Anda di halaman 1dari 77

Laporan Tugas Akhir

Analisa Efisiensi Bahan Bakar Pada Boiler Pipa Api


Kapasitas 1 Ton/Jam Menggunakan Bahan Bakar
Solar Dan Gas Di PT. X

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat


Guna Menyelesaikan Pendidikan Program Strata Satu
Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknoogi Industri

Di susun oleh :
Heru Susanto
01 303-005

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2008
Tugas Akhir

LEMBAR PERNYATAAN

Nama : Heru Susanto


Nim : 01303-005
Program Study : Teknik Mesin

Fakultas : Teknologi Industri

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tugas Akhir ini

adalah hasil karya saya sendiri dan bukan salinan atau duplikat dari orang lain, kecuali

pada bagian yang telah disebutkan sumbernya dalam daftar referensi.

Jakarta, Juli 2008


Penulis

( Heru Susanto )

Heru Susanto 01303-005 i


Tugas Akhir

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA EFISIENSI BAHAN BAKAR PADA BOILER


PIPA API KAPASITAS 1 TON/JAM MENGGUNAKAN
BAHAN BAKAR SOLAR DAN GAS

Telah Diteliti & Di setujui Oleh :

Dosen Pembimbing

( Nanang Rukhyat ST. MT )

Heru Susanto 01303-005 ii


Tugas Akhir

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA EFISIENSI BAHAN BAKAR PADA BOILER


PIPA API KAPASITAS 1 TON/JAM MENGGUNAKAN
BAHAN BAKAR SOLAR DAN GAS DI PT. X

Telah Diteliti & Di setujui Oleh :

Mengetahui,

Koordinator Tugas Akhir

( Nanang Rukhyat ST. MT )

Heru Susanto 01303-005 iii


Tugas Akhir

ABSTRAK

Peranan mesin boiler di PT. X dalam proses produksi sepatu sangat penting,

dimana uap yang dihasilkan oleh mesin boiler pipa api kapasitas 1 Ton ini langsung

didistribusikan ke dalam mesin hot press yaitu untuk mengepres sol tapak sepatu.

Untuk mengetahui efisiensi boiler digunakan metode langsung yaitu energi

yang didapat dari fluida kerja (air dan steam) dibandingkan dengan energi yang

terkandung dalam bahan bakar boiler atau secara rumus :

Panas Keluar
Efisiensi Boiler () = X 100%
Panas Masuk

Untuk meningkatkan efisiensi kerja mesin boiler tersebut ada beberapa faktor

salah satunya dalam penggunaan bahan bakar. Bahan bakar yang dibahas dalam

laporan ini adalah bahan bakar gas dan bahan bakar solar. Pada penggunaan bahan

bakar solar nilai efisiensi mesin boiler berkisar 73,15% sampai dengan 74,39%

sedangkan dengan penggunaan bahan bakar gas berkisar 82,07% sampai dengan

83,46%.

Sehingga dapat dikatakan perubahan penggunaan dari bahan bakar solar ke

bahan bakar gas dapat meningkatkan nilai efisiensi kerja mesin boiler sebesar 9,01 %.

Dan juga faktor-faktor yang lain tidak juga harus diabaikan terutama pada perawatan

komponen-komponen mesin boiler yang dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin

boiler tersebut.

Kata kunci : Boiler, Efisiensi, dan Bahan Bakar

Heru Susanto 01303-005 xiii


Tugas Akhir

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat

dan hidayahnya sehingga Tugas Akhir yang berjudul Analisa Efesinsi Bahan Bakar

Pada Boiler Pipa Api Kapasitas 1 Ton/Jam Menggunakan Bahan Bakar Solar dan

Gas ini dapat diselesaikan. Tugas Akhir ini diharapkan dapat memberi informasi

kepada semua pihak.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini penulis banyak mendapat dukungan,

bimbingan, pengarahan dan bantuan baik moral dan material. Oleh karena itu pada

kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada :

Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam nikmat sehingga penulis

diberikan kesempatan untuk mengerjakan Tugas Akhir ini.

Rasulullah SAW yang telah memberikan kita contoh suri teladan yang baik.

Kedua orang tua dan seluruh keluarga yang selalu memberikan doa dan restunya..

Bapak Nanang Ruhyat S.T,MT selaku koordinator Tugas Akhir dan dosen

pembimbing atas bimbingannya dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

Divisi Engenering di PT. Agung Pelita Industrindo

Teman teman FTI khususnya jurusan Teknik Mesin UMB angkatan 2003.

Semua pihak yang telah membantu penyusunan sehingga dapat menyelesaikan

karya tulis ini.

Penyusun menyadari bahwa karya tulis ini tidak luput dari kesalahan, sehingga

penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca

sekalian agar penyusun dapat menyempurnakan karya tulis ini,dan sebagai pedoman

dalam penyusunan Tugas Akhir berikutnya.

Heru Susanto 01303-005 iv


Tugas Akhir

Akhir kata penulis selalu berusaha untuk selalu memanjatkan doa kehadirat

Allah SWT, semoga dilimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis dan kepada

semua pihak yang telah membantu Sekian dan terima kasih.

Jakarta, Juli 2008

Penyusun

Heru Susanto

Heru Susanto 01303-005 v


Tugas Akhir

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ii

KATA PENGANTAR .......................................................................................iv

DAFTAR ISI .....................................................................................................vi

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ..............................................................................................1

1.2. Maksud Dan Tujuan ......................................................................................2

1.3. Batasan Masalah ...........................................................................................2

1.4. Metode penulisan ..........................................................................................2

1.5. Sistematika Penulisan....................................................................................3

BAB II. LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Boiler...........................................................................................5

2.2. Komponen-Komponen Mesin Boiler .............................................................7

2.2.1. Komponen Utama....... ....................................................... ................7

2.2.2. Komponen Penunjang Lainnya........................................... ................8

2.3. Perpindahan Panas ......................................................................................12

2.3.1. Perpindahan Panas Secara Konduksi....... ......................... ................12

2.3.2. Perpindahan Panas Secara Konveksi. ............................13

2.3.3. Perpindahan Panas Secara Radiasi.................................... ................14

2.4. Sistem Kerja Boiler .....................................................................................16

Heru Susanto 01303-005 vi


Tugas Akhir

2.5. Proses Pembentukan Uap ............................................................................17

2.5.1. Uap Kenyang....... ............................................................ ................18

2.5.2. Uap Panas Lanjut....... ...................................................... ................20

2.6. Efisiensi Boiler............................................................................................20

BAB III. PROSES PEMBAKARAN BAHAN BAKAR PADA BOILER

3.1. Bahan Bakar................................................................................................ 24

3.1.1. Bahan Bakar Gas....... ...................................................... ................25

3.1.2. Bahan Bakar Cair (Solar)....... .......................................... ................28

3.2. Proses Pembakaran......................................................................................30

3.2.1. Prinsip Pembakaran....... .................................................. ................30

3.2.2. Pembakaran Tiga T....... ................................................... ................31

3.2.3. Susunan Gas Asap............................................................ ................33

3.2.4. Neraca Bahan Dan Neraca Kalor...................................... ................33

3.2.5. Proses Pembakaran Bahan Bakar Gas....... ....................... ................34

3.2.6. Pembakaran Bahan Bakar Cair (Solar)....... ...................... ................35

3.2.7. Operasi Pembakaran....... ................................................. ................36

3.3. Perhitungan Stokiometri Kebutuhan Udara..................................................38

3.3.1. Perhitungan Stokiometri Udara

Yang Dibutuhkan Untuk Pembakaran....... ....................... ................38

3.3.2. Menghitung Persen Kelebihan Udara

Yang Di Pasok (EA)....... ................................................. ................41

3.3.3. Menghitung Massa Udara Sebenarnya

Yang Di Pasok (ASS)....... ............................................... ................41

Heru Susanto 01303-005 vii


Tugas Akhir

BAB IV. EFISIENSI KERJA BOILER

4.1. Spesifikasi Boiler Di PT. X .........................................................................42

4.2. Pengolahan Data .........................................................................................45

4.3. Perbandingan Data ......................................................................................49

4.4. Analisa Data................................................................................................ 57

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan .................................................................................................59

5.2. Saran...........................................................................................................60

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Heru Susanto 01303-005 viii


Tugas Akhir

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Boiler ...........................................................................................5

Gambar 2.2 Pipa api.........................................................................................6

Gambar 2.3 Pipa air..........................................................................................6

Gambar 2.4 Burner...........................................................................................9

Gambar 2.5 Profil suhu konduksi ...................................................................13

Gambar 2.6 Mekanisme perpindahan panas secara konveksi ..........................14

Gambar 2.7 Perpindahan panas konduksi, konveksi, radiasi ...........................15

Gambar 2.8 Diagram kerja boiler ...................................................................16

Gambar 3.1 Pembakaran yang sempurna, yang baik dan tidak sempurna ........33

Gambar 3.2 Neraca baan dan neraca kalor ......................................................33

Heru Susanto 01303-005 ix


Tugas Akhir

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Perbandingan komposisi kimia berbagai bahan bakar .....................26

Tabel 3.2 Spesifikasi analisis bahan bakar ......................................................38

Tabel 4.1 Hasil perhitungan............................................................................56

Heru Susanto 01303-005 x


Tugas Akhir

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Jumlah pemakaian bahan bakar terhadap efisiensi kerja.................56

Grafik 4.2 Panas yang dihasilkan boiler terhadap efisiensi kerja ....................56

Grafik 4.3 Pemakaian bahan bakar terhadap panas yang dihasilkan boiler ......57

Heru Susanto 01303-005 xi


Tugas Akhir

NOMEN KLATUR

Be Jumlah pemakaian bahan bakar kg bahan bakar/jam

Cp Kapasitas panas pada tekanan konstan J/kg.K

E Perbandingan jumlah uap yang dihasilkan kg uap /kg bahan

terhadap pemakaian bahan bakar bakar

hin=h1 Entalpi air kJ/kg

hout=h2 Entalpi uap kJ/kg

m Massa alir (air, bahan bakar) kg/detik

Q=Qin Panas yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler MW

Qbahan-bakar Panas yang dihasilkan bahan bakar kW

Qboiler Panas yang dihasilkan boiler kW

Q Debit alir (Air, bahan bakar) m3/jam

S Produksi uap Kg uap/jam

s Entropi kJ/kg.K

T1 Temperatur air masuk K

T2 Temperatur uap keluar K

Boiler Efisiensi boiler %

air Berat jenis air kg/m3

Heru Susanto 01303-005 xii


Tugas Akhir

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Proses produksi merupakan proses pengolahan bahan mentah menjadi bahan

setengah jadi atau barang jadi. Proses produksi telah berkembang dari sektor yang

mengandalkan tenaga kerja menjadi sektor yang mengutamakan teknologi tinggi dan

berorientasi pada otomatisasi.

Faktor pendorong utama dalam otomatisasi industri adalah kebutuhan untuk

meningkatkan produktifitas dan kualitas produk. Sejalan dengan perkembangan

zaman, sejak dahulu kala hingga saat ini masalah energi dari hari ke hari dirasa masih

kurang. Hal ini menjadi tantangan para teknokrat untuk selalu berfikir dan berusaha

mengatasi masalah tersebut agar jelas solusinya.

Salah satu solusi dalam pemenuhan energi adalah ketel uap (boiler), dimana

digunakan untuk penyelesaian pekerjaan-pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan

energi uap, baik itu uap jenuh maupun uap panas lanjut.

