Anda di halaman 1dari 10

Si

Penemu : Silicon, 1823 Jns Jakob Berzelius

Penggunaan Silikon

Silikon merupakan komponen utama dari kaca, semen, keramik, sebagian besar perangkat
semikonduktor, dan silikon (zat plastik yang sering tercampur baur dengan logam silikon).

Silikon juga merupakan konstituen penting dari beberapa jenis baja dan merupakan bahan tahan api
yang digunakan dalam pembuatan enamel dan tembikar.

Unsur silikon dan senyawa intermetaliknya banyak digunakan sebagai paduan untuk membentuk
aluminium, magnesium, tembaga, dan logam lainnya yang memiliki ketahanan tinggi.

Silikon metalurgi dengan kemurnian 98-99% digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan
organosilicic dan resin silikon, segel, serta pelumas.

Dalam bidang elektronik, chip silikon digunakan dalam berbagai peralatan elektronik. Sel surya juga
menggunakan irisan tipis kristal silikon sebagai salah satu komponen utamanya.

Silikon dioksida digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi unsur silikon dan silikon karbida.
Kristal silikon berukuran besar digunakan untuk gelas piezoelektrik.

Dispersi koloid silikon dalam air digunakan sebagai agen pelapis dan sebagai bahan untuk pembuatan
enamel tertentu.

Efek Kesehatan Silikon

Silikon terutama ditemukan dalam jaringan ikat dan kulit.

Silikon merupakan unsur tidak beracun dalam bentuk alaminya seperti pada silika dan silikat.

Debu silikon memiliki sedikit dampak buruk pada paru-paru dan tidak memicu penyakit organik
signifikan.

Silikon dapat menyebabkan efek pernapasan kronis terutama dalam bentuk kristal silika (silikon
dioksida).

Namun, kemungkinan terbentuknya kristal silika di alam amat kecil. Kristal silika umumnya akan
mempengaruhi orang-orang yang bekerja di pertambangan, di industri tembikar, pertambangan granit,
dan industri yang melibatkan tanah diatom.

Kristal silikon dikenal mengiritasi kulit dan mata. Menghirup komponen ini akan menyebabkan iritasi
pada paru-paru dan selaput lendir.

Beberapa penelitian epidemiologi melaporkan angka signifikan atas kematian atau kasus gangguan
imunologi pada pekerja yang terpapar silika.

Penyakit dan gangguan yang ditemui termasuk skleroderma, rheumatoid arthritis, lupus eritematosus
sistemik, dan sarkoidosis.

1. Sifat Fisik
Silikon berbentuk padat pada suhu ruangan, dengan titik lebur dan titik didih masing-
masing 1.400 dan 2.800 derajat celsius. Yang menarik, silikon mempunyai massa jenis yang
lebih besar ketika dalam bentuk cair dibanding dalam bentuk padatannya,tapi seperti
kebanyakan substansi lainnya, silikon tidak akan bercampur ketika dalam fase padatnya, tapi
hanya meluas, sama seperti es yang memiliki massa jenis lebih kecil daripada air. Karena
mempunyai konduktivitas thermal yang tinggi (149 Wm1K1), silikon bersifat mengalirkan
panas sehingga tidak pernah dipakai untuk menginsulasi benda panas.
Dalam bentuk kristalnya, silikon murni berwarna abu-abu metalik. Seperti germanium,
silikon agak kuat tapi sangat rapuh dan mudah mengelupas. Seperti karbon dan germanium,
silikon mengkristal dalam struktur kristalkubus berlian, dengan jarak kisi 0,5430710 nm
(5.430710 ).
Orbital elektron terluar dari silikon mempunyai 4 elektron valensi. Kulit atom 1s,2s,2p,
dan 3s terisi penuh, sedangkan kulit atom 3p hanya terisi 2 dari jumlah maksimumnya 6.
Silikon bersifat semikonduktor.
Unsur Si bersifat nonlogam, tetapi keras dan mengkilap seperti logam, karena itu
disebut metaloid. Unsur Si merupakan unsur ringan, titik leburnya tinggi, dan daya hantar
listriknya menengah. Oleh karena itu unsur Si banyak di gunakan sebagai bahan
semikonduktor, misalnya transistor.1[6]

