Anda di halaman 1dari 35

ANALISA KERUSAKAN STROKE PADA

CENTRIFUGE UREA PUSRI 3 (3UGF-201F)

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

ADITYA KUSUMA
TR-15045
D3-TEKNIK MESIN

PT. PUSRI PALEMBANG


PALEMBANG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA KERUSAKAN STROKE PADA CENTRIFUGE UREA PUSRI 3


(3UGF-201F)

Disetujui oleh:

Kepala Bagian Mekanikal Pusri III

Pembimbing

TARSO
Badge : 84.1719

i
ABSTRAK

ANALISA KERUSAKAN STROKE PADA CENTRIFUGE UREA PUSRI 3 (3UGF-


201F)
(2016 : 29 halaman)

Centrifuge termasuk jenis rotating equipment yang berfungsi untuk memisahkan


kandungan air yang yang terdapat dalam suatu padatan tanpa menggunakan proses
pemanasan.Centrifuge dalamprosesnya memanfaatkan gaya sentrifugal yang membuat
kandungan liquid dapat terpisahkan dengan bagian yang solid dan dibantu dengan
gaya tekan yang dilakukan oleh pusher cilynder agar bagian solid dapat diarahkan
kepada proses selanjutnya.Keuntungan dalam penggunaan centrifuge untuk
mendapatkan padatan urea adalah dengan tidak menambah kadar biuret pada urea saat
proses pemisahan. Tujuan utama dari analisa kerusakan ini adalah untuk mencari
sumber permasalahan yang tepat sebagai pernyebab kerusakan agar dapat
memaksimalkan segala sesuatu yang terkait dengan perbaikan nantinya.

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................................................... i
ABSTRAK .............................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL.................................................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ................................................................................................................................... 2
1.5 Batasan Masalah/Ruang lingkup ............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................................. 3
2.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Pupuk Sriwidjaja .................................................................. 3
2.2 Visi, Misi, dan Makna Perusahaan.......................................................................................... 5
2.3 Lokasi dan Tata Letak Pabrik.................................................................................................. 6
2.4 Struktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan.................................................................... 7
2.5 Pengertian Perawatan dan Perbaikan ...................................................................................... 8
2.6 Jenis-jenis perawatan............................................................................................................... 8
2.7 Strategi perawatan ................................................................................................................. 10
2.8 Centrifuge.............................................................................................................................. 10
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................................................... 13
3.1 Pengenalan Centrifuge 3UGF-201F...................................................................................... 13
3.2 Analisa Permasalahan dan Perbaikan Centrifuge Ugf-201f.................................................. 18
3.3 Penggantian bearing centrifuge ............................................................................................. 23
3.4 Rekomendasi perawatan dan perbaikan centrifuge ............................................................... 24
BAB IV PENUTUP .............................................................................................................................. 29
4.1 Kesimpulan ........................................................................................................................... 29
4.2 Saran...................................................................................................................................... 29

iii
DAFTAR TABEL

iv
DAFTAR GAMBAR

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki banyak masyarakat yang bermata
pencarian bergerak di bidang pertanian dan perkebunan. Untuk menunjang hal tersebut
dibutuhkan faktor penunjang utama yaitu ketersediaan pupuk.Maka dari itu pada tanggal
24 Desember 1959 dibentuklah perusahaan industri pupuk urea pertama di Indonesia yang
sekarang kita kenal dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang.

PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang memiliki 4 buah pabrik existing yaitu PUSRI
IB,II,III,IV dan 1 buah pabrik baru PUSRI IIB yang akan menggantikan pabrik PUSRI II
dikarenakan usia pabrik yang sudah sangat tua.Setiap pabrik terdiri dari 3 unit atau 3 plant
yaitu utilitas,ammonia dan urea,dimana masing-masing plant mempunyai fungsinya masing-
masing.Utiliti plant berfungsi sebagai pabrik penyokong kebutuhan energy listrik dan sumber
daya ammonia plant dan urea plant.Ammonia plant adalah pabrik yang berfungsi sebagai
pabrik penghasil ammonia dan CO2 yang digunakan pada saat pembuatan urea.Di pabrik ini
gas alam diolah melalui proses kimia agar dapat menghasilkan ammonia yang nantinya
sebagian ammonia ini dapat dijual dan menjadi sumber pemasukkan PT.Pusri Palembang
selain pupuk urea.Urea Plant merupakan unit atau pabrik yang berfungsi untuk mengolah
ammonia dan CO2 agar menjadi pupuk urea. Selain produksi pupuk urea dan ammonia,
PT Pupuk Sriwidjaja Palembang juga menghasilkan produk samping seperti N2 cair, O2.

Pada prosesnya item perlatan mekanikal di Pusri dibedakan menjadi item rotating dan
non rotating.Dimana item rotating ini tidak hanya terdiri atas pompa,
turbin,kompresor,blower,namun juga terdapat centrifuge sebagai salah satu item
rotating.Centrifuge merupakan sebuah alat yang berfungsi untuk memisahkan kandungan air
pada urea.Alat ini terdapat di area finishing dan merupakan salah satu item rotating yang
krusial karena mempengaruhi jumlah produksi urea.Maka dari itu penulis sangat tertarik
untuk membahas item ini pada laporan OJT kali ini dikarenakan minimnya pembahasan dan
forum sharing yang membahas mengenai centrifuge diharapkan dengan laporan kali ini dapat
menambah pengetahuan kita mengenai centrifuge baik mengenai permasalahan yang terjadi
maupun cara mengatasinya.

