Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

ANALISIS KUALITATIF PROTEIN DAN


KARAKTERISASI PROTEIN

Nama : Hayyan Nazri Adlani M


NIM : P1337420615050
Kelompok :4
Asisten : Fathika Fitrania

LABORATORIUM BIOLOGI

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KESEHATAN

SEMARANG

2016
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktikum Biokimia dengan judul Analisis Kualitatif Protein dan


Karakterisasi Protein disusun oleh :

Nama : Hayyan Nazri Adlani Muhammad


NIM : P1337420615050
Kelompok :4
Jurusan : Keperawatan Semarang

Telah diperiksa dengan teliti oleh asisten dan dinyatakan telah memenuhi syarat pada
tanggal Mei 2016.

Asisten Praktikum Praktikan

Fathika Fitrania Hayyan Nazri Adlani M


NIM. 2011 31 20027 NIM. P1337420615050

Dosen Pembimbing

Drs. M. Anwar Djaelani, M.Kes


NIP. 196211231988101001
ACARA II
ANALISA KUALITATIF PROTEIN DAN
KARAKTERISASI PROTEIN

I. Tujuan
1.1 Analisa Kualitatif Protein : untuk mengidentifikasi protein berdasarkan
reaksi warna.
1.2 Karakterisasi Protein : untuk mengidentifikasi protein berdasarkan sifat-
sifat umumnya yang meliputi reaksi-reaksi pengendapan, penggumpalan,
dan denaturasi protein, serta hidrolisis protein dengan enzim.

