Anda di halaman 1dari 10

AKHLAQ TERHADAP ORANG TUA

Ilmu Agama Tanpa Akhlak Mulia Adalah Sia-Sia

Sebuah nasihat yang sangat bagus bagi kaum muslimin khususnya bagi para penuntut ilmu
agama. Ilmu agama yang mulia ini hendaknya selalu digandengkan dengan akhlak yang
mulia. Terlebih para dai yang akan menyeru kepada kebaikan dan menjadi sorotan oleh
masyarakat akan kegiatan keseharian dan muamalahnya. Nasehat tersebut dari seorang ulama
yaitu syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, beliau berkata,

Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada
faidah menuntut ilmunya.[1]

Memang demikian contoh dari para ulama sejak dahulu, mereka sangat memperhatikan adab
dan akhlak. Jangan sampai justru dakwah rusak karena pelaku dakwah itu sendiri yang
kurang adab dan akhlaknya. Ulama dahulu benar-benar mempelajari adab dan akhlak bahkan
melebihi perhatian terhadap ilmu.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata,

Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama
dua puluh tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan
mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu.[2]

Hendaknya kaum muslimin terutama para penuntut ilmu dan dai sangat memperhatikan hal
ini. Jika setiap orang atau sebuah organisasi, kita permisalkan. Mereka punya target dan
tujuan tertentu, maka tujuan Nabi shallallahu alaihi wa sallam diutus adalah untuk
memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Kita berupaya untuk mewujudkan hal
ini.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. [3]

Berhiaslah dengan Akhlak Mulia


Beliau memerintahkan kita agar bergaul dan bermuamalah dengan manusia berhiaskan
akhlak yang mulia.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,




Bergaulah dengan manusia dengan akhlak mulia.[4]

Beliau adalah suri teladan bagi kaum muslimin dan beliaupun sudah mencontohkan kepada
kita akhlak beliau yang sangat mulia dalam berbagai kisah sirah beliau. Allah memuji akhlak
beliau dalam Al-Quran.

Allah Taala berfirman,

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur (Al-
Qalam: 4).

Demikian juga pujian dari istri beliau, perlu diketahui bahwa komentar dan testimoni istri
pada suami adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak sebenarnya seseorang. A`isyah
berkata mengenai akhlak Nabi Shallallahu alaih wa sallam,

Akhlak beliau adalah Al-Quran.[5]

Seperti Apa Akhlak Mulia Itu?


Definisinya akhlak mulia cukup sederhanya, sebagaimana ulama menerangkan,

Akhlak mulia adalah

[1] berbuat baik kepada orang lain

[2] menghindari sesuatu yang menyakitinya

[3] dan menahan diri ketika disakiti[6]

Mari kita wujudkan akhlak yang mulia, mempelajari bagaimana akhlak mulia dan dalam
Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Balasan akhlak mulia sangat besar
yaitu masuk surga dan merupakan sebab terbanyak orang masuk surga

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang
mulia.[7]
Akhlak Terhadap Kedua Orang Tua
Renungkanlah bahwa kita ini tadinya tidak ada sekarang telah ada. Ibu mengandung kita
selama sembilan bulan dalam keadaan susah payah, kita dibawa kemana-mana dalam
keadaan hamil. Pada waktu kita dilahirkan rasa sakit yang luar bisa darah banyak yang keluar
pada saat itu ibu kita berkata Biarlah aku yang mati asalkan anakku (bayiku) dalam keadaan
hidup. Sedangkan ayah pada saat itu menunggu dan berdoa semoga bayinya keluar dalam
keadaan selamat dan tidak cacat.

Setelah keluar kita dijaga, dipelihara, disayang, kita diberi susu yang ada dalam dirinya,
dijaga jangan ada sampai nyamuk yang menggigit. Ibu tidak bisa tidur menjaga kita, kita
dicium karena kesayangannya, kencing dan kotoran kita selalu dibersihkan. Setelah agak
besar kita diberi makan , pakaian, disekolahkannya diantar ke guru ngaji, sakit di bawa ke
dokter. Bapak kita siang malam bekerja mencari nafkah untuk kehidupan kita. Semua berita
diatas kita tidak dapat membalas jasa-jasa orang tua kita kecuali kita menjadi anak soleh
berakhlak yang mulia, yang dapat menyenangkan hatinya dan menggiring orang tua kita
untuk masuk dalam syurga di akhirat nanti.