1
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada laporan ini adalah :
1) Apa itu centrifuge UGF-201F?
2) Masalah apa yang terjadi pada centrifuge UGF-201F?
3) Apa penyebab masalah yang terjadi pada centrifuge UGF-201F?
4) Bagaimana cara mengatasi masalah yang terjadi pada centrifuge UGF-201F?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan laporan ini adalah :


1) Sebagai syarat kelulusan untuk menjadi karyawan PT.Pusri Palembang.
2) Sebagai referensi nantinya ketika terjadi permasalahan yang sama pada centrifuge.
3) Memberitahu para pendengar apa fungsi dan cara kerja dari centrifuge UGF-201F.
4) Meningkatkan kemampuan menganalisis penyebab suatu kerusakan yang terjadi di
Pabrik.
5) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kondisi unit kerja.

1.4 Manfaat

Laporan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat nantinya,adapun manfaat


penulisan laporan ini adalah :
1) Mengetahui lingkungan kerja unit terkait di PT.Pusri Palembang.
2) Mengetahui apa itu centrifuge beserta cara kerja dan fungsinya.
3) Memberikan pengetahuan umum mengenai cara menganalisa suatu permasalahan.

1.5 Batasan Masalah/Ruang lingkup

Pada laporan kali ini penulis membuat batasan masalah yang akan dikaji agar
permasalahan ini fokus pada suatu hal dan tidak melebar kepada hal lainnya maka dari itu
penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya kepada permasalahan yang
menyebabkan stroke centrifuge tidak berfungsi secara tiba-tiba setelah beberapa saat
dilakukan pembersihan serta cara penggantian bearing pada centrifuge.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Pupuk Sriwidjaja

PT. Pupuk Sriwidjaja (Persero) yang lebih dikenal sebagai PT PUSRI merupakan
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran pupuk.
Secara legal, PT Pupuk Sriwidjaja resmi didirikan berdasarkan akte Notaris Eliza Pondang
nomor 177 tanggal 24 Desember 1959 dan diumumkan dalam Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia nomor 46 tanggal 7 Juni 1960. Pada saat itu yang menjadi Presiden
Direktur adalah Ir. Ibrahim Zahier dan Ir. Salmon Mustafa sebagai Direktur Utama.

PT PUSRI Palembang merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia. Nama


Sriwidjaja sendiri sebenarnya diambil dari nama sebuah kerajaan Sriwidjaja yang dahulu
sangat terkenal karena armada lautnya, kerajaan ini terletak di Sumatera Selatan. PT Pupuk
Sriwidjaja telah mengalami dua kali perubahan bentuk badan usaha. Perubahan pertama
berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 20 tahun 1964 yang mengubah statusnya dari
Perseroan Terbatas (PT) menjadi Perusahaan Negara (PN). Perubahan kedua terjadi
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1969 dan dengan akte Notaris Soeleman
Ardjasasmita pada bulan Januari 1970, statusnya dikembalikan ke Perseroan Terbatas (PT).

Selain itu, dari aspek permodalan PT Pupuk Sriwidjaja juga mengalami perubahan
seiring perkembangan industri pupuk di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 28
tanggal 7 Agustus 1997 ditetapkan bahwa seluruh saham Pemerintah pada industri pupuk PT.
Pupuk Kujang, PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Pupuk Kalimantan Timur Tbk, dan PT.
Petrokimia Gresik sebesar Rp. 1.829.290 juta dialihkan kepemilikannya kepada PT. Pupuk
Sriwidjaja (Persero).

Struktur modal PT Pupuk Sriwidjaja diperkuat lagi dengan adanya pengalihan saham
pemerintah sebesar Rp. 6 milyar di PT. Mega Eltra kepada PT Pupuk Sriwidjaja serta
tambahan modal disetor sebesar Rp. 728.768 juta dari hasil rekapitalisasi laba dari PT. Pupuk
Kaltim Tbk. Dengan demikian keseluruhan modal disetor dan ditempatkan PT Pupuk
Sriwidjaja per 31 Desember 2002 adalah Rp. 3.634.768 juta.

Perluasan pabrik PT Pupuk Sriwidjaja mulai direncanakan pada tahun 1965 melalui
penandatanganan perjanjian kerjasama antara Departemen Perindustrian dan Perusahaan Toyo

3
Engineering Corp dari Jepang. Namun rencana tersebut menemui kegagalan akibat terjadinya
pemberontakan G30S/PKI. Pada tahun 1968 kembali dilakukan perencanaan pembangunan
dengan diadakannya studi kelayakan bersama John Van Der Volk & Associate dari Amerika
serikat.

Pada tahun 1972 mulai didirikan pabrik PUSRI II dengan kapasitas terpasang 660 ton
ammonia/hari dan 1150 ton urea/hari, dan pembangunannya selesai pada tahun 1974.
Pendirian pabrik tersebut dikerjakan oleh kontraktor M.W Kellog Overseas Corp dari Jepang.
Pada tahun 1992 dilakukan optimalisasi terhadap kapasitas pabrik PUSRI II menjadi 570.000
ton urea/tahun. Karena kebutuhan akan pupuk di Indonesia meningkat dengan pesat, maka
pada waktu yang relatif bersamaan dibangun pabrik PUSRI III dan PUSRI IV.

Pabrik PUSRI III dibangun pada 21 Mei 1975 dengan kapasitas terpasang 1000 ton
ammonia/hari dengan menggunakan proses Ammonia Kellog dan kapasitas produksi urea
1725 ton/hari atau 570.000 ton/tahun dengan proses Mitsui Toatsu Total Recycle (MTTR) C-
Improved. Pembangunan pabrik PUSRI III dikerjakan oleh Kellog Overseas Corp. dan Toyo
Engineering Corp. Lima bulan setelah pembangunan pabrik PUSRI III, pabrik PUSRI IV
mulai didirikan dengan kapasitas terpasang dan proses yang sama.

Pada tahun 1985 pabrik PUSRI I dihentikan operasinya karena dinilai tidak efisien lagi.
Sebagai penggantinya didirikan pabrik PUSRI IB pada tahun 1990 dengan kapasitas
terpasang 446.000 ammonia/tahun dengan menggunakan proses Kellog dan 570.000 ton
urea/hari dengan menggunakan proses Advanced Process For Cost and Energy Saving
(ACES) dari TEC. Konstruksi pabrik ini dikerjakan oleh PT. Rekayasa Industri (Indonesia).

