Anda di halaman 1dari 20

PAPER LEARNING OBJECTIVE

DADA TERTEKAN DAN KEMBANG KEMPIS

Resza Utomo

16161010179

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2016
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan

maupun berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi

seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya

(Tamsuri, 2007).

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang di butuhkan oleh

manusia dalam mempertahanankan keseimbangan fisiologi maupun psikologi.

Salah satunya adalah kebutuhan oksigen. Oksigen adalah salah satu komponen

gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untukmempertahankan

kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh

dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas. (Wartonah Tarwanto,

2006)

2.1 Pembahasan

A. Dada tertekan

Angina pektoris / dada tertekan adalah suatu syndrome klinis yang


ditandai dengan episode atau perasaan tertekan di depan dada akibat kurangnya
aliran darah koroner, menyebabkan suplai oksigen ke jantung tidak adekuat atau
dengan kata lain, suplai kebutuhan oksigen jantung meningkat. (Smeltzer dan
Bare, 2002 : 779)
Beberapa penyebab dada tertekan :
Pada Kondisi Olahraga/Latihan (Exercise)
Latihan/olahraga yang dilakukan dengan level yang tinggi dapat
mengakibatkan stress yang ekstrim pada tubuh. Perbandingannya sebagai berikut
seorang yang sakit demam akan mengalami peningkatan metabolisme 100% di
atas normal, tetapi seorang atlete maraton metabolisme di dalam tubuhnya akan
meningkat 2000% di atas normal (Suleman, 2006).
Ventilasi paru-paru umumnya diketahui mempunyai hubungan linear
dengan konsumsi oksigen pada tingkat latihan yang berbeda. Pada saat latihan
yang intensif konsumsi oksigen akan meningkat. Seorang atlet yang latihan teratur
mempunyai kapasitas paru yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang
tidak pernah berlatih (Adegoke and Arogundade, 2002). Nilai ventilasi paru pada
saat istirahat, latihan sedang dan berat (Anonim, 2008).
Pada kondisi normal laju respirasi selama istirahat dalam lingkungan
termonetral yaitu 12 kali/menit, dan tidal volume 500 ml. Dengan demikian
volume udara pernapasan dalam satu menit (minute ventilation) sama dengan 6
liter. Namun pada saat latihan yang intesif laju respirasi meningkat 35-45
kali/menit. Pada seorang atlet yang terlatih laju respirasi dapat mencapai 60-70
kali/menit selama latihan maksimal. Tidal volume juga meningkat 2 liter atau
lebih selama latihan. Pada atlet pria, ventilasi paru dapat meningkat 160
liter/menit selama latihan maksimal(Anonim, 2008). Beberapa penelitian
melaporkan bahwa volume ventilasi paru dalam satu menit dapat mencapai 200
liter, bahkan pada atlet football profesional dapat mencapai 208 liter (Wilmore
dan Haskel, 1972).
Terdapat hubungan yang kecil antara volume dan kapasitas paru dengan
bermacam-macam jenis olah raga. Seperti pada pelari maraton dibandingkan
dengan yang bukan pelari dengan ukuran tubuh yang sama, tidak ada perbedaan
yang nyata untuk nilai fungsi paru. Lebih besarnya volume paru dan kemampuan
respirasi pada seorang atlet dimungkinkan karena faktor genetik. Beberapa
peningkatan fungsi paru merupakan refleks kekuatan otot paru-paru terhadap
latihan yang spesifik (Anonim, 2008)
Hasil pengukuran anthropometrik tubuh, fungsi paru, dan ventilasi paru
dalam satu menit 14 Volume paru berhubungan dengan ukuran badan, dimana
seorang yang tubuhnya besar mempunyai paru yang besar (Brian, 2004). Volume
paru ditentukan juga oleh luas permukaan tubuh untuk pertukaran gas. Salah satu
kemungkinannya adalah volume paru dan luas permukaan yang besar dapat
memberikan keuntungan untuk pertukaran gas pada saat latihan aerobic. Namun
hal tersebut tidak terlihat pada kasus tertentu, seperti pelari marathon mempunyai
volume paru yang tidak berbeda dengan seorang yang bukan pelari dengan ukuran
tubuh yang sama (Brian, 2004). Luas permukaan paru yang besar ditemukan pada
seorang yang memerlukan pertukaran gas lebih banyak, seperti pada atlet
perenang mempunyai volume paru yang besar dibandingkan dengan bukan
perenang. Volume paru yang besar pada seorang perenang mungkin karena
perubahan adaptif pada saat respirasi (Brian, 2004).
Nyeri
suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri
didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah
pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya
kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya
kerusakan. Menurut Engel (1970) menyatakan nyeri sebagai suatu dasar sensasi
ketidaknyamanan yang berhubungan dengan tubuh dimanifestasikan sebagai
penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman atau fantasi
luka. Nyeri adalah apa yang dikatakan oleh orang yang mengalami nyeri dan bila
yang mengalaminya mengatakan bahwa rasa itu ada. Definisi ini tidak berarti
bahwa anak harus mengatakan bila sakit. Nyeri dapat diekspresikan melalui
menangis, pengutaraan, atau isyarat perilaku (Mc Caffrey & Beebe, 1989 dikutip
dari Betz & Sowden, 2002).
Faktor yang mempengaruhi rasa nyeri
a. Usia
Menurut Potter & Perry (1993) usia adalah variabel penting yang
mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan
perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat
mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri.
Anakanak kesulitan untuk memahami nyeri dan beranggapan kalau apa
yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak yang belum
mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan
secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat.
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji
respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika
sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi (Tamsuri, 2007).
Seorang perawat harus menggunakan teknik komunikasi yang sederhana
dan tepat untuk membantu anak dalam membantu anak dalam memahami
dan mendeskripsikan nyeri. Sebagai contoh, pertanyaan kepada anak,
Beritahu saya Universitas Sumatera Utara dimana sakitnya? atau apa
yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan sakit kamu?. Hal-hal
diatas dapat membantu mengkaji nyeri dengan tepat. Perawat dapat
menunjukkan serangkaian gambar yang melukiskan deskripsi wajah yang
berbeda, seperti tersenyum, mengerutkan dahi atau menangis. Anak-anak
dapat menunjukkan gambar yang paling tepat untuk menggambarkan
perasaan mereka.
b. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak mempunyai
perbedaan secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri.
Masih diragukan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang berdiri
