Anda di halaman 1dari 141

SOP mengobati luka tusuk paku

Pengertian Tatacara mengobati luka tusuk paku


-1 Memberi rasa aman
- Mencegah komplikasi dan infeksi
nosokomial
Tujuan -2 Sebagai acuan dalam melakukan pengobatan
luka tusuk paku
Kebijakan -3 Perawat yang terampil
-4 Alat-alat yang lengkap
Prosedur PERSIAPAN ALAT STERIL :
1. Pinset anatomi
2. Pinset chirurge
3. Gunting
4. Bengkok
5. Kom kecil
6. Kassa
7. Kapas
8. Hand scoen
9. Spuit
10. NaCl
11. Mess
BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL :
1. Gunting balutan
2. Plester
3. Verban
4. Obat desinfektan dalam tempatnya
(bethadine)
5 Tempat sampah
6. Lidokain injeksi sebagai anasthesi
PELAKSANAAN :
1. Memberitahu pasien dan keluarga
2. Perawat cuci tangan
3. Mengatur posisi (perawat memakai hand
scoen)
4. Perawat membersihkan luka
5. Mendesinfektan luka dan sekitarnya dengan
NaCl
6. Memberikan diclor ethil atau lidokain
7. Membuat luka tusuk paku pada luka/ cros
incisi
8. Dikeluarkan darahnya dan dibersihkan
dengan bethadine
9. Tutup luka dengan kasa steril
9. Mencatat kegiatan dan hasil observasi
10. Klien dirapikan
11. Alat dibereskan dan dibersihkan
12. Perawat cuci tangan
Uniot terkait RAWAT INAP, BP, PUSTU/POLINDES
bagainya
15 Januari 2010
PROTAP / SOP PENANGANAN DIARE AKUT DI PUSKESMAS
Pengertian Kriteria diagnosis :
Mencret, ubun-ubun cekung, mulut/bibir kering,
turgor menurun, nadi cepat, mata cekung, nafas cepat
dan dalam, oliguri
Tujuan Sebagai acuan penatalaksanaan tentang diare akut
Kebijakan Dibawah tanggungjawab UGD dan rawat inap.
Prosedur Diagnosis Diferensial
Menret psikologi (shigella, V. Cholera, Salmonella,
E. Coli, Raota Firus, Campilo bacter)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan rutin tinja.

Perawatan
Rawat Inap, bila terdapat dehidrasi berat / sedang

Terapi
Rehidrasi oral / prenteral, antibiotik atas indikasi, diit

Penyulit
Asidosis, hipokalemi, renjatan, hipernatremi, kejang

Informet concent (tertulis)


Diperlukan pada tindakan invasif

Lama perawatan
Tiga sampai lima hari

Masa pemulihan
Dua sampai tiga minggu

Out Put
Sembuh total

Terapi
Dehidrasi ringan : (BB s/d 5%)
- Oralit
- Diit sesuai dengan umur
- Susu - Pengeceran (1 T = 40-50 cc)
- Susu rendah laktosa / bebesa laktosa
- Antibiotik : atas indikasi
Dehidrasi sedang : (BB s/d 10%)
- Infus Ringer Laktat
Dehidrasi berat : (BB s/d 5%)
- Infus RL : 1-2 jam I 20cc/KgBB
- Selanjutnya sesuai jumlah cc/24 jam

Unit RAWAT INAP, BP, PUSTU/POLINDES


terkait
19 Januari 2010
SOP / Protap Penanganan Demam Tifoid
SOP Penanganan Demam Tifoid
Pengertian Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut
yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella
typhi.

Kriteria Diagnosis
Demam tinggi lebih dari 7 hari disertai sakit kepala
- Kesadaran menurun
- Lidah kotor, hepatosplenomegali, dsb
- Bradikardia relatif
Tujuan Sebagai acuan tatalaksana penderita tifoid
Kebijakan Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter
Prosedur Diagnosis Diferensial
- Infeksi karena virus + (Dengue influenza)
- Malaria
- Broncho pnemonia

Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan lab
- Hb, Leko, Diff, Trombist, Ht
- Urine lengkap
- Widal

Terapi
1. Tirah baring, diet lunak, chloramphenicol 2
gr/hr atau kotrimoksasol 2 x 2 tab diberikan
sampai 7 hari bebas napas atau Quinolon
2. pemberian cairan infuse RL / D 5%

Penyulit :
- Toksis
- Perforasi usus mengakibatkan peritonitis
- Perdarahan dari usus
Lama perawatan :
Umumnya sampai 7 hari bebas panas
Unit RAWAT INAP, BP, PUSTU/POLINDES
terkait
19 Januari 2010
SOP Penatalaksanaan Jenasah HIV / Aids
Pengertian Jenazah adalah seseorang yang meninggal karena
penyakit

Tujuan 1. Upaya pencegahan standar atau pencegahan


dasar pada semua kondisi
2. Mencegah penularan secara kontak pada petugas
atau masyarakat umum
Kebijakan 1. Semua kendali dan tanggung jawab ada pada
tenaga medis dan paramedis
2. Peralatan dalam keadaan steril saat digunakan
diawal dan dilakukan strilisasi ulang saat setelah
pemakaian sesuai prosedur sterilisasi
alat penanganan jenazah
3. Prosedur disini dengan semua prosedur semua
ditangani oleh petugas mulai saat memandikan
sampai menguburkan kecuali saat mensholati yang
akan dipimpin oleh modin setempat
4. Pelaksana perawatan jenazah adalah bidan dan
perawat tumpang
5. kewaspadaan dini dalam hal ini yang paling
gencar saat ini adalah HIV-AIDS dan FLU burung,
tetapi tidak menutup kemungkinan penyakit
penyakit lain yang berbahaya.
Prosedur Alat Yang Disiapkan :
Alat pelindung diri diantaranya : sarung tangan,
pelindung muka (masker dan kaca mata),
gaun/jubah/apron dan pelindung kaki

Penatalaksanaan :
1. Petugas melakukan cuci tangan dengan
menggunakan antiseptik bisa pilih salah satu
antiseptik dan dilanjutkan dengan mencuci tangan
kembali dengan air mengalir selama 2-5 Menit
2. Semua Petugas memakai alat pelindung semua
alat haru dipakai pada saat menangani jenazah
untuk mengurangi pejanan darah dan cairan tubuh
jenazah
3. Petugas yang sudahberpakain lengkap
mengangakat jenazah ke meja untuk dimandikan
4. Setelah selesasi dimandikan jenazah di siram
dengan larutan kaporit , tunggu 5 10 menit dan
bilas ulang dengan air sampai kering dengan dosis
kaporit dengan konsentrasi 35 % : 14 dr kaporit
dalam 1 liter air, kaporit dengan konsentrasi 60% :
8 gr kaporit dalam 1 liter air, kaporit dengan
konsentrasi 70 % :7,1 % gr kaporit dalam 1 liter air
5. Setelah jenazah kering dilakukan pengkafanan
dengan bungkus kain kafan yang harus dilakukan
oleh petugas yang berpakaian lengkap
6. Setelah dikafani pasien dibungkus dengan
plastik
7. Setelah petugas selesasi mengakfani petugas
menyerahkan ke modin setempat untuk disholatkan
8. Modin memimpin pelaksanaan sholat
jenazah sesuai pelaksanaan sholat jenazah
9. Selesai sholat, Selanjutnya jenazah diangkat oleh
petugas ke keranda mayat untuk dibawa ke
pamakaman
10. Pada saat sampai petugas menyerahkan kepada
modin untuk melakukan ritual sesuai adat setempat
, dan apabila lubang kuburan sudah siap maka
selanjutnya pelaksanaan penguburan dapat
dilaksanakan
11. Penguburan dilakukan oleh petugas sampai
jenazah berada di tanah untuk selanjutnya sesuai
penguburan di daerah setempat
Diposkan oleh Syakira Husada di 14.54
againya
19 Januari 2010
SOP Penanganan Luka Bakar
Pengertian Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan
benda-benda yang menghasilkan panas (misalnya : api, air panas, listrik) atau
zat-zat yang bersifat membakar (misalnya : asam kuat dan basa kuat)
- Mencegah masukan kuman-kuman dan kotoran kedalam luka
- Mencegah sekresi yang berlebihan
- Mengurangi rasa sakit
- Mengistirahatkan bagian tubuh yang luka atau sakit
- Merawat semua derajat luka bakar sesuai dengan kebutuhan
Tujuan Sebagai acuan dalam melakukan pengobatan luka bakar
Kebijakan Perawat yang terampil
Alat-alat yang lengkap
Prosedur PERSIAPAN ALAT STERIL :
1. pinset anatomi 6. Kassa
2. Pinset chirurge 7. Kapas
3. Gunting 8. Hand scoen
4. bengkok 9. spuit
5. kom kecil 10. NaCl

BAKI/POLEY BERISI ALAT NON STERIL :


1. Gunting balutan 4. SSD (silver sulfa diacin)
2. Plester 5. Tempat sampah
3. Verban

PELAKSANAAN :
1. Memberitahu pasien dan keluarga
2. Perawat cuci tangan
3. Mengatur posisi (perawat memakai hand scoen)
4. Perawat membersihkan luka bakar
5. Mendesinfektan luka dan sekitarnya dengan NaCl

Unit Rawat Inap


terkait
Diposkan oleh Syakira Husada di 14.47
ebagainya
19 Januari 2010
PROTAP TRIASE
Pengertian Memilah dan menentukan derajat kegawatan
penderita.
Tujuan Sebagai acuan menentukan prioritas dan tempat
pelayanan medik penderita.
Kebijakan Mendahulukan penderita yang lebih gawat bukan
yang datang dahulu.
Prosedur 1. Penderita datang diterima petugas /
paramedis UGD
2. in form concern (penandatangan persetujuan
tindakan) oleh keluarga pasien.
3. Diruang triase dilakukan anamnese dan
pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk
menentukan derajat kegawatannya. Oleh
paramedis yang terlatih / dokter.
4. Penderita dibedakan menurut kegawatnnya
dengan memberi kode huruf :
a. P III adalah penderita tidak gawat dan
tidak darurat.
Misalnya : Penderita Common Cold,
penderita rawat jalan, abses, luka robek,
b. P II adalah penderita yang kegawat
daruratan masih tidak urgent
Misalnya : Penderita Thipoid,
Hipertensi,DM,
c. P I adalah penderita gawat darurat (pasien
dengan kondisi mengancam)
Misalnya : Penderita stroke trombosis, luka
bakar, Appendic acuta, KLL , CVA, MIA,
asma bronchial dll

5. Penderita mendapatkan prioritas pelayanan


dengan urutan warna : P I-PII-PIII.
6. Pada waktu jam kerja penderita dengan
prioritas PIII dikirim ke BP / rawat jalan

Unit terkait Poliklinik, Ruang perawatan


Diposkan oleh Syakira Husada di 14.07
bagainya
15 Januari 2010
SOP PEMELIHARAAN ALKES/KEPERAWATAN
Pengertian Melaksanakan pemeliharaan alat-alat
keperawatan dan alatalat kedokteran dengan
cara membersihkan, mendesinfektan,
menyeterilkan dan menyimpannya
Tujuan Sebagai acuan untuk pemeliharaan alat medis
dan keperawawtan
Kebijakan
Prosedur A. Pemeliharaan Peralatan dari Logam
1. Membersihkan dan desinfektan :
a. Peralatan :
- Alat kotor
- Larutan desinfektan, gelas
pengukur
- Bak/ember tempat merendam
- Air mengalir
b. Prosedur :
- Memakai sarung tangan
- Membersihkan alat dari
kotoran yang melekat dibawah air
kran mengalir
- Dikeringkan (setelah kering
dimasukan kesteroilisator)
2. Menyeterilkan dan Penyimpanan Alat
Logam
a. Peralatan :
- Alat-alat logam
- Sterilisator
- Panas kering
- Kain pembungkus bila perlu
b. Prosedur :
- Memakai panas kering
(sterilisator)
- Menyusun alat-alat ke
dalam bak instrumen dalam
keadaan bersih/kering
- Membungkus bak
instrumen berisi alat dengan kain
- Memasukkan alat ke
dalam autoclave (sentral) selama
30 menit untuk yang dibungkus,
20 menit untuk yang tidak
dibungkus.
- Mengangkat alat dari
sterilisator dan menyimpan dalam
tempatnya
B. Pemeliharaan Tensi Meter
- Mengunci air raksa setelah
pemakaian alat.
- Menggulung kain beserta manset
dan disusun / dimasukkan ke dalam bak
tensimeter.
- Menutup tensimeter dan
menyimpan pada tempatnya.
- Kain manset dicuci bila kotor
atau satu kali seminggu.
- Perhatikan kaca pengukur
harus tetap dalam keadaan bersih dan
mudah di baca.

C. Membersihkan Dan Mendesinfeksi


Serta Menyimpan Pispot
a. Peralatan
- Pispot + urinal kotor.
- Sarung tangan
- Larutan desinfektan (bayclin)
- Bak septik tank
- Keranjang sampah.
- Bak/ ember tempat merendam.
- Lap bersih dan kering.
- Sikat bertangkai

b. Prosedur
- Membawa pispot yang kotor ke
dalam spoel hoek.
- Memakai sarung tangan.
- Membuang tissue bekas pakai
keranjang ke keranjang sampah, dengan
memakai korentang spoel hoek
- Membuang kotoran ke bak septik
tank, kemudian mengalirkan air kran
supaya kotoran masuk tangki septik tank.
Membilas alat dari kotoran yang masuk,
melekat dengan mempergunakan sikat
bertangkai
- larutan desinfektan sampai semua
permukaan pispot terendam.
- Membersihkan pispot dengan cara
menyikat memakai air sabun/ detergen.
- Membilas pispot di bawah air
mengalir
- Merendam pispot di bak /ember
tempat perendam yang berisi (bayclin)
- Mengeringkan pot dengan kain
lap.
- Menyimpan pot pada tempatnya.
-
D. Membersihkan Dan Mendesinfeksi
Serta Menyimpan Urinal
a. Peralatan
- Urinal yang kotor.
- Sarung tangan
- Larutan desinfektan
- Bak septik tank.
- Bak/ ember perendam
- Lab bersih dan kering
- Sikat
b. Prosedur
- Membawa urinal ke kamar spoel
hoek.
- Memakai sarung tangan.
- Membuang urinal ke bak septik
tank.
- Membilas urinal dengan air.
- Merendam urinal dalam bak/
ember yang berisi larutan desinfektan
sampai semua permukaan urinal
terendam (konsentrasi sama dengan
perendaman pispot)
- Memberihkan dengan cara
menyikat memakai sabun/detergen
- Membilas urinal dibawah air
mengalir
Mengeringkan urinal dan
menggantungkannya ditempatnya

Prosedur
Unit Bagian keperawatan, umum
terkait

Diposkan oleh Syakira Husada di 22.51


15 Januari 2010
SOP VISUM
Pengertian Melayani perrnintaan pembuatan visum et repertum.
Tujuan Sebagai acuan membuat visum setelah melakukan
pemeriksaan pasien atau jenazah.
Kebijakan Visum adalah sebagai bahan bukti pengganti bila
diperlukan dipengadilan.
Pelayanan visum disini adalah visum hidup
Prosedur 1. UGD puskesmas Tumpang melayani Visum hidup,
2. Permintaan Visum diajukan secara resmi dan tertulis
oleh Kepolisian kepada Puskesmas.
3. Pengajuan permintaan Visum disampaikan di UGD
dalam waktu 2 x 24 jam sejak kejadian oleh petugas
kepolisian
4. Petugas UGD meneliti surat permintaan Visum,
setelah meneliti kebenaran surat, petugas menulis tanggal,
jam penerimaan, nama dan tanda tangan.
5. Apabila penderita / korban sudah masuk
ruangan maka surat permintaan Visum ada di
UGD '
6. Visum dibuat berdasarkan pemeriksaan
penderita pada saat permintaan Visum Et
repertum.
7. Bila penderita / korban sudah meninggal
maka petugas UGD memriksa kondisi secara
umum.
8. penderita yang sudah meninggal dirujuk ke
RRSA
9. Visum hidup dibuat dan ditanda tangani
oleh Dokter yang memeriksa / menangani
penderita pada saat visum diterima.
10. Visum bisa diambil oleh petugas kepolisian
dalam waktu 2 X 24 jam.
11. petugas menandatangani penerimaan laporan
visum

catatan : dokumentasi visum (menggunakan kamera


khusus visum kemudian disimpan dikomputer UGD)

Unit Ambulance, Kepolisian


terkait

Diposkan oleh Syakira Husada di 22.46


15 Januari 2010
SOP Pemberian Imunisasi BCG
1. Nama Pekerjaan
Pemberian Imunisasi BCG
2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pemberian imunisasi Bacillus Calmette Guerin (BCG )agar
anak mempunyai daya tahan terhadap penyakit Tuberkulosis (TBC)
3. Ruang Lingkup
Semua pasien yang akan di imunisasi BCG di unit pelayanan KIA pada anak berumur
0 - 11 bln
4. Ketrampilan Petugas
3.1 Dokter
3.2 Bidan
3.3 Perawat
5. Uraian Umum
5.1. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycrobacterium
tuberculosa ( batuk darah )
5.2. Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam
6. Alat dan Bahan
6.1. Alat
Tidak ada
6.2. Bahan
5.1.1 Vaksin BCG
5.1.2 Jarum dan semprit disposibel 1 ml
5.1.3 Disposibel 5 cc untuk melarutkan
5.1.4 Kapas
5.1.5 Kartu imunisasi
7. Instruksi Kerja
7.1. Petugas mencuci tangan
7.2. Pastikan vaksin dan spuit yang akan di gunakan
7.3. Larutkan vaksin dengan cairan pelarut BCG 1 ampul ( 4 cc )
7.4. Pastikan anak belum pernah di BCG dengan menanyakan pada orang tua
anak tersebut
7.5. Ambil 0.05 cc vaksin BCG yang telah kita larutkan tadi
7.6. Bersihkan lengan dengan kapas yang telah dibasahi air bersih, jangan
menggunakan alkohol / desinfektan sebab akan merusak vaksin tersebut
7.7. Suntikan vaksin tersebut sepertiga bagian lengan kanan atas (tepatnya pada
insertio musculus deltoideus) secara intrakutan (ic) / dibawah kulit
7.8. Rapikan alat-alat
7.9. Petugas mencuci tangan
7.10. Mencatat dalam buku
8. Indikator Kinerja
Mendapatkan hasil yang baik , tepat dan akurat
9. Catatan Mutu
9.1. Buku register bayi
9.2. Kohor bayi
9.3. Status bayi
9.4. Kartu KMS
Diposkan oleh Syakira Husada di 13.39
15 Januari 2010
SOP Pemberian Immunisai Polio
1. Nama pekerjaan
Pemberian Immunisai Polio

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pemberian imunisasi polio agar anak mempunyai daya tahan
terhadap penyakit polio.

3. Ruang Lingkup
Semua pasien yang akan melakukan imunisasi polio di unit pelayanan KIA pada anak
berumur 0 - 11 bln

4. Ketrampilan Petugas
4.1. Dokter
4.2. Bidan
4.3. Perawat

5. Uraian Umum
5.1. Imunisasi polio diberikan pada bayi mulai umur 0 11 bulan dalam ruang
lingkup KIA dan 0 59 bulan untuk kegiatan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
5.2. Imunisasi polio di Puskesmas Puger diberikan sampai 4 kali dengan selang
waktu 1 bulan

6. Alat dan bahan


6.1. Alat
6.1.1 Pinset / gunting kecil
6.2. Bahan
6.1.2 Vaksin Polio
6.1.3 Pippet Polio

7. Instruksi Kerja
7.1 Petugas mencuci tangan
7.2 Pastikan vaksin polio dalam keadaan baik (perhatikan nomor , kadaluarsa
dan vvm / vaksin vial monitor)
7.3 Buka tutup vaksin dengan menggunakan pinset / gunting kecil
7.4 Pasang pipet diatas botol vaksin
7.5 Letakkan anak pada posisi yang senyaman mungkin
7.6 Buka mulut anak dan teteskan vaksin volio sebanyak 2 tetes
7.7 Pastikan vaksin yang telah diberikan ditelan oleh anak yang di imunisasi
7.8 Jika di muntahkan atau di keluarkan oleh anak, ulangi lagi penetesannya
7.9 Saat meneteskan vaksin ke mulut, agar vaksin tetap dalam kondisi steril
7.10 Rapikan alat
7.11 Petugas mencuci tangan
8. Indikator Kinerja
Mendapatkan hasil yang baik dan efektif

9. Dokumen Terkait
Status pasien

10. Kontra Indikasi

11. Referensi

12. Catatan mutu


12.1 Kohor bayi
12.2 Register KIA
12.3 Status bayi
12.4 Kartu imunisasi

Disahkan Oleh Dibuat Oleh

Dr. Santoso Gunawan Nurul Asyaroti


Kepala Puskesmas Pengendali Unit

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.29


15 Januari 2010
SOP Penentuan Faktor Resti Untuk Ibu Hamil
1. Nama Pekerjaan
Faktor Resti Untuk Ibu Hamil

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam menentukan factor resiko dan resiko tinggi pada ibu hamil

3. Ruang Lingkup
Semua ibu hamil yang datang berobat ke UPTD Puskesmas Kendal Kerep

4. Ketrampilan Petugas
3.1 Dokter
3.2 Bidan

5. Alat dan bahan

5.1 Alat
5.1.1 Timbangan Berat badan
5.1.2 Pita pengukur lingkar lengan atas
5.1.3 Pengukur Tinggi Badan
5.1.4 Tensi Meter
5.1.5 Buku KIA ( Score Poedji Rochjati)
5.2 Bahan
5.2.1 Tidak ada

6. Instruksi Kerja
Faktor Resiko Ibu Hamil diantaranya
6.1 Primi muda, hamil ke-1 umur kurang dari 16 tahun
6.2 Primi tua, hamil ke-1 umur lebih dari 35 tahun, atau terlalu lambat hamil ke-1
kawin lebih dari 4 tahun.
6.3 Terlalu lama hamil lagi, lebih dari 10 tahun.
6.4 Terlalu cepat hamil lagi, kurang dari 2 tahun
6.5 Terlalu banyak anak, Anak lebih dari 4
6.6 Terlalu tua, umur lebih dari 35 tahun
6.7 Tinggi badan kurang dari 145 cm
6.8 Pernah gagal kehamilan
6.9 Pernah melahirkan dengan tarikan tang / vakum
6.10 Pernah melahirkan dengan Uri dirogoh
6.11 Pernah melahirkan dengan diberi infuse/transfusi.
6.12 Pernah operasi seksio
6.13 Adanya penyakit pada ibu hamil : kurang darah, Malaria, TBC paru, Payah
jantung, kencing manis dan penyakit menular seksual.
6.14 Adanya bengkak pada muka/tungkai dan tekanan darah tinggi.
6.15 Hamil kembar 2 atau lebih.
6.16 Hamil kembar air (Hydramnion).
6.17 Bayi mati dalam kandungan.
6.18 Kehamilan lebih bulan.
6.19 Hamil letak sungsang.
6.20 Hamil letak lintang.
6.21 Hamil dengan perdarahan.
6.22 Pre eklamsi berat (kejang)

Kriteria Faktor Resiko Tinggi Ibu Hamil diantaranya


6.23 HB kurang dari 8 gr %
6.24 Tekanan darah tinggi (Sistole > 140 mmHg, diastole > 90 mmHg)
6.25 Eklampsia
6.26 Oedema yang nyata
6.27 Perdarahan pervaginam
6.28 Ketuban pecah dini
6.29 Letak lintang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu
6.30 Letak sungsang pada primigravida
6.31 Infeksi berat / sepsis
6.32 Persalinan premature
6.33 Kehamilan ganda
6.34 Janin yang besar
6.35 Penyakit kronis pada ibu ; Jantung, paru, ginjal, dll
6.36 Riwayat obstetric buruk, riwayat bedah sesar dan komplikasi kehamilan .

Penatalaksanaan sesuai kelompok Resiko :


6.37. Jumlah skor 2, termasuk kelompok Bumil resiko rendah (KRR), pemeriksaan
kehamilan bisa dilakukan bidan, tidak perlu dirujuk, tempat persalinan bisa di
polindes, penolong bisa bidan.
6.38. Jumlah skor 6-10, termasuk kelompok Bumil resiko Tinggi (KRT), pemeriksaan
kehamilan dilakukan bidan atau dokter, rujukan ke bidan dan puskesmas,
penolong persalinan bidan atau dokter.
6.39. Jumlah skor lebih dari 12, termasuk kelompok Resiko Sangat Tinggi (KRST),
pemeriksaan kehamilan harus oleh dokter, penolong harus dokter

7. Indikator Kinerja
Faktor resti dapat diidentifikasi sedini mungkin sehingga dapat mengatasi akibat dari
resti itu sendiri dan menurunkan angka kematian ibu.
8. Catatan mutu
8.1 Register Kohort Ibu Hamil
8.2 Register KIA
8.3 Status Ibu
8.4 Buku KIA
8.5 Laporan AMP
9. Referensi.
Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Dinas Kesehatan Kota Malang, 2007

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.40


5 Januari 2010
SOP Membimbing ibu cara menyusui yang baik
1. NAMA PEKERJAAAN
Membimbing ibu cara menyusui yang baik
2. TUJUAN
Sebagai acuan dalam membimbing ibu melakukan cara menyusui yang baik
3. RUANG LINGKUP
Semua pasien post partum yang menyusui
4. KETERAMPILAN PETUGAS
4.1. Dokter
4.2. Bidan Trampil
5. ALAT DAN BAHAN
5.1. Alat
5.1.1. Kursi yang rendah agar kaki tidak menggantung dan punggung bersandar
pada kursi
5.2. Bahan
5.2.1. Lap bersih / tissue

6. INSTRUKSI KERJA
6.1. Beritahu ibu untuk cuci tangan dahulu.
6.2. Keluarkan ASI sedikit lalu oleskan pada puting susu dan areola sekitarnya.
6.3. Ibu duduk dengan santai menggunakan kursi yang rendah
6.4. Punggung bersandar dengan santai pada kursi.
6.5. Pegang bayi dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu dan
bokong bayi terletak pada lengan ibu. Kepala bayi tidak boleh terngadah dan bokong
bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
6.6. Satu tangan bayi pada arah badan ibu sebaiknya diletakkan dibelakang badan ibu.
6.7. Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara ibu.
6.8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
6.9. Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
6.10. Ibu memegang payudara dengan ibu jari diatas payudara dan jari lain menopang
dibawah payudara, jangan menekan puting susu / areolanya saja.
6.11. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi / sisi
mulut bayi dengan putting susu.
6.12. Setelah bayi membuka mulut dengan cepat punggung bayi didekatkan kepayudara
ibu dengan puting susu dan areola dimasukkan kedalam mulut bayi.
Usahakan sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi sehingga puting berada
dilangit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar.
6.13. Sebaiknya bayi menyusu pada satu payudara sampai payudara terasa kosong.
6.14. Lanjutkan dengan menyusui pada payudara yang satu lagi.
6.15. Cara melepaskan isapan bayi
6.15.1. Masukkan jari kelingking ibu kemulut bayi melalui sudut mulutnya.
6.15.2. Tekan dagu bayi kebawah
6.16. Setelah selesai menyusui, keluarkan ASI sedikit dan oleskan pada putting susu serta
areola sekitarnya dan biarkan erring sendiri.
6.17. Jangan lupa menyendawakan setelah menyusui dengan cara.
6.17.1. Bayi di gendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu dan tepuk
punggungnya berlahan.
6.17.2. Bayi tidur terlungkup dipangkuan ibu dan tepuk punggungnya berlahan.

7. DOKUMEN TERKAIT

8. INDIKATOR KINERJA
Ibu mengerti dan bisa melakukan cara menyusui yang benar.

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.42


15 Januari 2010
SOP Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid
1. Nama Pekerjaan
Pemberian Imunisasi Tetanus Toxoid

2. Tujuan
Sebagai acuan untuk melaksanakan suntikan TT untuk pemberian kekebalan aktif
terhadap tetanus.

3. Ruang lingkup
Petunjuk kerja ini mencakup unit pelayanan di ruang tindakan, unit pelayanan KIA yang
diberikan pada ibu hamil dan calon penganten.