Mulai tahun 1979, Pusri diberi tugas oleh Pemerintah melaksanakan distribusi dan
pemasaran pupuk bersubsidi kepada petani sebagai bentuk pelaksanaan Public Service
Obligation (PSO) untuk mendukung program pangan nasional dengan memprioritaskan
produksi dan pendistribusian pupuk bagi petani di seluruh wilayah Indonesia.

Adanya tuntutan efisiensi produksi dan penghematan bahan baku membuat PT. Pupuk
Sriwidjaja melakukan proyek optimalisasi proses yang diberi nama Ammonia Optimization
Project (AOP) pada tahun 1992 dan melakukan kerjasama dengan Imperial Chemical
Industry (ICI). Melalui proyek ini kapasitas produksi dapat ditingkatkan dengan penghematan
pemakaian gas alam sebesar 10%. Proses optimalisasi dan modifikasi proses telah membuat

4
PT. Pupuk Sriwidjaja mampu memproduksi total 2.280.000 ton urea/tahun dan 1.149.000 ton
ammonia/tahun.

Pada tahun 1997, Pusri ditunjuk sebagai perusahaan induk membawahi empat BUMN
yang bergerak di bidang industri pupuk dan petrokimia, yaitu PT Petrokimia Gresik di Gresik,
Jawa Timur; PT Pupuk Kujang di Cikampek, Jawa Barat, PT Pupuk Kaltim di Bontang,
Kalimantan Timur; dan PT Pupuk Iskandar Muda di Lhokseumawe,Nangroe Aceh
Darussalam; serta BUMN yang bergerak di bidang engineering, procurement & construction
(EPC), yaitu PT Rekayasa Industri (berkantor pusat di Jakarta). Pada tahun 1998, anak
perusahaan Pusri bertambah satu BUMN lagi, yaitu PT Mega Eltra di Jakarta yang bergerak
di bidang perdagangan.

Pada tahun 2010 dilakukan Pemisahan (Spin Off) dari PT Pupuk Indonesia (Persero)
(saat itu masih bernama PT. Pupuk Sriwidjaja (Persero)) kepada PT Pupuk Sriwidjaja
Palembang serta telah terjadinya pengalihan hak dan kewajiban PT Pupuk Indonesia (Persero)
kepada PT Pupuk Sriwidjaja Palembang sebagaimana tertuang didalan RUPS-LB tanggal 24
Desember 2010 yang berlaku efektif 1 Januari 2011. Spin Off ini tertuang dalam Perubahan
Anggaran Dasar PT Pupuk Sriwidjaja Palembang melalui Akte Notaris Fathiah Helmi, SH
nomor 14 tanggal 12 November 2010 yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM
tanggal 13 Desember 2010 nomor AHU-57993.AH.01.01 tahun 2010.

2.2 Visi, Misi, dan Makna Perusahaan

Berdasarkan SK Direktur PT Pupuk Sriwidjaja Palembang No.SK/DIR/207/2012


tanggal 11 Juni 2012, Visi dan Misi PT. Pupuk Sriwidjaya adala sebagai berikut :

Visi Perusahaan

"Menjadi Perusahaan Pupuk Terkemuka Tingkat Regional"

Misi Perusahaan

"Memproduksi serta memasarkan pupuk dan produk agribisnis secara efisien, berkualitas
prima dan memuaskan pelanggan "

Makna Perusahaan

PUSRI untuk Kemandirian Pangan dan Kehidupan Yang Lebih Baik

5
2.3 Lokasi dan Tata Letak Pabrik

PT. Pupuk Sriwidjaja (PT. PUSRI) terletak kira kira 7 Km dari pusat kota Palembang,
Kecamatan Ilir Timur II, Kotamadya Palembang. Kelayakan ini ditunjang oleh keadaan
geografis Sumatera Selatan yang memiliki kekayaan alam yaitu gas alam (natural gas) yang
merupakan bahan baku utama dan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Gass Bell &
Associates dari Amerika Serikat memberikan rekomendasi berdasarkan studi kelayakan untuk
membangun Pabrik Pupuk Urea PUSRI di Palembang, dengan kapasitas 100.000 ton per
tahun. Adapun faktor teknis dan faktor ekonomi yang menunjang studi kelayakan tersebut
adalah :
a. Keadaan geografis Sumatera Selatan yang memiliki kekayaan gas alam sebagai
bahan baku utama, dalam jumlah yang cukup banyak.
b. Dekat dengan Sungai Musi sebagai salah satu sarana penting untuk sumber air,
sarana pembuangan limbah dan juga sebagai sarana transportasi.
c. Dekat dengan Tambang Bukit Asam yang tidak jauh dari Kota Palembang, yang
banyak mengandung batubara dan dapat dijadikan sebagai cadangan bahan baku
yang sangat potensial seandainya persediaan gas bumi sudah menipis.
d. Dekat dengan sarana pelabuhan dan kereta api. Luas tanah yang digunakan untuk
lokasi pabrik adalah 20,4732 hektar, lokasi perumahan karyawan 26,7965 hektar,
dan disiapkan tanah seluas 41,7965 hektar untuk persediaan perluasan komplek
pabrik.

Gambar 1. Lokasi PT Pupuk Sriwidjaja

6
2.4 Struktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan

PT. Pupuk Sriwidjaja (PT. PUSRI) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang menggunakan Sistem Line and Staff Organization dengan bentuk perseroan terbatas
(PT) dalam pengelolaannya dan modal pengelolaan pabrik berasal dari pemerintah. Proses
manajemen PT Pupuk Sriwidjaja berdasarkan Total Quality Control Management (TQCM)
yang melibatkan seluruh pimpinan dan karyawan dalam rangka peningkatan mutu secara
kontinyu.

