Anda di halaman 1dari 7

kewajiban hukum auditor

Tanggung Jawab Auditor


Dalam hal terjadinya pelangaran yang dilakukan oleh seorang Akuntan Publik dalam
memberikan jasanya, baik atas temuan-temuan bukti pelanggaran apapun yang bersifat
pelanggaran ringan hingga yang bersifat pelanggaran berat, berdasarkan PMK No.
17/PMK.01/2008 hanya dikenakan sanksi administratif, berupa: sanksi peringatan, sanksi
pembekuan ijin dan sanksi pencabutan ijin seperti yang diatur antara lain dalam pasal 62, pasal
63, pasal 64 dan pasal 65. Penghukuman dalam pemberian sanksi hingga pencabutan izin baru
dilakukan dalam hal seorang Akuntan Publik tersebut telah melanggar ketentuan-ketentuan yang
diatur dalam SPAP dan termasuk juga pelanggaran kode etik yang ditetapkan oleh IAPI, serta
juga melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berhubungan
dengan bidang jasa yang diberikan, atau juga akibat dari pelanggaran yang terus dilakukan
walaupun telah mendapatkan sanksi pembekuan izin sebelumya, ataupun tindakan-tindakan yang
menentang langkah pemeriksaan sehubungan dengan adanya dugaan pelanggaran
profesionalisme akuntan publik. Akan tetapi, hukuman yang bersifat administratif tersebut
walaupun diakui merupakan suatu hukuman yang cukup berat bagi eksistensi dan masa depan
dari seorang Akuntan Publik ataupun KAP, ternyata masih belum menjawab penyelesaian
permasalahan ataupun resiko kerugian yang telah diderita oleh anggota masyarakat, sebagai
akibat dari penggunaan hasil audit dari Akuntan Publik tersebut.
Selama melakukan audit, auditor juga bertanggungjawab (Boynton,2003,h.68):

a. Mendeteksi kecurangan
Tanggungjawab untuk mendeteksi kecurangan ataupun kesalahan-kesalahan yang tidak
disengaja, diwujudkan dalam perencanaan dan pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan
yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material yang disebabkan
oleh kesalahan ataupun kecurangan.

1. Tanggungjawab untuk melaporkan kecurangan jika terdapat bukti adanya kecurangan. Laporan
ini dilaporkan oleh auditor kepada pihak manajemen, komite audit, dewan direksi

b. Tindakan pelanggaran hukum oleh klien


Tanggungjawab untuk mendeteksi pelanggaran hukum yang dilakukan oleh klien. Auditor
bertanggungjawab atas salah saji yang berasal dari tindakan melanggar hukum yang memiliki
pengaruh langsung dan material pada penentuan jumlah laporan keuangan. Untuk itu auditor
harus merencanakan suatu audit untuk mendeteksi adanya tindakan melanggar hukum serta
mengimplementasikan rencana tersebut dengan kemahiran yang cermat dan seksama.

2. Tanggungjawab untuk melaporkan tindakan melanggar hukum. Apabila suatu tindakan melanggar
hukum berpengaruh material terhadap laporan keuangan, auditor harus mendesak manajemen
untuk melakukan revisi atas laporan keuangan tersebut.

2.2. Pemahaman Hukum dalam Kewajiban Auditor


Banyak profesional akuntansi dan hukum percaya bahwa penyebab utama tuntutan hukum
terhadap kantor akuntan publik adalah kurangnya pemahaman pemakai laporan keuangan
tentang perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit, dan antara kegagalan audit, dan
risiko audit. Berikut ini defenisi mengenai kegagalan bisnis, kegagalan audit dan risiko audit
menurut Loebbecke dan Arens (1999,h.787) :
1. Kegagalan bisnis : kegagalan yang terjadi jika perusahaan tidakmampu membayar kembali
utangnya atau tidak mampu memenuhi harapan para investornya, karena kondisi ekonomi atau
bisnis, seperti resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak terduga dalam
industri itu.
2. Kegagalan audit :kegagalan yang terjadi jika auditor mengeluarkan pendapat audit yang salah
karena gagal dalam memenuhi persyaratan-persyaratan standar auditing yang berlaku umum.
3. Risiko audit :adalah risiko dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan
dengan wajar tanpa pengecualian, sedangkan dalam kenyataannya laporan tersebut disajikan
salah secara material.

Akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek tugasnya, termasuk audit, pajak, konsultasi
manajemen, dan pelayanan akuntansi, sehingga jika benar-benar terjadi kesalahan yang
diakibatkan oleh pihak akuntan publik dapat diminta pertanggung jawabannya secara hukum.
Beberapa faktor utama yang menimbulkan kewajiban hukum bagi profesi audit diantaranya
adalah (Loebbecke dan Arens,1999,h.786):
1. meningkatnya kesadaran pemakai laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan publik
2. meningkatnya perhatian pihak-pihak yang terkait dengan pasar modal sehubungan dengan
tanggung jawab untuk melindungi kepentingan investor
3. bertambahnya kompleksitas audit yang disebabkan adanya perubahan lingkungan yang begitu
pesat diberbagai sektor bisnis, sistem informasi, dsb
4. kesediaan kantor akuntan publik untuk menyelesaikan masalah hukum diluar pengadilan,
untuk menghindari biaya yang tinggi.

Kewajiban Hukum Bagi Auditor


Auditor secara umum sama dengan profesi lainnya merupakan subjek hukum dan peraturan
lainnya. Auditor akan terkena sanksi atas kelalaiannya, seperti kegagalan untuk mematuhi
standar profesional di dalam kinerjanya. Profesi ini sangat rentan terhadap penuntutan perkara
(lawsuits) atas kelalaiannya yang digambarkan sebagai sebuah krisis (Huakanala dan
Shinneke,2003,h.69). Lebih lanjut Palmrose dalam Huanakala dan Shinneka menjelaskan bahwa
litigasi terhadap kantor akuntan publik dapat merusak citra atau reputasi bagi kualitas dari jasa-
jasa yang disediakan kantor akuntan publik tersebut.
Menurut Rachmad Saleh AS dan Saiful Anuar Syahdan (Media akuntansi, 2003) tanggung jawab
profesi akuntan publik di Indonesia terhadap kepercayaan yang diberikan publik seharusnya
akuntan publik dapat memberikan kualitas jasa yang dapat dipertanggung jawabkan dengan
mengedepankan kepentingan publik yaitu selalu bersifat obyektif dan independen dalam setiap
melakukan analisa serta berkompeten dalam teknis pekerjaannya. Terlebih-lebih tanggung jawab
yang dimaksud mengandung kewajiban hukum terhadap kliennya.
KEWAJIBAN MENURUT COMMON LAW
Common Law adalah hukum yang tidak tertulis. Hukum ini berdasarkan atas keputusan
pengadilan dan bukan atas hukum yang dibuat dan disahkan oleh pihak legislatif. Common
law berasal dari prinsip-prinsip yang berdasarkan keadilan, alas an, dan hal-hal yang masuk akal,
dan bukannya hukum hukum yang absolute, tetap, dan kaku. Prinsip-prinsip common
law ditentukan oleh kebutuhan sosial masyarakat. Menurut common law, kewajiban hukum para
CPA berkaitan luas dengan 2 pihak, yaitu para klien dan pihak ketiga.
1. KEWAJIBAN KEPADA KLIEN
Seorang CPA berada dalam hubungan kontraktual langsung dengan klien. Dengan menyetujui
untuk melaksanakan jasa bagi klien, CPA berperan sebagai kontraktor independen. Seorang
akuntan bertanggung jawab kepada klien sesuai dengan hukum kontrak atau tort law (hukum
yang mengatur tentang tuntutan ganti rugi).
1. Hukum Kontrak (Contract Law)
Seorang auditor bertanggung jawab kepada klien atas pelanggaran kontrak, apabila ia :
Menerbitkan laporan audit standar tanpa melakukan audit sesuai dengan GAAS.
Tidak mengirimkan laporan audit sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati.
Melanggar hubungan kerahasiaan klien.
Apabila terjadi pelanggaran kontrak, biasanya penggugat akan mencari satu atau lebih jalan
keluar sebagai berikut :
Kewajiban spesifik tergugat dalam kontrak.
Kerugian keuangan langsung yang terjadi akibat pelanggran tersebut.
Kerugian terkait dan kerugian sebagai konsekuensi yang merupakan akibta tidak langsung atas
pelanggran tersebut.
1. Hukum Kerugian (Tort Law)
Tindaka merugikan adalah tindakan salah yang merugikan milik, badan, atau reputasi seseorang.
Tindakan merugikan dapat dilakukan berdasarkan salah satu penyebab berikut ini :
Kelalaian yang biasa (ordinary negligence), yaitu kelalaian untuk menerapkan tingkat
kecermatan yang biasa dilakukan secara wajar oleh orang lain dalam kondisi yang sama.
Kelalaian kotor (gross negligence), kelalaian untuk menerapkan tingkat kecermatan yang
paling ringanpada suatu kondisi tertentu.
Kecurangan (fraud), yaitu penipuan yang direncanakan, misalnya salah saji, menyembunyikan,
atau tidak mengungkapkan fakta yang material, sehingga dapat merugikan pihak lain.