sendiri dalam ekspresi nyeri. Misalnya anak laki-laki harus berani dan
tidak boleh menangis dimana seorang wanita dapat menangis dalam waktu
yang sama. Penelitian yang dilakukan Burn, dkk. (1989) dikutip dari
Potter & Perry, 1993 mempelajari kebutuhan narkotik post operative pada
wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.
c. Budaya
Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi
nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima
oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana bereaksi terhadap
nyeri (Calvillo & Flaskerud, 1991). Universitas Sumatera Utara Nyeri
memiliki makna tersendiri pada individu dipengaruhi oleh latar belakang
budayanya (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002) nyeri biasanya
menghasilkan respon efektif yang diekspresikan berdasarkan latar
belakang budaya yang berbeda. Ekspresi nyeri dapat dibagi kedalam dua
kategori yaitu tenang dan emosi (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002)
pasien tenang umumnya akan diam berkenaan dengan nyeri, mereka
memiliki sikap dapat menahan nyeri. Sedangkan pasien yang emosional
akan berekspresi secara verbal dan akan menunjukkan tingkah laku nyeri
dengan merintih dan menangis (Marrie, 2002). Nilai-nilai budaya perawat
dapat berbeda dengan nilai-nilai budaya pasien dari budaya lain. Harapan
dan nilai-nilai budaya perawat dapat mencakup menghindari ekspresi nyeri
yang berlebihan, seperti menangis atau meringis yang berlebihan. Pasien
dengan latar belakang budaya yang lain bisa berekspresi secara berbeda,
seperti diam seribu bahasa ketimbang mengekspresikan nyeri klien dan
bukan perilaku nyeri karena perilaku berbeda dari satu pasien ke pasien
lain. Mengenali nilai-nilai budaya yang memiliki seseorang dan
memahami mengapa nilai-nilai ini berbeda dari nilai-nilai kebudayaan
lainnya membantu untuk menghindari mengevaluasi perilaku pasien
berdasarkan harapan dan nilai budaya seseorang. Perawat yang
mengetahui perbedaan budaya akan mempunyai pemahaman yang lebih
besar tentang nyeri pasien dan akan lebih akurat dalam mengkaji nyeri dan
respon-respon perilaku terhadap nyeri juga efektif dalam menghilangkan
nyeri pasien (Smeltzer& Bare, 2003). Universitas Sumatera Utara
d. Ansietas
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan
nyeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tidak
memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri
juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif
menurunkan nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang relevan atau
berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap
nyeri. Ansietas yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi
pasien dan secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Secara umum,
cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mengarahkan
pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer & Bare, 2002).
e. Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Seringkali individu yang lebih berpengalaman dengan nyeri yang
dialaminya, makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan
yang akan diakibatkan. Individu ini mungkin akan lebih sedikit
mentoleransi nyeri, akibatnya ia ingin nyerinya segera reda sebelum nyeri
tersebut menjadi lebih parah. Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu
tersebut mengetahui ketakutan dapat meningkatkan nyeri dan pengobatan
yang tidak adekuat. Cara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat
dari banyak kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa
orang, nyeri masa lalu dapat Universitas Sumatera Utara saja menetap dan
tidak terselesaikan, seperti padda nyeri berkepanjangan atau kronis dan
persisten. Efek yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman
sebelumnya menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada terhadap
pengalaman masa lalu pasien dengan nyeri. Jika nyerinya teratasi dengan
tepat dan adekuat, individu mungkin lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri
dimasa mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan baik (Smeltzer
& Bare, 2002).
f. Efek plasebo
Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau
tindakan lain karena sesuatu harapan bahwa pengobatan tersebut benar
benar bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah merupakan
efek positif. Harapan positif pasien tentang pengobatan dapat
meningkatkan keefektifan medikasi atau intervensi lainnya. Seringkali
makin banyak petunjuk yang diterima pasien tentang keefektifan
intervensi, makin efektif intervensi tersebut nantinya. Individu yang
diberitahu bahwa suatu medikasi diperkirakan dapat meredakan nyeri
hampir pasti akan mengalami peredaan nyeri dibanding dengan pasien
yang diberitahu bahwa medikasi yang didapatnya tidak mempunyai efek
apapun. Hubungan pasien perawat yang positif dapat juga menjadi peran
yang amat penting dalam meningkatkan efek plasebo (Smeltzer & Bare,
2002). Universitas Sumatera Utara
g. Keluarga dan Support Sosial
Faktor lain yang juga mempengaruhi respon terhadap nyeri adalah
kehadiran dari orang terdekat. Orang-orang yang sedang dalam keadaan
nyeri sering bergantung pada keluarga untuk mensupport, membantu atau
melindungi. Ketidakhadiran keluarga atau teman terdekat mungkin akan
membuat nyeri semakin bertambah. Kehadiran orangtua merupakan hal
khusus yang penting untuk anak-anak dalam menghadapi nyeri (Potter &
Perry, 1993).
h. Pola koping
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah
sakit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus-menerus klien
kehilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan
termasuk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri
baik fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping
individu selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi
dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana
untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien. Sumber koping lebih
dari sekitar metode teknik. Seorang klien mungkin tergantung pada
support emosional dari anak-anak, keluarga atau teman. Meskipun nyeri
masih ada tetapi dapat meminimalkan kesendirian. Kepercayaan pada
agama dapat memberi kenyamanan untuk berdoa, memberikan banyak
kekuatan untuk mengatasi ketidaknyamanan yang datang (Potter & Perry,
1993).
Radang
(bahasa Inggris: inflammation) adalah respon dari suatu organisme
terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian
reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti
karena terbakar, atau terinfeksi. (Tamsuri, 2007).
Hubungan radang dengan rasa nyeri

