Anda di halaman 1dari 8

Ratna Sitompul eJKI

TINJAUAN PUSTAKA

Konjungtivitis Viral: Diagnosis dan Terapi di Pelayanan Kesehatan Primer

Ratna Sitompul

Departemen Ilmu Kesehatan Mata FK Universitas Indonesia-


RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Korespondensi: ratna_sitompul@yahoo.com
Disetujui 31 Maret 2017
DOI: 10.23886/ejki.5.7605.65-71

Abstrak
Konjungtiva adalah membran mukosa tipis transparan yang melapisi bagian anterior bola mata dan
bagian dalam palpebral. Konjungtiva berfungsi sebagai salah satu komponen sistem perlindungan mata dari
peradangan dan infeksi. Peradangan konjungtiva disebut konjungtivitis dan infeksi virus merupakan etiologi
peradangan akut tersering pada konjungtiva. Virus yang menyebabkan konjungtivitis adalah adenovirus,
herpes simpleks, herpes zoster, pox virus, myxovirus, paramyxovirus, dan arbovirus. Konjungtivitis sering
terjadi bersama atau sesudah infeksi saluran napas dan umumnya terdapat riwayat kontak dengan
pasien konjungtivitis viral. Gejala konjungtivitis viral berupa mata merah, sekret mata berair dan dapat
disertai pembesaran kelenjar limfe. Gejala konjungtivitis viral biasanya ringan, dapat sembuh sendiri dan
tidak disertai penurunan tajam penglihatan sehingga dapat ditatalaksana di pelayanan kesehatan primer.
Meskipun demikian, terdapat kasus-kasus yang bersifat mengancam penglihatan sehingga perlu segera
dirujuk ke rumah sakit atau dokter spesialis mata. Konjungtivitis viral sangat menular sehingga pasien
perlu mendapat edukasi untuk mengurangi kontak langsung dan tidak langsung agar tidak menjadi sumber
infeksi bagi lingkungannya. Konjungtivitis viral dapat sembuh sendiri, namun pemberian air mata buatan,
antihistamin topikal, atau kompres dingin berguna untuk meredakan gejala. Terapi antiviral tidak diperlukan
untuk konjungtivitis virus, kecuali untuk konjungtivitis herpetik.
Kata kunci: epidemi, konjungtivitis, virus.

Viral Conjunctivitis: Diagnosis and Therapy in Primary Health Care

Abstract
Conjunctivae is a transparent thin mucosal membrane covering the outer anterior eye and inner
palpebrae. This structure is vital for eye defense from inflammation and infection. Inflammation occurring on
the conjunctivae is called conjunctivitis and virus is one of the most common etiologic agent. Such viruses are
adenovirus, herpes simplex virus, herpes zoster virus, poxvirus, myxovirus, paramyxovirus and arbovirus. It
mostly occurs along or after respiratory tract infection as well as after contact with patients suffering from viral
conjunctivitis. Clinical manifestations include redness, watery discharge, and pre auricular lymph enlargement.
The manifestations are usually mild, self-limiting, and do not impair visual acuity thus viral conjunctivitis can
be managed in primary health centers. However, there are cases which threaten visual acuity thus require
referral to ophthalmologists or higher eye care services. Due to its high infectivity, patients should be educated
to avoid of direct and indirect contact thus they would not spread the infection to environment. Although
it is self-limiting, administration of artificial tears, topical antihistamine or cold compress, could reduce the
manifestation. Antiviral agents are not required for conjunctivitis viral, unless for herpetic conjunctivitis.
Kata kunci: epidemy, conjunctivitis, virus.

