Anda di halaman 1dari 48

ABSTRAK

Upaya Memperkecil Tingkat Kenakalan Remaja SMP Negeri 1 Terisi Dengan


Diadakannya Berbagai Kegiatan Rohani Sesuai Dengan Visi dan Misi Sekolah .
Penelitian ini dilatar belakangi maraknya kenakalan remaja yang meliputi semua
perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh
remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitar
nya. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-
18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun
masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa
transisi. Jenis kenakalan remaja secara umum biasanya adalah: penyalahgunaan
narkoba, seks bebas, tawuran antara pelajar.
Sehubungan dengan hal tersebut maka Penulis mengadakan penelitian di
lokasi SMP Negeri 1 Terisi dengan judul : Upaya Memperkecil Tingkat Kenakalan
Remaja SMP Negeri 1 Terisi Dengan Diadakannya Berbagai Kegiatan Rohani Sesuai
Dengan VISI dan Misi Sekolah. Penelitian ini dilator belakangi dengan adanya
beberapa penyimpangan yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi
diantaranya: Banyaknya ketidak hadiran (absensi), adanya perkelahian, pelanggaran
tata tertib, bolos Sekolah dan lain-lain.
Tujuan penelitian untuk mengetahui (a) sejauh mana kenakalan remaja yang
dilakukan oleh siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi (b) apa aktivitas siswa siswi SMP
Negeri 1 Terisi dalam kesehariannya (c) apa solusi yang dapat dilakukan untuk
memenghilangkan atau setidaknya memperkecil kenakalan remaja yang sedang
marak di luar lingkungan sekolah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan
oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal: Krisis dan Kontrol diri yang lemah identitas. Faktor eksternal:
Keluarga, teman sebaya dan komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Penelitian dilakukan dengan metode Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan dua
siklus yang masing-masing siklusnya terdiri dari tahap (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Melalui teknik observasi dan angket yang disebarkan di lingkungan SMP
Negeri 1 Terisi dengan alur siklus diketahui bahwa dengan berbagai kegiatan rohani
misalnya: tilawah Al-Quran, tausiyah jumat, idul kurban, yang diadakan di sekolah
dapat memperkecil kenakan remaja khususnya siswa- Siswi SMP Negeri 1 Terisi.
Kegiatan tersebut sangat menunjang dan berhasil memperkecil kenakalan
remaja yang ada di SMP Negeri 1 Terisi sesuai dengan Visi dan Misi sekolah bahwa
Iman dan Taqwa itu nomor satu harus di terapkan. Sebagai bukti dapat dilihat adanya
keberhasilan dalam peningkatan moral di lingkungan SMP Negeri 1 Terisi.

0
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan pilar utama dalam menggapai kemajuan masa

depan suatu bangsa. Bangsa yang ingin maju perlu meningkatkan mutu sumber

daya manusia untuk menggerakkan roda pembangunan melalui sistem

pendidikannya. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sistem

pendidikan antara lain dilakukan melalui proses pendidikan yang terencana,

terarah, intensif, efektif dan efisien, sehingga diharapkan setiap individu diberi

kesempatan untuk mengembangkan semua potensi pribadinya. Semua tuntutan

ini juga harus menjadi perhatian yang serius dari semua komponen pendidikan.

sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pada pasal 3 yaitu:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Upaya pengembangan sumber daya manusia yang dimaksudkan adalah

mengembangkan segenap potensi peserta didik dengan segala dimensi

kemanusiaannya. Sumber daya manusia yang cerdas akan berdampak kepada

corak kehidupan masyarakat yang cerdas sehingga diharapkan dapat menjawab

1
setiap tantangan dalam perubahan yang terjadi ditengah kehidupan masyarakat

dewasa ini

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki tanggung jawab

yang besar dalam mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa sehingga

akan melahirkan insan yang cerdas intektual, emosional, spiritual dan dimensi

sosial sehingga akan menempatkan posisisnya yakni sebagai pribadi yang utuh,

yaitu makhluk individu dan makhluk sosial. Karena justru kelompok sosial inilah

yang menjadikan manusia dapat tumbuh sebagaimana wajarnya. Seiring dengan

pelaksanaan tanggung jawab tersebut maka komponen sekolah terutama guru

mempunyai peranan penting dalam menggali dan membimbing siswa untuk

dapat mengembangkan segenap potensi dan mendapatkan hak-haknya sebagai

peserta didik, seperti mendapatkan bimbingan dalam menentukan masa depan

dan cita-cita dari institusinya.

Kondisi yang ditemukan selama ini di SMP Negeri 1 Terisi kurangnya

pelayanan dan bimbingan guru kepada peserta didik, masih belum maksimal

terbukti masih banyak siswa-siswi yang melakukan tindakan yang dapat

dikatakan menyimpang dan hal ini berdampak dengan keberadannya yaitu

menjadi nakal dan dapat disebut dengan kenakalan remaja.

Secara umum kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi batas

yang sewajarnya. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal rokok,

narkoba, free sex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah

tidak dapat dipungkuri lagi, kita dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang.

2
Dan kita juga sering mendengar adanya kelompok Geng Motor yang betul-betul

tidak punya hati yang begitu tega menyakiti bahkan sampai membunuh.

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari

norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan

merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan

sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia

tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum

cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi. Jenis

kenakalan remaja secara umum biasanya adalah: penyalahgunaan narkoba, seks

bebas, tawuran antara pelajar.

Melihat keadaan seperti ini sesuai dengan Visi dan Misi SMP Negeri 1

Terisi yaitu TERWUJUDNYA SEKOLAH YANG INOVATIF,

KOMPETEN DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

(IPTEK) BERDASARKAN BERDASARKAN IMAN DAN TAQWA.

Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif dan efisien,

meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kualitas

disiplin belajar mengajar, dan layanan administrasi, mewujudkan hubungan

kerjasama yang harmonis, kondisif baik di dalam lingkungan sekolah maupun di

luar sekolah, meningkatkan sumberdaya manusia yang handal, mewujudkan

lingkungan sekolah yang bersih, indah, nyaman dan aman

Maka Penulis merasa perlu mengadakan penelitian di lokasi SMP Negeri

1 Terisi dengan judul: Upaya Memperkecil Tingkat Kenakalan Remaja SMP

Negeri 1 Terisi Dengan Diadakannya Berbagai Kegiatan Rohani Sesuai Dengan

3
Visi dan Misi Sekolah. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya beberapa

penyimpangan yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi

diantaranya; banyaknya ketidak hadiran (Absensi), adanya perkelahian,

penyimpangan penggunaan HP, pelanggaran tata tertib, bolos dan sebagainya.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat dirumuskan

bahwa yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah berbagai kegiatan kerohanian (Keagamaan) yang diadakan di SMP

Negeri 1 Indramayu dapat memperkecil kenakalan remaja?

2. Apakah Visi dan Misi Sekolah dapat mewujudkan upaya memperkecil

tingkat kenakalan remaja khususnya di SMP Negeri 1 Terisi?

C. PEMECAHAN MASALAH

Sebelum menentukan tindakan apa yang dianggap dapat meningkatkan dan

mewujudkan VISI dan MISI SMP Negeri 1 Terisi, terlebih dahulu penulis melakukan

pengkajian berbagai aktivitas siswa dan guru, diskusi dengan pakar dan teman

sejawat dan guru-guru. Hasilnya diperoleh beberapa alternative tindakan yang

dihipotesiskan dapat memperkecil kenakalan remaja dan mewujudkan VISI , MISI

SMP Negeri 1 Terisi. Alternatif tersebut adalah melalui monitoring terhadap

kegiatan-kegiatan yang ada di SMP Negeri 1 Terisi dan mengikuti acara pada setiap

kegiatan kerohanian (keagamaan) di SMP Negeri 1 Terisi.