Rangsangan Mekanik : Nyeri yang di sebabkan karena pengaruh mekanik


seperti tekanan, tusukan jarum, irisan pisau dan lain-lain.

Rangsangan Termal : Nyeri yang disebabkan karena pengaruh suhu, Rata-rata


manusia akan merasakan nyeri jika menerima panas diatas 45 C, dimana mulai
pada suhu tersebut jaringan akan mengalami kerusakan

Rangsangan Kimia : Jaringan yang mengalami kerusakan akan membebaskan


zat yang di sebut mediator yang dapat berikatan dengan reseptor nyeri
antaralain: bradikinin, serotonin, histamin, asetilkolin dan prostaglandin.
Bradikinin merupakan zat yang paling berperan dalam menimbulkan nyeri
karena kerusakan jaringan. Zat kimia lain yang berperan dalam menimbulkan
nyeri adalah asam, enzim proteolitik, Zat P dan ion K+ (ion K positif ).

Proses Terjadinya Nyeri


Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf telanjang yang ditemukan
hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf
Pusat (SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut A
bermielin halus bergaris tengah 2-5 m, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik.
Sistem kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 m,
dengan kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik.
Serabut A berperan dalam menghantarkan "Nyeri cepat" dan menghasilkan
persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi, sedangkan serabut C
menghantarkan "nyeri Lambat" dan menghasilkan persepsi samar-samar, rasa
pegal dan perasaan tidak enak.
Pusat nyeri terletak di talamus, kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron
traktus spinotalamus lateral dan impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini
ke nukleus posteromidal ventral dan posterolateral dari talamus. Dari sini impuls
diteruskan ke gyrus post sentral dari korteks otak.

