Anda di halaman 1dari 4

Nilai-nilai demokrasi dan HAM dilihat dari konsep demokrasi dan HAM menurut ajaran Islam.

HAM DAN ISLAM

Jauh sebelum adanya Declaration of Human Right yang ditetapkan oleh PBB sebagai dasar
bersama penghormatan manusia, Islam sejak 15 abad yang lalu telah memuat nilai-nilai kemanusiaan
universal baik yang tertera dalam Al-Quran maupun dalam sunnah Rosul. Nilai-nilai universal
kemanusiaan, secara tegas dinyatakan dalam pidato Rosululloh yang terkenal ketika beliau melakukan
haji wada. Beliau berpesan mengenai hak hidup, hak perlindungan harta, dan hak kehormatan. Di depan
umat Islam, beliau menyatakan:

Sesungguhnya darahmu, harta bendamu, dan kehormatanmu adalah suci atas kamu seperti sucinya
hari (hajimu) ini, dalam bulanmu (bulan suci Dzulhijjah) ini dan di negerimu (tahun suci) ini sampai
tibanya hari kamu sekalian bertemu dengan Dia (Allah).

Masih banyak sabda-sabda Rosululloh yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan
demikian, jelaslah bahwa Islam adalah agama yang sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Islam
menegaskan bahwa sebagai manusia tidak dilihat ras, etnis, bahasa, dan lain-lain melainkan dilihat dari
ketakwaannya. Karena itulah Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Karena
tingginya penghormatan Islam terhadap nilai-nilai kemanusiaan, maka hak-hak dasar manusia yang suci
dilindungi oleh Islam. Hak-hak tersebut: hak hidup, hak milik, hak kehormatan, hak persamaan, dan hak
kebebasan.

DEMOKRASI DAN ISLAM

Jika demokrasi dengan system pengambilan keputusan diserahkan kepada rakyat demi
kepentingan bersama dengan menjamin eksistensi hak-hak dasar manusia,maka demokrasi tidak ada
maslah dengan Islam.Demokrasi compatible dengan Islam.

Islam sebagai Rahmatan lil alamin,dalam konteks berbangsa dan bernegara,tujuan pokoknya
adalah menyelenggarakan kebaikan dan mencegah keburukan dengan senantiasa menjungjung tinggi
nilai-nilai dasar kemanusiaan.

Nilai-nilai demokrasi yang bisa digali dari sumber Islam yang kompatibel dengan nilai-nilai
demokrasi seperti dikemukakan oleh Huwaydi dan Muhammad Dhiya al-Din Rais adalah,1)Keadilan dan
musyawarah,2)Kekuasaan dipegang penuh oleh rakyat,3)Kebebasan adlah hak penuh bagi semua warga
negara,4)Persamaan diantara sesame manusia khususnya persamaan di depan hokum,5)Keadilan untuk
kelompok minoritas,6)Undang-undang diatas segala-galanya,7)Pertanggung jawaban penguasa terhadap
rakyat.

EKSPOSE AIB

Didalam ajaran Islam mengekspose atau membuka aib seseorang sangatalah


dilarang. Mengekspose aib seseorang merupakan perilaku yang kurang baik. Mengekspose aib
seseorang sama saja dengan perbuatan ghibah.
Didalam shahih Muslim dari hadits al Ala bin Abdurrahman dari ayahnya dari Abu
Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda,Tahukah kalian apa itu ghibah? para sahabat
bertanya,Allah dan Rasul-Nya lah yang mengetahuinya. Beliau saw bersabda,Engkau
menyebutkan apa-apa yang tidak disukai oleh saudaramu. Beliau saw ditanya,Apa pendapatmu,
jika pada saudaraku itu benar ada apa yang aku katakan? beliau saw bersabda,Jika apa yang
engkau katakan itu benar (ada pada saudaramu) maka sungguh engkau telah melakukan ghibah
dan jika apa yang engkau katakana itu tidak benar maka engkau telah berdusta.
Didalam Islam jika seseorang mengghibah atau menggunjing oranglain sama saja seperti
kita memakan bangkai saudara sendiri. Nauzubillah...
Setiap orang mempunyai kekuranganya masing-masing. Allah SWT menciptakan
manusia dengan kelebihan dan kelemahannya baik dalam fisik maupun perilakunya. Sebagai
manusai yang beradab kita tidak boleh mengespose aib oranglain, karena kita harus saling
menghargai sesama manusia. Karena kita sendiri juga tidak mau jika aib kita di ekspose oleh
oranglain.
Mengekskpose aib oranglain terutama dalam media, seperti di sebuah berita di Televisi
merupakan hal yang sanga tidak terpuji. Kita memang mempunyai hak untuk berpendapat dan
berbicara namun pergunakanlah hak tersebut dengan sebaik mungkin jangan digunakan untuk
hal yang tidak bermanfaat. Terutama dalam mengeskpose aib orang dalam media, hal itu
seharunya tidak boleh dan memang tidak pantas dilakukan.
Namun ghibah atau menyebutkan aib saudaranya untuk suatu kepentingan maka
dibolehkan, dan diantara hal-hal yang dibolehkannya ghibah adalah :
1. Adanya unsur kezhaliman.
Dibolehkan bagi seorang yang dizhalimi untuk mengadukannya kepada penguasa atau hakim
atau orang-orang yang memiliki wewenang atau orang yang memiliki kemampuan untuk
menghentikan kezhaliman orang yang berbuat zhalim itu kemudian orang itu
mengatakan,Sesungguhnya si A telah merzhalimiku, dia telah berbuat ini kepadaku, dia telah
mengambil itu dariku atau sejenisnya.

