Anda di halaman 1dari 11

Pemberian Imunisasi pada Anak

Kelompok F5

Winaldi Sandimusti 102012207

Anthoni Djohary 102012031

Asrianti Saddi Pairunan 102013280

Julio Atlanta Chandra 102014089

Venny Debora Yolanda 102014125

Mohamad Yanuar Prasetyo Nugroho 102014191

Nur Ayuni Syahira bt Rosli 102014238

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510


Pendahuluan

Imunisasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak
terhadap penyakit tententu. Imunisasi merupakan teknologi yang sangat berhasil di dunia
kedokteran yang merupakan satu upaya yang paling efektif dan efisien dibandingkan dengan
upaya kesehatan lainnya. Namun demikian, masih ada satu dari empat orang anak yang belum
mendapatkan vaksinasi dan dua juta anak meninggal setiap tahunnya karena penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksinasi.1
Di Indonesia, program imunisasi nasional dikenal sebagai Program Pengembangan
Imunisasi (PPI) yang dilaksanakan sejak tahun 1977. PPI merupakan program pemerintah
dalam bidang imunisasi berguna mencapai komitmen internasional Universal Child
Immunization (UCI) pada akhir 1990. Imunisasi yang termasuk dalam PPI adalah Hepatitis B,
BCG, polio, DTP dan campak. Program imunisasi nasional disusun berdasarkan keadaan
epidemiologi penyakit yang terjadi saat itu. Maka jadwal program imunisasi nasional dapat
berubah dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui jadwal program
imunisasi nasional yang terbaru yakni tahun 2014.
Pada saat ini imunisasi sendiri sudah berkembang cukup pesat, terbukti dengan
menurunnya angka kesakitan dan angka kematian bayi. Angka kesakitan bayi menurun 10%
dari angka sebelumnya sedangkan angka kematian bayi menurun 5% dari angka sebelumnya
menjadi 1,7 juta kematian setiap tahunnya di Indonesia. Pada hakikatnya masalah imunisasi
tidak luput dari perhitungan untung rugi.2 Dengan imunisasi anak pasti dapat mencapai
keuntungan bukan kerugian. Keuntungan pada imunisasi tidak terlihat dalam bentuk materi
tetapi secara langsung dirasakan. Anak yang tidak mendapat imunisasi mempunyai resiko
tinggi terjangkit penyakit infeksi dan menular. Penyakit ini mungkin menyebabkan ia cacat
seumur hidup, gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak bahkan dapat berakhir dengan
kematian.
Imunisasi
A. Defenisi
Imunisasi adalah suatu proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh
dengan cara memasukkan vaksin, yakni virus atau bakteri yang sudah dilemahkan,
dibunuh, atau bagian-bagian dari virus tersebut telah dimodifikasi.1
B. Tujuan Imunisasi

1. Untuk mencegah atau melindungi dari penyakit tertentu


2. Apabila terjadi penyakit tidak terlalu parah dan dapat mencegah timbulnya cacat atau
kematian.

C. Jenis Imunisasi
1. Imunisasi aktif
Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak suatu
penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.2

a) Kekebalan aktif alamiah


Kekebalan tubuh didapatkan apabila anak terjangkit suatu penyakit, yang berarti masuknya
antigen yang akan merangsang tubuh anak membentuk antibodi sendiri secara aktif dan
menjadi kebal karenanya. Misalnya anak telah menderita campak. Setelah sembuh anak tidak
akan terserang campak lagi, karena tubuhnya telah membuat zat penolakan terhadap penyakit
tersebut.

b) Kekebalan aktif buatan


Pemberian vaksin yang merangsang tubuh manusia secara aktif membentuk antibodi dan
kebal secara spesifik terhadap antigen yang diberikan. Misalnya anak diberikan vaksinasi
BCG, DPT, Hbi, Polio dan lainnya.

