Anda di halaman 1dari 41

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hampir 80% penduduk di negara-negara industri pernah mengalami
nyeripunggung bawah. Di Amerika Serikat prevalensinya dalam satu tahun
berkisaran antara 15%-20% sedangkan insidensi berdasarkan kunjungan pasien
baru ke dokter adalah 14,3%. Data epidemiologi mengenal nyeri punggung bawah
diperkirakan 40% penduduk Jawa Tengah berusia 65 tahun pernah menderita
nyeri punggung bawah dan prevalensi pada laki-laki 18,2% dan pada wanita
13,6%. Prevalensi ini meningkat sesuai dengan bertambahnya usia insidensi
(Mahadewa & Maliawan, 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf
Seluruh Indonesia) di Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM)pada tahun 2002 menemukan prevalensi penderita nyeri punggung bawah
sebanyak 15,6% angka ini berada pada urutan kedua tertinggi sesudah sefalgia
dan migren yang mencapai 34,8%, penderita nyeri punggung bawah dengan rata-
rata nilai sebesar 5,64% 2,56% yang berarti nyeri punggung bawah sedang
sampai berat. Lima puluh persendiantaranya adalah penderita berumur antara 41-
60 tahun (Huldani, 2012).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nazhira Janani tentang
hubungan antara lamanya duduk dengan timbulnya gejala nyeri punggung bawah
pada sopir taksi di Kota Medan dari 100 responden yang diteliti, diperoleh 41
orang yang memiliki gejala dan 59 orang yang memiliki gejala nyeri punggung
bawah (Janani, 2015).
Pada umumnya keluhan otot skeletal mulai dirasakan pada usia kerja,
yaitu 25-65 tahun. Keluhan pertama biasanya dirasakan pada umur 35 tahun dan
tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya umur.
Pengaruh kebiasaan merokok terhadap resiko keluhan otot juga masih
diperdebatkan oleh para ahli, namun demikian, beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa meningkatnya keluhan otot sangat erat hubungannya dengan
2

lama dan tingkat kebiasaan merokok, berat badan, tinggi badan, dan indeks massa
tubuh juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem
muskuloskeletal (Tarwaka, 2010).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada tanggal 13 Juni 2016 pada
10 orang sopir angkutan kota di Terminal Rawasari Jambi yang setiap harinya
melayani penduduk Jambi. Masalah-masalah yang dialami para pengemudi antara
lain pengemudi dalam kesehariannya bekerja posisi duduk yang statis dan dalam
jangka waktu yang lama. Hal ini kemungkinan berpengaruh besar terhadap
terjadinya nyeri punggung bawah. Umur pengemudi yang berusia muda dan lansia
berpengaruh pada kondisi tubuh menjadi cepat nyeri dan lelah. Sedangkan dari
hasil wawancara dengan 10 sopir angkutan kota diperoleh data sebagai berikut 4
orang mengatakan sering mengalami nyeri punggung pada bahu dan pinggang,
sedangkan 6 orang mengalami nyeri otot.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasakan uraian latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah Apakah terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan keluhan
nyeri punggung bawah pada sopir angkutankota di Terminal Rawasari Jambi
2016.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian adalah untuk mengetahui beberapa faktor
yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah pada sopir
angkutan kota di Terminal Rawasari Jambi 2016.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui hubungan umur dengan keluhan nyeri punggung bawah
pada sopir angkutan kota di Terminal Rawasari Jambi 2016.
3

b. Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri


punggung bawah pada sopir angkutan kota di Terminal Rawasari Jambi
2016.
c. Untuk mengetahui hubungan ukuran tubuh dengan keluhan nyeri
punggung bawah pada sopir angkutan kota di Terminal Rawasari Jambi
2016.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
Sebagai data awal dan pembanding bagi peneliti selanjutnya dalam
melaksanakan penelitian yang sama dengan variabel berbeda.
2. Bagi Pengemudi
Sebagai bahan masukan dan informasi kepada para sopir angkutan kota
untuk lebih memperhatikan keselamatan dan kenyamanan pada saat
bekerja.
3. Bagi Mahasiswa
Sebagai referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian
selanjutnya
4. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan informasi ilmu kedokteran kepada dokter
untuk lebih meningkatkan motivasi dalam melakukan penelitian yang
berhubungan dengan nyeri punggung bawah.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Punggung Bawah


Tulang vertebra merupakan struktur kompleks yang secara garis besar
terbagi menjadi 2 bagian. Bagian anterior tersusun korpus vertebra, diskus
intervertebralis (sebagai artikulasi), dan dipotong oleh ligamentum longitudinal
anterior dan posterior. Sedangkan bagian posterior tersusun atas pedikel lamina,
kanali vertebralis serta processus transversusdan spinosus yang menjadi tempat
otot penyokong dan pelindung kolumna vertebra. Bagian posterior vertebra antara
satu dan lain dihubungkan dengan sendi apofisial (Erizal, 2014).
Diskus intervertebralis baik annulus fibrosus maupun nukleus pulposus
adalah bangunan yang tidak peka nyeri dan merupakan bagian peka nyeri adalah:
a. Lig. Longitudinale anterior
b. Lig. Longitudinale posterior
c. Articulatio zygoapophyseal
d. Lig. supraspinosum
e. Fasia dan otot
f. Corpus vertebrae dan periosteum

Gambar 2.1Ruas- Ruas Tulang Belakang (Past R & Pust R, 2007).


5

Stabilitas vertebra tergantung pada integritas korpus vertebra dan diskus


intervertebralis serta dua jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum (pasif) dan
otot (aktif). Untuk menahan beban yang besar terhadap kolumna vertebra ini
stabilitas daerah pinggang sangat tergantung pada gerak kontraksi volunter dan
reflek otot-otot sakrospinalis, abdominal, gluteus maksimus, dan hamstring
(Erizal, 2014).

2.2 Pengertian Nyeri Punggung Bawah


Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang dirasakan daerah punggung
bawah, dapat merupakan local maupun nyeri radicular atau keduanya
(Mahadewa & Maliawan, 2009).

Gambar 2.2Nyeri Punggung Bawah (Erizal, 2014).


6

2.3 Faktor Penyebab Pada Sistem Muskuloskeletal (Tarwaka, 2010)


Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem
muskuloskeletal antara lain sebagai berikut:
a. Peregangan Otot yang Berlebihan
Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhkan oleh
pekerja, karena aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar
seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan menahan beban yang
berat, peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan tenaga
yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering
dilakukan, maka dapat mempertinggi resiko terjadinya keluhaan otot, bahkan
dapat menyebabkan terjadinya cedera sistem muskuloskeletal.
b. Aktivitas Berulang
Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus
seperti pekerja mencangkul, membelah kayu. Keluhan otot terjadi karena otot
menerima tekanan akibat beban kerja secara terus menerus tanpa memperoleh
kesempatan untuk relaksasi.
c. Sikap Kerja Tidak Alamiah
Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi
bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisis alamiah,misalnya pergerakan
tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, maka semakin tinggi pula
resiko terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal. Sikap kerja tidak alamiah ini
pada umumnya karena krakteristik tuntutan tugas, alat kerja dan stasiun kerja
tidak sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan pekerja.
d. Faktor Penyebab Sekunder
1. Tekanan, terjadi langsung pada jaringan otot lunak. Sebagai contoh,
pada saat tangan harus memegang alat, maka jaringan otot tangan yang
lunak akan menerima langsung dari pegangan otot, dan apabila hal ini
terjadi,dapat menyebabkan rasa nyeri otot yang menetap.
2. Getaran terjadi dengan frekuensi tinggi akan menyebabkan peredaran
darah tidak lancar, penimbunan asam laktat meningkat dan akhirnya
timbul rasa nyeri otot.
7