2. Meminta pertolongan untuk menghentikan kemunkaran dan mengembalikan orang-orang yang


berbuat maksiat kepada kebenaran dengan penjelasannya yang mengatakan kepada orang yang
diharapkan kesanggupannya untuk menghilangkan kemunkaran dengan mengatakan,Si A
melakukan ini dan itu maka cegahlah dia, atau perkataan sejenisnya. Maksudnya adalah untuk
menghilangkan kemunkaan dan jika tidak ada maksud yang demikian maka diharamkan.

3. Meminta fatwa, seperti penjelasannya kepada seorang mufti,Ayahku telah menzhalimiku atau
saudaraku atau fulan dengan perbuatan ini. Adakah balasannya ? Bagaimana caranya untuk
melepaskan diri dari perbuatan itu dan mendapatkan hakku serta mencegah kezhaliman itu
terhadapku? atau perkataan-perkatan seperti itu, maka hal ini dibolehkan untuk suatu
kepentingan.

Namun yang lebih baik baginya adalah dengan mengatakan,Bagaimana pendapatmu tentang
seorang laki-laki yang melakukan perbuatan ini dan itu, atau seorang suami atau istri yang
melakukan ini dan itu atau sejenisnya. Ia hanya menyampaikan substansinya tanpa
menyebutkan orangnya meski jika menyebutkan orangnya pun dibolehkan, berdasarkan hadits
Hindun yang mengatakan,Wahai Rasulullah saw sesungguhnya Abu Sofyan adalah seorang
yang kikir dan Rasulullah saw tidaklah melarang Hindun.
4. Memberikan peringatan kepada kaum muslimin dari keburukan dan kejahatannya. Hal itu
dalam lima bentuk sebagaimana disebutkan Imam Nawawi :
a. Mengungkapkan cacat para perawi dan saksi yang memiliki cacat, ini dibolehkan menurut
ijma bahkan diwajibkan demi menjaga syariah.
b. Memberitahukan dengan cara ghibah saat bermusyawarah dalam permasalahan keluarga
besan, atau yang lainnya.
c. Apabila engkau menyaksikan orang yang membeli sesuatu yang mengandung cacat atau
sejenisnya lalu engkau mengingatkan si pembeli yang tidak mengetahui perihal itu sebagai suatu
nasehat baginya bukan bertujuan menyakitinya atau merusaknya.
d. Apabila engkau menyaksikan seorang yang faqih, berilmu berkali-kali melakukan perbuatan
fasiq atau bidah sedangkan orang itu menjadi rujukan ilmu sementara kemudharatan yang ada
didalam perbuatan itu masih tersembunyi maka hendaklah engkau menasehatinya dan
menjelaskan perbuatannya itu dengan tujuan memberikan nasehat.
e. Terhadap seorang yang memiliki kekuasaan (amanah) yang tidak ditunaikan sebagaimana
mestinya dikarenakan dirinya tidak memiliki kemampuan atau karena kefasikannya maka
hendaklah hal itu diungkapkan kepada orang yang memiliki wewenang atau kemampuan untuk
menggantikan orang tersebut dengan orang lain yang lebih mampu, tidak mudah tertipu dan
istiqomah.

5. Apabila kefasikan atau bidah yang dilakukannya sudah tampak terang maka dibolehkan
mengungkapkan yang tampak terang itu saja dan tidak dibolehkan baginya mengungkapkan aib-
aib selain itu kecuali jika ada sebab lainnya.

6. Sebagai pengenalan atau pemberitahuan apabila seseorang telah dikenal dengan gelar si
Rabun, si Pincang, si Biru, si Pendek, si Buta, si Buntung atau sejenisnya maka dibolehkan
baginya untuk mengenalkannya dengan perkataan itu dan diharamkan menyebutkannya dengan
maksud menghinakannya akan tetapi jika dimungkinkan untuk pengenalannya dengan selain
gelar-gelar itu maka hal ini lebih utama. (al Mausuah al Fiqhiyah juz II hal 11445 1146)

Dengan demikian dibolehkan mengungkapkan aib korupsi yang dilakukan para pejabat
dikarenakan adanya kemaslahatan didalamnya yaitu untuk menghentikan kezhalimannya yang
dapat merugikan negara dan menyengsarakan masyarakat dan agar para pejabat lainnya tidak
melakukan perbuatan itu atau pun agar pejabat itu diganti dengan pejabat lainnya yang lebih baik
dan amanah.

Kesimpulan :
Hak asasi manusia berarti klaim moral yang tidak dipaksakan dan melekat pada diri
individual berdasarkan kebebasan manusia. Demokrasi adalah sebuah sistem berbangsa dan
bernegara yang didasarkan atas prinsip persamaan, kebebasan, dan persaudaraan merupakan
penompang bagi penegeakan HAM.
Demokrasi dan HAM adalah dua hal yang berbeda akan tetapi tidak dapat di
pisahkan. Demokrasi tak mungkin ada apabila tidak ada HAM, sebaliknya HAM sangat sulit
ditegakan tanpa ada demokrasi.
Islam adalah agama yang sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Islam menegaskan
bahwa manusia sebagai manusia tidak dilihat ras, etnis, bahasa dan lain-lain melainkan dilihat dari
ketaqwaannya. Karena itulah islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
Didalam ajaran Islam mengekspose atau membuka aib seseorang sangatalah dilarang.
Mengekspose aib seseorang merupakan perilaku yang kurang baik. Mengekspose aib seseorang
sama saja dengan perbuatan ghibah.
Menghibah diperbolehkan jika Namun ghibah atau menyebutkan aib saudaranya untuk
suatu kepentingan maka dibolehkan.

Nama:Ajat nurhidayat

Nim: 030147652