Heru Susanto 01303-005 1


Tugas Akhir

Ditinjau dari prinsip kerja Boiler yang merubah energi bahan bakar menjadi

energi uap melalui proses serangkaian kerja mesin-mesin yang melakukan kerja

pemompaan air kedalam ketel kemudian dipanaskan sehingga menghasilkan uap yang

dapat digunakan, salah satunya untuk pekerjaan mesin hot press yang menggunakan

energi uap tersebut untuk melakukan pengepresan sol tapak sepatu,

1.2 Maksud Dan Tujuan

Maksud dan tujuan penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Menentukan efisiensi kerja mesin Boiler dan kebutuhan kalor pada bagian

komponen Boiler.

2. Mempelajari dan memahami sistem kerja dari mesin Boiler.

1.3 Batasan Masalah

Dalam penyusunan Tugas Akhir ini penulis hanya membahas sebatas ruang

lingkup Menentukan efisiensi kerja mesin Boiler dengan menggunakan dua

bahan bakar yaitu solar dan gas yang juga sekaligus menjadi judul dari Tugas

Akhir ini.

1.4 Metode Penulisan

Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis mempergunakan beberapa metode,

antara lain :

Melakukan studi literature dengan mempelajari teori-teori yang berhubungan

dengan Tugas Akhir yang disusun.

Heru Susanto 01303-005 2


Tugas Akhir

Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang dapat membantu dalam

kelancaran penyusunan Tugas Akhir ini.

1.5 Sistematika penulisan.

Sistematika penulisan yang digunakan mencakup keseluruhan isi penulisan

yang diuraikan oleh masing-masing bab. Sistematika penulisan yang dibuat adalah

sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Dalam bab ini membahas tentang latar belakang permasalahan, tujuan

penulisan, batasan masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Dalam bab ini akan diterangkan mengenai dasar-dasar teori yang berkaitan

dengan pembahasan Boiler, perpindahan panas yang terjadi pada Boiler,

sistem kerja Boiler dan teori-teori yang berkaitan dengan teori-teori yang

berkaitan dengan perhitungan efisiensi boiler.

BAB III PROSES PEMBAKARAN BAHAN BAKAR PADA BOILER

Dalam bab ini berisikan tentang proses terjadinya pembakaran

BAB IV EFISIENSI BAHAN BAKAR

Dalam bab ini penulis akan mengolah data-data yang diperoleh dan

membandingkannya serta menganalisa hasil perhitungan yang telah didapat

sehingga didapat hasil analisa dan solusi mengenai permasalahan yang

dihadapi.

Heru Susanto 01303-005 3


Tugas Akhir

BAB V PENUTUP

Dalam bab ini berisikan tentang kesimpulan-kesimpulan dan saran-saran yang

didapat dari hasil pembahasan dan pengamatan penulis.

DAFTAR PUSTAKA

Heru Susanto 01303-005 4


Tugas Akhir

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Boiler

Boiler dapat didefinisikan sebagai sebuah alat yang digunakan untuk

mentransfer kalor atau panas yang diproduksi dari pembakaran fluida. Boiler

digunakan untuk menghasilkan air panas, uap jenuh (uap pada temperatur jenuh), atau

uap panas lanjut (uap yang dipanaskan diatas temperatur jenuh).

Gambar 2.1.Boiler

Heru Susanto 01303-005 5


Tugas Akhir

Boiler dapat diklafikasikan dalam beberapa kelas, yaitu :

1. Berdasarkan fluida yang mengalir dalam pipa

a. Boiler pipa api (fire tube boiler)

Pada boiler pipa api , fluida yang mengalir dalam pipa adalah gas nyala (hasil

pembakaran), yang membawa energi panas (thermal energy) yang segera

mentransfer ke air melalui bidang pemanas (heating surface). Tujuan pipa-

pipa api ini adalah untuk memudahkan distribusi panas (kalor) kepada air.

Gambar 2.2. Pipa Api

b. Boiler pipa air (water tube boiler)

Pada boiler pipa air, fluida yang mengalir dalam pipa air adalah air, energi

panas ditransfer dari luar pipa (yaitu ruang dapur) ke air.

Gambar 2.3. Pipa air

Heru Susanto 01303-005 6


Tugas Akhir

2. Berdasarkan pemakaiannya

a. Boiler tetap (stasionary boiler)

Yang termasuk stasioner ialah boiler yang didudukkan diatas fundasi yang

tetap, seperti boiler untuk pembangkit tenaga, untuk industri dan lain-lain.

b. Boiler pindah (portable boiler)

Yang termasuk portable ialah boiler yang dipasang pada fundasi yang

berpindah-pindah, seperti boiler lokomotif, kapal dan lain-lain.

3. Berdasarkan letak dapur (furnace position)

a. Boiler dengan pembakaran di dalam (internally fired steam boiler)

Dalam hal ini dapur berada (pembakaran terjadi) dibagian dalam boiler,

kebanyakan boiler pipa api memakai sistem ini.

b. Boiler dengan pembakaran di luar (outernally fired steam boiler)

Dalam hal ini dapur berada (pembakaran terjadi) di bagian luar boiler,

kebanyakan boiler pipa air memakai sistem ini.

4. Berdasarkan kepada poros tutup drum

a. Boiler tegak (vertical steam boiler)

b. Boiler mendatar (horizontal steam boiler)

2.2 Komponen-Komponen Mesin Boiler

2.2.1 Komponen Utama

1. Dapur (Furnance)

Yaitu tempat dimana bahan bakar dibakar dan terbentuk gas asap.

Dinding tungku pada dasarnya adalah lapisan tebal asbes tahan api yang diapit

pada bagian luar plat tebal sebagai casing luar boiler dan sebagai pengisolasi

dari udara luar. Pada bagian paling depan yang menghadap ke api terdapat

Heru Susanto 01303-005 7


Tugas Akhir

susunan pipa-pipa penguap yang disebut dinding air (water tube wall) yang

akan menerima panas dari gas asap secara radiasi pada level bawah.

Ruang furnace dibatasi oleh :

a. Lorong api

b. Pipa api

2. Pipa-Pipa Penguap (Riser)

Yang mengubah energi pembakaran (energi panas) menjadi energi

potensial uap (energi panas).

2.2.2 Komponen Penunjang lainnya

1. Economiser

Yaitu pipa-pipa pemanas air yang terletak dibagian belakang laluan gas

asap yang akan dimanfaatkan untuk memanaskan terlebih dahulu air umpan

boiler sebelum dimasukkan ke drum sehingga menaikkan efisiensi dan

mengurangi perbedaaan suhu yang besar pada dinding drum.

Keuntungan menggunakan economizer adalah :

a. Menghemat bahan bakar 15-20 %.

b. Memperpendek waktu operasi air menjadi uap.

c. Dengan kondisi air pengisian yang telah panas pada boiler dapat mengurangi

konsentrasi udara (O2) dalam boiler karena oksigen adalah gas yang paling

cepat merusak boiler, sehingga penggunaan economizer pada boiler dapat

mengurangi kerusakan dan mengurangi terbentuknya kerak dalam boiler

maupun saluran uap.

2. Burner

Yaitu peralatan yang menyemprotkan bahan bakar dan udara masuk

kedalam sehingga terbakar dalam tungku. Bahan bakar minyak lebih sulit

Heru Susanto 01303-005 8


Tugas Akhir

terbakar dibandingkan denngan bahan bakar gas alam, sebab sebelum

dilakukan pembakaran pada burner terlebih dahulu bahan bakar minyak harus

dipersiapkan misalnya percampuran dengan udara.

Untuk minyak-minyak yang kental (viskositas tinggi) perlu terlebih

dahulu dipanaskan. Pemanasan bahan bakar dimaksudkan untuk

menguapkannya (berbentuk gas) sehingga mudah bercampur dengan udara

sehingga dapat dicapai penbakaran yang sempurna.

Ada beberapa cara mempersiapkan bahan bakar minyak untuk

pembakaran termasuk penguapan atau gasifikasi dari minyak dengan cara

memanaskannya dalam burner atau atomisasi dari minyak ke dalam aliran

udara. Atomisasi minyak dapat dilakukan dengan memakai udara atau uap

bertekanan tinggi.

Gambar 2.4 Burner

3. Cerobong (stack)

Stack berfungsi sebagai saluran untuk membuang gas asap sisa

pembakaran (fuel gas) keluar dari boiler. Selain itu dibuat tinggi, stack pada

ketinggian tertentu agar memperoleh tarikan cerobong asap (stack draft) yang

Heru Susanto 01303-005 9


Tugas Akhir

cukup serta mencegah terbentuknya asam sulfat dari reaksi sulfur yang

terdapat pada gas sisa pembakaran dengan H2O yang terdapat pada udara luar.

Terbentuknya asam sulfat harus dicegah karena bersifat sangat korosif.

4. Gelas Penduga (Level Glass)

Gelas penduga ini sangat penting fungsinya untuk mengetahui tinggi

permukaan air di dalam boiler. Sebagai alat keselamatan kerja, boiler sangat

tergantung pada alat ini. Jika tidak berfungsi tentu saja hal ini dapat

mengganggu proses produksi secara keselurahan. Gelas penduga terdiri atas 2

buah pipa kaca yang dilengkapi indikator level yang jelas dan mudah terbaca.

Cara kerjanya ialah dengan menggunakan prinsip bejana berhubungan.

Jika kondisi gelas penduga tersebut rusak, hal tersebut tidak perlu

dikhawatirkan karena jika ketinggian air di dalam ketel kurang dari yang

diisyaratkan maka boiler tersebut akan mati dengan sendirinya (automatic).

5. Sirkulasi Air (Blow Down)

Sirkulasi air pada boiler diharapkan dapat mengurangi konsentrasi zat-

zat kimia, kotoran lumpur dan mencegah terjadinya busa karena terikatnya

padatan kima ke dalam steam. Ada 2 jenis sirkulasi (blow down) pada boiler

ini yaitu blow down belakang dan blow down samping.

6. Level Control Air (Water Flow Meter)

Terdapat 1 buah level control air yang berfungsi untuk start dan stop

pengisian air ke boiler yang dijalankan oleh pompa.

7. Manometer (Pressure Gauge)

Berfungsi untuk mengetahui berapa tekanan uap pada boiler.

Heru Susanto 01303-005 10


Tugas Akhir

8. Pressure Switch

Ada 2 set pressure switch yang berfungsi untuk mengontrol secara

otomatis tekanan boiler, sehingga tekanan uap boiler yang diinginkan dapat

disesuaikan.

9. Katup Pengaman (Safety Valve)

Safety Valve berfungsi untuk membuang uap atau steam. Bekerjanya

secara mekanik apabila tekanan uap boiler tersebut melebihi tekanan

maksimal.

10. Lubang Lalu Orang (Man Hole)

Berfungsi sebagai jalan masuk orang ke dalam boiler agar dapat

membersihkan atau mencek ruang air dan lorong api.

11. Pompa

1 buah pompa untuk memompakan air dari tangki utama ke Softener

Tank. 2 buah pompa lain memompakan air dari feed water tank ke boiler serta

1 buah pompa untuk memompakan bahan bakar ke boiler, tetapi yang dipakai

hanya satu unit. Pompa tersebut dijalankan secara bergantian oleh operator

yang bertugas.

12. Steam Drum

Steam Drum dapat disebut juga main drum atau drum utama yang

letaknya pada bagian puncak boiler, berisi sebagian air jenuh dan sebagian uap

jenuh, air jenuh ini diperoleh dari economiser serta uapnya diperoleh dari

pipa-pipa riser.