2. Imunisasi pasif
Kekebalan pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibodi sendiri tetapi kekebalan
tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolakan sehingga proses cepat tetapi
tidak tahan lama.
a) Kekebalan pasif alamiah
Kekebalan yang didapatkan transplasenta, yaitu antibodi diberikan ibu kandung secara
pasif melalu plasenta kepada janin yang dikandungnya. Misalnya difteri, morbili dan
tetanus.
b) Kekebalan pasif buatan
Pemberian antibodi yang sudah disiapkan dan dimasukkan ke dalam tubuh anak. Misalnya
pemberian vaksinasi anti tetanus serum (ATS).4
D. Program Pengembangan Imunisasi (PPI)
Meliputi imunisasi BCG, Polio, Hepatitis B, Campak dan DPT.

a) Imunisasi BCG ( Bacillus Calmette Guerin)

Pengertian Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan


kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Merupakan kuman hidup yang dilemahkan.

Cara pemberian imunisasi BCG adalah melalui suntikan intrakutan sebanyak 0,05 ml
dengan lokasi penyuntikan pada pangkal lengan kanan atas (sesuai anjuran WHO) atau
penyuntikan pada pangkal paha atas.4

Efek samping pada BCG adalah terjadi reaksi lokal yang timbul adalah wajar. Suatu
pembengkakan kecil, merah biasanya timbul pada daerah bekas suntikan. Reaksi ini
biasanya hilang dalam 2 5 bulan, dan umumnya pada anak-anak akan meninggalkan
bekas berupa jaringan parut dengan diameter 2 10 mm. Jarang sekali nodus dan
ulkus tetap bertahan.5 Kadang-kadang pembesaran kelenjar getah bening pada daerah
ketiak dapat timbul 2 4 bulan setelah imunisasi.
Kontra indikasi imunisasi BCG adalah imunisasi BCG tidak dapat diberikan pada anak
yang berpenyakit TB atau menunjukkan uji Mantoux positif dan adanya penyakit kulit
berat/menahun dan ibu hamil. Juga kontraindikasi pada defisiensi sistem kekebalan,
individu yang terinfeksi HIV asimtomatis maupun simtomatis tidak boleh menerima
vaksinasi BCG.

b) Imunisasi DPT ( Difteri Pertusis Tetanus )

Imunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis dan
tetanus. Vaksin DTP merupakan jenis vaksin bakteri yang inaktif.

Cara pemberian melalui disuntikan melalui intamuskular pada lengan atas (deltiod)
atau paha sebanyak 0,5 ml.

Masa kadaluarsa dua tahun setelah tanggal pengeluaran (dapat dilihat pada label)
Efek samping imunisasi DPT biasanya demam dan rewel selama 1-2 hari, kemerahan,
pembengkakan atau pegal-pegal pada daerah penyuntikan yang akan hilang sendiri
dalam beberapa hari.5 Bila demam dapat diberikan penurun panas atau antipiretik.
Kadang-kadang reaksi berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan histeria dapat terjadi
24 jam setelah imunisasi. Apabila sesudah pemberian DPT terjadi reaksi yang
berlebihan, dosis imunisasi berikutnya diganti dengan DT atau DTaP.

Kontra indikasi bagi imunisasi ini adalah imunisasi DPT tidak dapat diberikan pada
anak yang sakit parah, anak yang menderita penyakit kejang demam, anak yang
diduga menderita batuk rejan, anak yang menderita penyakit gangguan kekebalan.
Dosis kedua DTP jangan diberikan pada individu yang mengalami reaksi anafilaktik
terhadap dosis sebelumnya atau terhadap komponen vaksin, hipersensitif terhadap
komponen vaksin. Pada anak-anak yang menderita kelainan saraf, mudah mendapat
kejang, asma dan eksim. Jangan diberikan pada anak-anak usia diatas 5 tahun.

c) Imunisasi Polio
Pengertian imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan
kekebalan terhadap penyakit poliomielitis yaitu penyakit radang yang menyerang saraf
dan dapat mengakibatkan kelumpuhan.

Cara pemberian imunisasi polio secara oral sebanyak 2 tetes atau parenteral.

Jenis vaksin bagi polio terdiri dari dua yaitu OPV dan IPV.6 OPV (oral polio vaccine)
adalah vaksin trivalen merupakan cairan berwarna kuning kemerahan dikemas
dalam vial gelas yang mengandung suspensi dari tipe 1,2, dan 3 virus polio hidup
(strain Sabin) yang telah dilemahkan. Vaksin Polio Oral ini merupakan
suspensi drops untuk diteteskan melalui droper secara oral. Selanjutnya IPV
(inactivated polio vaccine) merupakan virus polio inaktif disebut juga vaksin salk
yang diberikan melalui parenteral.