64
Vol. 5, No. 1, April 2017 Konjungtivitis Viral

Pendahuluan lebih lanjut.2,3 Konjungtivitis viral sangat menular


Konjungtivitis adalah inflamasi jaringan sehingga pasien perlu mendapat edukasi agar
konjungtiva yang dapat disebabkan oleh invasi tidak menjadi sumber infeksi bagi lingkungannya.1,4
mikroorganisme, reaksi hipersensitivitas atau Tujuan penulisan makalah ini adalah
perubahan degeneratif di konjungtiva. Pasien memberikan informasi bagi dokter untuk
biasanya mengeluh mata merah, edema konjungtiva mengingatkan kembali tentang konjungtivitis viral
dan keluar sekret berlebih. Gejala tersebut terjadi agar dapat mengenali gejala klinis, tata laksana dan
akibat dilatasi vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi.1 pencegahannya. Untuk memudahkan pemahaman
Berdasarkan penyebabnya, konjungtivitis patogenesis, makalah ini didahului dengan
dibagi menjadi konjungtivitis infeksi dan non- penjelasan anatomi dan histologi konjungtiva mata
infeksi. Pada konjungtivitis infeksi, penyebab serta mekanisme pertahanan mata.
tersering adalah virus dan bakteri, sedangkan
pada kelompok non-infeksi disebabkan oleh Anatomi Konjungtiva
alergi, reaksi toksik, dan inflamasi sekunder Konjungtiva merupakan membran mukosa
lainnya. Konjungtivitis juga dapat dikelompokkan tipis dan transparan yang melapisi bagian anterior
berdasarkan waktu yaitu akut dan kronik. Pada bola mata dan bagian dalam palpebra. Konjungtiva
kondisi akut, gejala terjadi hingga empat minggu, dibagi tiga bagian yaitu konjungtiva palpebra,
sedangkan pada konjungtivitis kronik, gejala lebih konjungtiva bulbar dan forniks.
dari empat minggu. Konjungtivitis sering terjadi Konjungtiva palpebra melapisi bagian dalam
bersama atau sesudah infeksi saluran napas dan palpebra, dibagi lagi menjadi tiga bagian yaitu
umumnya terdapat riwayat kontak dengan pasien marginal, tarsal dan orbital. Bagian marginal terletak
konjungtivitis viral. Penyebaran virus umumnya di tepi palpebra hingga 2mm ke dalam palpebra,
terjadi melalui tangan, peralatan mandi yang bagian tarsal melekat di tarsal plate, sedangkan
digunakan bersama, bantal kepala yang digunakan bagian orbital terletak di antara konjungtiva tarsal
bersama atau kontak dengan alat pemeriksaan dan forniks. Di konjungtiva palpebra terdapat
mata yang terkontaminasi1,2 kelenjar henle dan sel goblet yang memproduksi
Konjungtivitis viral merupakan penyakit mata musin.
merah yang paling sering dijumpai di masyarakat Konjungtiva bulbar melapisi bagian anterior
dan praktik dokter sehari-hari. Pada populasi bola mata dan dipisahkan dengan sklera
dewasa, 80% kasus konjungtivitis akut disebabkan anterior oleh jaringan episklera. Konjungtiva
oleh virus.1,2 yang berbatasan dengan kornea disebut limbal
Gejala konjungtivitis viral biasanya ringan, conjunctiva. Di konjungtiva bulbar terdapat kelenjar
dapat sembuh sendiri dan tidak disertai penurunan manz dan sel goblet.
tajam penglihatan sehingga dapat ditatalaksana di Konjungtiva forniks merupakan penghubung
pelayanan kesehatan primer. Meskipun demikian, konjungtiva palpebra dengan konjungtiva bulbar.
terdapat kasus yang bersifat mengancam Daerah tersebut memiliki kelenjar lakrimal
penglihatan sehingga perlu segera dirujuk ke rumah aksesoris yaitu kelenjar krause dan wolfring yang
sakit atau dokter spesialis mata untuk tata laksana menghasilkan komponen akuos air mata.2,4
Forniks superior

Konjungtiva tarsal
Konjungtiva Bulbar
superior

Limbus

Epitelium

Konjungtiva marginal Epitel kornea

Lapisan adenoid

Konjungtiva tarsal
inferior

Lapisan fibrosa

Gambar
Gambar 1. A.1.Lapisan
A. Lapisan Konjungtiva,
Konjungtiva, B. Bagian-bagian
B. Bagian-bagian Konjungtiva
Konjungtiva 4 4

HistologiKonjungtiva 65
konjungtiva terdiri atas tiga lapisan yang secara histologi berbeda, yaitu lapisan
epitelium, adenoid, dan fibrosa.
Ratna Sitompul eJKI