II. Tinjauan Pustaka


Protein (asal kata protos dari bahasa Yunani yang berarti "yang paling
utama") adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer- monomer asam amino yang
dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein
merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air
dari gugus amino dan dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih
kecil dari 6000, biasanya digolongkan sebagai polipeptida. Protein banyak
terkandung dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia seperti
tahu, tempe, ikan, telur, dan sebagainya. Secara cara umum, sumber protein
adalah dari sumber nabati dan sumber hewani. (Marina, 2013).
2.1 Pengertian Protein
Protein merupakan komponen utama dalam semua sel hidup, baik
tumbuha nmaupun hewan. Pada sebagian besar jaringan
tubuh, protein merupakan komponen utama terbesar selain air. Lebih dari
50 % berat kering sel terdiri atas protein. Protein adalah senyawa organik
yang tersusun dari monomer-monomer asam amino yang saling
berinteraksi melalui ikatan peptida. (Lehninger, 2005).
2.2 Fungsi Protein
Fungsi protein adalah untuk memelihara struktur tubuh (seperti
kolagen), untuk fasilitas pergerakan (seperti aktin dan miosin untuk
kontraksi otot), dalam transportasi (seperti transportasi oksigen oleh
hemoglobin, sistem transportasi pada membran sel), dalam metabolisme
(seperti enzim), dalam regulasi (seperti faktor - faktor pertumbuhan, dan
faktor - faktor transkripsi), dan dalam fungsi imun (seperti
immunoglobulin). (Fitri, 2012).
2.3 Sifat-sifat Umum Protein
Protein memiliki karakter yaitu sebagai enzim (merupakan katalis
biokimia), pengukur pergerakan, alat pengangkut dan penyimpan,
penunjang mekanisme tubuh, pertahanan tubuh (imun atau anti-bodi),
media perambatan impuls saraf, dan pengendali pertumbuhan. (Lehninger,
2005).
Asam amino tidak bersifat seperti senyawa organic. Titik leleh
diatas 200C, sedangkan kebanyakan senyawa organik dengan bobot
molekul sekitar itu berupa cairan pada temperatur kamar, asam amino larut
dalam pelarut air dan organik, tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar.
Asam amino memiliki momen dipol yang besar, juga mereka bersifat
kurang asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat dan kurang
basa dibandingkan sebagian besar senyawa amina yang lain. (Robert,
2009).
2.4 Uji Kualitatif Protein
2.4.1 Uji Ninhidrin
Uji Ninhidrin digunakan untuk menunjukkan adanya asam
amino dalam zat yang di uji . Dalam uji ini digunakan larutan
ninhidrin untuk mendeteksi semua jenis asam amino.
Ninhidrin (2,2-Dihydroxyindane-1,3-dione) merupakan senyawa
kimia yang digunakan untuk mendeteksi gugus amina dalam
molekul asama amino. Asam amino bereaksi dengan ninhidrin
membentuk aldehida dengan satu atom C lebih rendah dan
melepaskan molekul NH3 dan CO2. Ninhidrin yang telah bereaksi
akan membentuk hidrindantin. Hasil positif ditandai dengan
terbentuknya kompleks berwarna biru/keunguan yang disebabkan
oleh molekul ninhidrin dan hidrindantin yang yang bereaksi dengan
NH3 setelah asam amino tersebut dioksidasi. (Panji, 2013).
2.4.2 Uji Biuret
Uji biuret adalah salah satu cara pengujian yang
memberikan hasil positif pada senyawa-senyawa yang memiliki
ikatan peptida. Oleh karena itu, uji Biuret ini sering digunakan
untuk menunjukkan adanya senyawa protein. Pengujiannya
dapat dilakukan dengan cara berikut, larutan yang mengandung
protein ditetesi larutan NaOH, kemudian diberi beberapa tetes
larutan CuSO4 encer. Terbentuknya warna ungu, menunjukkan
hasil positif adanya protein. Reaksi ini disebut reaksi biuret sebab
warna senyawa yang terbentuk sama dengan warna senyawa biuret
bila ditambah larutan natrium hidroksida dan tembaga sulfat
(Sunarya, 2007).
2.5 Uji Karakterisasi Protein
2.5.1 Uji Pengendapan oleh Garam
Proses pengendapan oleh garam di ini disebut juga
peristiwa salting out merupakan pengendapan protein karena
terjadi persaingan antara garam dan protein yang mengikat air.
Pada percobaan pengendapan oleh garam ammonium sulfat,
tergantung pada kekuatan ionik dan konsentrasi ammonium yang
ditambahkan. Endapan terjadi karena kemampuan ion garam
terhidrasi sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat
air. Dengan demikian, tidak cukup banyak air yang terikat pada
protein sehingga gaya tarik-menarik antara molekul protein lebih
menonjol dibandingkan tarik-menarik antara air dan protein. Dalam
kondisi seperti ini, protein akan mengendap. (Wijaya, 2011).
2.5.2 Uji Pengendapan oleh Logam Berat
Salah satu sifat dari logam yang mengandung ion positif dapat
menghasilkan endapan jika direaksikan dengan protein. Sama
halnya dengan Zn yang juga merupakan logam yang mengandung
ion positif, yang juga dapat menghasilkan endapan jika direaksikan
dengan protein. Dasar reaksi pengendapan oleh logam berat adalah
penetralan muatan. Dimana pengendapan akan terjadi bila protein
berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif, dengan
adanya muatan positif dari logam berat akan terjadi reaksi
netralisasi dari protein dan dihasilkan garam proteinatyang
mengendap. (Wijaya, 2011).
2.5.3 Uji Pengendapan oleh Alkohol Pekat
Pada percobaan uji pengendapan oleh alkohol yang bertujuan
untuk mengetahui pengaruh alkohol terhadap larutan protein. Dan
berfungsi juga untuk menurunkan konstanta dielektrik pada larutan
sehingga gaya tarik-menarik antar molekul jadi semakin kuat.
Kemudian alkohol akan mengkondisikan gugus positif pada asam
amino untuk bereaksi dengan gugus negatif yang ada dalam
larutan, sehingga pada suasana tertentu mampu membentuk
endapan. (Wijaya, 2011).
2.5.4 Uji Penggumpalan Protein
Pada percobaan uji koagulasi, endapan protein terjadi setelah
penambahan asam asetat Hal ini menunjukan bahwa endapan yang
terbentuk benar-benar merupakan endapan protein, hanya saja telah
terjadi perubahan struktur tersier ataupun kwartener, sehingga
protein tersebut mengendap. Perubahan struktur tersier protein ini
tidak dapat diubah kembali ke bentuk semula, ini bisa dilihat dari
tidak larutnya endapan albumin itu dalam air. Hal ini terjadi pada
protein yang terkoagulasi setelah ditambahkan CH3COOH.
Senyawa-senyawa logam tersebut akan memutuskan jembatan
garam dan berikatan dengan protein membentuk endapan logam
proteinat. Protein akan terkoagulasi oleh pemanasan. Terjadinya
koagulasi disebabkan karena ion H+ dari CH3COOH terikat pada
gugus negatif pada protein. Ketika ion H+ dari asam asetat masuk
ke dalam larutan, akan mempengaruhi keseimbangan dan
pengkutuban muatan dari molekul protein. (Wijaya, 2011).
2.5.5 Uji Pencernaan Protein
Tujuan uji pencernaan protein dengan pepsin adalah untuk
mengetahui adanya hidrolisis protein oleh enzim pepsin. Jika pada
percobaan 1 tabung diisi pepsin dan HCL, ditambah 2
potong karmynfibrin kemudian dipanaskan, maka
karmynfibrin akan mengembang dan larutannya
berwarna orange bening, ini karena pepsin sebagai
enzim dapat menghidrolisis karmynfibrin sebagai
sumber protein. Sedangkan jika pada percobaan 2,
tabung diisi air, HCl dan karmynfibrin kemudian
ditempatkan di penangas air, maka karmynfibrin tidak
mengalami perubahan warna (tetap). Hal ini berarti
bahwa karmynfibrin tidak mengalami hidrolisis karena
tidak adanya enzim pepsin. Oleh karena itu pada
percobaan ini enzim pepsin sangat dibutuhkan. (Aditia,
2013).