Organisasi PT Pupuk Sriwidjaja dipimpin oleh Direktur Utama dan dibantu oleh lima
orang Direksi. Dalam kegiatan operasionalnya, direksi dibantu oleh staf dan Kepala
Departemen. Direksi bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris, dimana Dewan Komisaris
terdiri dari wakil-wakil pemegang saham yang bertugas menentukan kebijaksanaan umum
yang harus dilaksanakan oleh direksi, juga bertindak sebagai pengawas atas semua kegiatan
dan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Dewan Direksi. Dewan Komisaris terdiri dari wakil
wakil pemerintah, yaitu :
a. Departemen Pertanian
b. Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Moneter Dalam Negeri
c. Departemen Perindustrian Direktorat Jenderal Industri Kimia Dasar
d. Departemen Pertambangan dan Energi.
Struktur Organisasi PT Pupuk Sriwidjaja berdasarkan Surat Keputusan Direksi No.
SK/DIR/240/2011 tanggal 5 September 2011 adalah sebagai berikut:

1. Direktur Utama
2. Direktur Produksi
3. Direktur Keuangan dan Pemasaran
4. Direktur Teknik dan Pengembangan
5. Direktur SDM & Umum
Berdasarkan No. SK/DIR/240/2011, tanggal 5 September 2011 direktur produksi
sebagai salah satu bagian penting di dalam perusahaan yang membawahi beberapa divisi,
yaitu :

1. Divisi Operasi
2. Divisi Pengendalian Pabrik, Keselamatan Kerja dan Lingkungan
3. Divisi Pemeliharaan

7
Masing masing divisi dikepalai oleh seorang General Manager yang
bertanggungjawab kepada direktur.

2.5 Pengertian Perawatan dan Perbaikan

Perawatan merupakan suatu kegiatan yang amat penting dalam dunia industry,setiap
benda yang mengalami kerja akan mengalami kelelahan yang berujung pada kerusakan bila
tidak diantisipasi dengan baik dan benar,dan apabila suatu alat itu telah mengalami kerusakan
maka kerugian yang timbul akan membengkak bukan hanya jumlah produksi yang menurun
tapi juga berimbas kepada membengkanya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan guna
melakukan perbaikan pada alat tersebut.

Perawatan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk memelihara
dan memperbaiki suatu peralatan agar dapat bekerja secara optimal agar sistem dapat bekerja
sesuai dengan apa yang diinginkan dan terhindar dari kerusakan yang tidak
terencana.Sedangkan perbaikan adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mengembalikan
keadaan suatu mesin yang mengalami kerusakan atau penurunan kemampuan kerja agar
kembali ke kondisi kerja optimal.

2.6 Jenis-jenis perawatan

Gambar 2. Jenis-jenis perawatan

8
Pada dasarnya perawatan dan perbaikan merupakan dua hal yang berterkaitan satu
sama lain,tentu saja tindakan perbaikan itu bertujuan untuk merawat serta menjaga kondisi
perlatan agar dapat bekerja sesuai dengan yang kita inginkan.Perawatan tak perlu dilakukan
setiap hari agar bisa menekan biaya produksi serta memberikan waktu yang cukup untuk kita
melakukan perawatan berikutnya maka dari itu perawatan itu sendiri dibedakan dan dibagi
kedalam beberapa jenis,yaitu :

a. Corrective maintenance,suatu kegiatan maintenance yang dilakukan secara terencana


maupun accidental yang bertujuan untuk memperbaiki atau mengembalikan kinerja suatu
perlatan yang telah mengalami penurunan atau kerusakan sehingga dapat bekerja
sebagaimana mestinysa sesuai yang kita inginkan.bersdasarkan sifatnya corrective
maintenance dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

Planned

Unplanned

Breakdown

b. Preventive maintenance,suatu kegiatan maintenance yang dilakukan secara rutin dan


terjadwal yang bertujuan menjaga kondisi suatu peralatn agar bekerja selalu dalam
kemampuan maksimal sebagaimana yang diinginkan dan terhindar dari kerusakan yang
tidak terencana.tipe perawatan ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

Essential care/daily patrol

Condition Monitoring

Time-based maintenance

c. Improvement maintenance,suatu tindakan maintenance yang dilakukan guna


meningkatkan kemampuan suatu alat atau sistem agar mendapatkan hasil kerja yang
lebih baik,untuk melakukan hal ini biasanya diwalai dengan analisa data yang akurat
agar terhindar dari kegagalan sistem.Improvement maintenance pun dibedakan menjadi 2
jenis berdasarkan tujuannya,yaitu :

Re-design maintenance

Life-timed extended

9
2.7 Strategi perawatan

Pemilihan program perawatan akan mempengaruhi kelangsungan produktivitas


produksi pabrik. Karena itu perlu dipertimbangkan secara cermat mengenai bentuk perawatan
yang akan digunakan terutama berkaitan dengan kebutuhan produksi, waktu, biaya,
keterandalan tenaga perawatan dan kondisi peralatan yang dikerjakan.

Dalam menentukan strategi perawatan, banyak ditemui kesulitan-kesulitan diantaranya:

Tenaga kerja yang terampil


Ahli teknik yang berpengalaman
Instrumentasi yang cukup mendukung
Kerja sama yang baik diantara bagian perawatan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi perawatan:

Umur peralatan/mesin produksi


Tingkat kapasitas pemakaian mesin
Kesiapan suku cadang
Kemampuan bagian perawatan untuk bekerja cepat
Situasi pasar, kesiapan dana dan lain-lain.

Sedangkan untuk Perbaikan adalah Teknik perawatan adalah sesuatu system kegiatan
untuk menjaga, memelihara, mempertahankan, mengembangkan dan memaksimalkan daya
guna mesin yang ada di dalam suatu bengkel atau industri sehingga modal/investasi yang
ditanam dapat berhasil guna dan berdaya guna tinggi secara ekonomis.