3. Mikroklimat, paparan suhu tubuh dingin yang berlebihan dengan


menurunnya kelincahan, kepekaan dan kekuatan pekerja sehingga
gerakan pekerja menjadi lambat, sulit bergerak yang disertai dengan
menurunnya kekuatan otot. Demikian juga dengan paparan udara yang
panas. Beda suhu lingkungan dengan suhu tubuh yang terlampau besar
menyebabkan sebagai energi yang ada dalam tubuh akan bermanfaat
oleh tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Apabila hal
ini tidak diimbangi dengan pasokan energi yang cukup, maka akan
terjadi kekurangan suplai oksigen ke otot, sebagai akibatnya peredaran
darah kurang lancar, suplai oksigen ke otot menurun, proses
metabolisme karbohidrat bertambah dan terjadi penimbunan asam
laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri otot.
4. Penyebab kombinasi. Resiko terjadinya keluhan sistem
muskuloskeletal akan semakin meningkat apabila dalam melakukan
tugasnya, pekerja dihadaapkan pada beberapa faktor resiko dalam
waktu yang bersamaan, misalnya pekerja harus melakukan aktivitas
angkat angkut dibawah tekanan panas matahari seperti yang dilakukan
pekerja bangunan.
Disamping kelima faktor penyebab terjadinya keluhan sistem
muskuloskeletal tersebut beberapa ahli menjelaskan bahwa faktor individu seperti
umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan ukuran tubuh juga
dapat menjadi penyebab terjadinya keluhan otot skeletal.
1. Umur, pada ada umumnyakeluhan sistem muskuloskeletal
sudahmulai dirasakan pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus
meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada
umur setengah baya, kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga
resiko terjadinya keluhan otot meningkat. Untuk pria dan wanita dengan
usia antara 20 tahun sampai dengan 60 tahun. Penelitian difokuskan untuk
otot lengan, punggung dan kaki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kekuatan otot maksimal terjadi pada saat umur antara 20-29 tahun
selanjutnya terus terjadi penurunan sejalan bertambahnya umur. Pada saat
8

umur mencapai 60 tahun, rerata kekuatan otot menurun sanpai 20%. Pada
saat kekuatan otot mulai menurun maka resiko terjadinya keluhan otot
akan meningkat. Umur mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan
keluhan sistem muskuloskeletal, terutama untuk otot leher dan bahu,
bahkan ada beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa umur merupakan
penyebab utama terjadinya keluhan otot (Tarwaka,2010).
2. Jenis kelamin, walaupun masih ada perbedaan pendapat dari
beberapa para ahli tentang pengaruh jenis kelamin terhadap resiko keluhan
sistem muskuloskeletal, namun beberapa hasil penelitian secara signifikan
menunjukkan bahwa jenis kelamin sangat mempengaruhi tingkat resiko
keluhan otot. Hal ini terjadi karena secara fisiologis, kemampuan otot
wanita lebih rendah dari pada pria(Tarwaka, 2010).
3. Kebiasaan merokok, sama halnya dengan faktor resiko jenis
kelamin, pengaruh kebiasaan merokok terhadap resiko keluhan otot juga
masih diperdebatkan oleh para ahli, namun demikian, beberapa penelitian
telah membuktikan bahwa meningkatnya otot sangat erat hubungannya
dengan lama dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin lama dan semakin
tinggi frekuensi merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang
dirasakan(Tarwaka, 2010).
Derajat berat merokok dengan Indeks Brinkman (IB), yaitu
perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama
merokok dalan tahun:
a. Ringan: 0-200 batang
b. Sedang: 200-600 batang
c. Berat: >600 batang (PDPI, 2011)
4. Kesegaran jasmani, pada umumnya keluhan otot lebih jarang
ditemukan pada seseorang yang dalam aktivitas kesehariannya
mempunyai cukup waktu istirahat. Sebaliknya, bagi yang dalam
kesehariannya melakukan pekerjaan yang memerlukan pengerahan
tenaga yang besar, di sisi lain tidak mempunyai waktu yang cukup untuk
istirahat, hampir dapat dipastikan akan terjadi keluhan otot. Tingkat
9

keluhan otot juga sangat dipengaruhi oleh tingkat kesegaran


tubuh(Tarwaka, 2010).
5. Kekuatan fisik, dengan resiko keluhan sistem muskuloskeletal juga
masih diperdebatkan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan, namun penelitian lainnya menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antarakekuatan fisik dengan keluhan sistem
muskuloskeletal. Secara fisiologis ada yang dilahirkan dengan struktur
otot yang mempunyai kekuatan yang berbeda, apabila harus melakukan
pekerjaan yang memerlukan pengerahan otot, jelas yang mempunyai
kekuatan rendah akan lebih rentan terhadap resiko cedera otot. Namun
untuk pekerja-pekerja yang tidak memerlukan pengerahan tenaga,maka
faktor kekuatan fisik kurang relevan terhadap resiko keluhan sistem
muskuloskeletal (Tarwaka, 2010).
6. Ukuran tubuh (antropometri), walaupun pengaruhnya relatif kecil,
berat badan, tinggi badan dan masa tubuh juga merupakan faktor yang
dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal. Wanita
yang gemuk mempunyai resiko dua kali lipat dibandingkan wanita kurus,
temuan lain menyatakan bahwa pada tubuh yang tinggi umumnya sering
menderita keluhan sakit punggung, tetapi tubuh tinggi tidak mempunyai
pengaruh terhadap keluhan pada leher, bahu dan pergelangan tangan.
Apabila dicermati, keluhan pada sistem muskuloskeletal yang terkait
dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan
struktur rangka dalam lainnya. Sebagai contoh, tubuh yang tinggi pada
umumnya mempunyai bentuk tulang yang langsing sehingga secara
biomekanik resiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya keluhan
muskuloskeletal (Tarwaka, 2010).
Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari
perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang.
IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambaran kadar
adipositas dalam tubuh seseorang (Nor, 2011)
10

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus


berikut:
Menurut rumus metrik:
Berat badan (kg)
IMT =
(Tinggi badan (m))

Tabel 2.1Kategori indeks massa tubuh (IMT)


IMT KATEGORI
<18,5 Berat badan kurang
18,5-22,9 Berat badan normal
23,0 Kelebihan berat badan
23,0-24,9 Beresiko menjadi obesitas
25,0-29,9 Obesitas I
30,0 Obesitas II
Sumber: Nor, 2011

2.4 Patofisiologi Nyeri Punggung Bawah


Konstruksi punggung bawah yang unik memungkinkan terjadinya
fleksibilitas dan memberikan perlindungan terhadap sumsum tulang belakang.
Otot-otot abdominal berperan pada aktivitas mengangkat beban dan sarana
pendukung tulang belakang adanya obesitas, masalah struktur, dan peregangan
berlebihan pada sarana pendukung ini akan berakibat pada nyeri punggung
bawah. Adanya perubahan degenerasi diskus intervertebralis akibat usia menjadi
fibrokartilago yang padat tidak teratur merupakan penyebab nyeri punggung
biasa, L4-L5 dan L5-S1 menderita stres mekanis dan menekan sepanjang akar
saraf tersebut. (Noor, 2016).
11

2.5 Manifestasi Klinis Nyeri Punggung Bawah


Manifestasi klinis dari nyeri punggung bawah adalah sebagai berikut:
a. Nyeri punggung akut atau kronis (berlangsung lebih dari 3 bulan tanpa
perbaikan) dan keletihan
b. Nyeri tungkai yang menjalar ke bawah (radikulopati, skiatika) gejala ini
menunjukkan adanya gangguan pada radiks saraf.
c. Gaya berjalan, mobilitas tulang belakang, refleks, panjang tungkai,
kekuatan motorik tungkai, dan persepsi sensori dapat pula terganggu.
d. Spasme otot paravertebral (peningkatan drastis tonus otot postural
punggung) terjadi disertai dengan hilangnya lengkung normal lumbal dan
kemungkinan deformitas tulang belakang (Wilkins & Williams, 2013).

