Anda di halaman 1dari 14

V .2.

Pr f i Sarjana Arsitektur sebagai

P n dik

O Prof. Ir. Hasan Poerbohadiwidjojo, MCD

Pendidikan Arsitektur di Indonesia kini sudah berumur

33 tahun. Akan tetapi sekitar delapan tahun daripadanya

pendidikan diasuh di bawah tenaga-tenaga asing. Oleh karena

itu dapat dikatakan pengalaman pendidikan di bawah tenaga-

tenaga Indonesia sendiri baru berumur seperempat abad.

Cukup lama sudah untuk menengok kembali dan mengada-

kan refleksi-refleksi mengenainya, dan mengenai profesi Sar-

jana Arsitektur sebagai pendidik di Indonesia.

Ada sementara bikiran, bahwa profesi Sarjana Arsitektur

sebagai pendidik tidak hanya terbatas kepada pendidikan di

perguruan tinggi. la juga mendidik di berbagai pendidikan

kejuruan seperti politeknik, teknik menengah dan di kursus-

kursus. Bahkan sesungguhnya seorang Sarjana Arsitektur

yang baik merupakan pendidik pula di mana pun ia berada

dalam menjanalkan tugasnya. Dalam hubungan dengan

pemberi tugas yang pada umumnya adalah seorang awam

dalam hal-hal bangunan dan membangun sikapnya adalah

mendidik tanpa menggurui. Dalam menjalankan tugas penga-

wasan, ia mendisiplinkan dan memberi petunjuk dengan

sikap terbuka yang memungkinkan terjadinya suatu proses

belajar antara pengawas dan yang diawasi. la mendidik tum-

buhnya keterampilan, kepercayaan pada diri sendiri dan ke-

jujuran dalam menjalankan tugas. Itu adalah idealnya.

Kita semuanya mengetahui bahwa di dunia pemba-

ngunan, di mana Sarjana Arsitektur berperan (atau seharus-


nya berperan), keadaannya tidak selalu seperti apa yang

kita harapkan, menurut ukuran nilai-nilai dan norma-norma

profesional yang wajar. Banyak masalah etika yang menye-

205

babkan masalah-masalah dalam pembangunan, selain daripada

kemampuan profesional secara teknis.

Akan tetapi di samping itu kita saksikan pula sarjana-

sarjana Arsitektur berkembang dalam dunia praktek, baik

di swasta maupun pemerintah, dan menduduki kedudukan-

kedudukan dengan tanggung jawab yang besar, serta mengha-$

silkan karya-karya yang membanggakan. Bagi seorar:g pen-

didik, maka hal-hal tersebut selalu menimbulkan pertanyaan-

pertanyaan sampai sejauh mana pendidikan ikut menyum-

bang ?

Makalah ini merupakan upaya untuk memberi profil

seorang Sarjana Arsitektur sebagai pendidik, sikap-sikap

dasar dan kemcmnpuan-kemampuan apakah yang harus ia

punyai, bagaimana ia melihat pendidikan dan dunia pemba-

ngunan, dan bagai:na na

rnclihat Inahasiswa sebagai jembat-

an antara pendidikan dan praktek, serta bagaimana hubungan

antara penelitian, praktek dan pendidikan.

Pendidikan sebagai panggilan.

Orang menga takan bahwa menjadi seorang pendidik

adalah karena seseorang merasa terpanggil untuk melakukan-

nya.

Sama dengan menjadi seorang pendeta, seorang dokter, dan

lain-lain bidang profesionalisme yang sejati merupakan suatu


pengabdian untuk kepentingan mereka yang dilayani, sam-

pai sejauh pengetahuan dan kemampuan yang ada". Titik,

tanpa tambahan dengan imbalan berapa, karena hal tersebut

merupakan kewajaran yang tak perlu dipersoalkan lagi dan di-

dasarkan pada kepercayaan dan rasa berterima kasih atas

pelayanan yang telah diberikan dengan memuaskan.

