulogadung meliputi
pengecekan kondisi NGR dan pengukuran tahanan isolasi serta tahanan
pentanahan.

4.2 Saran
Jika dalam pengukuran dan pengujian terdapat nilai yang melebihi atau
tidak memenuhi standar maka dilakukan pengujian ulang dan pengecekan pada
NGR untuk menganalisa penyebab kesalahan dan mengetahui apakah perlu
dilakukan perbaikan. Namun apabila nilai tetap tidak memenuhi standar maka
perlu dipertimbangkan untuk mengganti NGR baru dengan jenis isolasi yang lebih
baik lagi.