4
D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Untuk memperkecil bahkan menghilangkan tingkat kenakalan remaja

khususnya siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi.

2. Untuk mewujudkan VISI dan MISI SMP Negeri 1 Terisi sebagai motivasi

untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja khususnya di SMP Negeri 1

Terisi?

E. MANFAAT HASIL PENELITIAN

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan ilmu

manajen pendidikan khususnya manajemen (pengelolaan Kesiswaan)

2. Manfaat Praktis

Untuk memperkecil dan menanggulangi tingkat kenakalan remaja di

SMP Negeri 1 Terisi sebagai solusi bagi Pengelolaan Kesiswaan:

a. Sebagai acuan untuk peningkatan dan keberhasilan dalam mewujudkan

visi dan misi Sekolah

b. Meningkatkan kepedulian terhadap prilaku siswa-siswi SMP Negeri 1

Terisi

c. Meningkatkan kebersamaan guru dalam menghadapi masalah kenakalan

remaja di SMP Negeri 1 Terisi

d. Meningkatkan kinerja sekolah dan nilai akreditasi sekolah

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP KENAKALAN REMAJA

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku

remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam

masyarakatnya. Kartini Kartono (1988: 93) mengatakan remaja yang nakal itu

disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental

disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga

perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut

kenakalan. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan

bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang

bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang

berlaku dalam masyarakat.

Singgih D. Gumarso (1988: 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan

remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma

hukum yaitu: (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar

dalam undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai

pelanggaran hukum; (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan

penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama

dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. Menurut

bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga

tingkatan; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos

6
sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada

pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai motor/mobil tanpa SIM,

mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti

penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll.

Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

Kartono, ilmuwan sosiologi; Kenakalan Remaja atau dalam bahasa

Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis

sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.

Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.

Santrock ;"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja

yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

B. KENAKALAN REMAJA

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari

norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan

merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-

18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak,

namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada

masa transisi.

Penyebab terjadinya kenakalan remaja : Perilaku 'nakal' remaja bisa

disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar

(eksternal).

7
1. Faktor Internal

a. Krisis Identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja

memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya

perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya

identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai

masa integrasi kedua.

b. Kontrol Diri Yang Lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah

laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret

pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui

perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan

kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

2. Faktor eksternal

a. Keluarga

Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota

keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku

negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti

terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau

penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya

kenakalan remaja.

b. Teman sebaya yang kurang baik

8
c. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Berdasarkan hasil penelitian Masngudin HMS, peneliti pada Puslitbang

UKS, Badan Litbang Sosial Departemen Sosial RI. Yang tergolong nakal

adalah:

1. Berbohong 13. Mencuri

2. Pergi keluar rumah tanpa pamit 14. Mencopet

3. Keluyuran 15. Menodong

4. Begadang 16. Menggugurkan Kandungan

5. Membolos sekolah 17. Memperkosa

6. Berkelahi dengan teman 18. Berjudi

7. Membaca buku porno 19. Menyalahgunakan narkotika

8. Melihat gambar porno 20. Membunuh

9. Menonton film porno 21. Hubungan sex diluar nikah


Mengendarai kendaraan bermotor
10. 22. Kumpul kebo
tanpa SIM
11. Buang sampah sembarangan 23. Minum-minuman keras

12. Berkelahi antar sekolah 24. Kebut-kebutan/mengebut

Ciri-ciri kenakalan remaja adalah tidak mau belajar karena yang mereka

fikirkan hanyalah bersenang-senang dan berpesta pora. Tidak mau di nasehati

mereka akan marah dan memaki-maki, mereka merasa kita hanya mengganggu

mereka.

9
Dampak negatif kenakalan remaja adalah bodoh. mereka menjadi,

bodoh karena mereka tidak mau belajar, tidak pernah belajar dan tidak mau

memikirkan pelajaran, tidak dapat mengatur waktu dengan baik. Remaja tidak

pernah mempergunakan waktunya dengan baik. Karena waktunya habis

terbuang untuk bermain-main dan bersenang-senang tidak pernah memikirkan

pelajaran sekolah. Dan juga dapat merusak positif dan tidak pernah melakukan

ibadah akibatnya remaja menjadi nakal dan melakukan perbuatan yang tidak

baik.

C. KEROHANIAN

Kerohanian atau rohani, dalam maksud merujuk kepada perkara-perkara

yang berkaitan dengan roh. Manakala dalam maksud yang lebih luas, membawa

maksud semangat intrinsik yang dipunyai oleh segala jirim di dunia. Walaupun

begitu rohani selalu dikaitkan dengan perasaan dalaman manusia yang

melibatkan emosi sendiri dan penaakulan strategik.

Kesucian rohani sangat ditekankan dalam agama. Kesucian rohani

membawa maksud keadaan mental yang logik dan mementingkan kebaikan

manusia sejagat dan barulah kebaikan individu itu sendiri. Rohani setiap individu

merupakan penentu moral sosial masyarakat itu dan penetapan undang-undang.

Undang-undang penting dalam mengawal rohani manusia yang dijadikan

bercampur baur di antara emosi positif dan emosi negatif dengan intuisi dan

objektif bagi mencorakkan secara optimum manusia yang sempurna dari segi

kelakuan dan personaliti.

10
Rohani yang kacau dikaitkan juga dengan emosi negatif dari segi

psikologi. Manakala rohani yang sempurna selalu juga dikaitkan dengan aktiviti

beragama individu yang tekun dan perbuatan baik yang banyak dilakukan oleh

individu itu. Walaupun demikian, dari segi perspektif umum, individu yang

mempunyai rohani yang baik diklasifikasikan oleh penentuan dan kepercayaan

umum mengenai hal kelakuan kebaikan individu itu secara total. Maksud

individiu yang mempunyai kerohanian yang tinggi pada pandangan masyarakat

adalah individu yang tidak pernah melakukan kesalahan langsung pada

pandangan masyarakat walaupun ironinya setiap individu pasti melakukan

kesalahan. Tetapi bagi individu kerohanian tinggi ini, emosi dan kelakuan negatif

diperuntukkan untuk dilakukan ketika individu berada jauh dari masyarakat

ataupun tidak ditonjolkan kesalahannya di kalangan masyarakat.

D. VISI DAN MISI SEKOLAH

Visi adalah suatu pandangan jauh tentang sekolah, tujuan sekolah dan apa

yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan

datang. Visi itu tidak dapat dituliskan secara lebih jelas menerangkan detail

gambaran sisten yang ditujunya dikarenakan perubahan ilmu serta situasi yang

sulit diprediksi selama masa yang panjang tersebut. Beberapa persyaratan yang

hendaknya dipenuhi oleh suatu pernyataan visi:

Orientasi kedepan

Tidak dibuat berdasarkan kondisi sekolah saat ini

Mengekspresikan kreatifitas

11
Berdasar pada prinsip nilai yang mengandung penghargaan bagi masyarakat

Pengertian Misi adalah pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan

oleh sekolah dalam usahanya mewujudkan Visi. Misi sekolah adalah tujuan dan

alas an keberadaan sekolah tersebut. Misi juga akan memberikan arah sekaligus

batasanproses pencapaian tujuan

12
BAB III

METODE PENELITIAN

A. METODE PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian

Tindakan Sekolah (PTS). PTS merupakan suatu prosedur penelitian yang

diadaptasi dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Panitia Pelaksana Pendidikan

dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat, 2009 : 73). Penelitian tindakan

sekolah merupakan (1) penelitian partisipatoris yang menekankan pada tindakan

dan refleksi berdasarkan pertimbangan rasional dan logis untuk melakukan

perbaikan terhadap suatu kondisi nyata; (2) memperdalam pemahaman terhadap

tindakan yang dilakukan; dan (3) memperbaiki situasi dan kondisi sekolah /

pembelajaran secara praktis (Depdiknas, 2008 : 11-12). Secara singkat, PTS

bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah-

sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut

bisa dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan.