4. Ketrampilan petugas
4.1 Bidan terlatih.
4.2 Dokter
4.3 Perawat terlatih

5. Uraian Umum
4.1 Imunisasi Tetanus Toxoid terbukti sebagai satu upaya pencegahan penyakit Tetanus.
4.2 Diberikan pada usia kehamilan trimester pertama, dengan interval waktu 4 minggu.
4.3 Disuntikan pada lengan atas secara intra muscular (im) sebanyak 0,5 ml, Intra Muskular
atau subcutan
4.4 Sebelumnya lengan dibersihkan dengan kapas yang telah dibasahi air hangat.
4.5 Kontra indikasi : gejala gejala berat karena dosis pertama TT
4.6 Referensi : pedoman teknis Imunisasi tingkat Puskesmas.

6. Alat dan Bahan


6.1 Alat
Tidak ada
6.2 Bahan
6.2.1 Kapas
6.2.2 Serum Tetanus Toxoid
6.2.3 Jarum Suntik disposibel 2,5 ml
6.2.4 Air bersih hangat

7. Instruksi Kerja
7.1 Lakukan identifikasi dan anamnesa dengan menanyakan pada pasien :
7.1.1.1 Nama, Umur dan alamat
7.1.1.2 Apakah ada alergi terhadap obat-obatan
7.2 Pastikan kondisi pasien dalam keadaan sehat
7.3 Isi Form persetujuan tindakan medik dan pasien tanda tangan untuk
persetujuan
7.4 Tulis tarif tindakan dan persilahkan pasien membayar ke kasir
7.5 Siapkan bahan dan alat suntik
7.6 Ambil vaksin dengan jarum dan semprit disposible sebanyak 0,5 ml
7.7 Persilahkan pasien duduk
7.8 Oleskan kapas steril pada lengan kiri bagian atas
7.9 Suntik pada lengan kiri bagian atas secara intra musculer
7.10 Olesi bekas suntikan dengan kapas steril
7.11 Buang jarum bekas suntikan ke dalam kotak
7.12 Persilahkan pasien menunggu 15 menit di luar, dan jika tidak terjadi efek
samping pasien boleh pulang
7.13 Catat pada buku status dan KMS ibu hamil

8. Indikator Kinerja
Tidak terjadi tetanus toxoid pada saat melahirkan
9. Catatan Mutu
9.1 Kartu status ibu- RB (Ibu hamil)
9.2 Buku register kohort ibu hamil
9.3 Buku register ibu hamil
9.4 Buku catatan resiko tinggi
9.5 Formulir Persetujuan Tindakan Medik

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.43


5 Januari 2010
SOP Rujukan Neonatus Dengan Asfiksia
1. NAMA PEKERJAAN
Rujukan Neonatus Dengan Asfiksia
2. TUJUAN
Sebagai acuan dalam merujuk Neonatus dengan Asfiksiaia
3. RUANG LINGKUP
Semua Neonatus dengan Aspexia yang akan dirujuk
4. KETERAMPILAN PETUGAS
Dokter dan Bidan yang akan merujuk Neonatus dengan Asfiksia
5. ALAT DAN BAHAN
5.1. Alat.
5.1.1. Selimut hangat/tebal yang bersih/popok serta kain penyeka muka.
5.1.2. Sungkup no.1 untuk bayi cukup bulan dan no.0 untuk bayi kurang bulan
5.1.3. Penghisap lendir.slym dan penekan lidah : 1 set
5.1.4. Meja kering, bersih dan hangat
5.1.5. Pemotong dan pengikat tali pusat : 1 set
5.1.6. Timer ( jam tangan yang ada detiknya )
5.2. Bahan.
5.2.1. Oxygen, ventilasi dengan oxygen

6. INSTRUKSI KERJA
Neonatus yang mengalami asfiksia memerlukan penangan khusus oleh dokter, selama
proses merujuk petugas perlu melakukan tindakan sbb:
6.1. Penanganan Umum.
6.1.1. Keringkan bayi, ganti kain yang basah dan bungkus dengan kain yang hangat
yang kering.
6.1.2. Jika belum dilakukan, segera klem & potong tali pusat
6.1.3. Letakan bayi ditempat keras dan hangat ( dibawah radiant heater ) untuk
resusitasi
6.1.4. Kerjakan pedoman pencegahan infeksi dalam melakukan tindakan perawatan
dan resusitasi
6.2. Resusitasi.
Perlunya resusitasi harus ditentukan sebelum akhir menit pertama kehidupan .
Indikator terpenting bahwa diperlukan resusitasi adalah kegagalan nafas setelah bayi
lahir.

6.3. Membuka jalan nafas / mengatur posisi bayi sebagai berikut :


Posisi bayi :
6.3.1. Terlentang
6.3.2. Kepala lurus dan sedikit terngadah / ekstensi ( posisi mencium bau )
6.3.3. Bayi diselimuti, kecuali muka dan dada
6.3.4. Bersihkan jalan nafas dengan menghisat mulut lalu hidung, jika terdapat
darah/ meconium dimulut atau hidung, hisap segera untuk menghindari
aspirasi.
Catatan : Jangan menghisap terlalu dalam ditenggorokan, karena dapat
mengakibatkan turunnya rekuensi denyut jantung bayi atau bayi berhenti
bernafas.
6.3.5. Tetap jaga kehangatan tubuh bayi.
6.3.6. Nilai kembali keadaan bayi :
- Jika bayi mulai menangis atau bernafas lanjutkan dengan asuhan awal
bayi baru lahir.
- Jika bayi tetap tidak bernafas lanjutkan dengan ventilasi.
6.4. Ventilasi bayi baru lahir.
6.4.1. Cek kembali posisi bayi ( kepala sedikit ekstensi )
6.4.2. Posisi sungkup dan cek perlekatannya
6.4.3. Pasang sungkup diwajah, menutupi pipi, mulut dan hidung
6.4.4. Rapatkan perlekatan sungkup dengan wajah
6.4.5. Remas balon dengan 2 jari atau seluruh tangan tergantung besarnya balon.
6.5. Ventilasi bayi jika perlekatan baik dan terjadi pengembangan dada. Pertahankan
frekuensi ( sekitar 40 x / menit ) dan tekanan ( amati dada mudah naik dan turun ).
6.5.1. Jika dada naik maka kemungkinan tekanan adekuat.
6.5.2. Jika dada tidak naik :
Cek kembali dan koreksi posisi bayi
Reposisi sungkup untuk pelekatan lebih baik
Remas balon lebih kuat untuk mukus, darah / mekonium
6.6. Lakukan ventilasi selama 1 menit, berhenti dan nilai apakah terjadi nafas spontan
6.6.1. Jika pernafasan normal ( frekwensi 30 60 x / menit ), tidak ada tarikan
dinding dada dan suara merintih dalam 1 menit, resusitasi tidak diperlukan
lanjutkan dengan asuhan awal bayi baru lahir.
6.6.2. Jika bayi belum bernafas atau nafas lemah, lanjutkan ventilasi sampai nafas
spontan terjadi.
6.7. Jika bayi mulai menangis, hentikan ventilasi dan amati nafas selama 5 menit setelah
tangis berhenti.
6.7.1. Jika pernafasan normal (frekwensi 30 60 x / menit), tidak ada tarikan
dinding dada dan suara merintih dalam 1 menit resusitasi tidak diperlukan.
Lanjutkan dengan asuhan awal bayi baru lahir.
6.7.2. Jika frekwensi 30 x / menit, lanjujtkan ventilasi.
6.7.3. Jika terjadi tarikan dinding dada yang kuat, ventilasi dengan oxygen, jika
tersedia, rujuk kekamar bayi atau tempat pelayanan yangh dituju.
6.8. Jika nafas belum teratur setelah 20 menit ventilasi :
6.8.1. Rujuk ke pelayanan yang dituju.
6.8.2. Selama dirujuk, jaga bayi tetap hangat dan berikan ventilasi jika diperlukan.
6.9. Jika tidak ada usaha bernafas, megap megap atau tidak ada nafas setelah 20 menit
ventilasi, hentikan ventilasi, bayi lahir mati, berikan dukungan psikologis kepada
keluarga.

7. INDIKATOR KERJA
Neonatus yang mengalami asfiksia mendapat penangan yang sesuai protab

8. DOKUMEN TERKAIT
8.1. Kartu Anak
8.2. Surat rujukan
8.3. Buku Rujukan
8.4. Buku KIA
5 Januari 2010
SOP PENGISIAN KAARTU BAYI

1. Nama Pekerjaan
Pengisian Kartu Status Bayi

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pengisian kartu status bayi secara lengkap dan benar.

3. Ruang lingkup
Kartu status bayi untuk bayi di bawah 1 tahun yang datang ke unit pelayanan KIA

4. Ketrampilan Petugas
4.1 Bidan dan petugas terlatih
4.2
5. Alat dan Bahan
5.1 Alat
5.1.1 Ballpoint
5.1.2 Kartu status bayi
5.1.3 Timbangan berat badan

6. Instruksi Kerja
6.1 Tulis dengan ballpoint warna hitam dengan rapih dan jelas.
6.2 Tulis nomor register pasien pada kolom bagian kanan atas.
6.3 Tulis nama Puskesmas pada sudut kiri atas
6.4 Tulis identitas pasien di halaman depan pada kolom yang tersedia
6.4.1 Nama, alamat pasien
6.4.2 Tanggal lahir, jenis kelamin, tempat lahir
6.4.3 Panjang badan waktu lahir
6.5 Tulis identitas orang tua
6.5.1 Nama ayah, pekerjaan ayah
6.5.2 Nama ibu, pekerjaan ibu
6.6 Isi dan tulis pada bagian depan tegah
6.6.1 Macamnya persalinan : normal, tidak normal
6.6.2 Kelainan letak, CPD, cacat bawaan
6.7 Pelayanan persalinan

6.7.1 Dokter, bidan, tenaga puskesmas, dukun terlatih, tenaga terlatih


6.7.2 Tempat persalinan, rumah, rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin,
rumah bidan
6.8 Tulis anak nomor
6.9 Isi pada kolom ASI / Bukan ASI
6.10 Isi dan tulis pada kolom imunisasi, jenis imunisasi dan tanggal
6.11 Isi dan tulis pada halaman pemeriksaan kesehatan anak
6.11.1 Tanggal, umur, berat badan, jenis imunisasi, tanda tangan orang tua,
tanda tangan petugas, tanggal kembali
6.12 Isi dan tulis pada kolom grafik berat badan
6.12.1 Bulan kelahiran pasien
6.12.2 Bulan pasien berkunjung di puskesmas

7. Catatan Mutu
7.1 Kartu status Ibu
7.2 Buku register kesehatan bayi
7.3 Buku register kohort bayi

Disahkan Oleh Dibuat Oleh

Dr. Santoso Gunawan Nurul Asyaroti


Kepala Puskesmas Pengendali Unit
15 Januari 2010
SOP PENGISIAN KARTU ANAK

1. Nama Pekerjaan
Pengisian Kartu Anak
2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pengisian kartu status anak secara lengkap dan benar.
3. Ruang lingkup
Kartu Anak untuk anak yang datang ke unit pelayanan KIA
4. Ketrampilan Petugas
4.1 Bidan
4.2 Petugas terlatih
5. Alat dan Bahan
5.1 Alat
5.1.1 Ballpoint
5.1.2 Kartu status anak
5.1.3 Timbangan berat badan
6. Instruksi Kerja
6.1 Tulis dengan ballpoint warna hitam dengan rapih dan jelas.
6.2 Tulis nomor register pasien pada kolom bagian kanan atas.
6.3 Tulis nama Puskesmas/ Pustu tempat pelayanan pada sudut kiri atas
6.4 Tulis identitas pasien di halaman depan pada kolom yang tersedia
6.4.1 Nama anak
6.4.2 Tanggal lahir, jenis kelamin, tempat lahir
6.4.3 Berat badan waktu lahir (dalam gram)
6.5 Tulis identitas orang tua
6.5.1 Nama ayah dan ibu, pekerjaan ayah
6.5.2 Umur ayah dan ibu, pendidikan ayah dan ibu
6.5.3 Alamat anak
6.6 Isi tanggal pemberian imunisasi pada kolom pelayanan imunisasi bayi.
6.6.1 Tanggal pemberian imunisasi hepatitis B I/II/III, BCG, DPT I/II/III, Polio
I/II/III/IV dan Campak sesuai tanggal pemberian.
6.7 Isi pada kolom pelayanan Vit. A dosis tinggi
6.7.1 Tanggal pemberian Vit. A dosis tinggi sesuai tanggal pemberiannya.

6.8 Isi kolom Deteksi Dini Perkembangan anak.


6.8.1 Tulis hasil pemeriksaan aspek perkembangan motorik kasar, motorik
halus, gangguan bicara, gangguan sosialisasi dan kemandirian, pendengaran
dan penglihatan ( ditulis normal atau tidak normal) pada kolom sesuai umur
kunjungan.
6.9 Isi dan tulis pada halaman pemeriksaan kesehatan anak
6.9.1 Tanggal, umur, berat badan/status gizi, pertumbuhan gigi/ makanan anak,
keluhan anak, diagnosa medis/keperawatan, pengobatan /tindakan /rujukan,
tanda tangan petugas.
7. Catatan Mutu
7.1 Kartu Anak
7.2 Buku KIA
7.3 Buku register kesehatan Anak
7.4 Buku register kohort Anak

Disahkan Oleh Dibuat Oleh

Kepala Puskesmas Unit pengendali

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.25


15 Januari 2010
SOP PENGISIAN KARTU IBU HAMIL
1. Nama Pekerjaan
Pengisian kartu ibu hamil.
2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pengisian kartu status secara lengkap dan teliti.

3. Ruang Lingkup
Kartu status ibu hamil meliputi. :
3.1 Ante Natal Care ( ANC )
3.2 Audit Maternal Perinatologi ( AMP )
3.3 Imunisasi TT ( Tetanus Toxoid )
3.4 Deteksi Resiko Tinggi ( DRT)
3.5 Pemberian Zat Besi ( Fe)

4. Ketrampilan Petugas
4.1 Bidan
4.2 Petugas terlatih
5. Alat dan bahan
5.1 Alat
5.1.1 Ballpoint
5.1.2 Tensimeter
5.1.3 Timbangan berat badan
5.1.4 Meteran
5.1.5 Doppler
5.1.6 Leanec
5.2 Bahan
5.2.1 Kartu status
5.2.2 Pita lila
5.2.3 KMS ibu hamil
6. Instruksi Kerja
6.1 Tulis dengan tinta hitam dengan rapi dan jelas.
6.2 Tulis nomor register pasien pada kolom bagian kanan atas.
6.3 Tulis identitas pasien pada kolom yang tersedia
6.3.1 Nama, Umur, Agama, Pekerjaan, dan Alamat pasien.
6.3.2 Nama, umur, dan pekerjaan suami.
6.4 Beri tanda rumput pada kolom yang tersedia, bila sudah dilakukan imunisasi
TT.
6.5 Tulis riwayat kehamilan sebelumnya pada kolom yang tersedia.
6.5.1 Tanggal kelahiran
6.5.2 Hasil Persalinan ( Lahir hidup ( LH ), Lahir Mati ( LM ), Abortus
( AB )
6.5.3 Jenis kelamin anak ( laki laki ( L ) dan perempuan ( P ).
6.5.4 Keadaan pada kelahiran
6.5.5 Berat badan anak waktu lahir
6.5.6 Lamanya menyusui
6.5.7 Penolong Persalinan
6.6 Isi kolom riwayat penyakit
6.6.1 Beri tanda rumput jika pasien menderita penyakit yang
tertulis dalam kolom yang tersedia.
6.6.2 Tulis TAA ( tidak ada apa apa ) jika pasien tidak menderita
penyakit tersebut.
6.6.3 Tulis tahun riwayat penyakit tersebut diderita pasien.
6.7 Isi kolom riwayat persalinan
6.7.1 Beri tanda rumput pada kolom yang tersedia tentang
riwayat persalinan
6.7.2 Tulis tahun riwayat persalinan tersebut
6.8 Isi kolom riwayat Persalinan Sekarang
6.8.1 Tulis tanggal HPHT ( Hari pertama haid terakhir )
6.8.2 Tulis usia kehamilan
6.8.3 Tulis taksiran partus
6.8.4 Coret salah satu yang tidak perlu pada riwayat haid
6.8.5 Tulis siklus haid
6.8.6 Tulis cara kontrasepsi pasien
6.9 Isi kolom pemeriksaan Antenatal
6.9.1 Tulis tinggi badan dan ukuran Lila pasien
6.9.2 Tulis tanggal kunjungan pasien
6.9.3 Tulis keluhan pasien saat kunjungan
6.9.4 Tulis Berat Badan saat kunjungan
6.9.5 Tulis umur kehamilan ( dalam minggu )
6.9.6 Tulis tinggi Fundus Uteri saat kunjungan ( dibawah 24 minggu
dengan
jari, diatas 24 minggu dengan sentimeter )
6.9.7 Tulis letak janin ( kepala, sungsang, lintang )
6.9.8 Tulis frekuensi denyut jantung janin dalam satu menit
6.9.9 Tulis hasil pemeriksaan laboratorium ( Hb, Golongan darah,
Reduksi urin, Protein urin ).
6.9.10 Tulis hasil pemeriksaan khusus ( pemeriksaan cor dan pulmo )
6.9.11 Tulis tindakan dan terapi yang dilakukan ( pemberian imunisasi TT,
Tablet Fe, dan lain lain ) dikolom yamg tersedia.
6.9.12 Bubuhkan paraf petugas pada kolom yang tersedia setiap
pemeriksaan
6.10 Isi kolom resiko Tinggi
6.10.1 Tulis tanggal ditemukannya faktor resiko tinggi pada pasien.
6.10.2 Tulis jenis faktor resiko tinggi yang ditemukan pada pasien dengan
acuan Poedji Rochyati Score.
6.11 Isi kolom rujukan
6.11.1 Tulis tanggal dilakukannya rujukan
6.11.2 Tulis tujuan rujukan pasien
6.11.3 Tulis tindakan sementara yang dilakukan oleh penerima rujukan.
6.11.4 Pengisian kartu status ibu pada halaman berikutnya dilakukan oleh
unit pelayanan RB untuk pasien yang melakukan ANC di Puskesmas
kecamatan Cilandak.
6.11.5 Jika pasien ANC diluar puskesmas kecamatan Cilandak , pengisian
kartu status ibu dilakukan oleh Bidan unit pelayanan rumah bersalin.
7. Catatan Mutu
7.1 Kartu status Ibu- RB ( Ibu hamil )
7.2 KMS ibu hamil
7.3 Buku register kesehatan ibu hamil
7.4 Buku register kohort ibu hamil
againya
15 Januari 2010
SOP penatalaksanaan syok anafilaktik
1. Nama Pekerjaan
Syok Anafilaktik

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan syok anafilaktik di Puskesmas.

3. Ruang Lingkup
Semua pasien yang mengalami syok anafilaktik di semua unit pelayanan yang melakukan
tindakan medis yaitu :
3.1 Unit Pelayanan Kelurga Berencana
3.2 Unit Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
3.3 Unit Pelayanan Imunisasi
3.4 Unit Pelayanan Gigi
3.5 Ruang Tindakan

4. Ketrampilan Petugas
Semua tenaga medis dan paramedis terampil

5. Peralatan
5.1 Tabung Oksigen
5.2 Tensimeter
5.3 Ambulance (Jika di rujuk)
5.4 Adrenalin ampul
5.5 Dexamethason Vial
5.6 Jarum suntik disposibel 2,5 ml, 3 ml

6. Instruksi Kerja
6.1 Baringkan pasien dengan posisi kaki lebih tinggi
6.2 Berikan ADRENALIN inj. 0,3 cc (1 : 1000) secara Intra Muskular pada lengan atas.
6.3 Bila perlu dapat diulang tiap 15 menit, umumnya diperlukan 1-4 kali pemberian.
6.4 Pasang tornikuet proksimal dari tempat suntikan (untuk mencegah penyebaran),
tornikuet dikendurkan tiap 10 menit
6.5 Jaga sistem pernapasan dan sistem kardiovaskuler agar berjalan baik
6.6 Pemberian cairan bila diperlukan
6.7 Bila perlu Kortikosteroid dapat diberikan secara intravena.
6.8 Dosis Hidrocortison 5 mg / kg BB, dapat diulang tiap 4 6 jam
6.9 Bila keadaan tidak membaik, persiapkan rujukan ke fasilisas Kesehatan yang lebih
lengkap.

7. Dokumen Terkait
7.1 Buku Status Pasien
7.2 Protap syok anfilaktik.
7.3 Buku register unit pelayanan terkait
7.4 Buku daftar rujukan pasien

8. Indikator Kinerja
Kesadaran pasien dapat di perbaiki

9. Kontra Indikasi
-

10. Referensi

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.46


19 Januari 2010
SOP Observasi Pasien Gawat
Pengertian Memantau keadaan pasien gawat
Tujuan Sebagai acuan pemantauan/ observasi penderita
gawat agar selamat jiwanya .
Kebijakan Pelayanan yang cepat dan tepat akan
menyelamatkan jiwa seseorang.
Prosedur 1. Penderita gawat harus di observasi
2. Observasi dilakukan tiap 5 15 menit sesuai
dengan tingkat kegawatannya.
3. Observasi dilakukan oleh paramedis perawat,
bila perlu oleh dokter.
4. Hal-hal yang perlu diobservasi :
a. Keadaan umum penderita
b. Kesadaran penderita
c. Kelancaran jalan nafas (air Way).
d. Kelancaran pemberian O2
e. Tanda-tanda vital :
- Tensi
- Nadi
- Respirasi / pernafasan
- Suhu
f. Kelancaran tetesan infus
5. Apabila hasil observasi menunjukkan
keadaan penderita semakin tidak baik maka
paramedis perawat harus lapor kepada Dokter
yang sedang bertugas (diluar jam kerja
pertelpon).
6. Apabila kasus penyakitnya diluar kemampuan
Dokter UGD maka perlu dirujuk
7. Observasi dilakukan maksimal 2 jam,
selanjutnya diputuskan penderita bisa pulang atau
rawat inap.
8. Perkembangan penderita selama observasi
dicatat di kartu status penderita (les UGD) /
lembar observasi.
9. Setelah observasi tentukan apakah penderita
perlu : rawat jalan / rawat inap / rujuk

Unit Rawat Inap


terkait
Diposkan oleh Syakira Husada di 14.46
gainya
19 Januari 2010
SOP Orientasi petugas baru
Pengertian Tatacara mempersiapkan petugas baru UGD
Tujuan Sebagai acuan orientasi petugas UGD baru agar
petugas baru mengenal, mengetahui dan memahami
cara kerja di UGD.
Kebijakan Sebelum bertugas di UGD petugas baru perlu
menjalani orientasi selama 1 minggu sebagai persiapan
melaksanakan tugas.
Prosedur 1. Sebelum melaksanakan tugas di UGD petugas
baru melaksanakan orientasi / pengenalan UGD.

2. Masa orientasi / pengenalan selama 1 minggu / 6


hari kerja.

3. Jadual orientasi petugas baru :


* Hari ke I : Perkenalan dengan, Dokter
UGD, Kep. Ruangan
dan Petugas UGD lainnya.
* Hari ke II : Mengetahui struktur organisasi
dari struktur fungsional dan
mekanisme kerja UGD.
* Hari ke III : Mengetahui pembagian tugas
dan uraian tugas petugas UGD.
* Hari ke IV : Mempelajari protap-protap
UGD.
* Hari ke V : Memantapakan orientasi hari
ke I sampai hari ke IV.
* Hari ke VI : Menyaksikan dan mengikuti
pelaksanaan tugas sehari-
hari di UGD.

4. Setelah menjalani orientasi selama 1 minggu,


petugas baru mendapatkan tugas dalam uraian
tugasnya.

5. Pada minggu ke II petugas baru melaksanakan


tugas sesuai dengan tugas yang diberikan.

Unit TU
terkait
Diposkan oleh Syakira Husada di 14.45
5 Januari 2010
PROTAP / SOP PENANGANAN GASTROENTERITIS DI PUSKESMAS
Pengertian Mengetahui gejala , tanda tingkat dehidrasi dan
prinsip tindakan atau ( rehidran )
Tujuan Sebagai acuan tatalaksana penderita GE
agar petugas menyatakan tanda , gejala , tingkat
dehidrasi dan mampu menghitung kebutuhan cairan.
Kebijakan Sikap petugas harus mampu menyatakan tanda
gejala dan tingkat dehidrasi serta mampu mengukur
kebutuhan cairan bagi penderita.
Prosedur 1. Gejala yang menonjol dari GE adalah muntah
dan berak serta berulang, sehingga berakibat
kehilangan cairan / dehidrasi.

2. Dehidrasi secara klinik dibedakan 3 langkah :


a. Dehidarasi ringan
Kehilangan cairan 2 5 % BB
b. Dehidrasi sedang
Kehilangan cairan 5 -8 % BB
Gambaran klinik : Turgon jelip suara serak,
nadi cepat, nafas cepat, pre shok
c. Dehidrasi Beratat
Kehilangan cairan : 8 10 % BB
Gambaran klinik : syok, apatis, syonotik,
kejang, sampai koma

3. Prinsip tindakan adalah Rehidrasi sesuai


dengan tingkatan dehidrasi:
a. Dehidrasi ringan dilakukan rehidrasi
peroral.
b. Dehidrasi sedang dan berat dilakukan
rehidrasi parenteral dengan Infus cairan.

4. Penderita di MRS kan


Dalam 3 jam pertama diharapkan penderita
berubah status tingkat dehidrasi menjadi dehidrasi
ringan.

Unit RAWAT INAP, BP, PUSTU/POLINDES


terkait

Diposkan oleh Syakira Husada di 22.58


15 Januari 2010
SOP Pemberian Imunisasi DPT
1. Nama Pekerjaan
Pemberian Imunisasi DPT

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pemberian imunisasi DPT agar anak mempunyai daya tahan
terhadap penyakit Dipteri ( batuk rejan ).

3. Ruang Lingkup
Semua pasien yang akan melakukan imunisasi DPT di unit pelayanan KIA pada anak
berumur 0 - 11bln

4. Ketrampilan Petugas
3.1 Dokter
3.2 Bidan
3.3 Perawat

5. Uraian Umum
Tidak ada

6. Alat dan Bahan


5.1 Alat
Tidak ada

5.2 Bahan
5.2.1 Vaksin DPT
5.2.2 Jarum dan semprit disposibel
5.2.3 Kapas
5.2.4 Bersih

7. Instruksi Kerja
5.1 Petugas mencuci tangan
5.2 Pastikan vaksin yang akan di gunakan
5.3 Jelaskan kepada ibu anak tersebut, umur anak (2-11 bulan) jumlah suntikan 3x
untuk imunisasi DPT ini

5.4 Ambil 0,5 cc vaksin DPT


5.5 Bersihkan 1/3 paha bagian luar dengan kapas yang telah di basahi air bersih
5.6 Suntikan secara intra muskuler (im) atau sub kutan (sc)
5.7 Terangkan kepada ibu anak tersebut, tentang panas akibat DPT, berikan obat
penurun panas / antipiretik kepada ibu anak tersebut bila anak panas tinggi (lebih
dari 39 0c)
5.8 Rapikan alat-alat
5.9 Petugas mencuci tangan
5.10 Mencatat dalam buku
8. Indikator Kinerja
Mendapatkan hasil yang tepat dan benar

9. Catatan Mutu
8.1 Buku register bayi
8.2 Kohor bayi
8.3 Status bayi
8.4 Kartu KMS

Diposkan oleh Syakira Husada di 13.46


gainya
15 Januari 2010
SOP Pemberian Imunisasi Campak
1. Nama Pekerjaan
Imunisasi Campak

2. Tujuan
Sebagai acuan dalam pemberian imunisasi campak agar anak mempunyai daya tahan
terhadap penyakit campak.

3. Ruang Lingkup
Unit pelayanan KIA pada anak berumur 9 bulan

4. Ketrampilan Petugas
4.1. Dokter
4.2. Bidan
4.3. Perawat

5. Uraian Umum
Tidak ada

6. Alat dan Bahan


6.1. Alat
6.1.1. Pinset
6.1.2. Disposible spuit
6.2. Bahan
6.2.1. Vaksin
6.2.2. Pelarut
6.2.3. Kapas
6.2.4. Air

7. Instruksi Kerja
7.1. Petugas mencuci tangan
7.2. Pastikan vaksin dalam keadaan baik (no bact / exp / vvm)
7.3. Buka tutup vaksin dengan menggunakan Pinset
7.4. Larutkan dengan cairan pelarut campak yang sudah ada (5 cc)
7.5. Pastikan umur anak tepat untuk di imunisasi campak (9 bulan)
7.6. Ambil 0,5 cc vaksin campak yang telah dilarutkan tadi
7.7. Bersihkan lengan kiri bagian atas anak dengan kapas yang telah di basahi
air bersih
7.8. Suntikan secara sub (sc)
7.9. Rapikan alat
7.10. Cuci tangan petugas
8. Catatan Mutu
8.1. Kohort bayi
8.2. Buku Register KIA
8.3. Buku Status bayi
8.4. Kartu Imunisasi
Diposkan oleh Syakira Husada di 13.44
BALUT BIDAI

PROSEDUR TINDAKAN BALUT BIDAI

A. PENGERTIAN
Balut bidai adalah penanganan umum trauma ekstremitas atau imobilisasi dari lokasi
trauma dengan menggunakan penyangga misalnya splinting (spalk). Balut bidai adalah jalinan
bilah (rotan, bambu) sebagai kerai (untuk tikar, tirai penutup pintu, belat, dsb) atau jalinan bilah
bambu (kulit kayu randu dsb) untuk membalut tangan patah dsb.