Histologi Konjungtiva dilatasi vaskular, peningkatan permeabilitas dan


konjungtiva terdiri atas tiga lapisan yang diapedesis sel inflamasi dari pembuluh darah yang
secara histologi berbeda, yaitu lapisan epitelium, mengakibatkan mata menjadi merah.2
adenoid, dan fibrosa.
Lapisan epitelium merupakan lapisan terluar Patogenesis Infeksi Mata
konjungtiva dengan struktur yang bervariasi di Mikroorganisme masuk ke dalam tubuh
setiap regio. Epitel konjungtiva marginal terdiri dengan cara adhesi, evasi, dan invasi. Adhesi
atas lima lapis epitel gepeng berlapis dan pada adalah penempelan molekul mikroorganisme
konjungtiva tarsal terdiri atas dua lapis epitel ke epitel mata yang dimediasi oleh protein
silindris dan gepeng. Konjungtiva forniks dan bulbar permukaan mikroorganisme. Evasi adalah upaya
terdiri atas tiga lapis epitel yaitu sel silindris, sel mikroorganisme untuk menembus pertahanan
polihedral, dan sel kuboid, sedangkan konjungtiva sistem imun.2
limbal terdiri atas berlapis-lapis sel gepeng.4,5 Hampir semua mikroorganisme hanya
Lapisan adenoid merupakan lapisan limfoid menginvasi bila terdapat kerusakan epitel kecuali
yang berfungsi dalam respons imun di permukaan beberapa bakteri seperti Neissseria gonorhoeae
mata. Lapisan itu disebut conjunctiva-associated dan Shigella spp. Pada infeksi virus, adhesi
lymphoid tissue (CALT); terdiri atas limfosit dan sekaligus memfasilitasi proses invasi melalui
leukosit yang dapat berinteraksi dengan mukosa interaksi molekul virus dengan sel hospes seperti
sel epitel melalui sinyal resiprokal yang dimediasi interaksi kapsul adenovirus dengan integrin sel
oleh growth factor, sitokin dan neuropeptida.4,5 hospes yang menyebabkan proses endositosis
Lapisan fibrosa terdiri atas jaringan kolagen virus oleh sel. 2
dan fibrosa serta pembuluh darah dan konjungtiva. Mikroorganisme juga dapat bertahan melewati
Konjungtiva palpebra diperdarahi oleh pembuluh sistem pertahanan tubuh dan bereplikasi seperti
darah palpebra, sedangkan konjungtiva bulbar pada infeksi HSV, virus varisela serta herpes
memperoleh darah dari arteri siliaris anterior. zoster namun sebagian besar infeksi lainnya dapat
Persarafan sensorik konjungtiva berasal dari dieradikasi oleh sistem imun tubuh. 2
cabang nervus kranialis V.2
Etiologi Konjungtivitis Viral
Mekanisme Perlindungan Mata Penyebab tersering konjungtivitis akut adalah
Mata tersusun dari jaringan penyokong yang virus. Infeksi virus tertentu cenderung mengenai
salah satu fungsinya adalah melawan infeksi konjungtiva misalnya pharyngoconjunctival fever
secara mekanik. Orbita, kelopak mata, bulu mata, sedangkan virus lainnya lebih sering menginfeksi
kelenjar lakrimal dan kelenjar meibom berperan kornea misalnya virus herpes simpleks.
dalam produksi, penyaluran dan drainase air Konjungtivitis virus meliputi konjungtivitis
mata. Jaringan ikat di sekitar mata dan tulang adenovirus, konjungtivitis herpes simpleks,
orbita berfungsi sebagai bantalan yang melindungi konjungtivitis herpes-zooster, konjungtivitis pox
mukosa okular. Kelopak mata berkedip 10-15 kali virus, konjungtivitis miksovirus, konjungtivitis
per menit untuk proses pertukaran dan produksi air paramiksovirus, dan konjungtivitis arbovirus.1,2
mata, serta mengurangi waktu kontak mikroba dan
iritan ke permukaan mata.2 Diagnosis Konjungtivitis Viral
Mata memiliki jaringan limfoid, kelenjar lakrimal Gejala klinis konjungtivitis dapat menyerupai
dan saluran lakrimal yang berperan dalam sistem penyakit mata lain sehingga penting untuk
imunitas didapat. Makromolekul yang terkandung membedakan konjungtivitis dengan penyakit lain
dalam air mata memiliki efek antimikroba seperti yang berpotensi mengganggu penglihatan.1,3,6
lisozim, laktoferin, IgA, dan sitokin lainnya.2 Diperlukan anamnesis dan pemeriksaan mata
Epitel konjungtiva yang tidak terinfeksi yang teliti untuk menentukan tata laksana gangguan
menghasilkan CD8 sitotoksik dan sel langerhans, mata termasuk konjungtivitis. Infeksi virus biasanya
sedangkan substansia propia konjungtiva memiliki menyerang satu mata lalu ke mata lain beberapa
sel T CD4 dan CD8, sel natural killer, sel mast, hari kemudian disertai pembesaran kelenjar limfe
limfosit B, makrofag dan sel polimorfonuklear. dan edema palpebra. Tajam penglihatan secara
Pembuluh darah dan limfe berperan sebagai media intermiten dapat terganggu karena sekret mata.
transpor komponen imunitas dari dan ke mata. Jenis sekret mata dan gejala okular dapat memberi
Pada inflamasi, berbagai mediator menyebabkan petunjuk penyebab konjungtivitis. Sekret mata