13. Steam Superheater

Adalah pipa-pipa pemanas untuk memanaskan uap jenuh atau

Saturated Steam dari drum menjadi uap lewat jenuh atau Superheater Steam.

Heru Susanto 01303-005 11


Tugas Akhir

2.3 Perpindahan Panas

Perpindahan panas atau alih bahan (heat transfer) ialah ilmu untuk

meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan temperatur

antara dua material atau flluida yang berbeda. Karena sifat dasar panas adalah energi

panas akan berpindah tempat yang mempunyai temperatur tinggi menuju ke

temperatur yang rendah. Kuantitas atau jumlah perpindahan panasnya berbanding

lurus dengan perbedaan temperatur.

Ada tiga macam perpindahan panas yang mendasar yaitu perpindahan panas

secara konduksi, konveksi, dan radiasi atau pancaran.

2.3.1 Perpindahan Panas Secara Konduksi

Secara konduksi (merambat) adalah cara perpindahan panas dari benda yang

memiliki temperatur tinggi menuju temperatur yang rendah, tanpa tergantung dari

gerakan benda tersebut. Pada umumnya terjadi pada benda padat. Persamaan laju

perpindahan panas tersebut ialah :

(J.P Holman, perpindahan kalor : 2)

T
q kA
x

Dimana ; q = Laju perpindahan panas ( Watt )

k = Konduktivitas thermal ( W/m C )

A = Luas permukaan ( m2 )

t = Perbedaan benda ( C )

x = Panjang lintasan ( m )

Heru Susanto 01303-005 12


Tugas Akhir

Gambar 2.5. Profil Suhu Konduksi

2.3.2 Perpindahan Panas Secara Konveksi

Secara konveksi (mengalir) adalah cara perpindahan panas, dimana panas ikut

berpindah bersama dengan fluida (udara, air) yang membawanya. Panas akan

mengalir secara konduksi dari permukaan ke partikel-partikel fluida yang berbatasan,

panas yang berpindah dengan cara demikian akan menaikkan suhu partikel- partikel

fluida ini, kemudian partikel fluida tersebut akan bergerak ke suhu yang lebih rendah

dimana fluida akan bercampur dengan partikel- partikel fluida lainnya.

Persamaan laju perpindahan panas secara konveksi yaitu dengan

menggunakan hukum Newton tentang pendinginan :

(J.P Holman, perpindahan panas : 11)

q = h.A ( Tw - T )

Dimana ; h = koefisien perpindahan panas ( W/m2.C )

A = Luas permukaan ( m2 )

Tw = Temperatur plat ( C )

T = Temperatur fluida ( C )

Heru Susanto 01303-005 13


Tugas Akhir

Hembusan
Fluida
T
Benda
q = h.A ( Tw - T )

Tw

Gambar 2.6. Mekanisme Perpindahan Panas Secara Konveksi

Perpindahan panas secara konveksi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

a. Konveksi alami, panas mengalir secara alami, misalnya karena perbedaan

kepadatan (densitas). Bejana yang berisi (fluida), apabila bagian bawahnya

dipanaskan maka fluida yang berkurang kepadatannya bergerak naik dan

fluida yang lebih tinggi kepadatannya akan bergerak turun.

b. Konveksi paksa, panas mengalir karena paksaan, seperti pompa, blower,

radiator dll.

2.3.3 Perpindahan Panas Secara Radiasi

Secara radiasi (memancar) ialah perpindahan panas tanpa perantara, dimana

panas mengalir dari temperatur tinggi ke temperatur rendah bila benda tersebut

terpisah didalam ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa diantara benda-benda

tersebut, maka panas yang dimiliki berubah menjadi gelombang elektromagnetik.

Maka didapat persamaan perpindahan panas radiasi, yaitu :

Heru Susanto 01303-005 14


Tugas Akhir

(J.P Holman, perpindahan kalor : 1)

qpancaran = . A . T4

Dimana ; qpancaran = Laju perpindahan panas radiasi ( kW )

= Konstanta Stefan-Boltzmann ( 5,669 x 10-8 W/m2.K4 )

A = Luas permukaan ( m2 )

T4 =
Temperatur plat ( C )

Gambar 2.7. Perpindahan Panas Konduksi, Konveksi, Radiasi

Heru Susanto 01303-005 15


Tugas Akhir

2.4 Sistem Kerja Boiler

Tangki BB Solar Tangki


Distribusi

kran Mesin Hot Press Kantin


Mesin Boiler Press

Tangki BB Gas P2 P1

Feed Tank Softener Tank

Tangki Air Utama

Gambar.2.8. Diagram Kerja Boiler

Keterangan :

A. Air dimasukkan ke dalam softener tank dari tungku air utama dengan bantuan

pompa. Softener tank ini berfungsi untuk memisahkan koloid-koloid yang

terkandung dalam air seperti garam, minyak dan lainnya. Jika hal tersebut

diabaikan dapat menyebabkan kerusakan pada ketel.

B. Dari softener tank air tersebut dialirkan ke dalam feed tank dengan kondisi air

masih dalam keadaan dingin.

C. Selanjutnya air di dalam feed tank dimasukkan ke dalam boiler dengan

menggunakan pompa hingga sesuai batas optimal kerja boiler.

Heru Susanto 01303-005 16


Tugas Akhir

D. Kemudian kran bahan bakar dibuka untuk menuju burner yang berada pada

boiler, apabila menggunakan solar maka maka pengisiannya dibantu oleh

pompa sedangkan gas langsung membuka kran saja.

E. Setelah persiapan telah siap maka boiler secara otomatis akan bekerja dan

mulai memanaskan air.

F. Kemudian uap yang dihasilkan oleh boiler menuju tangki distribusi baru

kemudian didistribusikan kepada mesin hot press dan untuk keperluan kantin.

2.5 Proses Pembentukan Uap

Bila diatas sekeping logam terdapat beberapa tetes air dan kita perhatikan
0
molekul-molekul air tersebut, temperatur air pada saat itu ialah To K atau To 0C.

Molekul-Molekkul air tersebut bergerak bebas kesana kemari dalam lingkungannya

(dalam lingkungan air).

Dengan kecepatan gerak Vo meter/detik. Molekul-molekul tersebut dalam

gerakannya kesana kemari tidak akan dapat meninggalkan lingkungannya, yaitu

lingkungan air karena adanya gaya tarik-menarik antara molekul-molekul air itu

sendiri.

Apabila dibawah kepingan logam tersebut dipasang api,sedemikian sehingga

api tersebut memanasi kepingan logam yang diatasnya terdapat beberapa tetes air,

maka temperatur air tersebut akan naik menjadi T01 K, dan ternyata kecepatan gerak

dari molekul-molekul air tersebut akan bertambah menjadi V1 meter/detik, namun

belum mampu untuk melepaskan diri dari lingkungannya.

Dan bila api yanng dipasang dibawah kepingan logam tersebut senantiasa

ditambah besarnya, sedemikian sehingga temperatur air diatas kepingan logam

tersebut mencapai Td 0K, sedangkan kecepatan gerak molekul-molekul air tersebut

Heru Susanto 01303-005 17


Tugas Akhir

telah mencapai Vd meter/detik, sehingga molekul-molekul air tersebut mampu untuk

melepaskan diri dari lingkungannya, dan mampu untuk melepaskan diri dari gaya

tarik-menarik antara molekul-molekul air tersebut. Molekul-molekul air yang

melepaskan diri dari lingkungannya tersebut akan berubah menjadi molekul uap yang

kecepatan gerakannya melebihi kecepatan gerak molekul-molekul air semula.

Proses yang demikian tadi disebut Proses Penguapan. Molekul-molekul air

berubah menjadi molekul uap, atau disebut juga bahwa air tersebut sedang mendidih,

karena permukaan air menjadi bergolak. Temperatur air pada saat itu mencapai

temperatur mendidih yaitu Td 0K. Dan bila api masih saja ditambah besarnya,

ternyata bahwa temperatur mendidih Td 0K tidak akan berubah atau tetap saja

besarnya, selama tekanan yang ada diatasnya diperhatikan tetap saja besarnya.

2.5.1 Uap Kenyang

Apabila proses penguapan tersebut dilakukan dalam tempat yang tertutup


0
seperti gambar, yaitu mula-mula tangki diisi dengan air pada temperatur To K,

kemudian tangki dipanasi secara terus-menerus sehingga temperatur air di dalam


0
tangki akan naik terus-menerus dari To K dan mencapai Td 0K, maka akan terbentuk

uap. Untuk semntara kran K1 dibiarkan terbuka, sehingga sebagian uap air yang

terbentuk dibiarkan keluar melalui kran K1 untuk beberapa saat lamanya. Kemudian

kran K1 ditutup, sehingga tidak ada uap yang dapat keluar lagi. Tekanan di dalam

tangki diusahakan tetap besarnya, sementara itu kran K2 dibuka.

Apabila keadaan setimbang tercapai, yaitu permukaan air di dalam tangki

untuk sementara tetap kedudukannya, maka hal ini berarti bahwa pada temperatur Td
0
K tersebut ada sejumlah molekul-molekul air per satuan waktu yang berubah menjadi

molekul-molekul uap. Namun agar kedudukan permukaan air di dala tangki tersebut

Heru Susanto 01303-005 18


Tugas Akhir

tetap saja, maka tentulah harus ada sejumlah molekul-molekul uap yang sama

banyaknya per satuan waktu yang berubah menjadi molekul-molekul air.

Dengan demikian dapat dikatakan, bila keadaan setimbang tercapai akan

terdapat sama banyak jumlah molekul-molekul air yang berubah menjadi molekul-

molekul uap dengan molekul-molekul uap yang berubah menjadi molekul-molekul

air per satuan waktu tertentu.

Temperatur air= Temperatur uap = Td 0 K

Tekanan air = Tekanan uap = p Newton/m2

Ternyata selama tekanannya tetap setiap pemberian panas hanya akan berakibat

menguapkan airnya tanpa menaikkan temperatur mendidihnya. Uap yang dalam

keadaan demikian tadi disebut uap kenyang.

Dapat dikatakan : Uap kenyang senantiasa mempunyai pasangan-pasangan

harga antara tekanan (p) dengan temperatur mendidihnya (Td). Bila tekanan dinaikkan

temperatur mendidih akan naik dan sebaliknya bila tekanan diturunkan naka

temperatur mendidihnya juga akan turun.

Dengan demikian ciri-ciri uap kenyang adalah sebagai berikut :

Uap kenyang adalah uap yang dalam keadaan setimbang dengan air yang ada

di bawahnya.

Uap kenyang adalah uap mempunyai tekanan dan temperatur mendidih yang

sama dengan tekanan dan temperatur mendidih air yang ada dibawahnya.

Uap kenyang adalah uap yang mempunyai pasangan-pasangan harga antara

tekanan (p) dan temperatur mendidihnya (Td).

Uap kenyang adalah uap yang apabila didinginkan akan segera mengembun

menjadi air.

Heru Susanto 01303-005 19


Tugas Akhir

2.5.2 Uap Panas Lanjut

Bila uap kenyang yang diperoleh dibawa keluar dari tangki melalui sebuah

pipa atau alat yang disebut pemanas lanjut uap, dan kemudian dipanaskan lebih lanjut

hingga temperaturnya mencapai Tu 0K yang jauh lebih panas daripada Td 0K

sedangkan tekanannya diatur tetap. Maka uap yang kita peroleh dengan cara tersebut

dinamakan uap panas lanjut atau superheated steam.