KEWAJIBAN KEPADA PIHAK KETIGA


Pihak ketiga dapat didefinisikan sebagai seseorang yang tidak mengetahui tentang pihak-pihak
yang ada di dalam kontrak. Menurut sudut pandang hukum, terdapat 2 kelompok pihak ketiga,
yaitu :
Pemegang hak utama
Seseorang yang namanya telah diketahui oleh seorang auditor sebelum audit dilaksanakan
sebagai penerima utama laporan auditor.
Pemegang hak lainnya
Pihak ketiga yang namanya tidak disebutkan, seperti para kreditor, pemegang saham, dan
investor potensial. Faktor-faktor lingkungan berikut telah memberikan sumbangan yang cukup
berarti atas terjadinya perubahan tersebut :
Konsep kewajiban telah berubah secara lambat namun signifikan untuk mewajibkan
perlindungan pelanggan dari kesalahan pabrikan (kewajiban produk) dan dari kesalahan
profesional (kewajiban jasa).
Perusahaan bisnis dan kantor-kantor akuntan telah bertumbuh dalam ukuran yang
memungkinkan mereka memikul dengan lebih baik bentuk tanggung jawab yang baru.
Jumlah individu dan kelompok yang mengandalkan laporan keuangan yang telah diaudit telah
bertumbuh dengan mantap.
Putusan-putusan pengadilan telah mengakui adanya 2 kategori pihak ketiga lain sebagai
pemegang hak sebagai berikut:
Golongan yang telah diketahui sebelumnya (foreseen class)
Apabila klien menginformasikan kepada CPA bahwa laporan audit akan digunakan untuk
mendapatkan pinjaman bank, maka semua bank merupakan pihak yang telah diketahui
sebelumnya, namun para kreditor niaga dan pemegang saham potensial tidak tergolong dalam
golongan yang telah diketahui sebelumnya. Konsep golongan yang telah diketahui sebelumnya
tidak meliputi semua investor, pemegang saham, kreditor yang ada sekarang maupun yang akan
datang.
Pihak-pihak yang dapat diketahui sebelumnya (foreseeable parties)
Perorangan atau entitas yang diketahui ataupun yang akan diketahui auditor akan mengandalkan
laporan audit dalam membuat keputusan bisnis dan investasi digolongkan sebagai pihak-pihak
yang dapat diketahui sebelumnya. Pihak yang dapat diketahui sebelumnya meliputi para kreditor,
pemegang saham, dan investor yang ada sekarang maupun yang akan datang.
PEMBELAAN DALAM COMMON LAW
Pada umumnya auditor harus menggunakan kecermatan sebagai pembelaan dalam
gugatan pelanggaran kontrak termasuk tuntuan ganti rugi atas kelalaian. Dalam hal tuntutan ganti
rugi, pembelaan utama adalah bukti kecermatan atau kelalaian kontributif. Apabila menggunakan
pembelaan berdasarkan kecermatan, auditor harus berusaha membuktikan bahwa audit tersebut
telah dilaksanakan sesuai dengan GAAS. Pada sebagian besar negara bagian, kelalaian
kontributif ini merupakan bahan pembelaan bagi auditor hanya bila kelalaian tersebut secara
langsung menyebabkan kegagalan auditor dalam melaksanakan tugasnya.
KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS
Undang-undang sekuritas tergolong sebagai atau hukum negara (statutory law) yang ditetapkan
oleh lembaga legislative pada tingkat negara nagian atau tingkat federal. Sebagian besar negara
bagian memiliki undang-undang pengamanan surat berharga (blue sky laws) yang dimaksudkan
untuk mengatur penerbitan dan perdagangan sekuritas dalam suatu negara bagian. Biasanya
undang-undang ini mewajibkan pengarsipan laporan keuangan yang telah diaudit oleh suatu
badan pengatur yang ditunjuk. Dua hukum federal di A.S. yang sangat mempengaruhi auditor
yang dikelola oleh Securities and Exchange Commission (SEC) adalah :
Undang-Undang Sekuritas tahun 1993 (Securities Act)
Mewajibkan entitas melampirkan laporan keuangan yang telah diaudit dalam laporan
pendaftaran yang akan disimpan oleh SEC pada saat entitas tersebut untuk pertama kalinya
menawarkan penjualan sekuritas kepada publik. Pengaruh utama undang-undang ini atas pihak-
pihak yang terlibat dalam suatu gugatan dapat diringkas sebagai berikut :