2.6 Klasifikasi Nyeri Punggung Bawah(Erizal, 2014)


Klasifikasi dari nyeri punggung bawah adalah sebagai berikut:
1. Nyeri Punggung Bawah Akut
a. Nyeri akut yang berpangkal pada tulang, yaitu: metastasis vertebra,
osteoporosis, osteomyeliti, fraktur.
b. Nyeri akut yang berpangkal pada otot dan saraf, yaitu: syndroms nyeri
myofacial, nyeri radikuler tanpa kelainan spinal.
2. Nyeri Punggung Bawah Kronis
a. Nyeri noniseptif somatis, misalnya: proses degeneratif pada spina atau
diskus, spondilolisthesis, syndroma nyeri myofacial.
b. Nyeri noniseptif viseral, misalnya nyeri rujukan dari organ pelvis, rongga
retroperitoneal, kandung empedu, kelenjar pankreas.
c. Nyeri neoropatik, misalnya: spinal stenosis, neoplasma (tumor).
d. Nyeri psikogenik, minsalnya: histeris, depresi.
3. Failed low back pain syndrome
Nyeri yang berkepanjangan pasca terapi, secara khusus diartikan sebagai
nyeri berkepanjangan pasca bedah atau komplikasi pembedahan.
4. Non cancer choricbacj syndrome
12

Nyeri yang disebabkan oleh organik yang berkaitan dengan kesan nyeri
yang abnorman.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik Nyeri Punggung Bawah(Noor, 2016)


Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan yaitu:
1. Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium penting untuk melihat laju endap darah
(LED), kadar Hb, jumlah leukosit dengan hitung jenis, dan fungsi ginjal.
2. Radiodiagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang sering digunakan meliputi hal-hal sebagai
berikut :
a. Rontgen vertebra. Foto sering terlihat normal dan kadang-kadang
dijumpai penyempitan ruang intervertebralis, spondilolistesis,
perubahan degeneratif, tumor spinal. Penyempitan ruangan
intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan dengan suatu posisi
yang tegang dan melurus dan suatu skoliosis akibat spasme otot
paravertebral.
b. Computed Tomografi (CT-scan), untuk menilai penyakit yang
mendasari adanya nyeri punggung bawah.
c. Ultrasonografi (USG), untuk menilai adanya penyempitan dari kanalis
spinalis.
d. Magneting Resonance Imaging (MRI), untuk memvisualisasi sifat dan
patologi dari nyeri punggung bawah .

2.8 Penatalaksanaan Nyeri Punggung Bawah(Wilkins & Williams, 2013)


Sebagian besar nyeri punggung bawah dapat sembuh dengan sendirinya
dan pulih dalam 4 minggu dengan pemberian analgesik, istirahat dan relaksasi.
Penatalaksanaan bergantung pada pereda nyeri dan ketidaknyamanan, modifikasi
aktivitas, dan pendidikan kesehatan pasien. Tirah baring direkomendasikan
selama 1 sampai 2 hari, maksimal 4 hari dan hanya dilakukan jika nyeri hebat.
Intervensi nonfarmakologis lain yang efektif mencakup kompres panas pada
13

permukaan kulit dan manipulasi spinal. Terapi perilaku kognitif (misalnya,


biofeedback), rigmen latihan/olahraga, manipulasi spinal, terapi fisik, akupuntur,
masase dan yoga merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk
mengatasi nyeri punggung bawah kronis tetapi tidak untuk nyeri punggung bawah
akut. Sebagian besar pasien perlu mengubah pola aktivitas mereka agar nyeri
tidak semakin buruk. Sebaiknya tidak memutar, menekuk, mengangkat dan
meregangkan punggung. Semua aktivitas yang akan menekan punggung. Kembali
menjalani aktivitas secara bertahan, dan program latihan erobik tekanan rendah
juga direkomendasikan.
Nyeri punggung bawah diberikan terapi sesuai tipe nyeri, nyeri punggung
bawah akut diberikan analgesik nonresep (misalnya, acetaminopen 2-4gr perhari),
obat antiinflamasi nonstreoid (NSAID) (misalnya, ibuprofen 15-20mg), dan
relaksan otot yang telah diresepkan (misalnya, siklobenzaprin 5-10mg), nyeri
punggung bawah kronis diberikan antidepresan trisiklik (misalnya, amitriptilin
10mg/kg/BB), lainnya seperti tramadol 50-100mg, benzodiazepine (misalnya,
dizepam 5-10mg), dan gabapentin 300-400 mg.

2.9 Prognosis Nyeri Punggung Bawah


Prognosis nyeri punggung bawah baik pada tipe mekanik. Setelah 1 bulan
pengobatan, 35% pasien dilaporkan membaik, dan 85%pasien membaik setelah 3
bulan. Dilaporkan tingkat kekambuhan nyeri punggung bawah mencapai 62%
pada tahun pertama. Setelah 2 tahun, 80% pasien setidaknya mengalami 1 kali
kekambuhan (Erizal, 2014).
14

2.10 Kerangka Teori


Kerangka teori pada penelitian ini adalah
1. Peregangan otot berlebihan
2. Aktivitas berulang
3. Sikap kerja yang tidak alamiah
4. Faktor penyebab
- Tekanan: terjadi tekanan
langsung pada jaringan otot
yang lunak.
- Gertaran: getaran dengan
frekuensi tinggi akan Keluhan Nyeri
menyebabkan kontraksi otot Punggung Bawah
bertambah.
5. Kombinasi
- Umur
- Jenis kelamin
- Kebiasaan merokok
- Ukuran tubuh
- Kekuatan fisik
- Kesegaran jasmani
Gambar 2.3 Kerangka Teori (Tarwaka, 2010).
15

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep


Berdasarkan kerangka teori penyebab nyeri punggung bawah adalah
peregangan otot berlebihan, aktivitas berulang, sikap kerja yang tidak alamiah,
faktor penyebab tekanan dan getaran, serta kombinasi: umur, jenis kelamin,
kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, ukuran tubuh dan kekuatan fisik. Dalam
penelitian ini penulis mengambil variabel usia, kebiasaan merokok, ukuran tubuh
dengan alasan bahwa variabel tersebut diduga memiliki permasalahan yang terjadi
di lapangan. Sedangkan variabel yang lain tidak diikut sertakan sebagai variabel
penelitian karena variabel tersebut susah diukur dan selain itu juga dikarenakan
keterbatasan pengetahuan, waktu dan dana yang dimiliki oleh peneliti.
Dalam penelitian ini sebagai variabel bebas (independent) adalah
usia,kebiasaan merokok,ukuran tubuh. Sedangkan variabel terikat(dependent)
adalah kejadian nyeri punggung bawahpada sopir angkutan kota di Terminal
Rawasaritahun 2016. Berikut ini kerangka konsep penelitian:

Kerangka Konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini adalah.
Variabel Independent Variabel Dependent

Usia

Kebiasaan Nyeri Punggung


Merokok Bawah

Ukuran Tubuh

Gambar 3.1Kerangka Konsep.