Dengan demikian : uap yang dipanaskan lanjut tidak lagi mempunyai

pasangan-pasangan harga antara tekanan (p) dengan temperaturnya (Tu).

Ciri-ciri uap yang dipanaskan lanjut adalah :

Uap yang tidak bisa seimbang dengan air.

Uap yang tidak mempunyai pasangan-pasangan harga antara tekanan (p) dan

temperaturnya (Tu).

Uap yang apabila didingnkan tidak akan mengembun.

Uap yang temperatur Tu 0K jauh lebih tinggi di atas temperatur air mendidih

Td 0K pada tekanan p Newton/m2.

2.6 Efisiensi Boiler

Efisiensi boiler dapat dihitung dengan tiga cara, yaitu :

1. Metode langsung :

Panas berguna dalam uap x 100

Efisensi (%) = ---------------------------------------

Energi total dalam bahan bakar

2. Metode tak langsung

Efisensi (%) = 100 % - ( Rugi-rugi) (%)

Heru Susanto 01303-005 20


Tugas Akhir

3. Metode dengan menggunakan grafik

Secara praktis efisiensi boiler dapat dihitung dengan menggunakan grafik rugi-

rugi panas dan ekses udara.

Dalam hal ini penulis akan mempergunakan metode yang pertama yaitu

metode langsung dalam melakukan perhitungan untuk mengetahui efisiensi yang

terjadi pada boiler.

Proses yang terjadi pada boiler adalah pengisian untuk boiler diperoleh dari

feed tank yang dipompakan ke dalam boiler. Dan air yang masuk ke dalam boiler

dipanaskan hingga menjadi uap, maka panas yang dibutuhkan oleh boiler untuk

memanaskan air sampai menjadi uap denagan kapasitas produksi uap pada boiler 1

Ton, secara matematis proses tersebut dapat dituliskan seperti dibawah ini.

Secara teoritis kesetimbangan energinya dituliskan sebagai berikut :

(Harahap Filino, Thermodinamika Teknik, Hal 207)

Q h in h out W

masukan keluaran
energi energi

Karena tidak ada kerja yang terjadi di dalam boiler maka W=0 sehingga

persamaan tersebut menjadi :

Q h out h in

Kondisi tersebut adalah kondisi aktual, dimana h in h 1 dan h out h2 .

Jadi banyaknya panas yang dibutuhkan untuk memanaskan air sampai menjadi

uap dengan kapasitas produksi uap pada boiler 1 Ton maka :

(Djokosetyardjo.M.J, Pembahasan Lebih Lanjut Tentang Ketel Uap, Hal.54)

Q in S h 2 h 1

Heru Susanto 01303-005 21


Tugas Akhir

Dimana : Qin =Panas yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler (kJ/jam)

h1 = Entalpi Air (kJ/kg)

h2 = Entalpi Uap (kJ/kg)

S = Produksi Uap (kg uap/Jam)

Sehingga untuk mendapatkan panas yang dihasilkan oleh boiler dituliskan

sebagai berikut :

(Lindsley David, Boiler Control System, Hal 131)

m air 80 0 C x Q air

Q boiler m h 2 h 1

Keterangan : m = Massa alir (kg/detik)

Q =Debit alir air (m3/jam)

air = Berat jenis air (kg/m3)

Qboiler = Panas yang dihasilkan Boiler (kW)

Untuk proses pembakaran pada boiler digunakan bahan bakar solar dan gas

sehingga jumlah pemakain bahan bakar, Be(kg bahan bakar/jam) dapat dihitung,

secara matematis dituliskan sebagai berikut :

(Djokosetyardjo.M.J, Pembahasan Lebih Lanjut Tentang Ketel Uap, Hal.55)

Qin
Be
NKB

Dimana : Qin = Panas yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler (kJ/jam)

NKB = Nilai pembakaran bawah bahan bakar

Perbandingan jumlah uap yang dihasilkan terhadap pemakaian bahan bakar,

E(kg uap/kg bahan bakar).

Heru Susanto 01303-005 22


Tugas Akhir

(Djokosetyardjo.M.J, Pembahasan Lebih Lanjut Tentang Ketel Uap, Hal.55)

S
E
Be

Dimana : S = Produksi Uap (kg uap/jam)

Be = Jumlah Pemakaian Bahan Bakar (kg bahan bakar/jam)

Sehingga panas yang dihasilkan oleh bahan bakar secara matematis dapat

dituliskan sebagai berikut :

Q bahan bakar m x NKB

Kemudian untuk menentukan efisiensi boiler berdasarkan rumus yang telah

diketahui dapat dituliskan sebagai berikut :

QBoiler
Boiler x100%
QBahan bakar

Heru Susanto 01303-005 23


Tugas Akhir

BAB III

PROSES PEMBAKARAN BAHAN BAKAR PADA BOILER

3.1 Bahan Bakar

Bahan bakar (fuel) adalah bahan yang apabila dibakar dapat meneruskan

proses pembakaran tersebut dengan sendirinya, disertai dengan pengeluaran kalor.

Bahan bakar dibakar dengan tujuan untuk memperoleh kalor tersebut, untuk

digunakan baik secara langsung maupun tak langsung. Sebagai contoh penggunaan

kalor dari proses pembakaran secara langsung adalah:

untuk memasak di dapur-dapur rumah tangga,

untuk instalasi pemanas,

sedang contoh penggunaan kalor secara tidak langsung adalah:

kalor diubah menjadi energi mekanik, misalnya pada motor bakar,

kalor diubah menjadi energi listrik, misalnya pada pembangkit listrik tenaga

diesel, tenaga gas dan tenaga uap.

Heru Susanto 01303-005 24


Tugas Akhir

Bahan bakar yang digunakan di dalam boiler pada umumnya diklafisifikasikan

sebagai berikut :

1. Bahan bakar padat

2. Bahan bakar cair

3. Bahan bakar gas

Untuk melakukan pembakaran diperlukan tiga unsur, yaitu :

1. bahan bakar

2. oksigen dari udara pembakaran

3. suhu untuk memulai pembakaran

Jadi tergantung pada jenis yang bahan bakar yang dipergunakan pada boiler,

dikarenakan boiler yang penulis bahas adalah menggunakan bahan bakar solar dan

gas maka sistem pembakaran yang dipergunakan adalah sistem pembakaran bahan

bakar gas dan sistem pembakaran bahan bakar cair (solar).

3.1.1 Bahan Bakar Gas

Didalam tanah banyak terkandung : gas bumi (petrol gas) atau sering pula

disebut gas alam yang timbul pada saat proses pembentukan minyak bumi, gas

tambang, dan gas rawa (CH4 atau methan).

Seperti halnya minyak bumi, gas alam tersebut diperoleh dengan jalan

pengeboran dari dalam tanah, baik di daratan maupun di lepas pantai terhadap lokasi-

lokasi yang diduga terdapat kandungan gas alam.

Gas alam tersusun dari parafin hidrokarbon, khususnya gas metana bercampur

dengan nitrogen, N2, dan karbon dioksida, CO2, diperoleh dari tambang dengan

pengeboran tanah melalui batuan kapur atau batuan pasir. Kandungan metananya di

atas 90%. Sulfur dalam jumlah yang sangat sedikit juga ada. Karena metan

Heru Susanto 01303-005 25


Tugas Akhir

merupakan komponen terbesar dari gas alam, biasanya sifat metan digunakan untuk

membandingkan sifat-sifat gas alam terhadap bahan bakar lainnya.

Gas alam merupakan bahan bakar dengan nilai kalor tinggi yang tidak

memerlukan fasilitas penyimpanan. Gas ini bercampur dengan udara dan tidak

menghasilkan asap atau jelaga. Gas ini tidak juga mengandung sulfur, lebih ringan

dari udara dan menyebar ke udara dengan mudahnya jika terjadi kebocoran.

Perbandingan kadar karbon dalam minyak bakar, batubara dan gas diberikan dalam

tabel dibawah.

Tabel 3.1 Perbandingan Komposisi Kimia Berbagai Bahan Bakar


(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)
Bahan Bakar Solar Batubara Gas Alam
Karbon 85,9 58,96 74
Hidrogen 12 4,16 25
Sulfur 0,5 0,56 -
Oksigen 0,7 11,88 0,25
Nitrogen 0,5 1,02 0,75
Abu 0,05 13,99 -
Air 0,35 9,43 -

Mengingat makin menyusutnya cadangan minyak bumi di dalam tanah,

dewasa ini banyak dieksplorasi dan dimanfaatkan penggunaan gas bumi sebagai

bahan bakar pengganti.

Penggunaan gas alam sebagai bahan bakar boiler mempunyai keuntungan-keuntungan

sebagai berikut :

a. Pada umumnya boiler yang menggunakan bahan bakar gas akan lebih murah

dibanding dengan boiler yang menggunakan bahan bakar lainnya. Hal ini

Heru Susanto 01303-005 26


Tugas Akhir

disebabkan karena pembakaran gas alam tidak menghasilkan abu dan jelaga

sehingga kecepatan gas asap melalui celah-celah pipa dapat diperbesar.

b. Peralatan pembakar untuk gas alam jauh lebih sederhana dibandingkan dengan

peralatan pembakar dari bahan bakar lainnya.

c. Pembakaran dengan gas alam akan berlangsung lebih sempurna dibanding

dengan bahan bakar lainnya.

d. Biaya operasi dan biaya perawatan (operation and maintenance costc)untuk

boiler yang menggunakan bahan bakar gas akan jauh lebih murah

dibandingkan dengan boiler yang menggunakan bahan bakar yang lain, hal ini

dikarenakan :

Harga gas rata-rata lebih murah dibanding bahan bakar lain untuk

jumlah panas yang sama yang dibangkitkan.

Efisiensi boiler dapat lebih tinggi dengan akibat penggunaan bahan

menjadi lebih hemat.

Tetapi disamping keuntungan-keuntungan tersebut penggunaan gas sebagai bahan

bakar boiler mengandung keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut :

a. Lokasi boler harus disekitar lokasi penambangan gas atau dalam jangkauan

ekonomis transmisi pipa-pipa gas alam.

b. Bila termasuk dalam jangkauan transmisi pipa-pipa akan tetapi sukar

mendapatkan air pengisian boiler yang baik kualitasnya, maka dalam hal ini

perlu tambahan biaya investasi untuk pengelohan (processing) air pengisian

tersebut.

c. Diperlukan investasi yang lebih besar untuk perawatan pengaturan dan

instalasi keamanannya, mengingat gas alam jauh lebih berbahaya dibanding

dengan bahan bakar lainnya.

Heru Susanto 01303-005 27


Tugas Akhir

Gas alam di salurkan dari tempat penambangannya melalui jaringan pipa-pipa

transmisi dengan tekanan sekitar 60-70 kg/cm2, yang di dekat instalasi boiler perlu di

bangun stasiun reduksi tekanan gas alam hingga 4 kg/cm2 absolut.

Volume udara teoritis yang dibutuhkan sekitar 8,3 9.4 m3 udara per m3 gas

alam, sehingga dengan angka kelebihan udara m=1, maka gas asam yang terbentuk

hanya bertambah dengan 1 m3 dari jumlah kebutuhan udara teoritisnya.

Temperatur bunga api sangat tinngi, sekitar 18500 1900 0C bila di dalam

lingkungan udara, dan bila lingkungan zat asam dapat mencapai 27000 2750 0C.

Adapun kecepatan pembakarannya maksimum =30 cm/detik.

