Anda di halaman 1dari 36

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat-Nya
tinjauan pustaka ini dapat diselesaikan. Tinjauan pustaka ini disusun untuk
memenuhi salah satu tugas di ruangan oleh residen Program Pendidikan Dokter
Spesialis I Psikiatri FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar dan sebagai salah satu
sarana untuk terus belajar serta menambah ilmu pengetahuan yang diharapkan
dapat memberi manfaat bagi penulis maupun pembaca.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Dr. Luh Nyoman Alit Aryani, Sp.KJ(K) selaku Ketua Program Studi Psikiatri
FK UNUD/RSUP Sanglah dan sebagai dosen pembimbing dalam penyusunan
tinjauan pustaka ini yang telah membimbing dengan penuh dedikasi.

2. Dr. AA Sri Wahyuni, Sp.KJ selaku Kepala Bagian Lab/SMF Psikiatri FK


UNUD/RSUP Sanglah yang telah memberikan motivasi dalam penulisan
tinjauan pustaka ini.

3. Seluruh staf pengajar Bagian/SMF Psikiatri FK UNUD/RSUP Sanglah yang


sudah memberikan dukungan baik berupa ide, bahan referensi, dan dorongan
semangat dalam penulisan tinjauan pustaka.

4. Rekan-rekan residen dan semua pihak yang tidak sempat disebutkan satu
persatu atas bantuan dan dukungan dalam penyusunan tinjauan pustaka ini.

Akhir kata penulis menyadari bahwa tinjauan pustaka ini jauh dari
sempurna sehingga memerlukan bimbingan, kritik dan saran yang membangun
dari para senior maupun teman-teman residen lainnya. Atas masukannya penulis
mengucapkan banyak terima kasih.

Hormat saya,

dr. Endah Warroza Putri

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1


DAFTAR TABEL .................................................................................................. 3
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH .............................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan Manfaat ....................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3
2.1 Skizofrenia..................................................................................................... 3
2.1.1 Definisi Skizofrenia ................................................................................ 3
2.1.2 Etiologi Skizofrenia ................................................................................ 4
2.1.3 Epidemiologi Skizofrenia Skizofrenia 8
2.1.4 Kriteria Diagnosis Skizofrenia................................................................ 7
BAB III RINGKASAN ....................................................................................... 24

ii
DAFTAR TABEL

2.1 . Prevalensi Skizofrenia pada populasi tertentu

iii
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

1. WHO : World Health Organization


2. PPDGJ III : Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III
3. DSM 5 : Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorder 5th
4. Halusinasi : Persepsi tanpa adanya rangsangan pada panca indera
5. GABA : Gamma-Aminobutyric Acid
6. CT Scan : Computerized Tomography Scanner

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1%

penduduk di dunia menderita skizofenia selama hidup mereka. Gejala skizofenia

biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki

biasanya antara 15-25 tahun dan pada perempuan 25-35 tahun. Prognosis biasanya

lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah

40 tahun jarang terjadi. Menurut Pedoman PPDGJ III, skizofrenia dijelaskan

sebagai gangguan jiwa yang ditandai dengan distorsi khas dan fundamental dalam

pikiran dan persepsi yang disertai dengan adanya afek yang tumpul atau tidak

wajar. (Amir,N,2014)

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat yang bisa didapatkan di

seluruh dunia dengan prevalensi sekitar 1% dari populasi. Gangguan Skizofrenia

biasanya berlangsung kronis dan cenderung menjadi berat dan menetap serta

disertai eksaserbasi akut dan penurunan fungsi peran penderita. Onset gangguan

skizofrenia biasanya pada usia akhir masa remaja atau awal dewasa. Awitan pada

laki-laki biasanya antara 15-25 tahun dan pada perempuan antara 25-35 tahun.

Prognosis biasanya lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan

perempuan. Awitan setelah umur 40 tahun jarang terjadi. Gangguan skizofrenia

merupakan suatu neurodevelopmental brain disorder dengan ditandai adanya

gangguan interaksi neurotransmitter pada susunan saraf pusat. Dengan demikian

1
gangguan skizofrenia memerlukan pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi

gangguan interaksi neurotransmitter pada susunan saraf pusat tersebut. (Agusno,

2009)

Kekambuhan dapat muncul perlahan maupun tiba-tiba. Kekambuhan yang

muncul perlahan disebabkan karena faktor psikis, sementara kekambuhan yang

tiba-tiba lebih banyak faktor fisik/organik. Kekambuhan ditandai dengan

munculnya kembali gejala-gejala dari skizofrenia. Gejala ini meliputi aspek

kognitif (proses berpikir), afektif (suasana perasaan), dan psikomotor (perilaku).

(Djuari, Lilik; Karimah, Azimatul, 2015)

1.2 Tujuan dan Manfaat

Tujuan tinjauan pustaka ini adalah untuk membahas faktor risiko

kekambuhan pada pasien skizofrenia sehingga manfaatnya adalah hasil dari kajian

pustaka ini bisa mencegah terjadinya kekambuhan pada pasien skizofrenia.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skizofrenia

2.1.1 Definisi Skizofrenia

Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu

gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada

persepsi,pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan

kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif

tertentu dapat berkembang kemudian. Gejala skizofrenia secara garis besar dapat

di bagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif

berupa delusi, halusinasi, kekacauan pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau

bermusuhan. Gejala negatif adalah alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar,

menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan, miskin kontak emosional (pendiam,

sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh, sulit berpikir abstrak dan

kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif . (Sadock & Sadock, 2010)

Definisi skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis

Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) menjelaskan bahwa skizofrenia adalah suatu

sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan

penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah

akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial

budaya. Pada umumnya skizofrenia ditandai oleh penyimpangan yang

fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak

wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan

3
kemampuan intelektual dan biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran

kognitif tertentu dapat dapat berkembang kemudian. (Maslim, 2013)