16

3.2 Definisi Operasional


Definisi Operasional pada penelitian ini adalah:
Tabel 3.2Definisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
Dependent Nyeri yang Kuesioner Angket 1. Nyeri Nominal
Nyeri dirasakan punggun
Punggung didaerah g bawah
Bawah punggung 2. Tidak
bawah nyeri
L4-L5 dan punggun
L5-S1 g bawah
Independent Umur Kuesioner Angket 1 Beresiko Interval
Umur responden nyeri
yang punggun
terhitung g bawah
sejak lahir jika usia
hingga ulang 35
tahun terakhir tahun
2 Tidak
beresiko
nyeri
punggun
g bawah
jika usia
<35
tahun
17

Kebiasaan Tindakan Kuesioner Angket 1. Perokok Nominal


Merokok atau aktivitas ringan
menghisap 0-200
rokok yang 2. Perokok
dilakukan sedang
oleh 200-600
responden 3. Perokok
minimal 1 berat
batang rokok >600
setiap hari

Ukuran Indeks massa IMT 1.Timbangan 1. Obesitas


Tubuh tubuh Berat badan Merk: ZT jika IMT
responden ( kg) 150 25,0->30

(Tinggi 2.Meteran 2. Tidak


Badan (m)) Merk: GEA obesitas,
jika IMT
3.Kalkulatr (<18,5-
DATEX DS- 22,9)
700C

3.3 Hipotesis Penelitian


Hipotesis pada penelitian ini adalah
Ada hubungan yang bermakna antara umur, kebiasaan merokok
danukurantubuh dengan keluhan nyeri punggung bawah pada sopir angkutan kota
di Terminal Rawasari Jambi 2016.
18

3.4 Desain Penelitian


Jenis penelitian ini adalah termasuk penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian cross sectional yaitu untuk melihat hubungan variabel dependent dan
independent pada waktu bersamaan.

3.5 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.5.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Terminal Rawasari Jambi 2016
3.5.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan November sampai Desember
2016

3.6 Populasi dan Sampel Populasi


3.6.1 Populasi
Populasi penelitian ini meliputi seluruh sopir angkutan kota diTerminal
Rawasari Jambi 2016.
3.6.2 Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah berjumlah 73
orang dengan cara pengambilan sampel dilakukan secara total sampling.
Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
1. Bersedia menjadi sampel.
2. Dapat diajak berkomunikasi dan kooperatif
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:
1. Responden yang diluar Terminal Rawasari Kota Jambi.
2. Tidak bersedia menjadi sampel.
19

3.7 Teknik Pengumpulan Data


3.7.1 Data Primer
Data primer merupakan data yang diambil secara langsung oleh penelitian
terhadap sasaran. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik
wawancara dan kuesioner yang ditujukan untuk mengetahui kejadian nyeri
punggung bawah.
3.7.2 Data Sekunder
Data sekunder diambil dari bagian Dinas Perhubungan Kota Jambi tentang
jumlah sopir angkutan kota di Terminal Rawasari Kota Jambi yang digunakan
sebagai data pendukung dari hasil penelitian.

3.8 Instrumen Penelitian


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner,
timbangan, meteran dan kalkulator. Dalam pengumpulan data peneliti melakukan
sendiri dalam mengumpulkan kuesioner dan data yang diperlukan yang
sebelumnya diberikan penjelasan mengenai penelitian dan maksud dari masing-
masing pertanyaan.
Untuk mempermudah analisis data dilakukan pemberian skor pada
masing-masing pertanyaan sebagai berikut:
a. Nyeri punggung bawah
Jika responden mengalami nyeri punggung bawah maka diberi kode: 1,
jika responden tidak mengalami nyeri punggung bawah maka diberi kode: 2.
b. Usia
Jika responden berusia 35 tahun maka diberi kode: 1, jika responden
berusia <35 tahun bawah maka diberi kode: 2
c. Kebiasaan merokok
Jika responden merokok maka diberi kode: 1, jika responden tidak
merokok maka diberi kode: 2.
d. Ukuran tubuh
20

Jika responden obesitas dengan hasil IMT (25,0 >30) maka diberi kode:
1, jika responden tidak obesitas dengan hasil IMT (<18,5-24,9) maka diberi
kode: 2.
3.9 Pengolahan dan Teknik Analisa Data
3.9.1 Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan kemudian dilakukan dengan menggunakan teknik
analisis kuantitatif. Pada analisa kuantitatif menggunakan perangkat komputer dan
analisa secara univariat dan bivariat melalui beberapa tahapan.
a. Editing
Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau
kuesioner.
b. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi
berbentuk angka atau bilangan.
c. Processing
Setelah kuesioner terisi penuh dan benar, serta sudah melewati
pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar data
yang sudah di-entry dapat dianalisis. Pemrosesan data dilakukan dengan cara
meng-entry data dari kuesioner ke paket program komputer.
d. Cleaning
Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali
data yang sudah di-entry apakan ada kesalahan atau tidak.

3.10 Analisa Data


3.10.1 Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk memperoleh gambaran masing-masing
variabel, data tersebut ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk
mengetahui variasinya serta proposi penyebarannya yang digunakan sebagai
analisis selanjutnya.
21

3.10.2 Analisis Bivariat


Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan dua variabel yaitu variabel
independent dengan variabel dependent. Untuk mengetahui hubungan tersebut
digunakan uji chi-square. Untuk kemaknaan hasil perhitungan statistik digunakan
batas kemaknaan 0,05. Penolakan terhadap hipotesis apabila p-value < 0,05,
artinya terdapat hubungan yang bermakna (Ho ditolak). Sedangkan apabila p-
value > 0,05, artinya tidak ada hubungan yang bermakna (Ho gagal ditolak).
22

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Analisis Univariat


4.1.1 Faktor Umur
Distribusi reponden menurut variabel umur pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1Distribusi Responden Menurut Variabel Umur Pada
SopirAngkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi 2016.
No. Umur Jumlah Persentase
(dalam orang) ( dalam persen)
1. Berisiko 31 42,5
2. Tidak Berisiko 42 57,5
Total 73 100
Berdasarkan Tabel 4.1 umur dikategorikan menjadi 2 diketahui bahwa
dari 73orang , 31 orang (42,5%) beresiko mengalami nyeri punggung bawah, dan
42 orang (57,5%) tidak beresiko mengalami nyeri punggung bawah.
4.1.2 Faktor Kebiasaan Merokok
Distribusi reponden menurut variabel kebiasaan merokok pada tabel
berikut ini:
Tabel 4.2Distribusi Responden Menurut Variabel Kebiasaan Merokok
pada Sopir Angkutan Kota di Terminal RawasariJambi 2016.
No. Kebiasaan Merokok Jumlah Persentase
(dalam orang) (dalam persen)
1. Merokok 57 78,1
2. Tidak Merokok 16 21,9
Total 73 100
Berdasarkan Tabel 4.2dapat diketahui bahwa dari 73 orang, 57 orang
(78,1%) mempunyai kebiasaan merokok dan 16 orang (21,9%) tidak merokok.
4.1.3 Faktor Ukuran Tubuh
Distribusi reponden menurut variabel ukuran tubuh pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3Distribusi Responden Menurut Variabel Ukuran Tubuh pada
Sopir Angkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi 2016.
23

No. Ukuran Tubuh Jumlah Persentase


(dalam orang) (dalam persen)
1. Obesitas 33 45,2
2. Tidak Obesitas 40 54,8
Total 73 100
Berdasarkan Tabel 4.3menunjukkan bahwa dari 73 orang yang mengalami
obesitas terdiri dari 33 orang (45,2%) dan 40 orang (54,8%)tidak mengalami
obesitas.
4.1.4 Nyeri Punggung Bawah
Tabel 4.4Distribusi Responden Menurut Variabel Nyeri Punggung Bawah
pada Sopir Angkutan Kota di Terminal RawasariJambi 2016
No. Nyeri Jumlah Persentase
(dalam orang) (dalam persen)
1. Nyeri Punggung Bawah 62 84,9
2. Tidak Nyeri 11 15,1
Total 73 100
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 73 orang, 62 orang
(84,9%) mengalami nyeri punggung bawah dan 11 orang (15,1%) tidak
mengalami nyeri.