2.8 Centrifuge

Pusri merupakan pabrik pupuk yang sangat rumit,mulai pengolahan gas bumi
dilakukan di pabrik ammonia hingga menjadi butir-butir urea yang dihasilkan di urea plant
disokong dengan segala kebutuhan pabrik yang di suplai dari utility plant.untuk menghasilkan
pupuk urea yang berkualitas dibutuhkan pengolahan bahan dengan sistem yang sedemikian
rupa hingga menghasilkan produk yang berkualitas.Maka dari itu guna menjaga kandungan
biuret serta menurunkan kadar biuret yang terdapat pada urea digunakanlah sebuah alat yang
dinamakan centrifuge guna memisahkan kandungan air yang terdapat pada urea sehingga

10
menjadi urea murni tanpa kandungan air. Suatu alat yang memanfaatkan kombinasi gerakan
putar serta dorongan atau tekanan untuk memisahkan air prinsip ini lebih sederhana kita kenal
pada pengering mesin cuci rumahan.

Gambar 3.Bagian-bagian centrifuge

Bagian- bagian centrifuge dan fungsinya:

1. Stator berfungsi menahan bearing housing dengan rotor,bagian bawah dari stator
berfungsi untuk penampungan oli dan dilengkapi dengan filter serta tubing-tubing
pendingin oli yang dialiri air.
2. Bearing assembly terdiri dari bearing housing ,main shaft dan pusher shaft serta roller
dan guide bearing.Berfungsi sebagai tumpuan basket besar ketika beroperasi dimana
bearing ini dilumasi dengan oli bertekanan yang berasal dari sistem hidrolik itu sendiri.
3. Drive and motors berfungsi untuk menggerakan rotor yang dihubungkan dengan sistem
puli yang dapat di atur.Begitupun dengan pompa oli yang di digerakkan oleh motor
listrik.

11
4. Pusher mechanism berfungsi sebagai alat yang mengatur pusher silinder agar dapat
bergerak maju/mundur (reciprocate).dengan memanfaatkan prinsip hidrolik oli yang
digunakan untuk pusher mechanism akan melewati stator,bearing ,basket besar dan
masuk melewati tengah dari pada basket kecil.
5. Pump assembly terdiri dari support pompa,screw pump,pressure relief valve,flow control
valve,pressure house,dan oil coller yang terletak di dalam oil tank.
6. Casing merupakan pelindung/pembungkus komponen bagian dalam centrifuge dan
berfungsi sebagai media untuk centrifuge melakukan kerja.
7. front cover terletak disisi depan centrifuge yang berfungsi sebagai pelindung dan
dudukan pintu centrifuge.
8. basket terdiri atas 2 bagian basket besar dan basket kecil.Basket besar berfungsi untuk
memutar sedangkan basket kecil berfungsi untuk menekan,kedua basket ini bekerja
secara bersama-sama dengan memanfaatkan gerakan putar dan tekan untuk memisahkan
air yang terdapat pada urea.
9. sieves covering berfungsi untuk menyaring air dan urea.
10. inlet merupakan tempat masuknya slurry urea pertama kali sebebelumakhirnya di tekan
oleh basket kecil.
11. washing device berfungsi sebagai peralatan pencucian yang terdiri dari tubing-tubing
yang terdapat nozzle pada ujungnya.
12. collecting channel terletak di ujung basket centrifuge dan terpasang pada solid casing
.Produk hasil didorong oleh basket kecil ke collecting channel.

12
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengenalan Centrifuge 3UGF-201F

Gambar 4. Gambar centrifuge 3UGF-201F.

Sama seperti pabrik yang lain,pabrik pusri 3 terdiri dari 3 plant yaitu ammonia,utilitas,dan
urea.Untuk plant urea itu sendiri merupakann plant proses pembentukan urea dari ammonia
dan gas co2 yang telah melewati berbagai macam proses.Secara garis besar proses pembuatan
urea tersebut dibagi dalam beberapa seksi yaitu
Seksi sintesa
Seksi dekomposisi/purifikasi
Seksi recovery
Seksi kristalisasi dan finishing

Urea dari urea solution tank yang sudah bebas karbamat (telah melwati seksi
dekomposisi/purifikasi) di kristalkan pada kondisi vacum oleh kristalizer.lalu kristal tersebut
dipisahkan dari larutan induk oleh centrifuge.

Data Centrifuge 3UGF-201F


Tabel 1. Data centrifuge
Eqp. No. 3UGF-201F

13
Eqp. Name Centrifuge
Eqp. Type Pusher-centrifuge P-1000/2
Manufacturer Ferrum Ltd.

Specification

Skema hidrolik pada centrifuge

Gambar 5.Skema hidrolik centrifuge

14
Prinsip kerja centrifuge

Gambar 6.Metode pengoperasiancentrifuge.

Pada gambar dapat dijelaskan bagaimana proses pemisahan kandungan air yang terdapat pada
slurry urea.Slurry urea masuk melalui inlet tube dan dijaga oleh inlet cone agar posisi slurry
urea yang masuk selalu pada posisi ditengah dan nantinya akan menutupi suluruh permukaan
shieves hal ini dilakukan agar efektivas centrifuge dalam memisahka air selalu
terjaga.Selanjutnya slurry urea diputar oleh basket 2 dengan memanfaatkan gaya centrifugal
maka liquid akan terpisah dengan solid sehingga kandungan air keluar melalui liquid
discharge sedangkan bagian solid didorong oleh basket 1 ke arah collecting channel dan akan
keluar melalui solids discharge.
Mekanisme gerakan putar dan dorong ini berlangsung secara terus menerus,maka dari
itu perlu dilakukan perawatan yang rutin terhadap peralatan ini guna menjaga peralatan itu
sendiri dari kegagalan operasi yang dapat berdampak pada rate produksi suatu pabrik