B. TUJUAN BALUT BIDAI


1. Memperrtahankan posisi bagian tulang yang patah agar tidak bergerak
2. Memberikan tekanan
3. Melindungi bagian tubuh yang cedera
4. Memberikan penyokong pada bagian tubuh yang cedera.
5. Mencegah terjadinya pembengkakan
6. Mencegah terjadinya kontaminasi dan komplikasi
7. Memudahkan dalam transportasi penderita.

C. PRINSIP PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. Bahan yang digunakan sebagai bidai tidak mudah patah atau tidak terlalu lentur
2. Panjang bidai mencakup dua sendi
3. Ikatan pada bidai paling sedikit dua sendi terikat, bila bisa lebih dari dua ikatan lebih baik.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu longgar.
5. Prinsip pertolongan pertama pada patah tulang
6. Pertahankan posisi
7. Cegah infeksi
8. Atasi syok dan perdarahan
9. Imobilisasi (fiksasi dengan pembidaian)
10. Pengobatan :
a. Antibiotika
b. ATS (Anti Tetanus Serum)
c. Anti inflamasi (anti radang)
d. Analgetik/ pengurang rasa sakit

D. SYARAT SYARAT BALUT BIDAI :


1. Cukup kuat untuk menyokong
2. Cukup panjang
3. Diberi bantalan kapas
4. Ikat diatas dan dibawah garis fraktur (garis patah)
5. Ikatan tidak boleh terlalu kencang atau terlalu kendur.

E. MACAM-MACAM PEMASANGAN BALUT BIDAI


1. Spalk kayu
2. Pneuma splint
3. Traksi
4. Vacuum matras
5. Neck collar.

F. FRAKTUR
1. Pengertian
Fraktur adalah Putusnya hubungan tulang yang diakibatkan karena ruda paksa/ benturan.
2. Macam Macam Fraktur :
a. Menurut Perluasan
1) Patah tulang komplit
2) Patah tulang inkomplit/ tidak komplit
b. Menurut bentuk garis patah
1) Transversal
2) Oblique
3) Spiral
4) Comunited (remuk)
c. Menurut hubungan antar fragmen
1) Tanpa perubahan bentuk
2) Dengan perubahan bentuk
d. Menurut hubungan dengan dunia luar
1) Patah tulang terbuka
2) Patah tulang tertutup
e. Menurut lokalisasi
1) Pada tulang panjang :
proksimal
tengah
distal
2) Pada tulang Clavicula
medial
tengah
lateral

3. Patah Tulang Lengan Atas


Tindakan :
a. Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam
b. Pasang bidai dari siku sampai ke atas bahu
c. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
d. Lengan bawah di gendong.
e. Jika siku juga patah dan tangan tak dapat di lipat, pasang bidai sampai kelengan bawah dan
biarkan tangan tergantung tidak usah digendong
f. Bawah korban ke rumah sakit
4. Patah Tulang Lengan Bawah
Tindakan :
a. Letakkan tangan pada dada.
b. Pasang bidai dari siku sampai punggung tangan
c. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
d. Lengan di gendong
e. Kirim korban ke rumah sakit.

5. Patah Tulang Paha


Tindakan :
a. Pasang 2 bidai dari:
1) Ketiak sampai sedikit melewati mata kaki
2) Lipat selangkangan sampai sedikit melewati mata kaki
b. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah. Bila perlu ikat kedua
kaki di atas lutut dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan.

6. Patah Tulang Betis


Tindakan :
a. Pembidaian 2 buah mulai dari mata kaki sampai atas lutut
b. Diikat
Beri bantalan di bawah lutut dan di bawah mata kaki

A. PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN


1. Mitela yaitu pembalut berbentuk segitiga
2. Dasi yaitu mitela yang telipat-lipat sehingga berbentuk dasi
3. Pita yaitu penbalut berperekat
4. Pembalut yang spesifik
5. Kassa steril
6. Sarung tangan steril bila perlu.

B. PROSEDUR KERJA
1. Jelaskan prosedur kepada klien dan tanyakan keluhan klien
2. Cuci tangan dan gunakan handscoen steril
3. Jaga privasi klien
4. Lihat bagian tubuh yang akan dibidai
5. Atur posisi klien tanpa menutupi bagian yang akan dilakukan tindakan
6. Lepaskan pakaian atau perhiasan yang menutupi tenpat untuk mengambil tindakan.
4. Perhatikan tempat yang akan dibalut:
a. Bagian tubuh yang mana
b. Apakah ada bagian luka terbuka atau tidak
c. Bagaimana luas luka.
d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tertentu atau tidak
5. Lakukan balut bidai dengan melewati dua sendi
6. Hasil balut bidai:
a. Harus cukup jumlahnya, dimulai dari bagian bawah tempat yang patah
b. Tidak kendor dan keras.
7. Rapikan alat-alat yang tidak pergunakan.
8. Buka sarung tangan jika dipakai dan cuci tangan
9. Evaluasi dan dokumentasi tindakan.

C. PERHATIAN
1. Pemasangan hati-hati
2. Ingat nyeri dan kemungkinan syok
IRIGASI LAMBUNG
19.43 No comments

Pengertian irigasi lambung


Bilas lambung, atau disebut juga pompa perut dan irigasi lambung merupakan suatu prosedur
yang dilakukan untuk membersihkan isi perut dengan cara mengurasnya.
Pada anak-anak, jika menggunakan air biasa untuk membilas lambung akan berpotensi
hiponatremi karena merangsang muntah. Pada umumnya digunakan air hangat (tap water) atau
cairan isotonis seperti Nacl 0,9 %.
Pada orang dewasa menggunakan 100-300 cc sekali memasukkan, sedangkan pada anak-anak 10
cc/kg dalam sekali memasukkan ke lambung pasien.

Tujuan irigasi lambung


Membuang racun yang tidak terabsorbsi setelah racun masuk saluran pencernaan.
Mendiagnosa perdarahan lambung.
Membersihkan lambung sebelum prosedur endoscopy.
Membuang cairan atau partikel dari lambung.

Indikasi irigasi lambung


Keracunan obat oral kurang dari 1 jam
Overdosis obat/narkotik
Terjadi perdarahan lama (hematemesis Melena) pada saluran pencernaan atas.
Mengambil contoh asam lambung untuk dianalisis lebih lanjut.
Dekompresi lambung
Sebelum operasi perut atau biasanya sebelum dilakukan endoskopi.

Kontra indikasi irigasi lambung


Pada pasien yang mengalami cedera atau injuri pada system pencernaan bagian atas, menelan
racun yang bersifat keras atau korosif pada kulit, dan mengalami cedera pada jalan nafasnya,
serta mengalami perforasi pada saluran cerna bagian atas.

Alat irigasi lambung


Baki berisi NGT lengkap dengan corong sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
Ukuran NGT :
no.14-20 untuk ukuran dewasa
no. 8-16 untuk anak-anak
no.5-7 untuk bayi
Dua buah baskom
Perlak dan handuk sebagai pengalas
Stetoskop
Spuit 10 cc
plester
Piala ginjal dan kom penampung
Air hangat 1 sampai 2 liter
Kassa/tissue,
Jelly
Susu hangat

Prosedur tindakan pemasangan irigasi lambung


Tahap pra interaksi
a. Cek catatan keperawatan
b. Siapkan alat-alat
c. Cuci tangan
Tahap orientasi
a. Berikan salam, panggil klien dengan namanya.
b. Jelaskan tujuan, prosedur dan lamanya tindakan klien dan keluarga.
Tahap kerja
Mencuci tangan
Perawat memakai skort
Perlak dan alas dipasang disamping pasien
NGT di ukur dari epigastrium sampai pertengahan dahi kemudian diberi tanda
Ujung atas NGT diolesi jelly,bagian ujung bawah diklem
NGT dimasukkan perlahan-lahan melalui hidung pasien sambil disuruh menelannya ( bila pasien
sadar )
Periksa apakah NGT betul-betul masuk lambung dengan cara ;
Masukan ujung NGT kedalambaskom yang berisi air,jika tidak ada gelembung Maka NGT sudah
masuk kedalam lambung.
Masukan Udara dengan spuit 10cc dan didengarkan pada daerah lambung dengan menggunakan
stetoskop.setelah yakin pasang plester pada hidung untuk memfiksasi NGT.
Setelah NGT masuk pasien diatur dengan posisi miring tanpa bantal atau kepala lebih rendah
selanjutnya klem dibuka.
Corong dipasang diujung bawah NGT,air/susu dituangkan kedalam
corong jumlah cairan sesuai kebutuhan.cairan yang masuk tadi dikeluarkan dan ditampung dalam
baskom.
Pembilasan lambung dilakukan berulang kali sampai air yang keluar dari lambung sudah jernih.
Jika air yang keluar sudah jernih Selang NGT dicabut secara pelan-pelan dan diletakan dalam
baki.
Setelah selesai pasien dirapikan,mulut dan sekitarnya dibersihkan dengan tissue jelaskan pada
pasien bahwa prosedur yang dilakukan telah selesai.
Alat-alat dikemas dan dibersihkan
Perawat mencuci tangan
Mencatat semua tidakan yang telah dilakukan pada status pasien
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa, irigasi lambung dapat dilakukan dengan
indikasi :
Keracunan obat oral kurang dari 1 jam
Overdosis obat/narkotik
Terjadi perdarahan lama (hematemesis Melena) pada saluran pencernaan atas.
Mengambil contoh asam lambung untuk dianalisis lebih lanjut.
Dekompresi lambung
Sebelum operasi perut atau biasanya sebelum dilakukan endoskopi.
Sehingga seseorang tidak dapat dilakukan iri gasi lambung jika tidak termasuk dalam indikasi
tersebut, karena jika dilakukan tindakan itu, tindakan itu tidak efektif dan siasia bahkan
mengancam nyawa pasien.

Saran
Hendaknya seorang perawat harus bisa tanggap dalam menghadapi suatu kejadian keracunan
yang di alami seseorang, sehingga dapat mengoptimalkan tindakan keperawatan yang harus
dilakukan.
Hendaknya seorang perawat dalam melakukan tindakan irigasi lambung, harus memperhatikan
keadaan klien yang mengalami keracunan, guna sebagai pertimbangan dilakukan atau tidaknya
tindakan irigasi lambunng.

DAFTARPUSTAKA

Aziz alimun. A. Aziz. 2006. Kebutuhandasar manusi. Jakarta. Salemba medika


Potter & perry, 2005. Buku ajar fundamental keperawatan. Jakarta :EGC
contoh sop penatalaksanaan keracunan
PENATALAKSANAAN KERACUNAN
No. 01/SOP-
Kode : KIA/NGASEM/2014
No.Revisi :
00
Tgl. Mulai Berlaku : 30 September 2014
STANDAR
OPERASION
AL
PROSEDUR
Halaman :
1 dari 5

UPTD. Puskesmas
Ngasem
Kabupaten Kediri

1. TUJUAN.
Sebagai acuan dalam penanganan kasus keracunan di UPTD Puskesmas Ngasem

2. RUANG LINGKUP
Tindakan dimulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, penanganan, sampai pencatatan

3. KRITERIA PENCAPAIAN
Penanganan kasus keracunan di UPTD Puskesmas Ngasem dapat terlaksana 100% sesuai
prosedur penanganan keracunan

4. DEFINISI
Keracunan adalah masuknya zat ke dalam tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan
kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian. Semua zat dapat menjadi racun bila diberikan
dalam dosis yang tidak seharusnya. Berbeda dengan alergi, keracunan memiliki gejala yang
bervariasi dan harus ditindaki dengan cepat dan tepat karena penanganan yang kurang tepat tidak
menutup kemungkinan hanya akan memperparah keracunan yang dialami penderita.

5. URAIAN UMUM
5.1 Kematian adalah akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua
makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti
penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan.
5.2 Alergi adalah sebuah kondisi di mana tubuh memiliki respon yang berlebihan terhadap suatu
zat (misalnya makanan atau obat).
5.3 Dosis merupakan kadar dari sesuatu (kimiawi, fisik, biologis) yang dapat mempengaruhi suatu
organisme secara biologis; makin besar kadarnya, makin besar pula dosisnya.
5.4 Racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif kecil (bukan minimal), yang jika masuk atau
mengenai tubuh seseorang akan menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar
yang dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian
6. PERALATAN
6.1 Alat
6.1.1 Tabung oksigen
6.1.2 Stetoskop, termometer, tensimeter

6.2 Bahan
6.2.1 Sepasang sarung tangan
6.2.2 Air dan sikat

7. ALUR PROSES
NO INSTRUKSI KERJA PETUGAS
1 Medis &
Petugas menerima pelanggan
Paramedis
2 Medis &
Petugas melakukan anamnesa
Paramedis
3 Petugas mencuci tangan dan persetujuan tindakan dan memakai Medis &
sarung tangan Paramedis
4 Petugas melakukan pemeriksaan fisik, mata, kulit, pernafasan,
kardiovaskuler dan mengidentifiksikan bahan penyebab keracunan Medis &
yang diambil dari ekskresi pelanggan dan menegakkan diagnosa Paramedis
dengan cepat
5 Petugas melakukan penanganan pada pelanggan keracunan:
7.5.1 Keracunan melalui mulut
7.5.1.1 Usahakan pelanggan muntah
7.5.1.2 Berikan antiracun umum
7.5.1.3 Tidak boleh dimuntahkan pada :
7.5.1.3.1 Menelan asam/basa kuat.
7.5.1.3.2 Menelan minyak.
7.5.1.3.3 Korban kejang atau ada bakat kejang. Medis &
7.5.1.3.4 Korban tidak sadar/ada gangguan kesadaran Paramedis
7.5.2 Keracunan melalui pernapasan
7.5.2.1 Berikan oksigen
7.5.3 Keracunan melalui kontak/kulit
7.5.3.1 Buka baju penderita
7.5.3.2 Bila racun berupa serbuk sikat sampai bersih
7.5.3.3 Siram bagian yang terkena racun dengan air (minimal 20 menit)
7.5.3.4 Jangan siram kulit dengan air yang terkena soda api
6 Petugas meningkatkan eliminasi racun sesuai dengan penyebab dan
Medis &
mengawasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita
Paramedis
muntah.
7 Pemberian terapi antidotum dan lain-lain bila diperlukan. Petugas
Medis &
melakukan penatalaksanaan syok bila terjadi dan terus memantau
Paramedis
tanda vital secara berkala.
8 Pelanggan melakukan rujukan bila perlu terutama apabila pelanggan Medis &
tidak sadar atau keracunan melalui suntikan/gigitan Paramedis
9 Medis &
Petugas memberikan resep kepada pelanggan jika diperlukan
Paramedis
10 Medis &
Petugas membereskan alat dan cuci tangan
Paramedis
11 Medis &
Petugas melakukan pencatatan
Paramedis

8. DIAGRAM ALIR
9. REFERENSI
9.1 Standart puskesmas bidang bina pelayanan kesehatan, Dinkes Provinsi Jatim, 2013
9.2 ISO 9001:2008 klaRSAl 7.5.1 tentang pengadaan produksi dan penyediaan jasa
9.3 Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Tahun 2007

10. DOKUMEN TERKAIT.


10.1 Rekam Medis pelanggan
10.2 Register Harian RPU
10.3 Kertas Resep
10.4 Form inform consent
10.5 Form rujukan

11. RUANG TERKAIT


11.1 Ruang Pengobatan Umum
11.2 Ruang Obat
11.3 Rumah Sakit Rujukan terkait
PROTAP DAN SOP PERAWATAN LUKA BAKAR DI PUSKESMAS
PROTAP DAN SOP PERAWATAN LUKA BAKAR DI PUSKESMAS

I. PENGERTIAN
Luka bakar (combustio/burn) adalah cedera (injuri) sebagai akibat kontak langsung atau terpapar
dengan sumber-sumber panas (thermal), listrik (electrict), zat kimia (chemycal), atau radiasi
(radiation).

II. SASARAN
Klien dengan luka bakar.

III. TUJUAN
A. Mencegah infeksi pada luka bakar.
B. Mempercepat penyembuhan pada luka bakar.
C. Mencegah kecacatan pasca luka bakar.

IV. TENAGA
1 orang Dokter Umum dan 2 orang Perawat.

V. STANDART SARANA

A. Sarana Non Medis :


Ruangan dengan ukuran 4 X 6 m : 1 buah
Bed tindakan : 1 buah
Brancart : 1 buah
Kursi roda : 1 buah
Foot step : 1 buah
Meja instrument : 1 buah
Lemari alkes : 1 buah
Status klien : 1 buah
Informed consent : 1 buah
Scort : 3 buah
Tempat sampat tertutup non medis : 1 buah
Lembar rujukan : 1 buah
Alat tulis : 1 buah
Tempat cuci tangan dengan air mengalir : 1 buah
Sabun cair 60 ml : 1 buah
Handuk kecil : 2 buah
Sikat tangan halus : 1 buah
Lembar resep : 1 bendel
Tirai/sketsel : 1 buah
Selimut : 1 buah
Lampu tindakan : 1 buah
Buku register klien rawat jalan : 1 buah

B. Sarana Medis :
1. Bak instrument yang berisi :
Pinset anatomis : 1 buah
Pinset chirurgis : 2 buah
Gunting lancip : 2 buah
Kasa steril : 5 buah
Kom : 2 buah
2. Peralatan lain terdiri dari :
Spuit 5 cc atau 10 cc : 3 buah
Sarung tangan : 3 pasang
Gunting plester : 1 buah
Plester atau perekat : 2 buah
Desinfektant : 1 buah
NaCl 0,9%, RL, NS, D5 : 3 buah
Infus set : 1 buah
Bengkok : 2 buah
Perban 10 cm dan 15 cm : 2 rol
Tensi meter : 1 buah
Stetoskop : 1 buah
Tabung O2 dan regulator : 1 buah
Sterilisator : 1 buah
Masker : 3 buah
3. Obat obatan :
Antibiotika
Analgetik
Krim antibiotik

VI. PROSEDUR TETAP

1. Persiapan pelayanan
2. Anamnesa
3. Langkah langkah pertolongan
4. Penegakan diagnosa
5. Penatalaksanaan
6. Penyuluhan
7. Follow up

VII. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

A. PERSIAPAN PELAYANAN
1. Ruangan dibersihkan dan dirapikan.
2. Alat alat medis disiapkan dan alat alat non medis dirapikan.
3. Petugas cuci tangan, sesuai dengan SOP.
4. Memakai scort, masker dan handschoen sesuai dengan SOP.

B. ANAMNESA
(jika klien tidak sadar, dilakukan heteroanamnesa)
1. Klien datang, petugas memberi salam, dan menatap muka klien.
2. Mempersilakan masuk dan duduk, kemudian menanyakan semua pertanyaan dengan sabar dan
lembut.
3. Menanyakan identitas : Siapa namanya? Berapa umurnya? Dimana alamatnya? Apa
pekerjaannya? Apa pendidikan terakhir ?
4. Menanyakan keluhan utama :
a. Apa yang dirasakan sekarang? Menanyakan luka bakar karena apa? Sudah berapa lama?
b. Keluhan lain yang dirasakan klien apa?
c. Pemeriksa memberikan kesempatan klien untuk menjawab pertanyaan dengan tenang tanpa ada
paksaan.
5. Bila kondisi klien tidak sadar, kita lakukan anamnesa secara singkat kepada keluarga atau
pengantar mengenai kejadian yang dialami pasien :
a. Nama pasien ?
b. Sudah berapa lama tidak sadar ?
c. Tindakan apa yang sudah dilakukan terhadap pasien ?
6. Bila pasien mengalami kegawatdaruratan yang harus ditangani segera, maka anamnesa kita
lakukan setelah pasien stabil, atau bila memungkinkan kita lakukan anamnesa sambil kita
memberikan pertolongan kepada pasien.
Tanda-tanda kegawatdaruratan :
a. Adanya sumbatan jalan nafas.
b. Adanya henti nafas.
c. Adanya henti jantung.
d. Adanya perdarahan.

C. LANGKAH-LANGKAH PERTOLONGAN
1. Sebelum memulai resusitasi, tindakan pertama adalah menentukan ketidaksadaran pasien,
dengan menilai respon pasien secara cepat dengan metode AVPU.
A alert ( sadar penuh )
V menjawab rangsang verbal ( bicara )
P bereaksi atas rangsang nyeri ( pain )
U tidak memberi reaksi ( unresponsive )
Caranya adalah dengan kita tepuk atau cubit pasien sambil kita bertanya dengan suara keras
misal, Pak / Bunamanya siapa ?
Apabila pasien tidak ada respon segera kita lakukan resusitasi dengan urutan sebagai berikut :
Airway, Breathing, Circulation ( lihat SOP Resusitasi )
2. Pemeriksaan vital sign meliputi nadi, tensi, respirasi ( lihat SOP Vital sign ).
3. Inspeksi : melihat luas luka bakar, keadaan luka : bersih, kotor, bula ada atau tidak.
4. Palpasi : menghitung berapa persen luas luka bakar, memeriksa jaringan nekrotik.

D. PENEGAKAN DIAGNOSA
Penegakan diagnosa dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap luka bakar klien
meliputi luas luka bakar, kedalaman luka bakar, lokasi luka bakar, dan penyebab luka bakar.

Deskripsi dari klasifikasi luka bakar .

IFIKASI KLASIFIKASI
KEDALAMAN LUKA BAKAR BENTUK KLINIS
ARU TRADISIONAL

a bakar Erythema( kemerahan ), Rasa sakit seperti ters


Derajat 1 Lapisan Epidermis
erfisial blisters( Gelembung cairan )

hickness Epidermis Superficial (Lapisan Blisters ( Gelembung cairan ), Cairan bening


Derajat 2
erficial papillary) dermis gelembung dipecah, dan rasa sakit nyeri

Sampai pada lapisan berwarna putih, Tidak


hickness Deep (reticular)
terlalu sakit seperti superficial derajat 2. sulit
deep dermis
dibedakan dari full thickness
Dermis dan struktuir tubuh dibawah Berat, adanya eschar seperti kulit yang melelh,
hickness Derajat 3 atau 4
dermis Fascia,Tulang, or Otot berwarna , tidak didapatkan sensasi rasa sa
Sedangkan untuk menentukan luas luka bakar dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan
metode rule of nine

RULE OF NINES

PERSENTASE
AREA LUKA BAKAR
(DALAM %)

Seluruh kepala (muka dan belakang) dan leher 9


Dada 9
Perut 9
Ekstremitas atas (kiri dan kanan) 2x9
Punggung dan bokong 2x9
Paha dan betis (kiri dan kanan) 4x9
Perineum dan genitalia 1
Total 100

E. PENATALAKSANAAN

Prinsip penatalaksanaan luka bakar adalah :

1. Langkah langkah perawatan luka bakar Derajat I adalah sebagai berikut :


a. Memberikan salam kepada klien dengan nada lembut dan senyum serta menanyakan luka
bakar di bagian tubuh sebelah mana.
b. Menjelaskan tujuan perawatan luka bakar untuk mencegah infeksi, mempercepat
penyembuhan luka serta mencegah kecacatan.
c. Menanyakan kepada klien apakah ada yang belum di mengerti mengenai perawatan luka
bakar dan menanyakan kesiapan klien untuk dilakukan tindakan luka bakar ,jika klien siap
maka dilanjutkan penandatanganan informed consent.
d. Mengatur posisi klien di bed tindakan supaya luka dapat terlihat jelas dan mudah dilakukan
perawatan luka oleh pemeriksa, misalnya apabila luka ada di tubuh sebelah kiri maka tubuh
klien miring ke kanan dan begitu juga sebaliknya dan posisi luka menghadap ke atas.
e. Membuka peralatan medis dan meletakkan di samping kiri klien.
f. Bila luka bakar tertutup pakaian maka minta ijin untuk membuka pakaian supaya luka
terlihat jelas dan membuka pakaian dengan hati-hati, bila sulit basahi dengan NaCl 0,9%.
g. Membersihkan luka bakar dengan cara mengirigasi yaitu dengan cara mengaliri bagian
luka menggunakan NaCl 0,9% dengan meletakan bengkok di bawah luka terlebih dahulu.
h. Melakukan debridement bila terdapat jaringan nekrotik dengan cara memotong bagian
nekrotik dengan mengangkat jaringan nekrotik menggunakan pinset chirurgis dan digunting
dengan gunting chirurgis mulai dari bagian yang tipis menuju ke bagian tebal , dan bila ada
bula dipecah dengan cara ditusuk dengan jarum spuit steril sejajar dengan permukaan kulit
dibagian pinggir bula kemudian dilakukan pemotongan kulit bula dimulai dari pinggir dengan
menggunakan gunting dan pinset chirugis.
i. Mengeringkan luka dengan cara mengambil kasa steril dengan pinset anatomis lalu kasa
steril ditekankan pelan-pelan sehingga luka benar-benar dalam kondisi kering.
j. Memberikan obat topical (silver sulfadiazin) sesuai luas luka dengan menggunakan dua
jari yang telah diolesi obat tersebut.
k. Menutup luka dengan kasa steril.
l. Memasang plester dengan digunting sesuai ukuran dan ditempelkan di atas kasa steril.
m. Menjelaskan bahwa perawatan luka telah selesai.
n. Membersihkan alat medis ( lihat SOP Sterilisasi).
o. Membersihkan sampah medis (lihat SOP Membuang Sampah Medis).
p. Membersihkan ruangan.

2. Langkah langkah perawatan luka bakar Derajat II III adalah memberikan tindakan
resusitasi cairan :
a. Pada orang dewasa, dengan luka bakar tingkat II-III 20 % atau lebih sudah ada indikasi
untuk pemberian infus karena kemungkinan timbulnya syok. Sedangkan pada orang tua dan
anak-anak batasnya 15%.
b. Formula yang dipakai untuk pemberian cairan adalah formula menurut Baxter. Formula
Baxter terhitung dari saat kejadian (orang dewasa) :
1). 8 jam pertama (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer Laktat.
2). 16 jam berikutnya (4cc x KgBB x % luas luka bakar) Ringer Laktat ditambah 500-1000cc
koloid.
c. Modifikasi Formula Baxter untuk anak-anak adalah:
1). Replacement : 2cc/ KgBB/ % luas luka bakar
2). Kebutuhan faali : Umur sampai 1 tahun 100cc/ KgBB
Umur 1-5 tahun 75cc/ KgBB
Umur 5-15 tahun 50cc/ Kg BB
d. Sesuai dengan anjuran Moncrief maka 17/20 bagian dari total cairan diberikan dalam
bentuk larutan Ringer Laktat dan 3/20 bagian diberikan dalam bentuk koloid. Ringer laktat
dan koloid diberikan bersama dalam botol yang sama. Dalam 8 jam pertama diberikan
jumlah total cairan dan dalam 16 jam berikutrnya diberikan jumlah total cairan.