Di bidang pendidikan, maka mereka yang dilayani adalah

anak-anak nnl(la yang memerlukan pengetahuan dan bim-

bingan untuk tnengembangkan dirinya. Dalam pendidikan Ar-

206
sitektur, untuk menjadi Sarjana Arsitektur yang dipersiapkan

untuk "mengabdi pada masyarakat, sampai sejauh pengeta-

huan dan kemampuannya"

Mungkin karena di bidang pendidikan, maka masalah pang-

gilan merupakan suatu persyaratan yang lebih penting dari-

pada di lain-lain bidang profesi bagi Sarjana Arsitektur. Bagi

seseorang Sarjana Arsitektur yang masuk di bidang pendidik-

an, maka dari serfiula sudah jelas bahwa imbalannya tidak

seberapa tapi beban intelektual dan tanggung jawab moralnya

berat. Baginya berlaku satu pedoman hidup, yang demikian

indah dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantoro :

"Hing ngarsa sung tulada,

Hing madya mbangun karsa,

Tut wuri handayani"

(Di depan menjadi teladan,

Di tengah membangun kemauan,

Dari belakang memberi dorongan).

Artinya, bagi seorang Sarjana Arsitektur yang hendak men-

jadi pendidik yang baik, ia harus dapat memberi contoh


kepada mahasiswa sebagai profesional yang baik atau menjadi

peneliti yang baik di bidang Arsitektur. la diakui keteladan-

annya melalui karya-karyanya, melalui keberanian moralnya

untuk mempertanggung jawabkannya, dan melalui sumbang-

ang-sumbangannya untuk memecahkan masalah-masalah yang

ada di dalam masyarakat secara efektip. Karya-karyanya da-

pat berbentuk bangunanbangunan, gagasan dan konsep-kon-

sep, metoda-metoda yang dikembangkan dan Iain-lain yang

merupakan bagian dari tanggung jawab profesional dan aka-

demis seorang Sarjana Arsitektur. Karya-karya yang didasar-

kan kepada pikiran yang arif, dengan pandangan yang luas

dan jauh, dan pertimbangan-pertimbangan yang mendalam.

207
la memberikan con toll kejujuran, keuletan dan memperjuang-

kan dan mempertahankan azas-azas, keyakinan yang tak

tergoyahkan tapi juga kearifan untuk mengerti pembatasan-

pembatasan yang bersifat manusiawi, dan sikap keterikatan

batin kepada pengabdian pada kemanusiaan.

Mengembangkan kemauan dan kemampuan untuk belajar,

menguasai pengetahuan dan keterampilan di bidang Arsitek-

tur dan benar-benar mengembangkan motivasi serta komit-

Inen pada diri Inahasiswa dan anak didik kepada bidang

kearsitekturan merupakan upaya yang tidak ringan. la tidak

terbatas pada penguasaan keterampilan lahiriah seperti

teknik-teknik menggambar, melainkan juga mengembangkan

kapasitas intelektualnya untuk dapat berpikir pada tingkat

generalisasi dan abstraksi yang lebih tinggi, untuk memberi

jawaban-jawaban yang kreatif terhadap masalah-masalah yang

kompleks. Arsitektur merupakan bidang yang masalahnya


selalu kompleks, karena tidak dapat dilepaskan dari dimensi

teknologi, lingkungan sampai mungkin

sosial, ekonomi,

juga dimensi politis yang saling berkaitan. Mahasiswa tingkat

pertama sudah harus diperkenalkan kepada kaitan antara

kegiatan manusia, bahan dan konstruksi agar dapat diwujud-

kan sebagai bangunan yang menjawab tuntutan-tuntutan

dari sudut-sudut tersebut, tapi dipadukan dalam bentuk

yang indah. Tugas membuat surau merupakan contoh kecil.