66
Vol. 5, No. 1, April 2017 Konjungtivitis Viral

berair merupakan ciri konjungtivitis viral dan sekret pemeriksaan laboratorium sangat jarang dilakukan
mata kental berwarna kuning kehijauan biasanya karena deteksi antigen belum tersedia di fasilitas
disebabkan oleh bakteri. Konjungtivitis viral jarang pelayanan kesehatan primer. Sementara itu, kultur
disertai fotofobia, sedangkan rasa gatal pada dari sekret konjungtiva memerlukan waktu tiga hari
mata biasanya berhubungan dengan konjungtivitis sehingga menunda terapi.5,9,10
alergi. 7,8
Pendekatan algoritmik menggunakan
Pemeriksaan laboratorium untuk menunjang riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan
diagnosis konjungtivitis viral memiliki sensitivitas sederhana dengan penlight dan loupe dapat
89% dan spesifisitas 94% untuk adenovirus. untuk mengarahkan diagnosis dan memilih
Tes tersebut dapat mendeteksi virus penyebab terapi. Konjungtivitis dan penyakit mata lain
pelayanan kesehatan
konjungtivitis danprimer. Sementara itu,
mencegah kultur dari sekret
pemberian dapatkonjungtiva
menyebabkanmemerlukan
mata merah, sehingga
5,9,10
waktu tiga hari
antibiotik sehingga
yang menunda terapi.
tidak diperlukan. Deteksi antigen diferensial diagnosis dan karakteristik tiap penyakit
Pendekatan
dapat mencegahalgoritmik
lebih menggunakan
dari satu juta riwayat perjalanan
kasus penyakit
penting dan diketahui.
untuk pemeriksaan11
Penamaan diagnosis
sederhana denganpenlight
penyalahgunaan antibiotikdan
danloupe dapat untuk
menghemat sampaimengarahkan diagnosis
konjungtivitis dan bervariasi,
virus memilih tetapi umumnya
terapi.
429 Konjungtivitis
USD setiap dan penyakitAkurasi
tahunnya. mata laindiagnosis
dapat menyebabkan mata merah,gejala
menggambarkan sehingga
klinis khas lain yang
11
konjungtivitis
diferensial viral tanpa
diagnosis pemeriksaan
dan karakteristik laboratorium
tiap penyakit pentingmenyertai konjungtivitis
untuk diketahui. dan dari gambaran klinis
Penamaan
kurang dari
diagnosis 50% dan banyak
konjungtivitis terjadi salah
virus bervariasi, diagnosis
tetapi khas tersebut dapat
umumnya menggambarkan diduga
gejala virus penyebabnya.
klinis
sebagai
khas konjungtivitis
lain yang menyertai bakteri. Meskipun
konjungtivitis dandemikian,
dari gambaran klinis khas tersebut dapat
diduga virus penyebabnya.

Gambar 2. Alogaritma Penanganan Konjungtivitis1


Gambar 2. Alogaritma Penanganan Konjungtivitis1
Konjungtivitis akibat virus dapat menimbulkan manifestasi klinis akut dan
kronik.Manifestasi
Konjungtivitisakut berupa
akibat konjungtivitis
virus serosa akut, sedangkan
dapat menimbul- konjungtivitismanifestasi
hemoragikkronik
akut berupa blefarokon-
dan konjungtivitisfolikular akut sedangkan
kan manifestasi klinis akut dan kronik. Manifestasi manifestasi kronik berupa
jungtivitis, blefarokonjungtivitis varisela-zoster, ker-
11
blefarokonjungtivitis, blefarokonjungtivitis varisela-zoster,
akut berupa konjungtivitis serosa akut, konjungtivi- keratokonjungtivitis morbili.
atokonjungtivitis morbili. 11

tis hemoragik akut dan konjungtivitis folikular akut


Konjungtivitis ViralAkut
Konjungtivitis Serosa Akut
Konjungtivitis serosa akut disebabkan oleh infeksi67virus yang sifatnya ringan dan
5
tidak menimbulkan respons folikular. Konjungtivitis viral biasanya mengenai satu mata
sedangkan konjungtivitis bakteri dan konjungtivitis alergi biasanya mengenai kedua
Ratna Sitompul eJKI