3.1.2 Bahan Bakar Cair (Solar)

Bahan bakar cair berasal dari minyak bumi. Minyak bumi didapat dari dalam

tanah dengan jalan mengebornya diladang-ladang minyak, dan memompanya sampai

ke atas permukaan bumi untuk selanjutnya diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis

minyak bakar.

Bahan bakar cair yang biasa dipakai dalam industri, transportasi maupun

rumah tangga adalah fraksi minyak bumi. Minyak bumi adalah campuran berbagai

hidrokarbon yang termasuk dalam kelompok senyawa: parafin, naphtena, olefin, dan

aromatik. Kelompok senyawa ini berbeda dari yang lain dalam kandungan

hidrogennya. Minyak mentah, jika disuling akan menghasilkan beberapa macam

fraksi, seperti: bensin atau premium, kerosen atau minyak tanah, minyak solar,

minyak bakar, dan lain-lain. Setiap minyak petroleum mentah mengandung keempat

kelompok senyawa tersebut, tetapi perbandingannya berbeda. Perbedaan minyak

mentah yang utama ialah:

Heru Susanto 01303-005 28


Tugas Akhir

a. Yang bersifat Parafinis (paraffinic base), ialah persenyawaan zat air arang

yang membentuk rantai yang panjang atau sering disebut sebagai

persenyawaan alifatis, yang terdiri dari Alkan CnH2 n+2 atau Alkin CnH2 n.

b. Yang bersifat Naphtenis (naphtenic base), ialah persenyawaan zat air arang

yang berbentuk siklis, atau Aromat CnH2 n+6 atau Cyclan CnH2 n.

Minyak bumi (crude oil) hanya digunakan sebagai minyak bakar langsung di

dalam mesin boiler bila sedikit sekali mempunyai kandungan-kandungan

persenyawaan zat air arang dengan titik atau temperatur mendidih yang rendah,

sehingga tidak banyak manfaatnya untuk memisah-misahkannya. Keadaan yang

demikian ini adalah keadaan yang khusus.

Umumnya dari minyak bumi (crude oil) dapat dipisah-pisahkan beberapa

macam bahan bakar cair, antara lain berbagai jenis bensin,minyak tanah, kerosin,

solar serta minyak berbagai jenis minyak bakar untuk boiler. Pemisahan- pemisahan

menjadi beberapa bahan bakar tersebut dilakukan dengan jalan distilasi bertingkat

melalui berbagai tingkatan temperatur.

Minyak solar biasa digunakan pada boiler, baik yang stasioner maupun yang

bergerak. Dalam hal instalasinya, pemakaian minyak solar dalam boiler akan lebih

murah dibanding batubara. Disamping itu, pemakaian minyak solar tidak

menimbulkan masalah abu. Akan tetapi pada boiler tekanan tinggi dan suhu tinggi

dapat menimbulkan korosi dan kerusakan pada superheater tube. Pemakaian

minyak solar kecuali dalam boiler antara lain :

Tanur dalam industri baja, tanur tinggi dalam industri semen dan industri lain

yang mempunyai kaitan dengan semen, serta berbagai dapur dalam industri

petroleum dan industri kimia.

Heru Susanto 01303-005 29


Tugas Akhir

Mesin diesel, kecuali pada mesin diesel kecepatan tinggi seperti pada truk dan

lokomotif, pada mesin diesel kapal serta mesin diesel berkecepatan rendah

untuk pembangkit tenaga listrik.

Turbin gas

3.2 PROSES PEMBAKARAN

3.2.1 Prinsip Pembakaran

Proses pembakaran adalah reaksi kimia yang cepat antara bahan bakar dengan

oksigen (O2) dari udara, disertai cahaya dan menghasilkan kalor. Hasil pembakaran

yang utama adalah Karbondioksida (CO2), uap air (H2O) dan disertai energi panas.

Sedangkan hasil pembakaran yang lain adalah Karbonmonoksida (CO), abu (ash),

NOx, atau SOx tergantung pada jenis bahan bakarnya. Dalam pembakaran proses

yang terjadi adalah oksidasi dengan reaksi sebagai berikut:

Karbon + oksigen = Karbon dioksida + panas

Hidrogen + oksigen = Uap air + panas

Sulfur + oksigen = Sulfur dioksida + panas

Beberapa hal yang terjadi pada proses pembakaran :

a. Pembakaran dengan udara kurang

Dikatakan campuran rich (kaya). Pembakaran ini menghasilkan api reduksi. Api

reduksi ditandai oleh lidah api panjang, kadang-kadang sampai terlihat berasap.

Keadaan ini juga disebut pembakaran tidak sempurna.

Pada proses ini terjadi perpindahan panas berkurang dan panas hilang karena bahan

bakar berlebih serta ada bahan bakar yang tak terbakar di samping terdapat hasil

pembakaran seperti CO, CO2, Uap air, dan N2.

Heru Susanto 01303-005 30


Tugas Akhir

b. Pembakaran dengan udara berlebih.

Dikatakan campuran lean (kurus). Pembakaran ini menghasilkan api oksidasi.

Pada proses ini terjadi perpindahan panas berkurang dan panas hilang karena udara

berlebih serta hasil pembakaran seperti CO2, Uap air, O2 dan N2.

c. Pembakaran dengan udara optimum

Pada proses ini terjadi perpindahan panas yang maksimum dan panas yang hilang

minimum serta terdapatnya hasil pembakaran seperti CO2, Uap air, dan N2.

Dalam pembakaran, ada pengertian udara primer yaitu udara yang

dicampurkan dengan bahan bakar di dalam burner (sebelum pembakaran) dan udara

sekunder yaitu udara yang dimasukkan dalam ruang pembakaran setelah burner,

melalui ruang sekitar ujung burner atau melalui tempat lain pada dinding dapur.

Pada umumnya bahan bakar telah berubah menjadi uap (combustible vapor)

sebelum terbakar. Untuk mempercepat terjadinya combustible vapor diperlukan

proses pengabutan. Butiran-butiran kabut tersebut luas permukaannya menjadi sangat

besar, hingga mempercepat penguapan.

3.2.2 Pembakaran Tiga T

Tujuan dari pembakaran yang baik adalah melepaskan seluruh panas yang

terdapat dalam bahan bakar. Hal ini dilakukan dengan pengontrolan tiga T

pembakaran yaitu :

1. Temperature, suhu yang cukup tinggi untuk menyalakan dan menjaga

penyalaan bahan bakar,

2. Turbulence, Turbulensi atau pencampuran oksigen dan bahan bakar yang baik,

dan

3. Time, Waktu yang cukup untuk pembakaran yang sempurna.

Heru Susanto 01303-005 31


Tugas Akhir

Bahan bakar yang umum digunakan seperti gas alam dan propan biasanya

terdiri dari karbon dan hidrogen. Uap air merupakan produk samping pembakaran

hidrogen, yang dapat mengambil panas dari gas buang, yang mungkin dapat

digunakan untuk transfer panas lebih lanjut.

Gas alam mengandung lebih banyak hidrogen dan lebih sedikit karbon per kg

daripada bahan bakar minyak, sehingga akan memproduksi lebih banyak uap air.

Sebagai akibatnya, akan lebih banyak panas yang terbawa pada pembuangan saat

membakar gas alam.

Terlalu banyak, atau terlalu sedikit nya bahan bakar pada jumlah udara

pembakaran tertentu, dapat mengakibatkan tidak terbakarnya bahan bakar dan

terbentuknya karbon monoksida. Jumlah O2 tertentu diperlukan untuk pembakaran

yang sempurna dengan tambahan sejumlah udara (udara berlebih) diperlukan untuk

menjamin pembakaran yang sempurna.

Walau demikian, terlalu banyak udara berlebih akan mengakibatkan

kehilangan panas dan efisiensi. Tidak seluruh bahan bakar diubah menjadi panas dan

diserap oleh peralatan pembangkit. Biasanya seluruh hidrogen dalam bahan bakar

terbakar.

Saat ini, hampir seluruh bahan bakar untuk boiler, karena dibatasi oleh standar

polusi, sudah mengandung sedikit atau tanpa sulfur. Sehingga tantangan utama dalam

efisiensi pembakaran adalah mengarah ke karbon yang tidak terbakar (dalam abu atau

gas yang tidak terbakar sempurna), yang masih menghasilkan CO selain CO2.

Heru Susanto 01303-005 32


Tugas Akhir

Gambar 3.1 Pembakaran yang sempurna, yang baik dan tidak sempurna

3.2.3 Susunan Gas Asap

Apabila pembakaran berlangsung sempurna, maka susunan gas asap hanya

terdiri dari: CO2, H2O, SO2, N2 dari udara dan O2 kelebihan. Pembakaran tidak

sempurna, maka disamping gas-gas tersebut di atas, terjadi pula gas CO serta sisa

bahan bakar yang tidak terbakar. Besarnya kadar gas CO2 dalam gas asap merupakan

indikator sempurna atau tidak sempurnanya pembakaran.

3.2.4 Neraca Bahan Dan Neraca Kalor

Berat massa bahan yang masuk ruang pembakaran = berat massa bahan yang keluar.

Flow Chart 3.1 Neraca Bahan dan Neraca Kalor

Heru Susanto 01303-005 33


Tugas Akhir

(a + b) = (c +d +e)

a = berat bahan bakar kering + air (kelembaban).

b = berat udara + uap air yang terkandung dalam udara.

Air dalam d dan e = (air yang terkandung dalam bahan bakar) + (air dari kelembaban

udara) + (air yang terbentuk dari reaksi pembakaran)

3.2.5 Proses Pembakaran Bahan Bakar Gas

Pembakaran bahan bakar yang berupa gas , yang hampir keseluruhannya

terdiri dari Karbon (C)dan Hidrogen (H), mula-mula berlangsung sebagai berikut :

yang dimulai dengan mengurai gas-gas hingga menghasilkan komponen-komponen

dari gas air (CO dan H2) bila kondisi Oksigen (O2) mencukupinya. Hal ini dapat

diikuti dengan mudah pada burner.

Dengan penyetelan yang tepat pengaliran udara pembakar, maka gas yang

keluar dari burner akan menarik sejumlah udara primer tertentu, yang cukup untuk

penguraian gas-gas menjadi CO2 dan H2 (yang biasa disebut gas air atau water gas).

Penguraian gas-gas ini berlangsung di dalam kerucut bunga api yang paling

dalam, pada temperature yang lebih rendah daripada temperatur bila pembakaran

telah berlangsung sepenuhnya.

Pembakaran dari gas air (water gas) yang terbentuk, yang dilakukan oleh

oksigen dari udara sekunder yang mengalir disekeliling bunga api akan berlangsung

pada temperatur yang tinggi di lapisan yang tipis, yang tidak bercahaya dari bunga api

dan berlangsung sangat cepat bila oksigen yang tersedia mencukupinya.

Jika arus udara primer tidak mencukupi atau bila pencampurannya dengan

gas-gas tidak sempurna, maka penguraian menjadi water gas akan terganggu. Mula-

mula yang terurai terlebih dahulu adalah karbon yang berupa partikel-partikel kecil

yang melayang-layang di dalam bunga api. Bila kemudian temperatur menjadi cukup

Heru Susanto 01303-005 34


Tugas Akhir

tinggi (sekitar 800 0C) dan oksigennya mencukupi, maka penguraian menjadi water

gas akan dilanjutkan dan partikel-partikel karbon yang terbentuk tadi akan

terbakar,mula-mula menjadi CO yang kemudian dilanjutkan lagi menjadi CO2.

