Anda di halaman 1dari 4

Evolusi Sel

Evolusi mengkaji tentang perubahan mahluk hidup yang terjadi secara betahap dan
berlangsung lama dalam jangka waktu tertentu serta menghasilkan spesies baru. Membahas
evolusi sel, berarti kita membahas mengenai keadaan bumi pada milyaran tahun yang lalu.
Dalam evolusi terjadi dua proses penting, yaitu : terjadinya variasi acak dalam informasi
genetik dari seseorang ke keturunannya dan seleksi dalam informasi genetik membantu
seorang pemiliknya untuk bertahan hidup dan menyebar. Evolusi merupakan prinsip dasar
biologi yang dapat membantu kita untuk mengetahui beberapa hal yang membingungkan di
dunia. Para ilmuwan mengatakan bahwa milyaran tahun lalu, bumi mengalami kejadian
seperti letusan-letusan vulkanik, kilat, hujan badai, oksigen bebas sedikit, dan tidak adanya
lapisan ozon yang menyerap radiasi untra ungu dari matahari.
1. Molekul-molekul organik berasal dari molekul-molekul anorganik
Stanley Miller dan Harold C. Urey (1953) melakukan upaya awal untuk melihat
berbagai jenis molekul organik yang mungkin telah diproduksi oleh bumi. Berdasarkan
percobaan yang telah dilakukan Miller, terbukti bahwa apabila gas CO2, CH4, NH3, dan H2
dicampur kemudian dipanaskan dan diberi energi melalui lecutan listrik atau radiasi ultra
ungu, maka gas-gas tersebut akan bereaksi membentuk molekul-molekul organik kecil dalam
jumlah yang besar. Di bawah ini merupakan alat yan digunakan Miller dalam penelitian,
yaitu:
Pada 28 September 1969, di dekat
Murchison, Australia, jatuh sebuah meteor
yang setelah dianalisis secara kimiawi
ternyata mengandung berbagai molekul
organik yang sangat mirip dengan produk
eksperimen Miller. Penelitian yang
dilakukan bidang radio astronomi ini
menemukan adanya molekul-molekul
organik di luar tata surya bumi (Kimball,
1991 dalam Lukman, 2008: 68). Apabila
kondisi planet dan tata surya diasumsikan
seperti kondisi awal bumi ketika terbentuk,
maka kandungan molekul organik pada
meteor dan hasil penelitian bidang radio
atronomi dapat membuktikan percobaan
Miller. Berdasarkan hal tersebut, dapat
disimpulkan bahwa kehidupan tidak terjadi
Gambar. Model perangkat yang digunakan secara tiba-tiba tapi bertahap yang mungkin
Miller dan Urey untuk sintesis berkembang dari molekul-molekul organik
molekul organik secara abiotik yang merupakan hasil dari reaksi molekul
anorganik.
2. Perkembangan dari prokariot sampai eukariot
Saat sel purba terbentuk, reaksi metabolik belum diperlukan oleh sel, karena sel dapat
mengambil molekul-molekul yang diperlukan langsung dari lingkungan yang pada
saat itu masih kaya dengan bahan organik. Lama kelamaan bahan organik tersebut
berkurang, sehingga sebagian sel membentuk enzim-enzim agar dapat membentuk
sendiri molekul-molekul organik. Seiring berjalannya waktu, enzim-enzim di dalam
sel semakin beragam sehingga reaksi-reaksi metabolik dalam sel semakin kompleks.
Kemungkinan enzim yang pertama kali terbentuk adalah enzim glikolisis, karena
proses degradasi(penguraian gula) dapat berlangsung secara anaerob. Dugaan ini
sesuai dengan keadaan awal bumi yang sedikit mengandung oksigen. Glikosis sangat
berguna karena berperan dalam menghasilkan energi yang digunakan untuk aktivitas
sel.
Pada akhirnya persediaan molekul
organik di alam habis, sehingga sel
harus memanfaatkan atom-atom karbn
dan nitrogen dari CO2 dan H2 di
atmosfer untuk diubah menjadi
molekul organik. Oleh sebab itu,
muncullah Cyanobacteria yang
mampu mengikat serta mengubah CO 2
dan N2 menjadi molekul-molekul
organik.
Selain berdampak positif, kehadiran O2 di atmosfer menjadi racun bagi sel-sel
anaerob, karena sifat O2 yang sangat reaktif sehingga daapt berinteraksi hampir
dengan semua pembentuk sitoplasma.
Hal ini mengakibatkan banyaknya sel
anaerob yang punah, namun sebagian
sel anaerob yang tidak punah
mengembangkan respirasi fakultatif
anaerob (Saccharomyces cereviseae)
dan membentuk simbiosis dengan sel-
sel anaerob yang dalam perkembangannya melahirkan sel eukariot.
3. Hipotesis endosimbiosis
Pada mulanya mitokondria adalah sejenis prokariot aerob yang kemudian dimakan
oleh sel eukariotik yang anaerob. pada akhirnya sel prokariotik aerob tersebut menjadi organel
mitokondria, dan sel eukariot yang semula anaerob menjadi aerob.

Gambar: Proses pembentukan mitokondria

Sama halnya dengan asal usul mitokondria, asal usul kloroplas di dalam sel eukariot
juga dijelaskan dengan hipotesis endosimbiosis. Sel eukariot primitif heterotrof menelan sel
prokariot autotrof sehingga terjadi simbiosis abadi.

Gambar: Proses pembentukan kloroplas


Membran Sel

1. Struktur dasar dan fungsi membran sel


Membran sel sering juga disebut dengan membran plasma. Membran plasma
merupakan bagian luar yang membatasi isi sel dengan lingkungannya (kecuali pada sel
tumbuhan, sel tumbuhan memiliki dinding sel pada bagian luarnya). Membran plasma bersifat
hidrofobik di bagian tengah dan hidrofilik di bagian permukaan luar maupun permukaan
sitosolik. Membran plasma terdiri dari senyawa lipid (senyawa yang bersifat hidrofobik,
namun sebagian bersifat hidrofilik karena beriaktan dengan gugus fosfat), protein dan
karbohidrat (senyawa yang bersifat hidrofilik). Komposisi lipid, protein, dan karbohidrat
bervariasi sesuai dengan macam selaputnya dan dapat berubah sesuai dengan tingkat
perkembangan sel, umur, dan lingkungannya. Keberadaan selaput plasma dapat dibuktikan
pada waktu sel mengalami plasmolisis.

Gambar. Struktur komponen membran plasma

2. Perkembangan Model Selaput Plasma


Pada tahun 1915, membran yang diisolasi dari sel darah merah dianalisis secara kimiawi
dan ternyata sel tersebut tersusun dari lipid dan protein.
Sepuluh tahun kemudian, dua ilmuan Belanda, E. Gorter dan F. Grendel, menalar
bahwa membran sel pastilah berupa lapisan ganda fosfolipid.
Pada tahun 1935, Hugh Davson dan James Danielli menyatakan bahwa kedua sisi
membran dilapisi protein hidrofilik.
Pada tahun 1960-an, model roti lapis Davson-Danielli telah diterima luas bukan hanya
sebagai struktur membran plasma, melainkan juga sebagai struktur semua membran
internal sel.
Mereka mengajukan model roti lapis (sandwich): suatu lapisan ganda fosfolipid di
antara dua lapisan protein.
Pada tahun 1972, S. J. Singer dan G. Nicolson mengajukan hipotesis bahwa protein
membran tersebar, satu-satu terselip pada lapisan ganda fosfolipid, dengan wilayah
hidrofilik yang menonjol keluar