Anda di halaman 1dari 9

TUGAS KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN KERJA

Ruang Lingkup K3

Disusun sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Soesanto, M. Pd.

Disusun Oleh :

Nurarifah Wiji Lestari

0613516028

PROGRAM PASCASARJANA ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
RUANG LINGKUP KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

Keselamatan kerja diartikan sebagai suatu upaya agar pekerja selamat di tempat kerjanya
sehingga terhindar dari kecelakaan termasuk juga untuk menyelamatkan peralatan serta
produksinya. Kesehatan kerja diartikan sebagai suatu upaya untuk menjaga kesehatan pekerja
dan mencegah pencemaran di sekitar tempat kerjanya (masyarakat dan lingkungan). Di Undang-
undang No. 14, Tahun 1969 tentang : KetentuKetentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja,
disebutkan bahwa Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan,
kesehatan, kesusilaan, dan pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan
martabat manusia, moral dan agama. Kemudian menurut UU No.1 Tahun 70 tahun, mengatur
tentang keselamatan kerja di segala tempat kerja, baik didarat, di dalam tanah, di permukaan air,
di dalam air, maupun di udara yang berada di wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
Kemudian menurut ILO (International Labour Organisation) fungsi kesehatan adalah :
melindungi pekerja terhadap kesehatan yang mungkin timbul dari pekerjaan dan lingkungan
kerja. Membantu pekerja menyesuaikan diri dengan pekerjaan baik fisik maupun mental
serta menyadari kewajiban terhadap pekerjaannya. Memperbaiki memelihara keadaan fisik
mental maupun sosial pekerja sebaik mungkin.

Secara umum tujuan Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3) adalah sebagai berikut :
1) Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk
kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
2) Menjamin keselamatan dan kesehatan orang lain yang berada di tempat dan sekitar pekerjaan
itu,
3) Menjamin terpeliharanya sumber produksi dan pendayagunaannya secara aman,efisien dan
Efektif.
4) Khusus dari segi kesehatan, mencegah dan membasmi penyakit akibat ekerjaan.
Ruang Lingkup K3
Ruang lingkup tindakan K3 dilakukan di setiap pekerjaan, kapanpun dan di manapun.
Tindakan keselamata kerja dilakukan di tempat kerja, di lingkungan keluarga /rumah tangga,
lingkungan masyarakat. Adapun syarat-syarat pelaksanaan K3 diperuntukan untuk:
1) Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2) Membuat jalan penyelamatan (emergency exit),
3) Memberi pertolongan pertama(first aids/PPPK),
4) Memberi peralatan pelindung pada pekerja dan alat kerja,
5) mempertimbangkan faktor-faktor kenyamanan kerja,
6) Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit fisik dan psychis
7) Memelihara ketertiban dan kebersihan kerja,
8) Mengusahakan keserasian antar pekerja, perkakas, lingkungan dan proses kerja
Adapun aspek keselamatan kerja jika dilakukan di bengkel perlu ada tanggung jawab
moral dan komitmen, adanya kemampuan sumber daya manusia, dan tindakan pencegahan.
Tujuan utama kesehatan kerja antara lain meliputi : Pencegahan dan pemberantasan penyakit-
penyakit dan kecelakaan akibat kerja; Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga
kerja; Perawatan, efisiensi dan produktifitas tenaga kerja; Pemberantasan kelelahan tenaga kerja
dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja; Perlindungan masyarakat luas dari
bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk kesehatan. Ada dua hal dalam
penanganan resiko keselamatan kerja, yaitu resiko fisik tempat kerja, dan resiko kesehatan kerja.
Resiko keselamatan kerja meliputi aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan
kerusakan fisik tempat kerja, alat dan manusia. Resiko kesehatan kerja meliputi aspek-aspek
lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kondisi tidak sehat pada pekerja yang dapat
menimbulkan kerusakan atau kerugian baik fisik maupun psikis dalam jangka waktu tertentu.
Di samping itu, tujuan Keselamatan Kerja meliputi : Melindungi tenaga kerja atas hak
keselamatan dalam melakukan pekerjaan; untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi
serta produktifitas nasional ; Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat
kerja; Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien; dan Sasaran utama
keselamatan kerja adalah tempat kerja. Syarat Keselamatan Kerja harus mengarah pada
mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan; mencegah, mengurangi, dan memadamkan
kebakaran; mencegah dan mengurangi bahaya peledakan; memberi kesempatan atau jalan
menyelamatkan diri pada waktu kebakaran; memberi pertolongan pada kecelakaan; membeli
alat-alat pelindung diri pada para pekerja. Dengan terjaminnya tercapainya tujuan dan
persyaratan keselamatan kerja akan mempengaruhi pekerja atau siapa saja yang terkait dengan
pekerjaan tersebut. Tidak hanya orang yang terkait di dalamnya, akan tetapi juga lingkungan dan
benda kerja yang diproses. Pengaruh yang akan muncul di antaranya bahwa lingkungan kerja
menjadi lebih aman, pekerja termotivasi untuk bekerja secara lebih baik, dan termotivasi.