Karena penguraian menjadi water gas yang terganggu tadi, maka bunga api

menjadi lebih panjang daripada yang disebutkan tadi, lagi pula partikel-partikel

karbon yang menyala pada waktu terbakar akan mejadikan bunga api terlihat

menyala. Bila temperatur di luar bunga api terlalu dingin atau aliran udara pembakar

kurang cukup maka partikel-partikel karbon yang terurai tadi seluruhnya tidak

terbakar sehingga masih berujud partikel-partikel karbon yang berupa jelaga (soot)

yang melayang-layang di dalam bunga api.

3.2.6 Pembakaran Bahan Bakar Cair (solar)

Sebelum pembakaran berlansung maka telebih dahulu bahan bakar diuraikan

menjadi gas-gas. Bahan bakar cair umumnya terdiri dari karbon (C), hidrogen (H) dan

sulfur (S).

Oksidasi karbon agak lambat dan lebih sulit bila di bandingkan dengan unsur

hidrogen dan sulfur. Walaupun karbon mempunyai suhu pembakaran yang lebih

rendah (407 0C) dari zat air, karbon adalah zat padat dengan temperatur tinggi dan

pembakarannya relatif lambat. Sebagai konsekuensinya pada beberapa proses

pembakaran yang teoritisi, ini akan diasumsikan bahwa kedua unsur sulfur dan

hidrogen terbakar dengan sempurna sebelum karbon terbakar. Selanjutnya semua

karbon teroksidasi menjadi karbonmonoksida (CO) sebelum setiap karbon berubah

menjadi karbondioksida (CO2). Reaksi kimianya adalah sebagai berikut :

C + O2 ----------- CO + QC.CO

Dalam reaksi ini 1 mol C (12,01 kg) bereaksi dengan 1 mol O2(32 kg) menghasilkan

1 mol CO (44,01 kg).

Heru Susanto 01303-005 35


Tugas Akhir

CO + O2 ----------- CO2 + QC.CO2

Jadi 1 mol CO (44,01 kg) bereaksi dengan 1 mol O2 (32 kg) menghasilkan 1 mol

CO2(76,01 kg).

32
Jadi dibutuhkan oksigen sebesar : 2,66 kg O2
12,01

Hidrogen mempunyai temperatur pembakaran yang tertinggi yaitu 582 0C

tetapi selama dia berbentuk gas. Hidrogen beroksidasi menjadi air seperti

diperlihatkan dalam persamaan reaksi kimia di bawah ini :

2H2 + O2 ---------- 2H2O + 2QH

2 mol H2 (4,032) bereaksi dengan 1 mol O2 (32) menjadi 2 mol air (H2O=36,032).

32
Jadi dibutuhkan oksigen sebamyak : 7,94 jadi 7,94 kg O2/kg H2
4,032

Sulfur mempunyai tempeatur pembakaran dari 243 0C, adalah yang terendah

dari ketiga unsur yang dapat di bakar tersebut. Selama peristiwa oksidasi, dilepaskan

energi seperti terlihat dalam persenyawaan kimia di bawah ini :

S + O2 ----------- SO2 + QS

Ini berarti 1 mol S (32,06) bersenyawa dengan 1 mol O2 (32) memproduksi 1 mol

sulfur dioksida (64,06kg).

32
Jadi dibutuhkan oksigen sebesar : 0,998 kg O2/kg C.
32,06

3.2.7 Operasi Pembakaran

Kalor pembakaran yang diperoleh dari reaksi bahan bakar dengan udara,

dipergunakan untuk:

Menaikkan suhu bahan bakar yang dibakar dalam dapur.

Menaikkan suhu campuran bahan bakar dan udara.

Sebagian besar yang lain terbuang sebagai:

Heru Susanto 01303-005 36


Tugas Akhir

radiasi ke sekeliling,

terbawa keluar cerobong dalam gas asap,

konduksi dan konveksi ke peralatan dapur.

Temperatur dapur akan maksimum bila kehilangan-kehilangan di atas minimum.

Pada pengoperasian burner memperhatikan kecepatan nyala:

Pada nyala yang stabil, kecepatan nyala sama dengan kecepatan campuran

bahan bakar dan udara yang keluar dari burner.

Bila kecepatan nyala lebih besar akan terjadi flash back.

Bila kecepatan nyala lebih kecil akan terjadi blow off.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan nyala:

tekanan campuran bahan bakar dan udara,

suhu pembakaran,

perbandingan udara primer dan bahan bakar,

efek pendinginan dari lingkungan.

Kecepatan nyala ini tidak dapat diperhitungkan lebih dahulu, kecuali pada keadaan

yang sangat tertentu saja.

Untuk memperoleh efisiensi yang tinggi dalam pengoperasian dapur, perlu alat-alat

kontrol sebagai berikut:

Kontrol Suhu

Bahan bakar yang masuk ke dalam dapur banyaknya dikontrol oleh temperatur

dalam dapur, antara lain pirometer radiasi dan temperatur atap dapur. Bila

dibaca terlalu tinggi, maka jumlah bahan bakar harus dikurangi dan

seterusnya.

Heru Susanto 01303-005 37


Tugas Akhir

Kontrol Pembakaran

Pengaturan bahan bakar/udara digunakan flow meter yang disambungkan

dengan mekanisme servo pada katup kontrol otomatis.

Kontrol Aliran

Menjaga kesetimbangan aliran pemasukan udara/bahan bakar dan pengeluaran

gas asap.

3.3 PERHITUNGAN STOKIOMETRI KEBUTUHAN UDARA

3.3.1 Perhitungan Stokiometri Udara Yang Dibutuhkan Untuk Pembakaran

Untuk pembakaran diperlukan udara. Jumlah udara yang diperlukan dapat

dihitung dengan menggunakan metode yang diberikan dibawah ini. Langkah pertama

adalah menentukan komposisi minyak bakar. Spesifikasi bahan bakar diberikan

dibawah ini:

Tabel 3.2 Spesifikasi Analisis Bahan Bakar


(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)
Bahan Bakar Solar, Batubara, Gas Alam,
% Berat % Berat % Berat
Karbon 85,9 58,96 74
Hidrogen 12 4,16 25
Sulfur 0,5 0,56 -
Oksigen 0,7 11,88 0,25
Nitrogen 0,5 1,02 0,75
Abu 0,05 13,99 -
Air 0,35 9,43 -

Analisis ultimate diatas menentukan berbagai macam kandungan kimia unsur-

unsur seperti karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dll. Analisis ini berguna dalam

penentuan jumlah udara yang diperlukan untuk pembakaran. Kandungan hidrogen

Heru Susanto 01303-005 38


Tugas Akhir

pada gas alam yang lebih besar daripada solar membuat gas alam lebih cepat terbakar

daripada solar. Kadar sulfur yang terkandung dalam solar mempengaruhi

kecenderungan terjadinya penggumpalan dan penyumbatan, mengakibatkan korosi

pada cerobong dan peralatan lain seperti pemanas udara dan economizers dan

membatasi suhu gas buang yang keluar. Kadar air yang terkandung dalam solar dapat

menurunkan kandungan panas dari bahan bakar, dan meningkatkan kehilangan panas

karena penguapan dan pemanasan berlebih dari uap mengakibatkan pengurangan

efisiensi boiler, penambahan biaya perawatan boiler

Dari data analisis dengan jumlah sampel minyak bakar 100 kg, maka reaksi kimianya

adalah sebagai berikut:

Unsur Berat Molekul (kg / kg mol)

C 12

O2 32

H2 2

S 32

N2 28

CO2 44

SO2 64

H2 O 18

Unsur Bahan Bakar :

C + O2 CO2

12 32 44

32
O2 = = 2,67 kg O2
12

(85,9) C + (85,9 x 2,67) O2 315,25 CO2

Heru Susanto 01303-005 39


Tugas Akhir

(74) C + (74 x 2,67) O2 CO2

2H2 + O2 2H2O

4 + 32 36

32
O2 = = 8 kg O2
4

(12) H2 + (12 x 8) O2 108 H2O

(25) H2 + (25 x 8) O2 225 H2O

S + O2 SO2

32 + 32 64

32
O2 = = 1 kg O2
32

(0,5) S + (0,5 x 1) O2 1,0 SO2

Oksigen total yang dibutuhkan

W02 = 325,85 kg solar

W02 = 397,58 kg gas

Oksigen yang sudah ada dalam 100 kg bahan bakar (ditentukan)

= 0,7 kg

= 0,25 kg

Oksigen tambahan yang diperlukan

= 325,85 0,7 = 325,15 kg solar

=397,58 0,25 = 397,33 kg gas

Heru Susanto 01303-005 40


Tugas Akhir

Jadi, jumlah udara kering yang diperlukan (udara mengandng 23% berat oksigen)

= (325,15) / 0,23 = 1413,69 kg udara solar

= (397,33)/0,23 = 1727,52 kg udara gas

Udara teoritis yang diperlukan

= (1413,69) / 100 = 14,13 kg udara / kg bahan bakar solar

= (1727,52)/ 100 = 17,27 kg udara/kg bahan bakar gas

3.3.2 Menghitung Persen Kelebihan Udara Yang Di Pasok (EA)

(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)

persen O 2 x 100
=
21 persen O 2

7 x 100
=
21 7

= 50 %

3.3.3 Menghitung Massa Udara Sebenarnya Yang Di Pasok (ASS)

(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)

Solar

= {1 + EA/100} x udara teoritis

= { 1 + 50/100} x 14,13

= 7,2 kg udara/kg bahan bakar

Gas

= {1 + EA/100} x udara teoritis

= { 1 + 50/100} x 17,27

= 8,8 kg udara/kg bahan bakar

Heru Susanto 01303-005 41


Tugas Akhir

3.3 PERHITUNGAN STOKIOMETRI KEBUTUHAN UDARA

3.3.1 Perhitungan Stokiometri Udara Yang Dibutuhkan Untuk Pembakaran

Untuk pembakaran diperlukan udara. Jumlah udara yang diperlukan dapat

dihitung dengan menggunakan metode yang diberikan dibawah ini. Langkah pertama

adalah menentukan komposisi minyak bakar. Spesifikasi bahan bakar diberikan

dibawah ini:

Tabel 3.2 Spesifikasi Analisis Bahan Bakar


(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)
Bahan Bakar Solar, Batubara, Gas Alam,
% Berat % Berat % Berat
Karbon 85,9 58,96 74
Hidrogen 12 4,16 25
Sulfur 0,5 0,56 -
Oksigen 0,7 11,88 0,25
Nitrogen 0,5 1,02 0,75
Abu 0,05 13,99 -
Air 0,35 9,43 -

Analisis ultimate diatas menentukan berbagai macam kandungan kimia unsur-

unsur seperti karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dll. Analisis ini berguna dalam

penentuan jumlah udara yang diperlukan untuk pembakaran. Karbon bertindak

sebagai pembangkit utama panas selama pembakaran. Hidrogen termasuk bahan yang

mudah menguap, kandungan hidrogen yang tinggi menunjukkann mudahnya

penyalaan bahan bakar. Kadar sulfur yang terkandung dalam solar mempengaruhi

kecenderungan terjadinya penggumpalan dan penyumbatan, mengakibatkan korosi

pada cerobong dan peralatan lain seperti pemanas udara dan economizers dan

membatasi suhu gas buang yang keluar. Kadar air yang terkandung dalam solar dapat

Heru Susanto 01303-005 42


Tugas Akhir

menurunkan kandungan panas dari bahan bakar, dan meningkatkan kehilangan panas

karena penguapan dan pemanasan berlebih dari uap mengakibatkan pengurangan

efisiensi boiler, penambahan biaya perawatan boiler. Kadar abu merupakan kotoran

yang tidak akan terbakar sehingga dapat mempengaruhi efisiensi, menyebabkan

penggumpalan dan penyumbatan dan meningkatkan biaya handling

Heru Susanto 01303-005 43


Tugas Akhir

BAB IV

EFISIENSI KERJA BOILER

4.1 Spesifikasi Boiler di PT. X.

Spesifikasi Boiler yang digunakan oleh PT. X adalah Boiler jenis pipa api

dengan kapasitas 1 ton / jam, uap yang dihasilkan oleh Boiler tersebut tidak

dipanaskan lanjut atau hanya dalam kondisi uap jenuh.