2.1.2 Epidemiologi Skizofrenia

WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami

gangguan jiwa, di Indonesia diperkirakan mencapai 264 dari 1000 jiwa penduduk

yang mengalami gangguan jiwa. Salah satu gangguan jiwa Psikosa Fungsional

yang terbanyak adalah Skizofrenia. Data dari Riskesdas 2013 menyatakan

prevalensi pasien gangguan jiwa berat di Indonesia sebesar 1,7 per mil. Prevalensi

terbanyak adalah Propinsi DI Yogyakarta (2,7 per mil), Aceh (2,7 per mil),

Sulawesi Selatan (2,6 per mil), Bali (2,3 per mil), dan Jawa Tengah (2,3 per mil)

(Lesmanawati, 2012).Di Indonesia sendiri, kasus klien dengan Skizofrenia 25

tahun yang lalu diperkirakan 1/1000 penduduk dan diperkirakan dalam 25 tahun

mendatang akan mencapai3/1000 penduduk . (Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2013)

2.1.3 Etiologi Skizofrenia

Belum ditemukan etiologi yang pasti mengenai skizofrenia. Skizofrenia di

diskusikan seolah-olah sebagai suatu penyakit tunggal namun kategori

diagnostiknya mencakup sekumpulan gangguan, mungkin dengan kausa yang

heterogen, tapi dengan gejala perilaku yang sedikit banyak serupa. Pasien

skizofrenia menunjukkan presentasi klinis, respon terhadap terapi, dan perjalanan

penyakit yang berbeda-beda. (Sadock & Sadock, 2010)

4
a. Faktor Genetika

Skizofrenia mempunyai komponen yang diturunkan secara signifikan,

kompleks dan poligen. Sesuai dengan penelitian hubungan darah

(konsanguinitas), skizofrenia adalah gangguan bersifat keluarga. Semakin dekat

hubungan kekerabatan semakin tinggi resiko. (Xavier & Vordrestrasse, 2017)

Populasi Prevalensi Persen (%)

1. Populasi Umum 1%

2. Saudara kandung dengan skizofrenia 10%

3. Anak dengan salah satu orang tua skizofren 10-15%

4. Kembar dua telur dari pasien skizofren 10%

5. Anak dengan kedua orang tua skizofren 30-40%

6. Kembar satu telur dari pasien skizofren 40-50%

Tabel 2.1 Prevalensi Skizofrenia pada populasi tertentu

b. Faktor Diatesis-Stress

Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan

(diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia.

Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau psikologis

(misal kematian orang terdekat). Sedangkan dasar biologikal dari diatesis

selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti penyalahgunaan

obat, stress psikososial , dan trauma. (Erlina, Soewadi, & Dibyo, 2010)

5
c. Hipotesis Dopamin

Dari faktor biologis dikenal suatu hipotesis dopamine yang menyatakan

bahwa skizofrenia disebabkan oleh aktivitas dopaminergic yang berlebihan di

bagian kortikal otak, dan berkaitan dengan gejala positif dari skizofrenia.

Penelitian terbaru juga menunjukkan pentingnya neurotransmitter lain

termasuk serotonin, norepinefrin, glutamate dan GABA. Selain perubahan

yang bersifat neurokimiawi, penelitian yang menggunakan CT Scan otak

ternyata ditemukan perubahan anatomi otak seperti pelebaran lateral

ventrikel, atropi krteks, atropi otak kecil (cerebellum) terutama pada penderita

kronis skizofrenia. (Dean, 2012)

d. Faktor Keluarga

Kekacauan dan dinamika keluarga memegang peranan penting dalam

menimbulkan kekambuhan dan mempertahankan remisi. Pasien yang pulang

ke rumah sering relaps pada tahun berikutnya bila dibandingkan dengan

pasien yang ditempatkan di residensial. Pasien yang beresiko adalah pasien

yang tinggal bersama keluarga yang hostilitas, memperlihatkan kecemasan

berlebihan, sangat protektif terhadap pasien, terlalu ikut campur dan sangat

pengeritik. Pasien skizofrenia sering tidak dibebaskan oleh keluarganya.

(Amir, 2014)

2.1.4 Perjalanan Penyakit Skizofrenia

Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase

prodromal, fase aktif dan fase residual.

a. Fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya

bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik

6
menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi

sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan

perubahan ii akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan

teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin

lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya.

b. Fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku

katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir

semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan

gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi

atau terus bertahan.

c. Fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi

gejala positif / psikotiknya sudah berkurang.

Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, penderita

skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara

spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi,

konsentrasi, hubungan sosial). (Safitri, 2010)

2.1.5 Kriteria Diagnosis Skizofrenia

Kriteria Skizofrenia diambil Menurut Diagnostic And Statistical Manual

Of Mental Disorder, Fifth Edition (DSM-5), yaitu dijelaskan bahwa untuk

menegakkan diagnosis skizofrenia harus memenuhi kriteria :

A. jika ada dua atau lebih gejala dibawah ini, dimana gejala ini tampak secara

signifikan selama period 1 bulan (atau kurang jika dilakuan terapi yang

berhasil) dan sedikitnya satu dari gejala nomor 1,2 atau 3 :

1. Waham

7
2. Halusinasi

3. Bicara yang kacau

4. Perilaku katatonik atau aneh

5. Simptom negatif (emosi yang hilang, atau penarikan diri)

B. Adanya gangguan secara fungsi satu atau lebih fungsi penting, seperti

bekerja, hubungan interpersonal, atau perawatan diri.

C. Gejalanya berlangsung persisten minimal 6 bulan. Periode 6 bulan ini harus

mencakup sedikitnya 1 bulan dari gejala (atau berkurang karena efek

pengobatan) yang dijumpai pada kriteria A dan juga termasuk gejala

prodromal atau gejala sisa. Selama gejala prodromal atau gejala sisa, keluhan

yang nampak berupa gejala negatif atau dua atau lebih gejala yang ada pada

kriteria A.