Adapun tanda-tanda pokok peradangan:

1. Rubor (kemerahan) ini merupakan hal pertama saat mengalami


peradangan, karena banyak darah mengalir ke dalam mikrosomal lokal
pada tempat peradangan.

2. Kalor (panas) dikarenakan lebih banyak darah yang disalurkan pada


tempat peradangan dari pada yang disalurkan ke daerah normal.
Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada tempat peradangan jauh di
dalam tubuh karena jaringan sudah mempunyai suhu 370 C.

3. Dolor (rasa sakit) dikarenakan pembengkakan jaringan mengakibatkan


peningkatan tekanan lokal dan juga karena ada pengeluaran zat
histamin dan zat kimia bioaktif lainnya.

4. Tumor (pembengkakan) pengeluaran ciran-cairan ke jaringan


interstisial.

5. Fungsio laesa (perubahan fungsi) adalah reaksi peradangan yang telah


dikenal, tetapi tidak diketahui secara mendalam dengan cara apa fungsi
jaringan yang meradang itu terganggu (Taufik, 2008).

B. Kembang kempis
Pada saat selesai olahraga, dada sering mengalami kembang kempis, hal
ini karena perubahan fisiologis paru pada saat berolahraga. Elastisitas paru akan
bertambah sehingga kemampuan berkembang kempis juga akan bertambah.
Selain itu jumlah alveoli yang aktif (terbuka) akan bertambah dengan olahraga
teratur. Kedua hal diatas akan menyebabkan kapasitas penampungan dan
penyaluran oksigen ke darah akan bertambah. Pernafasan bertambah dalam
dengan frekuensi yang lebih kecil. Bersamaan dengan perubahan pada jantung
dan pembuluh darah, ketiganya bertanggung jawab untuk penundaan kelelahan
(McArdle, 1986).
Ekspansi paru ini karena, pada posisi istirahat natural, rusuk condong ke
bawah. Oleh karena itu membuat sternum jatuh ke belakang menuju kolumna
vertebral. Akan tetapi saat sangkar rusuk naik, rusuk diproyeksikan ke depan
sehingga sternum juga bergerak ke depan, menjauhi tulang belakang, membuat
ketebalan anteroposterior dada lebih besar 20% selama inspirasi maksimum
dibandingkan selama ekspirasi. Oleh karena itu, semua otot yang mengelevasi
sangkar dada diklasifikasikan sebagai otot inspirasi dan otot yang menekan
sangkar dada diklasifikasikan sebagai otot ekspirasi.
Ventilasi merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke
dalam alveoli ke atmosfer. Proses ventilasi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu
adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat
maka tekanan udara semakin rendah, demikian sebaliknya, adanya kemampuan
thoraks dan paru pada alveoli dalam melaksanakan ekspansi atau kembang
kempis, adanya jalan nafas yang dimulai dari hidung hingga alveoli yang terdiri
atas berbagai otot polos yang kerjanya sangat dipengaruhi oleh system saraf
otonom (terjadinya rangsangan simpatis dapat menyebabkan relaksasi sehingga
vasodilatasi dapat terjadi, karena saraf parasimpatis dapat menyebabkan kontraksi
sehingga vasokontriksi atau proses penyempitan dapat terjadi (Wartonah, 2004).