Penggugat
Setiap orang yang membeli atau mengakuisisi sekuritas seperti yang diuraikan dalam laporan
pendaftaran, tanpa memandang apakah ia merupakan klien auditor atau tidak.
Harus mendasarkan gugatannya pada dugaan pemalsuan yang material atau laporan keuangan
yang menyesatkan yang ada dalam laporan pendaftaran.
Apabila pembelian sekuritas dilakukan sebelum penerbitan laporan laba-rugi yang meliputi
periode setidaknya 12 bulan setelah tanggal efektif laporan pendaftaran, penggugat tidak harus
membuktikan adanya ketergantungan pada keandalan laporan yang tidak benar atau yang
menyesatkan atau bahwa kerugian yang diderita diperkirakan sebagai akibat laporan keuangan
tersebut.
Tidak harus membuktikan bahwa auditor telah melakukan kelalaian atau kecurangan dalam
mengesahkan laporan keuangan terkait.
Tergugat
Memiliki beban untuk menegakkan kebebasan dari kelalaian dengan cara membuktikan bahwa
ia telah melakukan investigasi yang memadai dan sesuai dengan itu memiliki dasar yang
memadai untuk percaya, dan memang percaya bahwa laporan keuangna yang disahkan adalah
benar pada tanggal laporan tersebut serta pada saat laporan pendaftaran menjadi efektif, atau
Melalui pembelaan harus menunjukkan bahwa kerugian penggugat secara keseluruhan atau
sebagian disebabkan oleh hal lain di luar laporan yang dianggap tidak benar atau menyesatkan
tersebut.
1. Undang-Undang Sekuritas tahun 1934 (Securities Exchange Act)
Mewajibkan perusahaan publik dengan nilai aktiva di atas $5 juta dan memiliki lebih dari 500
pemegang saham untuk mengarsipkan laporan tahunannya berikut laporan keuangan yang telah
diaudit pada SEC.
Terdapat kesamaan dan perbedaan dalam pengaruh dari pasal 10 dan 18 pada pihak-pihak yang
terlibat. Menurut kedua pasal tersebut, penggugat :
1. Dapat terdiri dari setiap orang yang membeli atau menjual sekuritas,
2. Harus membuktikan adanya pernyataan yang secara material tidak benar atau menyesatkan,
3. Harus membuktikan ketergantungan untuk mengandalkan laporan terebut serta kerugian yang
timbul karena mengandalkan laporan tgersebut.
Namun tanggung jawab penggugat berbeda menurut kedua pasal tersebut dalam hal
membuktikan kecurangan auditor. Menurut pasal 18, penggugat tidak harus membuktikan bahwa
auditor telah berlaku curang, namun dalam pasal 10, Peraturan 10b-5, menyatakan bahwa bukti
tersebut diperlukan. Tergugat dalam gugatan pasal 18 harus membuktikan bahwa ia :
1. Telah bertindak dengan jujur.
2. Tidak mengetahui tentang pernyataan yang tidak benar atau menyesatkan.
Hal ini berarti bahwa dasar minimum untuk kewajiban kelalaian kotor. Sesuai dengan itu, posisi
auditor menurut pasal 18 sama seperti pada doktrin Ultramares menurut common law, dimana ia
dianggap bertanggung jawab kepada pihak ketiga atas kelalaian kotor. Menurut pasal 18, seorang
tergugat yang menderita kerugian, diperkenankan untuk menerima ganti rugi out-of-pocket,
yang nilainya ditetapkan sebesar selisih antara harga kontrak dengan nilai riil pada tanggal
transaksi. Apabila terdapat salah saji atau pengabaian, maka pada umumnya nilai riil pada
tanggal transaksi akan digantikan dengan harga pasar.

Perbedaan Antara Undang-Undang Tahun 1933 dan tahun 1934


Undang-undang Sekuritas dapat diterapkan pada situasi yang berbeda. Undang-undang tahun
1933 diterapkan pada penjualan perdana sekuritas yang dapat terdiri dari modal saham dan
obligasi kepada publik oleh korporasi penerbit , dimana undang-undang tahun 1934 diterapkan
pada penjualan perdana dan perdagangan sekuritas di bursa sekuritas nasional. Perbedaan antara
pasal 11 dari undang-undang tahun 1933 dengan pasal 10 dan 18 dari undang-undang tahun
1934, terletak pada :
Penggugat
Bukti ketergantungan untuk mengandalkan laporan keuangan yang tidak benar atau
menyesatkan.
Kewajiban auditor atas kelalaian biasa.