Konjungtivitis Viral Akut folikel, hiperemi konjungtiva dan sekret mata. Folikel
Konjungtivitis Serosa Akut terbentuk dari agregasi limfosit di konjungtiva.
Konjungtivitis serosa akut disebabkan oleh Folikel berbentuk bulat kecil dengan diameter 1-2
infeksi virus yang sifatnya ringan dan tidak mm, berwarna putih keabuan dan transparan.
menimbulkan respons folikular.5 Konjungtivitis Konjungtivitis folikular disebabkan oleh adenovirus,
viral biasanya mengenai satu mata sedangkan virus new castle, dan virus herpes.6,12 Sekitar 65-
konjungtivitis bakteri dan konjungtivitis alergi 90% kasus konjungtivitis viral disebabkan oleh
biasanya mengenai kedua mata. adenovirus yang menyebabkan dua manifestasi
Konjungtivitis viral ditandai dengan dilatasi klinis tersering yaitu demam faringokonjungtiva
pembuluh darah konjungtiva superfisial sehingga dan keratokonjungtivitis epidemik. Virus new castle
timbul hiperemi dan edema konjungtiva, folikel, dan virus herpes menyebabkan konjungtivitis new
serta sekret yang sifatnya bervariasi. Sekret castle dan konjungtivitis herpetik dengan jumlah
penting dinilai untuk membantu mengidentifikasi kasus yang jauh lebih sedikit.5,11
penyebab konjungtivitis. Sekret serosa biasanya
disebabkan infeksi virus akut atau alergi akut dan Pharyngoconjunctival Fever
sekret mukoid dijumpai pada alergi kronik atau Konjungtivitis pharyngoconjunctival fever
keratokonjungtivitis sikka (dry eye syndrome). disebabkan oleh infeksi adenovirus subtipe 3 dan
Sekret mukopurulen biasanya pada infeksi bakteri kadang-kadang oleh tipe 4, dan 7; lebih sering
akut dan klamidia sedangkan sekret hiperpurulen mengenai anak dibandingkan orang dewasa.
disebabkan oleh infeksi gonokokus.4,6 Penularan melalui droplet atau air kolam renang,
Konjungtivitis virus akut mudah sekali menular meskipun demikian virus sulit menular di kolam
terutama melalui kontak dengan sekret mata atau renang yang mengandung klor.5,11
droplet saluran napas. Infeksi dapat terjadi sporadik Gejala konjungtivitis pharyngoconjunctival
atau epidemik di daerah dengan komunitas padat fever adalah demam tinggi mendadak (38,3-40oC),
dan higiene buruk.5 faringitis, konjungtivitis bilateral, dan pembesaran
kelenjar limfe periaurikular. Gejalanya adalah sekret
Konjungtivitis Hemoragik Akut serosa, folikel di konjungtiva, konjungtiva hiperemi,
Konjungtivitis hemoragik akut adalah proses edema palpebra, dan keratitis epitel superfisial.5,11
inflamasi di konjungtiva yang disertai perdarahan Virus dapat dibiak dalam sel HeLa dan dapat
konjungtiva multipel, konjungtiva hiperemis, didiagnosis secara serologi dengan meningkatnya
dan hiperplasia folikular ringan. Konjungtivitis titer antibodi netralisasi virus. Kerokan konjungtiva
hemoragik akut umumnya disebabkan oleh picorna terutama mengandung sel mononuklear dan tidak
virus, sering terjadi di Afrika dan Inggris sehingga ada bakteri yang tumbuh dalam biakan. Tidak ada
disebut juga epidemic haemorhagic conjunctivitis pengobatan spesifik karena konjungtivitis dapat
(EHC).6,11,12 sembuh sendiri sekitar 10 hari.5,11
Masa inkubasi EHC sangat singkat, sekitar 24-
48 jam. Gejalanya adalah mata seperti kelilipan, Keratokonjungtivitis Epidemika
nyeri periorbita, merah, berair, fotofobia, pandangan Keratokonjungtivitis epidemika adalah kon-
kabur, edema palpebra, kongesti konjungtiva, jungtivitis folikular akut yang diikuti dengan keratitis
kemosis, serta limfadenopati pre-aurikular. Tanda superfisial. Terdapat tiga fase berdasarkan gejala
penting adalah perdarahan subkonjungtiva yang klinisnya. Fase pertama adalah konjungtivitis sero-
awalnya dapat ditandai oleh petekie. Di konjungtiva sa akut dengan karakteristik konjungtiva hiperemi,
tarsal terdapat hipertrofi folikuler dan keratitis kemosis, dan lakrimasi. Gejala tersebut diikuti fase
epitelial yang akan membaik dalam 3-4 hari.6,11 kedua yaitu konjungtivitis folikular akut dengan
Virus ditularkan melalui kontak erat dari indi- karakteristik pembentukan folikel di kelopak mata
vidu ke individu dan barang-barang yang tercemar bawah. Fase ketiga adalah konjungtivitis pseudo-
seperti seprei, handuk, alat-alat optik, dan air. Be- membran akut yang ditandai dengan pseudomem-
lum ada pengobatan definitif namun penyembuhan bran di permukaan konjungtiva. Kornea dapat ter-
terjadi sekitar 5-7 hari. 6,11 infeksi satu minggu setelah onset penyakit. Pada
keratokonjungtivitis epidemika sering dijumpai lim-
Konjungtivitis Folikular fadenopati preaurikular ipsilateral.1,5,12
Konjungtivitis folikular adalah inflamasi Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bi-
konjungtiva dengan karakteristik pembentukan lateral, namun pada awalnya sering pada satu