4.2 Analisis Bivariat


4.2.1 Hubungan antara umur dengan keluhan nyeri punggung bawah
Hasil analisis antara umur dengan nyeri punggung bawah dapat dilihat dari
tabel dibawah ini:
Tabel 4.5Hubungan Umur dengan Nyeri Punggung Bawah pada Sopir
Angkutan Kota di Terminal RawasariJambi 2016
Usia Nyeri Total P.Value
Nyeri punggung Tidak nyeri N %
bawah
N % N %
Berisiko 30 96,8 1 3,2 31 100 0,036
Tidak 32 76,2 10 23,8 42 100
berisiko
Hasil analisis hubungan umur dengan nyeri punggung bawah pada Tabel
4.5 menunjukkan bahwa, dari 31 orang yang umurnya beresiko atau lebih dari 35
tahun ada sebanyak 30 orang (96,8%) yang mengalami nyeri punggung bawah.
24

Sementara dari 42 orang yang umurnya tidak beresiko atau kurang dari 35 tahun
ada sebanyak 32 orang(76,2%) yang mengalami nyeri punggung bawah.
4.2.2 Hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri
punggung bawah
Hasil analisis antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri punggung
bawah dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel 4.6Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Nyeri Punggung Bawah
pada Sopir Angkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi 2016
Kebiasaan Nyeri Total P.Value
Merokok Nyeri Tidak Nyeri N %
Punggung
Bawah
N % N %
Merokok 52 91,2 5 8,8 57 100 0,015
Tidak 10 62,5 6 37,5 16 100
Merokok
Hasil analisis hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan
nyeripunggungbawahpada Tabel 4.6 menunjukkan bahwa, dari 57orang yang
mempunyai kebiasaan merokok, 52 orang (91,2%)mengalami nyeri punggung
bawah sementaradari 16 orang yang tidak merokok 10 orang (62,5%) responden
mengalami nyeri punggung bawah
4.2.3 Hubungan antara ukuran tubuh dengan keluhan nyeri punggung
bawah
Hasil analisis antara ukuran tubuh dengan keluhan nyeri punggung bawah
dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel 4.7 Hubungan Ukuran Tubuh dengan Nyeri Punggung Bawah pada
Sopir Angkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi 2016
Ukuran Nyeri Total P.Value
tubuh Nyeri Punggung Tidak Nyeri N %
Bawah
N % N %
Obesitas 32 97,0 1 3,0 33 100 0,022
Tidak 30 75,0 10 25,0 40 100
Obesitas
Hasil analisis hubungan ukuran tubuh dengan keluhan nyeri punggung
bawah pada Tabel 4.7menunjukkan bahwa, dari 33 orang yang mengalami
25

obesitas, 32 orang (97%) mengalami nyeri punggung bawah sementaradari 40


orang yang tidak mengalami obesitas 30 orang (75%)mengalami nyeri punggung
bawah.

4.3 PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan untuk mencari Beberapa
Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri punggung bawah pada sopir
Angkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi 2016 didapatkan beberapa
pembahasan sebagai berikut:

4.3.1 Faktor Umur


Berdasarkan hasil penelitianpada Tabel 4.1menunjukkan bahwa dari 73
orang, 31 orang (42,5%) beresiko nyeri punggung bawah, da 42 orang (57,5%)
tidak beresiko mengalami nyeri punggung bawah.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi
(2009) tentang faktor yang berhubungan terhadap nyeri punggung bawah pada
penjual jamu gendong. Dengan p-value 0,026. Hal ini ada hubungan yang
signifikan antara umur dengan keluhan nyeri punggung bawah (Pratiwi, 2009).
Padaumumnya keluhan sistem muskuloskeletal sudah mulai dirasakan
pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus meningkat sejalan dengan
bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena pada umur setengah baya, kekuatan
dan ketahanan otot mulai menurun sehingga resiko terjadinya keluhan otot
meningkat.Pada saat umur mencapai 60 tahun, rerata kekuatan otot menurun
sanpai 20%. Pada saat kekuatan otot mulai menurun maka resiko terjadinya
keluhan otot akan meningkat. Umur mempunyai hubungan yang sangat kuat
dengan keluhan sistem muskuloskeletal, terutama untuk otot leher dan bahu,
bahkan ada beberapa ahli lainnya menyatakan bahwa umur merupakan penyebab
utama terjadinya keluhan otot (Tarwaka, 2010).
26

4.3.2 Faktor Kebiasaan Merokok


Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.2menunjukkan bahwa dari 73
orang, 57 orang (78,1%) mempunyai kebiasaan merokok dan 16 orang (21,9%)
tidak merokok.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Heru Septiawan (2013) tentang faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri
punggung bawah pada pekerja bangunan PT Mikroland Semarang. Dengan
menyataka p-valuelebih dari 0,05 (0,548 > 0,05) yang artinya tidak ada hubungan
antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja
bangunan di PT Mikroland Property Development Semarang (Heru Septiawan
2013).
Bahaya terbesar yang diakibatkan oleh kebiasaan merokok adalah
rentannya jantung dan pembuluh darah perokok dalam mengalami gangguan yang
umumnya menyebabkan kematian. Adrenalin yang berlebihan bisa mempengaruhi
kerja sel darah, yakni dengan membuatnya memiliki tingkat keasaman (free fatty
acids) yang cukup tinggi, hingga darah pun menjadi terlalu kental. Kekentalannya
membuatnya melekat pada dinding pembuluh darah layaknya kolesterol yang
berlebih. Bila tidak segera diatas, maka darah yang melekat ini akan menumpuk
dari hari ke hari (Aiman Husaini, 2006).
Tingkat keasaman yang tinggi serta mengentalnya darah yang disertai
dengan meningkatnya tekanan darah (hipertensi) pada tubuh perokok, ada tiga
faktor yang menyebabkannya rentan terhadap serangan jantung. Pembuluh darah
yang mengeras adalah pembuluh darah yang memberi asupan nutrisi pada organ
jantung. Hal ini berimbas pada terhambatnya nutrisi plus oksigen yang seharusnya
diterima oleh organ jantung dari pembuluh darah dan inilah yang memicu
serangan jantung (Aiman Husaini, 2006).

4.3.3 Faktor Ukuran Tubuh


Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 73
orang yang mengalami obesitas terdiri dari 33 orang (45,2%) dan 40 orang
(54,8%) tidak mengalami obesitas.
27

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Heru Setiawan (2013) tentang


faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja
bangunan di PT Mikroland Property Development Semarang yang menyatakan
terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan nyeri punggung bawah.
Dengan nilai p-Value 0,030 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yaitu ada
hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan keluhan nyeri punggung bawah
pada pekerja bangunan di PT Mikroland Property Development Semarang (Heru
Septiawan, 2013).

