Anda di halaman 1dari 14

Dermatitis Kontak Iritan

Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non-verbal mengenai riwayat penyakit pasien.
Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya, yaitu segala
hal yang diceritakan oleh penderita. Anamnesis atau medical history adalah informasi yang
dikumpulkan oleh seorang dokter dengan cara melakukan wawancara dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan spesifik baik itu terhadap pasien itu sendiri (auto-anamnesis) maupun
dari orang yang dianggap dapat memberikan keterangan yang berhubungan dengan keadaan
pasien (allo-anamnesis/hetero-anamnesis).1 Berdasarkan anamnesis yang baik, seorang dokter
biasanya akan menanyakan identitas dan keadaan pasien meliputi: Nama lengkap, jenis
kelamin, umur, tempat tanggal lahir, alamat tempat tinggal, status perkawinan, pekerjaan,
suku bangsa, agama, dan pendidikan.
Hal pertama yang ditanyakan kepada pasien adalah mengenai riwayat pribadi pasien.
Riwayat pribadi adalah segala hal yang menyangkut pribadi pasien; mengenai peristiwa
penting pasien dimulai dari keterangan kelahiran, serta sikap pasien terhadap keluarga dekat.
Termasuk dalam riwayat pribadi adalah riwayat kelahiran, riwayat imunisasi, riwayat makan,
riwayat pendidikan dan masalah keluarga.1
Setelah mendapatkan data pribadi pasien, anamnesis selanjutnya adalah menanyakan
keluhan utama pasien, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga
dan riwayat sosial.
Keluhan utama adalah gangguan atau keluhan yang terpenting yang dirasakan
penderita sehingga mendorong ia untuk datang berobat dan memerlukan pertolongan serta
menjelaskan tentang lamanya keluhan tersebut. Riwayat penyakit sekarang adalah penyakit
yang bermula pada saat pertama kali penderita merasakan keluhan itu. Tentang sifat keluhan
itu yang harus diketahui adalah: Tempat, kualitas penyakit, kuantitas penyak itu, urutan
waktu, situasi, faktor yang memperberat atau yang mengurangi, dan gejala-gejala yang
berhubungan.1
Keluhan pada penyakit kulit biasanya adalah gatal, pada gatal pertama perlu dilakukan
identifikasi lokasi dari rasa gatal tersebut. Tanyakan pula sejak kapan dia merasakan perasaan
gatal tersebut, selain itu perlu ditanyakan apakah gatal tersebut hilang timbul atau gatal terus
menerus. Jika hilang timbul, kapan merasa paling tidak gatal dan kapan paling gatal? Atau
misalnya saat melakukan apa pasien merasa lebih baik, misalnya pada saat mandi pasien
merasa lebih baik.
Karena pasien merupakan ibu rumah tangga yang pembantunya pulang perlu
ditanyakan pula adakah kegiatan atau rutinatas yang berubah dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya dari tidak pernah mencuci baju, setelah pembantu pulang menjadi setiap hari
mencuci baju sendiri dan bisa juga kegiatan-kegiatan lain seperti mengepel, mencuci piring
dan kegiatan-kegiatan rumah tangga lainnya yang biasanya dikerjakan oleh pembantu dan
sekarang dikerjakan sendiri oleh pasien.
Yang kedua yaitu bercak, bila ada bercak tanyakan pula lokasinya dan apa warnanya.
Selain itu tanyakan pula apakah bercak tersebut bersisik? Jika bercak tersebut berwarna putih
tanyakan apakah ada rasa baal? Lalu bila bercak tersebut berwarna tanyakan apakah ada rasa
gatal atau tidak enak pada bercak tersebut dan tanyakan pula ukuran bercak tersebut pada
awalnya, membesar atau tidak, ada dimana saja pada awalnya, adakah pertambahan bercak
ditempat lain. Dikarenakan pasien mengeluh gatal-gatal pada awalnya, tanyakan pula apakah
gatal-gatalnya digaruk sehingga menimbulkan bercak kemerahan lalu tanyakan pula perasaan
perih yang dirasakan dimana lokasinya dan apakah perasaan perih tersebut ada dari awal atau
terjadi setelah digaruk oleh pasien.
Pada kasus ini keluhan utama yang dirasakan pasien adalah gatal-gatal pada kedua
tangannya sejak 2 minggu lalu disertai kemerahan dan rasa perih.2
Riwayat penyakit dahulu adalah riwayat penyakit yang pernah diderita dimasa lampau
yang mungkin berhubungan dengan penyakit yang dialaminya sekarang. Riwayat penyakit
keluarga merupakan segala hal yang berhubungan dengan peranan herediter dan kontak antar
anggota keluarga mengenai penyakit yang dialami pasien. Dalam hal ini faktor-faktor sosial
keluarga turut mempengaruhi kesehatan penderita. Riwayat sosial mencakup keterangan
mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala aktivitas diluar pekerjaan, lingkungan tempat
tinggal dan lingkungan pekerjaan, perkawinan, tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu
ditanyakan pula tentang kesulitan yang dihadapi pasien. Pada kasus ini harus ditanyakan pula
apakah dahulu sebelum ada pembantu sudah sering melakukan pekerjaan rumah tangga, serta
tanyakan pula tentang urutan kejadian dan apa saja yang pasien lakukan sebelum pasien
merakan gatal-gatal disertai kemerahan dan nyeri pada tangannya.