3. Bila luka bakar Derajat II dalam, III atau lebih dari 25 % pasien dirujuk ke Rumah Sakit.

4. Pengobatan
a.Suntikan ATS pada pasien
1). ATS 1 x 100.000 unit untuk BB > 50 kg (test dulu) atau ATS 1 x 60.000 unit untuk BB 50
kg (test dulu).
2). Membaca hasil test :
Bila hasil test negatif berikan 50.000 unit IV dan 50.000 unit IM (BB : 50 kg).
Bila hasil test negatif berikan 30.000 unit IV dan 30.000 unit IM (BB : 50 kg).
Bila hasil test positif, lakukan bedreska dengan cara sbb :
Ambil ATS 0,1 ml
Lengan setengah bagian voler direnggangkan, kemudian disuntikkan ATS subcutan, tunggu
30 menit
Baca hasil test ; bila ada indurasi maka test positif
ATS 0,1 ml + 0,5 NaCl masuk secara SC perlahan lahan
Setelah 30 menit, ATS 0,5 ml + 0,5 NaCl masuk secara SC perlahan lahan
Setelah 30 menit, ATS dimasukkan semua secara IM perlahan lahan.
Jika telah mendapat imunisasi toksoid tetanus (TT) maka hanya diberikan 1 dosis boster
0,5 ml secara IM.
b.Antibiotik diberikan selama 5 hari : ( amoxicilin 500 mg atau ciprofloxacin 500 mg )
Dosis : Dewasa 250 mg 500 mg 3 x 1 tab
Anak anak 20 mg/Kg BB/Hari
c.Diberikan analgesik : ( parasetamol atau antalgin atau asam mefenamat )
Dosis : Dewasa 250 mg 500 mg 3 x 1
Anak anak 3 x tab (parasetamol 10 mg/kg/BB)
d.Krim antibiotik gentamisin 0,1 % krim dioleskan pada bagian yang luka

F. PENYULUHAN
1 Memberitahu klien untuk menghubungi petugas kesehatan/puskesmas bila ada nyeri tiba
tiba atau menetap, demam atau menggigil, luka keluar nanah, pembengkakan cepat, bau tidak
sedap atau kemerahan.
2 Memberitahu klien untuk kontrol 3 hari lagi.
3 Memberitahu klien jangan lupa minum obat sesuai dengan aturannya.
4 Menjelaskan pada klien agar banyak mengkonsumsi makanan yang banyak protein.

G. FOLLOW UP
1. Mengontrol luka setiap 3 hari sekali kecuali jika luka infeksi kontrol setiap hari.
2. Mengevaluasi apakah ada gangguan dalam penyembuhan dan pergerakan otot atau sendi.
3. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.

Lampiran

SOP Pemakaian Handscoen / Sarung Tangan

a. Mengambil sarung tangan steril dengan menggunakan tangan dominan.


b. Menerima sarung tangan kiri dengan memegang bagian dalam dari sarung tangan yang
terlipat dari lipatannya.
c. Mengecek adanya kebocoran sarung tangan dengan cara membuka hanscoen. Jika terdapat
lubang atau terasa adanya udara keluar dari hanscoen (bocor) maka handscoen dibuang. Jika
tidak ada kebocoran, letakkan sarung tangan kiri di tempat yang steril. Memegang sarung
tangan dengan tangan kiri pada bagian dalam sarung tangan, masukkan jari-jari perlahan
sampai semua jari pas pada bagiannya, lalu dengan tangan kiri tetap memegang bagian dalam
sarung tangan ke dalam hingga sarung tangan terpakai dengan sempurna.
d. Begitu juga sebaliknya pada saat memakai sarung tangan kiri.
SOP Pemakaian Scort

a. Mengambil scort dari tempatnya.


b. Membuka scort dengan tangan kanan bagian dalam (jangan menyentuh bagian luar).
c. Memasukkan tangan kanan ke lubang lengan tangan kanan, begitu sebaliknya untuk tangan
kiri.
d. Meminta tolong kepada asisten untuk mengikatkan tali scort di belakang punggung.
SOP RESUSITASI

A ( Airway ) / JALAN NAFAS


1. Lihat, Dengar, Raba ( Look, Listen, Feel )
SOP :
a. Mengambil posisi di sebelah kanan brancart pasien.
b. Membungkukkan badan dengan wajah kita menghadap ke arah dada pasien sambil melihat
( Look ) :
1) pergerakan dinding dada
2) kesimetrisan naik turunnya dinding dada, dengan membandingkan pergerakan dinding dada
kanan dan kiri pada saat inspirasi
3) frekwensi cepat / pelan
4) nafas dalam / dangkal
5) nafas sesak / longgar
6) nafas pendek / panjang
7) pernafasan cuping hidung ada / tidak
8) nafas dengan otot-otot bantu nafas ditandai dengan adanya retraksi dinding dada
c. Telinga kita dekatkan dengan hidung dan mulut pasien untuk mendengarkan
1) suara nafas pasien
2) suara tambahan, wheezing, rhonki
3) batuk-batuk
d. Rasakan hembusan udara di pipi pada saat pasien mengeluarkan nafas, baik dari hidung
ataupun mulut, bila perlu dekatkan jari kita didepan hidung pasien dan rasakan adanya
hembusan nafas.
e. Apabila tidak terdengar suara nafas ataupun hembusan nafas, maka kemungkinan pasien
mengalami sumbatan pada jalan nafasnya dan harus segera bebaskan jalan nafas pasien.
f. Bebaskan jalan nafas dengan :

- CHIN LIFT-HEAD TILT adalah sebagai berikut :


1) Posisikan pasien dalam keadaan terletang, letakkan satu tangan di dahi dan letakkan ujung
jari yang lain di bawah daerah tulang pada bagian tengah rahang bawah pasien
2) Tengadahkan kepala dengan menekan perlahan dahi pasien
3) Gunakan ujung jari untuk mengangkat dagu dan menyokong rahang bagian bawah. Jangan
menekan jaringan lunak di bawah rahang karena dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas
4) Usahakan mulut untuk tidak menutup. Untuk mendapatkan pembukaan mulut yang
adekuat, gunakan ibu jari untuk menahan dagu supaya bibir bawah pasien tertarik ke
belakang.
5) Tidak disarankan bila curiga ada patah tulang leher

- JAW THRUST pada pasien dengan curiga cedera leher :


1) Ambil posisi di atas kepala pasien, letakkan lengan sejajar dengan permukaan pasien
berbaring
2) Pertahankan dengan hati-hati agar posisi kepala, leher dan tulang belakang tetap satu garis
3) Perlahan letakkan tangan pada masing-masing sisi rahang bawah pasien, pada sudut rahang
di bawah telinga
4) Stabilkan kepala pasien dengan lengan bawah anda
5) Dengan menggunakan jari telunjuk, dorong sudut rahang bawah pasien ke arah atas dan
depan
6) Bila perlu dengan menggunakan ibu jari kita dorong bibir bawah sedikit ke depan untuk
mempertahankan mulut tetap terbuka
7) Jangan mendongakkan atau memutar kepala pasien

2. Bersihkan jalan nafas dengan cara cross finger atau bila perlu lakukan penghisapan
(suction).
SOP Cross finger (sapuan dengan jari)
1) Posisikan kepala pasien miring kurang lebih 45 derajat ke arah kita
2) Silangkan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang sama dengan arah berlawanan letakkan
pada gigi bagian atas dan bawah di sudut mulut pasien.
3) Lebarkan/jauhkan jari untuk membuka rahang pasien
4) Usap keluar bila terdapat sisa muntah, darah, gigi, atau benda asing lainnya yang
menyumbat jalan nafas dengan cara melakukan usapan memutar searah jarum jam kearah
luar
5) Hati-hati jangan sampai mendorong benda asing (sisa makanan, gigi palsu) masuk lebih
jauh ke jalan nafas

SOP Suction / Penghisapan :


1) Petugas memakai alat pelindung (masker dan sarung tangan sekali pakai) (lihat SOP
memakai masker dan sarung tangan)
2) Menyediakan 1 botol cairan pembilas ( Normal Saline )
3) Menyalakan unit penghisap, tempelkan kateter dan cobalah untuk menghisap pada baju
4) Posisikan pasien miring ke kanan kurang lebih 30 derajat sehingga akan membuat sekret
bebas mengalir ke mulut saat dilakukan penghisapan
5) Ukur panjang kateter penghisap. Panjang kateter yang harus dimasukkan ke dalam mulut
pasien sebanding dengan jarak antara sudut mulut dengan lobulus telinga.
6) Perlahan dan tanpa tekanan, masukkan ujung kateter ke daerah yang perlu dihisap. Saat
memasukkan lubang kontrol pada selang penghisap dibiarkan terbuka (Jika tidak hati-hati
ujung penghisap kaku dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan perdarahan)
7) Setelah masuk, mulai penghisapan dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk tangan kiri
pada samping mulut, tutup lubang kontrol dan hisap sambil perlahan menarik ujung
penghisap dari mulut pasien, gerakkan ujung penghisap dari satu sisi ke sisi yang lain
8) Jangan pernah melakukan penghisapan lebih 10 detik pada waktu yang sama, karena
suplementasi oksigen atau ventilasi dihentikan selama penghisapan, sehingga harus
dipertimbangkan untuk mempertahankan oksigenasi pasien
9) Bila terdapat sekret yang pekat dan menyumbat, kita bilas dengan cairan pembilas dengan
cara memasukkan ujung pipa suction kedalam cairan pembilas dan menutup lubang kontrol
10) Jika ujung pipa penghisap menyebabkan reflek muntah, segera tarik ujung penghisap dan
pindah ke posisi yang lain

3. Apabila jalan nafas masih tersumbat, meskipun sudah kita lakukan manuver tersebut, maka
kita pasang alat bantu jalan nafas, untuk menjaga lidah menutupi jalan nafas.
- Non invasif, dengan pipa orofaring dan pipa nasofaring

SOP pemasangan Pipa Orofaring :


1) Petugas memakai masker dan sarung tangan sekali pakai (lihat SOP memakai masker dan
sarung tangan)
2) Menempatkan pasien pada posisi terlentang dan menggunakan teknik chin lift-head tilt /
jaw thrust untuk mempertahankan jalan nafas secara manual
3) Menentukan ukuran pipa yang akan dipakai dengan cara membentangkan pipa dari sudut
mulut penderita ke arah ujung daun telinga sisi wajah yang sama.l
4) Silangkan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang sama dan letakkan pada gigi bagian atas
dan bawah di sudut mulut pasien. Lebarkan/jauhkan jari untuk membuka rahang pasien
5) Masukkan pipa secara terbalik (ujung pipa ke langit-langit) dan jalankan sepanjang dasar
mulut pasien, melewati jaringan lunak menggantung dari belakang (uvula) atau hingga anda
menemukan tahanan melewati palatum mole.
6) Putar pipa 180 dengan hati-hati sehingga ujungnya mengarah ke bawah ke arah faring
pasien
7) Menempatkan pasien non trauma dalam posisi head tilt. Jika ada kemungkinan cedera
spinal, dilakukan stabilisasi leher dengan collar neck
8) Memeriksa respon pasien setelah pipa terpasang (lihat SOP pemeriksaan airway)

SOP Pemasangan pipa nasofaring :


1) Petugas memakai masker dan sarung tangan sekali pakai(lihat SOP memakai masker dan
sarung tangan)
2) Posisi pasien terlentang dan kita gunakan teknik chin lift-head tilt/jaw thrus untuk
mengamankan jalan nafas secara manual
3) Lubrikasi bagian luar pipa dengan lubrikan berbahan dasar air sebelum dimasukkan
dengan mencelupkan dalam aquades steril. Bahan seperti jelly dan bahan lain dapat merusak
jaringan yang melapisi rongga hidung dan faring sehingga meningkatkan resiko infeksi.
4) Ujung hidung didorong dengan hati-hati ke arah atas. Hampir semua pipa nasofaring
dirancang untuk digunakan pada lubang hidung kanan. Bevel (bagian sudut ujung selang)
harus menghadap dasar lubang hidung atau septum nasi.
5) Memasukkan pipa ke dalam lubang hidung, majukan terus hingga bagian pinggir pipa
berhenti dan tertahan kuat pada lubang hidung pasien . Jangan pernah mendorong kuat, jika
sulit untuk memajukan pipa tarik keluar dan coba pada lubang hidung yang lain

Tehnik invasif dengan Endotracheal Tube


SOP intubasi trakea :
1) Menempatkan pasien pada posisi sniffing dengan meletakkan bantal setinggi kurang lebih
10 cm di oksiput dan pertahankan kepala tetap ekstensi
2) Melakukan preoksigenasi, yaitu memberi oksigen 100 % selama minimal 5 menit melalui
baging. (lihat SOP bagging)
3) Laringoskop dipegang dengan tangan kiri, kemudian bilah dimasukkan dari sudut mulut
pasien sebelah kanan menyusuri lidah.Setelah mendekati pangkal lidah, laringoskop
digeserkan ke sebelah kiri sampai berada di garis tengah dengan menyingkirkan lidah ke
sebelah kiri. Jika menggunakan bilah lengkung (macintosh), maka ujung bilah ditempatkan di
dalam valekula pada pangkal epiglotis, sedangkan bila mengunakan bilah lurus, maka ujung
bilah ditempatkan di bawah epiglotis secara langsung.
4) Mengangkat epiglotis dengan bilah sehingga terlihat pita suara. Setelah pita suara terlihat
maka tangan kanan memasukkan ETT ke dalam trakea melalui celah diantara pita suara.
Batas garis hitam pada ETT terletak tepat dibawah pita suara
5) Mengembangkan balon udara dengan menggunakan spuit 20 atau 10 cc dengan volume
secukupnya melalui ujung ETT sampai tidak terdengar kebocoran di rongga mulut pada saat
dilakukan ventilasi.Melakukan fiksasi dengan plester agar tidak terdorong atau tercabut
6) Melakukan konfirmasi posisi ETT dengan cara melakukan auskultasi pada dada kiri ,
kanan serta lambung. Setelah suara napas di paru kiri dan kanan sama, lalu dilakukan fiksasi
dengan menggunakan plesterdi wajah atau pipi.
7) Menghubungkan ETT dengan manual baging atau ventilator

B ( Breathing ) / PERNAFASAN
1. Evalusi pernafasan tidak lebih dari 10 detik.
2. Bila pasien tidak bernafas spontan atau adekuat maka pasien dianggap tidak bernafas.
3. Memberikan pernafasan buatan 2 kali, dengan cara :
a. Mouth to mouth ventilation ;
Cara ini sudah tidak dianjurkan karena bahaya infeksi, karena itu harus selalu memakai alat
perantara yang terbuat dari plastic (masker) yang dapat ditempatkan antara mulut penderita
dan mulut penolong. Caranya sebagai berikut :
1) Petugas memakai masker dan sarung tangan sekali pakai (lihat SOP memakai masker dan
sarung tangan)
2) Pakaikan masker penutup mulut dan hidung pasien, pegang dengan ibu jari dan telunjuk
jari tangan kiri serta kanan
3) Angkat sudut rahang bawah kedepan dengan jari tangan yang lain sehingga masker betul-
betul menutup muka pasien, tidak bocor
4) Tiupkan udara melalui pipa di ujung masker

b. Bag mask-ventilation oleh 1 orang ;


1) Petugas memakai masker dan sarung tangan sekali pakai (lihat SOP memakai masker dan
sarung tangan)
2) Mengambil posisi diatas kepala pasien, dan pertahankan terbukanya jalan nafas dengan
head tilt-chin lift / jaw thrust.
3) Pilih ukuran BVM yang sesuai dengan lebar sungkup menutupi hidung dan mulut pasien
4) Posisikan masker pada wajah. Letakkan masker bagian apex (atas) melingkupi batang
hidung pasien, sedangkan bagian bawah masker menutupi mulut dan dagu bagian atas
5) Bentuk huruf C mengelilingi pintu masuk ventilasi dengan menggunakan ibu jari dan
telunjuk. Gunakan jari tengah, jari manis, dan jari kelingking di bawah rahang pasien untuk
menahan rahang ke masker
6) Dengan tangan yang lain, peras kantung sekali tiap 5 detik hingga menyebabkan dada
pasien mengembang (sebanyak volume tidal 500-600 ml, 6-7 ml/kg BB). Untuk bayi dan
anak-anak peras kantung tiap 3 detik.
7) Lepaskan tekanan pada kantung dan biarkan pasien menghembuskan nafasnya secara
pasif. Saat itu, kantung akan terisi kembali dengan oksigen dari sumbernya

c. Bag valve-mask ventilation oleh 2 orang ;


1) Petugas memakai masker dan sarung tangan sekali pakai (lihat SOP memakai masker dan
sarung tangan )
2) Buka jalan nafas pasien dengan teknik had tilt chin lift
3) Pilih bag valve-mask yang sesuai ( dewasa, anak, atau bayi)
4) Letakkan ibu jari pada bagian atas masker, jari telunjuk dan tengah pada bagian bawah
masker
5) Letakkan masker bagian apex ( atas ) melingkupi batang hidung pasien, sedangkan bagian
bawah masker menutupi mulut dan dagu bagian atas. Jika masker besar, kelilingi bagian
pintu ventilasi dengan manset, letakkan bagian tengah pintu ventilasi pada mulut pasien
6) Gunakan jari manis dan kelingking untuk mendongakkan rahang, mendekat ke arah
masker. Pertahankan head tilt chin lift
7) Penolong kedua menghubungkan kantung dengan masker, jika belum siap. Sementara
penolong pertama mempertahankan tertutupnya masker, penolong kedua harus menekan /
memeras kantung dengan 2 tangannya hingga dada pasien mengembang (sebanyak volume
tidal 500-600 ml, 6-7 ml/kg BB)
8) Penolong kedua memeras kantung tiap 5 detik untuk dewasa, sekali tiap 3 detik untuk bayi
dan anak-anak.

C ( Circulation ) / SIRKULASI
1. Setelah memberikan 2 kali nafas buatan tentukan keadaan sirkulasi pasien dengan meraba
denyut nadi
Catatan : (menurut UK Resuscitation Council 2010 : langsung kompresi, tidak memberikan
nafas buatan lebih dahulu)
2. Dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kita meraba denyut arteri karotis pada
orang dewasa atau anak-anak, arteri brachial pada bayi
3. SOP pemeriksaan arteri karotis :
a. Letak arteri karotis terdapat di kedua sisi laring, diantara jakun yang berjalan dari telinga,
melintas leher menuju bagian atas tulang dada
b. Kepala pasien kita tarik ke bawah, raba jakun dengan 2 jari, kemudian jari digeser ke celah
antara jakun dan jalinan otot. Disitu akan teraba denyutan.
c. Raba selama 5 detik sebelum memutuskan tidak ada denyutan
4. Bila tidak ada denyutan maka kita lakukan kompresi dada / pijat jantung
SOP pijat jantung pada dewasa:
a. Penolong berdiri disamping kanan pasien
b. Letakan telapak salah satu tangan tepat ditengah dada penderita ( 2 jari di atas prosessus
xyphoideus ). Untuk bayi letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tengah dada.
c. Letakkan telapak tangan lainnya di atas telapak tangan pertama
d. Saling tautkan jari jari tangan dan pastikan posisi tangan tidak menyamping diatas iga.
Jangan meletakkan kedua tangan di perut atas atau tepi bawah tulag dada
e. Posisikan bahu penolong tegak lurus dada pasien dan dengan tumpuan pada telapak
tangan, tekan dengan menggunakan berat badan penolong ke arah dada hingga dada tertekan
sedalam 4 5 cm.
f. Setelah setiap kompresi, hilangkan tekanan sepenuhnya tanpa melepaskan kontak antara
telapak tangan penolong dengan dada pasien, ulangi dengan kecepatan 100 kompresi per
menit
g. Setelah 30 kali kompresi berikan 2 kali nafas buatan
h. Lakukan selama 5x siklus, setelah itu cek pulsasi carotis
( menurut UK Resuscitation Council 2010 : hanya menghentikan resusitasi bila ada tanda
pulih nafas atau nadi)
i. Tukarlah posisi setiap 2 menit untuk menghindari kelelahan penolong

SOP pijat jantung pada anak-anak (1-8 tahun ):


a. Penolong berdiri disamping kanan pasien
b. Letakan telapak salah satu tangan tepat ditengah dada penderita ( 2 jari di atas prosessus
xyphoideus ).
c. Lakukan tekanan/kompresi sedalam sepertiga atau setengah ketebalan dinding dada anak.
d. Setelah setiap kompresi, hilangkan tekanan sepenuhnya tanpa melepaskan kontak antara
telapak tangan penolong dengan dada pasien, ulangi dengan kecepatan 100 kompresi per
menit
e. Setelah 30 kali kompresi berikan 2 kali nafas buatan
f. Lakukan selama 5x siklus, setelah itu cek pulsasi carotis

SOP pijat jantung pada bayi :


a. Penolong berdiri disamping kanan pasien
b. Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di tengah dada. ( 2 jari di atas prosessus xyphoideus
)
c. Berikan tekanan hingga dada tertekan sedalam sepertiga sampai setengah tebal dada bayi
d. Setelah setiap kompresi, hilangkan tekanan sepenuhnya tanpa melepaskan kontak antara
telapak tangan penolong dengan dada pasien, ulangi dengan kecepatan 100 kompresi per
menit
e. Setelah 5 kali kompresi berikan 1 kali nafas buatan
f. Lakukan selama 15x siklus, setelah itu cek pulsasi brachialis

5. Lanjutkan resusitasi sampai :


a. Pasien kembali bernafas dan muncul sirkulasi spontan
b. Penolong kelelahan
c. Pasien ternyata diketahui menderita penyakit stadium terminal
SOP Pemeriksaan Vital Sign / Tanda Vital

A. Mengukur Tekanan Darah


1. Minta ijin klien/pengantar untuk dilakukan pemeriksaan bolehkah saya periksa sekarang
tekanan darah anda?.
2. Jelaskan apa yang akan dilakukan kepada klien/pengantar :
a. Meminta klien membuka lengan atas yang akan diperiksa, sehingga tidak menutup arteri
brachialis.
b. Manset dipasang 2 3 cm di atas fossa kubiti, melingkar pada lengan tempat pemeriksaan
setinggi jantung dan balon karet menekan tepat di atas arteri brachialis.
c. Manset dihubungkan dengan spignomanometer Hg, posisis tegak dan level air raksa
setinggi jantung.
d. Denyut arteri brachialis diraba pada lipatan siku untuk meletakkan stetoskop.
e. Arteri radialis diraba dengan jari telunjuk dan jari tengah (pastikan tidak ada penekanan).
f. Katup pengontrol pada pompa manset di tutup.
g. Stetoskop diletakkan ke dalam telinga, raba denyut arteri brachialis.
h. Pompa manset sampai denyut arteri radialis tidak teraba lagi.
i. Kemudian tambahkan pompa lagi 20 30 mmHg.
j. Stetoskop diletakkan di atas arteri brachialis, di fossa cubiti/lipatan siku sebelah dalam.
k. Posisi mata sejajar air raksa, lepas katup pengontrol pelan pelan, sehingga air raksa turun
dengan kecepatan 2 3 mmHg/detik atau skala perdetik.
l. Pastikan tinggi air raksa saat terdengar perubahan I detakan arteri brachialis (korotkoff
I/tekanan sistole).
m. Lanjutkan penurunan air raksa saat terjadi perubahan suara yang tiba tiba melemah
(korotkoff IV/ tekanan diastole).
n. Lepaskan stetoskop dari telinga dan lepas manset dari lengan klien.
o. Earpice dan diagfragma stetoskop dibersihkan dengan kapas alkohol.
p. Informasikan kepada klien hasil pengukuran, catat pada kartu status klien.
q. Tanya kepada klien apakah yang ditanyakan tentang hasil tekanan darahnya.

B. Menghitung denyut nadi arteri radialis klien


Meminta ijin dan menjelaskan bahwa akan dilakukan pengukuran nadi pada klien, dengan
cara :
1. Baju yang menutupi pergelangan tangan disingsikan.
2. Kedua lengan lurus sejajar badan dan menghadap ke atas posisi anatomis.
3. Lakukan palpasi ringan pada arteri radialis dengan jari telunjuk dan jari tengah, di atas
pergelangan pada sisi ibu jari.
4. Denyut arteri radialis dirasakan, kemudian hitung denyut tersebut selama 1 menit.
5. Tentukan normal (60 100 x/mnt), bradikardi (< 60 x/mnt) atau takhikardi (> 100x/ mnt).
6. Hasil pengukuran dicatat pada status klien.
7. Informasikan kepada klien/pengantar hasil pemeriksaan
Apabila dicurigai syok dengan tanda tanda :
a. Pucat ( khususnya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atau sekitar mulut ).
b. Keringat atau kulit yang terasa dingin dan lembab.
c. Pernapasan yang cepat (30 x / menit atau lebih).
d. Gelisah, bingung, atau hilangnya kesadaran.
e. Urin yang sedikit (kurang dari 30 ml per jam).
SOP LANGKAH LANGKAH PENANGANAN SYOK
A. Pemberian Oksigen :
1. Alat : Nasal Catheter
-langkah pemasangan :
a. Mengatur posisi klien yang paling nyaman.
b. Memberi penjelasan kepada klien/keluarga tentang maksud, tujuan, dan prosedur tindakan
pemasangan terapi oksigen nasal catheter.
c. Menyiapkan alat nasal catheter.
d. Mengukur nasal catheter mulai dari telinga ke ujung hidung ( ukuran dalamnya catheter
dari hidung sampai faring ).
e. Memberikan jelly pada ujung nasal catheter dan memasukan pelan pelan sampai menuju
faring sesuai ukuran yang telah dibuat.
f. Memfiksasi nasal catheter dengan plester.
g. Mengalirkan oksigen 1- 3 liter / menit.
h. Memberikan penjelasan pada klien/keluarga bahwa prosedur terapi oksigen sudah selesai.
i. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.

2. Alat : Nasal Canule


kah-langkah pemasangan :
a. Mengatur posisi yang nyaman.
b. Memberi penjelasan pada klien/keluarga tentang prosedur pemasangan nasal canule (
maksud, tujuan, dan prosedur ).
c. Memasang nasal canule pada kedua hidung dengan fiksasi kedua telinga.
d. Mengalirkan oksigen 1 6 liter / menit.
e. Memberi penjelasan pada klien/keluarga bahwa prosedur sudah selesai.
f. Mengobservasi tentang perkembangan terapi.
g. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.
3. Alat : Sungkup Muka Sederhana (Simple Mask)
Langkah-langkah pemasangan :
a. Mengatur posisi yang nyaman (berbaring, semi fowler,dan fowler ).
b. Memberi penjelasan tentang maksud, tujuan, dan prosedur pemasangan simple masak.
c. Memasang simple mask pada muka klien sesuai ukuran, alirkan oksigen 5 8 liter / dan
fiksasi karet pengikat pada belakang kepala.
d. Memberikan penjelasan bahwa prosedur sudah selesai.
e. Mengobservasi tentang perkembangan terapi.
f. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.

4. Alat : Sungkup Muka Dengan Kantung Rebreathing


Teknik terapi ini diberikan pada klien yang mengalami hyperventilasi type / kadar CO2
dalam darah menurun dan O2 rendah.
Langkah-langka pemasangan :
a. Mengatur posisi ini yang nyaman / sesuai (berbaring / supine / semi fowler / fowler).
b. Memberi penjelasan tentang maksud, tujuan, dan prosedur pemasangan sungkup muka
dengan kantong rebreathing.
c. Mengalirkan oksigen 8 12 liter / menit sampai kantong terpenuhi oksigen ( menggembung
).
d. Memasang sungkup muka dengan kantong rebreathing pada muka klien sesuai ukuran dan
posisi karet pada belakang kepala.
e. Memberikan penjelasan bahwa prosedur sudah selesai.
f. Mengobservasi tentang perkembangan terapi.
g. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.

ngan Non Rebreathing


Teknik terapi oksigen ini diberikan pada klien yang mengalami hypoventilasi type / kadar
CO2 dalam darah tinggi dan O2 rendah.
Langkah-langkah pemasangan :
a. Mengatur posisi klien yang nyaman / sesuai (berbaring / supine / semi fowler / fowler).
b. Memberikan penjelasan tentang maksud, tujuan, dan prosedur pemasangan sungkup muka
dengan kantong non rebreathing.
c. Mengalirkan oksigen 8 12 liter / menit sampai kantong terpenuhi oksigen ( menggembung
).
d. Memasang sungkup muka dengan kantong non rebreathing pada muka klien sesuai ukuran
dan posisi karet pada belakang kepala.
e. Memberikan penjelasan bahwa prosedur sudah selesai.
f. Mengobservasi tentang perkembangan terapi.
g. Mencatat hasil kegiatan pada status klien.
SOP PEMASANGAN INFUS
A. Tahap Pra Interaksi
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada. Menanyakan apakah ada riwayat alergi
atau ada penyakit-penyakit lain yang diderita.
2. Mencuci tangan (SOP mencuci tangan).
3. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
a. Meja/trolly serupa meja suntik, tersedia diatasnya :
1) IV catheter (abocath) yang akan digunakan.
2) IV catheter cadangan atau wing needle.
3) Infusion set terbungkus steril.
4) Cairan infus yang akan digunakan.
5) Kapas alkohol 70% secukupnya.
6) Larutan betadine secukupnya.
7) Kasa steril ukuran 2 cm x 2 cm.
8) Plester, gunting verband.
9) Sarung tangan bersih.
10) Bengkok.
11) Tali pembendung/ tourniquet.
12) Pengalas.
13) Bak instrument (ukuran sedang).
14) Spalk (bila perlu untuk anak-anak).
b. Standart infus.