15
PKP 3U-UGF201F (Centrifuge) sebagai berikut:
Tabel 2. PKP centrifuge UGF 201 F

30 3U-UGF201B (Centrifuge) 105 hrs


No Description Time
- Pengamanan 2 hrs
- Lepas rear casing cover # OC 29 2 hrs
- Lepas charge pipe # OB 28 1.5 hrs
- Lepas cage dischake ring # OB 20 2 hrs
- Lepas cage scraper # OB 19 2 hrs
- Lepas partition segment # OB 18 3 hrs
- Lepas hex head bolt # OB 40 2 hrs
- Lepas distributor No. 1 # OB 16 2 hrs
- Lepas door lock # OB 31 3 hrs
- Lepas cage rinsing nozzle No. 1 2 hrs
- Lepas drake block # OC 30 2 hrs
- Buka cover rear casing # OC 28 1.5 hrs
- Buka rubber hose No. 1 # OC 15 1.5 hrs
- Lepas main pulley # OC 11 2 hrs
- Cabut power piston # OC 24 1.5 hrs
- Lepas piston supporter # OC 18 1.5 hrs
- Lepas cylinder # OC 10 1.5 hrs
- Buka hexagon bolt M16x45 # OC 52 0.5 hrs
- Lepas pusher disk # OB 6 0.5 hrs
- Agar diperhatikan marking basket 1 stg # OB 05 dan basket 2 stg
# OB 04 0.5 hrs
- Cabut basket 1 stg # OB 5 2 hrs
- Cabut basket 2 stg # OB 4 2 hrs
- Lepas cover bearing front side # OB 65 1 hr
- Lepas / ganti bearing front side # OB 68 2 hrs
- Lepas cover bearing rear side # OC 6 1 hr
- Lepas / ganti bearing rear side # OC 4 2 hrs
- Bersihkan lobang oil return pada main shaft 4 hrs

16
- Periksa / ganti plane bearing for main shaft # OC 1 4 hrs
- Periksa / ganti plane bearing pusher shaft # OC 3 4 hrs
- Periksa / pastikan bearing case posisinya rigid terhadap rear
casing 0.5 hrs
- Pasang bearing rear side # OC 4 2 hrs
- Pasang bearing rear side # OC 6 2 hrs
- Lepas / ganti bearing front side # OB 68 3 hrs
- Pasang cover bearing front side # OB 65 3 hrs
- Pasang basket 2 stg # OB 4 3 hrs
- Pasang basket 1 stg # OB 5 3 hrs
- Pasang pusher disk # OB 6 1 hr
- Pasang hexagon bolt M16x45 # OC 52 1.5 hrs
- Pasang cylinder # OC 10 1.5 hrs
- Pasang piston supporter # OC 18 1.5 hrs
- Pasang power piston # OC 24 2 hrs
- Pasang main pulley # OC 11 2 hrs
- Pasang rubber hose No. 1 # OC 15 1 hr
- Pasang cover rear casing # OC 28 1.5 hrs
- Pasang drake block # OC 30 1.5 hrs
- Pasang cage rinsing nozzle No. 1 1.5 hrs
- Pasang door lock # OB 31 3 hrs
- Pasang distributor No. 1 # OB 16 2 hrs
- Pasang hex head bolt # OB 40 1.5 hrs
- Pasang partition segment # OB 18 3 hrs
- Pasang cage scraper # OB 19 2 hrs
- Pasang cage dischake ring # OB 20 2 hrs
- Pasang charge pipe # OB 28 1.5 hrs
- Pasang rear casing cover # OC 29 2 hrs

17
3.2 Analisa Permasalahan dan Perbaikan Centrifuge Ugf-201f

KODE PERUSAHAAN : Pabrik Urea P-III


TANGGAL PERBAIKAN : Hari Kamis 19 Mei 2016 (jam 08.00 wib)
KRONOLOGIS :
Pada hari rabu, tanggal 18 Mei 2016 pukul 16.30 wib ada laporan dari operasi
ammonia P-IV bahwa centrifuge UGF-201F tidak dapat berfungsi normal dimana stroke
tidak dapat bergerak hal ini terjadi setelah dilakukan pencucian pada centrifuge. Dari laporan
tersebut langsung dilakukan pengecekan visual di centrifuge dan di dapatkan kerusakan pada
komponen alat.
Setelah dilakukan visual cek terhadap peralatan maka dilakukan analisa

Terjadi kebocoran

Kondisi oli kotor Oil low level

Tekanan oli rendah

Basket kecil tidak


berfungsi

Pompa tidak berfungsi Basket kecil nge-


dengan baik jammed

Sieves mengalami Bearing mengalami


kerusakan kerusakan
Motor listrik tidak
berfungsi

Gambar 7.Diagram analisa permasalahan

18
Dengan skema analisa yang ada ,dapat kita lakukan pengurutan penyebab masalah dari
faktor yang paling sederhana ke yang paling berat (overhaul) dan langsung dilakukan
pengujian agar nantinya mendapatkan faktor penyebab masalah yang tepat dan tentu saja akan
membuat pekerjaan kita menjadi lebih praktis sehingga manfaatnya tidak hanya kepada cost
tetapi juga kepada waktu dan tenaga.
Setelah dilakukan simulasi ternyata motor dan pompa berfungsi dengan baik dan
tekanan oli tercapai yaitu sebesar 8-15 bar namun basket kecil tetap tidak mau beroperasi
bahkan setelah dibantu dengan beberapa tindakan seperti mencongkel basket kecil-pun tetap
tidak mau berfungsi,lalu berdasarkan pengalaman dan analisa kemungkinan selanjutnya
adalah basket kecil terindikasi nge-jammed.Hal ini bisa disebabkan oleh bearing maupun
bushing.Maka berdasarkan analisa tersebut dan hasil pengecekan di lapangan di putuskan
untuk melakukan Overhaul.
Setelah dilaksanakan overhaul diketahui terjadi kerusakan pada beberapa komponen
centrifuge.