Pemeriksaan Fisik
Tujuan pemeriksaan fisik umum adalah untuk mengidentifikasi keadaan umum pasien
saat pemeriksaan dengan penekanan pada tanda-tanda vital, keadaan sakit, gizi dan
aktivitasnya baik dalam keadaan berbaring atau berjalan.
Setelah anamnesis selesai dilakukan, maka pemeriksaan fisik biasanya dimulai dengan
pemeriksaan objektif yaitu tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu dan tingkat
kesadaran, serta pemeriksaan tanda-tanda vital dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi. Namun pada kasus ini cukup dengan pemeriksaan inspeksi dan palpasi saja.2
Inspeksi dapat dibagi menjadi inspeksi umum dan inspeksi lokal. Pada inspeksi umum
pemeriksa melihat perubahan yang terjadi secara umum, sehingga dapat diperoleh kesan
keadaan umum pasien. Pada inspeksi lokal, dilihat perubahan-perubahan lokal sampai yang
sekecil-kecilnya. Untuk bahan perbandingan perlu diperhatikan keadaan sisi lainnya.
Pemeriksaan dengan inspeksi dapat dibantu dengan menggunakan kaca pembesar.
Pada pemeriksaan inspeksi, mutlak harus dilakukan ditempat yang terang. Anamnesis terarah
biasanya ditanyakan pada penderita bersamaan dilakukan inspeksi untuk melengkapi data
diagnostik. Misalnya penderita menderita kelainan di tangannya, perlu juga ditanyakan ada
tidaknya kelainan ditempat lain. Dalam hal ini juga perlu dilakukan inspeksi seluruh tubuh
penderita. Pada inspeksi, diperhatikan lokalisasi, warna, bentuk, ukuran, penyebaran, batas,
dan efloresensi yang khusus.2
Ukuran
Miliar : sebesar kepala jarum pentul.
Lentikular : sebesar biji jagung
Numular : sebesar uang logam 5 rupiah atau 100 rupiah.
Plakat : en plaque, lebih besar dari numular.

Susunan kelainan/bentuk
Liniar : seperti garis lurus.
Sirsinar/anular : seperti lingkaran.
Arsinar : berbentuk bulan sabit.
Polisiklik : bentuk pinggiran yang sambung menyambung.
Korimbiformis: susunan seperti induk ayam yang dikelilingi anak-anaknya.