D. Gangguan skizoafektif dan depresi atau gangguan bipolar dengan psikotik

dikesampingkan jika : 1) tidak ada gambaran depresi mayor atau episode

manik yang terjadi pada fase aktif ini, atau 2) jika terjadi episode mood

selama fase aktif, yang menunjukkan gejala minimal atau sebagian besar pada

fase aktif atau gejala sisa pada penyakit saat ini.

E. Gangguan ini tidak diakibatkan oleh efek psikologi dari penggunaan obat

seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis lain.

F. Jika ada riwayat gangguan spektrum autism atau gangguan komunikasi pada

masa anak, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat jika ada gejala dominan

halusinasi atau waham minimal 1 bulan (atau kurang jika dengan

keberhasilan pengobatan). (American Psychiatric Association , 2013)

8
Ada beberapa subtipe skizofrenia yang diidentifikasi berdasarkan variabel

klinik (berpedoman pada ICD-X) meliputi : Skizofrenia paranoid (F.20.0),

skizofrenia disorganisasi (hebefrenik) (F20.1), skizofrenia katatonik (F 20.2),

skizofrenia tak terinci (undifferentiated) (F20.3), depresi pasca-skizofrenia (20.4),

skizofrenia residual (F20.5), skizofrenia simpleks (F20.6), skizofrenia lainnya

(F20.7), skizofrenia yang tak tergolongkan (ytt) (F 20.8). (Amir, 2014)

Pedoman Diagnosis untuk menegakkan Skizofrenia menurut PPDGJ III

yaitu:

1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. Thought echo yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema

dalam kepalanya. Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing

dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion ) atau isi pikirannya

diambil keluar oleh sesuatu dari/luar dirinya (withdrawal). Thought

broadcasting yaitu isi pikirannya tersiar ke luar sehingga orang lain atau

umum mengetahuinya.

b. Delusion of control adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu. Delusion of influence adalah waham tentang dirinya

dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. Delusion of passivity

adalah waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu

kekuatan dari luar. Delusion of perception yaitu pengalaman inderawi

yang tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya biasanya bersifat

mistik atau mujizat.

9
c. Halusinasi auditorik, yaitu suara halusinasi yang berkomentar secara terus

menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien di

antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis

suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal

keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan di

atas manusia biasa.

2. Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

a. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja apabila disertai baik

oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa

kandungan afektif yang jelas , ataupun ide-ide berlebihan yang menetap,

atau terjadi selama setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-

bulan terus menerus.

b. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolation)

yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau

neologisme.

c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement ), posisi

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,

dan stupor.

d. Gejala-gejala negatif seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan

merespon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

10
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak

disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.

3. Adanya gejala- gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun

waktu satu bulan atau lebih.

4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal

behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak

berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan

penarikan diri secara sosial. (Maslim, 2013)

2.2 Definisi Kekambuhan atau Relaps Skizofrenia

Relaps atau kekambuhan merupakan kondisi dimana pasien kembali

menunjukkan gejala-gejala skizofrenia setelah remisi dari rumah sakit.

Penderita yang mengalami relaps diikuti oleh perburukan sosial lebih lanjut

pada fungsi dasar pasien. Peningkatan angka relaps/kekambuhan

berhubungan secara bermakna dengan emosi yang berlebihan dilingkungan

rumah, terutama didalam keluarga yang tidak harmonis, ketidaktahuan

keluarga dalam menghadapi penderita dan juga pengobatan yang tidak

adekuat yang dilakukan oleh keluarga terhadap penderita. (Sirait, 2008)

Tidak ada kriteria umum yang dapat dianggap sebagai kriteria relaps.

Secara umum, istilah relaps ditujukan untuk gejala perburukan atau rekurensi

gejala positif daripada gejala negatif. Meskipun demikian, batasan istilah

skizofrenia relaps belum begitu jelas. Pada kenyataannya, relaps merupakan

suatu istilah relatif dan harus meliputi beberapa faktor berikut: kondisi pasien

sebelum onset penyakit terakhir (sebelumnya); tingkat keberfungsian sebelum

11
episode terbaru; keparahan dari relaps dalam terminologi keparahan simtom,

durasi dan pengaruhnya terhadap fungsi personal dan gambaran bentuk

simtom atau perilaku yang baru. (Simanjutak, 2008)

Relaps diartikan sebagai suatu keadaan dimana apabila seorang pasien

skizofrenia yang telah menjalani rawat inap di rumah sakit jiwa dan

diperbolehkan pulang kemudian kembali menunjukkan gejala-gejala sebelum

dirawat inap. Setiap relaps yang terjadi berpotensi membahayakan bagi

pasien dan keluarganya. Apabila relaps terjadi maka pasien harus kembali

melakukan perawatan inap di rumah sakit jiwa (rehospitalisasi) untuk

ditangani oleh pihak yang berwenang. (Amelia & Anwar, 2013)

2.2.1 Angka Kekambuhan Skizofrenia

Meskipun angka relaps tidak secara otomatis dapat dijadikan sebagai

kriteria kesuksesan suatu pengobatan skizofrenia, bagaimanapun juga,

parameter ini cukup signifikan dalam beberapa aspek. Setiap relaps

berpotensi menimbulkan bahaya bagi pasien dan keluarganya; seringkali

mengakibatkan rehospitalisasi dan membengkaknya biaya pengobatan.