III. Metode Praktikum


3.1 Alat dan bahan
3.1.1 Alat
a) Tabung reaksi
b) Rak tabung reaksi
c) Label
d) Pipet
e) Bunsen
f) Spiritus
g) Penjepit tabung
h) Korek api
i) Kamera handphone
3.1.2 Bahan
a) Protein (putih telur)
b) Ninhidrin
c) Glisin
d) NaOH
e) CuSO4
f) Ammonium Sulfat (10%, 30%, 50%)
g) ZnSO4
h) Alkohol pekat
i) Klorfenol merah
j) Asam cuka (CH3COOH)
k) Pepsin
l) HCl
m)Karmyinfibrin
3.2 Cara kerja
3.2.1 Uji Kualitatif Protein
a) Uji Ninhidrin
1. Menyiapkan 2 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung 1 dengan 1 mL protein.
3. Menambahkan 0,5 mL ninhidrin pada tabung 1.
4. Menghidupkan bunsen menggunakan korek api.
5. Menjepit tabung 1 dengan penjepit tabung.
6. Memanaskan tabung 1 diatas bunsen, sambil digoyang-
goyangkan, hingga mendidih.
7. Mengamati perubahan warna yang terjadi.
8. Mengulang prosedur no. 2 pada tabung 2.
9. Menambahkan 0,5 mL glisin pada tabung 2.
10. Mengulang prosedur no. 4 sampai 7 pada tabung 2.
b) Uji Biuret
1. Menyiapkan 1 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung 1 dengan 2 cc protein.
3. Menambahkan 1 cc NaOH ke dalam tabung 1.
4. Menambahkan 5 tetes CuSO4 ke dalam tabung 1.
5. Mengamati perubahan warna yang terjadi.
3.2.2 Uji Karakterisasi Protein
a) Uji Pengendapan oleh Garam
1. Menyiapkan 1 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung reaksi dengan 1 mL protein.
3. Menambahkan 5 tetes Ammonium Sulfat 10%.
4. Menghomogenkan dan mengamati apa yang terjadi.
5. Menambahkan 5 tetes Ammonium Sulfat 30%.
6. Menghomogenkan dan mengamati apa yang terjadi.
7. Menambahkan 5 tetes Ammonium Sulfat 50%.
8. Menghomogenkan dan mengamati apa yang terjadi.
b) Uji Pengendapan oleh Logam
1. Menyiapkan 1 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung reaksi dengan 2 cc protein.
3. Menambahkan 1 tetes ZnSO4 ke tabung reaksi.
4. Membagi larutan pada tabung reaksi ke dalam 2 tabung,
tabung 1 dan tabung 2 .
5. Menambahkan ZnSO4 berlebih yaitu sebanyak 26 tetes pada
tabung 1.
6. Mengamati perubahan yang akan terjadi.
c) Uji Pengendapan oleh Alkohol Pekat
1. Menyiapkan 1 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung reaksi dengan 2 cc alkohol pekat.
3. Menambahkan 1-2 tetes protein ke dalam tabung reaksi.
4. Mengamati perubahan yang terjadi.
d) Uji Penggumpalan Protein
1. Menyiapkan 1 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung reaksi dengan 2 cc protein.
3. Menambahkan 2 tetes klorfenol merah pada tabung reaksi.
4. Menambahkan asam cuka pada tabung reaksi sampai warna
merah menghilang.
5. Mengamati perubahan yang terjadi.
e) Uji Pencernaan Protein
1. Menyiapkan 3 tabung reaksi.
2. Mengisi tabung 1 dengan 1 cc pepsin.
3. Menambahkan 1 cc HCl ke dalam tabung 1.
4. Memasukkan 2 potong karmynfibrin ke dalam tabung 1.
5. Mengisi tabung 2 dengan 2 cc pepsin.
6. Menambahkan 1 cc air ke dalam tabung 2.
7. Memasukkan 2 potong karmynfibrin ke dalam tabung 2.
8. Mengisi tabung 3 dengan 1 cc pepsin.
9. Menghidupkan pembakar bunsen dengan korek api.
10. Menjepit tabung 3 menggunakan penjepit tabung.
11. Memanaskan tabung 3 sambil digoyang-goyangkan hingga
mendidih.
12. Membiarkan tabung 3 hingga mendingin.
13. Menambahkan 1 cc HCl ke dalam tabung 3.
14. Memasukkan 2 potong karmynfibrin ke dalam tabung 3.
15. Memasukkan tabung1, 2, dan 3 ke dalam penangas air 37C
selama 5 menit.
16. Mengamati perubahan karmynfibrin yang terjadi dalam tabung
1, 2, dan 3.
IV. Hasil Pengamatan
No. Nama Uji dan Cara Gambar Hasil Keterangan
Kerja
1. Uji Ninhidrin Sebelum : Hasil :
Ninhidrin
1. Tabung 1 (1 mL 1. (+)
sebelum
(Proses 1) 2. (+)
protein + 0,5 mL
Tabung 1
1 mL protein ninhidrin) berwarna
putih bening.
0,5 mL ninhidrin
2. Tabung 2 (1 mL