1. Kerusakan pada inlet cone

Gambar 8.Gambar kerusakan inlet cone.

19
2. Kerusakan pada main hub (Basket besar)

Gambar 9. Kerusakan pada main hub.

3. kerusakan pada bearing

Gambar 10.Kerusakan pada bearing assembly.

4. Patah baut retaining ring (stopper)

Gambar 11.Kerusakan pada baut retaining ring

20
5. Bak penampungan oli kotor

Gambar 12. Bak penampungan oli kotor

Dibawah ini dapat dilihat data kerusakan centrifuge UGF-201F:


Tabel 3.Data kerusakan centrifuge.
Gambar Keterangan
Terdapat retakan besar pada Inlet cone .
Ganti inlet cone dengan inlet cone
Inlet cone centrifuge Pusri II.

Terdapat crack pada Main hub centrifuge.


Main hub Dilakukan pengelasan terhadap garpu
basket

21
Kondisi aksial bearing rusak dan
tersangkut diantara inner bearing dan
Roller bearing outer bearing.
Assy
Ganti dengan bearing baru.

Baut retaining ring yang berfungsi


Baut Retaining
sebagai penahan kolom patah. Dilakukan
ring
perbaikan oleh machine shop .

Reservoir oli banyak ditemukan kotoran


baik urea yang mengeras menempel
didinding oli maupun juga serpihan-
serpihan baja halus berkarat.Dilakukan
pembersihan menyeluruh terhadap
reservoir

22
3.3 Penggantian bearing centrifuge

Setelah dilakukan overhaul diketahui bahwa penyebab utama tidak berfungsinya stroke
centrifuge adalah dikarenakan terjepitnya bearing aksial terhadap roller bearing.Maka dari itu
diputuskan untuk melakukan penggantian bearing tersebut dengan mengikuti standar PKP
yang telah ada,penulis memfokuskan langsung kepada hal-hal yang berkaitan dengan
penggantian bearing.
Dalam tahapan penggantian bearing ini dijelaskan tahapan-tahapan pemasangan
bearing baru.

No Deskripsi Gambar Alat


1 Posisikan basket besar Takal
pada tempat yang aman Sling

2 Ukur kesesuaian antara Inside


ukuran inner bearing micrometer
dan shaft (front and Outside
rear) sebelum dipasang micrometer

3 Ukur kesesuaian serta Inside


celah radial inner Front bearing = 0.10 0.16 mm micrometer
bearing dan roller Rear bearing = 0.07-0.12 mm Outside
bearing . micrometer
4 Panaskan inner bearing Mesin las
menggunakan api las Sarung tangan
hingga merata sampai panas
panasnya dirasa cukup.

23
5 Pasang inner bearing ke Sarung tangan
main hub lakukan panas
dengan cepat dan presisi oli
agar posisi inner bearing
rata duduk dishaft.

6 Pasang front dan rear Palu karet


roller bearing pada Grace/oli
stator.

3.4 Rekomendasi perawatan dan perbaikan centrifuge

a) Analisa dan kesimpulan permasalahan


Setelah dilakukan pengecekan visual ditemukan kerusakan pada inlet cone
centrifuge,dan kerusakan pada baut retaining ring.Sedangkan pompa oli berfungsi dengan
baik.Kemudian diputuskan untuk melakukan overhaul pada 3UGF-201 F,setelah
dilakukan overhaul diketahui bahwa ada kerusakan pada rear bearing centrifuge,terdapat
crack pada garpu main hub (basket besar)

Gambar 13.Kerusakan pada bearing dan main hub


Dilihat dari beberapa kerusakan yang terjadi, maka dapat dianalisa sebagai berikut:
1. Tidak berfungsinya stroke dikarenakan terjepitnya aksial bearing dengan roller
bearing yang menyebabkan pusher hub atau basket kecil tidak dapat bergerak.

24
2. Didapatkan informasi bahwa kualitas slurry urea yang tidak bagus pada saat
kejadian yang menyebabkan centrifuge tidak mampu menahan beban dengan
baik.
3. Buruknya kualitas oli pada reservoir juga mempengaruhi kinerja sistem hidrolik
centrifuge.Hal ini disebabkan oleh adanya endapan urea didalam oli.
4. Adanya crack pada union involute pompa oli juga menyebabkan berkurangnya
tekanan oli.Crack ini dapat disebabkan oleh tekanan oli berlebih yang tidak
mampu di tahan oleh involute,perlu dilakukan analisa kekuatan material involute
dan union pompa.
5. Retak yang terdapat pada inlet cone,patahnya baut retaining ring,serta crack
pada garpu disebabkan oleh adanya gaya aksi dan reaksi antara dorongan basket
kecil dengan slurry urea dimana jumlah slurry urea yang masuk ke centrifuge
tidak diatur secara bertahap.
6. Ketika melakukan pemasangan bearing hendaknya memperhatikan betul
toleransi celah bearing.
7. Bearing harusnya dipanaskan sesuai dengan rekomendasi manual book yang
sudah ada yaitu dengan cara meletakkan bearing dalam suatu wadah
penampungan oli lalu dipanaskan hingga suhunya mencapai maksimum 120C
8. Proses pemasangan bearing hendaknya dilakukan dengan posisi main hub
berdiri tegak vertikal hal ini untuk benar-benar memastikan posisi inner bearing
duduk rata terhadap shaft.
.
b) Rekomendasi perawatan
Untuk mencegah kerusakan serupa terjadi kembali maka dilakukan aktivitas daily
patrol. Sehingga kondisi alat dapat diketahui secara berkala. Aktivitas daily patrol
dilakukan dengan melakukan beberapa pengecekan rutin setiap harinya maupun setiap
minggu ataupun bulanan. Aktivitas pengecekan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Aktivitas harian adalah perawatan dan monitoring yang dilakukan setiap harinya
meliputi:

1. Vibrasi

Pengecekan vibrasi yang dilakukan ketika daily patrol addalah dengan mengutamakan
pengalaman mekanik tanpa menggunakan alat bantu sehinggadibutuhkan mekanik yang

25
paham terhadap kondisi alat secara rutin. Ketika terjadi peningkatan vibrasi maka
mekanik dapat menyadari perubahan tersebut dan dapat dilakukan tindakan lanjutan.