Masalah nyata yang ditemukan di sekolah, khususnya adalah adanya

siswa yang masih melakukan penyimpangan social yang dapat dikatakan dengan

kenakalan remaja . Prosedur penelitiannya dilakukan secara siklikal. Satu siklus

dimulai dari (1) perencanaan awal, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4)

refleksi.

13
1. Perencanaan

Yaitu membuat rencana perbaikan berdasarkan adanya masalah atau

kondisi yang menuntut diperbaiki. Hal ini meliputi persiapan bahan-bahan

yang diperlukan dalam tahap pelaksanaan, menentukan siapa (subyek

penelitian dan teman berkolaborasi), kapan (jadwal pelaksanan), dan tempat

pelaksanaan.

2. Pelaksanaan (Action)

Yaitu melakukan tindakan substantif penelitian melalui intervensi

skala kecil guna memperbaiki kondisi yang diteliti.

3. Observasi (Observation)

Yaitu kegiatan mengamati, mengenali sambil mendokumentasikan

(mencatat dan merekam) terhadap proses, hasil, pengaruh dan masalah baru

yang mungkin saja muncul selama proses pelaksanaan tindakan.

4. Refleksi (Reflection)

Yaitu melakukan renungan, kajian reflektif diri secara inquiri,

partisipasi diri (partisipatoris), kolaborasi terhadap latar alamiah dan

impiikasi dari suatu tindakan, dengan melakukan analisis terhadap rencana

dan tindakan yang sudah dilaksanakan dan hasil yang dicapai, dan apa yang

belum dapat atau sempat dilakukan.

Hasil dari siklus pertama ini menjadi masukan bagi pelaksanaan siklus

kedua yang terdiri dari perulangan keempat langkah yang ada pada siklus

pertama. Hal ini terjadi karena dimungkinkan setelah melalui siklus pertama,

peneliti menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas,

14
sehingga perlu dipecahkan melalui siklus selanjutnya. Dengan demikian,

berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama peneliti akan

kembali melakukan langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi

pada siklus kedua, dan seterusnya, dan . . . berhenti apabila telah berdampak

positif terhadap proses dan hasil yang diperoleh dari tindakan tersebut berhasil

(Sudjana, 2009 : 8).

Jika digambarkan , siklus kerja PTS adalah sebagai berikut :

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan

Pengamatan

Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Sekolah

B. SUBJEK PENELITIAN

Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi yang jumlahnya 20

guru dan 32 siswa.

15
C. DEFINISI OPERASIONAL

1. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-

norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan

merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

2. Kerohanian atau rohani, dalam maksud merujuk kepada perkara-perkara

yang berkaitan dengan roh. Manakala dalam maksud yang lebih luas,

membawa maksud semangat intrinsik yang dipunyai oleh segala jirim di

dunia. Walaupun begitu rohani selalu dikaitkan dengan perasaan dalaman

manusia yang melibatkan emosi sendiri dan penaakulan strategik.

3. Visi adalah suatu pandangan jauh tentang sekolah, tujuan sekolah dan apa

yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut pada masa yang akan

datang. Misi adalah pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh

sekolah dalam usahanya mewujudkan Visi. Misi sekolah adalah tujuan dan

alas an keberadaan sekolah tersebut. Misi juga akan memberikan arah

sekaligus batasanproses pencapaian tujuan

D. INSTRUMEN (ALAT) PENGUMPULAN DATA

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan

data adalah :

1. Lembar Observasi awal secara umum

2. Lembar Observasi guru terhadap siswa

3. Lembar observasi untuk Guru dan Siswa

4. Angket yang dibagikan pada Siswa

16
5. Hypnotherapy pada Siswa dan jawabannya

6. Wawancara (Diskusi) untuk mengetahui kesulitan apa yang terjadi pada

siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi sehingga mereka melakukan penyimpangan

social yang dapat digolongkan pada kenakalan remaja.

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

1. Observasi

Observasi adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk mengamati,

merekam, dan mendokumentasikan setiap indikator dari proses dan hasil

yang dicapai. Dalam observasi ini peneliti menggunakan lembar observasi

yang sudah diformat untuk diisi dengan membubuhkan tanda centang ()

pada kolom 1 5 pada aspek yang dinilai . Tujuan utama dari observasi ini

adalah untuk memantau persiapan, proses, hasil, dan dampak perbaikan dari

tindakan setiap siklus.

2. Angket

Alat untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sering

disebutkan secara umum nama kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang

terdapat dalam kuesioner, atau daftar pertanyaan tersebut terperinci dan

lengkap. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sesuai dengan keperluan data

yang diperoleh untuk penelitian.

3. Hypnotherapy

Terapi yang dilakukan pada subjek dalam hypnosis. Kata "hypnosis"

adalah kependekan dari istilah James Braid's (1843) "neuro-hypnotism",

17
yang berarti "tidurnya sistem syaraf". Orang yang terhipnotis menunjukan

karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas

adalah mudah disugesti. Hypnotherapy sering digunakan untuk

memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti

kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen

rasa sakit, dan perkembangan pribadi.

4. Wawancara (Diskusi)

Yang dimaksud wawancara di sini meliputi diskusi formal dan dialog

informal selama berlangsungnya PTS antara peneliti dengan guru dan siswa.

Hal ini untuk mengetahui pikiran yang tidak dapat digali melalui observasi.

5. Studi Dokumenter

Studi dokumenter diartikan sebagai usaha untuk memperoleh data

dengan jalan menelaah catatan-catatan yang disimpan sebagai dokumen atau

files. Teknik ini ditempuh untuk memperoleh data-data mengenai prilaku

yang dilakukan oleh siswa-siwa yang dapat tergolong pada sebutan

kenakalan remaja serta solusi apa yang telah diupayakan.

6. Studi Pustaka

Studi pustaka diartikan sebagai teknik untuk memperoleh data atau

informasi dari berbagai tulisan ilmiah baik cetak maupun elektronik yang

menunjang penelitian. Teknik ini ditempuh untuk memperoleh pengetahuan

yang mendalam mengenai masalah yang diteliti, terutama dalam menentukan

arah, metoda dan landasan teoritis penelitian.

18
F. LOKASI PENELITIAN (KONDISI SOSIAL)

Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Terisi. Waktu

pelaksanaan adalah sebagai berikut : Awal Pengamatan dimulai akhir semester 2

bulan Januari 2016. Dimulai pelaksanaan Siklus I pada minggu ke 4 bulan Juli

2016 , Siklus II dilaksanakan minggu kedua bulan Agustus 2017 dan berakhir

Nopember 2016. Dibantu dengan tiga guru dua sebagai observer yaitu guru

Bimbingan Konseling dan Koordinator TATIBSI, dan satu lagi guru IPS sebagai

kolaborasi dalam penggunaan hynotherapy.