Bentuk lesi
Teratur : misalnya bulat, lonjong, seperti ginjal dan sebagainya.
Tidak teratur : tidak mempunyai bentuk yang teratur.
Penyebaran dan lokalisasi
Sirkumskrip : berbatas tegas.
Difus : tidak berbatas tegas.
Generalisata : tersebar pada sebagian besar tubuh.
Regional : mengenai daerah tertentu badan.
Universalis : mengenai seluruh atau hampir seluruh tubuh (90%-100%).
Solitar : hanya satu lesi.
Herpetiformis : vesikel berkelompok seperti pada herpes zooster.
Konfuens : dua atau lebih lesi yang menjadi satu.
Simetrik : mengenai kedua belah badan yang sama.
Bilateral : mengenai kedua belah badan.
Unilateral : mengenai sebelah badan.
Setelah inspeksi, pemeriksaan dilanjutkan dengan palpasi, yaitu pemeriksaan dengan
meraba, mempergunakan telapak tangan dan memanfaatkan alat peraba yang terdapat pada
telapak dan jari tangan. Dengan palpasi kita dapat menentukan bentuk, besar, tepi,
permukaan, konsistensi organ, adanya tanda-tanda radang akut atau tidak misalnya dolor,
kalor, fungsiolesa (rubor dan tumor dapat pula dilihat), ada tidaknya indurasi, fluktuasi, dan
pembesaran kelenjar regional maupun generalisata. Permukaan organ dinyatakan apakah rata
atau berbenjol-benjol, konsistensi lunak, keras, kenyal, kistik atau berfluktuasi, sedangkan
tepi organ dinyatakan dengan tumpul atau tajam.
Dalam kasus kelainan kulit, seorang dokter harus melihat bagaimana kelainan kulit
yang ditemukan. Kelainan kulit bisa berupa ruam, ulkus, benjolan, dan sebagainya:
Makula
Daerah perubahan warna kulit yang berbatas jelas dengan kulit normal tanpa tonjolan atau
lekukan kulit disekitarnya.

Papula
Lesi menonjol padat dengan diameter <0,5cm.

Nodul
Massa padat sirkumskrip, terletak di kutan atau subkutan, dapat menonjol, diameter >0,5cm.

Tumor
Istilah umum untuk benjolan yang berdasarkan pertumbuhan sel maupun jaringan.

Plak
Penonjolan di atas permukaan kulit, permukaannya rata dan berisi zat padat (biasanya
infiltrat), diameternya 2cm atau lebih.

Indurasi
Papula atau plak berbentuk lingkaran atau memiliki puncak yang datar, berwarna merah pucat
yang menghilang dalam beberapa jam.

Pustula
Penonjolan kulit berbatas tegas yang berisi eksudat purulen atau vesikel yang berisi nanah.

Vesikula/bulla
Lesi menonjol berbatas tegas yang berisi cairan. Vesikula memiliki diameter <0,5cm
sedangkan bulla memiliki diameter >0,5 cm.

Ulkus
Lesi yang menunjukkan kerusakan epidermis dan dermis.
Kista
Rongga tertutup yang berisi cairan atau bahan semi-padat.
Selain itu, perlu juga diperiksa apakah terdapat perubahan kulit sekunder yang
memperberat atau merupakan akibat dari proses primer misalnya:3
Skuama
Lapisan deskuamasi dari stratum korneum.

Krusta
Serum, darah, atau eksudat purulen yang mengering.

Erosi
Daerah lekukan berbatas tegas akibat hilangnya epidermis, suatu kelainan kulit yang
disebabkan kehilangan jaringan tidak melampaui stratum basal.

Likenifikasi
Penebalan kulit akibat sering digosok atau digaruk yang menyebabkan semakin jelasnya
garis-garis kulit normal.

Atrofi
Atrofi epidermal disebabkan karena berkurangnya lapisan sel epidermal.Atrofi dermal terjadi
akibat berkurangnya jaringan ikat dermal.

Parut
Lesi yang terbentuk akibat kerusakan dermal.

Ekskoriasi
Ekskavasi superfisial epidermis akibat garukan. Bila garukan lebih dalam lagi sehingga
tergores sampai ujung papil, maka akan terlihat darah yang keluar selain serum. Ekskoriasi
merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh hilangnya jaringan sampai stratum papilare.