Kadar oksigen dalam berbagai ketinggian


Pengetahuan terapan hukum-hukum fisika yang berhubungan
sistem pernapasan pada kondisi ketinggian tertentu (penyelaman,
penerbangan dan puncak gunung) adalah sangat penting. Hal tersebut
disebabkan perubahan sifat atmosfer pada ketinggian tertentu dapat
merugikan faal tubuh khususnya dan kesehatan pada umumnya
(Danusastro, 2008). Hukum gas berguna untuk menjelaskan gangguan
fisiologi pada penerbangan atau penyelaman (Anonim 2008a; Danusastro,
2008).
1. Hukum Difusi Gas Hukum difusi gas ini penting untuk menjelaskan
pernapasan, baik pernapasan luar maupun dalam. Hukum ini mengatakan
bahwa gas akan berdifusi 15 dari tempat yang bertekanan parsialnya
tinggi ke tempat yang tekanan parsialnya rendah. Selanjutnya kecepatan
berdifusi ditentukan oleh besarnya selisih tekanan parsial tersebut dan
tebalnya dinding pemisah.
2. Hukum Boyle Hukum ini penting untuk menjelaskan masalah penyakit
dekompresi. Hukum Boyle ini mengatakan bahwa apabila volume suatu
gas tersebut berbanding terbalik dengan tekanannya. P.V = C P = pressure
atau tekanan; C = constant atau tetap; V = volume atau isi
3. Hukum Dalton Hukum ini penting untuk menghitung tekanan parsial gas
delam suatu campuran gas, misalnya menghitung tekanan parsial oksigen
dalam udara pernapasan pada beberapa ketinggian guna menjelaskan
hipoksia. Hukum ini mengatakan bahwa tekanan total suatu campuran gas
sama dengan jumlah tekanan parsial gas-gas penysusn campuran tersebut.
Pt = P1 + p2 + .... + Pn Pt = tekanan total campuran gas P1, P2 dan
seterusnya adalah tekanan parsial masing-masing gas
4. Hukum Henry Hukum ini penting untuk menjelaskan penyakit dekompresi,
seperti bends, chokes, dan sebagainya yang dasarnya adalah penguapan
gas yang larut. Hukum ini mengatakan bahwa jumlah gas yang larut dalam
suatu cairan tertentu berbanding lurus dengan tekanan parsial gas tersebut
pada permukaan cair tersebut. A1 x P2 = A2 x P2 A = jumlah gas yang
larut P = takanan parsial gas pada pemukaan cairan 16
5. Hukum Charles Hukum ini penting untuk menjelaskan tentang turunnya
tekanan oksigen atau berkurangnya persediaan oksigen bila isi tetap, maka
tekanan gas tersebut berbanding lurus denan suhu absolutnya. Jadi apabila
seseorang membawa oksigen dalam botol pada penerbangan tinggi,
suhunya akan lebih rendah, maka tekanan gas tersebut akan menurun pula
atau dengan kata lain persediaan oksigen akan berkurang. Bila isi tetap :
P1 : P2 = T1 : T2 P1 = Tekanan semula P2 = tekanan yang baru T1 =
takanan absolut mula-mula T2 = Suhu absolut kemudian
Kondisi pengyelaman
Bernapas merupakan sesuatu hal yang sangat penting pada
kehidupan, terutama bagi seorang penyelam. Pada saat penyelaman
tekanan atmosfer di permukaan laut dengan di dalam laut berbeda.
Tekanan atmosfer akan menurun pada ketinggian karena atmosfir
diatasnya berkurang, sehingga udara pun berkurang. Demikian sebaliknya
tekanan akan meningkat bila seorang menyelam di bawah permukaan air.
Hal tersebut disebabkan perbedaan berat dari atmosfir dan berat dari air di
atas penyelam. Berdasarkan hukum pascal yang menyatakan bahwa
tekanan terdapat di permukaan cairan akan menyebar ke seluruh arah
secara merata dan tidak berkurang pada setiap tempat di bawah pemukaan
laut. Tekanan akan meningkat sebesar 760 mmHg (1 atmosfir) untuk
setiap kedalaman 10 m (33 kaki). Satuan-satuan dari jumlah tekanan
adalah atmosfir absolut (ATA), sedangkan ukuran tekanan (Gauge
Pressure) menunjukkan tekanan yang terlihat 17 pada alat pengukur
dimana terbaca 0 pada tingkat permukaan, karena tekanan tersebut selalu 1
atmosfer lebih rendah daripada tekanan absolut (Anonim, 2008a). Tabel 1.
Ukuran tekanan pada berbagai kedalaman
____________________________________________________________
______ Kedalaman (depth) Tekanan Absolut (Gauge Pressure)
____________________________________________________________
______ Dipermukaan 1 ATA 0 ATG 10 meter 2 ATA 1 ATG 20 meter 3
ATA 2 ATG 30 meter 4 ATA 3 ATG
____________________________________________________________
______ Seorang penyelam yang menghirup napas penuh di permukaan
akan merasakan paru-parunya semakin lama semakin tertekan oleh air di
sekelilingnya sewaktu penyelam tersebut turun. Sebelum penyelaman,
tekanan udara di dalam paru-paru seimbang dengan tekanan udara