(Simanjutak, 2008)

Menurut data yang diperoleh dari Medical Record Rumah Sakit Jiwa

Daerah Provinsi Sumatera Utara tahun 2004, pasien gangguan jiwa yang

dirawat berjumlah 1387 orang, dari jumlah tersebut penderita skizofrenia

sebanyak 1183 orang (88,15%). Pada tahun 2005 pasien gangguan jiwa yang

dirawat berjumlah 1694 orang, dari jumlah tersebut penderita skizofrenia 1543

orang (91,09%). Dari 1543 orang penderita skizofrenia yang dirawat pada

tahun 2005 sebanyak 1493 orang penderita remisi sempurna (96,76%), dan

12
dari jumlah tersebut penderita yang mengalami relaps sebanyak 876 orang

penderita (58,67%). Data di atas menunjukkan adanya peningkatan penderita

skizofrenia dari tahun ke tahun di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi

Sumatera Utara dan juga menunjukkan tingginya angka relaps pada penderita

remisi sempurna. (Amelia & Anwar, 2013)

2.2.2 Faktor yang mempengaruhi kekambuhan Skizofrenia

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain

penderita tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur,

menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya

dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta adanya masalah kehidupan

yang berat dapat memicu stress. sehingga penderita kambuh dan perlu dirawat

di rumah sakit. (Raharjo, Rochmawati, & Purnomo, 2014)

Faktor yang paling sering dikutip antara lain ketidakpatuhan pengobatan,

memilki komorbid depresi atau penyalahgunaan zat psikoaktif, dan kejadian

kehidupan yang menegangkan. Faktor tambahan yang terkait dengan

kekambuhan mencakup keterbatasan pengetahuan tentang penyakit

seseorang, emosi tinggi yang diungkapkan (EE) (tingkat kritik dan

keterlibatan berlebihan yang berlebihan) dan atribusi penyakit jiwa terhadap

mitos dan nilai sosial dan budaya atau atribusi agama. (Ahmad, Khalily,

Hallahan, & Shah, 2016)

A. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pasien

Secara umum bahwa klien yang minum obat secara tidak teratur

mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Hasil penelitian menunjukkan

25% sampai 50% klien yang pulang dari rumah sakit jiwa tidak memakan

13
obat secara teratur. Klien kronis, khususnya skizofrenia sukar mengikuti

aturan minum obat karena adanya gangguan realitas dan ketidakmampuan

mengambil keputusan.Di rumah sakit perawat bertanggung jawab dalam

pemberian atau pemantauan pemberian obat, di rumah tugas perawat

digantikan oleh keluarga. (Fadli & Mitra, 2013)

Beberapa karakteristik demografi telah dihubungkan dengan perilaku

patuh. Usia masih merupakan masalah yang kontroversial dalam

hubungannya dengan ketidakpatuhan. Tampaknya pasien-pasien yang berusia

lanjut mempunyai permasalahan tentang kepatuhan terhadap rekomendasi

yang diberikan. Di kalangan usia muda, terutama pria, cenderung mempunyai

tingkat kepatuhan yang buruk terhadap pengobatan. Alasan untuk hal ini

kemungkinan bahwa pada dewasa muda sehubungan dengan segala bentuk

terapi atau dalam mengatur perjanjian, mereka menganggap dirinya istimewa

dan berbeda dengan yang lain.

Sedangkan pada orangtua, kemungkinan memiliki defisit memori sehingga

dapat mempengaruhi kepatuhan. Selain itu, pada orangtua sering mendapat

berbagai macam obat-obatan sehubungan dengan komorbiditas fisik. Wanita

cenderung lebih patuh terhadap pengobatan dibandingkan pria, begitu juga

wanita muda menunjukkan kepatuhan yang lebih baik dibandingkan yang

tua.

Keadaan penyakit pasien sendiri juga mempunyai pengaruh yang kuat

dalam penerimaan terhadap pengobatan. Pasien yang merasa tersiksa atau

khawatir akan diracuni, akan merasa enggan untuk menerima pengobatan.

14
Permasalahan yang lain adalah model kepercayaan pasien tentang

kesehatannya, dimana menggambarkan pikiran pasien tentang penyebab dan

keparahan penyakit mereka. Banyak orang menilai bahwa skizofrenia adalah

penyakit yang kurang penting dan tidak begitu serius dibandingkan penyakit-

penyakit lain seperti diabetes, epilepsi dan kanker. Jadi jelas bahwa jika

mereka mempercayai penyakitnya tidak begitu serius dan tidak penting untuk

diterapi maka ketidakpatuhan dapat terjadi. Begitu juga persepsi sosial juga

berpengaruh, jika persepsi sosial buruk maka pasien akan berusaha

menghindari setiap hal tentang penyakitnya termasuk pengobatan.

Sikap pasien terhadap pengobatan juga perlu diperhitungkan dalam

pengaruhnya terhadap kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Sangatlah

penting untuk mengamati, berdiskusi dan jika memungkinkan mencoba untuk

merubah sikap pasien terhadap pengobatan. Pada pasien dengan skizofrenia

sikap pasien terhadap pengobatan dengan antipsikotik bervariasi dari yang

sangat negatif sampai sangat positif. Sikap negatif terhadap pengobatan

berhubungan dengan simtom positif dan efek samping. Dalam konteks ini

dapat dipahami bahwa semakin lama pasien akan berubah sikapnya terhadap

pengobatan.

Terakhir adalah masalah keuangan. Masalah keuangan dapat juga

mengganggu kepatuhan pasien. Beberapa pasien mungkin tidak mampu

untuk membeli obat atau walaupun mampu jarak tempuh dan transportasi

dapat menjadi penghalang.

15
B. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Pengobatan

Pasien yang tidak mengalami efek samping terhadap pengobatan

kemungkinan lebih mau melanjutkan pengobatan. Efek samping obat neuroleptik

yang tidak menyenangkan sebaiknya diperhitungkan sebab dapat berperan dalam

menurunkan kepatuhan. Efek samping yang umum dan penting adalah efek pada

ekstrapiramidal, gangguan seksual dan penambahan berat badan. Namun, pada

data ternyata tidak ada hubungan antara regimen terapi dan profil efek samping

dengan kepatuhan terhadap pengobatan. Kenyataannya, pasien yang tidak patuh

tidak berbeda dari pasien yang patuh dalam melaporkan efek samping obat

neuroleptik. Penemuan ini adalah sama dengan penelitian lain yang menemukan

bahwa efek samping obat bukanlah alasan yang sering dikatakan pasien dalam

menolak pengobatan. Penderita skizofrenia yang menggunakan antipsikotik

atipikal lebih mau meneruskan pengobatan dibandingkan penderita yang

menggunakan antipsikotik konvensional.