Fisura
Celah kulit berupa garis yang terasa nyeri.
Pada pemeriksaan fisik juga perlu ditentukan apakah ada perluasan ataupun pola
distribusi (simetris atau asimetris, daerah pajanan, tempat tekanan, lipatan kulit), serta
bagaimana warna dan bentuk lesi (bulat, lonjong).
Pada pemeriksaan fisik ditemukan kulit tangan menjadi kering dan ditemukan
kemerahan pada tangan.

Diagnosis Banding
Dermatitis Kontak Alergik (DKA)
Dermatitis kontak alergik disebabkan oleh bahan kimia sederhana dengan berat
molekul rendah (<1000 dalton) disebut sebagai hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dan
dapat menembus stratum korneum sehingga mencapai sel epidermis bagian dalam yang
hidup.4 Dermatitis kontak alergik biasanya timbul setelah kontak dengan bahan alergen
melalui proses sensitisasi. Dan biasanya hanya mengenai yang kulitnya hipersensitif. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya DKA, potensi sensilitasi alergen, luas daerah
yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu dan kelembaban lingkungan, dan pH. Juga faktor
individu, misalnya keadaan kulit pada lokasi kontak (keadaan stratum korneum, ketebalan
epidermis), status imun (misalnya sedang mengalami sakit, atau terpajan sinar matahari secara
intens). Pada stadium akut dimulai dengan bercak eritema berbatas jelas, kemudian diikuti
edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi
dan eksudasi (basah). Pada stadium kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi
dan mungkin juga fisur, serta berbatas tidak tegas.4

Dermatitis Venenata
Dermatitis venenata adalah dermatitis kontak iritan yang disebabkan oleh sekret/debris
serangga (genus paedrus & getah tumbuhan). Spesies serangga yang paling sering
menyebabkan dermatitis venenata adalah dari genus Paederus. Spesies dari genus ini
menyebabkan paederus dermatitis. Paederus dermatitis sendiri di Indonesia paling sering
disebabkan oleh Pederus peregrines.5

Gambar. Paederus sp
Gejala klinis yang terjadi sangat beragam, bergantung pada sifat iritan. Iritan kuat
memberi gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis meskipun faktor individu dan
lingkungan sangat berpengaruh.
Pada paederus dermatitis, lesi biasanya terjadi pada bagian tubuh yang tidak tertutupi,
misalnya tangan, kaki juga leher dan wajah, khususnya area periorbital, yang merupakan
bagian tubuh paling sering menjadi predileksi paederus dermatitis. Tidak berbeda jauh dengan
jenis dermatitis kontak iritan lainnya, lesi yang biasa ditimbulkan oleh bahan aktif paederin
berupa patch eritem linear yang kemudian berlanjut menjadi bula, terkadang bula dapat
menjadi pustular. Pada pasien yang datang ke tenaga medis, bula dapat intak ataupun sudah
terjadi erosi dengan dasar eritem. Lesi mulai muncul setelah 12-48 jam pasca paparan
paederin dan membaik dalam waktu seminggu.5

Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mediagnosis dermatitis kontak iritan. Ruam
kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan dihilangkan. Terdapat beberapa tes yang dapat
memberikan indikasi dari substansi yang berpotensi menyebabkan dermatitis kontak iritan.
Tidak ada spesifik tes yang dapat memperlihatkan efek yang didapatkan dari setiap pasien jika
terkena dengan bahan iritan. Dermatitis kontak iritan dalam beberapa kasus, biasanya
merupakan hasil dari efek berbagai iritans.