B. Tahap Orientasi.
1. Memberikan salam kepada pasien sebagai pendekatan terapeutik. (Selamat pagi, Selamat
siangPak/Bu.)
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan kepada pasien/ keluarganya. -----
3. Menanyakan kesiapan mental pasien sebelum dilakukan tindakan.
4. Meminta pasien atau keluarganya mengisi dan menandatangani formulir persetujuan
tindakan medis (formulir informed consent).

C. Tahap Kerja.
1. Menempatkan alat dan bahan ke dekat pasien (untuk memudahkan dalam melakukan
tindakan).
2. Mengambil larutan IV (cairan infus) dan menggantungkan pada standart infus, sambil
diperiksa label cairan infus sudah sesuai dengan program terapi atau belum.
3. Membuka infus set dari bungkusnya, kemudian mengatur klem roll sekitar 2 4 cm (1 2
inchi) di bawah bilik drip dan setelah itu mengembalikan klem roll ke posisi off (terkunci).
4. Memasukkan infus set ke dalam kantong cairan, dengan :
a. Melepas penutup pelindung kantong cairan tanpa menyentuh lubangnya.
b. Melepas penutup pelindung dari penusuk selang, kemudian penusuk selang ditusukkan ke
dalam lubang kantong cairan dengan posisi kantong infus tegak lurus.
5. Mengisi bilik drip (tabung reservoir) infus, dengan :
a. Menekan bilik drip kemudian lepaskan dan biarkan bilik drip terisi cairan infus hingga
setengahnya.
b. Melepas pelindung jarum dan klem roll untuk membiarkan cairan mengalir melalui selang
sampai selang bebas udara, setelah itu jarum ditutup kembali.
c. Cairan yang terbuang ditampung di dalam bengkok.
d. Mengembalikan klem roll ke posisi off (terkunci) agar cairan infus tidak menetes.
e. Selang infus yang sudah disiapkan diletakkan di bak instrument, didekatkan pada pasien,
untuk memudahkan dalam menghubungkan selang infus dengan catheter infus (abocath).
6. Menentukan daerah vena yang akan digunakan disesuaikan keperluan dengan rencana
pengobatan (punggung tangan kanan/kiri, kaki kanan / kiri), dipilih tempat yang strategis,
dalam arti memudahkan untuk pemberian obat intra vena dan memberi kenyamanan pada
pasien maupun petugas.
7. Memasang perlak dan alasnya dibawah anggota tubuh yang akan diinfus.
8. Membersihkan area yang akan dilakukan penusukan dari bulu-bulu (bila ada) dengan
gunting.
9. Memasang tali pembendung/ tourniquet pada jarak 5 cm di atas tempat penusukan dengan
diklik, kemudian tali pembendung ditarik agar kencang.
10. Memasang sarung tangan steril (SOP memasang sarung tangan).
11. Meminta pasien untuk mengepalkan tanganuntuk membantu mendilatasi vena, sehingga vena
tampak jelas. Bagi penderita yang tidak sadar, metode untuk mendilatasi vena dapat
dilakukan dengan menggerakkan anggota tubuh ( ekstrimitas ) dari distal ke proximal di
bawah tempat vena yang dimaksud atau menepuk perlahan di atas vena.
12. Membersihkan permukaan kulit yang akan ditusuk dengan larutan betadine dengan gerakan
sirkuler dari dalam keluar dan membiarkan tempat tersebut mengering. Bila penderita alergi
terhadap betadine, dapat digunakan alkohol 70 %.
13. Melencangkan kulit dengan memegang tangan / kaki dengan tangan kiri, kemudian petugas
yang lain menyiapkan IV catheter.
14. IV catheter yang sudah dipegang dengan tangan kanan, ditusukkan ke dalam pembuluh vena
dengan lubang jarum menghadap ke atas, sudut tusukan 30 40 arah jarum sejajar dengan
arah vena,lalu didorong perlahan.
15. Apabila jarum masuk ke dalam pembuluh vena, darah akan tampak masuk ke dalam bagian
reservoir jarum , maka hentikan dorongan.
16. Memisahkan bagian jarum dari bagian canul catheter dengan memutar bagian jarum /mandrin
ke belakang perlahan, lanjutkan mendorong canul ke dalam vena secara perlahan sambil
diputar sampai seluruh canul masuk.
17. Mencabut bagian jarum sehubungan dari canul catheter. Tahan canul dengan ibu jari tangan
kiri, agar darah tidak menetes keluar.
18. Melepas tourniquet.
19. Menghubungkan canul dengan infusion set.
20. Membuka saluran /klem roller untuk memulai infus dengan memperhatikan apakah tetesan
lancar, atau lokasi penusukan membengkak. Apabila terjadi pembengkakan pada daerah
penusukan, menandakan terjadi extravasasi cairan sehingga penusukan harus diulang mulai
dari awal. Apabila tetesan lancar dan tidak ada extravasasi, maka dilakukan fiksasi.
21. Melakukan fiksasi dengan memasang plester kecil(1,25 cm) di bawah catheter dengan sisi
lengket menghadap ke atas dalam posisi menyilang. Hal ini untuk mencegah pelepasan
catheter dari vena secara tidak sengaja. Pada bayi atau balita fiksasi diperkuat dengan spalk.
22. Memberi bantalan kassa, yang sudah diberi betadine, dengan ukuran 2 cm x 2 cm pada
rangkai penusukan kemudian diplester.
23. Mengatur kecepatan aliran/ tetesan infus tepat per menit sesuai dengan instruksi dokter.
24. Menuliskan tanggal dan waktu pemasangan infus serta ukuran jarum pada bantalan / plester
yang dipasangkan pada tempat infus.

D. Tahap Terminasi.
1. Merapikan pasien. Menciptakan suasana yang nyaman bagi pasien.
2. Penyuluhan pasca pemasangan infus. Memberikan pesan kepada pasien / keluarganya
apabila ada keluhan akibat pemasangan infus, misal : nyeri, bengkak, badan demam/
menggigil atau cairan tidak lancar agar melapor kepada petugas yang berjaga.
3. Berpamitan dengan pasien. Memberitahukan kepada pasien bahwa tindakan telah selesai
dilakukan.
4. Membereskan alat-alat dengan membuang bahan habis pakai.
5. Memilah sampah medis dan non medis dan dibuang pada tempatnya masing-masing.
6. Mensterilkan peralatan yang telah dipanaskan ( SOP sterilisasi alat).
7. Melepas sarung tangan dan mencuci tangan (SOP mencuci tangan).
8. Mencatat kegiatan dalam lembar keperawatan. Hal yang perlu dicatat antara lain :
waktu pemberian cairan, jenis cairan dan tetesan, jumlah cairan yang masuk, serta reaksi
pasien terhadap cairan yang masuk.

DAFTAR PUSTAKA

Mark H Swartz, Buku Ajar Diagnostik Fisik (1995)


Media Aesculaptus, Kapita Selekta Kedokteran, edisi ketiga (2000)

TIM SOP DINKES KAB. MAGETAN


Pembina : Dr.dr.Adryansyah Arifin, MPH
dr. Harry Susanto, MM
Penyusun : dr. Rochmad Santoso
dr. Rita Noviyawati
dr. Rindra Wahyu Kusuma
Sugiyanto
Suryadi
Tumiran
Editor : dr. Hari Sukamto
Dwi Hunun Pratiwi, SKM

http://yankesdinkesmagetan.blogspot.com/2011/09/protap-dan-sop-perawatan-luka-bakar-
di_5310.html
PEMASANGAN CERVICAL COLLAR
PROSEDUR PEMASANGAN CERVICAL COLLAR/COLLAR NECK

Pengertian
Pemasangan neck collar adalah memasang alat neck collar untuk immobilisasi leher
(mempertahankan tulang servikal). Salah satu jenis collar yang banyak digunakan adalah
SOMI Brace (Sternal Occipital Mandibular Immobilizer). Namun ada juga yang
menggunakan Xcollar Extrication Collar yang dirancang untuk mobilisasi (pemindahan
pasien dari tempat kejadian kecelakaan ke ruang medis). Namun pada prinsipnya cara kerja
dan prosedur pemasangannya hampir sama.

Tujuan
1. Mencegah pergerakan tulang servik yang patah (proses imobilisasi serta mengurangi
kompresi pada radiks saraf)
2. Mencegah bertambahnya kerusakan tulang servik dan spinal cord
3. Mengurangi rasa sakit
4. Mengurangi pergerakan leher selama proses pemulihan

Indikasi
Digunakan pada pasien yang mengalami trauma leher, fraktur tulang servik.
C collar di pasangkan untuk pasien 1 kali pemasangan. Penggunaan ulang C Collar tidak
sesuai dengan standar kesehatan dan protap.

Prosedur
Persiapan
1. Alat :
Neck collar sesuai ukuran
Bantal pasir
Handschoen
2. Pasien :
Informed Consent
Berikan penjelasan tentang tindakan yang dilakukan
Posisi pasien : terlentang, dengan posisi leher segaris / anatomi
3. Petugas : 2 orang

Pelaksanaan (secara umum):


Petugas menggunakan masker, handschoen
Pegang kepala dengan cara satu tangan memegang bagian kanankepala mulai dari
mandibula kearah temporal, demikian juga bagian sebelah kiri dengan tangan yang lain
dengan cara yang sama.
Petugas lainnya memasukkan neck collar secara perlahan ke bagian belakang leher dengan
sedikit melewati leher.
Letakkan bagian neck collar yang bertekuk tepat pada dagu.
Rekatkan 2 sisi neck collar satu sama lain
Pasang bantal pasir di kedua sisi kepala pasien

Hal-hal yang perlu diperhatikan :


Catat seluruh tindakan yang dilakukan dan respon pasien
Pemasangan jangan terlalu kuat atau terlalu longgar
Waktu pemakaian
Collar digunakan selama 1 minggu secara terus-menerus siang dan malam dan diubah secara
intermiten pada minggu II atau bila mengendarai kendaraan. Harus diingat bahwa tujuan
imobilisasi ini bersifat sementara dan harus dihindari akibatnya yaitu diantaranya berupa
atrofi otot serta kontraktur. Jangka waktu 1-2 minggu ini biasanya cukup untuk mengatasi
nyeri pada nyeri servikal non spesifik. Apabila disertai dengan iritasi radiks saraf, adakalanya
diperlukan waktu 2-3 bulan.
Hilangnya nyeri, hilangnya tanda spurling dan perbaikan defisit motorik dapat dijadikan
indikasi pelepasan collar.

Unit pelaksana/terkait
1. Instalasi Gawat Darurat
2. Rekam Medik
3. Radiologi
4. I.P.S.R.

Bentuk Cervical Collar

Bentuk X collar

Prosedur pemasangan X Collar (secara rinci)


Untuk posisi netral
1. Sediakan Xcollar
2. Tarik, dan pastikan lebih panjang lalu buka lipatan sisi belakang
3. Sebelum memposisikan X Collar ke leher pasien, lakukan resusitasi manual
(imobilisasi leher) terlebih dulu
4. Pegang X collar dengan 1 tangan dari atas punggung. X collar diposisikan sedekat
mungkin dengan kulit atau punggung pasien. Hindari menempatkannya di lipatan
pakaian
5. Lingkarkan Ccollar diseputar leher pasien, hubungkan penyangga (depan leher dan
belakang) lalu kunci
6. Pas kan posisi C collar di sejajar garis dagu.
7. Saat menepatkan posisi collar di dagu dengan tangan kiri, sesuaikan sisi-sisi straps.
Gunakan tangan kanan untuk memundurkan velcro sebelah kiri pasien
8. Sesuaikan sisi-sisi strap dan velcro sebelah kanan pasien. Agar memastikan kanan dan
kiri simetris atau tidak maka gunakan kode warna sebagi skala pengalokasian di
masing-masing sisi collar
9. Pada pemasangan vertikal, pegang sisi dagu dengan jari-jari untuk menekan tombol
kuning biru diatas agar menyesuaikan dengan dada pasien, disebut juga dengan ACS
(Adjustable Chest Support)
10. Pastikan c collar terletak dalam posisi netral pada leher
11. Kunci ACS dengan menekan tombol kunci kiri dan kanan
12. Untuk melengkapi aplikasi prosedur dan meningkatkan pemulihan pasien, maka strap
X diagonal dipasang. Sambil menahan sisi kiri ACS dengan tangan kanan, Dorong
sisi kiri strap X keluar dengan tangan kiri. Pastikan tepat pemasangannya
13. Lanjutkan pemasangan strap X ke sisi kanan pasien secara diagonal tepat pada bagian
sisi velcro yang sewarna dengan warna X trap.
14. Lengkapi strap X bagian kanan pasien dengan prosedur yang sama dengan strap X
sebelumnya dengan warna berbeda.
15. Gunakan tangan kanan untuk mendorong plester dan memegang sisi kana strap X
16.
17. Untuk posisi nyaman
Langkah pertama sama pada gambar 1 sampai 6, untuk selanjutnyaPenyesuaian Strap dengan
memutar sedikit kepala pasien ke sisi kanan, setelah itu geser sisi velcro sebelah kanan pasien
Begitu juga dengan sisi kiri pasien dengan metode yang sama dengan sebelumnya

Sesuaikan jarak strap depan pada bagian dagu


kunci ACS dengan menekan tombol biru kuning
Pasang strap X mulai dari kanan pasien terlebih dulu (terdekat dengan leher bag. depan
Pegang/ tahan penyangga velcro sebelah kanan pasien sementara tangan kanan memfiksasi
strap X ke bagian kiri pasien
Ulangi prosedur sebelumnya
Sama dengan yang sebelumnya

Untuk posisi supine:


1. Pada posisi supine, cara yang sama, dengan menmpatkan Back Support ke bagian
belakang leher pasien
2. Letakkan mulai dari bagian atas ketika menyelipkan BS. Untuk selanjutnya sama
dengan posisi netral sebelumnya
Melepas X collar:
Untuk melepas Xcollar, pertama-tama lepaskan kedua straps X
Sebelum membuka penyangga, perlahan-lahan lepaskan tekanan velcro Xcollar
Buka buckle dan lepaskan collar dari pasien
REFERENSI

http://www.xcollar.com/applicationmanual.php?page=4
http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-1.htm
http://nursingbegin.com/pelatihan-btcls/
http://www.kuspito.com/index.php/list-produk-kami/95-soft-cervical-collar-
/?Itemid=16&option=com_content&id=95:soft-cervical-collar-
&view=article&layout=default&zmien_font=mala
Saanin, Syaiful. 2009. Cedera Sistema Saraf Pusat Traumatika Dan Nontraumatika. PDF
Jurnal. Diakses tanggal 27 Februari 2012.
SOP Pemasangan Elektrokardiogram ( EKG )

A. Pengertian Elektrokardiogram
Elektrokardiogram merupakan alat diagnostik yang di gunakan untuk merekam aktifitas
listrik jantung.

B. Tujuan Pemasangan EKG

Pemsangan EKG di lakukan untuk mengetahui :


1. Mengetahui kelainan irama jantung pasien
2. Mengetahui kelainan Miokardium
3. Mengetahui Efek penggunaan obat jantung

4. Mengetahui terjadinya gangguan elektrolit pada pasien


5. Mengetahui infeksi lapisan jantung

C. Perlengkapan Pemasangan Elektrokardiogram

1. Mesin Elektrokardiogram ( EKG )


2. Kertas EKG
3. Jelly
4. Tissu
5. Bengkok
6. Kapas alkohol

D. Prosedur Tindakan Pemasangan Elektrokardiogram


1. Baca Orderan / instruksi pemasangan
2. Jelaskan kepada pasien/keluarga tentang tindakan yang akan di lakukan
3. Menyiapkan dan mendekatkan alat ke pasien
4. Melonggarkan atau melepaskan pakaian bagian atas klien.
5. Mengoleskan jelly pada elektorde
6. Pasang elektroda pada Ekstermitas atas dan bawah untuk merekam ektermitas lead
a. Merah pada ektermitas kanan atas
b. Kuning pada ekstermitas kiri atas
c. Hitam pada ekstermitas kanan bawah
d. Hijau pada ekstermitas kiri bawah
7. Pasang elektroda parakardial untuk merekam prekardial lead.
a. Pasang V1 pada interkostal ke 4 garis sternum kanan
b. Pasang V2 pada interkostal ke 4 garis sternum kiri
c. Pasang V3 pada pertengahan V2 dan V4
d. Pasang V4 pada pada interkostal ke5 pada midklavikula kiri
e. Pasang V5 pada garis axila anterior
f. Pasang V6 pada pertengahan axila sejajar V4
8. Hidupkan mesin Elektrokardiograam
9. Lakukan pencatatan indentitas klien pada EKG
10. Lakukan kalibrasi dengan kecepatan ml/detik
11. Lauakn perekaman sesuai order
12. Matian EKG dan lepaskan elektoda pada tubuh klien
13. Bantu klien memakai pakaian kembali.
SOP ( Standar Operasional Prosedur ) PEMERIKSAAN FISIK UROGENATALIA
Posted on June 27, 2016 by dhevialvionitasite
BAB I
PENDAHULUAN

TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK


Secara umum, pemeriksaan fisik yang dilakukan bertujuan :
1. Untuk mengumpulkan dan memperoleh data dasar tentang kesehatan klien.
2. Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam
riwayat keperawatan.
3. Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
4. Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaan.
5. Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan keperawatan.
Secara khusus, pemeriksaan fisik :
Menentukan kelainan fisik yang berhubungan dengan penyakit pasien
Mengklarifikasi dan memastikan kelainan sesuai dengan keluhan dan riwayat
kesehatan pasien
Mendapatkan data untuk menegakkan diagnosa keperawatan
Mendapatkan data fisik untuk menetukan status kesehatan pasien.

MANFAAT PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi
kesehatan lain, diantaranya:
1. Sebagai data untuk membantu perawat dalam menegakkan diagnose keperawatan.
2. Mengetahui masalah kesehatan yang di alami klien.
3. Sebagai dasar untuk memilih intervensi keperawatan yang tepat
4. Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari asuhan keperawatan
HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMERIKSAAN FISIK :
1. Selalu meminta kesediaan/ ijin pada pasien untuk setiap pemeriksaan
2. Jagalah privasi pasien
3. Pemeriksaan harus seksama dan sistimatis
4. Jelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan, kegunaan, cara
dan bagian yang akan diperiksa)
5. Beri instruksi spesifik yang jelas
6. Berbicaralah yang komunikatif
7. Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan
8. Perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal dari pasien.

Persiapan dalam pemeriksaan fisik :


Alat
Meteran, Timbangan BB, Penlight, Steteskop, Tensimeter/spighnomanometer, Thermometer,
Arloji/stopwatch, Refleks Hammer, Otoskop, Handschoon bersih ( jika perlu), tissue, buku
catatan perawat. Alat diletakkan di dekat tempat tidur klien yang akan di periksa.
Lingkungan
Pastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan. Misalnya menutup
pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
Klien (fisik dan fisiologis)
Bantu klien mengenakan baju periksa jika ada dan anjurkan klien untuk rileks.
BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan dari suatu system atau suatu organ
bagian tubuh dengan cara :
melihat (inspeksi )
meraba ( palpasi )
Mengetuk ( perkusi )
mendengar ( auskultasi )
Pemeriksan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari
suatu sistim atau suatu organ tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi),
mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). (Raylene M Rospond,2009; Terj D.
Lyrawati,2009).

Pemeriksaan fisik adalah metode pengumpulan data yang sistematik dengan memakai indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, dan rasa untuk mendeteksi masalah kesehatan
klien.Untuk pemeriksaan fisik perawat menggunakan teknik inspeksi, auskultasi, palpasi, dan
perkusi (Craven & Hirnle, 2000; Potter & Perry, 1997; Kozier et al., 1995).

Pemeriksaan fisik dalam keperawatan digunakan untuk mendapatkan data objektif dari
riwayat keperawatan klien.Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan bersamaan dengan
wawancara.Fokus pengkajian fisik keperawatan adalah pada kemampuan fungsional
klien.Misalnya , klien mengalami gangguan sistem muskuloskeletal, maka perawat mengkaji
apakah gangguan tersebut mempengaruhi klien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau
tidak.

Defenisi Urogenitalia
System urogenitalia terdiri dari system urinaria dan system genitalia.

1. Urinaria
suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah terbebas dari zat-zat
yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh.
Zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air
kemih).
Anatomi fisiologi system urinaria:
1. Ginjal
2. Ureter
3. Vesika urinaria (kantung kemih)
4. Uretra

2. Genitalia
Genitalia merupakan alat reproduksi pria dan wanita yang memungkinkan penciptaan atau
reproduksi kehidupan baru bagi kelanjutan spesies. Reproduksi manusia adalah seksual, yang
berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan memberikan kontribusi materi genetic
dalam pembentukan individu baru.
1. Pemeriksaan Fisik Pada System Urinaria
2. Pemeriksaan fisik ginjal
3. Inspeksi
Kaji daerah abdomen pada garis midklaikula kiri dan kanan atau daerah costovetebral,
Perhatikan simetris atau tidak tampak ada masa dan pulsasi. Normal keadaan abdomen
simetris tidak tampak masa dan tidak ada pulsasi, bila tampak masa dan pulsasi
kemungkinan ada polikistik,hidroneprosis ataupun nefroma.
1. Palpasi
Dalam melakukan palpasi ginjal kanan, letakkan tangan kiri anda dibawah panggul
dan elevasikan ginjal ke arah anterior.
letakkan tangan kanan anda pada dinding perut anterior pada garis midklavikularis
dari pada tepi bawah batas kosta.
tekankan tangan kanan anda secara langsung keatas sementara pasien menarik nafas
panjang. pada orang dewasa yang normal ginjal tidak teraba tetapi pada orang yang
snagat kurus bagian bawah ginjal kanan dapat dirasakan.
bila ginjal teraba rasakan mengenai kontur (bentuk), ukuran, dan adanya nyeri tekan.
Normal tidak menghasilakn nyeri tekan bila ada nyeri tekan diduga ada inflamasi
akut, Pada keadadn normal ginjal tidak teraba, apabila ginjal teraba dan mendasar
dengan kenyal, kemungkinan adanya polikistik maupaun hidroneposis.
untuk melakukan palpasi ginjal kiri, lakukan disisi seberang tubuh pasien, dan
letakkan tangan kiri anda dibawah panggul kemudian lakukan tindakan seperti pada
palpasi ginjal kanan.
1. Auskultasi
Dengan menggunakan stetoskop kita dapat mendengar apakah ada bunyi desiran pada
aorta dan arteri renalis.
Gunakan sisi bel stetoskop, pemeriksan mendengarkan bunyi desiran di daerah
epigastrik di area ini kita bisa mendengarkan bunyi aorta.
Dengar pula pada daerah kuadran kiri dan kanan atas karena pada area ini terdapat
arteri renalis kiri dan kanan. Normal tidak terdengar bunyi naskuler aorta maupaun
arteri renalis bila ada bunyi desiran kemungkinan, adanya RAS ( renalis arteri senisis)
nephrosclerotik.
1. Perkusi
Pasien dalam posisi terlungkup atau posisi duduk perkusi dilakukan dari arah
belakang karena posisi ginjal berada didaerah belakang. Letakan tangan kiri diatas
CVA dan lakukan perkusi diatas tangan kiri dengan menggunakan kepalan tangan
untuk mengevaluasi nyeri tekan ginjal. Bila tedengar bunyi desiran .jangan melakukan
palpasi cidera pada suatu aneurisma dibawah kulit dapat terjadi sebagai akibatnya.

2. Pemeriksaan fisik ureter


Ureter tidak bisa dilakukan pemeriksaan di luar, harus digunakan diagnostik lain seperti
BNO,IVP, USG, CT Renal. cyloscopy tetapi keluhan pasien dapat dijadikan petunjuk
adannya masalah pada ureternya, seperti pasien mengeluh sakit di daerah abdomen yang
menjalar kebawah, hal ini yang disebut dengan kolik dan biasanya behubungan dengan
adanya distensi ureter dan spasme ureter dan adanya obsrtuksi karena batu.

3. Pemeroksaan fisik kantung kemih


4. Inspeksi
Perhatikan bagian abdomen bagian bawah, kandungan kemih adalah organ berongga
yang mampuh memebesar untuk mengumpulkan dan mengeluarkan urin yang dibuat
ginjal.
Didaerah supra pubis apakah adanya distensi. Normalnya kandungan kemih terletak
dibwah simpisis pubis. tetapi setelah membesar organ ini dapat dilihat distensi pada
area supra pubis.
1. Perkusi
Pasien dalam posisi terlentang, perkusi dilakukan mengetukkan pada daerah kandung
kemih daerah supra pubis. Bila kandungan kemih penuh maka akan terdengar bunyi
dullness/redup.
1. Palpasi
palpasi kandungan kemih pada daerah supra pubis. Pada kondisi normal urin dapat
dikeluarkan secara lengkap dan kandungan kemih tidak teraba. Bila ada obstruksi
dibawah ada produksi urin normal maka urin tidak dapat dikeluarkan pada kandung
kemih sehingga akan terkumpul pada kandung kemih. Hal ini mengakibatkan distensi
kandungan kemih yang bisa dipalapasi didaerah supra pubis.

4. Pemeriksaan fisik urethra


Urethra tidak bisa diperiksa dari luar perlu pemeriksan penunjang sperti BNO,
CYSTOCOPY,

1. B. Pemeriksaan fisik pada system genitalia


2. Pemeriksaan fisik pada genitalia pria
3. Inspeksi
Pertama tama inspeksi rambut pubis, perhatikan penyebaran dan pola pertumbuhan
rambut pubis. Catat bila rambut pubis tumbuh sangat sedikit atau sama sekali tidak
ada.
Inspeksi kulit, ukuran, dan adanya kelainan lain yang tampak pada penis.
Pada pria yang tidak dikhitan, pegang penis dan buka kulup penis, amati lubang uretra
dan kepala penis untuk mengetahui adanya ulkus, jaringan parut, benjolan,
peradangan, dan rabas (bila pasien malu, penis dapat dibuka oleh pasien sendiri).
Lubang uretra normalnya terletak di tengah kepala penis. Pada beberapa kelainan,
lubang uretra ada yang terletak di bawah batang penis (hipospadia) dan ada yang
terletak di atas batang penis (epispadia).
Inspeksi skrotum dan perhatikan bila ada tanda kemerahan, bengkak, ulkus,
ekskoriasi, atau nodular. Angkat skrotum dan amati area di belakang skrotum.
1. Palpasi
Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan, benjolan, dan
kemungkinan adanya cairan kental yang keluar.
Palpasi skrotum dan testis dengan menggunakan jempol dan tiga jari pertama. Palpasi
tiap testis dan perhatikan ukuran, konsistensi, bentuk, dan kelicinannya. Testis
normalnya teraba elastic, licin, tidak ada benjolan atau massa, dan berukuran sekitar 2
4 cm.
Palpasi epididimis yang memanjang dari puncak testis ke belakang.
Normalnya epidiimis teraba lunak.
Palpasi saluran sperma dengan jempol dan jari telunjuk.
Saluran sperma biasanya ditemukan pada puncak bagian lateral skrotum dan teraba
lebih keras daripada epididimis.