Walaupun pengaruhnya relatif kecil, berat badan, tinggi badan dan masa
tubuh juga merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan sistem
musculoskeletal. Wanitayang gemuk mempunyai resiko dua kali lipat
dibandingkan wanita kurus. Hal lain menyatakan bahwa pada tubuh yang tinggi
umumnya sering menderita keluhan sakit punggung, tetapi tubuh tinggi tidak
mempunyai pengaruh terhadap keluhan pada leher, bahu dan pergelangan tangan
(Tarwaka, 2010).

Apabila dicermati, keluhan pada sistem muskuloskeletal yang terkait


dengan ukuran tubuh lebih disebabkan oleh kondisi keseimbangan struktur
rangka.Sebagai contoh, tubuh yang tinggi pada umumnya mempunyai bentuk
tulang yang langsing sehingga secara biomekanik rentan terhadap tekan dan
rentan terhadap tekukan, oleh karena itu mempunyai risiko yang lebih tinggi
terhadap terjadinya keluhan sistem muskuloskeletal (Tarwaka, 2010).

4.3.4 Nyeri Punggung Bawah

Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.4menunjukkan bahwa dari 73


orang. Mengalami nyeri punggung bawah 62 orang (84,9%) dan 11 orang (15,6%)
tidak mengalami nyeri punggung bawah. Hal ini menunjukkan para sopir lebih
banyak merasakan keluhan nyeri punggung bawah.
28

4.3.5 Hubungan antara umur dengan keluhan nyeri punggung bawah

Hasil analisis hubungan umur dengan nyeri punggung bawah pada Tabel
4.5 menunjukkan bahwa dari 31 orang yang umurnya berisiko atau lebih dari 35
tahun ada sebanyak 30 orang (96,8%) yang mengalami nyeri punggung bawah.
Sementara dari 42 orang yang umurnya tidak berisiko atau kurang dari 35 tahun
ada sebanyak 32 (76,2%) orang yang mengalami nyeri punggung bawah.
Hasil uji statistik di dapatkan nilai p-value 0,036 artinya p-value < alpha
(0,05) = Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan ada hubungan usia dengan kejadian
nyeri punggung bawah.
Penelititan ini sejalan dengan penelitian menurut Fitriningsih (2010)
tentang hubungan umur, beban kerja dan posisi duduk saat bekerja dengan
keluhan nyeri punggung pada pengemudi angkutan kota di Kabupaten Wonosobo
Jawa Tengah Tahun 2010 dengan p-Value 0,039 sehinggan dinyatakan umur
responden berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah (Fitriningsih
2010).
Dari hasil penelitian banyak pekerja yang masih muda umur dibawah 35
tahun walaupun masih ada pekerja yang tua diatas 35 tahun, tetapi umur tidak
menjadi suatu masalah terjadinya keluhan nyeri punggung bawah selagi pekerja
memperhatikan sikap kerja yang alamiah. Pekerja dengan umur berisiko harus
lebih memperhatikan kesehatan dan bekerja yang sesuai kemampuan tenaga.
Prevalensi sebagian besar gangguan tersebut meningkat dengan usia,
keluhan otot skeletal mulai dirasakan pada usia kerja yaitu 25-65 tahun, keluhan
pertama biasanya dirasakan pada umur 35 tahun dan tingkat keluhan akan terus
meningkat sejalan dengan bertambahnya umur, hal ini terjadi karena pada umur
setengah baya kekuatan dan ketahanan otot mulai menurun sehingga resiko
terjadinya keluhan otot meningkat (Tarwaka, 2010).
4.3.6 Hubungan antara kebiasaan merokok dengan keluhan nyeri
punggung bawah
Hasil analisis hubungan kebiasaan merokok dengan keluhan
nyeripunggungbawahpada Tabel 4.6 menunjukkan bahwa, dari 57orang yang
29

mempunyai kebiasaan merokok, 52 orang (91,2%)mengalami nyeri punggung


bawah sementaradari 16 orang yang tidak merokok 10 orang (62,5%) mengalami
nyeri punggung bawah.
Hasil uji statistik di dapatkan nilai p-value 0,015 artinya p-value > alpha
((0,05) = Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan ada hubungan kebiasaan merokok
dengan kejadian nyeri punggung bawah.
Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Nurzannah (2015) tentang hubungan faktor resiko dengan terjadinya nyeri
punggung bawah padatenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Belawan Medan
yang menyatakan nilai p-Value 100,0 yang artinya tidak ada hubungan yang
bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian nyeri punggung bawah
(Nurzannah, 2015).
Kebiasaan merokok para pengemudi angkutan kota tidak hanya dilakukan
pada saat istirahat tetapi dalam melakukan pekerjaannya para pengemudi
angkutan kota juga melakukan kebiasaan merokok. Para sopir merokok pada saat
mengemudikan mobil dikarenakan tidak ada aturan yang melarang mereka
merokok pada saat bekerja. Kebiasaan merokok yang dilakukan para pengemudi
angkutan kota membuat mereka lebih nyaman melakukan pekerjaannya.
Kebiasaan merokok, sama halnya dengan faktor resiko jenis kelamin,
pengaruh kebiasaan merokok terhadap resiko keluhan otot juga masih
diperdebatkan oleh para ahli, namun demikian, beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa meningkatnya otot sangat erat hubungannya dengan lama
dan tingkat kebiasaan merokok. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi
merokok, semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan (Tarwaka,
2010).
Bahaya lain yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok lainnya adalah
keadaan kesakitan yang sangat hebat di punggung saat ketika tubuh melakukan
tugas berat dan bahkan secara perlahan bisa menyebabkan kematian bagi
penderitanya bila ia tidak melepaskan diri dari ketergantunngannya merokok dan
tidak mengobati penyakit tersebut dengan baik (Aiman Husaini, 2006). Oleh
30

karena itu diperlukan kesadaran yang tinggi bagi responden untuk berhenti
merokok karena merokok sangat membahaykan bagi tubuh.
4.3.7 Hubungan antara ukuran tubuh dengan keluhan nyeripunggung
bawah
Hasil analisis hubungan ukuran tubuh dengan keluhan nyeri punggung
bawah pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa, dari 33 orang yang mengalami
obesitas, 32 orang (97%) mengalami nyeri punggung bawah sementaradari 40
orang yang tidak mengalami obesitas 30 orang (75%)mengalami nyeri punggung
bawah.
Hasil uji statistik di dapatkan nilai p-value 0,022 artinya p-value > alpha
((0,05) = Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan ada hubungan obesitas dengan
kejadian nyeri punggung bawah.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Heru Setiawan (2013) tentang
faktor yang berhubungan dengan keluhan nyeri punggung bawah pada pekerja
bangunan di PT Mikroland Property Development Semarang yang menyatakan
terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan nyeri punggung bawah.
Dengan nilai P-Value 0,030 sehingga Ho ditolah dan Ha diterima yaitu ada
hubungan antara Indeks Massa Tubuhdengan keluhan nyeri punggung bawah
pada pekerja bangunan di PT Mikroland Property Development Semarang (Heru
Septiawan, 2013).
Dari 33 orang yang mengalami obesitas yaitu sebanyak 32 orang
mengalami nyeri punggung bawah. Obesitas memiliki konsekuensi fisiologis dan
psikologis yang serius, berhubungan dengan peningkatan morbiditas dan
mortalitas. Ini memberikan kontribusi yang buruk untuk kesehatan berhubungan
dengan kualitas hidup yang tidak baik melebihi dari merokok dan penggunaan
alkohol secara berlebihan. Kemungkinan besar obesitas akan menggantikan rokok
sebagai penyebab utama kematian di Amerika Serikat jika kejadian ini terus
berlangsung (Lemone & Burke, 2008)
31