2. Sifat Kimia Silikon merupakan metaloid, siap untuk memberikan atau berbagi 4 atom
terluarnya, sehingga memungkinkan banyak ikatan kimia. Meski silikon bersifat relatif inert
seperti karbon, silikon masih dapat bereaksi dengan halogen dan alkali encer. Kebanyakan
asam (kecuali asam nitrat dan asam hidrofluorat) tidak bereaksi dengan silikon. Silikon
dengan 4 elektron valensinya mempunyai kemungkinan untuk bergabung dengan elemen atau
senyawa kimia lainnya pada kondisi yang sesuai.
Silikon murni berwujud padat seperti logam dengan titik lebur 14100C. silikon dikulit
bumi terdapat dalam berbagai bentuk silikat, yaitu senyawa silikon dengan oksigen. Unsur ini
dapat dibuat dari silikon dioksida (SiO2) yang terdapat dalam pasir, melalui reaksi:
SiO2(s) + 2C(s) Si(s) + 2CO(g)
Silikon murni berstruktur seperti Intan ( tetrahedral) sehingga sangat keras dan tidak
menghantarkan listrik, jika dicampur dengan sedikit unsur lain, seperti alumunium (Al) atau
boron (B). silikon bersifat semikonduktor (sedikit menghantarkan listrik), yang diperlukan
dalam berbagai peralatan, elektronik, seperti kalkulator dan Komputer. Itulah sebabnya
silikon merupakan zat yang sangat penting dalam dunia modern. Untuk itu dibutuhkan silikon
yang kemurniannya sangat tinggi dan dapat dihasilkan dengan reaksi:
SiCl4(g) + 2H2(g) Si(s) + 4HCl(g)
Jari-jari silikon lebih besar dari karbon, sehingga tidak dapat membentuk ikatan
(rangkap dua atau tiga) sesamanya, hanya ikatan tunggal (). Karena itu silikon tidak reaktif
pada suhu kamar dan tidak bereaksi dengan asam, tetapi dapat bereaksi dengan basa kuat
seperti NaOH.
Si(s) + 4OH-(aq) SiO4(aq) + 2H2(g)
Pada suhu tinggi, silikon dapat bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrida, dan
dengan halogen membentuk halide, seperti:
Si(s) + 2H2 SiH4
Si(s) + 2Cl2 SiCl4
Silikon bereaksi dengan halogen; jika dipanaskan membentuk oksida; membentuk
garam dari asam oksi dan membentuk molekul-molekul dan ion-ion raksasa dengan atom
oksigen.
Silikon murni berwujud padat seperti logam dengan titik lebur 14100C. silikon dikulit
bumi terdapat dalam berbagai bentuk silikat, yaitu senyawa silikon dengan oksigen. Unsur ini
dapat dibuat dari silikon dioksida (SiO2) yang terdapat dalam pasir, melalui reaksi:
SiO2(s) + 2C(s) Si(s) + 2CO(g)