19
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. ORIENTASI

Sebelum melakukan tindakan perbaikan, peneliti terlebih dahulu

melakukan kegiatan orientasi sebagai studi pendahuluan. Dalam kegiatan ini

siswa didiagnosissehingga peneliti menemukan adanya pelanggaran tata tertib

yang terjadi pada siswa-siswi SMP Negeri 1 Terisi yang dapat digolongkan pada

daftar kenakalan remaja . Demikian pula pada gurupun penulis mendiagnosis

sehingga menghasilkan bahwa masih banyak guru yang belum bahkan tidak

peduli pada apa yang terjadi pada seputar siswa.

Peneliti mengamati aktivitas Guru terhadap Siswa dalam setiap

pelanggaran yang terjadi pada siswa bagaimana respon guru terhadap masalah

pelanggaran tersebut khususnya dalam proses penanganan dan solusi akhir.

Kemudian mengevaluasi hal tersebut. Hasil pengamatan dan evaluasi kemudian

dijadikan bahan untuk mencari upaya perbaikan (terhadap tindakan) pada silkus

penelitian.

Dengan hasil pengamatan yang telah tercatat baik Guru maupun Siswa

maka ditemukan kondisi awal yaitu tentang kepedulian guru terhadap

pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh siswa belum baik dalam

mengidentifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa , seperti yang terdapat

pada gambar di bawah ini jka di masukkan dalam kategori nilai baru mendapat

nilai 4 artinya cukup .

20
OBSERVASI AWAL 1

NILAI
NO. ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4
Kepedulian guru terhadap pelanggaran-
1
pelanggaran yang dilakukan siswa
2 Identifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa

Jumlah centang 0 2 0 0
Nilai 1 2 3 4
Jumlah centang x Nilai 0 4 0 0
Nilai Total 4

Keterangan : Kategori nilai total


Sangat
Kurang Cukup baik
Nilai total minimum : 2 x 1 = 2 Baik
Nilai total maksimum : 2 x 4 = 8 1-2 3-4 5-6 7-8
Gambar 2: Observasi Awal

B. PELAKSANAAN TINDAKAN PERBAIKAN

1. Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus I

Dalam siklus kesatu ini dilakukan rangkaian kegiatan perencanaan,

pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

a. Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan meliputi :

1) Mempersiapkan bahan-bahan dasar rujukan yang perlu dikaji

sebelum penelitian dilakukan secara sistematis yang berhubungan

21
dengan ahlak mulia dan tujuan akhir dari keberhasilan sekolah

dalam kelulusan , yaitu :

a) Keputusan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0023/SK-

Pos/BSNP/XII/2016 yaitu tentang prosedur operasi standar

(POS) ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama dan

Madrasah Tsanawiyah (SMA/MTs) tahun pelajaran

20016/2017. Badan Sandar Nasional Pendidikan.

b) Yang tertera didalam lampiran Kriteria Lulus dari Satuan

Pendidikan nomor 2 berisi : Memperoleh nilai minimal baik

pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran (a) kelompok

mata pelajaran agama dan ahlak mulia , (b) kelompok mata

pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, (c) kelompok

mata pelajaran esetika, dan (d) kelompok mata pelajaran

jasmani, olahraga, dan kesehatan.

c) Penilaian akhir untuk masing-masing kelompok mata pelajaran

dilakukan oleh satuan pendidikan dengan mempertimbangkan

hasil penilaian peserta didik oleh pendidik.

d) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan

akhlak mulia dilakukan melalui pengamatan terhadap

perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan

afeksi peserta didik, serta melalui ulangan, dan /atau penugasan

untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

22
e) Pengamatan yang dilakukan untuk menilai kelompok mata

pelajaran agama dan akhlak mulia dapat berdasarkan indikator :

(1) Kerajinan melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang

dianut;

(2) Kerajinan mengikuti kegiatan keagamaan;

(3) Jujur dalam perkataan dan perbuatan;

(4) Mematuhi aturan sekolah;

(5) Hormat terhadap pendidik;

(6) Tertib ketika mengikuti pelajaran di kelas atau di tempat

lain;

(7) kriteria lainnya yang dapat dikembangkan oleh masing-

masing satuan pendidikan.

(8) Ulangan dan/atau penugasan dilakukan sekolah dengan

materi ujian berdasarkan kurikulum yang digunakan.

f) Hasil penilaian akhir terdiri dari dua aspek yang masing-

masing harus minimum baik:

(1) Hasil pengamatan terhadap perkembangan perilaku

minimum baik;

(2) Hasil ulangan dan/atau penugasan minimum baik.

g) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran

kewarganegaraan dan keperibadian dilakukan melalui

pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk

menilai perkembangan afeksi peserta didik dan keperibadian,

23
serta melalui ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur

aspek kognitif peserta didik.

h) Pengamatan yang dilakukan untuk menilai kelompok mata

pelajaran kewarganegaraan dan lepribadian dalat menggunakan

indikator.

(1) Menunjukkan kemauan belajar;

(2) Ulet tidak mudah menyerah ;

(3) Mematuhi aturan sosial;

(4) Tidak mudah dipengaruhi hal yang negatif;

(5) Berani bertanya dan menyampaikan pendapat;

(6) Kerjasama dengan teman dalam hal yang positif;

(7) Mengikuti kegiatan ekstra kurikuler satuan pendidikan;

(8) Kriteria lainnya yang dikembangkan oleh satuan

pendidikan.

(9) Ulangan, dan/atau penugasan dilakukan satuan pendidikan

dengan materi uijan berdasarkan kurikulum yang

digunakan.

(10) Hasil penilaian akhir dari dua aspek yang masing-masing

harus minimum baik;

(11) Hasil pengamatan terhadap perkembangan perilaku

minimum baik;

(12) Hasil ulangan dan/atau penugasan minimum baik.

24
i) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetikan

dilakukan melaui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan

sikap untuk menilan perkembangan afeksi dan ekspresi

psikomotorik peserta didik

j) Pengamatan yang dilakukan untuk menilai kelompok mata

pelajaran estetika dapat menggunakan indikator :

(1) apresiasi seni;

(2) kreasi seni;

k) Kriteria lainnya dapat dikembangan oleh satuan pendidikan.

l) Hasil penilaian akhir yang merupakan gabungan dari hasil

penilaian dari beberapa observasi ditentukan oleh satuan

pendidikan.

m) Penilaian hasil kelompok belajar jasmani, olah raga, dan

kesehatan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan

sikap untuk menilai menilai perkembangan psikomotorik dan

afeksi peserta didik.

n) Pengamatan yang dilakukan untuk menilai kelompok mata

pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan dapat

menggunakan indikator :

(1) Aktifitas dalam kegiatan olah raga di satuan pendidikan;

(2) Kebiasaan hidup sehat dan bersih;

(3) Tidak merokok;

(4) Tidak menggunakan narkoba

25
(5) Disiplin waktu;

(6) Ketrampilan melakukan gerak olah raga

(7) Kriteria lainnya dapat dikembangkan oleh satuan

pendidikan.

o) Ulangan, dan/atau penugasan dilakukan satuan pendidikan

dengan materi ujian berdasarkan kurikulum yang digunakan.

p) Hasil penilaian akhir terdiri dari dua aspek yang masing-

masing harus minimum baik;

q) Hasil pengamatan terhadap perkembangan perilaku minimum

baik;

r) Hasil ulangan dan /atau penugasan minimum baik.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003

tentang Sistim Pendidkan Nasional berfungsi untuk

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi

siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

Tuhan YME, berakhlak mulia, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan

bertanggung-jawab.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

26
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Penyelenggara pendidikan yang dikembangkan mencakup

empat aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual (untuk

memperteguh keimanan dan ketaatan, meningkatkan akhlak mulia,

budi pekerti atau moral dan kepemimpinan), kecerdasan intelektual

(membangun kompetensi dan kemandirian ilmu pengetahuan dan

teknologi), kecerdasan emosional (meningkatkan sensivitas, daya

apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi seni dan budaya ) dan

kecerdasan kinestatis (meningkatkan kesehatan, kebugaran daya

tahan, kesigapan fisik dan keterampilan kinestetis ).