atmosfer, yang rata-rata 760 mmHg atau 1 atmosfer pada permukaan laut.
Namun pada saat menyelam, udara mengalir ke dalam paru, tekanan udara
di dalam paru harus lebih rendah daripada tekanan udara atmosfer. Kondisi
tersebut diperoleh dengan membesarnya volume paru.
Menurut hukum Boyle tekanan gas di dalam tempat tertutup
berbanding terbalik dengan besarnya volume. Bila ukuran tempat
diperbesar, tekanan udara di dalamnya turun. Bila ukuran diperkecil,
tekanan udara di dalamnya naik. Hukum Boyle berlaku terhadap semua
gas-gas di dalam ruangan-ruangan tubuh sewaktu penyelam masuk ke
dalam air maupun sewaktu naik ke permukaan (Anonim, 2008a).
Sebagai contoh, apabila seorang penyelam Scuba menghirup napas
penuh (6 liter) pada kedalaman 10 meter (2 ATA), menahan napasnya dan
naik ke permukaan (1 ATA), udara di dalam dadanya akan berlipat ganda
volumenya menjadi 12 liter, maka penyelam tersebut harus
menghembuskan 6 liter udara selagi naik untuk menghindari agar paru-
parunya tidak meledak. Sesuai hukum Boyle maka perhitungannya sebagai
berikut : P1V1 = P2V2 P1V1 = 2 x 6 P1 = 2 ATA V2 = 12 V1 = 6 liter 1
P2 = 1 ATA V2 = 12 liter V2 = ? Di permukaan laut (1 ATA) dalam tubuh
manusia terdapat kira-kira 1 liter larutan nitrogen. Apabila seorang
penyelam turun sampai kedalaman 10 meter (2 ATA) tekanan parsial dari
nitrogen yang dihirupnya menjadi 2 kali lipat dan akhirnya yang terlarut
dalam jaringan juga menjadi 2 kali lipat (2 liter). Waktu sampai terjadinya
keseimbangan tergantung pada daya larut gas di dalam jaringan dan pada
kecepatan suplai gas ke dalam jaringan oleh darah. Hal tersebut sesuai
dengan hukum Henry yang menyatakan bahwa pada suhu tertentu jumlah
gas yang terlarut di dalam suatu cairan berbanding lurus dengan tekanan
partial dari gas tersebut di atas cairan (Anonim, 2008a).
Pada kondisi di atas permukaan laut gas nitrogen terdapat dalam
udara pernapasan sebesar 79%. Nitrogen tidak mempengaruhi fungsi
tubuh karena sangat kecil yang larut dalam plasma darah, sebab rendahnya
koefisien kelarutan pada tekanan di atas permukaan laut. Tetapi bagi
seorang penyelam Scuba atau pekerja Caisson (pekerja pembangun
saluran di bawah air) yang berada pada kondisi udara pernapasan di bawah
tekanan tinggi, jumlah nitrogen yang terlarut dalam plasma darah dan
cairan interstitial sangat besar. Hal tersebut mengakibatkan pusing atau
mabuk, yang disebut dengan gejala nitrogen narcosis (Soewolo, et al.
1999).
Bila seorang penyelam di bawa ke permukaan perlahan-lahan,
nitrogen terlarut dapat dihilangkan melalui paru. Namun demikian bila
seorang penyelam naik ke permukaan dengan cepat, nitrogen keluar
larutan dilepas melalui respirasi dengan cepat sekali, malahan akan
membentuk gelembung gas dalam jaringan, yang mengakibatkan
decompression sickness atau cassion atau cassion bends. Penyakit ini
khusus akibat dari adanya gelembung gas dalam jaringan saraf, bisa pada
tingkat sedang atau hebat bergantung pada jumlah gelembung gas yang
terbentuk. Gejalanya meliputi rasa sakit di persendian, terutama lengan
dan kaki, pening, napas pendek, sangat lelah, paralisis dan rasa tidak enak
badan. Hal tersebut dapat dicegah dengan cara menaikkan secara perlahan
ke atas permukaan laut (Soewolo, et al. 1999).
Respirasi pada tempat tinggi
Tekanan barometer di berbagai ketinggian tempat berbeda. Pada
ketinggian permukaan laut tekanan barometer 760 mmHg, sedangkan pada
ketinggian 10.000 kaki di atas permukaan laut hanya 523 mmHg, dan pada
50.000 kaki adalah 87 mmHg. Penurunan tekanan barometer merupakan
dasar penyebab semua persoalan hipoksia pada fisiologi manusia di tempat
tinggi. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa seiring dengan penurunan
tekanan barometer akan terjadi juga penurunan tekanan oksigen parsial
yang sebanding, sehingga tekanan oksigen selalu tetap sedikit lebih rendah
20%-21% dibanding tekanan barometer total. Jadi pada ketinggian
permukaan laut total tekanan atmosfer 760 mmHg, ketika di atas 12.000
kaki tekanan barometernya hanya 483mmHg Dalam hal ini terjadi
penurunan total tekanan atmosfer, yang berarti lebih sedikit 40% molekul
per pernapasan pada saat berada di tempat tinggi dibandingkan dengan
permukaan laut (Anonim, 2008c).
Apabila seseorang berada di tempat yang tinggi selama beberapa