Tugas pada tingkat akhir menuntut kemampuan-kemampuan

membuat telaah dan sintesa yang menjangkau permasalahan

yang lebih luas dan kompleks lagi, seperti hotel, rumah sakit.

perumahan buruh dan lain-lain, di mana mahasiswa dipersiap-

kan untuk dapat menghadapi berbagai tugas dengan permasa

iahan dan tuntutannya yang khas (spesifik). Mahasiswa

dibawakan kepada problema, mencari pemecahan terhadap-

nya dan memproyeksikannya ke dalam struktur-struktur

208
untuk pengambilan keputusan, .baik organisatoris maupun

substantif. Untuk itu maka sikap keterbukaan dan kemampu-

an untuk team-work harus dikembangkan.

Memberi dorongan dari belakang dan mengembangkan

pada diri sendiri melalui penjajagan dan pemikir-

an yang bersifat eksperimental untuk mencari pemecahan-

pemecahan yang kreatif terhadap masalah-masalah Arsitek-

tural, metupakan bagian dari tugas pendidik.

kekangan yang terialu ketat terhadap mahasiswa untuk

melakukan "petualangan kreatif" akan mematikan prakarsa

dan kreativitas. Di lain pihak, memberi kebebasan tanpa


batas dan tanggung jawab, mendidikan kesombongan, ke-

alpaan, kekurangan disiplin dan tanggung jawab. Sikap

"Tut wuri handayani" merupakan kearifan pendidikan yang

memberi pada sipendidik beban tanggung jawab yang ia se-

nantiasa harus perkembangkan pada dirinya.

Yang membedakan profesi pendidikan dari profesi-

profesi yang lain diantara Sarjana Arsitektur ialah bahwa

dalam pendidikan yang diciptakan adalah manusia-manusia

(bukan bangunan) yang kokoh, berwatak indah dalam ber-

pikir,efisien dan efektif dalam cara kerjanya (untuk Indone-

sia mungkin perlu ditambah dengan biaya murah).

Dalam konteks tersebut di ataslah, maka pendidikan sebagai

panggilan mempunyai relevansi yang tinggi. Hal ini tidak

Eerarti bahwa seorang Sarjana Arsitektur yang merasa ter-

panggil untuk menjadi pendidik harus dapat melakukan

semua yang diutarakan di atas. Tetapi bahwa ia dari semula

sudah bersiap secara mental untuk menghadapi tuntutan dan

mengikat diri untuk berusaha sekeras-kerasnya! untuk me-

menuhinya. Akhirnya kariernya sebagai pendidik akan di-

tentukan oleh keberhasilannya untuk menjawab tuntutan-

tuntutan tersebut.
Pendidikan profesional dan tuntutannya terhadap pendidik.

Pendidikan profesional seperti halnya pendidikan Arsi-

tektur, menuntut adanya dua macam masukan :

a. Masukan dari dunia praktek yang diistimewakan.

b. Masukan dari dunia penelitian yang dijadikan dasar

perumusan teori dan metodologi.

Khususnya dalam bidang Arsitektur, maka ada seni yang

sebagai masukan dalam pendidikan berbentuk pernbinaan


pengetahuan Inengenai seni dan latihan-latihan kepekaan cip-

ta rasa dan penguasaan proscs kreatif terutama di bidang seni

visual. Suatu hai yang tidak terdapat dalam pendidikan ke-

insinyuran lainnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

yang (iibutuhkan adalal'. Sarjana Arsitektur dari tiga macam

Iatar belakang, ialah praktek, penelitian dan seni, di samping

dari bidang--bidang keahlian yang Iain.

Dalam keadaan sekarang ini di Indonesia, maka banyak masa-

lah yang menghambat terjawabnya tuntutan-tuntutan terse-

but dengan baik. Pevtarna (dan khususnya di Universitas-uni-

versitas Negeri), menurut ketentuan-ketentuan yang ada

maka sulit dibenarkan bahwa dosen dapat berpraktek secara

la diperkenankan dalam batas-batas waktu

profesional.

tertentu untuk melakukan praktek "consultancy", menurut

bidang pengkhususannya.