2) Visi dan Misi SMP Negeri 1 Terisi

3) Buku-buku yang menunjang

4) Tata Tertib Siswa Tahun Pelajaran 2016/2017

5) Program Kerja Kesiswaan Tahun Pelajaran 2016/2017

6) Program Kerja Pembina Kerohanian SMP Negeri 1 Terisi

7) Mempersiapkan instrument penelitian berupa Obervasi a) Perhatian

dan kepedulian guru-guru dalam menangani masalah siswa b)

Aktivitas siswa dalam kesehariannya sehubungan visi dan misi

sekolah c) Dokumen-dokumen yang menunjang.

b. Pelaksanaan

Sebagaimana yang telah dijadwalkan, pada hari Jumat, 26

Maret 2017 pukul 08.00 :

27
1) Peneliti dan guru berdialog kurang lebih 20 menit mengenai

prilaku siswa akhir-akhir ini banyak sekali penyimpangan dan

cenderung kearah pada kenakalan remaja.

2) Peneliti dan guru bersama-sama mengamati dan mencatat

pelanggaran-pelanggaran apa saja yang terjadi pada siswa dan

tindakan apa yang sudah di upayakan oleh guru di siklus kesatu.

c. Observasi

Bersamaan berlangsungnya pelaksanaan mengamati guru dalam

menangani siswa , peneliti melakukan observasi dengan menggunakan

20 lembar observasi pada guru untuk menilai prilaku siswa sehubungan

dengan pelaksanaan VISI dan MISI Sekolah . Aspek yang dinilai secara

umum yaitu tentang siswa dalam melaksanakan tata tertib sekolah dan

mengikuti kegiatan-kegiatannya. Apakah mereka bertanggung jawab

dalam mengatasi masalah dan berani mengumukakan pendapat serta

sopan dan baik. Bagaimana kemampuan kerjasa dalam memnyelesaikan

program dan yang paling penting kenyamanan dan perasaan siswa

apakah at home di SMP Negeri 1 Terisi seperti format dibawah ini:

1) OBSERVASI UMUM
NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5 JML
1 Siswa aktif melaksanakan Tata Tertib Sekolah 13 4 3 70
Siswa bersemangat mengikuti kegiatan-
2 2 3 10 5 78
kegiatan
3 Siswa sangat menghargai waktu 11 7 2 71
Siswa dapat bertanggung jawab mengatasi
4 2 12 5 1 65
masalah
5 Siswa berani mengemukakan pendapat 1 16 3 81

28
6 Siswa berprilaku baik dan sopan 5 13 2 77
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman 2 3 14 1 74
8 Siswa mampu menyelesaikan program dg baik 1 8 11 70
9 Siswa merasa nyaman di sekolah 5 12 3 78
Selama di SMP Negeri 1 Terisi siswa merasa
10 1 5 9 5 78
at home
Julah Nilai 742
Nilai Akhir 74.2
Kategori Nilai
Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
Tinggi
50 60 61- 70 71 80 81- 90 91 100
Gambar 3. Format Observasi Guru terhadap siswa

Hasil evaluasi dari penilaian guru - guru terhadap siswa sesuai

dengan aspek-aspek yang diajukan ternyata memperoleh nilai 74.2,

artinya hanya ada pada kategori sedang jadi belum mencapai hasil nilai

tinggi atau sangat tinggi sehingga masih perlu diadakan obervasi khusus

guru dan siswa dengan minta bantuan pada dua guru sebagai observer

yaitu penulis mununjuk dari 1) guru Bimbingan dan Konseling 2)

Koordinator TATIBSI.

Dalam pengamatan lebih lanjut peneliti dibantu oleh observer

untuk mengobservasi beberapa aspek untuk guru dan siswa dalam

berperilaku di lingkungan sekolah pada khususnya.

2) OBSERVASI UNTUK GURU : (OBSERVER 1)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Guru aktif sebagai pertemanan dengan siswa
Mampu menciptakan suasana mendidik bagi
2
siswa
Selalu memonitor kegiatan siswa di lingkungan
3
sekolah
4 Mampu memberikan solusi yang dihadapi siswa

29
5 Perduli terhadap siswa dalam penggunaan HP
Perhatian pada siswa yang merokok, mencontek
6
dsb
7 Guru mendidik secara demokratis
8 Guru selalu mencatat jika ada pelanggaran siswa
9 Guru mampu memanfatkan waktu dengan efektif
10 Guru menegur siswa dengan senyum
Jumlah centang 0 2 8 0 0
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 0 4 24 0 0
Nilai Total 28
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 :
Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat
10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
50
Gambar 4, Lembar Observasi untuk Guru - 1

Hasil evaluasi dari aspek yang di observasi pada guru

memperoleh nilai rendah pada aspek nomor 1 dan 8 sedangkan aspek

yang lainnya memperoleh nilai sedang . Idealnya nilai total antara 31

40 atau 41 50, sementara nilai total yang diperoleh baru mencapai 28

jadi belum mencapai nilai yang diharapkan.

3) OBSERVASI UNTUK SISWA (OBSERVER 1)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Siswa bersahabat (terbuka) dengan guru
2 Siswa menciptakan suasana tenang di sekolah
3 Siswa mampu menghargai orang lain
4 Siswa bertanggung jawab
5 Siswa ketergantungan pada HP
6 Siswa suka merokok, mencontek jika ulangan
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman
8 Siswa melaksanakan aturan Tata Tertib Sekolah
9 Siswa tidak pernah terlambat masuk sekolah

30
10 Siswa aktif jika ada Tablig Akbar di sekolah
Jumlah centang 1 2 5 1 1
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 1 4 15 4 5
Nilai Total 29
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = 10 Kurang Rendah Sangat
Sedang Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 50 Tinggi
0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
Gambar 5. Observasi siswa -1

Hasil evaluasi dari aspek-aspek yang di observasi pada siswa

terdapat nilai yang sangat rendah yaitu pada aspek nomor 6. Sedangkan

aspek nomor 10 mendapat nilai tinggi dan nomor 5 mendapat nilai

sangat tinggi . Rata-rata nilai dalam rinciannya setiap aspek memperoleh

sedang belum mencapai nilai tinggi atau sangat tinggi. Sementara nilai

total yang diperoleh mencapai 29 jadi belum mencapai nilai yang ideal .

4) OBSERVASI GURU : (OBSERVER 2)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Guru aktif sebagai pertemanan dengan siswa
Mampu menciptakan suasana mendidik bagi
2
siswa
Selalu memonitor kegiatan siswa di lingkungan
3
sekolah
4 Mampu memberikan solusi yang dihadapi siswa
5 Perduli terhadap siswa dalam penggunaan HP
Perhatian pada siswa yang merokok, mencontek
6
dsb
7 Guru mendidik secara demokratis
8 Guru selalu mencatat jika ada pelanggaran siswa
9 Guru mampu memanfatkan waktu dengan efektif
10 Guru menegur siswa dengan senyum
Jumlah centang 0 5 5
Nilai 1 2 3 4 5

31
Jumlah Centang X Nilai 0 10 15 0 0
Nilai Total 25
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 :
Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 =
0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
50
Gambar 6. Observasi Guru - 2

Hasil evaluasi dari aspek yang di observasi pada guru mendapat nilai rendah pada

nomor 1, 3, 5, 6, 8. Sedangkan nomor 2, 4, 7, 9, 10 memperoleh nilai sedang dari

keseluruhan aspek yang dinilai belum mencapai nilai tinggi atau sangat tinggi.