hari, minggu, atau tahun, menjadi semakin teraklimatisasi terhadap
tekanan parsial oksigen yang rendah, sehingga efek buruknya terhadap
tubuh makin lama semakin berkurang.Proses aklimatisasi umumnya antara
satu sampai tiga hari (Anonim, 2008c).
Prinsip-prinsip utama yang terjadi pada aklimatisasi ialah
peningkatan ventilasi paru yang cukup besar, sel darah merah bertambah
banyak, kapasitas difusi paru meningkat, vaskularisasi jaringan meningkat,
dan kemampuan sel dalam menggunakan oksigen meningkat, sekalipun
tekanan parsial oksigennya rendah (Guyton, 1994).
Aklimatisasi meliputi beberapa perubahan struktur dan fungsi
tubuh, seperti mekanisme kemoreseptor meningkat, tekanan arteri
pulmonalis meningkat. Selanjutnya tubuh memproduksi sel darah merah
lebih banyak di dalam sumsum tulang untuk membawa oksigen, tubuh
memproduksi lebih banyak enzim 2,3- biphosphoglyserate yang
memfasilitasi pelepasan oksigen dari hemoglobin ke jaringan tubuh.
Proses aklimatisasi secara perlahan menyebakan dehidrasi, urinasi,
meningkatkan konsumsi alkohol dan obat-obatan. Dalam waktu yang lama
dapat meingkatkan ukuran alveoli, menurunkan ketebalan membran
alveoli, yang diikuti dengan perubahan pertukaran gas (Anonim, 2008b).
Setelah mengalami aklimatisasi seseorang di tempat yang tinggi
akan mengalami peningkatan kapasitas difusi oksigen. Kapasitas difusi
normal oksigen ketika melalui membran paru kira-kira 21
ml/mmHg/menit. Kapasitas difusi tersebut dapat meningkat sebanyak tiga
kali lipat selama olahraga. Sebagian dari peningkatan tersebut disebabkan
oleh volume darah kapiler paru yang sangat meningkat. Sebagian lagi
disebabkan oleh peningkatan volume paru yang mengakibatkan meluasnya
permukaan membran alveolus. Terakhir disebabkan peningkatan tekanan
arteri paru. Tekanan tersebut akan mendorong darah masuk lebih banyak
ke kapiler alveolus (Guyton, 1994).
Seorang atlete untuk kompetisi pada tempat dengan lokasi ketinggian yang
bervariasi perlu melakukan proses aklimatisasi sebelum perlombaan.
Seorang pemanjat gunung pada ketinggian sedang akan mengalami
penurunan tekanan atmosfer 7-8%. Orang tersebut akan mengalami
penurunan pemasukan oksigen sehingga diduga dapat menurunkan
kekuatan otot 4-8% tergantung durasi kompetisi. Hal tersebut tidak
menguntungkan untuk mencapai finis, apabila hal tersebut terjadi tanpa
melakukan aklimatisasi terlebih dahulu (Anonim, 2008c).
Meskipun seorang atlete yang melakukan persiapan (exercise) dan
aklimatisasi dengan baik, tidak akan sama dengan penduduk asli di
pegunungan Andes, yang memiliki kapasitas dada yang besar, alveoli dan
pembuluh kapiler besar dan jumlah sel darah merah lebih banyak
(Anonim, 2008c).
Aklimatisasi alami pada orang yang tinggal di tempat tinggi,
seperti penduduk yang tinggal di pegunungan Andes dan Himalaya
(ketinggian 13.000- 19.000 kaki) mempunyai kemampuan yang sangat
superior dalam hubungannya dengan sistem respirasi, dibandingkan
dengan penduduk dari tempat rendah dengan kemampuan aklimatisasi
yang terbaik tinggal di tempat tinggi. Proses aklimatisasi tersebut telah
dimulai semenjak bayi. Terutama ukuran dadanya sangat besar, sedangkan
ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil, sehingga rasio kapasitas ventilasi
terhadap massa tubuh menjadi besar. Selain itu, jantungnya terutama
jantung kanan jauh lebih besar daripada jantung orang yang tinggal di
temapat rendah. Jantung kanan yang besar tersebut menghasilkan tekanan
yang tinggi dalam arteri pulmonalis sehingga dapat mendorong darah
melalui kapiler paru yang telah sangat melebar (Guyton, 1994).
Pengangkutan oksigen oleh darah ke jaringan lebih mudah pada
orang yang telah teraklimatisasi di tempat tinggi. Tekanan parsial O2 pada
orang-orang yang tinggal di tempat tinggi hanya 40 mmHg, tetapi karena
jumlah haemoglobinnya lebih banyak, maka jumlah oksigen dalam darah
arteri menjadi lebih banyak dibanding oksigen dalam darah pada
penduduk yang tinggal di tempat yang rendah. Selanjutnya tekanan parsial
O2 vena pada penduduk di tempat tinggi 15 mmHg lebih rendah daripada
tekanan parsial O2 vena pada penduduk di tempat rendah, sekalipun
tekanan parsial O2 nya rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa
pengangkutan oksigen ke jaringan adalah lebih baik pada penduduk yang
secara alami telah mengalami aklimatisasi (Guyton, 1994).