Adapun akhlak anak terhadap orang tua adalah sebagai berikut : Sayangilah, cintailah,
hormatilah, patuhlah kepadanya rendahkan dirimu, sopanlah kepadanya. Ketahuilah bahwa
kita hidup bersama orang tua merupakan nikmat yang luar biasa, kalau orang tua kita
meninggal alangkah sedihnya hati kita karena tidak ada yang dipandang lagi. Dalam hal ini
rasulullah bersabda : Tidaklah seseorang melihat kepada orang tuanya dengan pandangan
kasih sayang melainkan Allah menetapkan baginya akibat pandanagannya itu adalah haji
yang diterima dan mabrur.

Pandanglah kedua orang tua dengan penuh rasa kasih sayang, janganlah marah kepadanya
memandang sambil marad dan suara yang keras.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah
dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku,
kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.
QS Al-Isra : 23-24.

Camkanlah dan renunugkanlah dan laksanakanlah ayat ini dan jangan memaki, berkata kasar
kepadanya meskipun kamu menganggap mereka bersalah. Hal ini telah dilarang oleh nabi
dalam sabdanya : Termasuk dosa besar orang-orang memaki ibu bapaknya. Hal ini juga
terjadi apabila kita menghina dan memaki orang tua orang lain. Seseorang bertanya kepada
Nabi Ya Rasulallahu apakah ada orang memaki ibu bapaknya (maksudnya bapak orang lain)
lalu orang itu akan membalas dengan memaki orang tua kita. Maka janganlah memaki ibu
bapak orang lain. Salah seorang shahabat bertanya Siapakah yang paling patut mendapat
perlakuan baik dari ya Rasulallah? Rasul menjawab ibumu, orang itu bertanya lagi setelah
situ siapa? Ibumu. Kemudian orang itu bertanya lagi, siapa lagi? Ibumu. Lalu ia bertanya lagi
setelah itu siap lagi? Rasul menjawab Ayahmu.

Hal ini bisa dipahami karena ibu lebih berat bebannya kepada kita, Sembilan bulan berada di
dalam perutnya tidak tidur malam hari menyusui kita, menjaga kita siang malam,
menggendong, menyuapi dan lain-lain.

Seseorang bertanya kepada Nabi Ya Rasulallah apakah saya masih bisa berbakti kepada ibu
bapakku sesudah mereka wafat? Rasul menjawab Iya yaitu dengan menyolatkan
jenazahnya, memohon ampun bagi keduanya, melaksanakan wasiat mereka dan menghormati
teman-teman mereka serta menyambung hubungan kekeluargaan.

Maksudnya setelah orang tua meninggal maka anaknya wajib tetap berbakti kepadanya
dengan beroa memohonkan ampun dan bersedekah untuk kedua orang tuanya. Bahwa orang
tua kita masih butuh minum, butuh makan, butuh lampu, butuh dingin dalamkuburnya, butuh
luas kuburnya yang semuanya itu dikirim oleh anaknya yang sholeh. Maka jadilah kita
menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Rasulullah bersabda : RidhaNya Allah karena ridha
kedua orang tua dan murkaNya Allah diperolah karena murka orang tua. Maksunya adalah
ridhonya Allah adalah puncak yang kita cari dalam segala pekerjaan kita.

Selanjutnya Rasulullah juga bersabda : berbaktilah kamu kepada ayahmyu tentu anakmu akan
berbakti kepadamu. Nanti kita akan melahirkan anak tentu kita menghendaki agar anak kita
menyenangkan kita dengan cara dia berbakti kepada kita. Maka janganlah kita
mempersekutukan Allah dengan sesuatupun dan berbuat durhaka kepada kedua orang tua
baik berupa perkataan, perbuatan, sehingga menyakitkan hatinya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan : janganlah kamu durhaka kepada orang tua kamu karena
bau surge itu tercium dari jarak seribu tahun. Demi Allah seseorang yang durhaka maupun
yang memutuskan hubungan kekeluargaan tidaklah merasakan bau surge itu.