Masalah tambahan dalam pengobatan skizofrenia adalah kebanyakan obat-

obat antipsikotik kerja obatnya (onset of action) lambat, sehingga pasien tidak

merasakan dengan segera efek positif dari antipsikotik. Malahan kadang-kadang

pasien lebih dahulu merasakan efek samping sebelum efek obat terhadap

penyakitnya tersebut. Begitu juga dengan pasien skizofrenia yang sudah dalam

remisi biasanya relaps tidak langsung segera terjadi bila pengobatan dihentikan.

Relaps dapat terjadi beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah obat

anti psikotik dihentikan, jadi penghentian pengobatan tidak terlalu berhubungan

dengan memburuknya keadaan pasien. Sebagai akibatnya pasien yang sudah

16
dalam remisi sempurna mempunyai permasalahan apakah remisi tersebut

berhubungan dengan pengobatan yang dilakukannya.

Pasien mungkin juga merasakan obat-obatan tersebut tidaklah seefektif seperti

yang mereka harapkan atau bahkan berbahaya. Hal ini menjadi tanggung jawab

dokter dalam melakukan pengobatan untuk melengkapi pasien dengan pandangan

yang seimbang dan realistik mengenai profil keuntungan dan kerugian

antipsikotik yang akan diberikan.

Beragamnya obat yang diresepkan juga memiliki peran penting dalam

kepatuhan. Pasien yang menerima regimen pengobatan yang kompleks, misalnya

mengkonsumsi beberapa obat dengan waktu yang berbeda dalam satu hari atau

mengkonsumsi 2 macam atau lebih obatobatan, mempunyai permasalahan dalam

ketaatan terhadap obat yang diberikan dibanding pasien yang hanya

mengkonsumsi 1 macam obat dengan dosis tunggal.

Cara pemberian obat dapat juga mempengaruhi kepatuhan. Namun hasil

ketidakpatuhan yang sama diperoleh pada pasien yang tidak patuh terhadap

pemberian obat oral yang diganti dengan depot neuroleptik. Hal ini yang sering

terjadi kesalahpahaman bahwa pemberian obat depot akan meningkatkan

kepatuhan. Namun penggunaan antipsikotik kerja lama dapat mengatasi

kepatuhan yang parsial sehingga dapat memperbaiki outcome penyakit. (Yaqin,

2015)

Minum obat yang teratur dapat mengurangi kekambuhan, namun pemakaian

obat neuroleptik yang lama dapat menimbulkan efek samping yang dapat

mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol. Pemberian

17
resep diharapkan tetap waspada mengidentifikasi dosis terapeutik yang dapat

mencegah kekambuhan dan efek samping. (Fadli & Mitra, 2013)

C. Faktor Lingkungan

Dukungan dan bantuan merupakan variabel penting dalam kepatuhan

terhadap pengobatan. Pasien yang tinggal sendirian secara umum mempunyai

angka kepatuhan yang rendah dibandingkan mereka yang tinggal dalam

lingkungan yang mendukung. Sebagai kemungkinan lain, sikap negatif dalam

lingkungan sosial pasien terhadap pengobatan psikiatri atau terhadap pasien

sendiri dapat mempengaruhi kepatuhan. Interaksi sosial yang penuh dengan stres

dapat mengurangi kepatuhan yang biasanya terjadi bila pasien tinggal dengan

orang lain. Sebagai contohnya adalah situasi emosional yang tinggi dan keluarga

atau pihak lain yang tidak mau memperhatikan sikap positif pasien terhadap

pengobatan.

Tidak kalah penting faktor yang mempengaruhi perilaku pasien terhadap

kepatuhan adalah pengaruh obat terhadap penyakitnya. Sangat penting untuk

memberi dukungan untuk menambah sikap yang positif terhadap pengobatan pada

pasien. Sebagai dokter kadang-kadang melupakan hal tersebut bahwa sikap positif

tersebut perlu dibantu terus menerus.

Lingkungan terapetik juga harus diperhitungkan. Dalam pasien rawat inap

dimana teman sekamar pasien pernah mengalami pengalaman yang buruk

terhadap satu jenis obat dan menceritakannya maka akan merubah sikap pasien

terhadap obat yang sama. (Yaqin, 2015)

18
D. Faktor-Faktor Sehubungan Dengan Dokter

Hubungan terapetik yang dibangun dokter dengan pasien merupakan suatu

landasan atau dasar dari kepatuhan terhadap pengobatan. Bagaimana

menunjukkan bahwa dokter memiliki perhatian kepada pasien dan dokter mau

meluangkan waktu untuk mendengar keluhan-keluhan pasien adalah penting.

Terciptanya suatu hubungan yang baik merupakan prasyarat untuk masuk ke

dalam ikatan terapetik dan memberikan informasi adalah hal yang penting dalam

hubungan ini.

Informasi dapat diberikan pada pasien ataupun keluarga baik dalam jadwal

konsultasi ataupun dalam kelompok psikoedukasi. Pasien dan keluarga diberi

informasi tentang penyakitnya dan rencana pengobatan yang akan dilakukan.

Psikoedukasi telah menunjukkan dalam meningkatkan kepatuhan dan secara

signifikan mengurangi angka relaps. Melengkapi informasi juga termasuk

mendiskusikan perencanaan pengobatan baik kepada pasien atau kepada keluarga

dimana pasien dan keluarga dilibatkan dalam proses perencanaan pengobatan

penyakitnya.