Persenyawaan Silikon

sebuah senyawa silikon

Silikon sangat cenderung bersenyawa dengan Oksigen membentuk ikatan yang kuat
dan stabil. Kenyataannya, senyawa silikon di alam berupa oksida dalam berbagai mineral.
Silikon adalah unsur elektronegatif, tetapi tidak dapat membentuk ikatan (ikatan rangkap)
baik sesamanya maupun dengan atom Oksigen. Akibatnya, satu atom Silikon harus berikatan
tunggal dengan empat atom Oksigen. Satu atom Oksigen harus menerima dua elektron untuk
berpasangan, satu dengan Silikon dan satu lagi dengan yang lain misalnya H, atau menerima
elektron bebas sehingga membantuk ion negatif.2[8]
Asam ortosilikat tidak dapat diisolasi, sehingga oksida silikat yang stabil dalam
bentuk ion negatif (anion). Struktur ion ortosilikat (Si ) adalah tetrahedral. Dua ortosilikat
dapat bergabung mengeluarkan satu molekul air menjadi pirosilikat.
Penggabungan itu dapat berlanjut membentuk rantai panjang dengan rumus (Si )n.
penggabungan dapat pula berbentuk lingkaran enam dengan rumus Si6 , berbentuk rantai
rangkap dengan rumus (Si4 )n, dan berupa bidang yang tiap sudutnya berumus Si2 .
Dari berbagai jenis ion itu ditemukan bermacam-macam jenis silikat, seperti:
1. gem zircom mengandung kristal ZnSiO4
2. diaposit mengandung CaMg(SiO3)2
3. benzil, yaitu Be3Al2(Si16O8)
4. asbeston, yaitu mengandung {Ca2Mg5(Si4O11)2(OH)2}n
5. albit, yaituNaAlSi3O8
6. kaca, mika, dan semen adalah bahan-bahan campuran yang dibuat dari senyawa-senyawa
silikon seperti diatas, tetapi tidak dapat dituliskan rumusnya satu per satu.3[9]
Secara umum persenyawaan silikon itu adalah:
1. Silikon membentuk senyawa biner yang disebut dengan silisida dengan banyak elemen
logam yang nantinya menghasilkan senyawa dengan sifat yang beragam, misalnya
magnesium silisida, Mg2Si yang sangat reaktif sampai senyawa tahan panas seperti
molibdenum disilisida, MoSi2.
2. Silikon karbida, SiC (karborundum) adalah padatan keras, tahan panas.
3. Silana, SiH4, adalah gas firoforik dengan struktur tetrahedral mirip dengan metana, CH4.
Senyawa murninya sendiri tidak bereaksi dengan air ataupun asam lemah, tapi jika bereaksi
dengan alkali maka langsung akan terjadi hidrolisis. Ada kelompok silikon hidrida terkatenasi
yang membentuk senyawa yang homolog, SinH2n+2 dengan n berkisar 28. Semua senyawa
ini mudah terhidrolisis dan tidak stabil, terutama pada senyawa suku tinggi.
4. Disilena, senyawa yang berisi ikatan rangkap dua silikon-silikon (mirip alkena) dan secara
umum sangat reaktif, memerlukan gugus subtituen yang besar untuk menstabilkannya.
Disilena, senyawa dengan silikon-silikon rangkap tiga pertama kali didapatkan tahun 2004,
meski senyawanya berbentuk non-linear, ikatannya tidak sama dengan alkuna.
5. Tetrahalida, SiX4, adalah senyawa yang dapat dibentuk dengan semua halogen. Silikon
tetraklorida, misalnya, dapat bereaksi dengan air, tak sama dengan homolognya, karbon
tetraklorida Silikon dihalida dapat dibentuk dengan reaksi dengan suhu tinggi antara silikon
dan tetrahalida; dengan struktur yang serupa dengan karbena sehingga senyawa ini adalah
senyawa reaktif. Silikon difluorida terkondensasi untuk membentuk senyawa polimer(SiF2)n.
6. Silikon doksida adalah padatan tahan panas berbentuk kristal; mineral yang paling umum
adalah quartz. Pada mineral quartz, setiap atom silikon dikelilingi oleh empat atom oksigen
yang menjembatani atom silikon lainnya untuk membentuk kisi tiga dimensi. Silika dapat
larut dalam air pada suhu tinggi untuk membentuk senyawa asam monosilikat, Si(OH)4.
Silikon dioksida tidak larut dalam air dan tidak bereaksi dengan air. Tetapi oksida ini
memiliki sifat-sifat asam karena bereaksi dengan basa pekat.
SiO2(s) + 2 NaOH(aq) Na2SiO3(aq) + H2O(l)4[10]
Silikon terbakar langsung menjadi silikon dioksid, SiO2 atau bereaksi dengan FeO
menghasilkan produk yang sama:
Si + O2 SiO2
2FeO + Si 2Fe + SiO25[11]