Idealnya nilai total antara 31 40 atau 41 50, sementara nilai total yang diperoleh

baru mencapai 25 jadi belum mencapai nilai yang diharapkan.

5) OBSERVASI UNTUK SISWA (OBSERVER 2)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Siswa bersahabat (terbuka) dengan guru
2 Siswa menciptakan suasana tenang di sekolah
3 Siswa mampu menghargai orang lain
4 Siswa bertanggung jawab
5 Siswa ketergantungan pada HP
6 Siswa suka merokok, mencontek jika ulangan
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman
8 Siswa melaksanakan aturan Tata Tertib Sekolah
9 Siswa tidak pernah terlambat masuk sekolah
10 Siswa aktif jika ada Tablig Akbar di sekolah
Jumlah centang 0 2 5 3
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 0 4 15 12 0
Nilai Total 31
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = 10 Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat

32
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 50 Tinggi
0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
Gambar 7. Observasi Siswa - 2

Hasil evaluasi dari aspek-aspek yang di observasi pada siswa

terdapat nilai yang rendah yaitu pada aspek nomor 9 dan 10 . Sedangkan

nomor 1, 2, 3, 4, 8 memperoleh nilai sedang dan nomor 5, 6, 7

memperoleh nilai tinggi. Sehingga penilaian oleh observer 2 mendapat

nilai 31.

Evaluasi dari Observer pada Siklus 1 memperoleh nilai :

NO OBSERVER GURU SISWA


1 Drs. I Made Suarma (Wakasek Kesiswaan) 28 29
2 Kardipan, S.Pd. (BK) 25 31
Gambar 8. Evaluasi dari Observer 1 dan 2 bagi Guru dan Siswa

Dari evaluasi tersebut perlu diadakan tindakan perbaikan baik

pada guru maupun pada siswa pada Siklus 1.

d. Refleksi

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan pada siklus

kesatu, masih banyak hal yang perlu diperbaiki yaitu:

1) Pada Guru yang masih dinilai rendah adalah 1) Aktif sebagai

pertemanan dengan siswa 2) Selalu memonitor kegiatan siswa di

lingkungan sekolah 3) Peduli terhadap siswa dalam penggunaan

HP 4) Perhatian pada siswa yang merokok, mencontek dsb 5)

Mencatat jika ada pelanggaran siswa 6) Menegur siswa dengan

senyum.

33
2) Pada Siswa yang masih dinilai sangat rendah adalah 1) Terbuka

pada guru 2) Suka merokok, mencontek jika ulangan 3)

Keterlambatan masuk sekolah 4) Keaktifan mengikuti kegiatan

kerohanian atau keagamaan di sekolah. Berdasarkan evaluasi pada

siklus 1 maka perlu diadakan perbaikan tindakan.

C. PELAKSANAAN TINDAKAN PERBAIKAN

1. Pelaksanaan Tindakan Perbaikan Siklus II

Dalam siklus kedua ini dilakukan rangkaian kegiatan perencanaan,

pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

a. Perencanaan

Perencanaan yang dilakukan meliputi : a) Mengobservasi

kembali guru dan siswa dengan bantuan du Observer b) Membuat

instrument berupat angket sebanyak 32 lembar untuk siswa kelas VII

- 10 lembar , kelas VIII - 10 lembar, kelas IX - 12 c) Membuat

instrument pertanyaan-pertanyan untuk wawancara d) Mewajibkan

siswa untuk mengikuti kegiatan kerohanian/ keagamaan yang diadakan

di sekolah. e) Untuk guru memberikan pembinaan pada setiap hari Senin

dan setiap hari Jumat bersamaan dengan waktu Shalat Dhuha di SMP

Negeri 1 Terisi.

b. Pelaksanaan

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dirundingkan oleh peneliti

dan observer maka pada tanggal 9 Maret 2017 hari senin a) Peneliti

34
mengadakan observasi guru dan siswa dengan aspek sama seperti

terdahulu b) Menyebarkan angket sebanyak 32 kepada kelas VII, VIII,

IX.. c) Mewawancara pada beberapa siswa, lembar pertanyaan terlampir

pada halaman lampiran d) Mengadakan kegiatan keagamaan misalnya

tabligh akbar, dzikir akbar, muhasabah dengan mengundang

penceramah dari luar agar lebih tertarik.( terlampir acara kegiatan pada

lampiran kegiatan Ikatan Remaja Islam SMP Negeri 1 Terisi)

c. Observasi

Bersamaan berlangsungnya pelaksanaan mengamati guru dalam

menangani siswa , peneliti melakukan beberapa observasi dengan

dibantu oleh Observer.

1) OBSERVASI UNTUK GURU : ( Observer 1)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Guru aktif sebagai pertemanan dengan siswa
2 Mampu menciptakan suasana mendidik bagi siswa
Selalu memonitor kegiatan siswa di lingkungan
3
sekolah
4 Mampu memberikan solusi yang dihadapi siswa
5 Perduli terhadap siswa dalam penggunaan HP
Perhatian pada siswa yang merokok, mencontek
6
dsb
7 Guru mendidik secara demokratis
8 Guru selalu mencatat jika ada pelanggaran siswa
9 Guru mampu memanfatkan waktu dengan efektif
10 Guru menegur siswa dengan senyum
Jumlah centang 0 0 2 8 0
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 0 0 6 32 0
Nilai Total 38

35
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 :
Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi

Keterangan : Kategori Nilai Total


Nilai Total minimum 1 X 10 = Kurang Rendah Sedang Tinggi Sangat
10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 0 10 11 20 21 30 31 - 40 41
50 50
Gambar 9. Observasi Guru -1 pada siklus 2

Hasil evaluasi aspek yang di observasi dari guru pada nomor 3

dan 8 mendapat nilai sedang. Dan rata-rata sudah mencapai rata-rata

tinggi Idealnya nilai total antara 31 40 atau 41 50, sementara nilai

total yang diperoleh sudah mencapai 38 .

2) OBSERVASI UNTUK SISWA (Observer 1)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Siswa bersahabat (terbuka) dengan guru
2 Siswa menciptakan suasana tenang di sekolah
3 Siswa mampu menghargai orang lain
4 Siswa bertanggung jawab
5 Siswa ketergantungan pada HP
6 Siswa suka merokok, mencontek jika ulangan
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman
8 Siswa melaksanakan aturan Tata Tertib Sekolah
9 Siswa tidak pernah terlambat masuk sekolah
10 Siswa aktif jika ada Tablig Akbar di sekolah
Jumlah centang 2 0 1 5 2
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 2 0 3 20 10
Nilai Total 35
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 : Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Kategori Nilai Total
Keterangan : Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
Nilai Total minimum 1 X 10 = 10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 = 50 41
0 10 11 20 21 30 31 - 40
50

36
Gambar 10. Observasi Siswa -1 pada siklus 2

Evaluasi dari obesrvasi nampak adanya perkembangan mendapat

nilai total 35 . Namun masih ada yang harus diperbaiki yaitu pada aspek

nomor 6 dan 9 karena masih sangat rendah dan nomor satupun masih

sedang.