2. Temperatur oli

Temperatur oli dapat mengindikasikan kondisi yang terjadi didalam centrifuge.Bila


kondisi temperatur oli terlalu tinggi berarti ada indikasi pergesakan yang melewati
toleransi dan akan menyebabkan keausan pada suatu bagian tertentu.

3. Level oli

Level oli harus diperhatikan agar tidak kurang dari yang dipersyaratkan sehingga
pelumasan berjalan dengan baik. Kurangnya oli yang disebabkan oleh kebocoran bisa
saja terjadi.

4. Bunyi yang tidak lazim

Pengecekan terhadap kebisingan sama dengan pengecekan vibrasi. Lebih


mengutamakan pengalaman seorang mekanik di lapangan. Sehingga dapat membedakan
perubahan suara yang terjadi pada alat yang diawasi.

5. Tekanan oli dan Berbagai kebocoran

Tekanan oli untuk dapat melumasi dan sebagai media penggerak pusher hub untuk
melakukan dorongan,tekanan oli dijaga sekitas 8-10 kg/cm2.

Aktivitas mingguan merupakan perawatan yang dilakukan secara berkala dalam rentang
waktu 1 minggu sekali :

1. Cek kondisi bearing


Lakukan pengecekan kondisi bearing pada centrifuge dengan melakukan simulasi
kecepatan kerja centrifuge dalam keadaan bersih tanpa urea lalu perhatikan
perlambatan kecepatan kerja.Jika mengalami perlambatan maka rencanakan jadwal
overhaul selanjutnya.
2. Cek kondisi baut engsel pintu
Lakukan pemberian minyak gemuk pada engsel pintu hal ini dilakukan untuk
menjaga kondisi engsel dari kontaminasi kotoran yang akan menyebabkan pintu
macet.
3. Cek bagian peralatan yang mengalami kelonggar.

26
Perhatikan seluruh bagian centrifuge terutama baut-baut yang kendor.Jika terdapat
baut yang kendor maka lakukan pengencangan.
4. Kualitas oli
Kondisi kerja centrifuge yang berada pada daerah dengan kelembapan tinggi.
Memungkinkan masuknya uap air melalui celah celah cover sehingga oli
mengandung air yang dapat merusak kualitas pelumasan gear. Kandungan air pada
oli juga dapa mempercepat rusaknya kualitas material pompa.Perlu diperhatikan
juga kondisi lingkungan yang kotor dapat membuat oli tercemar.

c) Rekomendasi pengoperasian setelah pencuncian


Pengoperasian merupakan salah satu hal yang disorot dalam kerusakan
centrifuge karena jika pengoperasiannya salah maka dapat menyebabkan kerusakan
pada peralatan itu sendiri begitupun yang terjadi jika perawatan terhadap suatu
peralatan tidak berjalan dengan baik,maka umur pakai suatu alat akan menurun dan
akan menyebabkan membengkaknya biaya perawatan suatu peralatan.
Untuk itu penulis menyarankan suatu standar pengoperasian yang mengacu
kepada manual book peralatan itu sendiri agar tidak terjadi kerusakan yang
disebabkan oleh salahnya pengoperasian.

27
Gambar 14.Bagian-Bagian pengoperasian centrifuge.
1. Buka control valve (3) yang terdapat pada inlet line slurry urea sekitar 20-30
%.
2. Buka katup isolasi (4).
3. Selanjutnya naikkan jumlah slurry urea secara bertahap control valve (3).
hingga ketebalan urea yang masuk sesuai kondisi yang diinginkan.
4. Buka masukkan wash liquid hingga jumlah yang diinginkan tercapai.

28
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil laporan ini dapat disimpulkan bahwa kerusakan pada centrifuge
disebabkan oleh perawatan yang dilakukan tidak optimal dan tidak sesuai dengan
rekomendasi dari manual book serta cara pengoperasian yang salah hal ini disebabkan
oleh minimnya jumlah man power serta kurangnya pelatihan dasar keteknikan yang
diikuti oleh pekerja dilapangan seperti mekanik dan operasi.

4.2 Saran

Harus kita akui bersama bahwa terjadi jarak yang jauh regenerasi dari pekerja
yang senior dan pekerja-pekerja junior hal ini menyebabkan transfer ilmu antara
pekerja yang berpengalaman kepada pekerja yang baru menjadi terhambat dan banyak
sekali ilmu-ilmu dan pengalaman yang tidak bisa di transfer dengan baik antara senior
dan junior.Hal ini dapat dilihat dari kerusakan pada centrifuge yang disebabkan oleh
cara pengoperasian dan perawatan yang tidak benar,ini terjadi bukan dikarenakan oleh
sumberdaya yang tidak berkompeten melainkan minimnya fasilitas-fasilitas untuk
transfer knowledge.Untuk itu perlu di lakukan pelatihan-pelatihan internal dan transfer
knowledge dengan membentuk forum-forum sederhana dilingkungan unit kerja terkait
dan pelatihan yang bersifat keteknikan serta melengkapi jumlah tenaga kerja yang
mengalami kekurangan.Agar tercapainya suatu etos kerja yang baik yang berpedoman
pada suatu standar yang baku baik untuk operasi maupun mekanik.

29