7. Dengan kondisi yang sesuai, asam monosilikat dapat terpolimer untuk membentuk asam
silikat yang lebih kompleks, muali dari senyawa kondensasi paling sederhana, asam disilikat
sampai struktur kompleks yang menjadi basis banyak mineral silikat yang disebut asam
polisilikat.
Kecepatan pergantian tulang sangatlah penting. Jika keluar dari keseimbangannya
maka akan menghasilkan kehilangan massa tulang dan osteoporosis. Banyak peneliti saat ini
mengacu kepada kecepatan pergantian tulang pasien wanita sebagai indikator dari
osteoporosis. Ketika pengukuran dilakukan pada volume total tulang trabecular tikus, para
peneliti menemukan bahwa tikus yang indung telurnya diangkat dan tidak diterapi apa-apa
memiliki kehilangan massa tulang sebesar 50%, dibandingkan dengan tikus-tikus yang
menjalani operasi gadungan. Pada kelompok lain yang indung telurnya diangkat namun
diberi estradiol, kehilangan massa tulang sebesar 8%, dan ketika silicon diberikan pada 1 mcg
untuk setiap gram berat badan, menghasilkan kehilangan massa tulang sebesar 42%.
Walaupun suplementasi silicon tidaklah mengurangi kehilangan massa tulang secara berarti,
namun dapat dipertimbangkan untuk menggunakan suplementasi silicon bersamaan dengan
terapi sulih hormon untuk mencegah osteoporosis.
Silicon juga terkonsentrasi di dalam jaringan penghubung pembuluh darah, tulang
rawan, rambut dan kulit. Oleh karena itu, para peneliti percaya bahwa silicon memainkan
peran penting didalam jalinan struktur dinding pembuluh darah dan tulang. Atherosclerosis
(Penyumbatan dan pengerasan arteri yang disebabkan oleh plak kolesterol dan pertumbuhan
jaringan arteri yang abnormal) secara signifikan menurunkan tingkat silicon didalam dinding
arteri. Tingkat silicon berkurang persis sebelum plak terbentuk, dimana hal ini menunjukkan
bahwa defisiensi silicon tidak bisa dipisahkan dari kelemahan dinding pembuluh darah.
Ada begitu banyak faktor, termasuk nutrisi, hormon, olah raga, merokok, minum
alkohol dan genetik yang berperan didalam penyakit osteoporosis dan penyakit
cardiovaskular pada manusia. Pencegahan terhadap penyakit-penyakit kronis ini
membutuhkan nutrisi, termasuk silicon. Daftar makanan dan nutrisi yang direkomendasikan
bagi penderita osteoporosis secara mencolok menyerupai apa yang direkomendasikan bagi
penderita penyakit cardiovaskular Hal ini bukanlah suatu hal yang mengejutkan, karena
tulang dan arteri, keduanya merupakan jaringan penghubung (connective tissues). Secara
keseluruhan, informasi ini memperkuat argumentasi bahwa kebutuhan nutrisi manusia
didasari pada diet Paleolitik. Penyakit osteoporosis dan kardiovaskular keduanya merupakan
penyakit yang diakibatkan oleh penggunaan nutrisi modern barat.

2. Bagi Tumbuhan
Unsur bermanfaat merupakan unsur yang berguna bagi pertumbuhan tanaman tetapi
tidak memenuhi kaidah unsur hara esensial karena jika unsur ini tidak ada, pertumbuhan
tanaman tidak akan terganggu. Unsur-unsur yang termasuk menguntungkan bagi tanaman
adalah Natrium (Na), Cobalt (Co), Chlor (Cl), dan Silikon (Si).
Silikon (Si) merupakan unsur kedua terbanyak setelah oksigen (O) dalam kerak bumi
dan Silikon juga berada dalam jumlah yang banyak pada setiap tanah.
Beberapa kajian menjelaskan bahwa Silikon memiliki beberapa peran penting
terhadap tanaman tertentu seperti padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dan tebu
(Saccharum officinarum). Tebu merupakan salah satu monokotil akumulator Si yaitu
tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Selama pertumbuhan (1
tahun), tebu menyerap Si sekitar 500-700 kg per ha lebih tinggi dibanding unsur-unsur
lainnya.
Silikon dapat memberikan efek positif bagi tanaman tebu melalui dua hal yaitu
pengaruh tak langsung pada tanah dengan meningkatkan ketersediaan P dan pengaruh
langsung pada tanaman, seperti meningkatkan efisiensi fotosintesa, menginduksi ketahanan
terhadap cekaman biotik dan abiotik seperti hama dan penyakit, keracunan Fe, Al, dan Mn,
mengurangi kerobohan dan memperbaiki erectness (ketegakan) daun dan batang, serta
memperbaiki efisiensi penggunaan air. Untuk kedepannya, diharapkan pengetahuan tentang
peranan unsur-unsur bermanfaat lainnya, seperti Natrium (Na), Cobalt (Co), Selenium (Se),
dan Vanadium (Va), perlu dikembangkan dan disebarluaskan agar dapat meningkatkan
produksi tanaman pertanian.