Hal ini dapat dihubungkan dengan kegiatan penelitian yang

dilaksanakan oleh dosen, meialui mana ia dapat mengembang-

kan teori, metodologi ataupun pendekatan serta gagasan

yang mungkin dapat me:nberi pemecahan-pemecahan masa-

lah yang lebih efektif dan efisien dalam praktek. Jadi datam

"praktek" bagi dosen adalah suatu lanjutan (exwn-

sion) dari penelitiannya, di mana praktek dapat dilihat

sebagai laboratorium lapangan. Kedua, dan hal ini

210

bungan dengan masalah yang pertama, di pendidikan Arsi-


tektur belum tercipta tradisi dan suasana yang mendorong

adanya kegiatan penelitian yang berkeseimbangan dan inten-

sif. Hal ini disebabkan sebagian karena pendidikan Arsitektur

di Indonesia masih berada pada tingkat Strata I (Sl

Pada Strata ini orientasi pendidikan belum kearah penelitian.

Di samping itu masih jarang pula staf pendidik yang telah

mendapatkan pendidikan tambahan yang memberi kemam

puan untuk melakukan penelitian yang sistematis.

Kelemahan-kelemahan tersebut di atas diperkuat lagi dengan

adanya konsep pendidikan dasarnya masih tetap berorientasi

perancangan (design oriented), sedangkan dalam dunia prak-

tek telah tumbuh tuntutan-tuntutan untuk mengadakan

pembidangan tugas dan pengkhususan yang semakin mena-

jam, seperti perencanaan (planning),

administrasi peren-

canaan dan pengolahan implementasi, pengelolaan proyek

dan konstruksi, "quantity surveying" dan lain-lain yang

semuanya menyangkut sumbangan. Sarjana Arsitektur dalam

proses penciptaan lingkungan binaan (built environment).

Orientasi perancangan sangat dipengaruhi oleh tradisi pendi-

dikan yang berorientasi akademis, sedangkan pendidikan

yang mengenal jalur-jalur khusus yang berpangkal pada peran-

cangan Arsitektur sampai Sarjana Muda merupakan pendidik-

an yang berorientasi profesional. Kedua aliran tersebut

mulai terasa akan menjadi pilihan di hari depan yang bersifat

fundamental, dan akan mempengaruhi persyaratan dan tugas

Sarjana Arsitektur dalam pendidikan.

Tapi yang jelas adalah bahwa dalam hal orientasi pendi-


dikan mana pun mobilitas tenaga pendidikan kepraktekan

dan sebaliknya merupakan keharusan, jika Sarjana Arsitektur

sebagai pendidik tidak ingin seperti "katak dalam tempu-

Hal ini lebih-lebih penting artinya dalam keadaan di Indone-


sia di mana komunikasi informasi tertulis belum begitu

berkembang, sehingga ada kecenderungan bahwa katak

yang ada di dalam tempurung adalah "Katak Amerika"

atau Inggris dan Jerman karena banyak di antara staf yang

Inendapatkan pendidikan tambahan di negara-negara terse-

but, dan karena juga perpustakaan kita masih penuh dengan

literatur asing yang ditulis terutama dalam bahasa Inggris.

Di sini ada kewajiban bagi Sarjana Arsitektur Indonesia

untuk Inenuliskan pengalaman dan hasil pendidikannya

untuk diwariskan kepada generasi Sarjana Arsitektur menda-

tang, yang dibekali dengan pengetahuan yang harus berakar

di bumi dan masyarakat Indonesia sendiri. Sebab Arsitektur

adalah untuk manusia dalam lingkungannya, yang perwujud-

annya tidak terlepas dari kebudayaan dan kondisi lingkung-

an yang k has ada di Indonesia.