Maka janganlah berbuat durhaka kepada orang tua dan jangan memutuskan hubungan dengan
keluarga karena sesuatu masalah. Rasulullah mengancam orang-orang yang berbuat durhaka
dengan sabdanya : semua dosa ditangguhkan Allah hukumannya sekehendakNya hingga hari
kiamat kecuali dosa durhaka kepada orang tua karena Allah menyegerakannya bagi
pelakunya di masa hidup sebelum mati. Maka kalau kita berbuat kesalahan mohonlah ampun
kepadanya selama mereka hidup. Dan berbuatlah supaya mereka senang hatinya.

Dalam riwayat yang lainnya Rasulullah bersabda : Tiga macam perbuatan dosa yang tidak
berguna amalan lain di sampingnya yaitu menyekutukan Allah, mendurhakai ibu bapak dan
lari dari peperangan. Cukuplah bagi kita firman Allah taala dalam kalamNya :

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. QS Luqman : 14.

Hak-Hak yang Wajib Dilaksanakan Semasa Hidup Orang Tua.


Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah Taala.

Menaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap muslim, sedang mendurhakai keduanya
merupakan perbuatan yang diharamkan, kecuali jika mereka menyuruh untuk menyekutukan
Allah Taala (berbuat syirik) atau bermaksiat kepadaNya. Allah Taala berfirman, artinya,
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, . (QS.Luqman:15)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Tidak ada ketaatan untuk mendurhakai
Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam melakukan kebaikan. (HR. Al-Bukhari)

Berbakti dan merendahkan diri di hadapan kedua orang tua

Allah Taala berfirman, artinya, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai
berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al-Israa: 23-24)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sungguh merugi, sungguh merugi, dan
sungguh merugi orang yang mendapatkan kedua orang tuanya yang sudah renta atau salah
seorang dari mereka kemudian hal itu tidak dapat memasukkannya ke dalam surga.
(HR.Muslim)

Di antara bakti terhadap kedua orang tua adalah menjauhkan ucapan dan perbuatan yang
dapat menyakiti mereka, walaupun berupa isyarat atau dengan ucapan ah, tidak
mengeraskan suara melebihi suara mereka. Rendahkanlah diri dihadapan keduanya dengan
cara mendahulukan segala urusan mereka.

Berbicara dengan lemah lembut di hadapan mereka


Menyediakan makanan untuk mereka

Hal ini juga termasuk bentuk bakti kepada kedua orang tua, terutama jika hal tersebut
merupakan hasil jerih payah sendiri. Lebih-lebih jika kondisi keduanya sudah renta. Sudah
seyogyanya, mereka disediakan makanan dan minuman yang terbaik dan lebih mendahulukan
mereka berdua dari pada dirinya, anaknya dan istrinya.

Meminta izin kepada mereka sebelum berjihad dan pergi untuk urusan lainnya

Izin kepada orang tua diperlukan untuk jihad yang belum ditentukan (kewajibannya untuk
dirinya-pent). Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan
bertanya, Wahai Rasulullah apakah aku boleh ikut berjihad? Beliau balik bertanya,
Apakah kamu masih mempunyai kedua orang tua? Laki-laki tersebut menjawab, Masih.
Beliau bersabda, Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya. (HR. al-Bukhari
dan Muslim), dan masih banyak hadits yang semakna dengan hadits tersebut.

Memberikan harta kepada orang tua sebesar yang mereka inginkan.


Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang laki-laki ketika ia
berkata, Ayahku ingin mengambil hartaku. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang jangan bersikap bakhil (kikir) terhadap orang yang
menyebabkan keberadaan dirinya, memeliharanya ketika kecil, serta telah berbuat baik
kepadanya.

Membuat keduanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-orang yang


dicintainya.

Hendaknya seseorang membuat kedua orang tuanya ridha dengan berbuat baik kepada orang-
orang yang mereka cintai. Yaitu dengan memuliakan mereka, menyambung tali silaturrahim
dengan mereka, menunaikan janji-janji (orang tua) kepada mereka, dan lain sebagainya.

Memenuhi sumpah / Nazar kedua orang tua

Jika kedua orang tua bersumpah untuk suatu perkara tertentu yang di dalamnya tidak terdapat
perbuatan maksiat, maka wajib bagi seorang anak untuk memenuhi sumpah keduanya karena
hal itu termasuk hak mereka.