Adanya efek samping dapat memunculkan ketidakpatuhan dan sering

menimbulkan kesalahpahaman. Penting juga bagi dokter agar dapat menepati

jadwal pertemuan selanjutnya. Pasien yang sudah menerima jadwal pertemuan

berikutnya dan dokter akan menepati dan untuk tidak menjadwal ulang walaupun

sangat sibuk. Dokter juga dapat melakukan perubahan dalam berkomunikasi

dengan pasien baik itu dengan gaya atau bahasa yang dapat dimengerti pasien

sehingga dapat tercipta hubungan terapetik yang baik yang nantinya dapat

meningkatkan kepatuhan. Klinisi juga harus mengikuti pedoman terapi yang

19
direkomendasikan. Dengan mengikuti pedoman yang telah ditentukan maka

pengobatan akan menjadi berguna, rasional dan gampang dimengerti oleh pasien

dan mereka tidak menjadi bingung bila mereka mencoba mencari pendapat dokter

lain. (Djuari, Lilik; Karimah, Azimatul, 2015)

E. Faktor Psikososial

Berbagai macam stresor lingkungan kemungkinan berhubungan dengan

relapsnya skizofrenia. Yang dimaksud dengan stresor psikososial adalah setiap

keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang

yang memaksa orang tersebut untuk beradaptasi atau menanggulangi. Biasanya

stresor psikososial terjadi dalam kurun waktu satu tahun sebelum gangguan jiwa

saat ini. Yang termasuk stresor psikososial adalah sebagai berikut:

- Problem dengan kelompok pendukung utama (primary support group).

- Problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial.

- Problem pendidikan.

- Problem pekerjaan.

- Problem perumahan.

- Problem ekonomi.

- Problem dengan akses pelayanan kesehatan.

- Problem yang berkaitan dengan interaksi sistem hukum/kriminal.

- Problem psikososial dan masalah lingkungan lainnya.

(Ahmad, Khalily, Hallahan, & Shah, 2016)

20
Perhatian utama ditujukan bagi emosi yang diekspresikan (expressed

emotion) dan risiko terjadinya relaps pada skizofrenia. Sebagai salah satu faktor,

apa yang dimaksud dengan expressed emotion dalam hal ini, berupa kebiasaan

mempertontonkan kritikan atau emosi yang berlebihan oleh orangtua terhadap

anak-anaknya. Selain faktor transaksional keluarga lainnya, studi-studi terbaru

menunjukkan ketertarikannya terhadap gaya afektif negatif (negative affective

style), yang terdiri dari: kritisisme, sikap menyalahkan, gangguan-gangguan, dan

dukungan yang tidak adekuat. Pasien-pasien skizofrenia yang tinggal dalam

lingkungan keluarga dengan expressed emotion yang kuat (highly expressed

emotion) atau gaya afektif negatif secara signifikan lebih sering mengalami relaps

dibandingkan dengan yang tinggal dalam lingkungan keluarga dengan expressed

emotion yang rendah (low expressed emotion), atau gaya afektif yang normal.

Studi-studi keluarga (family studies) menunjukkan bahwa pasien skizofrenik yang

kembali ke lingkungan rumah dimana sering terjadi keadaan kritis, kekerasan atau

emosi yang diekspresikan cenderung akan meningkatkan relaps. Studi WHO

menunjukkan outcome yang lebih baik pada pasien skizofrenik secara tradisional,

di negara-negara non-Barat, dimana keluarga lebih toleran. Intervensi keluarga

terhadap terapi mungkin dapat menurunkan atau paling tidak akan memperlambat

relaps pada pasien. Intervensi yang dapat dilakukan keluarga adalah lebih dapat

menerima bentuk manajemen, yang pada kebanyakan pasien tidak dapat

menerimanya. Selain itu, percobaan intervensi sosial pada keluarga penderita

skizofrenik dengan pengobatan ternyata menghasilkan angka relaps yang rendah

dibandingkan dengan hanya menggunakan pengobatan. (Yaqin, 2015)

21
2.2.3 Tahapan kekambuhan Skizofrenia

Menurut Hertz Oit Stuart, kekambuhan dibagi menjadi 5 tahap, yaitu :

1) Overextension

Tahap ini menunjukkan ketegangan yang berlebihan. Pasien mengeluh

perasaannya terbebani. Gejala dari cemas intensif dan energi yang besar

digunakan untuk mengatasi hal ini .

2) Restricted Consciousnes

Tahap ini menunjukkan pada kesadaran yang terbatas. Gejala yang

sebelumnya cemas, digantikan oleh depresi.

3) Disinhibition

Penampilan pertama pada tahap ini adalah adanya hipomania dan biasanya

meliputi munculnya halusinasi (halusinasi tahap I dan II) dan delusi, di mana

pasien tidak lagi mengontrol defense mekanisme sebelumnya telah gagal

disini. Hipomania awal ditandai dengan mood yang tinggi. Kegembiraan

optimisme dan percaya diri. Gejala lain dari hipomania ini adalah rasa

percaya diri yang berlebihan, waham kebesaran, mudah marah,senang

bersukaria dan menghamburkan uang, euforia.

4) Psychotic disorganization

Pada saat ini gejala psikotik sangat jelas dilihat. Tahap ini diuraikan sebagai

berikut:

1) Pasien tak lagi mengenal lingkungan/ orang yang familiar dan mungkin

menuduh anggota keluarga menjadi penipu. Agitasi yang ekstrim mungkin

terjadi, fase ini dikenal sebagai penghancuran dari dunia luar.

22
2) Pasien kehilangan identitas personal dan mungkin melihat dirinya sendiri

sebagai orang ke-3. Fase ini menunjukkan kehancuran pada diri.

3) Total fragmentation adalah kehilangan kemampuan untuk membedakan

realitas dari psikosis dan kemungkinan dikenal sebagai loudly psychotic.

5) Psychotic Resolution

Tahap ini biasanya terjadi di rumah sakit. Pasien diobati dan masih

mengalami psikosis tetapi gejalanya berhenti atau diam.

(Dyah, 2009)

2.2.4 Pencegahan Kekambuhan Skizofrenia

Upaya preventif adalah upaya memelihara kesehatan dengan mencegah

datangnya penyakit . Cara mencegah kekambuhan pada pasien skizofrenia :

a. Pasien : minum obat secara teratur, latihan mengendalikan tanda dan gejala

contohnya mengendalikan halusinasi dengan cara menghardik, bercakap-cakap

dan melakukan kegiatan.

b. Keluarga : keluarga mengenali tanda-tanda kekambuhan, keluarga mampu

merawat pasien dengan baik dan menciptakan lingkungan yang bersahabat

serta mendukung pengobatan pasien.

c. Lingkungan : memberikan lingkungan aman dan nyaman, pembentukan kader

kesehatan jiwa, dan tidak mengucilkan warga yang mengalami gangguan jiwa.