Tantangan hari depan dan peran Sarjana Arsitektur sebagai

pendidik.

Dunia sedang menghadapi hari depan yang penuh dengan

tantangan masalah kependudukan, enersi, pencemaran,

kemiskinan, gejolak-gejolak sosial dan politik, pertarungan

kepentingan antara kota dan desa dan lain-lain yang secara

langsung atau tidak langsung menentukan dan mempengaruhi

penciptaan Arsitektur sebagai lingkungan kebinaan.

Kita tidak dapat menutup mata terhadap kepadatan pendu-

duk yang tneningkat terus dan masalah pengadaan lahan


untuk perumahan. Apakah rumah susun merupakan jawaban

terhadapnya

Demikian pula kita tidak dapat mengabaikan masaiah kaki

lima, karena sektor informal merupakan justru pencipta

lapangan kerja yang penting. Bagaimanakah hal tersebut

dapat diberi tetnpat dalanl tata ruang kota ? Gedung-gedung

kita, khususnya yang bertingkat banyak merupakan ciptaan

yang secara konseptual masih didasarkan kepada anggapan

bahwa dunia belum mengalami krisis enersi, sehingga dari su-

dut bahan yang digunakan, cara-cara membangun sampai pe-

ngelolaan dan perawatannya membutuhkan enersi yang besar

Apakah hal tersebut dapat diteruskan di hari depan ?.

Banyak masih pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikemuka-

kan yang menggoyahkan sendi-sendi konsep-konsep Arsi-

tek!ur yang sampai kini masih dianut dalam pendidikan, dan

melalui itu menjadi landasan dalam praktek yang tidak di-

pertanyakan. Dari mana perubahan-perubahan dapat dimulai

untuk mencari jawaban terhadap tantangan-tantangan di hari

depan ?.

Dunia praktek mempunyai semacam konservatisme dan

enertia untuk melakukan perubahan-perubahan yang bersifat

mendasar dalam sistem keyakinannya, norma-norma dan

tradisi-tradisinya dalam praktek serta asumsi-asumsi yang

dipergunakan. la terdorong pula oleh kepentingan-kepe-

tingan komersial dan politis untuk meneruskan apa yang

sudah ada. Pada para pendidiklah terletak tugas dan tanggung

jawab untuk merintiskan proses perubahan dalam wawasan


generasi Sarjana Arsitektur yang akan datang dan membekali

mereka dengan pengetahuan yang di satu pihak konsepsi-

onal benar, di lain pihak pengetahuan dan keterampilan cu-

kup kuat untuk mengembangkan pemecahan-pemecahan

yang bersifat operasional pada waktu para lulusan masuk

dunia praktek. Mereka akan dihadapkan kepada kepentingan-

kepentingan dengan wawasan-wawasan yang sudah mapan.

Tanpa pengetahuan dan keterampilan yang ditopang oleh

keyakinan akan kebenaran yang mereka perjuangkan, sukar

kiranya akan terjadi proses pembaharuan di dalam dunia

Arsitektur di Indonesia menjelang abad ke 21, dengan segala

tantangannya yang kini sudah mulai dapat dirasakan dan

213
Autodesk AutoCA

Hal-hal tersebut di atas mcnuntut kepada Sarjana Arsitek-

tur yang masuk di bidang pendidikan untuk lebih memahami

implikasi dari masalah-masalah kita ke depan perkembangan

Arsitektur di waktu mendatang. Sebab pendidikan tidak

mendidik Sarjana Arsitektur untuk hari ini atau untuk bebe-

rapa tahun mendatang ini pendidikan menciptakan tenaga

yang bare. efektif dalam sepuluh atau lima belas tahun

mendatang. Setidak-tidaknya mereka harus dibekali dengan

pikiran yang terbuka dan kemampuan untuk menggali masa-

lah dan pe:necahannya secara sendiri, dan tidak justru menu-

tup pikiran dan mata mereka dengan wawasan, sikap dan

kepercayaan-kepercayaan serta asumsi-asumsi yang dogmatis

sehingga tidak dapat keluar dari perangkap pikiran sendiri

yang mungkin salah.