Patch Test
Tempat untuk melakukan uji tempel biasanya di punggung. Untuk melakukan uji
tempel diperlukan antigen, biasanya antigen standar buatan pabrik misalnya Finn Chamber
System Kit dan T.R.U.E Test.4
Bahan yang secara rutin dan dibiarkan menempel di kulit, misalnya kosmetik,
pelembab, bila dipakai untuk uji tempel, dapat langsung digunakan apa adanya. Bila
menggunakan bahan yang secara rutin dipakai dengan air untuk membilasnya, misalnya
shampo, pasta gigi, maka harus diencerkan terlebih dahulu. Bahan yang tidak larut dalam air
diencerkan atau dilarutkan dalam vaselin atau minyak mineral. Produk yang diketahui bersifat
iritan, misalnya deterjen, hanya boleh diuji bila diduga karena penyebab alergi. Apabila
pakaian, sepatu, sendal,atau sarung tangan yang dicurigai penyebab alergi, maka uji tempel
dilakukan dengan potongan kecil bahan tersebut yang direndam dalam air garam yang tidak
dibubuhi bahan pengawet/air. Lalu ditempelkan di kulit dengan memakai Finn chamber,
dibiarkan sekurang-kurangnya 48 jam. Yang perlu diingat bahwa hasil positif dengan alergen
bukan standar perlu kontrol (5-10 orang), untuk menyingkirkan kemungkinan iritasi. Hal yang
harus diperhatikan dalam uji tempel adalah : 4
o Dermatitis harus sudah tenang (sembuh). Bila masih dalam keadaan akut atau berat maka
dapat terjadi reaksi "angry back" atau "excited skin", reaksi positif palsu, dapat juga
menyebabkan penyakit yang sedang dideritanya makin memburuk.
o Tes dilakukan sekurang-kurangnya satu minggu setelah pemakaian kortikosteroid sistemik
dihentikan, sebab dapat menghasilkan reaksi negatif palsu. Sedangkan antihistamin
sistemik tidak mempengaruhi hasil tes kecuali karena diduga urtikaria kontak.
o Uji tempel dibuka setelah 2 hari, kemuadian dibaca; pembacaan kedua dilakukan pada
hari ke-3 sampai ke-7 setelah aplikasi.
o Penderita dilarang melakukan aktivitas yang menyebabkan uji tempel menjadi longgar,
karena memberikan hasil negatif palsu. Penderita juga dilarang mandi sekurang-
kurangnya dalam 48 jam, dan menjaga agar punggung selalu kering, setelah dibuka uji
tempelnya sampai pembacaan terakhir selesai.
o Uji tempel dengan bahan standar jangan dilakukan terhadap penderita yang mempunyai
riwayat urtikaria dadakan, karena dapat menimbulkan urtikaria generalisata bahkan reaksi
anafilaksis.
Setelah dibiarkan menempel selama 48 jam, uji tempel dilepas. Pembacaan pertama
dilakukan 15-30 menit setelah dilepas, agar efek tekanan bahan yang diuji telah menghilang
atau minimal. Hasilnya dicatat seperti berikut :
1 = reaksi lemah (nonvesikuler) : eritema, infiltrat, papul (+)
2 = reaksi kuat : edema atau vesikel (++)
3 = reaksi sangat kuat (ekstrim) : bula atau ulkus (+++)
4 = meragukan : hanya makula eritematosa (?)
5 = iritasi : seperti terbakar, pustul atau purpura (IR)
6 = reaksi negatif (-)
7 = excited skin
8 = tidak dites (NT = Not Tested)
Pembacaan kedua perlu dilakukan sampai satu minggu setelah aplikasi, biasanya 72
atau 96 jam setelah aplikasi. Pembacaan kedua ini penting untuk membantu membedakan
antara respon alergik atau iritasi, dan juga mengidentifikasi lebih banyak lagi respon positif
alergen.
Tes provokasi, tes provokasi meliputi pemberian allergen secara langsung pada
mukosa respiratorius dengan mengamati respon target tersebut. Tipe pengujian ini sangat
membantu dalam mengenai allergen yang bermakna secara klinis pada pasien-pasien dengan
hasil positif, kekurangan yang utama pada tipe pengujian ini adalah keterbatasan satu antigen
persesi dan risiko timbulnya gejala yang berat, khususnya bronkospasme pada pasien asma.