Glisin
sebelum
Glisin
Ninhidrin
sesudah
sesudah
dipanaskan protein + 0,5 mL
glisin) berwarna
(Proses 2)
Tabung 2 ungu bening.
1 mL protein
Sesudah :
0,5 mL glisin 1. Tabung 1 setelah
dipanaskan berwarna
dipanaskan
ungu, dan terdapat
endapan.
2. Tabung 2 setelah
dipanaskan berwarna
ungu kebiruan pekat.

2. Uji Biuret Sebelum : Hasil : (+)


2 cc protein berwarna
2 cc protein
putih bening, saat
sebelum
1 cc NaOH diberi 1 cc NaOH,
tidak berubah warna.
5 tetes CuSO4
mengamati perubahan
Sesudah :
yang terjadi Setelah diberi 5 tetes
sesudah CuSO4 menjadi ungu.

3. Pengendapan oleh garam Sebelum : Hasil : (+)


sebelum 1 mL protein
1 mL protein
berwarna putih

sesudah 10%
5 tetes Ammonium sulfat bening.
10%
Sesudah :
- 5 tetes Ammonium
dihomogenkan
sulfat 10%, belum
diamati
ada endapan.
- 5 tetes Ammonium
5 tetes Ammonium sulfat
sulfat 30%, ada
30%
endapan tapi sedikit
dihomogenkan
sekali.
-5 tetes Ammonium
diamati
sulfat 50%, ada
5 tetes Ammonium sulfat sesudah 30% endapan.
50%

dihomogenkan

diamati

sesudah 50%

4. Pengendapan oleh logam Sebelum : Hasil : (+)


sebelum 2 cc protein + 1 tetes
berat
Zn SO4 berwarna
2 cc protein
putih bening.
1 tetes ZnSO4
Sesudah :
bagi dalam 2 tabung
1. Tabung 1 (ZnSO4
Tabung 1 + ZnSO4 berlebih) terdapat
berlebih (26 tetes) tabung 1 gumpalan putih
sesudah
banyak.
2. Tabung 2 (tanpa
penambahan ZnSO4),

tabung 2
sesudah
terdapat gumpalan
putih sedikit.

5. Pengendapan oleh Sebelum : Hasil : (+)


sebelum 2 cc alkohol pekat
alkohol pekat
berwarna putih
2 cc alkohol pekat
bening.
1-2 tetes protein
Sesudah :
Setelah ditambah 1-2
amati perubahan
tetes protein, warna
sesudah berubah menjadi
keruh, dan terdapat
endapan.