Efek samping imunisasi polio hampir tidak ada hanya sebagian kecil yang mengalami
pusing, diare ringan, dan sakit otot, itupun sangat jarang. Kekebalan yang diperoleh
dari vaksinasi polio adalah 45-100%.
Kontraindikasi pada penderita leukemia dan disgammaglobulinemia, anak dengan
infeksi akut yang disertai demam, anak dengan defisiensi sistem kekebalan dan anak
dalam pengobatan imunosupresif.

d) Imunisasi campak
Imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit campak pada anak karena
penyakit ini sangat menular. Merupakan virus hidup yang dilemahkan.
Deskripsi vaksin campak adalah vaksin aktif yaitu vaksin virus hidup yang
dilemahkan, merupakan vaksin beku kering berwarna kekuningan pada vial gelas,
yang harus dilarutkan hanya dengan pelarut yang telah disediakan secara terpisah.
Vaksin campak ini berupa serbuk injeksi.1

Cara pemberian adalah melalui suntikan subkutan sebanyak 0,5 ml.

Efek samping imunisasi jarang terjadi reaksi akibat imunisasi, namun kadang terjadi
demam ringan dan bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari ke 7-8 setelah
penyuntikan. Ada juga terjadi kejang yang ringan dan tidak berbahaya pada hari ke
10-12.

Kontra indikasi imunisasi campak adalah anak dengan infeksi akut disertai demam,
anak yang menderita TBC tanpa pengobatan, anak yang defisiensi gizi dalam derjat
berat dan yang mepunyai riwayat kejang demam. Vaksin ini sebaiknya tidak diberikan
bagi orang yang alergi terhadap dosis vaksin campak sebelumnya, wanita hamil
karena efek vaksin campak terhadap janin belum diketahui, orang yang alergi berat
terhadap kanamisin dan eritromisin dan anak dengan defisiensi sistem kekebalan.2

e) Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit


hepatitis B yaitu penyakit infeksi yang dapat merusak hati. Merupakan vaksin inaktif
atau vaksin hepatitis B rekombinan. Vaksin hepatitis B rekombinan mengandung
antigen virus Hepatitis B, HBsAg yang tidak menginfeksi yang dihasilkan dari biakan
sel ragi dengan teknologi rekayasa DNA.
Cara pemberian imunisasi hepatitis B adalah melalui suntikan intramuskular sebanyak
0,5 ml pada orang dewasa dan anak di bagian otot deltoid, sedangkan pada bayi di
bagian anterolateral paha.4 Kecuali pada orang dengan kecenderungan pendarahan
berat seperti hemofilia vaksin diberikan secara subkutan.

Efek samping yaitu reaksi lokal yang umumnya sering dilaporkan adalah rasa sakit,
kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi
bersifat ringan dan biasanya berkurang dalam 2 hari setelah vaksinasi.

Kontraindikasi kepada mereka yang hipersensitif terhadap komponen vaksin. Vaksin


Hepatitis B rekombinan sebaiknya tidak diberikan pada orang yang terinfeksi demam
berat.5

E. Imunisasi anjuran (Non PPI)

Mencakup pencegahan terhadap penyakit yang dampaknya belum meluas di masyarakat

1. Imunisasi MMR ( Measles, Mumps dan Rubella)


Imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak (measles),
gondongan atau parotis epidemika (mumps) dan rubella ( campak).

Antigen yang dipakai virus campak strainedmonson yang dilemahkan, virus rubella
strain 27/3 dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan pada bayi dibawah 1 tahun
karena dikhawatirkan terjadi interferensi dgn antibodi maternal yang masih ada.
Diberikan secara subkutan sebanyak 0,5 ml.6

2. Imunisasi HIB ( Hemophilus influenza tipe B)


Imunisasi ini mencegah penyakit infeksi hemopiilis influenza tipe B. Jenis
vaksin yang dipakai adalah vaksin Hib yang berisi PRP-T (capsular polysaccharide
polyribosyl ribitol phosphate-konjugasi dengan protein tetanus. Dosis sebanyak 0,5mL
diberikan secara suntikan subkutan. Jenis vaksin Hib yang berisi PRP-T (capsular
polysaccharide polyribosyl ribitol phosphate-konjugasi dengan protein tetanus.
Diberikan pada usia 2,4,dan 6 bulan. Dapat diberikan dalam bentuk komninasi
(DTwP/Hib, DTap/Hib, DTap/Hib,IPV).