3. Bagi Hewan
Percobaan laboraturium pada anak ayam dan anak tikus menunjukkan bahwa silikon
sangatlah penting bagi pertumbuhan kerangka tubuh yang normal. Tulang adalah sebuah
materi yang fleksibel yang terbuat dari kristal apatite (Mineral Kalsium-Fosfor) yang
tertanam di dalam matriks protein yang mengandung Kolagen dan Glycosaminoglycans.
Silicon berperan penting didalam pengembangan awal tulang ketika matriks protein
dibangun. Substansi ini juga meningkatkan mineralisasi tulang dan deposit kalsium di dalam
tulang, yang berarti tulang akan bertumbuh dengan cepat dan kuat.

E. Sumber Silikon
Silikon terdapat di matahari dan bintang-bintang dan merupakan komponen utama
satu kelas bahan meteor yang dikenal sebagai aerolites. Ia juga merupakan komponen
tektites, gelas alami yang tidak diketahui asalnya.
Jumlah Silikon di kulit bumi sekitar 25%, merupakan elemen terbanyak setelah
oksigen. Sebanyak 95% dari bebatuan di kerak bumi merupakan senyawa Silikat. Banyak
senyawa Silikat yang merupakan senyawa Alimino Silikat, yang terbentuk dari senyawa
Silikat dimana sebagian atom Si telah diganti dengan atom Al. Senyawa Alumino Silikat
dapat dibedakan menurut pembentukannya.6[7]
Silikon tidak ditemukan bebas di alam, tetapi muncul sebagian besar sebagai oksida
dan sebagai silikat. Pasir, quartz, batu kristal, amethyst, agate, flint, jasper dan opal adalah
beberapa macam bentuk silikon oksida. Granit, hornblende, asbestos, feldspar, tanah liat,
mica, dan sebagainya yang merupakan contoh beberapa mineral silikat.
Silikon dipersiapkan secara komersil dengan memanaskan silika dan karbon di dalam
tungku pemanas listrik, dengan menggunakan elektroda karbon. Beberapa metoda lainnya
dapat digunakan untuk mempersiapkan unsur ini. Amorphous silikon dapat dipersiapkan
sebagai bubuk cokelat yang dapat dicairkan atau diuapkan. Proses Czochralski biasanya
digunakan untuk memproduksi kristal-kristal silikon yang digunakan untuk peralatan
semikonduktor. Silikon super murni dapat dipersiapkan dengan cara dekomposisi termal
triklorosilan ultra murni dalam atmosfir hidrogen dan dengan proses vacuum float zone.

