Anda di halaman 1dari 4

PENGERTIAN MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian terhadap semua hak

dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat dinilai

dengan uang termaksud didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan

kewajiban daerah, dalam kerangka anggaran pendapatan dan belanja daerah.

FUNGSI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

1) Pengalokasian potensi sumber-sumber ekonomi daerah;

2) Proses Penyusunan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah;

3) Tolok ukur kinerja dan Standarisasi;

4) Pelaksanaan Anggaran yang sesuai dengan Prinsip-prinsip Akuntansi;

5) Laporan Pertanggung Jawaban Keuangan Kepala Daerah; dan

6) Pengendalian dan Pengawasan Keuangan Daerah.

TUJUAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN

Pertangggungjawaban

Tujuan pertanggungjawaban memiliki arti memberikan informasi keuangan yang


lengkap, cermat, dalam bentuk dan waktu yang tepat, yang berguna bagi pihak yang
bertanggung jawab yang berkaitan dengan operasi unit-unit pemerintahan. Lebih lanjut, tujuan
pertanggung jawaban ini mengharuskan tiap orang atau badan yang mengelola keuangan
negara harus memberikan pertanggungjawaban atau perhitungan.

Manajerial

Tujuan manajerial berarti bahwa akuntansi pemerintah harus menyediakan informasi


keuangan yang diperlukan untuk perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan,
pengendaluan anggaran, perumusan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan, serta
penilaian kinerja pemerintah.

Pengawasan

Tujuan pengawasan memiliki arti bahwa akuntansi pemerintah harus memungkinkan


terselenggaranya pemeriksaan oleh aparat pengawasan fungsional secara efektif dan efesien.
TUJUAN MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

LINGKUP MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

HUBUNGAN AKUNTANSI PEMERINTAHAN DENGAN MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH

Hore gabin malkist goreng isi vla selesai bikinya g susah.. resep nya g usah pke gram, ml,
cc ckup pake alat se adanya

Resep gabin malkist goreng isi vla

Bahan
24 gabin malkist crakcers

Bahan vla
2 cup air
3 sdm tepung terigu
5 sdm gula pasir
1 butir kuning telur(kocok lepas)
2 sdm mentega
2 sdm susu kental manis

Bahan pencelup
1 butir putih telur
Tepung terigu yang telah dilarutkan secukupnya

Minyak goreng

Caranya

1.Membuat vla. Campur tepung terigu, gula pasir, mentega, susu kental manis, air dan kocokan
kuning telur. Campur menjadi satu, kocok menggunakan whisk atau mixer dengan kecepatan
sedang hingga rata. Panaskan adonan vla hingga tidak lengket dan mengental.

2. Bahan pencelup dicampur menjadi satu

3. Ambil 1 gabin malkist oleskan vla lalu tutupi d atas nya dg gabin malkist

4. Celupkan ke dalam adonan pencelup

5. Gabin malkist siap di goreng dengan api kecil.


. Perbedaan Konsep Laporan Keuangan Komersial dan Laporan Keuangan Fiskal
Perbedaan konsep laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal terdapat pada:

1) Perbedaan mengenai konsep penghasilan atau pendapatan


Penghasilan (Income) menurut IAI (2007:13), adalah Kenaikan manfaat ekonomi selama suatu
periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban
yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Dari
sisi fiskal, konsep penghasilan tidak jauh berbeda dengan konsep akuntansi, yaitu : Segala
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima / diperoleh Wajib Pajak baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari Luar Indonesia yang bisa dikonsumsi atau menambah kekayaan Wajib
Pajak dengan nama dan dalam bentuk apapun. Lebih lanjut fiskal membedakan penghasilan
tersebut menjadi tiga kelompok yang sesuai dengan UU No 36 Tahun 2008 Pasal 4 Tentang
Pajak Penghasilan, yaitu:

1. Penghasilan yang merupakan Objek Pajak Penghasilan


2. Penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan Final
3. Penghasilan yang bukan merupakan Objek Pajak Penghasilan

Pengelompokan penghasilan tersebut akan berakibat adanya perbedaan mengenai konsep


penghasilan antara SAK dan Fiskal. Penghasilan yang bukan objek pajak berarti atas penghasilan
tersebut tidak dikenakan pajak (tidak menambah laba fiskal), lebih jelasnya tentang
pengelompokkan penghasilan tersebut diuraikan dalam UU No 36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat 1,2
& 3 Tentang Pajak Penghasilan.