6. Penggumpalan protein Sebelum : Hasil : (+)


sebelum 2 cc protein berwarna
2 cc protein
putih bening,
2 tetes klorfenol merah ditambah 2 tetes
klorfenol merah
asam cuka sampai warna
menjadi merah muda.
merah hilang (42 tetes)
Sesudah :
Setelah ditambah
sesudah dengan asam cuka,
warna berubah
menjadi kuning dan
terdapat gumpalan
putih dipermukaan.
7. Pencernaan Protein Sebelum : Hasil :
sebelum 1. Tabung 1, 1 cc 1. (+)
(Tabung 1) 2. (-)
pepsin + 1 cc HCl
1 cc pepsin 3. (+)
berwarna kuning
1 cc HCl
bening, 2 potong
2 potong karmynfibrin karmynfibrin
berwarna pink.
(Tabung 2)
2. Tabung 2, 2 cc
2 cc pepsin
tabung 1 pepsin + 1 cc air
1 cc air sesudah berwarna kuning
2 potong karmynfibrin bening, 2 potong
karmynfibrin
(Tabung 3)
1 cc pepsin, dipanaskan berwarna pink.
3. 1 cc pepsin
didinginkan
dipanaskan + 1 cc
1 cc HCl HCl, berwarna
tabung 2
sesudah kuning bening, 2
2 potong karmynfibrin
potong karmynfibrin
*Tabung 1,2, dan 3
berwarna pink.
dimasukkan ke penangas Sesudah :
1. Tabung 1,
air suhu 37C selama 5
karmynfibrin
menit
mengembang.
2. Tabung 2,
tabung 3
sesudah
karmynfibrin
mengkerut.
3. Tabung 3,
karmynfibrin
mengembang.

V. Pembahasan
Praktikum tentang Analisis Kualitatif Protein dan Karakterisasi Protein,
bertujuan untuk mengidentifikasi protein berdasarkan reaksi warna dan untuk
mengidentifikasi protein berdasarkan sifat-sifat umumnya yang meliputi
reaksi-reaksi pengendapan, penggumpalan, dan denaturasi protein, serta
hidrolisis protein dengan enzim. Praktikum ini dilakukan pada hari Senin,
tanggal 2 Mei 2016, bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro. Alat dan bahan yang
digunakan yaitu, tabung reaksi, rak tabung reaksi, label, pipet, bunsen, spiritus,
penjepit tabung, korek api, kamera handphone, protein (putih telur), ninhidrin,
glisin, NaOH, CuSO4, Ammonium Sulfat (10%, 30%, 50%), ZnSO 4, alkohol
pekat, klorfenol merah, asam cuka (CH3COOH), pepsin, HCl, dan
karmyinfibrin. Setelah dilakukan pengamatan pada dua uji kualitatif protein
yaitu, uji ninhidrin dan uji biuret, kemudian pada lima uji karakterisasi protein
yaitu, pengendapan oleh garam, pengendapan oleh logam berat, pengendapan
oleh alkohol pekat, penggumpalan protein dan pencernaan protein, muncullah
hasil dari pengamatan tersebut, dan berikut pembahasannya.
5.1 Uji Ninhidrin
Menurut Wijaya (2011), uji ninhidrin bertujuan untuk mengetahui ada
tidaknya asam amino dalam suatu sampel. Prinsip dari uji ninhidrin yaitu,
asam amino yang terdapat pada sampel akan bereaksi dengan ninhidrin,
kemudian membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Cara kerja
singkatnya adalah menyiapkan dua tabung reaksi, tabung 1 diisi dengan 1
mL protein kemudian ditambah 0,5 mL ninhidrin dan dipanaskan, tabung 2
diisi dengan 1 mL protein, ditambah 0,5 mL glisin dan dipanaskan,
gunanya yaitu untuk mempercepat reaksi, setelah itu amati perubahan yang
terjadi pada kedua tabung.
Menurut Marina (2013), fungsi dari larutan ninhidrin pada uji ini
adalah untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya
dalam suatu larutan. Dari hasil pengamatan yang didapat, tabung 1 setelah
dipanaskan berwarna ungu, dan terdapat endapan, sedangkan tabung 2
setelah dipanaskan berwarna ungu kebiruan pekat. Berarti hasilnya adalah
positif .
Menurut Wibowo (2009), reaksi dinyatakan positif jika terjadi
perubahan warna larutan sampel menjadi ungu, dan reaksi dinyatakan
negatif jika tidak terjadi perubahan warna.
Reaksi :