(Prisma, 2014)

23
BAB III

RINGKASAN

Skizofrenia digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik

mayor yang ditandai dengan adanya perubahan berat pada perasaan, pikiran,

persepsi dan perilaku seseorang. Saat ini belum ditemukan etiologi yang pasti

mengenai skizofrenia dan disebutkan sebagai mutifaktorial. Skizofrenia sering

dianggap sebagai suatu penyakit tunggal namun kategori diagnostiknya mencakup

sekumpulan gangguan, mungkin dengan kausa yang heterogen, tapi dengan gejala

perilaku yang sedikit banyak serupa.

Relaps atau kekambuhan merupakan kondisi dimana pasien kembali

menunjukkan gejala-gejala skizofrenia setelah remisi dari rumah sakit. Penderita

yang mengalami relaps diikuti oleh perburukan sosial lebih lanjut pada fungsi

dasar pasien. Terdapat beberapa hal yang dapat memicu kekambuhan pada

skizofrenia. Faktor dari pasien antara lain, pasien skizofrenia sulit mengikuti

aturan minum obat karena adanya gangguan realitas dan ketidakmampuan

mengambil keputusan, efek samping obat neuroleptik yang tidak menyenangkan

dapat berperan dalam menurunkan kepatuhan. Faktor lingkungan yaitu adanya

dukungan dan bantuan merupakan salah satu variabel penting dalam kepatuhan

terhadap pengobatan. Terciptanya suatu hubungan yang baik antara dokter dan

pasien, merupakan prasyarat untuk masuk ke dalam ikatan terapetik dalam

pemberian edukasi sangat penting dalam mencegah kekambuhan pasien. Faktor

psikososial yaitu banyaknya peristiwa dalam kehidupan dan berbagai macam

stresor lingkungan kemungkinan berhubungan dengan relapsnya skizofrenia.

24
Stresor psikososial adalah sebagai berikut, problem dengan kelompok pendukung

utama (primary support group), problem yang berkaitan dengan lingkungan sosial,

problem pendidikan, problem pekerjaan, problem perumahan, problem ekonomi,

problem dengan akses pelayanan kesehatan, problem yang berkaitan dengan

interaksi sistem hukum/kriminal, dan problem psikososial dan masalah

lingkungan lainnya.

Dengan mengetahui dan mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi

kekambuhan pasien skizofrenia, diharapkan kita dapat melakukan tindakan

pencegahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien skizofrenia.

25
Daftar Pustaka

Ahmad, I., Khalily, M. T., Hallahan, B., & Shah, I. (2016). Factors Associated
With Psychotic Relapse in Patients With Schizophrenia in a Pakistani
Cohort. International Journal of Mental Health Nursing, 1.
Amelia, D. R., & Anwar, Z. (2013). Relaps Pada Pasien Skizofrenia. Jurnal
Ilmiah Psikologi Terapan, 01(01), 54.
American Psychiatric Association . (2013). Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (5 ed.). United States of America: American Psychiatric
Association.
Amir, N. (2014). Buku Ajar Psikiatri (2 ed.). Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Dean, L. (2012). Schizophrenia. National Center for Biotechnology Information,
1.
Djuari, Lilik; Karimah, Azimatul. (2015). Lebih Dekat dengan Skizofrenia.
Surabaya: Biro Koordinasi Kedokteran (BKKM) Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
Dyah, I. (2009). Hubungan Antara Bentuk Dukungan Keluarga Dengan Periode
Kekambuhan Penderita Gangguan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr.
Soeroyo Magelang. Jakarta: Universitas Pembangunan Nasional
"Veteran".
Erlina, Soewadi, & Dibyo, P. (2010). Determinan Terhadap Timbulnya Skizofenia
Pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Jiwa Prof.HB Sainiin. Berita
Kedokteran Masyarakat, 1-2.
Fadli, S. M., & Mitra. (2013). Pengetahuan dan Ekspresi Emosi Keluarga Serta
Frekuensi Kekambuhan Penderita Skizofrenia. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional, 469.
Maslim, R. (2013). Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika-Atmajaya.
Prisma, M. (2014). Upaya Keluarga Mencegah Kekambuhan Pada Anggota
Keluarga Skizofrenia di RSJ Dr. Radjiman Wedijodiningrat Lawang.
Malang: RSJ Dr. Radjiman Wedijodiningrat Lawang.
Raharjo, A., Rochmawati, D. H., & Purnomo. (2014). Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di RSJD dr.Amino
Gondohutomo Semarang . Semarang: Universitas Islam Sultan Agung.
Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri
Klinis (2 ed.). Jakarta: EGC.
Safitri, M. (2010). Perbedaan Kualitas Hidup Antara Pasien Skizofrenia Gejala
Positif dan Gejala Negatif Menonjol. Surakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

26
Simanjutak, Y. P. (2008). Faktor Resiko Terjadinya Relaps Pada Pasien
Skizofrenia Paranoid. Medan: Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Sirait, A. (2008). Pengaruh Koping Keluarga Terhadap Kejadian Relaps Pada
Skizofrenia Remisi Sempurna. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Xavier, R. M., & Vordrestrasse, A. (2017). Genetic Basis of Positive and
Negative. Biological Research for Nursing, 1.
Yaqin, F. T. (2015). Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang Tanda dan
Gejala Skizofrenia Paranoid Dengan Upaya Mencegah Kekambuhan
Pasien di RSJD Surakarta. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah .

27
Lampiran 1

Petunjuk penggunaan Instrumen REDI sebagai Instrumen deteksi

dini kekambuhan skizofrenia

1. Petunjuk umum

a. Instrument REDI terdiri dari kumpulan gejala yang terbagi menjadi dua

skala, yakni skala kuning dan skala merah.

b. Sebaiknya instrument REDI digunakan sebanyak seminggu sekali, artinya

gejala yang dinilai adalah gejala yang muncul selama seminggu

sebelumnya.

c. Senantiasa bubuhkan nama subyek, tanggal, jam pengukuran, lalu

tandatangan.

d. Dalam satu kali pengukuran, subyek sebaiknya membaca seluruh gejala

pada instrument untuk memberikan tanda mana yang ada dan mana yang

tidak.

e. Subyek cukup memberikan tanda centang () pada gejala yang muncul,

dan gejala yang tidak muncul diberikan tanda silang (X).

f. Jika ragu-ragu karena gejala samar atau tidak terlalu parah, maka gejala

tetap dinyatakan ada. Karena itu berikan tanda centang () pada gejala

tersebut.

g. Selalu lakukan konsultasi dengan dokter/psikiater setelah melakukan

pengukuran.

2. Petunjuk Khusus

a. Skala Kuning terdiri dari gejala kognitif, afektif, dan psikomotor pada

skizofrenia.

28
b. Skala Merah berhubungan dengan gejala patognomonis (gejala pasti) pada

skizofrenia yang meliputi delusi/waham, halusinasi, ide-ide bunuh diri,

dan sebagainya.

c. Target utama deteksi dan intervensi dini adalah berkurangnya gejala

dalam Skala Kuning atau Merah, atau setidaknya tidak bertambah

(stabil). Jika cenderung stabil pada beberapa kali pengukuran, maka gejala

tersebut adalah gejala sisa (residual). Asalkan dirasa tidak mengganggu

kualitas hidup, maka penderita cukup diajarkan bagaimana membuat

dirinya lebih produktif meski gejala tersebut masih ada (biasanya dengan

menyibukkan diri dengan kegiatan positif dan bersosialisasi dengan

komunitas/peer group).

d. Jika gejala tersebut bertambah pada skala manapun, banyak ataupun

sedikit, segeralah berkonsultasi kepada dokter/psikiater untuk

dilakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada penderita. Kewaspadaan

dini membantu penderita dan keluarga untuk mengatasi gejala lebih cepat,

agar tidak berlarut-larut pada akhirnya keparahan bisa dicegah.

e. Selalu amati gejala mana saja yang cukup dominan dan dirasa

mengganggu kualitas hidup penderita. Itulah gejala yang di prioritaskan

untuk di konsultasikan kepada dokter/psikiater.

f. Instrument REDI ini bermakna jika dilakukan dua kali pengukuran

dalam jarak satu minggu. Pengukuran tersebut baru bermakna klinis

setelah membandingkan dua pengukuran tersebut.

29
g. Jika terjadi penggantian pengobatan, maka instrument REDI dapat

membantu mengevaluasi manfaat obat yang baru dibandingkan dengan

obat yang lama.

3. Catatan

Instrument REDI tidak dapat digunakan apabila:

a. Bertumpang tindih dengan retardasi mental (dibuktikan dengan

pemeriksaan para ahli).

b. Disorganisasi berat (mengalami kemunduran kualitas diri akibat

gejala yang berat).

c. Sedang mengalami kekambuhan (relaps, belum memasuki fase

stabil).

d. Terdapat gawat darurat psikiatrik gaduh-gelisah (membahayakan

diri/orang lain).

e. Gangguan Mental Organik/ Gangguan Mental Perilaku akibat

Penyalahgunaan Zat sebagai diagnosis utama.

LEMBAR PENGAMATAN KEKAMBUHAN

Nama subyek : usia : L/P

Minggu-ke : tgl/jam: ttd:

Berilah tanda centang pada pernyataan yang anda rasakan dalam satu minggu ini,

dan tanda silang pada yang tidak.

Skala Kuning

1. Tegang, merasa cemas

2. Tidak dapat diam/bergerak terus

3. Memikirkan hal-hal berbau seksual

30
4. Merasa tidak nyaman tanpa alasan

5. Sangat tidak bertenaga, lemas tidak berenergi

6. Merasa tak berguna/pesimis

7. Orang lain mengatakan bahwa tingkah laku anda menjadi aneh

8. Kurang aktif atau justru lebih aktif daripada biasanya

9. Masalah bicara/bicara tidak masuk akal

10. Takut menjadi gila

11. Daya ingat menurun/hilang/bingung

12. Sulit berbicara untuk membuat orang lain mengerti

13. Mengalami masalah dengan teman/kekasih/pasangan

14. Menghindari kegiatan dengan orang lain

15. Tidak mampu melakukan sesuatu

16. Hal-hal tampak aneh dan tidak seperti biasa

17. Sedih, tidak berminat, depresi

18. Menurunnya minat/kurang menikmati hal sehari-hari

19. Tidak mengurus diri/penampilan

20. Jantung bersebar

Total Kuning :

Skala Merah

1. Merasa ada suatu tekanan di dalam kepala anda

2. Merasa bahwa sesuatu menyeramkan dan aneh sedang terjadi dalam badan

anda

3. Merasa mendapat pesan khusus dari Koran/TV/Radio

31
4. Merasa sedang dibicarakan/ ditertawai

5. Seseorang mencoba menyakiti anda/keluarga anda

6. Berpikiran untuk menyakiti/bunuh diri

7. Merasa bahwa anda seolah-olah tidak ada

8. Setiap orang bisa mendengarkan apa yang anda pikirkan

9. Mengalami masalah hokum dengan pihak berwajib

10. Mendengar suara-suara atau melihat sesuatu

11. Sesuatu sedang mengendalikan anda dan mencoba mempengaruhi isi

kepala anda

12. Seolah-olah akan menyakiti diri sendiri/orang lain

13. Minum alcohol/obat-obatan terlarang

14. Merasa memilki kekuatan mental istimewa

15. Setiap orang disekitar anda seolah-olah mati

16. Kehilangan control atas pikiran/perasaan

Total Merah :

32