Anda di halaman 1dari 5

A.

JENIS-JENIS AUTIS
Menurut Faisal Y (2003) dalam Hidayat (2004), autism terdiri dari tiga jenis yaitu
persepsi reaksi dan yang timbul kemudian.
1. Autism persepsi
Autisme persepsi merupakan autism yang timbul sebelum lahir dengan gejala
adanya rangsangan dari luar baik kecil maupun kuat yang dapat menimbulkan
kecemasan.
2. Autism reaktif
Autisme reaktif ditunjukkan dengan gejala berupa penderitaan membuat gerakan-
gerakan tertentu yang berulang-ulang dan kadang-kadang disertai kejang dan
dapat diamati pada anak usia 6-7 tahun. Anak memiliki sifat rapuh dan mudah
terpengaruhi oleh dunia luar.
3. Autisme yang timbul kemudian
Jenis autis ini diketahui setelah anak agak besar dan mengalami kesulitan dalam
mengubah perilakunya karena sudah melekat atau ditambah adanya pengalaman
yang baru.

Sedangkan menurut Sari ID (2009), autis terbagi menjadi dua, yaitu sebagai
berikut :
1. Autism klasifikasi
Autis sejak lahir merupakan bawaan yang diturunkan dari orang tua ke anak
yang dilahirkan atau sering disebut autis yang disebabkan oleh genetika
(keturunan) (CDC 2000). Kerusakan saraf sudah terdapat sejak lahir. Karena
saat hamil, ibu terinfeksi virus seperti rubella atau terpapar logam barat
berbahaya seperti merkuri dan timbal yang berdampak mengacaukan proses
pembentukan sel-sel otak janin.
2. Autisme regresif
Muncul saat anak berusia 12 sampai 24 bulan. Sebelumnya perkembangan
anak relative normal, namun saat anak menginjak 2 tahun kemampuan anak
merosot. Anak tadinya sudah bisa membuat kalimat dua sampai tiga kata
berubah diam dan tidak lagi berbicara. Anak terlihat acuh dan tidak mau
melakukan kontak mata. Kalangan ahli menganggap autism regresif muncul
karena anak terkontaminasi langsung factor pemicu. Paparan logam berat
terutama mrkuri dan timbal dari lingkungan merupakan factor yang paling
disorot.
B. ETIOLOGI DAN PSIKOLOGI
Menurut Sari ID (2009), autis merupakan penyakit yang bersifat multifactor. Tori
megenai penyebab dari autis diantaranya sebagai berikut :
1. Factor genetika
Factor genetic diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan
autisme walaupun bukti kongrit masih sulit ditemukan. Hal tersebut diduga
karena adanya kelainan kromosom pada anak autisme, namun kelainan itu tidak
selalu berada pada kromosom yang sama. Penelitian masih terus dilakukan
sampai saat ini.
Jumlah anak berjenis kelamin laki-laki yang menderita autis lebih banyak
dibandingkan perempuan, hal ini disuga karena adanya gen atau beberapa gen
pada kromosom X, smentara laki-laki hanya memiliki satu kromosom X.
kegagalan fungsi pada gen yang terdapat disalah satu kromosom X pada anak
perempuan dapat digantikan oleh gen pada kromosom lainnya. Sementara pada
anak laki-laki tidak terdapat cadangan ketika kromosom X mengalami
keabnormalan. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa gen pada kromosom X
bukanlah penyebab utama autis, namun suatu gen pada kromosom X yang
mempengaruhi interaksi sosial dapat mempunyai andil pada perilaku yang
berkaitan dengan autis (Wargasetia 2003).
2. Kelainan anatomis otak
Kelainan anatomisotak ditemukan khususnya di lobus parietalis
serebelum serta pada system limbiknya. Sebannyak 43% penyandang autisme
mempunyai kelaianan di lobus parietails otaknya, yang menyebabkan anak
tampak acuh terhadap lingkunganny. Kelainan juga ditemukan pada otak kecil
(serebelum) terutama pada lobus ke VI dan VII. Otak kecil bertanggung jawab
atas proses sensoris , daya ingat berfikir, belajar bebahasa dan proses atensi
(perhatian). Jumlah sel Purkinye diotak kecil juga ditemukan sangat sedikit,
sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan dopamine, menyebabkan
gangguan atau kekacauan lalu lintas impuls diotak. Kelainan khas juga ditemukan
didaerah sistem limbic yang disebut hipokampus dan amigdala. Kelainan tersebut
menyebabkan terjadinya gangguan fungsi control terhadap agresi dan emosi.
Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, sering terlalu agresif atau sangat
pasif. Amigdala juga bertanggung jawab terhadap berbagai rangsang sensoris
seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, peradaban, rasa dan rasa takut.
Hipokampus bertanggug jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat. Gangguan
hipokampus menyebabkan kesulitan penyimpanan informasi baru, perilaku
diulang-ulang yang aneh dan hiperaktif.
3. Disfungsi metabolic
Disfungsi metabolic terutama berhubungan dengan kemampuan memecah
komponen asam amino phenolic banyak ditemukan diberbagai makanan dan
dilaporkan bahwa komponen utamanya dapat menyebabkan terjadinya gangguan
tingka h lakupada pasien autis. Sebuah publikasi dari Lembaga Psikiatri Biologi
menemukan bahwa anak autis mempunyai kapasitas rendah untuk menggunakan
berbagai komponen sulfat sehingga anak-anak tersebut tidak mampu
memetaboisme komponen amino phenolic. Komponen amino phenolic
merupakan bahan baku pembentukan neurotransmitter, jika komponen tersebut
tidak dimetabolisme baik akan terjadi akumulasi ketekolamin yang toksik bagi
saraf, makanan yang mengandung amino phenoik itu adalah : terigu (gandum)
jagung, gula, coklat, pisang, dan apel.
4. Infeksi kandidiasi
Strain candida ditemukan disaluran pencernaan dalam jumlah sangat banyak saar
menggunakan antibiotikyang nantinya akan menyebabkan terganggunya flora
normal anak.infeksi candida albicans berat bisa dijumpai pada anak yang banyak
mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung yeast dan karbohidrat, karena
dengan adanya makanan tersebut candida dapat tumbuh subur. Makanan jenis ini
dilaporkan menyebabkan anak autis. Penelitian sebelumnya menemukan adanya
hubungan antara beratnya infeksi candida albicans dengan gejala-gejala
menyerupai autis, seperti gangguan bebahasa, gangguan tingkah laku dan
penurunan kontak mata. Tetapi Dr Bernard Rimland, seorang peneliti terkemuka
dibidang autis, mengatakan bahwa sampai sekarang hubungan anatara keduanya
kemungkinannya masih sangat kecil.
5. Teori kelebihan opioid dan hubungan antara diet protein kasen dan gluten
Pencernaan anak autis terhadap kasein dan gluten tidak sempurna. Kedua
protein ini hanya terpecah sampai polipeptida. Polipeptida dari kedua protein
tersebut terserap ke dalam aliran darah dan menimbulkan efek morfin diotak
anak. Pori-pori yang tidak lazim kebanyakan ditemukan dimembran saluran cerna
pasien autis, yang menyebabkan masuknya peptide ke dalam darah. Hasil
metabolisme gluten adalah protein gliadin. Gliadin akan berikatan dengan
reseptor opioid C dan D. reseptor tersebut berhubungan dengan mood dan tingkah
laku. Diet sangat ketat babas gluten dan kasein menurunkan kadar peptide opoid
serta dapat mempengaruhi gejala autis pada beberapa anak. Sehingga
implementasi diet merupakan terobosan yang baik untuk memperoleh
kesembuhan pasien.

Teori lain yang masih kontroversial mengenai vaksinasi MMR yang


diberikan pada usia 15 bulan, juga teori penggunaan antibiotic, stress, merkuri,
dan berbagai toksin yang ada dilingkuanan pemicu, yang bisa terjadi pada anak
yang sudah mempunyai riwayat genetic. Teori yang berhubugan dengan diet
sampai sejarang masih ramai dibicarakan diantara berbagai teori tersebut.