Wibowo (2009)
5.2 Uji Biuret
Menurut Fitri (2012), tujuan dari uji biuret adalah untuk
mengidentifikasi ada atau tidak adanya ikatan peptida dalam suatu sampel.
Prinsip dari uji biuret ini yaitu, ion Cu 2+ akan bereaksi dengan ikatan
peptida dalam suasana basa yang akan membentuk kompleks berwarna
ungu. Cara kerja singkatnya adalah menyiapkan satu tabung reaksi, diisi
dengan 2 cc protein, ditambahkan dengan 1 cc NaOH dan kemudian diberi
5 tetes CuSO4.
Menurut Sunarya (2007), fungsi dari NaOH dalam uji biuret ini adalah
agar larutan menjadi alkali (dalam suasana basa). Dari hasil pengamatan
yang didapat, setelah diberi tabung reaksi diberi 5 tetes CuSO 4, warna
berubah menjadi ungu. Berarti hasilnya adalah positif.
Menurut Sunarya (2007), reaksi ini positif terhadap dua buah ikatan
peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau ikatan
peptida. Protein melarutkan hidroksida tembaga untuk membentuk
kompleks warna. Reaksi pembentukan warna ini dapat terjadi pada
senyawa yang mengandung dua gugus karbonil yang berikatan dengan
nitrogen atau atom karbon.
Reaksi :
Wijaya (2011)
5.3 Pengendapan oleh Garam
Menurut Purwo (1993), tujuan dari uji ini adalah untuk menguji
seberapa kuat persaingan antara garam dan protein untuk mengikat air.
Prinsip dari uji ini yaitu, pembentukan senyawa tak larut antara protein
dengan ammonium sulfat. Cara kerja singkatnya adalah, menyiapkan satu
tabung reaksi, diisi dengan 1 mL protein, tambahkan 5 tetes ammonium
sulfat 10%, homogenkan dan amati, setelah itu tambahkan 5 tetes
ammonium sulfat 30%, homogenkan dan amati, kemudian tambahkan 5
tetes ammonium sulfat 50%, homogenkan dan amati perubahan yang
terjadi.
Menurut Purwo (1993), fungsi dari penambahan ammonium sulfat
adalah berkompetisi dengan air untuk mendapatkan albumin berupa putih
telur yang dijadikan sampel. Dari hasil pengamatan yang didapat, sesudah
ditambahkan ammonium sulfat 10%, belum ada endapan, setelah
ditambahkan ammonium sulfat 30%, ada endapan sedikit, kemudian
sesudah ditambahkan ammonium sulfat 50%, terdapat endapan yang
terlihat jelas. Berarti hasil uji ini adalah positif.
Menurut Wijaya (2011), pengendapan oleh garam ammonium sulfat
tergantung pada kekuatan ionik dan konsentrasi ammonium yang
ditambahkan, endapan terjadi karena kemampuan ion garam terdehidrasi
sehingga berkompetisi dengan protein untuk mengikat air.
Reaksi :

Peristiwa Salting Out


Wijaya (2011)
5.4 Pengendapan oleh Logam Berat
Menurut Wijaya (2011), tujuan dari uji ini adalah untuk membuktikan
bahwa protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan negatif.
Prinsip dari uji ini yaitu, pembentukan senyawa tak larut antara protein dan
logam berat. Cara kerja singkatnya adalah menyiapkan satu tabung reaksi,
mengisinya dengan 2 cc protein, menambahkan 1 tetes ZnSO4, membagi
larutan menjadi dua tabung, tabung pertama diberi ZnSO 4 berlebih (26
tetes), tabung kedua tetap, kemudian mengamati perubahan yang terjadi.
Menurut Aditia (2013), fungsi dari ZnSO4 yaitu, Zn dapat
menjenuhkan larutan hingga pH larutan bearda diatas pH isolistrik
sehingga gumpalan larut kembali dan terjadi pengendapan. Dari hasil
pengamatan yang didapat, pada tabung pertama (ZnSO4 berlebih), terdapat
gumpalan putih yang banyak, sedangkan pada tabung kedua terdapat
gumpalan putih yang sedikit. Berarti hasil dari uji ini adalah positif.
Menurut Ridwan (1990), endapan yang dihasilkan berwarna putih dan
larutan putih susu, pengendapan terjadi bila protein berada dalam bentuk
isoeletrik yang bermuatan negatif, dengan adanya muatan positif dari
logam berat, akan terjadi reaksi netralisasi dari protein dan dihasilkan
garam proteinat yang mengendap.
Reaksi :