F. Teknik Ekstraksi Silikon


Teknik pembuatan silikon itu terbilang sederhana. Mineral silika yang telah
dimasukkan ke dalam larutan kalsium klorida (CaCl) dipanaskan hingga suhu 850o Celsius.
Atom oksigen yang ada di dalam silika akan berubah menjadi ion oksida. Akibatnya, secara
perlahan silika akan menjadi silikon. "Ini cara terbaik dan termurah untuk membuat silikon,".
Sebelumnya, teknologi pembuatan silikon terbilang rumit. Selain memanfaatkan silika,
beberapa unsur seperti seng (Zn), besi (Fe), dan timbel (Pb) harus digunakan dalam reaksi
kimiawi pembuatannya. Proses ini baru berjalan pada suhu yang sangat tinggi (2.000o
Celsius).
Cara lain untuk memperoleh silikon salah satunya melalui proses berikut:
1. Proses reduksi ini dilangsungkan di dalam tungku listrik pada suhu 3000 C. Reaksi yang
Silikon dibuat dengan mereduksi kuarsa (quartz) atau sering disebut juga dengan silika
ataupun silikon dioksida dengan kokas (C). terjadi adalah:
SiO2(l) + 2C(s) Si(l) + 2CO2
2. Silikon yang diperoleh kemudian didinginkan sehingga diperoleh padatan silikon. Namun
silikon yang diperoleh dengan cara ini belum dalam keadaan murni. Agar diperoleh silikon
dalam bentuk murni diawali dengan mereaksikan padatan silikon yang diperoleh melalui cara
di atas direaksikan dengan gas klorin (Cl2), sesuai reaksi berikut:
Si(s) + Cl2(g) SiCl4(g)
3. Gas SiCl4 ini mememiliki titik didih 58 C. Uap yang terbentuk kemudian dilewatkan melalui
sebuah tabung panas berisi gas H2 sehingga terbentuk Si, berikut reaksinya:
SiCl4(g) + 2H2(g) Si(s) + 4HCl(g)
4. Padatan Si yang terbentuk berupa batangan yang perlu dimurnikan lebih lanjut denan cara
pemurnian zona (zona refining), seperti pada gambar berikut.
Pada pemurnian zona batangan silikon tidak murni secara perlahan dilewatkan ke
bawah melalui kumparan listrik pemanas yang terdapat pada zona lebur. Karena pemanasan
maka batang silikon tidak murni akan mengalami peleburan.
Seperti pada sifat koligatif larutan tentang pemurnian titik lebur larutan dimana titik
lebur larutan adalah lebih rendah dibandingkan titik lebur pelarut murni. Pemurnian silikon
anolog dengan hal tersebut, silikon murni di anggap sebagai pelarut sedangkan leburan
silikon yang mengandung pengotor dianggap sebagai larutan. Berdasarkan sifat koligatif
larutan maka titik lebur silikon murni akan akan lebih tinggi dibanding titik lebur silikon
yang tidak murni (bagian yang mengandung pengotor).
Hal ini menyebabkan pengotor cenderung mengumpul disilikon yang mengandung
pengotor (bagian atas pada zona peleburan). Selama permurnian zona berlangsung maka
bagian bawah yang merupakan silikon murni akan bertambah banyak sedangkan bagian atas
semakin sedikit. Pengotor yang ada akan terkonsentrasi pada bagian yang sedikit tersebut.
Setelah leburan mengalami pembekuan maka akan diperoleh suatu batangan dimana
salah satu ujung merupakan silikon paling murni sedangkan silikon yang lain merupakan
silikon yang dipenuhi dengan pengotor atau bagian silikon yang paling tidak murni.
Walaupun demikian terkadang bagian yang paling murni dari silikon ada pada bagian atas
sedangkan bagian yang paling tidak murni berada pada bagian bawah. Bagian yang murni
dan tidak murni dapat dipisahkan dengan cara pemotongan
6. Silikon (Si)

Unsur Silikon (Si)

Silicon murni digunakan sebagai semi konduktor dalam peralatan elektronik, seperti
kalkulator, computer, radio, dan sel solar (batrey Energi matahari). Kegunaan silicon yang
lain yaitu sebagai silica gel yang berfungsi menyerap uap air karena bersifat higokofis
(mudah menyerap air). Silicon juga menyusun senyawa yang digunkanan untuk membuat
kaca dan gelas. Polimer silicon yang terdiri atas monomer SiCH3 bersifat lentur sehingga
digunakan untuk membuat jaringan tubuh palsi seperti hidung palsu.

Senyawa Silikon(Si)

Senyawa silicon digunakan dibanyak industri. Selika dan silikat digunakan untuk membuat
gelas, keramik, porselin, dan semen silicon yang bereaksi dengan karbon membentuk karbida
(SiC) yang bersifat inert, sangat keras dan tidak dapat melebur, banyak digunakan dalam
peralatan pemotongan dan pengampelas. Silica gel bersifat higrokopis sehinngga banyak
digunakan untuk pengering dalam berbagai macam produk.

Dampak Penggunaan Silikon ( Si)

Silikon dalam bentuk unsur maupun senyawa yang tidak larut dalam air. Secara alami
keberadaan silicon di alam tidak memberikan dampak negatif yang berarti bagi kesehatan dan
lingkungan. Namun saat ini silicon banyak disalah gunakan oleh kaum wanita yang merasa
tidak nyaman dengan kondisi fisiknya. Misalnya, polimer silicon, (SiCH2)n, digunakan untuk
mengubah bentuk jaringan hidung, bibir dan panyudara. Tindakan ini ibarat menanam bom
waktu di tubuh sendiri karena lambat laun silicon akan merusak jaringan tubuh.