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat.
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya.
Faktor yang mempengaruhi rasa nyeri
Usia
Jenis kelamin
Budaya
Ansietas
Efek plasebo
Keluarga
Pola koping
Kembang kempis
Pada saat selesai olahraga, dada sering mengalami kembang kempis, hal ini
karena perubahan fisiologis paru pada saat berolahraga. Elastisitas paru akan
bertambah sehingga kemampuan berkembang kempis juga akan bertambah.
Selain itu jumlah alveoli yang aktif (terbuka) akan bertambah dengan olahraga
teratur.
Daftar pustaka

Adegoke OA, Arogundade O. 2002. The effect of chronic exercise on lung


function and basal metabolic rate some Nigerian athlete. African Journal of
Biomedical Research. 5: 9-11.
Amonette WE, Dupler TL. 2002. The effect of respiratory muscle training on VO2
max, the ventilatory threshold and pulmonary function. J. of Exercise
Physiology online. 5(2):29-35
Bompa TO, 1983; Theory and Methodology of Training; Kendall/Hunt Publishing
Company, Iowa
Brooks GA, Fahey TD (1984); Exercise Physiology; John Wiley and Sons
Toronto, USA
Fox EL (1984); Sport Physiology; Tokyo: Saunders College Publishing Company
Fox EL, Bowers RW, Foss ML (1988): The Physiological Basis of Physical
Education and Athletics; USA: W.B Saunders Company
Hairy J, 1989; Fisiologi Olahraga Jilid I; Depdikbud, Dirjen Dikti, Jakarta
McArdle, Katch FI, Katch VL (1986); Exercise Physiology; USA: Lea and
Febiger
O'Shea JP, 1976; Scientific Principal and Methods of Strength Fitness, Addison -
Wisley Publishing Company, California
Soekarman (1987); Dasar Olahraga untuk Pembina, Pelatih dan Atlet; Jakarta:
KPT Inti Idayu Press
Guyton, Arthur C, John E. Hall. Textbook of Medical Physiology. Ed. Ke-10.
USA: WB. Saunders Company, 2001: 432-9.

Strauss RH, 1979; Sports Medicine and Fisiology; WB Saunders Company,


Philadelphia
Teitz CC (1989); Scientific Foundation of Sports Medicine; Toronto Philadelphia:
BC Decker
Wilmore JH (1981); The Wilmore Fitness Program; California: Simon and
Schuster
Adegoke OA, Arogundade O. 2002. The effect of chronic exercise on lung
function and basal metabolic rate some Nigerian athlete. African Journal
of Biomedical Research. 5: 9-11.
Amonette WE, Dupler TL. 2002. The effect of respiratory muscle training on
VO2 max, the ventilatory threshold and pulmonary function. J. of Exercise
Physiology online. 5(2):29-35.
Campbell NA, Reece JB, and Mitchel LG. 2004. Biologi. Alih Bahasa : Wasmen
Manalu. Jakarta : Erlangga.
Danusastro S. 1995. Aspek Aerofisiologi dalam penerbangan. Cermin Dunia
Kedokteran International Standar Seial Number 0125-913x :5-17 Ganong
WF. 1995.
Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-14. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Guyton AC. 1994.
Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta: Binarupa Aksara. Setiadji S, Nur BM,
Gunawan B. 2008.
Uji Faal Paru. Cermin Dunia Kedokteran 24: 7-11 Soewolo, Basoeki S, Yudani T.
1999. Fisiologi Manusia. IMSTEP JICAUniversitas Negeri Malang.