Peristiwa pengendapan oleh logam Hg dan Pb


Ridwan (1990)
5.5 Pengendapan oleh Alkohol Pekat
Menurut Aditia (2013), tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui
pengaruh alkohol terhadap larutan protein. Prinsipnya yaitu, pembentukan
senyawa tak larut antara protein dan alkohol. Cara kerja singkatnya adalah,
menyiapkan satu tabung reaksi, mengisinya dengan 2 cc alkohol pekat,
menambahkan 1-2 tetes protein, kemudian mengamati perubahan yang
terjadi.
Menurut Wibowo (2009), fungsi dari alkohol adalah untuk
menurunkan konstanta dielektrik pada larutan sehingga gaya tarik-menarik
antar molekul jadi semakin kuat dan mengkondisikan guguus positif pada
asam amino untuk bereaksi dengan gugus negatif yang ada dalam larutan,
sehingga pada suasana tertentu mampu membentuk endapan. Dari hasil
pengamatan yang didapat, tabung berubah warna menjadi keruh dan ada
endapan. Berarti hasil dari uji ini adalah postif.
Menurut Wijaya (2011), pengendapan dengan alkohol, albumin yang
ditambah larutan penyangga (buffer) pH 4,7 paling banyak menghasilkan
endapan, hal ini terjadi karena pH tersebut merupakan titik isoelektrik
protein sehingga endapan yang terbentuk merupakan jumlah yang paling
maksimal.
Reaksi :

Wijaya (2011)

5.6 Penggumpalan Protein


Menurut Lehninger (2005), tujuan dari uji ini adalah untuk mengubah
struktur bentuk protein menjadi tersier atau kuartener. Prinsip dari uji ini
yaitu, perubahan bentuk yang irreversibel dari protein akibat dari pengaruh
pemanasan. Cara kerja singkatnya adalah, menyiapkan satu tabung reaksi,
mengisinya dengan 2 cc protein, menambahkan 2 tetes klorfenol merah ke
dalam tabung, memberi asam cuka (CH3COOH) sampai warna merah
hilang (42 tetes), mengamati perubahan yang terjadi.
Menurut Robert (2009), fungsi dari asam cuka (CH 3COOH) adalah
ion H+ dari asam cuka terikat pada gugus negatif pada protein, ketika ion H +
dari asam asetat masuk ke dalam larutan, akan mempengaruhi
keseimbangan dan pengkutuban muatan dari molekul protein. Dari hasil
pengamatan yang didapat, setelah diberi asam cuka (CH 3COOH) sampai
warna merah menghilang, warna berubah menjadi warna kuning dan
terdapat gumpalan putih dipermukaan tabung. Berarti hasil ini
menunjukkan bahwa postif.
Menurut Ridwan (1990), endapan protein terjadi setelah penambahan
asam asetat (CH3COOH), hal ini terjadi karena protein terkoagulasi setelah
ditambahkan asam asetat (CH3COOH).
Reaksi :

Ridwan (1990)
5.7 Pencernaan Protein
Menurut Aditia (2013), tujuan dari uji ini adalah adalah untuk
mengetahui adanya hidrolisis protein oleh enzim pepsin. Prinsip dari uji ini
yaitu, enzim pepsin adalah enzim yang memecah molekul protein menjadi
pepton. Cara kerja singkatnya adalah menyiapkan tiga tabung reaksi,
tabung 1 diisi dengan 1 cc pepsin, dutambah dengaan 1 cc HCl, dan diberi
2 potong karmynfibrin, pada tabung 2 diisi 2 cc pepsin, ditambah dengan 1
cc air, dan diberi 2 potong karmynfibrin, kemudian pada tabung 3 diisi 1 cc
pepsin, dipanaskan (untuk mempercepat reaksi), didinginkan dahulu,
ditambah dengan 1 cc HCl, dan diberi 2 potong karmynfibrin, setelah itu
tabung 1, 2, dan 3 dimasukkan ke penangas air pada suhu 37C, dalam
jangka waktu 5 menit.
Menurut Amrina (2013), fungsi dari pemberian pepsin adalah sebagai
enzim untuk menghidrolisis karmynfibrin (sebagai sumber protein),
kemudian fungsi dari karmynfibrin adalah untuk mengecek ada tidaknya
enzim pepsin. Dari hasil pengamatan yang didapat, pada tabung 1 dan 3
karmynfibrin mengembang, tetapi pada tabung 2 karmynfibrin mengkerut,
ini terjadi karena tidak adanya enzim pepsin. Berarti hasilnya pada tabung 1
dan 3 positif, pada tabung 2 negatif.
Menurut Amrina (2013), karmynfibrin akan mengalami hidrolisis
karena adanya enzim pepsin, dan karmynfibrin tidak akan mengalami
hidrolisis jika tidak ada enzim pepsin.
Reaksi :