2. Pemeriksaan fisik pada genitalia wanita


Pemeriksaan genitalia eksternal dengan inspeksi
Mulai dengan mengamati rambut pubis, perhatikan distribusi dan jumlahnya, dan
bandingkan sesuai usia perkembangan pasien.
Amati kulit dan area pubis, perhatikan adanya lesi, eritema, fisura, leukoplakia, dan
ekskoriasi.
Buka labia mayora dan amati bagian dalam labia mayora, labia minora, klitoris, dan
meatus uretra. Perhatikan setiap ada pembengkakan, ulkus, rabas, atau nodular.
Pemeriksaan genitalia internal dengan palpasi.
Lumasi jari telunjuk Anda dengan air steril, masukkan ke dalam vagina, dan
identifikasi kelunakan serta permukaan serviks. Tindakan ini bermanfaat untuk
mempergunakan dan memilih speculum yang tepat. Keluarkan jari bila sudah selesai.
Letakkan dua jari pada pintu vagina dan tekankan ke bawah ke arah perianal.
Masukkan speculum dengan sudut 45o
Buka bilah speculum, letakkan pada serviks, dan kunci bilah sehingga tetap
membuka.
Bila serviks sudah terlihat, atur lampu untuk memperjelas penglihatan dan amati
ukuran, laserisasi, erosi, nodular, massa, rabas, dan warna serviks. Normalnya bentuk
serviks melingkar atau oval pada nulipara, sedangkan pada para berbentuk celah.
Lakukan palpasi secara bimanual. Pakai sarung tangan lalu lumasi jari telunjuk dan
jari tengah, kemudian masukkan jari tersebut ke lubang vagina dengan penekanan ke
arah posterior, dan meraba dinding vagina untuk mengetahui adanya nyeri tekan dan
nodular.
Palpasi serviks dengan dua jari Anda dan perhatikan posisi, ukuran, konsistensi,
regularitas, mobilitas, dan nyeri tekan. Normalnya serviks dapat digerakkan tanpa
terasa nyeri.
Palpasi uterus dengan cara jari jari tangan yang ada dalam vagina mengahadap ke
atas. Tangan yang ada di luar letakkan di abdomen dan tekankan ke bawah. Palpasi
uterus untuk mengetahui ukuran, bentuk, konsistensi, dan mobilitasnya.
Palpasi ovarium dengan cara menggeser dua jari yang ada dalam vagina ke formiks
lateral kanan. Tangan yang ada di abdomen tekankan ke bawah ke arah kuadran kanan
bawah. Palpasi ovarium kanan untuk mengetahui ukuran, mobilitas, bentuk,
konsistensi, dan nyeri tekan (normalnya tidak teraba). Ulangi untuk ovarium
sebelahnya.

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
System urogenitalia terdiri dari system urinaria dan system genitalia.
1. Urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga
darah terbebas dari zat-zat yang tidak diperlukan oleh tubuh dan menyerap zat-zat
yang masih dipergunakan oleh tubuh.
2. Genitalia merupakan alat reproduksi pria dan wanita yang memungkinkan penciptaan
atau reproduksi kehidupan baru bagi kelanjutan spesies. Reproduksi manusia adalah
seksual, yang berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan memberikan
kontribusi materi genetic dalam pembentukan individu baru.
Pemeriksan fisik urogenitalia merupakan pemeriksaan organ urogenital untuk menentukan
adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ dengan cara melihat (inspeksi),
meraba (palpasi), mengetuk (perkusi) dan mendengarkan (auskultasi).
1. Saran
Dari SOP (Standar Operasional Prosedur) yang telah dibuat, penulis menyarankan kepada
kita agar lebih lagi memperhatikan kesehatan tubuh kita, terutama pada organ urinaraia dan
genitalia, tindakan pencegahan sangatlah penting agar terhindar dari timbulnya gangguan,
salah satu tindakan pencegahan adalah dengan melakukan perawatan diri.

DAFTAR PUSTAKA
Evelyn C. Pears. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.
Syafuddin. 1997. Anatomi fisiologi untuk siswa perawat edisi 2 Jakarta : EGC.
Syafuddin. 2006. Anatomi fisiologi untuk mahasiswa perawat edisi 3 Jakarta : EGC.
Gibson, John MD. 1995. Anatomi dan fisiologi modern untuk perawat edisin 2 Jakarta :
EGC.
http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/anatomi-ginjal-dan-saluran-kemih/,
diakses tanggal 02/01/2012.
http://pisaudokter.blogspot.com/2011/02/anatomi-sistem-urinaria.html, diakses tanggal
02/01/2012.
http://franlyonibala04.blogspot.com/2013/04/pemeriksaan-fisik-2.html.
Alimul, Aziz H. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Buku 1. Jakarta :
Salemba Medika.
Cristensen, P.J., & Kenney, J.W. 1990. Nursing Process Application by Conceptual Models.
St. Louis : Mosby.
http://nursingbegin.com/tag/pemeriksaan-fisik/
Prosedur Penerimaan Pasien Rawat Inap
Penerimaan rawat inap dinamakan Admitting Office atau sering dinamakan Central
Opname. Fungsi utamanya adalah menerima pasien untuk dirawat di rumah sakit. Tata cara
penerimaan pasien yang disebut admitting prosedure harus wajar sesuai dengan
keperluannya. Dengan makin meningkatnya jumlah pasien, pimpinan rumah sakit harus
memberikan peratian yang konstan dalam membina sistem dan prosedur penerimaan pasien
yang sebaik - baiknya.

Pasien yang memerlukan perawatan, dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu ;


a. Pasien yang todak urgen, penundaan perawatan pasien tersebut tidak akan menambah
penyakitnya.
b. Pasien yang urgen, tetapi tidak gawat darurat, dapat dimasukkan ke dalam daftar tunggu
c. Pasien gawat darurat (emergency), langsung dirawat.

1. Aturan yang baik harus memenuhi hal - hal berikut :

1) Bagian penerimaan pasien bertanggungjawab sepenuhnya mengenai pencatatan seluruh


informasi yang berkenaan dengan diterimanya seorang pasien di rumah sakit
2) Bagian penerimaan pasien harus segera memberitahukan bagian - bagian lain terutama
bagian
yang berkepentingan langsung
3) Setelah diterimanya seorang pasien untuk dirawat. Semua bagian harus memberitahukan
bagian
penerimaan pasien, apabila seorang pasien diijinkan meninggalkan rumah sakit
4) Membuat catatan yang lengkap tentang jumlah tempat tidur yang terpakai dan yang
tersedia di
seluruh rumah sakit
5) Rekam medis yang lengkap, terbaca dan seragam harus disimpan oleh seluruh bagian
selama
pasien dirawat. Intruksi yang jelas harus diketahui oleh setiap petugas yang bekerja
dalam
proses peneriaan dan pemulangan pasien.

2. Ketentuan umum penerimaan pasien rawat inap (TPPRI)

1) Semua pasien yang menderita segala macam penyakit, selama ruangan dan fasilitas
yang
memadai tersedia, dapat diterima di rumah sakit
2) Sedapat mungkin pasien diterima di Sentral Opname pada waktu yang telah ditetapkan,
kecuali
untuk kasus gawat darurat dapat diterima setiap saat
3) Tanpa diagnosa yang tercantum dalam surat permintaan di rawat, pasien tidak dapat
diterima
4) Sedapat mungkin tanda tangan persetujuan untuk tindakan operasi dan sebagainya
(apabila
dilakukan) dilaksanakan di Sentral Opname
5) Pasien dapat diterima apabila :
a. Ada surat rekomendasi dari dokter yang mempunyai wewenang untuk merawat pasien
di
rumah sakit
b. Dikirim oleh dokter poliklinik
c. Dikirim oleh dokter Unit Gawat Darurat
d. Pasien gawat darurat perlu diprioritaskan

3. Prosedur Pasien Rawat Inap Pasien Baru

1) Petugas pendaftaran menerima pendaftaran pasien dan memastikan terlebih dahulu


apakah
pasien pernah berobat di rumah sakit tersebut atau baru pertama kali berobat dan
tanyakan
apakah pasien membawa / mempunyai surat rujukan. Jika pasien membawa /
mempunyai surat
rujukan dan merupakan pasien baru yang pertama kali berobat ke rumah sakit tersebut
buatkan
No. Rekam Medis dengan menggunakan bank nomor dan jelaskan fasilitas dan ruangan
untuk
rawat inap. Jika pasien tidak membawa surat rujukan maka petugas mempersilahkan
pasien
untuk pergi ke poli umum dahulu untuk mendapatkan surat rujukan dari dokter atau jika
poli di
rumah sakit tersebut sudah tutup bisa ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan
pemeriksaan
dari dokter dan mendapat surat rujukan untuk dirawat.

2) Setelah disepakati ruangan mana yang akan dipakai, pasien / pengantar mengisi surat
pernyataan
dirawat terhadap pasien dan mengisi identitas pasien pada berkas rekam medis dengan
meminjam kartu identitas pasien atau dengan mewawancarai pasien (baik langsung
maupun idak
langsung) jika pasien tidak membawa atau belum mempunyai kartu identitas serta
mengisi
keterangan lain yang ada pada berkas yang harus diisikan (yang tidak tercantum dalam
kartu
identitas),

3) Buatkan KIB (Kartu Identitas Berobat), Berikan kepada pasien dan ingatkan untuk
selalu
membawa Kartu Identitas Berobat setiap kali berobat ke rumah sakit tersebut. Bila Kartu
Identitas Berobat sudah diberikan kepada pasien, kemudian pasien akan diantar oleh
petugas lain
ke ruang rawat inap dan pengantar dipersilahkan menyelesaikan proses pembayaran di
bagian
administrasi.

4) Buatkan KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien) untuk pasien (point poli yang dituju pada
bagian
belakang KIUP diisi dengan nama ruangan rawat inap yang dipilih) dan isi buku
register TPPRI
(Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap) sesuai dengan data dari pasien. Berkas rekam
medis
beserta KIUP diberikan ke bagian distribusi untuk dikirim ke ruang rawat inap.

5) Setelah selesai semua berkas termasuk KIUP dikembalikan dan disimpan di bagian
filling
(Berkas Rekam Medis disimpan berdasarkan No. RM sedangkan KIUP disimpan
berdasarkan
Abjad Inisial nama pasien).

4. Prosedur Penerimaan Pasien Rawat Jalan Lama

1) Petugas pendaftaran menerima pendaftaran pasien dan perlu memastikan terlebih dulu,
apakah
pasien pernah berobat di rumah sakit tersebut atau belum dan tanyakan apakah pasien
membawa
/ mempunyai surat rujukan. Jika pasien membawa / mempunyai surat rujukan dan
merupakan
pasien yang pernah berobat sebelumnya, diminta menunjukkan KIB-nya oleh petugas
dan
meminjamnya untuk kemudian digunakan mencari dokumen rekam medis yang lama.
Apabila
KIB pasien tertinggal di rumah, tanyakan nama dan alamatnya untuk dicari nomor
rekam medis
pada komputer atau KIUP.

2) Membuat bon peminjaman dengan mencatat nama dan nomor rekam medis pada tracer
atau bon
peminjaman kemudian diserahkan kepada pihak filling untuk dicari berkas rekam
medisnya
(petugas filling mengisi tanggal berkas dipinjam dan nama peminjamnya pada bon
peminjaman
dan buku ekspedisi)

3) Setelah berkas rekam medis siap lalu jelaskan fasilitas dan ruangan untuk rawat inap dan
jika
sudah disepakati ruang rawat inap yang akan ditempati, buat surat pernyataan dirawat
terhadap
pasien oleh pengantar / pasien. Kemudian tanyakan kembali apakah ada perubahan pada
data
yang lama seperti alamat rumah, no. telp. dan lain - lain, jika ada perubahan tuliskan
pada
lembar rekam medis yang baru lalu selipkan di belakang lembar rekam medis yang
lama.

4) Mengembalikan KIB pada pasien atau pengantar serta mengingatkan pada pasien untuk
selalu
membawa KIB jika kembali berobat, kemudian pasien akan diantar oleh petugas lain ke
ruang
rawat inap dan pengantar dipersilahkan menyelesaikan proses pembayaran di bagian
administrasi.
5) Update bagian belakang KIUP dengan mengisikan nama ruangan rawat inap yang
dipilih pada
poin poli yang dituju dan isi buku register TPPRJ (Tempat Pendaftaran Pasien Rawat
Jalan)
sesuai data yang didapat dari pasien. Berkas rekam medis beserta KIUP diberikan ke
bagian
distribusi untuk dikirim ke ruang rawat inap.

6) Setelah selesai semua berkas termasuk KIUP dikembalikan dan disimpan di bagian
filling
(Berkas Rekam Medis disimpan berdasarkan No. RM sedangkan KIUP disimpan
berdasarkan
Abjad Inisial nama pasien)(petugas filling mengisi tanggal kembali pada bon
peminjaman dan
buku ekspedisi).

5. Prosedur Selama Pasien Di Ruang Perawatan


a. Pada waktu pasien tiba di ruang perawatan dan diterima oleh perawat, pasien diberi
tanda
pengenal
b. Perawat menambah formulir - formulir yang diperlukan oleh dokter maupun perawat
sendiri
c. Selama perawatan, perawat mencatat semua data perawatan yang diberikan dari mulai
daat
pasien tiba di ruangan, sampai pasien tersebut pulang, dipindahkan atau meninggal.

Tata cara prosedur penerimaan pasien tiap - tiap rumah sakit dapat disesuaikan dengan
situasi dan kondisi rumah sakit yang bersangkutan

Untuk menjelaskan lebih singkat mengenai prosedur penerimaan pasien rawat inap dapat
dilihat pada alur bagan berikut :
Formulir yang digunakan dalam proses pendaftaran pasien rawat inap baru dan lama

Surat Rujukan
Daftar Tarif Dan Fasilitas Ruang Rawat Inap
Surat Pernyataan Dirawat
Bank Nomor
Formulir Pendaftaran Pasien Rawat Inap
KIB (Kartu Identitas Berobat)

KIUP (Kartu Indeks Utama Pasien)


Bagian depan

Bagian belakang
Bon Peminjaman

Buku Ekspedisi
Buku Register Rawat Inap

Bagian Kiri
Bagian Kanan
Sumber : Akasah, Modul : Pengelolaan Sistem Rekam medis I (PSRM), Politeknik Piksi
Ganesha Bandung, 2008, Bandung
Penerimaan Pasien Baru
Posted by Mubtadi Rabu, 13 Maret 2013 0 comments

BAB 2
KONSEP DASAR TEORI

2.1 Pengertian
Penerimaan pasien baru merupakan suatu tata cara ataupun pedoman dalam menerima pasien
baru masuk. Penerimaan pasien baru merupakan suatu prosedur yang dilakukan oleh perawat
ketika ada pasien baru datang ke sebuah ruangan rawat inap.

2.2 Tujuan
1. Mengetahui keadaan pasien dan keluarga
2. Pasien bisa langsung menempati ruang perawatan
3. Mengetahui kondisi dan keadaan klien secara umum
4. Menurunkan tingkat kecemasan pasien saat MRS

2.3 Prosedur
Persiapan :
1. Tempat tidur dalam keadaan bersih dan siap pakai
2. Fasilitas yang bersedia dalam kondisi baik
3. Meja dan kursi pasien dalam keadaan bersih
4. Paket perawatan / sovenir
5. Lembar orientasi pasien baru dan keluarga
6. Berkas rekam medis
7. Peralatan untuk pemeriksaan dalam yang terdiri dari termometer, tensimeter, timbangan
BB bila perlu.

2.4 Tahapan Penerimaan Pasien Baru


2.4.1 Tahap Pra Penerimaan Pasien Baru
1. Menyiapkan kelengkapan administrasi
2. Menyiapkan kelengkapan kamar sesuai pesanan
3. Menyiapkan format penerimaan pasien baru
4. Menyiapkan buku status pasien dan fornmat pengkajian keperawatan
5. Menyiapkan inform consent sentralisasi obat
6. Menyiapkan nursing kids
7. Menyiapkan lembar tata tertib pasien, keluarga dan pengunjung ruangan

2.4.2 Tahap Pelaksanaan Pasien Baru


1. Pasien datang diruangan diterima oleh kepala ruanmgan atau perawat primer atau perawat
yang diberi delegasi
2. Perawat memperkenalkan diri pada klien dan keluarganya
3. Perawat bersama dengan karyawan lain memindahkan pasien ke tempat tidur (apabila
pasien datang dengan berangkat atau kursi roda) dan berikan posisi yang nyaman
4. Perkenalkan pasien baru dengan pasien yang sekamar
5. Setelah pasien tenang dan situasi sudah memungkinkan perawat memberikan informasi
kepada klien dan keluarga tentang orientasi ruangan. Perawatan (termasuk perawat yang
bertanggung jawab dan sentralisasi obat), medis (dokter yang bertanggung jawab dan jadwal
visit) dan tata tertib ruangan.
6. Perawat menanyakan kembali tentang kejelas dan informasi yang telah disampaikan
7. Perawat melakukan pengkajian terhadap pasien sesuai dengan format
8. Perawat menunjukkan kamar atau tempat tidur klien dan mengantarkan ke tempat yang
telah ditetapkan.
9. Apabila pasien atau keluarga sudah jelas, maka diminta untuk menendatangani Inform
Consent sentralisasi obat.

2.5 Hal Hal Yang Perlu Diperhatikan


a. Pelaksanaan secara efektif dan efisien
b. Dilakukan oleh kepala ruangan atau perawat primer dan atau perawat asosiete yang telah
diberikan wewenang atau yang telah didelegasikan
c. Saat pelaksanaan tetap menjaga privasi klien.
d. Ajak pasien komunikasi yang baik dan beri sentuhan terapeutik

2.6 Peran Perwat Dalam Penerimaan Pasien Baru


2.6.1 Kepala Ruangan
1. Menerima pasien baru
2. Memeriksa kelengkapan yang diperlukan untuk persiapan pasien baru
2.6.2 Perawat Primer
1. Menyiapkan lembar penerimaan pasien baru
2. Menandatangani lembar penerimaan pasien baru
3. Mengorientasikan pasien ke ruangan
4. Memberi penjelasan tentang perawat dan dokter yang bertanggung jawab
5. Mendelegasikan pengkajian dan pemeriksaan fisik pada pasien baru kepada perawat
asociate
6. Mendokumentasikan penerimaan pasien baru
2.6.3 Perawat Associate
Membantu PP dalam pelaksanaan penerimaan pasien baru, pengkajian dan pemeriksaan fisik
pada pasien baru.
PROTAP DAN SOP STERILISASI ALKES, PERALATAN LABORATORIUM DAN
LINEN I. PENGERTIAN Suatu tindakan untuk membunuh kuman pathogen dan apatogen
beserta sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran dengan cara merebus, stoom,
panas tinggi atau menggunakan bahan kimia. II. UNIT KERJA Puskesmas dan ruang
laboratorium. III. TUJUAN Untuk menjamin kualitas alkes, peralatan laboratorium dan linen
dalam keadaan steril. IV. SASARAN Peralatan kesehatan, peralatan laboratorium dan linen
bekas pakai. V. TENAGA 1 orang tenaga paramedis. VI. KEBUTUHAN SARANA DAN
PRASARANA A. Medis 1. Sterilisator kering yang terhubung dengan aliran listrik 1 buah. 2.
Sterilisator basah atu autoclave 1 buah. 3. Larutan hypochlorite/klorin 0,5%. 4. Sarung tangan
1 pasang. B. Non Medis 1. Ruangan 3 X 4 meter dengan ventilasi dan penerangan yang
cukup 1 buah. 2. Panci untuk mengukus 1 buah. 3. Bak perendaman 1 buah. 4. Wastafel
dengan air mengalir 1 buah. 5. Sabun (batang atau cair) dengan antiseptic maupun non
antiseptic 1 buah. 6. Handuk / lap sekali pakai ( tisu ) untuk mengeringkan tangan 1 buah. 7.
Tempat sampah medis beralas plastik dan tertutup 1 buah. 8. Tempat sampah non medis
beralas plastik 1 buah. VII. PROSEDUR TETAP A. Dekontaminasi. B. Pencucian dan
pembilasan. C. Desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi. VIII. CARA MELAKSANAKAN
KEGIATAN A. Dekontaminasi 1. Memakai sarung tangan (Lihat SOP Memakai dan
Melepas Handscoen). 2. Menyiapkan bak perendaman yang diisi dengan larutan klorin 0,5 %
dengan cara : Mencampur 1 sendok makan kaporit dengan 1 liter air. Mengaduk larutan
sampai terlarut. 3. Memasukkan alat alat kesehatan atau alat laboratorium yang sudah
terpakai dan bisa digunakan lagi kedalam bak perendaman dengan cara : Mengambil satu
persatu alkes dengan korentang. Memasukan satu persatu alkes atau peralatan laboratorium
kedalam bak perendaman klorin 0,5% dengan korentang. 4. Biarkan selama kurang lebih 10
menit. B. Pencucian dan Pembilasan 1. Membuka kran air dengan cara memutar searah jarum
jam (model kran bukan putaran) dengan tangan kanan. 2. Mengambil peralatan bekas pakai
yang sudah didekontaminasi (hati-hati bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting
dan jarum jahit). Agar tidak merusak benda benda yang terbuat dari plastik atau karet,
jangan dicuci secara bersamaan dengan peralatan dari logam atau kaca. Bila
memungkinkan gunakan bak perendaman yang berbeda caranya dengan mengambil satu
persatu alkes atau peralatan laboratorium yang sudah didekontaminasi dengan korentang. 3.
Mencuci dengan hati-hati semua benda tajam atau yang terbuat dari kaca dengan cara : a.
Menggunakan sikat dengan air dan sabun untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran
dengan cara : menyikat dengan perlahan, searah dan berulang-ulang di bawah air mengalir
sampai sisa darah dan kotoran bersih di semua permukaan. b. Membuka engsel, gunting dan
klem dengan cara memutar skrup secara perlahan ke kiri sampai terlepas. Menyikat dengan
seksama terutama pada bagian sambungan dan sudut peralatan dengan cara : menyikat
dengan perlahan, searah dan berulang-ulang di bawah air mengalir sampai tidak tampak noda
darah atau kotoran. c. Memastikan sudah tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal
pada peralatan dengan cara melihat dengan membolak balik di bawah penerangan yang cukup
terang. d. Mengulangi prosedur di atas setiap benda sedikitnya tiga kali ( atau lebih bila perlu
) dengan air dan sabun atau detergen. e. Membilas benda- benda tersebut dengan air bersih
dengan cara : Mengambil satu persatu alkes dan peralatan laboratorium. Membilas satu
persatu di bawah air mengalir. 4. Mengulangi prosedur tersebut untuk benda- benda lain. Jika
peralatan akan didesinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi ( misalkan dalam larutan klorin
0,5% ), tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan kering sebelum mulai
proses ( DTT ) dengan cara : Menyiapkan baki yang bersih dan kering. Ambil alat satu-
persatu sesuai dengan jenisnya ( mis : tabung reaksi dengan tabung reaksi, beaker glass
dengan beaker glass). 5. Peralatan yang akan di desinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus
/ rebus, atau di sterilisasi di dalam autoclave / oven panas kering, tidak perlu dikeringkan
dulu sebelum proses sterilisasi dimulai. 6. Selagi masih menggunakan sarung tangan, cuci
sarung tangan dengan air dan sabun, kemudian bilas dengan seksama menggunakan air bersih
dengan cara : Meletakan tangan yang masih bersarung tangan di bawah air mengalir.
Mengambil sabun. Menggosokkan kedua tangan dengan sabun sampai bersih. 7. Melepas
sarung tangan (lihat SOP memasang dan melepas handscoen). 8. Menggantung sarung tangan
dan biarkan kering dengan cara diangin-anginkan dengan cara : Menggantung sarung
tangan dengan posisi jari dari sarung tangan di bawah, kemudian dijepit memakai jepitan
yang telah dicuci di tempat jemuran. Meletakan jemuran di tempat yang tidak terkena sinar
matahari secara langsung. 9. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir (lihat SOP
mencuci tangan). C. Desinfeksi Tingkat Tinggi / Sterilisasi Metode Sterilisasi yang dapat
dipilih : 1. AUTOCLAVE a. Menuangkan air suling secukupnya ke dalam autoclave. b.
Menuang air suling sampai batas tertentu ke dalam autoclave. c. Menata tabung reaksi atau
peralatan gelas lain di dalam wadah aluminium bagian dalam sedemikian rupa hingga
tersedia ruangan untuk bergeraknya uap air secara bebas diantara alat- alat selama sterilisasi,
letakkan wadah ke dalam autoclave dengan cara : tabung reaksi diambil satu-persatu dengan
korentang, kemudian disusun di dalam wadah alumunium yang sudah terdapat di dalam
autoclave dengan jarak minimal 0,5 cm dengan alat yang lain. d. Meletakkan tutup sterilisator
pada tubuh sterilisator dan meletakkan baut-baut penahan ke atas tempat yang sesuai dengan
tutup sterilisator, kemudian kencangkan masing-masing murnya secara bersama pada tempat
yang berlawanan dengan cara : memutar baut pada sudut yang bersilangan dan diputar kearah
kanan, baru pada dua baut pada sisi sebelahnya kearah kanan sampai erat dan tidak bisa
diputar lagi. e. Membuka pengatur klep pengaman, dalam keadaan terbuka penahan tersebut
letaknya lurus. Pasang pemanasnya. Uap yang terbentuk pada dasar sterilisator akan mengalir
ke atas di seputar wadah bagian dalam dan kemudian ke bawah diantara labu-labu dan
tabung-tabung ke dasar wadah, memaksa keluarnya udara dari dasar ke atas melalui tabung
pengeluran fleksibel dan klep pengaman. f. Bila uap air mulai keluar dengan deras (
menimbulkan bunyi mendesis ) tutuplah klep pengaman dengan cara mendorong pengaturnya
ke bawah sehingga posisinya mendatar. Tekanan dalam sterilisator akan naik dan dapat
dibaca pada alat pengukur tekanan. g. Mempertahankan tekanan pada suhu 1210C, dengan
cara mengurangi pemanasan seperlunya untuk mempertahankan tekanan tersebut dengan cara
: mengecek tekanan dan suhu pada alat penunjuk suhu dan tekanan. h. Menyeterilkan media
dan peralatan dengan cara mempertahankan tekanan 1 atm selama 15-20 menit dengan cara :
membiarkan alat bekerja selama 15-20 menit sambil terus diawasi pada tekanan 1 atm. i.
Mengawasi tekanan selama proses sterilisasi dengan cara : mengawasi angka yang tertera
pada penunjuk tekanan. j. Mematikan pemanasan dan tunggulah sampai tekanan kembali nol.
dengan cara : mematikan alat dengan cara mencabut steker listrik dan mendiamkannya
selama 15 menit sambil dibuka penutupnya. k. Bila alat penunjuk tekanan sudah mencapai
nol dan suhu telah turun sampai jauh di bawah 1000C, bukalah pengatur klep pengaman
dengan cara meluruskannya untuk mengeluarkan sisa uap yang tertinggal di dalam.
Kendurkan mur, lepaskan baut-bautnya dan angkat tutupnya. l. Membuang air yang tersisa di
dalam sterilisator dan keringkan baik-baik semua bagiannya dengan cara : menunggu sampai
alatnya dingin kemudian membersihkan air yang tersisa sebanyak kurang lebih 1 cm dengan
lap yang bersih sampai kering. 2. STERILISASI PANAS KERING ( OVEN ) a. Membuka
pintu oven dan meletakkan alat-alat yang akan disterilisasi dengan rapi. Bila memungkinkan
letakkan dalam nampan sesuai dengan klasifikasi penggunaannya ( misal : heacting set,
partus set, THT set dan lain-lain ) dengan cara : Menyusun alat yang akan disterilkan dalam
bak instrument tertutup dengan posisi yang sama (searah). Memasukkan bak instrumen yang
telah disusun ke dalam oven. b. Menutup pintu oven dengan cara : Memastikan semua
peralatan sudah masuk dengan benar. Menutup pintu oven dengan rapat. c. Tunggu sampai
suhu mencapai 1700 C dan biarkan selama 60 menit. d. Setelah selesai, tunggu sampai suhu
turun, buka pintu oven, keluarkan alat-alat yang sudah steril dengan menggunakan korentang
steril dengan cara : Menunggu sekitar 15 menit setelah lampu indikator mati. Membuka
pintu oven pelan-pelan. Mengeluarkan alat yang telah disterilkan dengan korentang. e.
Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus atau tutupnya. 3. METODE
ALTERNATIF REBUS ATAU KUKUS a. Mengambil panci dengan penutup yang rapat
dengan cara : Menaruh panci di tempat yang datar berdekatan dengan alat pemanas. b.
Merendam peralatan di dalam air sehingga semuanya terendam air dengan cara : Mengisi
panci dengan alat yang akan disterilkan. Menambahkan air setinggi kurang lebih 2,5 cm di
atas alat yang akan direbus. Pastikan semua alat yg akan di rebus telah di penuhi air.
Menutup rapat panci. c. Memulai memanaskan air. d. Menghitung waktu saat air mulai
mendidih dengan cara : Menghitung waktu saat air mulai mendidih dengan timer selama 20
menit. e. Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air mendidih setelah penghitungan waktu
mulai. Rebus selama 20 menit, catat lama waktu perebusan di dalam buku khusus.
Biarkan peralatan kering dengan cara diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan.
Pada saat peralatan kering gunakan segera atau simpan dalam wadah disinfeksi tingkat tinggi
bertutup. Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan penutup tidak dibuka. f.
Mengganti air setiap kali mendisinfeksi peralatan dengan cara: Membuang sisa air
Mengulangi kembali prosedur di atas 4. METODE ALTERNATIF DENGAN
MENGGUNAKAN UAP PANAS (BAHAN KARET / SARUNG TANGAN ) 1. Mengambil
panci perebus dengan tiga susun nampan pengukus. 2. Gulung sarung tangan bagian atas
sehingga setelah DTT selesai, dapat dipakai tanpa membuat terkontaminasi baru dengan cara
: a. Menggulung sarung tangan dimulai dari ujung jari sarung tangan ke arah lubang sarung
tangan. b. Melipat sarung tangan sedemikian rupa sehingga bagian dalam sarung tangan
berada di luar. 3. Meletakkan bahan yang akan disterilisasi pada nampan pengukus yang
berlubang di bawahnya. Agar mudah dikeluarkan dari bagian atas nampan pengukus. Agar
proses DDT berjalan efektif, harap perhatikan jumlah maksimal kapasitas nampan dengan
cara : meletakkan bahan yang akan disterilisasi satu-persatu ke dalam nampan pengukus
dengan jarak minimal 0,5 cm. 4. Ulangi proses tersebut hingga semua nampan terisi. Susun
tiga nampan pengukus di atas panci perebus berisi air. Letakkan panci perebus kosong di
sebelah kompor. 5. Letakkan penutup di atas nampan pengukus paling atas dengan cara :
menutup panci setelah memastikan semua peralatan yang akan disterilkan masuk semua ke
dalam panci. 6. Jika uap air keluar dari celah-celah di antara panci pengukus, mulailah
penghitungan waktu. Catat lamanya pengukusan. 7. Kukus bahan selama 20 menit, buka
tutup panci dan letakkan dalam posisi terbalik. 8. Angkat nampan pengukus paling atas yang
berisi sarung tangan dan goyangkan perlahan-lahan agar air yang tersisa dapat menetes keluar
dengan cara : Membuka tutup panci dan meletakkannya dengan bagian dalam menghadap
ke atas. Mengangkat nampan paling atas. Menggoyangkan nampan di dalam panci secara
perlahan-lahan dengan cara memiringkannya ke kanan dan kekiri. 9. Letakkan nampan
pengukus di atas panci perebus kosong dengan cara : Menyiapkan panci kosong dengan
ukuran yang sama dengan panci pengukus. Meletakkan nampan yang sudah ditiriskan di
atas panci yang kosong tersebut. 10. Biarkan kering dengan di angin-anginkan sampai kering
dalam nampan selama 4-6 jam. 11. Jika sudah kering, letakkan dalam wadah DTT lalu tutup
rapat, bisa bertahan sampai satu minggu. Catatan Memberi label pada peralatan yang sudah
steril dengan mencantumkan nama, jenis peralatan, tanggal dan jam disterilkan.
MEMPROSES LINEN A. PROSEDUR TETAP 1. Memakai sarung tangan rumah tangga
dan APD (Alat Pelindung Diri). 2. Menyortir ( mengumpulkan, membawa dan memilih ). 3.
Membinatu ( mencuci, mengeringkan, melipat ). 4. Menyimpan dan mendistribusikan. B.
CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN Memakai sarung tangan rumah tangga dan APD
Lihat SOP Menyortir (mengumpulkan, membawa dan memilih linen ) a. Mengumpulkan dan
membawa linen dalam kantong kain, plastik, konteiner tertutup dengan cara : Menyiapkan
kantong plastik/ kontainer tertutup. Dalam mengumpulkan linen kotor usahakan seminimal
mungkin kontak dengan linen. Memasukkan linen ke dalam kantong plasik/ container
tetutup. b. Jangan memilih / mencuci linen kotor di area perawatan pasien. c. Tangani linen
kotor sesedikit mungkin dan jangan dikocok. d. Membawa kain kotor dan bersih secara
terpisah. e. Memilih linen kotor. Area memilih linen kotor harus terpisah dari area lain.
Cukup ventilasi Ada pembatas dinding antara area linen bersih dan linen kotor. 3. Mencuci
linen Dekontaminasi sebelum mencuci tidak diperlukan kecuali linen kotor sekali dan akan
dicuci dengan tangan (barulah merendam linen dalam klorin 0,5%) dengan cara : a.
Menyiapkan air yang telah bercampur dengan klorin, dengan cara seperti yang telah
disebutkan di atas ( mencampur klorin dan air ). b. Memasukkan linen yang kotor ke dalam
air yang telah disiapkan. c. Merendam linen selama kurang lebih 10 menit. 4. Mencuci
dengan tangan a. Cuci linen yang kotor sekali terpisah dari linen yang tidak kotor dengan cara
: Menyediakan 2 ember yang masing-masing sudah terisi air. Mencuci linen di masing-
masing ember. b. Cuci semuanya dalam air dengan sabun cair untuk mengeluarkan
kotorannya. Pakai air hangat kalau ada. Tambahkan pemutih misal 30-60 ml kira-kira 2-3
sendok meja. Dan klorin 0,3% untuk membantu membersihkan dan tindakan terhadap
bakteri. c. Periksa kebersihan cucian, cuci ulang kalau ternyata masih kotor / bernoda dengan
cara : Membentangkan linen yang sudah dicuci di bawah penerangan yang cukup.
Mengamati linen apakah masih ada noda yang tersisa. d. Bilas dengan air bersih dengan cara
: Membuang air bekas cucian. Membilas linen yang telah dicuci dengan air mengalir
sampai tidak berbusa lagi. 5. Mencuci dengan mesin cuci a. Cuci linen yang kotor sekali
terpisah dari linen yang tidak kotor caranya: Memisahkan linen yang kotor dengan yang
sangat kotor. Memasukkan linen yang sangat kotor terlebih dahulu ke dalam mesin cuci
sambil diberi air dan sabun. b. Mengoperasionalkan mesin cuci Sesuaikan suhu dan siklus
waktu dari mesin cuci Pakai air hangat kalau ada Tambahkan pemutih misal 30-60 ml
kira-kira 2-3 sendok meja dan klorin 0,3% untuk membantu membersihkan dan tindakan
terhadap bakteri c. Periksa kebersihan cucian, cuci ulang kalau ternyata masih kotor / bernoda
dengan cara seperti di atas. d. Bilas dengan air bersih dengan cara seperti di atas. 6.
Mengeringkan , memeriksa dan melipat linen a. Keringkan di udara / mesin sebelum di
proses selanjutnya. Bila di keringkan di udara di bawah sinar matahari linen jangan
menyentuh tanah jauhkan dari debu dan asap. b. Setelah linen kering periksa adanya
lubangdan area yang berlubang. Kalau ada bahan tersebut harus dibuang atau dipotong kecil-
kecil untuk lap. c. Linen yang bersih dan kering harus disetrika dan dilipat. 7. Menyimpan
linen kering Simpan di area penyimpanan tertutup yang bersih dengan cara : a. Menyiapkan
almari khusus penyimpan linen. b. Masukkan linen yang telah terlipat satu-persatu. c.
Gunakan penghalang fisik untuk memisahkan kamar melipat dan penyimpanan dari area
kotor. d. Rak harus selalu bersih. e. Linen yang disimpan ditangani sesedikit mungkin. 8.
Membawa linen bersih Linen bersih harus dibungkus atau ditutupi selama dibawa untuk
mencegah kontaminasi. 9. Mendistribusikan linen bersih a. Lindungi linen bersih sampai
dibawa untuk digunakan dengan trolley tertutup. b. Jangan meninggalkan linen extra di
kamar pasien. c. Tangani linen bersih sesedikit mungkin. d. Jangan
mengebutkan/mengibaskan linen bersih karena akan mengeluarkan debu. e. Bersihkan kasur
kotor sebelum menaruh linen bersih di atasnya. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, Ilmu Dasar
Keperawatan Depkes RI, Modul Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, 2007 Depkes RI,
Petunjuk Praktikum Kimia-Mikrobiologi-Parasitolo Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap


suction
A. Pengertian
Suatu cara untuk mengeluarkan secret dari saluran nafas dengan menggunakan suction
kateter yang dimasukkan melalui hidung atau rongga mulut kedalam pharyng atau trachea.
Penghisapan lendir digunakan bila klien mampu batuk secara efektif teapi tidak mampu
membersihkan sekret dengan mengeluarkan atau menelan. Tindakan penghisapan lendir juga
tepat pada klien yang kurang responsif atau, yang mmerlukan pembuangan sekret oral.

B. Tujuan
1. Untuk memelihara saluran nafas tetap bersih.
2. Untuk mengeluarkan sekret dari pasien yang tidak mampu mengeluarkan sendiri.
3. Diharapkan suplay oksigen terpenuhi dengan jalan nafas yang adekuat

C. Indikasi
1. Pasien yang pita suaranya tidak dapat tertutup.
2. Pasien yang koma.
3. Pasien yang tidak bias batuk karena kelumpuhan dari otot pernafasan.
4. Bayi atau anak dibawah umur 2 tahun.
5. Pasien yang secretnya sangat banyak dan kental, dimana dia sendiri sulit untuk
mengeluarkannya.

D. Kontra Indikasi
1. Pasien dengan stridor.
2. Pasien dengan kekurangan cairan cerebro spinal.
3. Pulmonary oedem.
4. Post pneumonectomy, ophagotomy yang baru.
E. Alat yang Digunakan
1. Penghisap pertebel atau yang terpasang di dinding deengan selang penghubung
2. Kateter steril 12-16 Fr
3. Air steril atau normal saline
4. Sarung tangan steril
5. Pelumas larut air
6. Handuk mandi atau selimut yang melindungi klien atau baju klien
7. Masker wajah dan kasa steril
8. Pinset anatomis
9. Cairan desenfektan untuk mencuci kateter steril
10. Spatel
F. Prosedur Tindakan dan Rasional
no Langkah - langkah Rasional
1 Siapkan peralatan di samping tempat Memungkinkan kelancaran dalam
tidur pelaksanaan prosedur tanpa gangguan.
2 Cuci tangan dan pakai sarung tangan. Mengurangi transmisi mikroorganisme
3 Jelaskan pada klien bagaimana
prosedur akan membantu
membersihkan jalan nafas dan
mnghilangkan beberapa masalah
pernapasannya. Jelaskan bahwa batuk,
bersin, atau menelan adalah normal.
4 Posisikan klien dengan tepat:
- bila sadar dengan refleks gag Refleks gag mencegah aspirasi isi
berfungsi baringkan klien pada posisi gastrointestinal. Posisi ke satu sisi atau
semi Fowlers dengan kepala miring hiperektensi lehermeningkatkan
ke satu sisi untuk penghisapan oral. insersi perlahan kateter kedalam
Baringkan klien pada posisi Fowlers orofaring atau nasofaring secara
dengan leher ekstensi untuk berurutan.
penghisapan nasal
-Bila sadar-baringkan klien pada Mencegah lidah klien menghadap
posisi lateral menghadap pada anda jalan nafas, meningkatkan drainase
untuk penghisapan oral atau nasal. sekret pulmonal, dan mencegah
aspirasiisi gastrointestinal.
5 Tempatkan handuk pada bantal atau Mencegah linen tempat tidur atau baju
dibawah dagu klien tidur basah akibat dari sekret. Handuk
dapat di buang, mengurangi
penyebaran bakteri.
6 Pilih tekanan dan tipe unit penghisap Menjamin tekanan negatif yang aman
yang tepat. Untuk semua unit sesuai dengan usia klien. Tekanan
penghisap adalah 120-150mm Hg negatif yang berlebihan dapat
pada orang dewasa, 100-120mm Hg. mencetuskan cedera muklosa
Pada anak-anak, atau 60-100mm Hg
pada bayi.
7 Tuangkan air steril atau normal salin Diperlukan untuk melumasi kateter
kedalam wadah yang steril. guna mengurangi friksi dan
meningkatkan pasase lembut.
8 Kenakan sarung tangan steril pada Mempertahankan asepsis saat kateter
tangan dominan anda. dimasukan kedalam mulut atau hidung
klien.
9 Gunakan tangan yang telah Mempertahankan sterilisasi
menggunakan sarung tangan,
sambungkan katerter ke mesin
penghisap
10 Perkirakan jarak antara daun telinga -Jarak ini menjamin bahwa kateter
klien dan ujung hidung dan letakan ibu penghisap akan tetap pada region
jari dan jari telunjuk dari tangan yang faringeal. Insersi kateter pada titik ini
telah menggunakan sarung tangan. menempatkan katetert di trakea.
11 Basahi ujung kateter dengan larutan -Pembasahan ujung kateter
steril. Pasang penghisap dengan mengurangi friksi dan memudahkan
ujungnya terletak dalam larutan. pemasangan. Pemasangan.Penghisap
pada kateter berada dalam larutan
seteril menjamin bahwa peralatan
penghisap berfungsi sebelum kateter
di masukan.
12 Penghisap.
-Orofaringeal dengan perlahan Mengindari turbinasi nasal oleh
masukan kateter ke dalam satu sisi kateter dan masuk lebih mudah
mulut klaen dan arahkan ke kedalam nasofaring.
orofaring.Jangan lakukan penghisapan
selama pemasangan.
-nasofaringeal-dengan perlahan Resiko trauma pada mukosa oral dan
masukan kateter kesalah satu lubang nasal selama pemasangan kateter
hidung. Arahkan kearah medial dikurangi.
sepanjang dasar rongga hidung.
Jangan dorong paksa kateter. Bila
lubang hidung yang satu tidak paten,
coba hidung yang lain. Jangan lakukan
penghisapan selama pemasangan.
13 Sumbat port penghisap dengan ibujari Sumbatan pada port pnghisap
anda. Dengan perlahan rotasi kateter mengaktifkan tekanan penghisap.
saat anda menariknya. Keseluruhan Penghisap dilakukan secara intermiten
proses prosedur tidak boleh dari 15 saat kateter di tarik. Rotasi mngangkat
detik. sekret dari permukaan jalan nafas dan
mncegah trauma dari tekanan
penghisap pada satu area. CATATAN:
penghisapan juga mumbuang udara.
Suplay oksigen klien dapat sangat
berkurang bila prosedur berlangsung
lebih dari 15 detik.
14 bilas kateter dengan larutan steril Membuang sekret dari kateter
dengan meletakannya dalam larutan melumasinya untukpenghisapan
dan lakukan penghisapan. brikutnya.
15 Bila klien tidak mengalami distres Memunkinkan kesempatan klien untuk
pernapasan, biarkan ia istirahat selama meningkatkan masukan oksigennya.
20 30 detik sebelum memasukan
ulang kateter.
16 Bil klien mampu, minta ia untuk Meningkatkan mobillitas sekret ke
bernapas dalam dan batuk diantara jalan napas atas, tempat sekret dapat
penghisapan. diangkat dengan kateter. Bila klien
mampu untuk batuk secara produktif,
penghisapan selanjutnya tidak
diperlukan sepanjang jalan nafas
bersih pada auskultasi.
17 bila diperlukan penghisapan ulang, Apabila nadi dan pernapasan sudah
ulangi langkah 11 13. normal. Dewasa normal nadi: 80-
120/menit dan pernapasan:18-25
/menit
18 Hisap sekret pada mulut atau di Mempertahankan aseptis steril. Mulut
bawah lidah setelah pnghisapan harus dihisap setelah area steril telah
orofaring atau nasofaring. di hisap secara keseluruhan.
19 Buang kateter dengan Mengurangi penyebaran bakteri dari
membungkusnya dalam tangan anda kateter penghisap.
yang menggunakan sarung dan
lepaskan sarung untuk membungkus
kateter.
20 Siapkan peralatan untuk penghisapan Memberikan kesiapan akses untuk
berikutnya. peralatan penghisap, khusunya bila
klien mengalami distres pernapasan.
21 Cuci tangan Agar tidak kena infeksi
22 Catat pada catatan perawat jumlah, Mendokumentasikan bahwa prosedur
konsistensi, warna dan bau sekret, telah dilaksanakan.
serta respon klien terhadap prosedur.
Daftar pustaka

Perry,Anne Griffin & Potter.1994.keterampilan dan prosedur dasar.Jakarta:Buku


Kedokteran EGC

http://fisioterapigpm.blogspot.com/2009/05/naso-pharingeal-suction.html
Prosedur Melakukan Irigasi Telinga Oleh: Ns.Lukman,S.Kep,MM INDIKASI 1 2 3 Untuk
mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal audiotory eksternal. Untuk
mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan antiseptic. Untuk menghangatkan atau
mendinginkan kanal audiotory eksterna. PERHATIAN DAN KONTRA INDIKASI 1 2 3 4
Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder, pembedahan,
miringitomi). Terjadi komplikasi sebelum irigasi. Temperatur yg ekstrim panas dapat
menyebabkan pusing, mual dan muntah. Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti
bahan sayuran (kacang), jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit
dikeluarkan. PERSIAPAN KLIEN 1 2 Atur posisi klien dengan memiringkan kepala ke arah
telinga. Lindungi pakaian klien dengan handuk/bahan tahan air. PERSIAPAN ALAT 1 2 3 4
5 6 7 8 9 Otologik syringe (metal) atau syringe 60 ml ukuran 18 atau 20 G, dan untuk anak-
anak. (waterpik) Baskom. Handuk/alas tahan air. Baskom/bengkok untuk muntah. Otoskop.
Sarung tangan. Termometer. Kapas/kassa. Cooton Tip (untuk anak-anak).
PERTIMBANGAN KHUSUS 1 2 3 4 Kanal telinga anak-anak lebih kecil. Tarik aurikel ke
bawah dan kebelakang. Anak-anak posisi supinasi bila perlu di resraint untuk menghindari
pergerkan. Untuk mengurangi ansieas jelaskan prosedur dan izinkan anak-anak untuk
menyentuh air atau mendengarkan suara air. KOMPLIKASI 1 2 3 4 Vertigo, mual, nyeri
selama dan setelah prosedur, stop segera bila terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan
tekanan dan temperatur yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala. Ruptur membran
timpani. Kehilangan pendengaran. Trauma/injury kanal teling dalam. P R O S E D U R 1 2 3
4 5 6 7 8 9 Bersihkan telinga luar. Periksa telinga dg otoskop sebelum melakukan irigasi.
Isikan cairan irigasi ke dalam syringe (tarik/sedot) dan buang udara dlm syringe. Larutan bisa
air, atau campuran air dan hidroegn peroksida, cairan disesuaikan dengan temperatur tubuh,
cek dengan pergelangan tangan bagian dalam/gunakan termometer. Minta klien untuk
memegang bengkok. Tarik aurikel ke atas dan keluar telinga superior dan posterior
(dewasa), tarik aurikel posterior dan inferior (anak di atas 3 tahun). Lakukan irigasi dengan
perlahan untuk mengurangi peningkatan tekanan. Setelah irigasi , inspeksi kanal telinga
untuk melihat kemajuan dari tindakan atau cek cairan irigasi yang keluar dari seruemn atau
benda-benda asing Ulangi irigasi sesuai kebutuhan, istirahatkan klien diantara irigasi.
Keringkan telingan dengan kapas, taruh kapas 5-10 menit untuk absorb dari kemungkinan
lembab. PENDIDIKAN KESEHATAN 1 2 3 Laporkan bila ada nyeri, mual, pusing, atau
hilang pendengaran selama atau setelah prosedur. Bersihkan telinga luar dengan
menggunakan kain, sabun Dan air setiap hari. Jangan memasukkan bahan-bahan ke dalam
telinga. Referensi: Proehl JA (1999). Emergency Nursing Procedures (2 nd Edition).
Philadelphia: W.B. Saunders Company

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap


SOP Irigasi Mata (Pembersihan Mata)

Irigasi Mata
DEFINISI
Irigasi mata merupakan suatu tindakan pencucian kantung konjungtiva mata. Irigasi biasanya
menggunakan akuades, saline, atau cairan antiseptik. Teknik steril digunakan karena tindakan
ini berhubungan dengan mukosa mata.

TUJUAN
1. Membersihkan
2. Menghantarkan obat

INDIKASI
1. Cedera dekontaminasi kimiawi
2. Pembersihan debris (mis. debu) dari mata.

KONTRAINDIKASI
1. Bola mata terluka atau tertusuk

PENATALAKSANAAN
Peralatan
1. Tabung steril untuk tempat cairan
2. Cairan irigasi dengan suhu 37 C
3. Lakmus (penguji pH bila terpajan asam/basa)
4. Irigator (contoh: selang infuse) atau spuit steril
5. Bola kapas steril
6. Bengkok steril
7. Perlak
8. Handuk
9. Sarung tangan steril
Tindakan Terapeutik
1. Mengucapkan salam terapeutik
2. Melakukan validasi/ evaluasi
3. Melakukan kontrak waktu
4. Jelaskan prosedur kepada klien
5. Mempersiapkan alat
6. Mencuci tangan
7. Bantu klien mengatur posisi duduk atau berbaring, miring kepala ke arah mata yang
sakit
8. Tutup pakaian klien dengan handuk. Pasang perlak di bawah kepala pasien
9. Pasang bengkok di bawah mata yang sakit
10. Pakai sarung tangan steril
11. Bersihkan kelopak mata dan bulu mata dengan kapas yang telah dibasahi cairan
irigan, dengan arah dari kanus dalam ke kanus luar
12. Dengan perlahan, retraksi kelopak mata dengan telunjuk dan ibu jari tangan non
dominan (umumnya kiri).
13. Mulai alirkan irigan melalui irigator, pengang bagian distal irrigator dengan tangan
dominan (umumnya kanan) 2,5 cm diatas mata. Aliran cairan harus mengalir dengan
kecepatan sesuai kenyamanan klien.
14. Arahkan cairan irigan ke semua arah pada bila mata anterior, dari kanus dalam ke
kanus luar. Lanjutkan tindakan sampai air yang keluar dari mata tampak bersih.
15. Bila sudah selesai, bersihkan sekitar mata dengan cara mengusap dari arah dalam ke
luar
16. Tutup mata bila diperlukan dan kaji respon
17. Bereskan alat yang digunakan dan dokumentasikan

DAFTAR PUSTAKA
Kidd, Pamela, S. Sturt, Ann, S. Fultz, Julia. 2010. Pedoman Keperawatan Emergensi. Jakarta:
EGC

Potter, P.A, Perry, A. G (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik. Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari, dkk. Jakarta: Salemba Medika

Prigarjo, Robert. 2013. Teknik Dasar Pemberian Obat bagi Perawat. Jakarta: EGC
SPO Snake Bite
Logo PEMERINTAH KABUPATEN
Kota/Kabupaten DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS. / RS ..
Alamat Puskesmas atau RS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


1/1
STANDAR Ditetapkan,
PROSEDUR (Penanggung Jawab)
OPERASIONAL Tanggal Terbit
TATALAKSANA :
GIGITAN ULAR
Kepala Puskesmas atau RS

DEFINISI Suatu keadaan yang disebabkan oleh gigitan ular berbisa.


TUJUAN Sebagai acuan dalam melakukan pengobatan gigitan ular berbisa.
KEBIJAKAN 1. Undang Undang RI No. 29 tahun 2004.
2. Undang Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009.
3. Kepmenkes RI No. 279/Menkes/SK/IV/2006.
4. Permenkes RI No. 269/Menkes/Per/III/2008.
5. Permenkes RI No. 290/Menkes/Per/III/2008.
PERSIAPAN ALAT PERSIAPAN ALAT STERIL : POLEY/BAKI BERISI
& BAHAN ALAT NON STERIL :
1. Pinset anatomi. 11. Verban.
2. Pinset chirrurgis. 12. Plester.
3. Gunting. 13. Gunting Balutan.
4. Bengkok. 14. Bethadine dalam
wadahnya.
5. Kom kecil. 15. Lidokain injeksi.
6. Kassa. 16. Tempat sampah.
7. Vacum penyedot.
8. Hand scoen
9. Spuit
10. NaCl
PROSEDUR 1. Memberitahu pasien dan keluarga.
2. Dokter / Perawat (operator) cuci tangan.
3. Mengatur posisi (operator memakai hand scoen).
4. Operator membersihkan luka dengan air sabun.
5. Buatlah sayatan silang ditempat gigitan sampai darah keluar (bila
gigitan terjadi < 30).
6. Darah disedot dengan alat penyedot (jangan pakai mulut).
7. Suntikkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) polivalen i.v dan sekitar
luka (bila tersedia).
8. Untuk profilaksis dapat diberikan ATS atau Penisillin Procain
900.000 UI.
9. Tutup luka dengan kasa steril.
10. Mencatat kegiatan dan hasil observasi.
11. Pasien dirapikan.
12. Alat dibereskan dan dibersihkan.
13. Operator cuci tangan.

Hal yang perlu diperhatikan :


Bila yg digigit anggota badan, ikat kuat dengan tali putar silang
disebelah atas luka sampai denyut nadi hampir tidak teraba. Ikatan
dikendorkan setiap 15 menit selama 1 menit.
Bila timbul gejala syok, lumpuh, dan sesak nafas, penderita
segera dirujuk ke RS.
UNIT TERKAIT UGD
DOKUMEN 1. Standar Pelayanan Medis, IDI / 1997.
TERKAIT 2. Kedaruratan Medik / 2000.
3. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas Berdasarkan Gejala,
2005.
4. Pedoman Kegiatan Perawat Kesehatan Masyarakatdi
Puskesmas, 2006.
5. Pengobatann Dasar di Puskesmas, 2007.
GP (Ganti Perban)
1. Pengertian

Mengganti balutan atau perban adlah suatu tindakan keperawatan untuk mengganti perban
perawatan luka untuk mencegah infeksi dengan cara mengganti balutan yang kotor dengan
balutan yang bersih.

1. Tujuan

(1) Meningkatkan penyembuhan luka dengan mengabsorbsi cairan dan dapat menjaga
kebersihan luka
(2) Melindungi luka dari kontaminasi
(3) Dapat menolong hemostatis ( bila menggunakan elastis verband )
(4) Membantu menutupnya tepi luka secara sempurna
(5) Menurunkan pergerakan dan trauma
(6) Menutupi keadaan luka yang tidak menyenangkan

1. Indikadi

(1) Pada balutan yang sudah kotor


(2) Pada penderita yang lukanya akan diperiksa oleh dokter atau akan diberi obat konpres
yang baru.