PRIVATE SECURITIES LITIGATION REFORM ACT TAHUN 1995


Undang-undang Private Securities Litigation Reform yang disahkan Kongres pada tahun 1995
dimaksudka untuk mengurangi litigasi yang ceroboh bagi auditor, perusahaan yang menjual
sekuritasnya kepada publik, dan para pihak yang berafiliasi dengan penerbit sekuritas, seperti
pejabat perusahaan, direktur, serta penasehat profesional.

Kewajiban Proporsional
Reform Act ini memperkenalkan dan memulai suatu sistem kewajiban proporsional dimana
seorang tergugat yang tidak mengetahui tindak pelanggaran atas hukum sekuritas tetap
bertanggung jawab berdasarkan suatu persentase tanggung jawab. Hal ini dimaksudkan untuk
mengurangi tekanan paksa bagi para pihak yang tidak bersalah untuk menyelesaikan gugatan
yang tidak terlampau berat di luar pengadilan daripada memepertaruhkan risiko bagi diri sendiri
dengan kewajiban yang tidak proporsional atas kerugian dalam kasus tersebut. Tergugat yang
mengetahui tindak pelanggran tetap betanggung jawab secara sendiri-sendiri atau bersama-
sama untuk semua kerugian yang dapat dinilai.
Menutup Kerugian Aktual
Reform Act juga menutup kerugian aktual yang timbul menurut Undang-undang sekuritas
berdasarkan harga pembelian investor atas sebuah sekuritas dan harga perdagangan rata-rata
selama periode 90 hari setelah tanggal informasi diterbitkan yang mengoreksi adanya salah saji
dan pengabaian dalam laporan keuangan.
Tanggung Jawab untuk Melaporkan Tindakan Melanggar Hukum
Reform Act menetapkan persyaratan pelaporan baru kepada auditor yang mendeteksi atau
menyadari adanya tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak yang menerbitka
sekuritas.
Perubahan Lain yang Diberikan oleh Reform Act
Reform Act juga memberikan kelonggaran lain bagi profesi akuntan. Undang-undang ini :
Mewajibkan penggugat membayar imbalan dan pengeluaran yang layak bagi penasehat hukum
yang digunakan oleh tergugat yang secara langsung terkait dengan litigasi yang diputuskan oleh
pengadilan sebagai ceroboh dan tidak benar.
Memberikan tenggang waktu untuk berusaha menyelesaikan masalah yang ada, sehingga dapat
mengurangi biaya yang seringkali mendorong pihak yang tidak bersalah untuk mengajukan
gugatan class action.
Membatasi kerugian akibat tindakan hukum dengan cara menghapus kecurangan sekuritas
sebagai dasar mengambil tindakan menurut Racketeer Influenced and Corrupt Organization
Act, yang menjatuhkan hukuman tiga kali lipat.
Membatasi hak pihak ketiga untuk menggugat dengan cara membatasi umlah berapa kali
seseorang dapat menjadi wakil penggugat sebnayak tidak lebih dari lima class action selam
aperiode 3 tahun dan dengan mewajibkan adanya alasan standar yang lebih ketat yang harus
dipenuhi oleh penggugat.
Perubahan tata cara bagaimana pengadilan menunjuk wakil penggugat dalam suatuclass
action untuk kepentingan para investor institusional yang pada umumnya memiliki kepetingan
keuangan terbesar dalam ganti rugi tersebut serta untuk mengurangi adanya perlombaan menuju
ruang pengadilan oleh para penggugat profesional yang pada umumnya hnaya memiliki
kepentingan yang paling sedikit.

MEMINIMALKAN RISIKO LITIGASI


Dari hasil analisis atas berbagai kasus pengadilan yang melibatkan apara CPA, direomendasikan
sejumlah tindak pencegahan ynag perlu diambil oleh seorang CPA untuk meminimalkan risiko
terjerat dalam litigasi :
Menggunakan surat perikatan untuk semua jenis jasa profesional.
Melakukan investigasi yang menyeluruh atas klien prospektif.
Lebih menekankan mutu jasa daripada pertumbuhan.
Mematuhi sepenuhnya ketentuan profesional.
Mengakui keterbatasn ketentuan profesional.
Menetapkan dan menjaga standar yang tinggi ats pengendalian mutu.
Memperhatikan tindak pencegahan dalam perikatan tentang keterlibatan klien dalam kesulita
keuangan.
Mewaspadai risiko audit.