Pemeriksaan KOH2
Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikologi pada infeksi jamur
superfisial seperti infeksi candida, pemeriksaan ini bergantung dari tempat dan morfologi dari
lesi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil kerokan kulit, kemudian dilarut dengan
KOH 10-20%. Selanjutnya, spora jamur akan terlihat dibawah mikroskop.

Pemeriksaan Darah Rutin


Eosinofil berperan dalam reaksi alergi, reaksi obat dan infeksi parasit. Nilai normal: 2-
4%.4

Working Diagnosis
Dari hasil anamnesis, serta menyesuaikan dengan gejala-gejala, maka pasien diduga
menderita dermatitis kontak iritan.

Etiologi
Penyebab munculnya dermatitis kontak iritan ialah bahan yang bersifat iritan,
misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu.1 Kelainan
kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, dan konsentrasi bahan
tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu: lama kontak,
kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeable,
demikian pula gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembaban lingkungan juga ikut berperan.
Faktor individu juga ikut berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, misalnya
perbedaan ketebalan kulit diberbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia
(anak di bawah 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan
daripada kulit putih); jenis kelamin (insidens DKI lebih banyak pada wanita); penyakit kulit
yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan menurun), misalnya
dermatitis atopik.4

Epidemiologi
Dermatitis kontak iritan dapat dialami oleh semua orang dari berbagai golongan umur,
ras, dan jenis kelamin.1 Jumlah orang yang mengalami Dermatitis kontak iritan diperkirakan
cukup banyak, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (dermatitis kontak iritan akibat
kerja), namun angka secara pasti sulit diketahui. Hal ini disebabkan karena banyak pasien
dengan kelainan ringan tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh.

Patogenesis
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui
kerja kimiawi atau fisis. Ada empat mekanisme yang dihubungkan dengan dermatitis kontak
iritan, yaitu:4,5
1. Hilangnya substansi daya ikat air dan lemak permukaan
2. Jejas pada membran sel
3. Denaturasi keratin epidermis
4. Efek sitotoksik langsung

Gambar 1 : (a-d) mekanisme imunologis terjadinya dermatitis kontak iritan (DKI)

Pada respon iritan, terdapat komponen menyerupai respon imunologis yang dapat
didemonstrasikan dengan jelas, dimana hal tersebut ditandai oleh pelepasan mediator radang,
khususnya sitokin dari sel kulit yang non-imun (keratinosit) yang mendapat rangsangan
kimia. Proses ini tidaklah membutuhkan sensitasi sebelumnya. Kerusakan sawar kulit
menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin seperti Interleukin-1 (IL-1), IL-1, tumor necrosis
factor- (TNF- ). Pada dermatitis kontak iritan, diamati peningkatan TNF- hingga sepuluh
kali lipat dan granulocyte-macrophage colony-stimulating factor (GM-CSF) dan IL-2 hingga
tiga kali lipat. TNF- adalah salah satu sitokin utama yang berperan dalam dermatitis iritan,
yang menyebabkan peningkatan ekspresi Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II
dan intracelluler adhesin molecul-I pada keratinosit.1
Pada dermatitis kontak iritan akut, mekanisme imunologisnya mirip dengan dermatitis
kontal alergi akut. Namun, perbedaan yang mendasar dari keduanya adalah keterlibatan dari
spesisif sel-T pada dermatitis kontak alergi akut.1,4

Rentetan kejadian tersebut menimbulkan peradangan klasik di tempat terjadinya kontak


dikulit berupa eritema, edema, panas, dan nyeri bila iritan kuat. Ada dua jenis bahan iritan
yaitu iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menyebabkan kelainan kulit pada pajanan
pertama pada hampir semua orang, sedangkan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit
setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena depilasi
yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah
kerusakan sel di bawahnya oleh iritan.5