OBSERVASI UNTUK GURU : ( Observer 2)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Guru aktif sebagai pertemanan dengan siswa
2 Mampu menciptakan suasana mendidik bagi siswa
Selalu memonitor kegiatan siswa di lingkungan
3
sekolah
4 Mampu memberikan solusi yang dihadapi siswa
5 Perduli terhadap siswa dalam penggunaan HP
Perhatian pada siswa yang merokok, mencontek
6
dsb
7 Guru mendidik secara demokratis
8 Guru selalu mencatat jika ada pelanggaran siswa
9 Guru mampu memanfatkan waktu dengan efektif
10 Guru menegur siswa dengan senyum
Jumlah centang 0 0 1 8 1
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 0 0 3 32 5
Nilai Total 40
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 :
Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 =
0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
50
Gambar11. Observasi Guru -2 Siklus 2

Hasil evaluasi aspek yang di observasi dari guru pada nomor 3

mendapat nilai sedang. Dan rata-rata sudah mencapai rata-rata tinggi .

37
Aspek nomor 10 sudah sdangat tinggi. Ideal nilai total antara 31 40

atau 41 50, sementara nilai total yang diperoleh sudah mencapai 40.

OBSERVASI UNTUK SISWA (Observer 2)

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Siswa bersahabat (terbuka) dengan guru V
2 Siswa menciptakan suasana tenang di sekolah V
3 Siswa mampu menghargai orang lain . V
4 Siswa bertanggung jawab V
5 Siswa ketergantungan pada HP V
6 Siswa suka merokok, mencontek jika ulangan V
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman V
8 Siswa melaksanakan aturan Tata Tertib Sekolah V
9 Siswa tidak pernah terlambat masuk sekolah V
10 Siswa aktif jika ada Tablig Akbar di sekolah V
Jumlah centang 0 1 2 6 1
Nilai 1 2 3 4 5
Jumlah Centang X Nilai 0 2 6 24 5
Nilai Total 37
Skor 1 : Sangat rendah Skor 2 : Rendah Skor 3 :
Sedang
Skor 4 : Tinggi Skor 5 : Sangat tinggi
Keterangan : Kategori Nilai Total
Nilai Total minimum 1 X 10 = Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
10 Tinggi
Nilai Total maksimum 5 X 10 =
0 10 11 20 21 30 31 - 40 41 50
50
Gambar 12. Observasi Siswa -2 Silkus 2

Evaluasi dari obesrvasi 38ampak adanya perkembangan mendapat

nilai total 37 . Namun masih ada yang harus diperbaiki yaitu pada aspek

nomor 6 masih rendah, nomor 5 dan 6 masih mendapat nilai sedang

dan nomor yang lainnya sudah tinggi bahkan nomor 3 sudah sangat

tinggi.

38
Evaluasi dari Observer pada Siklus 2 memperoleh nilai :

NO OBSERVER GURU SISWA


1 Drs. I Made Suarma (Wakasek Kesiswaan) 38 35
2 Kardipan, S.Pd. (BK) 40 37
Gambar 13. Evaluasi Siklus 2)

Walaupun pada hasil evaluasi pada Siklus II mendapat nilai

tinggi baik Guru maupun Siswa namun masih ada yang harus diperbaiki

yaitu tentang guru untuk lebih peduli pada siswa dan mencatat jika ada

pelanggaran pada siswa.

Untuk siswa yang masih dinilai rendah adalah tentang merokok,

mencontek jika ulangan atau membuat PR dan keterlambatan masuk

sekolah. Pada silkus kedua ini pengamatan yang tercatat baik Guru

maupun Siswa sudah mengalami perbaikan dari kondisi awal tentang

kepedulian guru terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh

siswa dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa,

jka di masukkan dalam kategori nilai sudah mendapat nilai 8 artinya

sangat baik.

OBSERVASI 2

NILAI
NO. ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4
Kepedulian guru terhadap pelanggaran-
1
pelanggaran yang dilakukan siswa
2 Identifikasi masalah-masalah yang ada pada siswa

Jumlah centang 0 0 0 4

39
Nilai 1 2 3 4
Jumlah centang x Nilai 0 0 0 2
Nilai Total 8

Keterangan : Kategori nilai total


Sangat
Kurang Cukup baik
Nilai total minimum : 2 x 1 = 2 Baik
Nilai total maksimum : 2 x 4 = 8 1-2 3-4 5-6 7-8
Gambar 14, Observasi 2

Evaluasi pada siklus kedua peneliti mengobservasi dengan

formasi seperti kondisi awal pada kepedulian guru terhadap siswa

seperti terdapat pada gambar di bawah ini.

OBSERVASI UMUM 2

NILAI
NO ASPEK-ASPEK YANG DIOBSERVASI
1 2 3 4 5 JML
1 Siswa aktif melaksanakan Tata Tertib Sekolah 4 14 2 78
Siswa bersemangat mengikuti kegiatan-
2 2 12 6 84
kegiatan
3 Siswa sangat menghargai waktu 3 14 3 80
Siswa dapat bertanggung jawab mengatasi
4 2 17 1 79
masalah
5 Siswa berani mengemukakan pendapat 4 11 5 81
6 Siswa berprilaku baik dan sopan 5 11 4 79
7 Siswa mampu bekerjasama dengan teman 2 16 2 80
8 Siswa mampu menyelesaikan program dg baik 4 14 2 78
9 Siswa merasa nyaman di sekolah 13 7 87
Selama di SMP Negeri 1 Terisi siswa merasa
10 1 13 6 85
at home
Julah Nilai 811
Nilai Akhir 81.1
Kategori Nilai
Sangat
Kurang Rendah Sedang Tinggi
Tinggi
50 - 60 61- 70 71 - 80 81- 90 91 - 100

40
Gambar 15. Observasi guru terhadap siswa pada siklus 2

Hasil observasi pada siklus kedua ini secara umum menunjukkan

perbaikan yang cukup tinggi yaitu 81.1, namun penulis masih ingin

mengetahui bagaimana sebenarnya menurut siswa dalam

pengetahuannya tentang kenakalan remaja pada zaman sekarang dan

bagaimana dengan keterlibatan siswa dalam mewujudkan VISI dan

MISI SMP Negeri 1 Terisi sehubungan banyaknya tantangan dan

hambatan secara ekternal dan internal dalam dirinya, maka penelis

membagikan angket untuk dijawab secara jujur.

D. MENYEBARKAN ANGKET

Angket dibagikan pada siswa sebanyak 32 agar dijawab sejujurnya .

NO PERTANYAAN KESIMPULAN JAWABAN

1 Bagaimana pandangan menurut siswa 80% menjawab mengerikan,


tentang kenakalan remaja zaman brutal apalagi adanya geng motor
sekarang? dan bebasnya mendownload video
porno, banyak yang menjadi
perokok jadi cenderung ke
narkoba.
2 Bagaimana perasaan siswa jika tidak 70 % menjawab kurang gaul,
mengikuti pergaulan zaman sekarang minder, gengsi
ini?
3 Apa yang dilakukan oleh siswa pada 90% menjawab dengan positif ;
waktu senggang ? belajar, olah raga, ngumpul
dengan teman, nonton TV, main
PS, membantu orang tua, ibadah .
10% merokok
4 Apakah di sekolah ada kegiatan yang 90% menjawab ada yaitu ekskul,
menyenangkan bagi siswa ? Fibosa, Liga SMANSA, belajar
kelompok, Sholat bareng