Seperti yang telah kita ketahui, bahwa boiler jenis ini adalah boiler kecil dan

sederhana, boiler jenis ini mempunyai tekanan maksimum 18 kg/cm 2. Jadi boiler jenis

ini tergolong boiler untuk tekanan rendah.

PT. X memproduksi sepatu , karena produksi yang dihasilkan hanya sepatu saja

sehingga temperatur yang dibutuhkan untuk proses pengepresan sol tapak bawah

sepatu menggunakan temperatur rendah pada mesin Hot Press. Hal ini dimaksudkan

untuk memadatkan bagian tapak sol yang sebelumnya masih belum begitu padat.

Karena hanya untuk mengepress sol tapak sepatu saja maka tidak dibutuhkan

temperatur yang tinggi, sebab bila temperatur tinggi dapat merusak lapisan karet

karet sol sepatu tersebut.

Heru Susanto 01303-005 42


Tugas Akhir

Uap yang dihasilkan oleh Boiler tidak digunakan untuk menggerakkan sesuatu

seperti turbin, tetapi uap yang dihasilkan oleh Boiler langsung digunakan atau

didistribusikan kedalam mesin Hot Press yaitu untuk pengepressan sol tapak sepatu

serta untuk keperluan memasak kantin

Kondisi Operasi Ketel Uap ( Boiler ) pada PT. X

No Uraian Keterangan

1 Merk

2 Jenis Pipa Pipa Api

3 Kapasitas uap operasi 1 ton / jam

4 Macam bahan bakar Solar dan Gas

5 Temperatur air didalam Boiler 80 0 C

6 Temperatur uap keluar 120 0 C

7 Tekanan air masuk 7,65 kg/cm2

8 Tekanan uap keluar 7,14 kg/cm2

9 Tekanan air pompa 5,1 kg/cm2

10 Debit air 5 m3/jam

11 Mulai Operasi 2002

12 Operasi 24 jam / hari

Data diterima dari PT. X

Heru Susanto 01303-005 43


Tugas Akhir

Data-data Bahan bakar :

1.Solar

Spesifik grafity, (SG) = 0,92

Debit solar, (Qsolar) = 0,42 m3/jam

Nilai pembakaran bawah bahan bakar, (NKB) = 10000 kkal/kg

2. Gas

Debit gas (Qgas) =0,612 m3/jam

Nilai kalor netto, (NCV) = 9350 kkal/kg

Spesifik Grafity, (SG) = 0,6

Air masuk ke boiler dengan tekanan, P1=Pin = 7,65 kg/cm2 = 0,75 MPa

Tekanan uap keluar dari boiler, P2 =Pout = 7,14 kg/cm2 = 0,7 MPa

Debit air yang masuk ke dalam boiler, Qair = 5 m3/jam

Kapasitas produksi boiler 1 Ton uap/jam S = 1000 kg uap/jam

Temperatur air masuk untuk boiler, 80 0 C=273 + 80 = 353 K

Kondisi sifat-sifat air pada temperatur 80 0C melalui proses interpolasi didapatkan

data sebagai berikut :

1. Massa jenis air ( air 80 0 C ) = 974,08 kg/m3

2. Kapasitas panas pada tekanan konstan (Cp) = 4,1964 x 103 J/kg.K

3. Volume spesifik air (Va = Vf) = 1,029 x 10-3 m3/kg

4. Entalpi spesifik air (ha = hf) = 334,9 kJ/ kg

5. Tekanan air, (Pair masuk pompa) = 0,5 MPa

Air keluar dari boiler dengan kondisi uap jenuh pada tekanan P2 = 0,7 Mpa

Kondisi air pada tekanan P2 maka berdasarkan tabel tekanan didapatkan data

sebagai berikut :

Heru Susanto 01303-005 44


Tugas Akhir

h2 = 2067,1 kJ/ kg

T2 = 273 + 120 = 393 K

4.2 Pengolahan Data

Banyaknya panas yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler

Air masuk ke boiler dengan kondisi, P1= 0,75 Mpa, T1 = 353 K

h1 = hf + Vf (P1-Pa)

= 334,9 kJ/ kg + 1,029 x 10-3 m3/kg (0,75-0,5).103 kPa

= 335,1 kJ/kg

Air keluar dari boiler dengan kondisi uap jenuh pada tekanan P2 = 0,7 MPa

Kondisi air pada tekanan P2 maka berdasarkan tabel tekanan didapatkan data

sebagai berikut :

h2 = 2 kJ/ kg

T2 = 273 + 120 = 393 K

Q in S h 2 h 1

Qin =1000 kg uap/jam (2067,1- 335,1) kJ/kg

2427850 kJ / jam
0,67 MW
1000 x 3600

Jumlah Pemakain Bahan Bakar, (Be)

Solar

Qin
Be
NKB

2427850 kJ / jam
Be
10000 kkal / kg x 4,187 J / kal

= 57,98 kg bahan bakar/jam

Heru Susanto 01303-005 45


Tugas Akhir

Gas

Qin
Be
NKB

2427850 kJ / jam
Be
9350 kkal / kg x 4,187 J / kal

= 62,01 kg bahan bakar/jam

Perbandingan Jumlah Uap Yang Dihasilkan Terhadap Pemakaian Bahan

Bakar (E)

Solar

S
E
Be

1000 kg uap / jam


E
57,98 kg bahan bakar / jam

= 17,24 kg uap/bahan bakar

Gas

S
E
Be

1000 kg uap / jam


E
62,01 kg bahan bakar / jam

= 16,12 kg uap/bahan bakar

Perhitungan Panas Yang Dihasilkan Boiler

m air 80 0
C
x Q air

3
974 , 08 kg / m x 5 m 3 / jam
m
3600 dtk

=1,35 kg/detik

Heru Susanto 01303-005 46


Tugas Akhir

Q boiler m h 2 h1

Qboiler 1,35 kg / dtk(2762,95 335,1) kJ / kg

= 3277,5 kW

Perhitungan Panas Yang Dihasilkan Bahan Bakar

Solar

Data-data :

- Spesifik grafity (SG) = 0,92

- Debit solat (Qsolar) = 0,42 m3/jam

- Nilai kalor bawah (NKB) = 10000 kkal/kg

- Berat jenis air (Pair) pada konisi ruang 27 0C + 273 = 300 K,

P = 1 atm = 1000 kg/m3

m = psolar x Qsolar

m =(pair x SG) Qsolar

1 jam
= (1000 kg/m3 x 0,92) 0,42 x
3600 dtk

= 0,107 Kg/dtk

NKB = 10000 kkal/kg x 4,187 J/kal

= 41870 kJ/kg

Qbahan bakar = m x NKB

= 0,107 kg/dtk x 41870 kJ/kg

= 4480,09 kW

Gas

Data-data :

- Spesifik grafity (SG) = 0,6

Heru Susanto 01303-005 47


Tugas Akhir

- Debit gas (Qgas) = 0,612 m3/jam

- Nilai kalor netto (NCV) = 9350 kkal/kg

- Berat jenis air (Pair) pada konisi ruang 27 0C + 273 = 300 K,

P = 1 atm = 1000 kg/m3

m = psolar x Qsolar

m =(pair x SG) Qsolar

1 jam
= (1000 kg/m3 x 0,6) 0,612 x
3600 dtk

= 0,102 Kg/dtk

NKB = 9350 kkal/kg x 4,187 J/kal

= 39148,45 kJ/kg

Qbahan bakar = m x NKB

= 0,102 kg/dtk x 39148,45 kJ/kg

= 3993,14 kW

Efesiensi Boiler

Solar

Q Boiler
Boiler x100 %
Q Bahan bakar

3277,5
x100%
4480,09

= 73,15 %

Gas

QBoiler
Boiler x 100%
QBahanbakar

Heru Susanto 01303-005 48


Tugas Akhir

3277,5
x 100%
3993,14

= 82,07 %

Berdasarkan perhitungan yang telah didapat, didapatkan efesiensi daripada

mesin boiler yaitu sebesar 73,15 % dengan pemakain bahan bakar solar sebesar 57,98

kg bahan bakar/jam sedangkan dengan pemakaian bahan bakar gas sebesar 62,01 kg

bahan bakar/jam didapatkan efesiensi mesin boiler sebesar 82,07%.

Berikut ini penulis mencoba untuk membuat analisa perbandingan kinerja

mesin boiler jika kondisinya sama dengan data yang di dapat tetapi penulis hanya

membedakan pada tekanan yang masuk dan yang keluar menjadi (P1=P2=0,8 MPa).

Kondisi ini dsesuaikan dengan bagian produksi atas seijin departemen enginering,

untuk memenuhi kebutuhan uap pada bagian produksi.

4.3 Perbandingan Data

Data-data :

Air masuk ke boiler dengan tekanan, P1 = Pin = 81,6 kg/cm2 = 0,80 MPa

Dan tekanan uap keluar dari boiler, P2 = Pout = 81,4 kg/cm2 = 0,80 MPa

Debit air yang masuk ke dalam boiler, Qair = 5 m3/jam

Kapasitas produksi 1 Ton/jam

Temperatur air masuk, 80 0 C=273 + 80 = 353 K

Kondisi sifat-sifat air pada temperature 80 0 C, sebagai berikut :

1. Massa jenis air ( air 80 0 C ) = 974,08 kg/m3

2. Kapasitas panas pada tekanan konstan (Cp) = 4,1964 x 103 J/kg.K

Heru Susanto 01303-005 49


Tugas Akhir

3. Volume spesifik air (Va = Vf) = 1,029 x 10-3 m3/kg

4. Entalpi spesifik air (ha = hf) = 334,9 kJ/ kg

5. Tekanan air, (Pair masuk pompa) = 0,5 MPa

Banyaknya panas yang dibutuhkan untuk memanaskan boiler

Air masuk ke boiler dengan kondisi, P1= 0,80 Mpa, T1 = 353 K

h1 = hf + Vf (P1-Pa)

= 334,9 kJ/ kg + 1,029 x 10-3 m3/kg (0,80-0,5).103 kPa

= 335,2 kJ/kg

Air keluar dari boiler dengan kondisi uap jenuh pada tekanan P2 = 0,80 MPa

Kondisi air pada tekanan P2 maka berdasarkan tabel tekanan didapatkan data

sebagai berikut :

h2 = 2769,1 kJ/ kg

T2 = 273 + 120 = 393 K

Q in S h 2 h 1

Qin =1000 kg uap/jam (2769,1- 336,2) kJ/kg

2433900 kJ / jam
0,676 MW
1000 x 3600

Jumlah Pemakain Bahan Bakar, (Be)

Solar

Qin
Be
NKB

2433900 kJ / jam
Be
10000 kkal / kg x 4,187 J / kal

= 58,12 kg bahan bakar/jam

Heru Susanto 01303-005 50


Tugas Akhir

Gas

Qin
Be
NKB

2433900 kJ / jam
Be
9350 kkal / kg x 4,187 J / kal

= 62,17 kg bahan bakar/jam

Perbandingan Jumlah Uap Yang Dihasilkan Terhadap Pemakaian Bahan

Bakar (E)