68
Vol. 5, No. 1, April 2017 Konjungtivitis Viral

mata; biasanya mata pertama lebih parah. Pasien sekret dan folikel di konjungtiva tarsal serta keratitis
mengeluh nyeri sedang, mata berair, dan dalam epitelial atau keratitis subepitel di kornea.5,11
waktu 5-14 hari timbul fotofobia, keratitis epitel,
serta kekeruhan subepitel berbentuk bulat. Fase Konjungtivitis Herpetik Akut
akut ditandai dengan edema palpebra, kemosis, Konjungtivitis herpetik merupakan manifestasi
dan hiperemi konjungtiva dengan tanda khas nyeri herpes primer yang dapat berlangsung selama 2-3
tekan di nodus preaurikuler. Perdarahan konjung- minggu. Gejalanya berupa infeksi unilateral, iritasi,
tiva dan folikel biasanya timbul dalam 48 jam. sekret mukosa, nyeri dan fotofobia ringan disertai
Pembentukan pseudomembran diikuti parut datar keratitis herpes simpleks dengan vesikel di kornea
atau simblefaron. Konjungtivitis berlangsung paling atau infiltrat kornea yang membentuk gambaran
lama 3-4 minggu. Kekeruhan subepitel terutama di dendritik. Di palpebra dapat terlihat vesikel
pusat kornea dan menetap berbulan-bulan namun dan edema hebat serta pembesaran kelenjar
sembuh tanpa meninggalkan parut. preaurikular yang nyeri tekan (tanda khas).4,7
Keratokonjungtivitis epidemika pada orang de- Diagnosis ditegakkan dengan menemukan sel
wasa terbatas di bagian luar mata namun, pada raksasa pada pewarnaan giemsa, kultur virus, dan
anak-anak dapat timbul gejala sistemik seperti de- sel inklusi intranuklear.5,10,11
mam, nyeri tenggorokan, otitis media, dan diare. Jika konjungtivitisnya folikuler, reaksi
Keratokonjungtivitis epidemika disebabkan oleh radang biasanya mononuklear, namun jika
adenovirus tipe 8, 19, 29, dan 37. Virus dapat di- konjungtivitisnya berupa pseudomembran, reaksi
isolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan berupa polimorfonuklear akibat kemotaksis dari
tes netralisasi. Kerokan konjungtiva menunjukkan tempat nekrosis. Pada fiksasi bouin dan pulasan
reaksi radang mononuklear primer dan bila terben- papanicolaou tampak inklusi intranuklear di sel
tuk pseudomembran mengandung banyak neutrofil. konjungtiva dan kornea; namun jika menggunakan
Penularan nosokomial dapat terjadi melalui giemsa, tidak terlihat inklusi. Sel epitel raksasa
alat pemeriksaan mata, jari tangan dokter atau pe- multinuklear merupakan nilai diagnostik.
makaian larutan yang tercemar virus. Virus dapat Jika konjungtivitis terjadi pada anak berumur
bertahan dalam larutan tersebut dan menjadi sum- lebih dari satu tahun atau pada orang dewasa,
ber penularan. penyakit ini umumnya sembuh sendiri dan tidak
Pencegahan penularan dilakukan dengan perlu terapi. Meskipun demikian, antivirus lokal atau
mencuci tangan pada setiap pemeriksaan. Kon- sistemik perlu diberikan jika terjadi infeksi kornea.
taminasi botol larutan dapat dihindari menggu- Pada ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen
nakan obat tetes mata kemasan unit-dose. Alat- kornea dengan mengusap ulkus menggunakan
alat pemeriksaan terutama yang menyentuh mata kapas kering, meneteskan obat antivirus. Antivirus
harus disterilkan. Tonometer aplanasi dibersihkan topikal diberikan selama 7-10 hari sebagai berikut:
dengan alkohol atau hipoklorit, lalu dibilas dengan trifluridin diberikan setiap dua jam atau salep
air steril dan dikeringkan. vidarabin lima kali sehari, atau idoksuridin 0,1%
Sampai saat ini, belum ada terapi spesifik satu tetes setiap jam dan satu tetes setiap dua jam
keratokonjungtivitis epidemika, namun kompres pada waktu malam. Keratitis herpes dapat pula
dingin dapat mengurangi gejala. Penggunaan kor- diobati dengan salep asiklovir 3% lima kali sehari
tikosteroid perlu dihindari pada konjungtivitis akut. selama sepuluh hari atau asiklovir oral 400mg lima
Jika terjadi superinfeksi bakteri perlu diberikan an- kali sehari selama tujuh hari.5,10,11
tibiotik.12,13 Kortikosteroid merupakan kontraindikasi
karena akan memperburuk infeksi herpes simpleks
Konjungtivitis Newcastle dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh
Konjungtivitis newcastle disebabkan oleh virus sendiri yang singkat menjadi infeksi yang lama dan
new castle. Gejala klinisnya sama dengan demam berat.13
faringokonjungtiva namun biasanya menyerang
pekerja peternakan unggas yang tertular virus new Konjungtivitis Viral Menahun
castle dari unggas. Blefarokonjungtivitis: Molluskum Kontagiosum
Gejala konjungtivitis newcastle adalah demam Nodul moluskum di tepi atau kulit palpebra
ringan, nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri mata, gatal, dan alis mata dapat menimbulkan konjungtivitis fo-
mata berair, penglihatan kabur, dan fotofobia. Dapat likuler menahun unilateral, keratitis superior, pan-
timbul edema palpebra ringan, kemosis, sedikit nus superior, atau mungkin menyerupai trakhoma.