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mencari Hubungan
Antara Umur, Kebiasaan Merokok dan Ukuran Tubuh dengan Keluhan Nyeri
Punggung Bawah pada sopir angkutan Kota di Terminal Rawasari Kota Jambi
Tahun 2016 di dapatkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara umur dengan keluhan nyeri
punggung bawah menunjukkan bahwa dari 73 orang, 31 orang yang
umurnya beresiko atau lebih dari 35 tahun ada sebanyak 30 orang (96,8%)
yang mengalami nyeri punggung bawah dan 1 orang (3,2%) yang tidak
mengalami nyeri punggung bawah. Sementara dari 42 orang yang tidak
beresiko atau kurang dari 35 tahun ada sebanyak 32 orang (76,2%) yang
mengalami nyeri punggung bawah dan 10 orang (23,8%) tidak mengalami
nyeri punggung bawah.
2. Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara kebiasaan merokok dengan
keluhan nyeri punggung bawah menunjukkan bahwa dari 73 orang, 57
orang yang mempunyai kebiasaan merokok, hanya 52 orang (91,2%) yang
mengalami nyeri punggung bawah dan 5 orang (8,8%) yang tidak
mengalami nyeri punggung bawah. Sementara dari 16 orang yang tidak
merokok hanya 10 orang (62,5%) yang mengalami nyeri punggung bawah
dan 6 orang (37,5%) tidak mengalami nyeri punggung bawah.
3. Berdasarkan hasil penelitian hubungan antara ukuran tubuh dengan
keluhan nyeri punggung bawah menunjukkan bahwa dari 73 orang, 33
orang yang mengalami obesitas, hanya 32 orang (97,0%) yang mengalami
nyeri punggung bawah dan 1 orang (3,0%) yang tidak mengalami nyeri
punggung bawah. Sementara dari 40 orang yang tidak mengalami obesitas
hanya 30 orang (75,0%) yang mengalami nyeri punggung bawah dan 10
orang (25,0%) yang tidak mengalami nyeri punggung bawah.
32

4. Berdasarkan hasil penelitian dari 73 orang, menunjukkan bahawa 31 orang


(42,5%) beresiko mengalami nyeri punggung bawah dan 42 orang (57,5%)
tidak beresiko mengalami nyeri punggung bawah. Dari 73 orang, 57 orang
(78,1%) yang mempunyai kebiasaan merokok dan 16 orang (21,9%) yang
tidak merokok. Dari 73 orang, 33 orang (45,2%) yang mengalami obesitas
dan 40 orang (54,8%) yang tidak mengalami obesitas.

5.1 Saran
a. Bagi Sopir Angkutan Kota
Pekerja dengan umur beresiko harus lebih memperhatikan kesehatan
danbekerja yang sesuai kemampuan tenaga. Diperlukan kesadaran yang
tinggi
bagi responden untuk berhenti merokok karena merokok
sangatmembahayakan bagi tubuh. Serta rencana tindak lanjut yang perlu
perhatiankhusus bagi penderita obesitas, yaitu dalam hal perencanaan
makan (diet) dan penurunan berat badan, menjaga pola hidup sehat dengan
berolahraga
b. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan kedepan dapat melakukan kajian
lebih jauh lagi khususnya dari aspek jumlah responden, variabel
penelitian, metodologi penelitian, untuk meningkatkan kesempurnaan
dalam penulisan dan kualitas penelitian tersebut.
33

DAFTAR PUSTAKA

Erizal, M. 2014. Anatomi Tulang Punggung Bawah. Repository Usu.ac.id, Medan


Sumatra Utara:Hal 1

Fitriningsih, (2010). Hubungan Umur, Beban Kerja, dan Posisi Duduk saat
Bekerja dengan Keluhan Nyeri Punggung pada Pengemudi Angkutan Kota
di Kabupaten Wonosobo Tahun 2010. Jawa Tengah

Husaini, Aiman, (2006). Tobat Merokok. Depok: Pustaka Iman

Huldani., 2012. Nyeri Punggung Bawah. Fakultas Kedokteran Universitas


Lambung Mangkurat. Banjar Masin.

Janani, N. 2015.Hubungan Antara Lamanya Duduk Dengan Timbulnya


GejalaNyeri Punggung Bawag pada Sopir Taksi di Kota Medan. Medan

Julia K dan Peter D. 2011. Keperawatan Ortopedik & Trauma. Jakarta: EGC: Hal
9.

Kumar, dkk., (2009). Dasar Patologis Penyakit. Jakarta :EGC

Lemone & Bruke, (2008). Medical-Surgical Nursing Critical Thinking in Client


Care. Person Prentice Hall

Lewis. et al. 2007. Medical Surgical Nursing Assessment and Managemen of


Clinical Promblems. Volume 2. Amerika Serikat: Mosby Elsevier: 1675,
1680.

Mahadewa ,B. G., dan Maliawan. 2009. Diagnosis & tatalaksana


KegawatDaruratan Tulang Belakang. Jakarta: Sagung Seto: Hal 1-9.

Nor, M. 2011. Indeks Massa Tubuh. Respository Usu, Medan Sumatra Utara.
34

Noor, Z. 2016. Buku Ajar Gangguan Musculoskeletal.Salemba Medika, Jakarta


:371-323.

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Nuha Medika

Nurzannah, (2015). Hubungan Faktor Resiko dengan Kejadian Nyeri Punggung


Bawah (Low Back Pain) pada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di
Pelabuhan Belawan Medan Tahun 2015. Sumatera Utara
Perhimpunana Dokter Paru Indonesia, 2011. Penyakit Paru Obstruktif Kronik.

Pabst, R dan Putz, R. 2007. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Ed 22. Jakarta: EGC:
Hal: 004

Pratiwi, dkk. (2009). Beberapa Faktor yang Berpengaruh Terhadap Keluhan


Nyeri Punggung pada penjual jamu gendong. Jurnal promosi kesehatan
vol. 4/No. 1/Januari 2009. Semarang: Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro.

Smeltzer., and Suzzane, 2008. Textbook of Medical-Surgical Nursing.


EleventhEdition. Amerika Serikat: Philadelphia: Include Live Advise
Student online Tutoring

Septiawan Heru, (2013). Factor yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri


Punggung Bawah pada Pekerja Bangungan di PT Mikroland Property
Development Semarang Tahun 2012. Semarang

Tarwaka.,2010. Ergonomi Industri Dasar- Dasar Pengetauan Ergonomi Dan


Aplikasi Di Tempat Kerja, Surakarta : 307-310.

Wilkins., dan Wiliams. 2013. Keperawatan Medikal Bedah: Brunner


&Suddarth.Jakarta: EGC: Hal 10-11
35

LAMPIRAN 1

LEMBAR PENJELASAN

Judul Penelitian : Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri


Punggung Bawah pada Sopir Angkutan Kota di Terminal Rawasari Jambi Tahun
2016.

Tujuan Penelitian : Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan umur, kebiasaan merokok dan ukuran tubuh dengan keluhan nyeri
punggung bawah pada sopir angkutan kota di terminal Rawasari kota Jambi tahun
2016.