Solar

S
E
Be

1000 kg uap / jam


E
58,12 kg bahan bakar / jam

= 17,2 kg uap/bahan bakar

Gas

S
E
Be

1000 kg uap / jam


E
62,17 kg bahan bakar / jam

= 16,08 kg uap/bahan bakar

Perhitungan Panas Yang Dihasilkan Boiler

m air 80 0
C
x Q air

3 3
974 , 08 kg / m x 5 m / jam
m
3600 dtk

= 1,35 kg/detik

Q boiler m h 2 h1

Heru Susanto 01303-005 51


Tugas Akhir

Qboiler 1,35 kg / dtk(2769,1 335,2) kJ / kg

= 3285,765 kW

Perhitungan Panas Yang Dihasilkan Bahan Bakar

Solar

Data-data :

- Spesifik grafity (SG) = 0,92

- Debit solat (Qsolar) = 0,42 m3/jam

- Nilai pembakaran bawah bahan baker (NKB) = 10000 kkal/kg

- Berat jenis air (Pair) pada konisi ruang 27 0C + 273 = 300 K,

P = 1 atm = 1000 kg/m3

m = psolar x Qsolar

m =(pair x SG) Qsolar

1 jam
= (1000 kg/m3 x 0,92) 0,42 x
3600 dtk

= 0,107 Kg/dtk

NKB = 10000 kkal/kg x 4,187 J/kal

= 41870 kJ/kg

Qbahan bakar = m x NKB

= 0,107 kg/dtk x 41870 kJ/kg

= 4480,09 kW

Gas

Data-data :

- Spesifik grafity (SG) = 0,6

- Debit solat (Qsolar) = 0,612 m3/jam

Heru Susanto 01303-005 52


Tugas Akhir

- Nilai pembakaran bawah bahan bakar (NKB) = 9350 kkal/kg

- Berat jenis air (Pair) pada konisi ruang 27 0C + 273 = 300 K,

P = 1 atm = 1000 kg/m3

m = psolar x Qsolar

m =(pair x SG) Qsolar

1 jam
= (1000 kg/m3 x 0,6) 0,612 x
3600 dtk

= 0,102 kg/dtk

NKB = 9350 kkal/kg x 4,187 J/kal

= 39148,45 kJ/kg

Qbahan bakar = m x NKB

= 0,102 kg/dtk x 39148,45 kJ/kg

= 3993,14 kW

Efesiensi Boiler

Solar

Q Boiler
Boiler x100 %
Q Bahan bakar

3285 , 765
x 100 %
4480 , 09

= 73,34 %

Gas

Q Boiler
Boiler x 100 %
Q Bahan bakar

3285 , 765
x 100 %
3993 ,14

= 82,28 %

Heru Susanto 01303-005 53


Tugas Akhir

Kemudian dengan menggunakan cara perhitungan yang sama penulis

menambah beberapa parameter untuk melakukan perhitungan terhadap P1 = 0,8 MPa

dan P2 = 1,2 MPa, P1 = 0,8 MPa dan P2 = 1,6 MPa, P1 = 0,8 MPa dan P2 = 2 MPa, P1

= 0,8 MPa dan P2 = 3 MPa, P1 = 0,8 MPa dan P2 = 4 Mpa ssehingga didapatkan hasil

seperti yang terlihat pada Tabel 4.1 Hasil Perhitungan di halaman selanjutnya.

Heru Susanto 01303-005 54


Tugas Akhir

Heru Susanto 01303-005 55


Tugas Akhir

Grafik 4.1 Jumlah Pemakaian Bahan Bakar Terhadap Efisiensi Kerja

Grafik Be Terhadap n%

84
83
82
Efisiensi Kerja (n%)

81
80
79
Solar
78
Gas
77
76
75
74
73
72
57 58 59 60 61 62 63 64
Pemakaian Bahan Bakar (Be)

Grafik 4.2 Panas Yang Dihasilkan Boiler Terhadap Efisiensi Kerja

Grafik Qboiler Terhadap n%

84
83
82
Efisiensi Kerja (n%)

81
80
79 Solar
78
77 Gas
76
75
74
73
72
3260 3280 3300 3320 3340
Panas Yang Dihasilkan Boiler (Qb)

Heru Susanto 01303-005 56


Tugas Akhir

Grafik 4.3 Pemakaian Bahan Bakar Terhadap Panas Yang Dihasilkan Boiler

Grafik B e Terhadap Qboiler

3340
P anas Y ang Dihasilkan Boiler (Qb)

3335
3330
3325
3320
3315
3310
S olar
3305
Gas
3300
3295
3290
3285
3280
3275
3270
57 58 59 60 61 62 63 64
P e m a ka ia n Ba ha n Ba ka r (Be )

4.4 Analisa Data

Dari hasil perhitungan yang telah di dapat bahwa kinerja boiler pada kondisi

Pin = 0,75 MPa, Pout = 0,7 MPa dan kondisi yang lain dengan temperatur air pengisian

boiler 353 K dengan menggunakan bahan bakar solar menunjukkan hasil yang kurang

maksimal, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan, dimana efisiensi boilernya

hanya berkisar dari 73,15 % sampai dengan 74,39 %. Berbeda dengan kinerja boiler

yang menggunakan bahan bakar gas dimana efisiensinya mencapai 82,07 % sampai

dengan 83,46 % hal ini dapat dikarenakan oleh beberapa faktor salah satunya karena

unsur-unsur kimia bahan bakar tersebut, dimana bahan bakar solar masih

mengandung sulfur yang merupakan faktor terjadinya jelaga (kotoran yang

menempel) sehingga rentan terhadap kerusakan akibat sisa-sisa pembakaran yang

Heru Susanto 01303-005 57


Tugas Akhir

menempel pada pipa, dan proses pembakaran yang terjadi pada gas lebih cepat dan

lebih sempurna dibandingkan dengan pembakaran yang terjadi pada solar.

Gas mengandung lebih banyak hidrogen dan lebih sedikit karbon per kg

daripada bahan bakar solar sehingga akan memproduksi lebih banyak uap air. Sebagai

akibatnya akan lebih banyak panas yang terbawa pada pembuangan saat membakar

gas alam. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan dimana perbandingan uap yang

dihasilkan bakar solar sebesar 17,24 kg uap/bahan bakar, sedangkan bahan bakar gas

adalah 16,12 kg uap/bahan bakar.

Kemudian dengan menggunakan bahan bakar solar mempunyai nilai efisiensi

lebih rendah tetapi pemakaian bahan bakarnya juga rendah sedangkan dengan

pemakaian bahan bakar gas mempunyai nilai efisiensi lebih tinggi tetapi pemakaian

bahan bakarnya juga lebih tinggi daripada solar. Akan tetapi dengan harga solar untuk

industri yaitu diatas US$ 100 per barel atau sekitar Rp.6.607 per liter biaya yang

dikeluarkanpun lebih besar karena selisih pemakaian bahan bakar solar dan gas hanya

terpaut sedikit yaitu rata-rata 5 kg /jam sedangkan harga gas untuk industri yaitu

berkisar US$ 5,48 mmBTU atau setara dengan Rp.1600 harga solar.

Kemudian dengan meningkatnya konsumsi bahan bakar maka panas yang

dihasilkan oleh boiler semakin tinggi dan juga efisiensi kerja mesin boiler tersebut

juga semakin tinggi.

Kondisi temperatur air masuk sangat berpengaruh terhadap pemakaian bahan

bakar dan kerja boiler, dengan kondisi temperatur air masuk yang tinggi maka waktu

pemakaian bahan bakar akan menjadi hemat dengan catatan kulitas air pengisian

untuk boiler harus benar-benar baik dan kondisi dapur bekerja dengan baik pula.

Heru Susanto 01303-005 58


Tugas Akhir

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan

bakar gas mempunyai nilai efisiensi yang lebih tinggi yaitu rata-rata 9,01 % daripada

bahan bakar solar, sehingga kinerja mesin boiler berbahan bakar gas lebih baik

daripada mesin boiler berbahan bakar solar. Selain itu dengan penggunaan

economiser pada mesin boiler tersebut dapat meningkatkan efisiensi kerja mesin, hal

ini dikarenakan pemanfaatan panas gas buang untuk memanaskan terlebih dahulu

suhu air masuk sehingga proses pembentukan uap panas akan lebih cepat, serta pada

proses pembakaran pun agar di set dengan baik sehingga kebutuhan udara yang

diperlukan untuk pembakaran benar-benar terpenuhi sehingga tidak terjadi

pembakaran yang tidak sempurna.

Pada penggunaan bahan bakar solar resiko terjadinya pembentukan kerak dan

jelaga sangat besar dikarenakan solar mempunyai unsur sulfur yang lebih banyak

daripada gas yaitu sebesar 3 %, sehingga harus sering dilakukan perawatan minimal 1

minggu sekali sedangkan dengan penggunaan bahan bakar gas resikonya lebih kecil

Heru Susanto 01303-005 59


Tugas Akhir

sehingga perawatannya cukup 2 minggu sekali. Hal ini dikarenakan Bila suhu gas

meningkat ke sekitar 20 0C diatas suhu boiler yang baru dibersihkan, maka waktunya

untuk membuang endapan jelaga.

Akan tetapi untuk lebih meningkatkan efisiensi mesin tersebut perawatan

yang harus dilakukan pada komponen-komponen mesin tersebut harus benar-benar

baik, dan juga harus dilakukan pengontrolan yang rutin pada saat mesin sedang

bekerja minimal 1 jam.

Jadi perubahan pemakaian bahan bakar dari bahan bakar solar ke bahan bakar

gas dapat disimpulkan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan efisiensi kerja

mesin boiler tersebut, disamping masalah biaya operasional yang dikeluarkan yakni

tingginya harga bahan bakar minyak saat ini untuk kalangan industri

5.2 Saran

Penulis menyarankan agar untuk lebih meningkatkan lagi efisiensi kerja mesin

boiler tersebut adalah dengan melakukan pengolahan air umpan boiler, karena

memproduksi uap panas yang berkualitas salah satunya tergantung pada pengolahan

air yang benar untuk mengendalikan kemurnian uap panas, endapan dan korosi

walaupun akan ada biaya lebih. Dan juga harus dilakukan pengontrolan dan

perawatan yang rutin terhadap komponen-komponen mesin boiler tersebut terutama

pada komponen yang terkait dalam meningkatkan efisiensi kerja mesin.

Heru Susanto 01303-005 60


Tugas Akhir

DAFTAR PUSTAKA

1. Djokosetyardjo, M.J. Ketel Uap Edisi Ketiga . Jakarta : PT. Pradnya

Paramita. 1993.

2. Djokosetyardjo, M.J. Pembahasan Lebih Lanjut Tentang Ketel Uap Edisi

Pertama . Jakarta : PT. Pradnya Paramita. 1990.

3. Harahap Filino, DR.MSc.Ir. Termodinamika Teknik Edisi Kedua . Jakarta :

Erlangga. 1996.

4. Holman J.P. Perpindahan Kalor Edisi Keenam . Jakarta : Erlangga. 1997.

5. Lindsley David. Boiler Control System . Mc. Graw-Hill Internasional,

1991.

6. Muin Syamsir A. Pesawat-Pesawat Konversi Energi . Jakarta : CV.

Rajawali. 1998.

Heru Susanto 01303-005 61