Tidak Mencaci maki kedua orang tua.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Termasuk dosa besar adalah seseorang
mencaci maki orang tuanya. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, apa ada orang yang
mencaci maki orang tuanya? Beliau menjawab, Ada. ia mencaci maki ayah orang lain
kemudian orang tersebut membalas mencaci maki orang tuanya. Ia mencaci maki ibu orang
lain lalu orang itu membalas mencaci maki ibunya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Terkadang perbuatan tersebut tidak dirasakan oleh seorang anak, dan dilakukan dengan
bergurau padahal hal ini merupakan perbuatan dosa besar.

Mendahulukan berbakti kepada ibu daripada ayah

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Siapa yang
paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? beliau menjawab, Ibumu. Lelaki itu
bertanya lagi, Kemudian siapa lagi? Beliau kembali menjawab, Ibumu. Lelaki itu kembali
bertanya, Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Ibumu. Lalu siapa lagi? Tanyanya.
Ayahmu, jawab beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas tidak bermakna lebih menaati ibu daripada ayah. Sebab, menaati ayah lebih
didahulukan jika keduanya menyuruh pada waktu yang sama dan dalam hal yang dibolehkan
syariat. Alasannya, ibu sendiri diwajibkan taat kepada suaminya.

Maksud lebih mendahulukan berbuat baik kepada ibu dalam hadits tersebut adalah bersikap
lebih halus dan lembut kepada ibu daripada ayah. Sebagian Ulama salaf berkata, Hak ayah
lebih besar dan hak ibu patut untuk dipenuhi.

Mendahulukan berbakti kepada kedua orang tua daripada berbuat baik kepada
istri.
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah kisah tiga orang yang terjebak di
dalam gua lalu mereka tidak bisa keluar kemudian mereka bertawasul dengan amal baik
mereka, di antara amal mereka, ada yang mendahulukan memberi susu untuk kedua orang
tuanya, walaupun anak dan istrinya membutuhkan.

Hak-Hak Orang Tua Setelah Mereka Meninggal Dunia

Mengurus jenazahnya dan banyak mendoakan keduanya, karena hal ini merupakan
bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Beristighfar (memohonkan ampun kepada Allah Taala) untuk mereka berdua, karena
merekalah orang yang paling utama untuk didoakan agar Allah Taala mengampuni
dosa-dosa mereka dan menerima amal baik mereka.
Menunaikan janji dan wasiat kedua orang tua yang belum terpenuhi semasa hidup
mereka, dan melanjutkan amal-amal baik yang pernah mereka kerjakan selama hidup
mereka. Sebab, pahala akan terus mengalir kepada mereka berdua apabila amal baik
tersebut dilanjutkan.
Memuliakan teman atau sahabat dekat kedua orang tua, Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam pernah bersabda, Sesungguhnya bakti anak yang terbaik adalah seorang
anak yang menyambung tali persahabatan dengan keluarga teman ayahnya setelah
ayahnya meninggal. (HR. Muslim)
Menyambung tali silaturrahim dengan kerabat Ibu dan Ayah. Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bersabda, Barang siapa yang ingin menyambung silaturrahim
ayahnya yang ada dikuburannya, maka sambunglah tali silaturrahim dengan
saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal. (HR. Ibnu Hibban).

Akhlak Terhadap Orang Tua


Salah satu ajaran paling penting setelah ajaran Tauhid adalah berbakti kepada kedua orang
tua. Bahkan, menurut pendapat banyak ulama, ajaran berbakti kepada kedua orang tua ini
menempati urutan kedua setelah ajaran menyembah kepada Allah S.w.t. Dalam Al-Quran
disebutkan:





Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka
sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah
kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (Q, s. al-
Isra / 17:23)
Ada tiga kelompok yang disebut orang tua dalam ajaran Islam. Pertama, :
bapak-ibu yang melahirkan, yaitu bapak-ibu kandung. Kedua, : bapak-ibu
yang mengawinkan, yaitu bapak-ibu mertua. Ketiga, : bapak-ibu yang
mengajarkan, yaitu bapak-ibu guru. Ketiga kelompok inilah yang diwajibkan atas kita untuk
menghormati dan berbuat baik kepadanya.
Menghormati mertua dan guru harus sama seperti menghormati kedua orang tua sendiri.
Sebab mertua adalah bapak-ibu kandung dari istri atau suami kita. Ketika seseorang menikah,
maka ia telah menikah dengan anak dari seorang ayah dan ibu, dan bukan maaf-- anak
hewan. Bagi seorang suami, misalnya, keduanya bersifat mertua, tetapi bagi istrinya
keduanya adalah orang tua kandung.
Ketika seseorang menginjak dewasa, bapak-ibu gurulah yang mengajarkannya tentang
banyak hal hingga ia menjadi mengerti tentang banyak hal dalam kehidupan ini. Maka,
kewajiban menghormati orang tua dalam Islam merupakan salah satu ajaran yang sangat
penting dan prinsip.

