Anda di halaman 1dari 3

Menggunakan Pendekatan Milestone untuk Menentukan Bagian Pekerjaan

Mengenai pekerjaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang mengalami keterlambatan


penyelesaian pekerjaan. Konsekuensi dari keterlambatan pelaksanaan pekerjaan adalah
pengenaan denda keterlambatan. Permasalahan denda keterlambatan menjadi mengemuka
ketika Kontrak tidak secara jelas dan tegas mengatur dasar pernitungan denda keterlambatan.
Sebagian dari pekerjaan yang didiskusikan adalah pekerjaan dengan nilai besar, mengalami
keterlambatan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Meskipun jumlah hari keterlambatan
tidak banyak, namun karna dihitung dari nilai Kontrak keseluruhan, maka nominal denda
keterlambatan yang harus dibayar cukup besar.

Berdasarkan pasal 120 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah (dan perubahannya), dinyatakan "denda keterlambatan sebesar
1/1000 (satu perseribu) dari Nilai Kontrak atau Nilai Bagian Kontrak" untuk setiap hari
keterlambatan. Lebih lanjut dalam penjelasan diuraian bahwa : "bagian kontrak adalah
bagian pekerjaan yang diatur dalam syarat-syarat kontrak, yang terdapat dalam rancangan
kontrak dan dokumen kontrak. Penyelesaian masing-masing pekerjaan yang tercantum pada
bagian kontrak tersebut tidak tergantung satu sama lain dan memiliki fungsi yang berbeda,
dimana fungsi masing-masing bagian kontrak tidak terkait satu sama lain dalam pencapaian
kinerja pekerjaan."

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka pendefinisian "bagian pekerjaan",


pencantumannya pada rancangan kontrak (bagian SSKK) dan dokumen kontrak adalah hal
penting untuk mencegah potensi sengketa akibat pengenaan denda keterlambatan. Apabila
hal tersebut terlewatkan pada saat penyusunan rancangan kontrak, maka dimaknai bahwa
dasar pengenaan denda keterlambatan adalah dari nilai kontrak. Lebih lanjut, melakukan
perubahan kontrak untuk mengatur ulang dasar pengenaan denda adalah proses yang bisa
menjadi potensi masalah ketika dilakukan pemeriksaan oleh aparat pengawasan.
Pembahasan berikutnya adalah, bagaimana cara kita mendefinisikan "bagian pekerjaan".
Menentukan bagian pekerjaan akan mudah dilaksanakan dalam hal:

1. Kontrak Pengadaan Barang yang terdiri dari satu atau beberapa jenis barang yang
penerimaannya tidak memerlukan pengujian, sehingga "bagian pekerjaan" adalah
masing-masing jenis barang.
2. Kontrak Pekerjaan Konstruksi yang terdiri dari satu atau beberapa bangunan yang
terpisah satu sama lain, sehingga "bagian pekerjaan" adalah masing-masing
bangunan.
3. Kontrak Jasa Konsultansi yang bersifat lumpsump, yang memang tidak dapat
dipisahkan dalam bagian pekerjaan.
4. Kontrak Jasa Konsultansi yang bersifat satuan atau satuan waktu, sehingga "bagian
pekerjaan" adalah masing-masing satuan atau satuan waktu.
5. Kontrak Jasa Lainnya yang terdiri dari satu atau lebih pekerjaan sederhana, sehingga
"bagian pekerjaan" adalah masing-masing pekerjaan.
6. Kontrak Jasa Lainnya yang berulang sepanjang tahun, sehingga "bagian pekerjaan"
adalah pekerjaan untuk masing-masing bulan.

Menentukan bagian pekerjaan menjadi lebih sulit ketika :

1. Kontrak Pengadaan Barang yang memerlukan pengujian dan/atau akan menjadi


bagian dari sebuah proses pabrikasi.
2. Kontrak Pekerjaan Konstruksi bagunan yang didalamnya meliputi pekerjaan
mekanikal-elektrical yang memerlukan waktu pemesanan lama, memerlukan proses
instalasi yang lama atau memerlukan pengujian/commisioning baik secara terpisah
maupun sebagai satu kesatuan sistem.
3. Kontrak Pekerjaan Konstruksi wujud fisik lainnya.