Penutup.
Apa yang ditulis di atas bukan dimaksudkan agar para Sarjana

Arsitektur yang berminat untuk menerjunkan diri di bidang

pendidikan harus bersifat "superman". Tidak ada manusia

manusia yang demikian sempurna sehingga dapat memberi

jawaban atas segala tantangan di hari depan. Tulisan ini hanya

dimaksudkan untuk memberi sekadar bahan pemikiran,

dan menggugah hati nurani kita untuk bersama-sama mencari

jawaban-jawaban yang efektif terhadap tantangan-tantangan

tersebut yang semakin kompleks.

Pada waktu ini banyak gejala-gejala yang memberi per-

tanda bahwa ada sesuatu yang kurang baik dalam pendidikan

Arsitektur di Indonesia. salah satu yang menonjol adalah

pemusatan lulusan di beberapa tempat seperti Jakarta dan

Bandung, dan besarnya persentase lulusan yang bekerja di

dalam sektoc modern saja. Hal ini menandakan adanya si-

kap dan pengetahuan yang menjadikan para pendidik-


an Arsitektur mempunyai efektivitas sosial yang rendah.

Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena pendidikan

Arsitektur di mana pun di Indonesia, secara sengaja atau ti-

dak, memasukkan nilai-nilai dan norma-norma yang menga-

rahkan perhatian mahasiswa yang pada masalah-masalah

dalam sektor modern saja, dan kurang memberi perhatian

kepada proses-proses yang terjadi dalam penciptaan ling-

kungan binaan di daerah perkotaan dan pedesaan, berdasar-

kan atas kajian dan penelitian empiris yang ilmiah.

Kalau ada, bahan pendidikan yang demikian, maka pada

umumnya hal tersebut masih terbatas pada bentuk-bentuk

Arsitektur tradisional.

Demikianlah, maka untuk menjawab tantangan ke depan


diperlukan adanya re-orientasi pendidikan yang di samping

universalisme juga perlu memberi perhatian kepada masalah-

masalah penciptaan lingkungan binaan di berbagai lokalisasi

yang biasanya mempunyai latar belakang yang khas dari su-

dut kebudayaan.

Kemampuan untuk menjawab masalah-masalah lingkungan

binaan yang beraneka ragam menurut lokalitasnya, dan untuk

memberi perhatian yang seimbang pada modern dan

sektor tradisional sehingga membantu adanya pemerataan

dalam pembangunan, merupakan bagian dari masalah "sur-

vival" kita di masa depan.

Ada baiknya jika para Sarjana Arsitektur sebagai pendi-

dik menggabungkan diri ke dalam suatu ikatan, yang secara

teratur mengadakan pertemuan di antara mereka sendiri

dan mempunyai media komunikasi yang tetap. Hal tersebut

dapat membantu agar terjadi proses percepatan dalam menca-

ri pendekatan baru di bidang pendidikan agar lebih efektif.

Terutama jika forum pertemuan dan media komunikasinya

terbuka pula untuk mendapatkan masukan, baik dari rekan-

215

rekan Sarjana Arsitektur di dalam bidang profesi yang lain,

maupun bidang-biddang keahlian yang lain seperti ahli-ahli

kemasyarakatan, psikologi, ekonomi, mesin, sipil dan lain-

lain yang mempunyai pengalaman dan minat yang berkaitan

dengan Arsitektur.

Tulisan

ditutup dengan kepercayaan bahwa melalui

konfrontasi gagasan dan pemikiran yang terbuka dan tajam


akan terdapat jawaban-jawaban yang inovatif terhadap ma-

salah-masalah yang kita hadapi ke depan.

* ) Makalah disajikan Calara Kongres I Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia

(PSAI), Jakarta, 1984.