2) Perbedaan Konsep Beban (Biaya)


Beban (expense) menurut IAI (2007:13), diartikan sebagai Penurunan manfaat ekonomi selama
suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya
kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada
penanam modal. Sisi Fiskal sendiri, mengartikan Beban sebagai biaya untuk menagih,
memperoleh dan memelihara penghasilan atau biaya yang berhubungan langsung dengan
perolehan penghasilan. Perbedaan inilah yang menyebabkan pihak fiskus sering berbeda
pendapat dengan wajib pajak dalam hal menentukan beban/biaya yang boleh atau tidak boleh
dikurangkan sehingga harus dikeluarkan/tidak boleh diperhitungkan sebagai pengurangan
penghasilan. Misalnya penafsiran atas bunyi undang - undang yang menyatakan bahwa biaya
yang dapat dikurangkan dari penghasilan adalah meliputi biaya untuk menagih, memelihara dan
mempertahankan penghasilan. Wajib pajak sendiri sering diharuskan untuk memberikan
sumbangan baik yang wajib maupun tidak wajib, dan kadang kala tidak disertai dengan bukti-
bukti yang mendukung. Kemudian wajib pajak menganggap biaya yang dikeluarkan tersebut
dapat dibiayakan karena dikeluarkan sehubungan dengan kelancaran usaha, sedangkan pihak
fiskus menganggap biaya tersebut termasuk hibah, bantuan dan sumbangan yang tidak boleh
dikurangkan.

3) Perbedaan dalam konsep Penyusutan dan Nilai Persediaan


Perbedaan dalam konsep antara akuntansi dengan peraturan perpajakan terutama menyangkut
konsep penyusutan dan penilaian persediaan barang dagangan.
a) Konsep Penyusutan
Perbedaan utama antara akuntansi dengan undang-undang perpajakan adalah penentuan umur
aktiva dan metode penyusutan yang boleh digunakan. Akuntansi menentukan umur aktiva
berdasarkan umur sebenarnya walaupun penentuan umur tersebut tidak terlepas dari tafsiran
Judgement.
Menurut IAI (2007) Akuntansi memiliki beberapa metode penyusutan yaitu:

1. Metode garis lurus (Straight line method) yaitu, menghasilkan pembebanan yang tetap
selama umur manfaat asset jika dinilai residunya tidak berubah.
2. Metode Saldo Menurun (diminishing balance method) yaitu, menghasilkan pembebanan
yang menurun selama umur manfaat asset.
3. Metode Jumlah Unit (sum of the unit method), yaitu menghasilkan pembebanan yang
menurun selama umur manfaat asset.

Ketentuan perpajakan hanya menetapkan dua metode penyusutan yang harus dilaksanakan wajib
pajak berdasarkan pasal UU No 36 tahun 2008 pasal 11 tentang Pajak Penghasilan yaitu
berdasarkan metode garis lurus dan metode saldo menurun yang dilaksanakan secara konsisten,
kemudian aktiva (harta berwujud) dikelompokkan berdasarkan jenis harta dan masa manfaat
sebagai berikut:

Penentuan masa manfaat, jenis harta, metode, serta tarif dimaksudkan untuk memberikan
keseragaman bagi wajib pajak dalam melakukan penyusutan maupun amortisasi.

b) Konsep Nilai Persediaan


Dalam undang-undang pajak penghasilan Indonesia, persediaan dan pemakaian persediaan untuk
menghitung harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan (cost) yang dilakukan dengan
metode rata-rata (average) atau dengan metode mendahulukan persediaan yang diperoleh
pertama yang dikenal dengan first in first out (FIFO). Penggunaan metode tersebut harus
dilakukan secara konsisten.
Apabila kita meninjau secara akuntansi maka ada 3 jenis metode yang dilakukan untuk menilai
persediaan yang sesuai dengan SAK No 14 tahun 2007 yaitu dengan menggunakan rumus biaya
masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO), kemudian rata-rata tertimbang (weight
average cost method) dan masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO). Kemudian untuk
barang yang lazimnya tidak dapat digantikan dengan barang lain (not ordinary interchangeable)
dan barang serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek khusus harus diperhitungkan
berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing-masing.