41
5 Tahukan siswa apa VISI dan MISI SMP 70% menjawab tahu, 30% tidak
Negeri 1 Terisi ? tahu karena kurang
disosialisasikan
6 Apakah VISI dan MISI SMA Negeri 1 70 % menjawab sudah terwujud
ini sudah terwujud ? dengan baik, yang 30% belum
sempurna
7 Dapatkah siswa menyebutkan 80% menjajawab adanya prestasi
keberhasilan dari VISI dan MISI dari akademik, renovasi masjid untuk
SMP Negeri 1 Terisi? solat berjamaah, alumni yang
berhasil di Perguruan Tinggi
Favorit, menciptakan ketertiban
dan lebih religius
8 Apakah menurut siswa lingkungan 70% menjawab cukup memadai,
disekolah dengan segala sarana dan lumayan. 30% menjawab kurang
prasarana yang ada cukup mendukung mendukung, masih kurang
untuk menghilangkan atau memperkecil pengawasan guru sehingga WC
kenakalan remaja ? menjadi smoking area, dan masih
ada beberapa tempat yang belum
terpantau oleh guru
9 Apakah orang tua siswa turut terlibat 80% menjawab ya dan memang
dalam terwujudnya VISI dan MISI sudah seharusnya. 20% menjawab
sekolah ? kurang sosialisasi, tidak tahu
10 Apakah SMP Negeri 1 Terisi sudah 90% menjawab cukup berhasil,
dapat dikatakan berhasil dalam membina lumayan, perlu ditingkatkan.
Siswa dibidang kerohanian dan dapat pendekatan rochani memang
menghilangkan atau memperkecil sangat diperlukan 10% belum
kenakalan remaja ? masih secara teori akademik

Gambar 16. Tanya Jawab Angket Siswa

Hasil jawaban dari siswa melalui angket dapat dikatakan positf 79%

positif jadi dapat dikatakan cukup berhasil dan masih ada beberapa yang harus di

perbaiki dan ditingkatkan. Sebagai pelengkap Penulis mewawancarai secara

langsung pada siswa seputar kegiatan mereka di sekolah.

42
E. WAWANCARA

Wawancara pada beberapa siswa dengan pertanyaan yang sudah dipersiapkan.

NO PERTANYAAN JAWABAN
1 Bagaimana menurut kalian tentang Bagus sudah cukup ketat, cuma
tata tertib sekolah ? masih ada guru yang belum
menerapkan disiplin

2 Senangkah kalian mengikuti Iya senang sekali


kegiatan-kegiatan di Sekolah ?
3 Apakah kalian sering terlambat dan Tidak tapi sekali-sekali pernah,
mengerjakan tugas-tugas pelajaran belum bisa tepat waktu
tepat waktu ?

4 Jika kalian menghadapi masalah , Biasanya curhat sama teman karena


apakah kalian selesaikan dengan sulit untuk curhat dengan guru
baik atau kalian tinggalkan begitu
saja tanpa ada penyelesaian ?

5 Jika pendapat kalian tidak sesuai Berani


dengan yang lain apakah kalian
berani mengemukakan pendapat
kalian sendiri ?

6 Bagaimana sikap kalian jika Berusaha untuk sopan


menghadap/ bicara dengan guru ?

7 Apa yang kalian lakukan jika kalian Minta bantuan teman


menghadapi pekerjaan yang
lumayan berat menurut kalian ?

8 Jika kalian pengurus OSIS agar Membuat program dan kerjasam


semua dapat dilaksanaakan dengan dengan teman
baik apa yang harus kamu lakukan ?

9 Bagaimana menurut kalian situasi Lumayan nyaman, asik banyak


dan kondisi SMP Negeri 1 Terisi temen, ekskulnya rame
apakah kalian merasa nyaman ?

10 Apakah kalian merasa at home Iya karena ada masjid yang


di SMP Negeri 1 Terisi ini ? membuat lebih tenang jkadi bias
ngumpul bareng temen di masjid

43
Gambar 17. Tanya Jawab lisan pada Siswa

Dari hasil wawancara secara langsung menghasilkan jawaban yang cukup

positif.

44
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan masalah nyata yang ditemukan di

sekolah, khususnya siswa SMP Negeri 1 Terisi adalah adanya siswa yang masih

melakukan pelanggaran-pelanggaran yang dapat dikatakan dengan kenakalan

remaja. Prosedur penelitiannya dilakukan secara siklikal. Satu siklus dimulai dari

(1) perencanaan awal, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi.

Dengan melalui Orientasi , Obsevasi secara umum dan Observasi pada

Guru dan Siswa yang di antu oleh dua guru sebagai Observer dan satu guru IPS

sebagai kolaborasi penggunaan hypnotherapy, pengisisan Angket, wawancara

dapat disimpulkan hasil pada siklus 1 masih terdapat penilaian yang belum baik,

kenudian dilakukan penetian perbaikan pada siklus 2 ternyata dapat

menghasilkan evaluasi yang boleh dikatakan tinggi.

Sesuai dengan rumusan masalah maka dapat dikatakan bahwa berbagai

kegiatan kerohanian (Keagamaan) yang diadakan di SMP Negeri 1 Terisi dapat

memperkecil kenakalan remaja. Jika kenakalan remaja tidak ada atau sangat

kecil dapat dipastikan VISI dan MISI SMP Negeri 1 Terisi akan terwujud dengan

baik . Dari hasil penelitian Kepedulian Sekolah, Guru pada siswa akan membuat

Siswa nyaman dan at home di sekolah. Kegiatan Ekstra Kurikuler sangat

menunjang untuk memperkecil bahkan menghilangkan kenakan remaja yang

45
semakin memprihatinkan. Sarana beribadah merupakan hal yang sangat penting

untuk membina secara moral dan spriritual.

B. SARAN

Sebaiknya semua individu yang terkait dengan masalah kenakalan remaja

yang ada di lingkungan sekolah hendaknya turut memantau secara hirarkhi

mulai dari atas sampai bawah. Karena pada dasarnya semua siswa yang ada di

SMP Negeri 1 Terisi memang perlu perhatian sehubungan dengan maraknya

kenakalan remaja yang memprihatinkan.

Hendaknya efektifkan seefisien mungkin sarana yang ada di SMP Negeri

1 Terisi ini untuk mendidik, membina, melatih, memotivasi, membimbing dan

mendewasakan siswa kearah yang positif agar SKL yang berhubungan dengan

akhlak mulia dapat berhasil maksimal

46
DAFTAR PUSTAKA

Achlis, 1992, Praktek Pekerjaan Sosial I, STKS , Bandung

BSNP. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor


16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Jakarta : BSNP.

Depdiknas. (2008). Pedoman Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research)

Gunarsa Singgih D at al, 1988, Psikologi Remaja, BPK Gunung Mulya,Jakarta

Kartini Kartono,1986, Psikologi Sosial 2, Kenakalan Remaja, Rajawali, Jakarta

Nazir, Moh, 1985, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta

Peningkatan Kompetensi Supervisi Pengawas Sekolah SMP. Jakarta : Dirjen P4PTK.

Panitia Pelaksana Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Rayon 10 Jawa Barat. (2009).
Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Pengawas.
Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.


Sagala, H. Syaiful. (2006). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung :
Alfabeta.

Sartono, Suwarniyati, 1985, Pengukuran Sikap Masyarakat terhadap Kenakalan


Remaja di DKI Jakarta, laporan penelitian, UI, Jakarta

Soerjono Soekanto, 1988, Sosiologi Penyimpangan, Rajawali, Jakarta

Sudjana, H. Nana. (2009). Penelitian Tindakan Kepengawasan, Konsep dan


Aplikasinya bagi Pengawas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Wardani, IGAK, dkk. ((2007). Penelitian Tindakan Kelas. Buku Materi Pokok

47