Amrina (2013)

VI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum tentang analisis kualitatif protein dan
karakterisasi protein, yang bertujuan untuk untuk mengidentifikasi protein
berdasarkan reaksi warna (analisis kualitatif protein) dan untuk
mengidentifikasi protein berdasarkan sifat-sifat umumnya yang meliputi
reaksi-reaksi pengendapan, penggumpalan, dan denaturasi protein, serta
hidrolisis protein dengan enzim (karakterisasi protein), dapat disimpulkan
bahwa protein adalah senyawa organik yang tersusun dari monomer-monomer
asam amino yang saling berinteraksi melalui ikatan peptida. Ada 2 uji yang
dapat dilakukan untuk analisis kualitatif protein yaitu, uji ninhidrin dan uji
biuret, sedangkan ada 5 uji untuk karakterisasi protein, yaitu pengendapan oleh
garam, pengendapan oleh logam berat, pengendapan oleh alkohol pekat,
penggumpalan protein dan pencernaan protein. Uji ninhidrin bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya asam amino dalam suatu sampel, reaksi dinyatakan
positif jika terjadi perubahan warna larutan sampel menjadi ungu. Uji biuret
bertujuan untuk untuk mengidentifikasi ada atau tidak adanya ikatan peptida
dalam suatu sampel, reaksi positif ditunjukkan dengan sampel yang berubah
warna menjadi ungu. Pengendapan oleh garam bertujuan untuk menguji
seberapa kuat persaingan antara garam dan protein untuk mengikat air, reaksi
positif ditunjukkan dengan adanya endapan yang terlihat jelas setelah diberi
ammonium sulfat. Pengendapan oleh logam berat bertujuan untuk
membuktikan bahwa protein berada dalam bentuk isoelektrik yang bermuatan
negatif, reaksi positif ditunjukkan dengan adanya gumpalan putih.
Pengendapan oleh alkohol bertujuan untuk mengetahui pengaruh alkohol
terhadap larutan protein, reaksi positif ditunjukkan dengan tabung berubah
warna menjadi keruh dan ada endapan. Penggumpalan protein bertujuan untuk
mengubah struktur bentuk protein menjadi tersier atau kuartener, reaksi positif
ditunjukkan dengan setelah diberi asam cuka (CH 3COOH) sampai warna
merah menghilang, warna berubah menjadi warna kuning dan terdapat
gumpalan putih dipermukaan tabung. Kemudian pencernaan protein bertujuan
untuk mengetahui adanya hidrolisis protein oleh enzim pepsin, reaksi positif
ditunjukkan dengan mengembangnya karmynfibrin karena adanya pepsin.
DAFTAR PUSTAKA

Aditia, Lasinrang. 2013.


www.academia.edu/15953815/Laporan_Praktikum_Biokimia_Reaksi_Pen
gendapan _Uji_Protein. (Diakses pada : 18 November 2013).
Amrina, Z N. 2013. www.scribd.com. (Diakses pada : 21 April 2013).
Arbianto, Purwo. 1993. Biokimia Konsep-konsep Dasar. Bandung : ITB
Fitri, Nur. 2012. www.academia.edu/8570427/Fungsi_Protein_Protein_terdiri.
(Diakses pada : 22 November 2012)
Lehninger. 2005. Dasar-Dasar Biokimia Jilid IV. Jakarta: Erlangga.
Marina, Luna. 2013. dokumen.tips/documents/uji-kualitatif-protein-1.html.
(Diakses pada : 9 April 2013)
Murray, Robert. 2009. Biokimia Harper. Edisi 27. Jakarta : EGC
Panji. 2013. www.edubio.info/2013/11/uji-ninhidrin.html. (Diakses pada : 11
November 2013)
Ridwan, S. 1990. Kimia Organik edisi 1. Jakarta : Binarupa Aksara.
Sunarya. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Bandung : PT. Setia Purna
Invers.
Wibowo, Luqman. 2009. Deskripsi dan Macam-macam Tingkatan Struktur
Protein. Bandung : ITB.
Wijaya, Wendy. 2011.
www.academia.edu/7478626/PERCOBAAN_1_Identifikasi_Kualitatif_Pr
otein_I. (Diakses pada : 5 Juli 2011).