1. Kontra Indikasi

(1) Pembalut dapat menimbulkan situasi gelap, hangat dan lembab sehingga
mikroorganisme dapat hidup
(2) Pembalut dapat menyebabkan iritasi pada luka melalui gesekan gesekan pembalut.
1. Persiapan Alat

(1) Alat-alat steril

a) Pinset anatomis 1 buah


b) Pinset sirugis 1 buah
c) Gunting bedah/jaringan 1 buah
d) Kassa kering dalam kom tertutup secukupnya
e) Kassa desinfektan dalam kom tertutup
f) sarung tangan 1 pasang
g) korentang/forcep

(2) Alat-alat tidak steril

a) Gunting verban 1 buah


b) Plester
c) Pengalas
d) Kom kecil 2 buah (bila dibutuhkan)
e) Nierbeken 2 buah
f) Kapas alcohol
g) Aceton/bensin
h) Sabun cair anti septic
i) NaCl 9 %
j) Cairan antiseptic (bila dibutuhkan)
k) Sarung tangan 1 pasang
l) Masker
m) Air hangat (bila dibutuhkan)
n) Kantong plastic/baskom untuk tempat sampah

1. Pelaksanaan

(1) Jelaskan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan


(2) Dekatkan alat-alat ke pasien
(3) Pasang sampiran
(4) Perawat cuci tangan
(5) Pasang masker dan sarung tangan yang tidak steril
(6) Atur posisi pasien sesuai dengan kebutuhan
(7) Letakkan pengalas dibawah area luka
(8) Letakkan nierbeken didekat pasien
(9) Buka balutan lama (hati-hati jangan sampai menyentuh luka) dengan menggunakan
pinset anatomi, buang balutan bekas kedalam nierbeken. Jika menggunakan plester lepaskan
plester dengan cara melepaskan ujungnya dan menahan kulit dibawahnya, setelah itu tarik
secara perlahan sejajar dengan kulit dan kearah balutan. ( Bila masih terdapat sisa perekat
dikulit, dapat dihilangkan dengan aceton/ bensin )
(10) Bila balutan melekat pada jaringan dibawah, jangan dibasahi, tapi angkat balutan
dengan berlahan
(11) Letakkan balutan kotor ke neirbeken lalu buang kekantong plastic, hindari kontaminasi
dengan permukaan luar wadah
(12) Kaji lokasi, tipe, jumlah jahitan atau bau dari luka
(13) Membuka set balutan steril dan menyiapkan larutan pencuci luka dan obat luka dengan
memperhatikan tehnik aseptic
(14) Buka sarung tangan ganti dengan sarung tangan steril
(15) Membersihkan luka dengan sabun anti septic atau NaCl 9 %
(16) Memberikan obat atau antikbiotik pada area luka (disesuaikan dengan terapi)
(17) Menutup luka dengan cara:

Balutan kering
a) lapisan pertama kassa kering steril untuk menutupi daerah insisi dan bagian sekeliling
kulit
b) lapisan kedua adalah kassa kering steril yang dapat menyera
c) lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar

Balutan basah kering


a) lapisan pertama kassa steril yang telah diberi cairan steril atau anti mikkrobial untuk
menutupi area luka
b) lapisan kedua kasa steril yang lebab yang sifatnya menyerap
c) lapisan ketiga kassa steril yang tebal pada bagian luar

Balutan basah basah


a) lapisan pertama kassa steril yang telah dilembabkan dengan cairan fisiologik untuk
menutupi area luka
b) lapisa kedua kassa kering steril yang bersifat menyerap
c) lapisan ketiga (lapisan paling luar) kassa steril yang sudah dilembabkan dengan cairan
fisiologik

(18) Plester dengan rapi


(19) Buka sarung tangan dan masukan kedalam nierbeken
(20) Lepaskan masker
(21) Atur dan rapikan posisi pasien
(22) Buka sampiran
(23) Evaluasi keadaan umum pasien
(24) Rapikan peralatan dan kembalikan ketempatnya dalam keadaan bersih, kering dan rapi
(25) perawat cuci tangan
(26) Dokumentasikan tindakan dalam catatan keperawatan

1. Hal hal yang harus diperhatikan

(1) Membalut harus rata, jangan terlalu longgar dan jangan terlalu erat, hal ini untuk
mencegah terjadinya pembendungan. Contoh pada kaki dan tangan
(2) Pembalut harus sesuai dengan tujuan, contoh : untuk menjaga agar luka jangan
terkontaminasi, untuk merapatnya luka, atau untuk menghentikan perdarahan
(3) Menggunting plester jangan terlalu panjang/ terlalu pendek
(4) Pembalut yang kotor/ basah segera diganti. Pada luka operasi tanpa drain sampai angkat
jahitan ( minimal 5 hari ), pembalut yang tepat berada di atas luka tidak boleh diganti. Jadi
bila pembalut kotor/ basah hanya bagian atasnya saja yang diganti, atau pembalut diganti
sesuai dengan instruksi dokter
(5) Memperhatikan apakah ada perdarahan, atau kotoran kotoran yang lain untuk
menetukan kapan drain dapat diangkat
(6) Memperhatikan komplikasi luka operasi, contoh haematom, adanya pus, pengerasan,
perdarahan, kemerahan atau lecet lecet pada kulit sekitarnya

Referensi
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
bagainya
15 Januari 2010
SOP VISUM
Pengertian Melayani perrnintaan pembuatan visum et repertum.
Tujuan Sebagai acuan membuat visum setelah melakukan
pemeriksaan pasien atau jenazah.
Kebijakan Visum adalah sebagai bahan bukti pengganti bila
diperlukan dipengadilan.
Pelayanan visum disini adalah visum hidup
Prosedur 1. UGD puskesmas Tumpang melayani Visum hidup,
2. Permintaan Visum diajukan secara resmi dan tertulis
oleh Kepolisian kepada Puskesmas.
3. Pengajuan permintaan Visum disampaikan di UGD
dalam waktu 2 x 24 jam sejak kejadian oleh petugas
kepolisian
4. Petugas UGD meneliti surat permintaan Visum,
setelah meneliti kebenaran surat, petugas menulis tanggal,
jam penerimaan, nama dan tanda tangan.
5. Apabila penderita / korban sudah masuk
ruangan maka surat permintaan Visum ada di
UGD '
6. Visum dibuat berdasarkan pemeriksaan
penderita pada saat permintaan Visum Et
repertum.
7. Bila penderita / korban sudah meninggal
maka petugas UGD memriksa kondisi secara
umum.
8. penderita yang sudah meninggal dirujuk ke
RRSA
9. Visum hidup dibuat dan ditanda tangani
oleh Dokter yang memeriksa / menangani
penderita pada saat visum diterima.
10. Visum bisa diambil oleh petugas kepolisian
dalam waktu 2 X 24 jam.
11. petugas menandatangani penerimaan laporan
visum

catatan : dokumentasi visum (menggunakan kamera


khusus visum kemudian disimpan dikomputer UGD)

Unit Ambulance, Kepolisian


terkait
VISUM ET REPERTUM PERKOSAAN
Share :

Visum et Repertum adalah suatu laporan hasil


pemeriksaan yang dibuat atas permintaan penyidik untuk keperluan hukum dan pengadilan

Prosedur

SERAH TERIMA KORBAN


1. Korban datang diantar petugas
2. Surat permintaan VER ditanda tangani penyidik
3. Dokter pemeriksa mencocokkan nama tersebut dalam surat dengan korban, bila tidak
sesuai harap dilembalikan kepada penyidik
4. Buku ekspedisi milik penyidik ditanda tangan oleh petugas RS atau dokter
5. Petugas pengantar menulis nama, pangkat dan jabatan serta tanda tangan

IJIN UNTUK DIPERIKSA


1. Pernyataan tertulis bahwa korban bersedia diperiksa dokter
2. Bila korban anak-anak pernyataan dibuat oleh orang tua atau wali
3. Bila korban tidak sadar, ijin keluarga atau pembuatan V e R dapat ditunda sampai
perawatan selesai
4. Selama pemeriksaan korban harus didampingi perawat

PEMERIKSAAN KORBAN
1. Dicatat nama dokter pemeriksa dan perawat pembantu
2. Dicatat tanggal dan jam pemeriksaan

ANAMNESA
UMUM
1. Identitas korban : nama , umur , pekerjaan
2. Status perkawinan : gadis, sudah menikah, janda
3. Haid terakhir, pola haid
4. Riwayat penyakit, penyakit kelamin, penyakit kandungan
5. Apakah memakai kontrasepsi

KHUSUS
1. Siapa yang melaporkan ke polisi :
Korban
Keluarga
Masyarakat
2. Saat kejadian : tanggal dan jam
3. Tempat kejadian
4. Apakah korban melawan
5. Apakah korban pingsan
6. Apakah korban kenal dengan pelaku
7. Apakah terjadi penetrasi penis dan terjadi ejakulasi
8. Apakah ada deviasi sexual
9. Jumlah pelaku
10. Apakah setelah kejadian korban :
Mencuci kemaluan
Mandi
Ganti pakaian

PEMERIKSAAN BAJU KORBAN


1. Dicatat helai demi helai pakaian luar dan dalam korban
2. Diperiksa apakah ada bercak :
Darah
Air mani
Lumpur, kancing putus, robekan, dll
Bila ada digunting dan dikirim ke Labkrim

PEMERIKSAAN UMUM ( BADAN )


1. Tingkah laku :
Gelisah
Depresi
2. Penampilan :
Rapi
Kusut/ acak-acakan
3. Tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau dibawah pengaruh alkohol, obat tidur/ bius,
needle mark
4. Tanda-tanda bekas kekerasan dari daerah kepala sampai kaki :
Macam luka : lecet, memar, robek, atau patah tulang
Love bite atau cupang
5. Ada tidaknya Trace Evidence yang menempel pada tubuh : tanah, rumput,
darah

PEMERIKSAAN KHUSUS ( ALAT GENITAL )


1. Adakah rambut kemaluan yang melekat, bila ada digunting dan kirim ke Labkrim
2. Adakah rambut asing ( dengan cara menyisir rambut pubis ) , bila ada tempel pada selotipe
dikirim ke Labkrim
3. Adakah bercak air mani di sekitar alat kelamin, bila ada dikerok dengan skalpel/ dihapus
dengan kapas basah kirim ke Labkrim
4. Pemeriksaan himen
Bentuk himen
Ukuran lubang himen
Ada robekan baru atau lama
Lokasi robekan

5. Pemeriksaan vagina dan cervix dengan speculum :


Adakah tanda-tanda penyakit kelamin :
Dinding vagina luka / tidak
Fornix posterior luka / tidak
Ostium uteri keluar darah / tidak
6. Pemeriksaan dalam / colok dubur : rahim membesar atau tidak
7. Pengambilan bahan pemeriksaan laboratorium :
Spermatozoa
Semen
Penyakit kelamin

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan spermatozoa
Bahan diambil dari cairan vagina atau canalis cervicalis
Dengan pipet atau ose
Dengan pewarnaan :
- Dibuat preparat hapus
- Difiksasi dengan api
- Pewarnaan HE atau Gram
Tanpa pewarnaan :
- Diletakkan diatas obyekglas
- Pembesaran 500 kali
- Spermatozoa bergerak / mati / tidak ada

2. Pemeriksaan bercak sperma pada pakaian :


Visual :
- Bercak berbatas jelas
- Lebih gelap dari sekitarnya
Sinar Ultra Violet menunjukkan fluoresensi putih
Taktil :
- Kaku
- Permukaan bercak teraba kasar

3. Pemeriksaan kehamilan

SERAH TERIMA KORBAN KEMBALI


Dokter menyerahkan kembali korban kepada pengantar

EVALUASI PEMERIKSAAN DAN MEMBUAT KESIMPULAN


Kesimpulan harus berdasar pemeriksaan obyektif
Kesimpulan dibuat bila hasil laboratorium selesai

Referensi
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal : 285 tentang Perkosaan
againya
15 Januari 2010
SOP VISUM
Pengertian Melayani perrnintaan pembuatan visum et repertum.
Tujuan Sebagai acuan membuat visum setelah melakukan
pemeriksaan pasien atau jenazah.
Kebijakan Visum adalah sebagai bahan bukti pengganti bila
diperlukan dipengadilan.
Pelayanan visum disini adalah visum hidup
Prosedur 1. UGD puskesmas Tumpang melayani Visum hidup,
2. Permintaan Visum diajukan secara resmi dan tertulis
oleh Kepolisian kepada Puskesmas.
3. Pengajuan permintaan Visum disampaikan di UGD
dalam waktu 2 x 24 jam sejak kejadian oleh petugas
kepolisian
4. Petugas UGD meneliti surat permintaan Visum,
setelah meneliti kebenaran surat, petugas menulis tanggal,
jam penerimaan, nama dan tanda tangan.
5. Apabila penderita / korban sudah masuk
ruangan maka surat permintaan Visum ada di
UGD '
6. Visum dibuat berdasarkan pemeriksaan
penderita pada saat permintaan Visum Et
repertum.
7. Bila penderita / korban sudah meninggal
maka petugas UGD memriksa kondisi secara
umum.
8. penderita yang sudah meninggal dirujuk ke
RRSA
9. Visum hidup dibuat dan ditanda tangani
oleh Dokter yang memeriksa / menangani
penderita pada saat visum diterima.
10. Visum bisa diambil oleh petugas kepolisian
dalam waktu 2 X 24 jam.
11. petugas menandatangani penerimaan laporan
visum

catatan : dokumentasi visum (menggunakan kamera


khusus visum kemudian disimpan dikomputer UGD)

Unit Ambulance, Kepolisian


terkait
PROSEDUR MENGHENTIKAN PERDARAHAN
1. Definisi

Perdarahan luar :
Perdarahan yang berhubungan dengan dunia luar. Penanganannya tidak harus dengan operasi,
misalnya : perdarahan vena dan kapiler karena suatu perlukaan dapat diatasi dengan menekan
pembuluh darah yang robek ke arah jaringan padat di bawahnya dengan menekan titik tekan
arteri.
Perdarahan dalam :
Perdarahan yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Perdarahan ini penanganannya
dilakukan dengan tindakan operasi, misalnya perdarahan intra abdominal.

2. Prosedur

SARANA
* Alat
Tromol steril berisi :
Hecting set
Gass steril secukupnya
Handscoen
Neirbecken
Arteri klem
Buldog klem
Doek
Tranfusi set
Disposable spuit
Kanula vena
Verband
Bidai dan balutan
Torniquete
Gunting
Obat ;
Lidocaine
Bethadine
Perhidrol boorwater
Cairan RL
Cairan PZ
Adrenalin
Antibiotika
ATS ( jika perlu )

* Penderita :
Menjelaskan bagaimana pengertian dan tujuan tindakan
Penerita atau keluarga menandatangani inform consent
Membaringkan penderita pada posisi tredelenburg

PENATALAKSANAAN

Perdarahan luar

1. Jika penderita sadar beri informasi bahwa akan dilakukan tindakan menghentikan
perdarahan
2. Menyiapkan penderita pada posisi tredelenburg

3. Dengan gass steril tekanlah luka yang menjadi sumber perdarahn. Jika perdarahan bisa
teratasi bebat dengan verband untuk selanjutnya disiapkan penjahitan luka.

4. Jika dengan pembebatan tidak bisa diatasi , arteri yang mengalami robek diklem dengan
buldog klem.

5. Periksa kadar Hb dan ambil sampel untuk persiapan tranfusi

6. Penderita disiapkan untuk operasi, konsul bedah

Perdarahan dalam

1. Pasang infus dengan cairan RL

2. Berikan oksigenasi

3. Permintaan X-foto sesuai dengan lokasi perdarahan

4. Periksa Hb serial sekurang-kurangnya setiap satu jam

5. Siapkan sampel darah untuk tranfusi

6. Penderita disiapkan untuk operasi, konsul bedah

Referensi
1. Prosedur Tetap Standar Pelayanan Medis IRD Dr. Soetomo. 1996.

2. Koeshartono. Materi PPGD. Kumpulan Makalah Pelatihan PPGD bagi Dokter, Surabaya,
1999.
PROSEDUR PERAWATAN PELEPASAN KATETER

STANDARD OPERSIONAL
PROSEDUR
Melakukan tindakan perawatan melepaskan kateter uretra dari
PENGERTIAN
kandung kemih
TUJUAN Mencegah infeksi
1. Pasien yang terpasang kateter lebih dari 7 hari
KEBIJAKAN 2. Pasien yang tidak memerlukan pemasangan kateter
menetap
PETUGAS Perawat
1. Pinset chirurgis
2. Kassa
3. Wash bensin
PERALATAN 4. Lidi kapas
5. Sarung tangan
6. Spuit 10 atau 20 cc
7. Bengkok
1. Tahap PraInteraksi
1. Mengecek program terapi
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
2. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam pada pasien dan sapa nama
pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
3. Tahap Kerja
1. Memasang sampiran/menjaga privacy
2. Menyiapkan pasien dengan posisi dorcal
recumbent dan melepaskan pakaian bawah
pasien
PROSEDUR 3. Memasang perlak, pengalas
PELAKSANAAN 4. Memasang selimut mandi
5. Memakai sarung tangan
6. Melepas plester dan membersihkan sisa plester
7. Melakukan aspirasi balon kateter hingga habis
isinya
8. Mengarahkan penis keatas
9. Menarik kateter perlahan-lahan hingga lepas,
pasien diminta nafas dalam dan rileks
10. Merapikan pasien
4. Tahap Terminasi
1. Mengevaluasi tindakan yang baru dilakukan
2. Berpamitan dengan klien
3. Membereskan dan kembalikan alat ketempat
semula
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan
keperawatan
Pelayanan Gawat Darurat yang Ideal
A. Latar Belakang
Keadaan Gawat Darurat menyangkut baik aspek medis maupun non medis dalam
keadaan gawat dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja yang harus segera
mendapatkan tindakan medis dan keperawatan yang profesional. IGD adalah Instalasi Gawat
Darurat buka 24 jam, merupakan salah satu unit terdepan dari bagian pelayanan rumah sakit
yang memberikan pelayanan pada pasien gawat darurat/emergency dan false emergency
bekerja sama dengan unit terkait lainnya.

Tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal melalui pelayanan IGD yang cepat, tepat
dan profesional dalam penanganan tingkat kegawatdaruratan sehingga mampu mencegah
resiko kecacatan dan kematian dan dapat memberikan pelayanan terbaik kepada anda dan
keluarga yang teristimewa (Time saving is live saving). Instalasi gawat darurat Rumah Sakit
mampu menangani pasien gawat darurat, tidak darurat, darurat tidak gawat, dan pasien tidak
gawat, tidak darurat oleh karena penyakit tertentu. Semua kecelakaan (accident) yang
menimbulkan cedera fisik, mental, sosial, dan mampu menangani kejadian sehari-hari,
korban musibah masal, dan bencana seperti:
1. Gangguan pernafasan
2. Susunan saraf pusat
3. Sistem kardiovaskuler
4. Trauma
5. Berbagai luka
6. Patah tulang
7. Infeksi
8. Gangguan metabolisme
9. Keracunan
10. Kerusakan organ
11. dll.

B. Tujuan Pelayanan

Tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal pada pasien dengan cepat, tepat, ramah
serta terpadu (CTRT) dalam penanganan tingkat kegawatdaruratan sehingga mampu
mencegah resiko kecacatan dan kematian (to save life and limb).

C. Pelayanan Pasien Gawat Darurat

1. Dapatkan identitasnya, jika pasien sudah sadar dan dapat diwawancarai


2. Identitas di cek ke bagian RM untuk mengetahui apakah pasien pernah berobat atau
dirawat
3. Bila pernah berobat/dirawat, rekam medisnya segera dikirim ke ruang perawatan

D. Standar Pelayanan Gawat Darurat

Standar 1: Falsafah dan Tujuan


Instalasi / Unit Gawat Darurat dapat memberikan pelayanan gawat darurat kepada
masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.
Kriteria :
a. Rumah Sakit menyelenggarakan pelayanan gawat darurat secara terus menerus selama 24
jam, hari dalam seminggu.
b. Ada instalasi / unit Gawat Darurat yang tidak terpisah secara fungsional dari unit-unit
pelayanan lainnya di rumah sakit.
c. Ada kebijakan / peraturan / prosedur tertulis tentang pasien yang tidak tergolong akut
gawat akan tetapi datang untuk berobat di Instalasi / Unit Gawat Darurat.
d. Adanya evaluasi tentang fungsi instalasi / Unit Gawat Darurat disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat.
e. Penelitian dan pendidikan akan berhubungan dengan fungsi instalasi / Unit Gawat Darurat
dan kesehatan masyrakat harus diselenggarakan.
Standar 2: Administrasi dan Pengelolaan
Instalasi / Unit Gawat Darurat harus dikelola dan diintegrasikan dengan Instalasi / Unit
Lainnya di Rumah Sakit.
Kriteria :
1. Ada dokter terlatih sebagai kepala Instalasi / Unit Gawat Darurat yang bertanggungjawab
atas pelayanan di Instalasi / Unit Gawat Darurat.
2. Ada Perawat sebagai penganggungjawab pelayanan keperawatan gawat darurat.
3. Semua tenaga dokter dan keperawatan mampu melakukan teknik pertolongan hidup
dasar (Basic Life Support).
4. Ada program penanggulangan korban massal, bencana (disaster plan) terhadap kejadian di
dalam rumah sakit ataupun di luar rumah sakit.
5. Semua staf / pegawai harus menyadari dan mengetahui kebijakan dan tujuan dari unit.
Pengertian : Meliputi kesadaran sopan santun, keleluasaan pribadi (privacy), waktu tunggu,
bahasa, perbedaan rasial / suku, kepentingan konsultasi dan bantuan sosial serta bantuan
keagamaan.
1. Jumlah, jenis dan kualifikasi tenaga yang tersedia di Instalasi / Unit Gawat Darurat
harus sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
1. Unit harus mempunyai bagan oranisasi (organ organ) yang dapat menunjukkan
hubungan antara staf medis, keperawatan, dan penunjang medis serta garis otoritas,
dan tanggung jawab.
1. Instalasi / Unit Gawat Darurat harus ada bukti tertulis tentang pertemuan staf yang
dilakukan secara tetap dan teratur membahas masalah pelayanan gawat dan langkah
pemecahannya.
1. Rincian tugas tertulis sejak penugasan harus selalu ada bagi tiap petugas.
1. Pada saat mulai diterima sebagai tenaga kerja harus selalu ada bagi tiap petugas.
1. Harus ada program penilaian untuk kerja sebagai umpan balik untuk seluruh staf No.
Telp. petugas.
1. Harus ada daftar petugas, alamat dan nomor telephone.
Ruang penyimpanan alat steril, obat cairan infus, alat kedokteran serta ruang
penyimpanan lain.
Ruang kantor untuk kepala staf, perawat, dan lain-lain.
Ruang pembersihan dan ruang pembuangan.
Ruang rapat dan ruang istirahat.
Kamar mandi.
Ada sistem komunikasi untuk menjamin kelancaran hubungan antara unit gawat
darurat dengan Unit lain di dalam dan di luar rumah sakit terkait.
Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya.
Standar 7: Evaluasi dan Pengendalian Mutu
6. Ada ketentuan tertulis tentang manajemen informasi medis (prosedur) rekam medik.
7. Semua pasien yang masuk harus melalui Triase. Pengertian : Bila perlu triase dilakukan
sebelum indentifikasi.
8. Triase harus dilakukan oleh dokter atau perawat senior yang berijazah / berpengalaman.
9. Triase sangat penting untuk penilaian kegawat daruratan pasien dan pemberian pertolongan
/ terapi sesuai dengan derajat kegawatdaruratan yang dihadapi.
10. Petugas triase juga bertanggungjawab dalam organisasi dan pengawasan penerimaan pasien
dan daerah ruang tunggu.
11. Rumah Sakit yang hanya dapat memberi pelayanan terbatas pada pasien gawat darurat harus
dapat mengatur untuk rujukan ke rumah sakit lainnya.
Kriteria :
Ada ketentuan tertulis indikasi tentang pasien yang dirujuk ke rumah sakit
lainnya.
Ada ketentuan tertulis tentang pendamping pasien yang di transportasi.
Pasien dengan kegawatan yang mengancam nyawa harus selalu diobservasi
dan dipantau oleh tenaga terampil dan mampu.
Pengertian :
Pemantauan terus dilakukan sewaktu transportasi ke bagian lain dari rumah sakit atau rumah
sakit yang satu ke rumah sakit yang lainnya dan pasien harus didampingi oleh tenaga yang
terampil dan mampu memberikan pertolongan bila timbul kesulitan. Umumnya pendamping
seorang dokter.
Tenaga cadangan untuk unit harus diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan.
Ada jadwal jaga harian bagi konsulen, dokter dan perawat serta petugas non
medis yang bertugas di UGD.
Pelayanan radiologi, hematologi, kimia, mikrobiologi dan patologi harus
diorganisir / diatur sesuai kemampuan pelayanan rumah sakit.
Ada pelayanan transfusi darah selama 2 jam.
Ada ketentuan tentang pengadaan peralatan obat-obatan life saving, cairan
infus sesuai dengan stndar dalam Buku Pedoman Pelayanan Gawat Darurat Depkes yang
berlaku.
Pasien yang dipulangkan harus mendapat petunjuk dan penerangan yang jelas
mengenai penyakit dan pengobatan selanjutnya.
Rekam Medik harus disediakan untuk setiap kunjungan.
Pengertian :
1) Sistem yang optimum adalah bila rekam medik unit gawat darurat menyatu dengan rekam
medik rumah sakit. Rekam medik harus dapat melayani selama 24 jam.
2) Bila hal ini tidak dapat diselenggarakan setiap pasien harus dibuatkan rekam medik sendiri.
Rekam medik untuk pasien minimal harus mencantumkan :
o Tanggal dan waktu datang.
o Catatan penemuan klinik, laboratorium, dan radiologik.
o Pengobatan dan tindakan yang jelas dan tepat serta waktu keluar dari unit gawat darurat.
o Identitas dan tanda tangan dari dokter yang menangani.
o Ada bagan / struktur organisasi tertulis disertai uraian tugas semua petugas lengkap dan sudah
dilaksanakan dengan baik.

Standar 3: Staf dan Pimpinan


Instalasi / Unit Gawat Darurat harus dipimpin oleh dokter, dibantu oleh tenaga medis
keperawatan dan tenaga lainnya yang telah mendapat pelatihan penanggulangan gawat
darurat (PPGD).

Standar 4: Fasilitas dan Peralatan


Fasilitas yang disediakan di instalaasi / unit gawat darurat harus menjamin efektivitas dan
efisiensi bagi pelayanan gawat darurat dalam waktu 24 jam, 7 hari seminggu secara terus
menerus.
Kriteria :
1. Di Instalasi gawat darurat harus ada petunjuk dan informasi yang jelas bagi masyarakat
sehingga menjamin adanya kemudahan, kelancaran dan ketertiban dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
2. Letak unit / instalasi harus diberi petunjuk jelas sehingga dapat dilihat dari jalan di dalam
maupun di luar rumah sakit.
3. Ada kemudahan bagi kendaraan roda empat dari luar untuk mencapai lokasi instalasi /
UGD di rumah sakit, dan kemudahan transportasi pasien dari dan ke UGD dari arah dalam
rumah sakit.
4. Ada pemisahan tempat pemeriksaan dan tindakan sesuai dengan kondisi penyakitnya.
5. Daerah yang tenang agar disediakan untuk keluarga yang berduka atau gelisah.
6. Besarnya rumah sakit menentukan perlu tidaknya :
7. Pelayanan ambulan.
8. Unit pemadam kebakaran.
9. Konsulen SMF di UGD.
10. Harus ada pelayanan radiologi yang di organisasi dengan baik serta lokasinya berdekatan
dengan unit gawat darurat.
Pengertian :
Pelayanan radiologi haarus dapat dilakukan di luar jam kerja. Pelayanan radiologi sangat
penting dan dalam unit yang besar harus terletak di dalam unit.
o Harus tersedia untuk membaca foto untuk akomodasi staf radiologi.
o Tersedianya alat dan obat untuk Life Saving sesuai dengan standar pada Buku Pedoman
Pelayanan Gawat Darurat yang berlaku.

Standar 5: Kebijakan dan Prosedur


Harus ada kebijakan dan prosedur pelaksanaan tertulis di unit yang selalu ditinjau dan
disempurnakan (bila perlu) dan mudah dilihat oleh seluruh petugas.
Kriteria :
1. Ada petunjuk tertulis / SOP untuk menangani :
Kasus perkosaan
Kasus keracunan massal
Asuransi kecelakaan
Kasus dengan korban missal
Kasus lima besar gawat darurat murni (true emergency) sesuai dengan data
morbiditas instalasi / unit gawat darurat
Kasus kegawatan di ruang rawat
2. Ada prosedur media tertulis yang antara lain berisi :
Tanggungjawab dokter
Batasan tindakan medis
Protokol medis untuk kasus-kasus tertentu yang mengancam jiwa
3. Ada prosedur tetap mengenai penggunaan obat dan alat untuk life saving sesuai dengan
standar.
4. Ada kebijakan dan prosedur tertulis tentang ibu dalam proses persalinan normal maupun
tidak normal.
Standar 6: Pengembangan Staf dan Program Pendidikan
Instalasi / Unit Gawat Darurat dapat dimanfaatkan untuk pendidikan dan pelatihan (in service
training) dan pendidikan berkelanjutan bagi petugas.
Kriteria :
1. Ada program orientasi / pelatihan bagi petugas baru yang bekerja di unit gawat darurat.
2. Ada program tertulis tiap tahun tentang peningkatan ketrampilan bagi tenaga di Instalasi /
Unit Gawat Darurat.
3. Ada latihan secara teratur bagi petugas Instalasi / Unit Gawat Darurat dalam keadaan
menghadapi berbagai bencana (disaster).
4. Ada program tertulis setiap tahun bagi peningkatan ketrampilan dalam bidang gawat
darurat untuk pegawai rumah sakit dan masyarakat.

Ada upaya secara terus menerus menilai kemampuan dan hasil pelayanan instalasi / unit
gawat darurat.
Kriteria :
1. Ada data dan informasi mengenai :

Jumlah kunjungan
Kecepatan pelayanan (respon time)
Pola penyakit / kecelakaan (10 terbanyak)
Angka kematian
Instalasi / Unit Gawat Darurat harus menyelenggarakan evaluasi terhadap pelayanan kasus
gawat darurat sedikitnya satun kali dalam setahun.

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan No. 856/ Menkes/ SK/IX/2009 tentang Standar Instalasi
Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit
Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
http://www.djemari.org/2010/11/pelayanan-gawat-darurat-emergency-care.html (diakses
tanggal 20 Januari 2016)
http://bunda.co.id/rsiabundajakarta/unit-gawat-darurat-24-jam/ (diakses tanggal 20 Januari
2016)
http://www.rsubudiyah.co.id/statis-21-instalasi-gawat-darurat.html