69
Ratna Sitompul eJKI

Terdapat reaksi radang mononuklear yang berbeda Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi sel
dengan reaksi pada trakhoma. Ciri khas moluskum mononuklear. Pada sedian yang dipulas giemsa
kontagiosum adalah lesi bulat, berombak, putih tampak sel-sel raksasa. Terapi hanya berupa tin-
mutiara, dan non-radang di bagian pusat. Histopa- dakan penunjang karena tidak ada terapi spesifik,
tologi menunjukkan inklusi sitoplasma eosinofilik kecuali jika terdapat infeksi sekunder.4,5
yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang mem-
besar dan mendesak inti ke satu sisi. Terapi den- Terapi Konjungtivitis Virus
gan cara eksisi atau krioterapi.4,5 Konjungtivitis virus biasanya akan sembuh
dengan sendirinya, namun pemberian kompres
Blefarokonjungtivitis Varisela-Zoster dingin, air mata artifisial atau antihistamin topikal
Ciri khas herpes zoster adalah hiperemia, kon- bermanfaat untuk meredakan gejala. Terapi
jungtivitis, dan erupsi vesikuler sepanjang derma- antiviral tidak diperlukan kecuali untuk konjungtivitis
tom nervus trigeminus cabang oftalmika. Konjung- herpetik yaitu asiklovir oral 400mg/hari untuk virus
tivitis biasanya berbentuk papiler, namun dapat herpes simpleks dan 800mg/hari untuk herpes
ditemukan folikel, pseudomembran, dan vesikel zoster selama 7-10 hari. Pemberian antibiotik
temporer yang kemudian mengalami ulserasi. Ter- topikal tidak dianjurkan karena tidak mencegah
dapat limfonodus preaurikuler yang nyeri tekan infeksi sekunder dan dapat memperburuk gejala
pada awal penyakit. Sekuele berupa jaringan pa- klinis akibat reaksi alergi dan reaksi toksik serta
rut di palpebra, entropion, dan bulu mata tumbuh tertundanya kemungkinan diagnosis penyakit
salah arah. mata lain. Cara pemakaian obat tetes mata perlu
Pada herpes zoster dan varisela, kerokan diperhatikan untuk mencegah risiko penyebaran
vesikel palpebra mengandung sel raksasa dan infeksi ke mata yang sehat. Selain itu, pemakaian
leukosit polimorfonuklear sedangkan kerokan kon- antibiotik yang tidak perlu berdampak terhadap
jungtiva mengandung sel raksasa dan monosit. Vi- peningkatan resistensi antibiotik juga perlu
rus dapat diperoleh dari biakan jaringan sel embrio dipertimbangkan.8,13
manusia. Walaupun akan sembuh sendiri,
Terapi blefarokonjungtivitis varisella-zoster penatalaksanaan konjungtivitis virus dapat dibantu
adalah menggunakan asiklovir oral dosis tinggi dengan pemberian air mata buatan (tetes mata) dan
(800mg oral lima kali sehari selama 10 hari). Jika kompres dingin. Antibiotik dapat dipertimbangkan
pengobatan diberikan pada awal perjalanan penya- jika konjungtivitis tidak sembuh setelah 10 hari dan
kit dapat mengurangi dan menghambat penyakit.1,4,5 diduga terdapat superinfeksi bakteri.4,8 Penggunaan
deksametason 0,1% topikal membantu mengurangi
Keratokonjungtivitis Morbilli peradangan konjungtiva.14,15
Pada awal penyakit, konjungtiva tampak mirip Prognosis konjungtivitis virus adalah baik
kaca yang dalam beberapa hari diikuti pembeng- karena akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun
kakan lipatan semiluner. Beberapa hari sebelum demikian untuk mencegah penularan perlu
erupsi kulit, timbul konjungtivitis eksudatif den- diperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Bila
gan sekret mukopurulen, dan pada saat muncul gejala belum reda dalam 7-10 hari dan terjadi
erupsi kulit, timbul bercak koplik di konjungtiva dan komplikasi pada kornea sebaiknya pasien dirujuk
kadang-kadang di karunkulus. ke dokter spesialis mata.1,6,8
Pada pasien imunokompeten, keratokonjungti-
vitis morbili hanya meninggalkan sedikit atau sama Pencegahan Konjungtivitis Viral
sekali tanpa sekuel, namun pada pasien kurang Konjungtivitis virus sangat menular dengan
gizi atau imunokompromis, penyakit mata ini sering risiko transmisi sekitar 10%-50%. Virus menyebar
disertai infeksi virus herpes atau infeksi bakteri melalui jari tangan yang tercemar, peralatan medis,
sekunder oleh S.pneumonia, H.influenza, dan or- air kolam renang, atau barang-barang pribadi.
ganisme lain. Bakteri tersebut dapat menimbulkan Masa inkubasi diperkirakan 5-12 hari dan menular
konjungtivitis purulen disertai ulserasi kornea dan hingga 10-14 hari. Pada 95% kasus, aktivitas
penurunan penglihatan yang berat. Infeksi herpes replikasi virus terlihat sepuluh hari setelah gejala
juga dapat menimbulkan ulserasi kornea berat den- timbul dan hanya 5% kasus yang tampak pada
gan perforasi. Hal tersebut mengakibatkan pasien hari ke-16 setelah gejala muncul. Berdasarkan
kehilangan penglihatan terutama pada anak-anak tingginya angka penularan, maka perlu dibiasakan
kurang gizi. cuci tangan, desinfeksi peralatan medis, dan isolasi

