Anda di halaman 1dari 10

Laporan Penyakit Hipertensi di Puskesmas Kelurahan Grogol II

Intan Novia Sari


102014189
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6, Jakarta 11210

Pendahuluan

Hari Rabu 19 Juli 2017 saya berserta kelompok Family Folder FF4 diberi tugas
melakukan kunjungan ke Puskesmas Kelurahan Grogol II Jakarta Barat, kunjungan
dilanjutkan ke rumah pasien dan didampingi dosen pembimbing kami Dr. Budiman. Makalah
ini dibuat dengan tujuan mengkaji dan membahas penyakit hipertensi pada masyarakat dan
kaedah tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan berbasiskan pendekatan kedokteran
keluarga.
Family Folder merupakan dokumen lengkap suatu keluarga terutama dalam
hubungannya dengan derajat kesehatan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor
utama menurut Blum, keempat faktor tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku
manusia, dan lingkungan. Factor genetik: Paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan
perorangan atau masyarakat dibanding ketiga faktor yang lainnya. Faktor pelayanan
kesehatan: Ketersediaan sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan
yang berkualitas akan berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. Faktor perilaku: di
negara berkembang faktor ini paling besar pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan atau
masalah kesehatan masyarakat. Faktor lingkungan: Lingkungan yang terkendali akibat sikap
hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan menekan berkembangnya masalah kesehatan.

Latar Belakang Masalah

Hipertensi primer adalah tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, pada usia 18 tahun
keatas dengan penyebab yang tidak diketahui. Pengukuran 2 kali atau lebih dengan posisi
duduk, ekmudian diambil reratanya, pada 2 kali atau lebih kunjungan. Ada beberapa
klasifikasi dan pedoman penanganan hipertensi. Bedasarkan JNC 7, klasifikasi tekanan darah
adalah :1
1. Tekanan darah normal: tekanan sistolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmHg

1
2. Prahipertensi : tekanan sistolik 120-139 mmHg dan diastolic 80-89mmHg
3. Hipertensi derajat I: tekanan sistolik 140-159mmHg dan diastolic 90-99mmHg
4. Hipertensi derajat II : tekanan sistolik lebih atau sama dengan 160mmHg dan
diastolic lebih atau sama dengan 100mmHg
Berdasarkan penyebabnya dikenal dua jenis hipertensi: a). Hipertensi Primer
(esensial) terjadi peningkatan kerja jantung akibat penyempitan pembuluh darah tepi.
Sebagian besar (90-95%) penderita termasuk pengidap hipertensi primer. b). Hipertensi
sekunder disebabkan oleh penyakit sistemik lain, misalnya gangguan hormon, penyempitan
pembuluh darah utama ginjal (stenosis arteri renalis), akibat penyakit ginjal
(glomerulonefritis), dan penyakit sistemik lainnnya seperti lupus nefritis.2
Hipertensi primer merupakan penyakit yang bukan hanya disebabkan oleh satu
macam mekanisme, akan tetapi bersifat multifactorial, yang timbul akibat dari interaksi dari
berbagai macam faktor risiko. Berbagai faktor dan mekanisme tersebut antara lain: faktor
genetik dan lingkungan, mekanisme neural, renal, hormonal dan vascular.
Evaluasi pada penderita hipertensi bertujuan untuk :1) menilai pola hidup dan
identifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskular lainnya untuk menilai adanya penyakit
penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan, 2) mencari mencari
penyebab kenaikan tekanan darah,3) menentikan ada tidaknya kerusakan target organ dan
penyakit kardiovaskular.
Evaluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang keluhan
pasien, riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisis serta pemeriksaan
penunjang.1

HASIL DAN DATA KUNJUNGAN RUMAH

PUSKESMAS KELURAHAN GROGOL II


Alamat : Jl. Rawa Bahagia RT 008/02, Grogol,Petamburan Jakarta

Identitas Pasien:
Nama : Taryono
Umur :60 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pensiun, buka toko klontong di depan rumah( dulu konsultan arsitek)

2
Pendidikan : S1
Alamat : Jl. Rawa Bahagia X no 59 RT 07 RW 02
Agama : Islam
Puskesmas : Grogol II

Anamnesis (Alloanamnesis):
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama: pusing, beberapa hari yang lalu
3. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang lain Bapak Taryono sering pegel-pegel dan merasa capek. Lalu pusing
yang dirasakan lebih berat jika beliau terlambat makan. Sampai saat ini rajin minum
obat tetapi sudah 3 hari tidak minum obat. Obat yang biasanya ia gunakan stoknya
habis di puskesmas. Jadi ia hanya membeli obat di apotek yaitu amlodipine besylate
tablet 5mg dan baru diminum 1x, obat yang dibeli di apotek tidak sama yang biasanya
Pak Taryono konsumsi karena Pak Taryono lupa obat yang biasa ia konsumsi dan
bungkusnya sudah dibuang setelah habis. Pak Taryono rajin berobat di puskesmas dan
juga dokter umum di daerah Grogol.