Masalah keselamatan kerja sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu sejalan dengan
perkembangan industry. Pada awal perkembangannya penanganan keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) masih terbatas pada kegiatan inspeksi untuk memriksa kondisi lingkungan kerja.
Kemudian pada tahun 1920 an,H.W.Heinrich seorang ahli K3 dengan teori dominonya
mengawali pendekatan K3 secara ilmiah dengan mengemukaan teori tentang sebab kecelakaan
yang dikenal sebagai unsafe act dan unsafe conditition. Pada saat itu, pendekatan K3 adalah
untuk mengehilangkan sebab kecelakaan di tempat kerja. Selanjutnya, aspek keselamatan kerja
terus berkembang . perhatian masyarakat terhadap K3 semakin meningkat, tidak hanya masalah
kecelakaan kerja tetapi juga kesehatan di tempat kerja. Banyak ditemukan penyakit yang
menimpa pekerja berkaitan dengan pekerjaan dan kondisi tempat kerja yang tidsk aman.
Diketahui pula bahwa kondisi lingkungan kerja juga dapat menumbulkan bahaya terhadap
pekerja seperti kebisingan, suhu, cuaca kerja dan sebagainya.

Program mengenai pencegahan penyakit akibat kerja akhirnya mulai dikembangkan dan
menjadi bagian dari program K3.

Hakikat dari kesehatan dan keselamatan kerja (K3) meliputi dua hal yaitu :
1. Sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja seoptimal mungkin : pada
pekerja/buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, pengusaha, manajer atau pekerja
bebas disemua sector kegiatan ekonomi dan non-ekonomi formal : sehingga tercapai
kesejahteraan tenaga kerja .
2. Sebagai alat untuk meningkatkan produsi dan produktivitas, yang berlandaskan
kepada perbaikan daya kerja dan produktivitas factor manusia dalam produksi.

Salah satu organisasi professional K3 di USA, international Association of safety professional


(IASP) menetapkan 8 prinsip K3 yang menjadi landasan pengembangan K3 sebagai berikut.
1. K3 adalah tanggung jawab moral/etik
Masalah K3 sebaiknya dilihat sebagai tanggung jawab moral untuk melindungi
keselamatan sesame manusia. Apabila seorang pekerja yang memiliki tanggung
jawab kepada keluarga mengalami kecelakaan kerja, maka penderitaan akan
dirasakan dan ditanggung oleh seluruh anggota keluarganya. Oleh karena itu, K3
bukan sekedar pemenuhan perundangan atau kewajiban, tetapi merupakan
tanggung jawab moral setiap pelaku bisnis untuk melindungi keselamatan kerja.

2. K3 adalah budaya bukan sekedar program


Banyak perusahaan yang menganggap K3 hanya sekedar program yang
dijalankan dalam perusahaan atau untuk memperoleh penghargaan dan sertifikat.
Padahal K3 adalah cerminan dari budaya (safety culture) dalam organisasi. K3
harus menjadi nilai-nilai (value) yang dianut dan menjadi landasan dalam
pengembangan bisnis.
3. K3 adalah tanggung jawab manajemen
Manajemen organisasi atau perusahaan merupakan bagian yang paling
bertanggung jawab mengenai K3. Manjemen perusahaan bertanggung jawab
terhadap semua aktivitas usaha termasuk aspek keselmatan dan kesehatan kerja
yang timbul dari proses atau aktivitas operasinya. Tanggung jawab ini tidak dapat
dialihkan namun dapat dilimpahkan (cascade) secara beruntun ke tingkat yang
lebih rendah. Namun tanggung jawab utama tetap terletak di tangan manajemen
puncak.

4. Pekerja harus dididik untuk bekerja dengan aman.


Setiap tempat kerja, lingkungan kerja dan jenis pekerjaan memiliki karakteristik
dan persyaratan K3 yang berbeda. Oleh karena itu, K3 tidak dapat timbul
sendirinya pada diri pekerja atau pihak lainnya. K3 harus ditanamkan dan
dibangun melalui pembinaan dan pelatihan,

5. K3 adalah cerminan kondisi ketenagakerjaan.


Tempat kerja yang baik adalah tempat kerja yang aman. Lingkungan kerja yang
menyenangkan dan serasi akan mendukung tingkat keselamatan. Oleh karena itu,
kondisi K3 dalam perusahaan adalah pencerminan dari kondisi ketenagakerjaan
dalam perusahaan.
Apabila kinerja K3 baik, dapat dipastikan bahwa kondisi ketenagakerjaan dalam
perusahaan tersebut juga berjalan dengan baik, dan sebaliknya. System
pembinaan, pengawasan, kepedulian manajeman dan pemberiaan upah yang baik
akan mendorong meningkatnya kondisi keselamatan dalam perusahaan.