70
Vol. 5, No. 1, April 2017 Konjungtivitis Viral

penderita. Pasien tidak boleh saling bertukar barang 3. Nari J, Allen LH, Bursztyn LLCD. Accuracy of referral
pribadi dengan orang lain dan harus menghindari diagnosis to an emergency eye clinic. Can J Ophthalmol.
kontak langsung atau tidak langsung (seperti di 2017; article in press.
kolam renang) selama dua minggu.1,8 4. Tsai JC, Denniston AKO, Murray PI, Huang JJ, Aldad
TS. Oxford American handbook of ophthalmology. New
Cara pencegahan penularan yang paling
York: Oxford University Press; 2011.
efektif adalah meningkatkan daya tahan tubuh,
5. Khurana AK. Comprehensive ophthalmology. Edisi ke-4.
menghindari bersentuhan dengan sekret atau air New Delhi: New Age International; 2007.
mata pasien, mencuci tangan setelah menyentuh 6. Gilani CJ, Yang A, Yonkers M, Boysen-Osborn M.
mata pasien sebelum dan sesudah menggunakan Differentiating urgent and emergent causes of acute red
obat tetes mata. Selain itu, hindari penggunaan eye for the emergency physician. West J Emerg Med.
tetes mata dari botol yang telah digunakan pasien 2017; article in press.
konjungtivitis virus, hindari penggunaan alat mandi 7. Chrisyanti LS, Galani IE, Pararas MV, Giannopoulou KP,
dan bantal kepala yang sama. Penggunaan kaca Tsakris A. Treatment of viral conjunctivitis with antiviral
mata hitam bertujuan mengurangi fotofobia, namun drugs. Drugs. 2011;71(3):331-47.
tidak bermanfaat mencegah penularan. 8. Leibowitz HM. The red eye. Eng J Med. 2000;343:345-51.
9. Lambert L. Diagnosing red eye: an allergy or an infection.
S Afr Pharm J. 2017;84(1):24-30.
Penutup
10. Sendrowski, David P, Maher J. Claim victory over
Konjungtivitis viral merupakan penyakit mata
viral conjunctivitis: adenovirus and herpes virus are
merah yang sering dijumpai. Gejala umumnya highly contagious pathogens, but you can put a stop to
ringan, dapat sembuh sendiri dan tidak disertai them if you diagnose them quickly and manage them
penurunan tajam penglihatan sehingga dapat appropriately. Review of Optometry. 2016;1:78-80.
ditatalaksana di pelayanan kesehatan primer. 11. Christopher K, Stear BA, Andrews CA, Stein JD. Seasonal
Konjungtivitis viral biasanya akan sembuh sendiri, trends and demographic variation of viral conjunctivitis
namun pemberian kompres dingin, air mata artifisial across the US. IOVS. 2015;56(7):1877-9.
dan antihistamin topikal berguna untuk meredakan 12. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Balai Penerbit
gejala. Meskipun demikian, terdapat beberapa FKUI; 2010.
kasus yang bersifat mengancam penglihatan 13. Scherer LD, Finan C, Simancek D, Finkelstein JI,
sehingga pasien perlu segera dirujuk ke rumah Tarini BA. Effect of pink eye label on parents intent
to use antibiotics and perceived contagiousness. Sage
sakit atau dokter spesialis mata. Konjungtivitis viral
journals. 2015;55(6):542-8.
sangat menular sehingga pasien perlu mendapat
14. Pinto RDP, Lira RPC, Abe RY, Zacchia RS, Felix JPF,
edukasi untuk mengurangi kontak langsung dan Pereira AVF, et al. Dexamethasone/povidone eye drops
tidak langsung agar tidak menjadi sumber infeksi versus artificial tears for treatment of presumed viral
bagi lingkungannya. conjunctivitis: a randomized clinical trial. Current Eye
Research. 2014;40(9):870-7.
Daftar Pustaka 15. Asena L, Ozdemir ES, Burcu A, Ercan E, Colak M,
1. Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis:a systemic review of Altinors DD. Comparison of clinical outcome with
diagnosis and treatment. JAMA.2013;310(6):1721-9. different treatment regimens in acute adenoviral
2. Cantor LB, Rapuano CJ, Cioffi GA. External disease and keratokonjuctivitis. Eye. 2017;1:1-7.
cornea. Italia: American Academy of Ophtalmology; 2014.

71