4. Riwayat penyakit dahulu


Bapak Taryono pernah mengalami stroke sebanyak 2 kali dalam jangka waktu 1 tahun.
Stroke pertamanya terjadi kira-kira 8 tahun yang lalu saat ia masih bekerja. Ketika itu
badannya suka kesemutan, baal dan berkeringat banyak sampai akhirnya badannya tidak
bisa bergerak pada salah satu sisi.

Riwayat Biologis Keluarga:


a. Keadaan kesehatan sekarang: Sedang
b. Kebersihan perorangan: Sedang
c. Penyakit yang sering diderita : keluarga sehat-sehat saja.
d. Penyakit keturunan : Hipertensi
e. Penyakit kronis / menular : Tidak ada
Di keluarga pasien tidak ditemukan adanya penyakit kronis / menular
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Pola makan : Baik

3
h. Pola istirahat : Baik
i. Jumlah anggota keluarga : 3 orang
Di dalam rumah pasien ada 3 orang, yaitu Pak Taryono sendiri, Ibu Jarsih (Ibu dari
Pak Taryono), Pak Gondo ( Adik dari Pak Taryono).
Psikologis Keluarga:
a. Kebiasaan buruk :-
b. Pengambilan keputusan : Bapak sendiri
c. Ketergantungan obat : Tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas Kelurahan Grogol II, Dokter
umum di daerah Grogol
e. Pola rekreasi : Kurang
Keadaan Rumah / Lingkungan:
a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai rumah : Keramik
c. Luas rumah :-
d. Penerangan : Kurang
Rumahnya agak gelap dan tertutup lampunya pun redup.
e. Kebersihan : Sedang
f. Ventilasi : Kurang
Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara termasuk kategori kurang, karena
rumah berada di belakang toko kelontongnya dan rumah kanan kirinya dempet jadi
hanya ada pintu depan dan jendela depan.
g. Dapur : Ada
h. Jamban keluarga : Ada
i. Sumber Air minum : Tanah
j. Sumber Pencemaran air : Tidak ada
k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Ada
n. Sanitasi lingkungan : Sedang
Spiritual Keluarga :
a. Ketaatan beribadah : Baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik
Keadaan Sosial Keluarga :
4
a. Hubungan anggota keluarga : Baik
b. Hubungan dengan orang lain : Baik

Keluarga pasien dan pasien sering berkomunikasi dan bermain bersama keluarga.

c. Kegiatan organisasi sosial : Kurang

Keluarga pasien tidak ikut kegiatan organisasi di lingkungannya

d. Keadaan ekonomi : Sedang


Pak Taryono memiliki toko klontong di depan rumah.
Kultural Keluarga:
a. Adat yang berpengaruh : Tidak ada
b. Lain lain : Tidak ada

Daftar anggota keluarga

Ayah dari Bapak Taryono : 60 tahun ( almarhum )

Ibu dari Bapak Taryono ( Ibu Jarsih ) : 90 tahun

Saudara Bapak Taryono (Bapak Gondo)

Istri tinggal di Jawa

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Pasien tampak compos mentis
Tanda-tanda vital:
1. Tekanan Darah: 180/110 mmHg
2. Frekuensi Nadi: 90 x/menit
3. Frekuensi Napas: 20 x/menit
4. Suhu badan: -

Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan


Pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis antara lain tes darah rutin, glukosa
darah, kolesterol total serum, kolesterol LDL dan HDL serum, asam urat serum, kreatinin

5
serum, kalium serum, hemoglobin, hematokrit serta elektrokardiogram (EKG) untuk melihat
ada tidaknya kelainan irama pada jantung dan tanda-tanda hipertrofi jantung.3-5

Diagnosis
Secara Biopsikosial :
Biologi : D/ Hipertensi grade II
Psikologis :
Sosial :

Anjuran Penatalaksanaan Penyakit dan Edukasi

Tujuan pengobatan pada pasien hipertensi adalah: (1) target tekanan darah <140/90
mmHg, untuk individu beresiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) <130/80 mmHg;
(2) penurunan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular; dan (3) menghambat laju
penyakit ginjal proteinuria. Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadap faktor resiko
atau kondisi penyerta lainnya seperti diabetes melitus atau dislipidemia juga harus
dilaksanakan hingga mencapai target terapi masing-masing kondisi.1

Terapi nonfarmakologis terdiri dari: menghentikan merokok, menurunkan berat badan


berlebih, menurunkan konsumsi alkohol berlebih, latihan fisik, menurunkan asupan garam,
meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak.

Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan JNC
7 adalah: (1) diuretika, terutama Tiazid atau antagonis aldosteron; (2) Beta Bloker; (3) Ca
Bloker; (4) Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor; dan (5) Angiotensin II Receptor
Blocker atau Angiotensin I Receptor Blocker.3,5 Pengobatan antihipertensi umumnya untuk
selama hidup. Penghentian pengobatan cepat atau lambat akan diikuti dengan naiknya
tekanan darah sampai seperti sebelum terapi. Walaupun demikian, ada kemungkinan untuk
menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi secara bertahap bagi pasien yang diagnosis
hipertensinya sudah pasti serta tetap patuh terhadap pengobatan nonfarmakologis. Tindakan
ini harus disertai dengan pengawasan tekanan darah yang ketat.1

Health Promotion
Meningkatkan kesadaran keluarga akan pentingnya kesehatan dan memberikan pengetahuan
dan informasi kepada keluarga tentang hipertensi, gejala hipertensi dan faktor resiko dengan

6
cara meningkatkan kesehatan jasmani dengan rajin berolahraga dan makan-makanan bergizi
seimbang sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi dan cara untuk menanggulanginya
adalah dibawa ke rumah sakit segera(ditakutkan terlalu lama mengambil keputusan,
komplikasi dapat terjadi lebih parah). Pertahankan BB ideal, olahraga teratur, batasi asupan
garam(<6g natrium klorida), hindari konsumsi alkohol, tidak/ berhenti merokok, makan
banyak buah dan sayuran, rekreasi, hindari/ atasi stress, cek tensi teratur (bila umur >40
tahun), membatasi konsumsi daging secara berlebih. Bagi yang sudah sakit makan dianjurkan
untuk berobat teratur, mentaati aturan minum obat, konsultasi bila akan minum obat lain.

Early Diagnosis & Prompt Treatment + Disability Limitation (Secondary Prevention)


Mengobati kelainan non hemodinamik ( beyond blood pressure lowering) yaitu kelainan
disfungsi endotel dan disfungsi vaskular, mengobati kelainan hemodinamik dengan obat anti
hipertensi sesuai guideline dengan monoterapi maupun kombinasi yang disesuaikan dengan
compelling indications antara lain sebagai berikut:
-Penurunan tekanan darah sampai 140/90mmHg pada semua penderita hipertensi yang tidak
berkomplikasi
-Penurunan tekanan darah sampai 130/80mmHg pada penderita diabetes dan penyakit ginjal
kronik (risiko tinggi)
-Penurunan tekanan darah sampai 125/75mmHg pada penderita proteinuria>1g/hari
Rehabilitation (Tertiary Prevention)
Mengobati kerusakan target organ

Prognosis
Prognosis penyakit :

Baik ,selama pasien minum obat teratur, istirahat cukup, menjaga pola makan dan
memperhatikan status gizi. Pasien juga rajin berolahraga dan rutin melakukan kontrol ke
puskesmas seminggu sekali.

Prognosis keluarga :

Baik, keluarga pasien sangat peduli akan kesehatan pasien, setiap kali pasien sakit,
keluarganya akan selalu membawa pasien ke sarana pelayanan kesehatan (biasanya
Puskesmas).

Prognosis masyarakat

7
Baik, lingkungan masyarakat dan anggota keluarga yang mendukung dalam proses
penyembuhan hipertensi pasien.

Resume:
Taryono 60 tahun memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu kira-kira. Pernah
mengalami stroke 8 tahun yang lalu. Keadaan sekarang sering mengeluh pusing, cepat lelah
dan pegel-pegel. Sekarang menkonsumsi obat amlodipine besylate tablet 5mg. Tekanan darah
saat di cek 180/110 mmHg.

Kesimpulan
Hipertensi yang diderita pasien termasuk hipertensi primer grade II. Dikatakan
hipertensi primer karena dari gejala klinis tidak ditemukan adanya penyakit sistemik lain,
misalnya gangguan hormon, penyempitan pembuluh darah utama ginjal (stenosis arteri
renalis), akibat penyakit ginjal (glomerulonefritis), dan penyakit sistemik lainnnya seperti
lupus nefritis. Pemeriksaan fisik didapati tekanan darahnya 180/110 mmHg. Hipertensi dapat
disebabkan dari usia, faktor keturunan, pola makan dan gaya hidup.

DAFTAR PUSTAKA
1. Setiati Siti, Alwi Idrus, Sudoyo AW, Simandibrata MK, Setiyohadi Bambang, Syam
AF. Ilmu penyakit dalam.jil II ed VI.Jakarta:Internapublishing;2014.2284-6
2. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC;2009.h.484
3. Yogiantoro M. Hipertensi esensial. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Simadibrata M, Setiadi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Edisi V. Jakarta:
Interna Publishing, 2009.h.1079.
4. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga; 2009.h.138-9.
5. Madhur MS. Hypertension. Medscape 2015 July 29. Available from URL:
http://emedicine.medscape.com/article/824856-medication#2

8
Lampiran Foto

9
Selokan di depan rumah Pak Taryono

10