Anda di halaman 1dari 234

1

Diterbitkan oleh penerbit Gagasmedia (2015).


2
Paul B. Horton & Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid 1: Edisi Keenam,
(Erlangga, 2006), hlm. 58.
3
Hari Poerwanto, Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif
Antropologi (Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 143.
4
Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Rajawali, 1994), hlm.
330332.
5
Talcott Parsons dalam Hari Poerwanto(Ed.), Teori-teori Kebudayaan
(Kanisius, 2005), hlm. 153.
6
Mudji Sutrisno & Hendar Putranto (Ed.), Ibid., hlm. 59.
7
(Agama-kepercayaan) Balian atau Baaruh adalah kepercayaan yang
dipeluk oleh Orang Dayak-Meratus, sering juga disebut Suku/Urang Bukit
di Kalimantan Selatan. Imam atau pemimpin kepercayaan Balian ini disebut
Sang Balian. Seorang balian biasanya menguasai mantra-mantra (mamang)
magis yang dalam masyarakat setempat dipakai dalam upacara-upacara adat
seperti ritus siklus kehidupan. Pimpinan para balian disebut Guru Jaya,
sementara pembantu balian disebut Balian Muda. Di luar konteks budaya-
adat Dayak-Meratus, masyarakat adat Bali juga mengenal konsep yang
serupa tentang balian, yakni orang yang memiliki kemampuan lebih
(spiritual) dalam hal pengobatan tradisional.
8
Ketika saya menulis dan menyebut kita, yang dimaksud dan tekankan
adalah kita secara khusus, yaitu masyarakat Banua atau Kalimantan
selatan. Akan tetapi secara longgar juga bisa berarti umum, yakni kita
sebagai masyarakat bangsa Indonesia.
9
Pengertian metafor ini bersandar pada tulisan Bambang Sugiharto,
Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat (Kanisius, 1996).
10
Pierre Bourdieu, Outline of a Theory of Practice (Cambridge University
Press, 1997).
11
Lihat Bachtiar Alam, Antropologi dan Civil Society: Pendekatan Teori
Kebudayaan, Jurnal Antropologi Indonesia, Vol. 30/No.2/2006
(Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia, 2006), hlm. 56.
12
Michel Foucault, Power/Knowledge (Pantheon, 1972).
13
Ibid., hlm. 27.
14
Edwar Said, Orientalism (Routledge & Kegan Paul Ltd., 1978).
15
Meratus merupakan kawasan pegunungan yang membelah Provinsi
Kalimantan Selatan menjadi dua, membentang sepanjang 600 km dari
arah tenggara dan membelok ke arah utara hingga perbatasan Kalimantan
Timur, di sepanjang pegunungan ini terdapat banyak perkebunan karet.
Deskripsi ini dikutip dari Reed L. Wadley, Histories of the Borneo
Environment (KITLV Press, 2005), daring: https://id.wikipedia.org/
iki/Pegunungan_Meratus, akses pada 14 Juni 2016.
16
Mengenai badingsanak ini, penelitian Mujiburrahman, Alfisyah dan
Ahmad Syadzali, Badingsanak Dayak-Banjar: Identitas Agama dan
Ekonomi Etnisitas di Kalimantan Selatan (CRCS Universitas Gadjah Mada,
2011) mengenai pengaruh mitologi badingsanak masyarakat Dayak-Banjar
terhadap pola akomodasi soio-budayanya menarik untuk disimak.
17
Menurut saya, mitologi ini terbangun atau dibangun untuk
merepresentasikan kontestasi politik identitas antara kedua komunitas
masyarakat pengusung mitosnya.
18
Lihat Haviland, William A., Antropologi Jilid 2 (Erlangga, 1993), hlm.
251.
19
Unsur-unsur kebudayaan ini misalnya bisa kita ambil pada rumusan yang
paling umum, yaitu tujuh unsur kebudayaan universal dari Koentjaraningrat
(Pengantar Antropologi, Aksara Baru, 1979), hlm. 203204): sistem
religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem
matapencaharian hidup (sistem ekonomi), sistem peralatan hidup
(teknologi), bahasa, serta kesenian.
20
Catatan Ayah (2015), hlm. 133.
- -
- -

- -
- -
-

- -

- -