Ketika Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, maka perintah ini
sebetulnya sangat bisa dipahami. Cobalah bayangkan, bagaimana repotnya ibu ketika
mengandung selama kurang lebih 9 bulan. Kerepotan ibu, juga bapak, semakin bertambah
ketika kita terlahir ke dunia, mulai dari merawat, memelihara, dan memberinya makan dan
minum dengan penuh kasih sayang. Bagi orang tua tidak ada yang lebih berarti daripada sang
jabang bayi yang baru saja dilahirkannya. Mereka sangat bahagia dengan tangisan dan
kotorannya, akan tetapi mereka akan sedih ketika harus melihatnya sakit.
Dalam konteks berbuat baik kepada kedua orang tua, Al-Quran menganjurkan agar kita
melakukannya dengan cara ihsn. Ihsan artinya kita melakukan sesuatu lebih dari sekedar
kewajiban. Shalat lima waktu merupakan kewajiban, tetapi jika kita menambahnya dengan
shalat-shalat sunnah lainnya, maka itulah ihsan. Puasa Ramadhan adalah kewajiban, dan jika
kita mampu menambahnya dengan puasa-puasa sunnah, puasa Senin-Kamis misalnya, maka
itulah ihsan.

Berbuat baik kepada kedua orang tua harus diupayakan secara maksimal, secara ihsan, lebih
dari sekedar kewajiban kita terhadapnya. Jika sang anak ingin memberikan sesuatu kepada
orang tua, berikanlah yang maksimal. Karena yang maksimal saja belum tentu dapat
sebanding dengan jerih payah dan pengorbanan keduanya selama ini dalam mengasuh dan
membesarkannya.

Seseorang bisa menjadi dokter, tentu berkat orang tua. Menjadi insinyur, juga berkat orang
tua. Menjadi ulama juga berkat orang tua. Bahkan menjadi presiden juga berkat orang tua.
Setidaknya, karena doa orang tua itulah seseorang berhasil menggapai apa yang
diusahakannya.

Itulah pengorbanan orang tua dalam memelihara, mengasuh dan membesarkan kita hingga
seperti ini. Oleh karenanya, Al-Quran lagi-lagi menegaskan:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Q, s. Luqman / 31:14)

Jadi menurut Al-Quran ibu mengandung, melahirkan dan menyusui adalah suatu
pengorbanan yang luhur, yang menuntut adanya balasan terimakasih dari anaknya. Ini
berbeda dengan Genesis dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa wanita
mengandung, melahirkan dan menyusui adalah akibat dosanya (melalui Hawa, istri Adam)
yang telah melanggar larangan Tuhan di Surga.

Berbuat baik kepada orang tua dalam Islam bersifat mutlak. Artinya andaikata ada diantara
kita yang kedua orang tuanya kebetulan berbeda agama, Al-Quran tetap mengajarkan untuk
berbuat baik kepada keduanya. Artinya, berbuat baik kepada kedua orang tua itu tidak
didasarkan atas kesamaan agama, tetapi lebih karena jasa-jasa baik keduanya terhadap
perkembangan dan jati diri kita.

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan. (Q, s. Luqman / 31:15)

Dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua tersebut, Al-Quran mengajarkan agar
kita berdoa:

Ya Tuhanku, berilah rahmat kepada kedua orang tuaku, sebagaimana mereka berdua telah
mendidikku di waktu kecil. (Q, s. al-Isra/17:24)

Maka, barangsiapa yang durhaka kepada kedua orang tua, Allah akan melaknatnya, dan
mengharamkan surga baginya.


( )


Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah
tergantung pula pada kemurkaan kedua orang tua (HR. Muttafaq Alaih)