Gejala Klinis
Dermatitis kontak iritan dibagi tergantung sifat iritan. Iritan kuat memberikan gejala
akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis. Selain itu juga banyak hal yang
mempengaruhi sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.6 Berdasarkan penyebab tersebut
dan pengaruh faktor tersebut, dermatitis kontak iritan dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
Dermatitis Kontak Iritan Akut1
Dermatititis kontak iritan akut disebabkan iritan kuat seperti larutan asam sulfat dan
asam hidroklorid, atau basa kuat misalnya natrium dan kalium hidroksida. Biasanya terjadi
karena kecelakaan ditempat kerja dan rekasi segera timbul. Intensitas reaksi sebanding dengan
konsentrasi dan lama kontak, serta reksi terbatas hanya pada tempat kontak. Kulit terasa
pedih, panas, dan rasa terbakar, kelainan yang terlihat berupa eritema, edema, bula, dan
mungkin juga nekrosis. Tepi, kelainan berbatas tegas, dan pada umumnya asimetris.

Dermatitis Kontak Iritan Akut Lambat


Pada dermatitis kontak iritan akut lambat gejalanya mirip dengan dermatitis kontak
iritan akut, hanya saja gejalanya timbul 8-24 jam setelah berkontak.1 Bahan iritan yang dapat
menyebabkan dermatitis akut lambat ini seperti podofilin, atralin, tretinoin, etilen oksida,
benzalkonium klorida, dan asam hidrofluoronat.

Dermatitis Kontak Iritan Kronik (Kumulatif)


Merupakan jenis dermatitis yang paling sering terjadi. Yang disebabkan oleh kontak
yang berulang-ulang dengan iritan lemah (misalnya deterjen, sabun, pelarut, tanah, bahkan
air. Dermatitis kontak iritan kronis kumulatif mungkin terjadi oleh karena kerjasama berbagai
faktor. Bisa jadi suatu bahan secara tunggal tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan,
tetapi mampu sebagai penyebab bila bergabung dengan faktor lain.5 Kelainan baru terlihat
nyata setelah beberapa minggu atau bulan, atau bahkan bisa bertahun-tahun kemudian.
Gejala klasik berupa kulit kering disertai eritema, skuama, yang lambat laun kulit
menjadi tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi, batas tidak tegas (difus). Bila kontak terus
berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisura), misalnya pada kulit tumit
tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen.1
Dermatitis kontak iritan kronik sering berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu
lebih banyak ditemukan ditangan dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Berikut adalah
beberapa contoh pekerjaan yang beresiko tinggi terkena dermatitis kontak iritan kronis yaitu
pencuci, kuli bangunan, montir dibengkel, juru masak, tukang kebun, dan penata rambut.

Prognosis
Bila bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan
sempurna, maka prognosisnya kurang baik.1 Keadaan ini sering terjadi pada dermatitis kontak
iritan kronis yang penyebabnya multifaktor, juga pada penderita atopi.

Penatalaksaan
Non-Medikamentosa
Upaya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menghindari
pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis maupun kimiawi, serta menyingkirkan
faktor yang memperberat.1 Pembersihan menyeluruh daerah yang terkena dengan air dingin.
Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan sempurna, dan tidak terjadi komplikasi, maka DKI
tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan topikal, mungkin cukup dengan
pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.4

Medikamentosa
Pengobatan dilakukan secara suportif yang berkisar dari losion pelembab, krim
antiseptik sampai steroid sistemik, dan antibiotik, tergantung pada kelainan kulitnya.1
Pruritus, yang seringkali menyertai iritasi, diobati dengan antihistamin (difenhidramin atau
hidroksizin).
Sedangkan untuk mengatasi peradangan, jika sangat diperlukan, dapat diberikan
kortikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis dapat diawali
dengan kortikosteroid yang lebih kuat. Efek samping hidrokortison terhadap kulit adalah
hirsutisme, hipotrofi, strie, atrofise, dermatosis akneformis, purpura, dan telenangiektasis.5

Pencegahan
Pencegahannya yaitu bersihkan kulit yang terkena bahan iritan dengan air dan sabun.
Pemakaian alat pelindung diri yaitu gunakan sarung tangan saat mengerjakan pekerjaan
rumah tangga diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan.2