Manfaat Penelitian : Sebagai bahan masukan dan informasi kepada para


pengemudi angkutan kota untuk lebih memperhatikan keselamatan dan
kenyamanan pada saat bekerja. Serta sebagai data awal dan perbandingan bagi
peneliti selanjutnya dalam melaksanakan penelitian yang sama dengan variable
berbeda.

Teknis Penelitian : Sopir mengisi kuesioner yang telah disediakan oleh


peneliti, setelah itu peneliti melakukan pengukuran tinggu badan dan menimbang
badang sopir yang akan di teliti. Penelitian ini bersifat tidak memaksa, responden
berhak menolak jika tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
36

LAMPIRAN 2

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Judul Penelitian : Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan


Nyeri Punggung Bawah pada Sopir Angkutan Kota di Terminal Rawasari Kota
Jambi Tahun2016
Nama Mahasiswa : Evie Marsela. As

Nim : 7114080132

Status : Mahasiswi

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama :

Umur :

Alamat :

Setelah diberikan penjelasan oleh peneliti, saya bersedia turut berpartisipasi


sebagai responden penelitian. Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan
berakibat negatif terhadap saya dan jawaban saya adalah sebenar-benarnya demi
kepentingan penelitian.

Jambi, November 2016

Responden
37

KUESIONER PENELITIAN
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH
PADA SOPIR ANGKUTAN KOTA
DI TERMINAL RAWASARI
JAMBI TAHUN 2016

I. IDENTITAS RESPONDEN
Nomor Responden :
Hari / Tanggal :
Umur Responden :

1. Berapa usia Bapak saat ini ?

2. Apakah Bapak mempunyai kebiasaan merokok ?


a. Ya
b. Tidak
3. Apabila jawaban no 2 ya, berapa banyak bapak merokok setiap hari ?
a. 0-1 batang perhari
b. 2-3 batang perhari
c. Lebih dari 3 batang perhari
4. Obesitas
Berat Badan:.............................Kg
Tinggi Badan:...........................cm
Indeks Masa Tubuh = Berat Badan (Kg)
Tinggi Badan (m2)
38

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KELUHAN NYERI PUNGGUNGBAWAH
PADA PENGEMUDI SUPIR KOTA
DI TERMINAL RAWASARI
JAMBI TAHUN 2016

1. Petunjuk penilaian - Angket skiringnyeri punggung bawah akut (LINTON &


HALLDE'n, 1996)
a. Untuk pertanyaan 6, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 17, 18 sampai 24, skor adalah
nomor yang telah dicentangatau dilingkar.
b. Tulis skor di samping setiap item - Pertanyaan 4 sampai 24.
c. Jumlahkan semua angkauntuk mengetahui skor total.
Catatan: Metode scoring dijadikan kuesioner.

2. Interpretasi Skor - Angket skirining nyeri akut


Jika skor kuesioner > 105 menunjukkan bahwa pasien yang berisiko.
Skor ini menghasilkan:
a. Teridektifikasi bahwa 75% responden tidak memerlukan modifikasi dari
kegiatan yang dialami
b. Teridentifikasi bahwa 86% responden memerlukan libur kerja 1 sampai 30
hari
c. Teridentifikasi bahwa 83% responden memerlukan libur kerja > 30 hari
Pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan dibawah ini diisi jika Anda
menderita sakit atau nyeri, seperti punggung, bahu atau nyeri leher.

1. Tahun berapa anda lahir?

2. Jenis kelamin?

3. Dibagian tubuh manakan yang terasa sakit?


O Bahu O Leher O Punggung atas O Punggung Bawah O Kaki

4. Dalam waktu 18 bulan berapa hari anda mengalami sakit


O 0 hari O 1 - 2 hari O 3-7 hari O 8 - 14 hari O 15-30 hari
O 1 bulan O 3-6 bulan O 6-12 bulan O > 1 tahun

5. Sudah berapa lama anda merasakan sakit saat ini


O 0 hari O 1 - 2 hari O 3-7 hari O 8 - 14 hari O 15-30 hari
39

O 1 bulan O 3-6 bulan O 6-12 bulan O > 1 tahun

6. Apakah pekerjaan Anda berat atau monoton? Silang salah satu.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak berat Sangat berat>

7. Bagaimana Anda menilai rasa sakit yang Anda rasakan selama seminggu yang
lalu? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak ada rasa nyeri Sangat nyeri>

8. Dalam 3 bulan terakhir, rata-rata, seberapa buruk rasa sakit yang Anda
rasakan? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak ada rasa nyeri Sangat nyeri>

9. Seberapa sering Anda mengatakan bahwa Anda telah mengalami rasa sakit,
rata-rata, selama 3 bulan terakhir? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Jarang Selalu>

10. Berdasarkan semua cara yang telah kamu lakukan untuk mengatasi nyeri,
berapa banyak hal itu dapat mengurasi rasa nyeri yang anda rasakan setiap
hari? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

11. Apakah anda merasa tegang atau cemas dalam seminggu terakhir? Silang
salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Benar-benar tenang dan santai Tegang>

12. Berapa banyak anda telah terganggu oleh perasaan tertekan dalam seminggu
terakhir? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak sama sekali Sangat>

13. Menurut Anda, seberapa besar resikosakit yang anda rasakan saat ini dapat
menjadi terus menerus? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak ada resiko Berisiko sangat besar>

14. Apakah mungkin bahwa Anda dapat bekerja dalam 6 bulan? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak mungkin Sangat mungkin>
40

15. Jika Anda mempertimbangkan rutinitas kerja, manajemen, gaji, kemungkinan


promosi Anda dan pasangan bekerja,seberapa puaskah Anda dengan pekerjaan
Anda? Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak puas Sangat puas>

Berikut adalah beberapa hal yang orang lain rasakan tentang nyeri
punggung mereka. Untuk setiap pernyataan silakan melingkari/menyilang
salah satu nomor dari0-10 mengatakan bagaimana kegiatan fisik banyak,
seperti membungkuk, mengangkat, berjalan atau mengemudi akan
mempengaruhi punggung Anda.

16. Kegiatan fisik membuat rasa sakit saya lebih buruk. Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak setuju Setuju>

17. Peningkatan nyeri merupakan indikasi bahwa saya harus berhenti/istirahat


sampai rasa sakit berkurang. Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak setuju Setuju>

18. Saya tidak harus melakukan pekerjaan saat sedang merasa sakit. Silang salah
satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak setuju Setuju>

Berikut adalah daftar lima kegiatan. silahkan lingkari satu nomor yang
paling menggambarkan kemampuan Anda saat ini untuk berpartisipasi
dalam masing-masing kegiatan.

19. Saya bisa melakukan pekerjaan (mengendarai mobil) selama satu jam. Silang
salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak bisa melakukan karena nyeri Dapat melakukan tanpa rasa sakit>

20. Saya bisa duduk selama satu jam. Silang salah satu.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak bisa melakukan karena nyeri Dapat melakukan tanpa rasa sakit>

21. Saya bisa melakukan pekerjaan ringan. Silang salah satu.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak bisa melakukan karena nyeri Dapat melakukan tanpa rasa sakit>

22. Saya bisa berjalan. Silang salah satu.


41

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak bisa melakukan karena nyeri Dapat melakukan tanpa rasa sakit>

23. Saya bisa tidur di malam hari. Silang salah satu.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
<Tidak bisa melakukan karena nyeri Dapat melakukan tanpa rasa sakit>
(Linton& Hallde'N,1996)