Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur
lain, entah karena letak yang jauh terpencil, atau dengan sengaja tidak mau
behubungan dengan masyarakat tutr lain, maka masyarakat tutur itu akan menjadi
masyarakat tutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat monolingual. Sebaliknya,
masyarakat tutur yang terbuka, artinya yang mempunyai hubungan dengan
masyarakat tutur lain, tentu akan mengalami apa yang dimaksud dengan kontak
bahasa dengan segala peristiwa peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya. Peristiwa
peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu
adalah apa yang di dalam sosiolinguistik disebut bilingualisme, diglosia, alih kode,
campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi, dan pergeseran bahasa.
Dalam makalah ini, hanya akan dibicarakan tentang bilingualism dan diglosia,
serta hubungan atau kaitan antara keduanya.
2. Rumusan masalah
Dengan latar belakang di atas maka makalah ini dapat dirumruskan sebagai berikut :
a) Apakah pengertian bilingualisme itu?
b) Apakah pengertian diglosia itu?
c) Dan bagaimanakah hubungan antara keduanya?
3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini, adalah sebagai berikut :
a) Dapat menjelaskan pengertian dari bilingualisme
b) Dapat menjelaskan pengertian diglosia
c) Dapat menjelaskan hubungan antara bilingualism dan diglosia

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Bilingualisme
Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut
juga kedwibahasaan. Secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud
bilingualisme itu, yakni berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode
bahasa. Dalam perspektif sosiolinguistik, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan
dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara
bergantian (Mackey 1962:12, Fishman 1975:73). Untuk dapat menggunakan dua
bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama adalah bahasa
ibu atau bahasa pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang
menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Orang yang bisa menggunakan kedua
bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut
dwibahasawan). Sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut
bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahsawanan). Selain istilah
bilingualisme dengan segala jabarannya, ada juga istilah multilingualisme (dalam
bahasa Indonesia disebut juga keanekabahasaan) yakni keadaan yang digunakannya
lebih dari dua bahasa oleh seorang dalam pergaulannya dengan orang lain secara
bergantian. Dalam makalah ini tentang multilingualisme tidak akan dibicarakan.
Konsep umum bahwa bilingualisme adalah digunakannya dua buah bahasa
oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian telah
menimbulkan sejumlah masalah yang biasa dibahas jika orang membicarakan
bilingualisme.
2. Diglosia
Diglosia adalah suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional
atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Yang
dimaksud ialah bahwa terdapat perbedaan antara ragam formal atau resmi dan tidak
resmi atau non-formal. Contohnya misalkan di Indonesia terdapat perbedaan antara
bahasa tulis dan bahasa lisan.
Kata diglosia berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang pernah digunakan
oleh Marcais, seorang linguis Prancis: tetapi istilah itu menjadi terkenal dalam studi
linguistik setelah digunakan oleh seorang sarjana dari Stanford University, yaitu C.A.

2
BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa poin, yaitu :
a) Billingualisme adalah akibat dari penggunaan lebih dari satu kode oleh seseorang
individu atau masyarakat.
b) Diglosia adalah merupakan akibat dari valuasi perbedaan fungsional. Bilingulisme
dan diglosia dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersama-sama dalam suatu
komunitas ujar.
c) Hubungan antara keduanya amatlah tergantung dari aspek dan bagaimana kita
memandangnya.
2. Saran
Mahasiswa merupakan dewasa yang dianggap berintelektual serta dianggap
berwawasan luas. Bagi mahasiswa PRODI Bahasa dan Sastra Indonesia, hal ini
merupakan tuntutan.
Untuk mencapai anggapan itu, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
dituntun untuk selalu aktif dalam segala aspek perkuliahan, baik yang bersifat
akademis maupun non akademis.
Tugas individu maupun tugas kelompok merupakan tugas tanggung jawab
mahasiswa. Untuk mencapai hasil yang maksimal itu, diperlukan berbagai usaha,
seperti kelengkapan literature literature pendukung matakuliah, yang pada
kesempatan ini matakuliah SOSIOLINGUISTIK.
Maka saran kami kepada rekan mahasiswa Bahasa Dan Sastra Indonesia
mengenai matakuliah ini, untuk berusaha menambahkan wawasan tersebut, dengan
melengkapi literature literature pendukung.