6. Semua kecelakaan dapat dicegah


Prinsip dasar ilmu K3 adalah semua kecelakaan dapat dicegah karena semua
kecelakaan pasti ada sebabnya. Apabila sebab kecelakaan dapat dihilangkan maka
kemungkinan kecelakaan dapat dihindarkan. Prinsip ini mendasari
berkembangnya ilmu dalam bidang K3 seperti pengetahuaan mengenai berbagai
jenis bahaya, perilaku manusia, kondisi tidak aman, tindakan tidak aman, penyakit
akibat kerja, kesehatan kerja dan higinieindustri. Prinsip bahwa semua kecelakaan
dapat dicegah sangat penting untuk memberikan dorongan dalam melakukan
upaya pencegahan kecelakaan.

7. Program K3 bersifat spesifik


Prinsip ini melihat bahwa program k3 tidak dapat dibuat, ditiru, atau
dikembangkan semaunya. Akan tetapi harus berdasarkan kondisi dan kebutuhan
nyata di tempat kerja sesuai dengan potensi bahaya sifat kegiatan, kultur,
kemampuan finansial, dan lainya. Program k3 harus dirancang spesifik untuk
masing masing perusahaan sehingga tidak dapat sekedar meniru atau mengikuti
arahan dan pedoman dari pihak lain.

8. K3 baik untuk bisnis


Melaksanakan k3 tidak dapat dianggap sebagai pemborosan atau biaya tambahan.
K3 harus dilihat sebagai bagian dari proses produksi atau strategi perusahaan. K3
adalah bagian integral dari aktifitas perusahaan. Kinerja k3 yang baik akan
memberikan manfaat terhadap bisnis perusahaan.

ANALISIS SWOT

1. Kekuatan
a. Adanya komitmen dari pimpinan puncak untuk melaksanakan program kesehatan dan
keselamatan kerja
b. Terdapat personil-personil yang sudah mempunyai kompetensi dalam bidang
kesehatan dan keselamatan kerja (pendidikan dengan kosentrasi K3 dan pelatihan
K3)
c. Sudah ada prosedur-prosedur yang dibuat mengenai K3 saat dilakukan penilaian
akreditasi
d. Terdapatnya anggaran pelatihan dalam peningkatan kemampuan kompetensi
personil-personil yang ada
2. Kelemahan
a. Rendahnya kesadaran personil-personil pelaksana dalam menerapkan kesehatan dan
keselamatan kerja
b. Tidak adanya pemantauan atau evaluasi terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
c. Tidak adanya sistem administrasi yang mencatat mengenai kegiatan kesehatan dan
keselamatan kerja
d. Tidak teridentifikasinya bahaya dan resiko kerja
e. Kurangnya sosialisasi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja terhadap personil
dan masyarakat yang dilayani
f. Stress atau bahkan depresi dikarenakan ketidakpuasan pekerja terhadap fasilitas serta
lingkungan kerja.
g. Bertambahnya tanggung jawab tanpa adanya penambahan upah atau gaji, sehingga
mengakibatkan hubungan pekerja dengan atasan menjadi buruk.
h. Para pekerja tidak dapat memenuhi kebutuhan hierarki mereka, seperti halnya
pengahargaan dan keamanan dalam bekerja.
i. Pekerja diperlakuakn tidak adil dan dipekerjakan secara rodi.
3. Peluang
a. Adanya peraturan pemerintah yang mengatur mengenai kewajiban pelaksanaa
kesehatan dan keselamatan kerja
b. Adanya badan sertifikasi yang dapat memberikan rekomendasi mengenai standar-
standar kesehatan dan keselamatan kerja
4. Ancaman
a. Stress atau bahkan depresi dikarenakan ketidakpuasan pekerja terhadap fasilitas
serta lingkungan kerja.
b. Bertambahnya tanggung jawab tanpa adanya penambahan upah atau gaji, sehingga
mengakibatkan hubungan pekerja dengan atasan menjadi buruk.
c. Para pekerja tidak dapat memenuhi kebutuhan hierarki mereka, seperti halnya
pengahargaan dan keamanan dalam bekerja.
DAFTAR PUSTAKA

Husni, Lalu. 2003. Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Markkanen, Pia K. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Indonesia. Jakarta : Internasional Labour
Organisation Sub Regional South-East Asia and The Pacific Manila Philippines

Saksono, Slamet. 1998. Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius.

Sumamur. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Gunung Agung.

Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi. 2007. Prosedur Keamanan, Keselamatan, & Kesehatan Kerja. Sukabumi:
Yudhistira.