Salah satu pendekatan yang dapat dipakai dalam menentukan bagian pekerjaan untuk kontrak
yang tidak sederhana adalah dengan menggunakan milestone. Milestone, menurut wikipedia,
adalah salah satu tools dalam menajemen proyek untuk menandai titik-titik tertentu sepanjang
waktu proyek. Milestone adalah akhir dari sebuah tahapan yang menandakan sebuah fase
atau paket kerja telah selesai.

1). Milestone adalah suatu bagian item pekerjaan yang dibuat seolah-olah menjadi temporary
finish atau selesai sementara atas sekelompok atau serangkaian pekerjaan-pekerjaan yang
menjadi bagian dari schedule besar. Item pekerjaan yang dijadikan milestone haruslah item
pekerjaan yang dianggap menjadi bagian penting sebelum melanjutkan pekerjaan berikutnya
atau berpengaruh atas kelangsungan pekerjaan berikutnya. Contoh adalah pada suatu
pekerjaan gedung yang dimulai dari kelompok pekerjaan persiapan lahan, struktur bawah,
struktur atas, finishing dan M/E, lalu site development.

2). Sebuah milestone yang efektif, harus memenuhi kriteria.

3) Mildstone :

1. Specific, dalam arti ruang lingkupnya jelas.


2. Measurebale, dalam arti dapat diukur untuk menentukan apakah tahapan tersebut bisa
dinyatakan selesai atau tidak selesai.
3. Attainable, dalam arti dapat diselesaikan kurun waktu yang tersedia.
4. Relevan, dalam arti terkait dengan ruang lingkup pekerjaan.
5. Timeliy, dalam arti ditentukan tanggal awal dan tanggal akhir penyelesaian.
6. Open, dalam arti terbuka mudah dipahami oleh berbagai pihak.
7. Small, dalam arti tidak terlalu rumit.
8. Assignable, dalam arti dapat ditentukan dengan mudah pihak atau bagian yang
bertanggungjawab atas pencapaian milestone.
9. Progressive, dalam arti pencapaian suatau milestone adalah awal dari pelaksanaan
milestone berikutnya.
10. Significantt, dalam arti ruang lingkup milestone tidak terlalu kecil sehingga tidak
terlalu banyak milestone yang harus dibuat.

Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka milestone dapat diartikan sebagai tahapan antara
sebelum terwujudkan keseluruhan output dari sebuah kontrak. Dalam istilah yang sudah ada,
milestone tidak lain adalah termijn atau tahapan pencapaian output. Pedekatan
milestone/termijn dapat dicontohkan sebagai berikut:

1. Pengadaan Barang, dapat terdiri dari milestone : penerimaan barang di gudang dan
pengujian.
2. Pekerjaan Konstruksi bangunan gedung, dapat terdiri dari milestone Pekerjaan
pemadatan tanah (dari kelompok persiapan lahan), Pekerjaan cor pile cap (dari
pekerjaan struktur bawah), Pekerjaan cor lantai paling atas (dari kelompok pekerjaan
struktur atas) dan seterusnya.
3. Pekerjaan Konstruk wujud fisik lain, dapat terdiri dari milestone : design
detail/enggineering, pekerjaan konstruksi fisik, pengujian dan sertifikasi.

Setelah bisa menentukan bagian pekerjaan, guna pencantuman dalam SSKK, maka masing-
masing bagian pekerjaan perlu dilengkapi dengan :

1. jangka waktu penyelesaian masing-masing milestone; dan


2. prosentase nilai masing-masing milestone dibandingkan dengan nilai kontrak
keseluruhan. prosesntasi nilai masing-masing milestone harus ditentukan dengan
mengutamakan kepentingan PPK sebagai pemilik pekerjaan. Dalam arti apabila
pekerjaan berhenti pada suatu milestone/termijn, PPK membayar lebih rendah
dibandingkan prosentase prestasi pekerjaan yang tercapai.

Bagi yang sedang mempersiapkan kontrak untuk tahun depan, menerapkan langkah
sederhana tersebut di atas dapat memacu kinerja Penyedia dalam menyelesaikan tugasnya
sesuai jangka waktu yang ditentukan. Lebih dari itu, juga akan mengurangi potensi sengketa
antara PPK dengan Penyedia maupun potensi masalah saat audit kemudian oleh aparat
pengawasan.