3. Imunisasi TIPA untuk mencegah penyakit demam tifoid dan paratifoid. Cara
pemberian secara suntikan subkutan.
4. Imunisasi varicella untuk mencegah penyakit cacar air.
5. Imunisasi Hepatitis A : untuk mencegah penyakit hepatitis A.
6. Influenza ( virus Influenza A dan B)
7. Imunisasi Rotavirus

F. Jadwal pemberian imunisasi


Jadwal imunisasi terbaru yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia
tahun 2014 adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 Tahun

Rekomendasi imunisasi ini berlaku mulai 1 Januari 2014. Angka dalam kolom umur tabel
mencerminkan umur dalam bulan (atau tahun) mulai 0 hari sampai 29 hari ( atau 11 bulan
29 hari untuk tahun). Adapun hal-hal yang diperbaharui pada jadwal imunisasi 2014
adalah sebagai berikut.3

1. Vaksin Hepatitis B. Paling baik diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan didahului
pemberian injeksi vitamin K1. Hal tersebut penting untuk mencegah terjadinya perdarahan
akibat defisiensi vitamin K.
2. Vaksin Polio. Pada saat bayi lahir atau saat dipulangkan harus diberikan vaksin polio oral.
Pada umur 2 bulan pertama kali vaksin polio diberikan. Vaksin kedua pada usia 4 bulan
selanjutnya diikuti pada usia 6 bulan, 18-24 bulan dan pada usia 5 tahun.
3. Vaksin BCG. Pemberian vaksin BCG dianjurkan sebelum 3 bulan, optimal diberikan pada
umur 2 bulan. Apabila diberikan sesudah umur 3 bulan, perlu dilakukan uji antibodi.
4. Vaksin DPT. Vaksin DPT pertama diberikan paling cepat pada umur 2 bulan. Dapat
diberikan vaksin DTwP atau DtaP atau kombinasi dengan vaksin lain. Untuk anak umur lebih
dari 7 tahun DPT yang diberikan harus vaksin Td, di booster setiap 10 tahun.4
5. Vaksin Campak. Imunisasi campak diberikan 3 kali pada umur 9 bulan, 2 tahun, dan
pada SD kelas 1 (program BIAS). Untuk anak yang telah mendapat imunisasi MMR umur 15
bulan, imunisasi campak umur 2 tahun tidak diperlukan.
6. Vaksin Rotavirus. Vaksin rotavirus terdiri dari monovalen dan pentavalen. Vaksin
rotavirus dosis ke-1 diberikan umur 6-14 minggu, interval dosis ke-2, dosis ke-3 diberikan
pada umur kurang dari 7 bulan.
7. Vaksin Varisela. Vaksin varisela dapat diberikan setelah umur 12 bulan, namun terbaik
pada umur sebelum masuk sekolah dasar.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)


Menurut Komite Nasional Pengkajian dan Penaggulangan KIPI adalah semua kejadian
sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi. Pada keadaan tertentu
lama pengamatan KIPI dapat mencapai masa 42 hari misalnya arthritis kronik pasca vaksinasi
rubella atau bahkan 42 hari misalnya infeksi virus campak vaccine-strain pada pasien
imunodefisiensi pasca vaksinasi campak, dan polio paralitik.
Pada umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang atau
kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin.5 Reaksi simpang vaksin antara
lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping (side-effects), interaksi obat, intoleransi,
reaksi idoisinkrasi, dan reaksi alergi yang umumnya secara klinis sulit dibedakan. Efek
farmakologi, efek samping, serta reaksi idiosinkrasi umumnya terjadi karena potensi vaksin
sendiri, sedangkan reaksi alergi merupakan kepekaan seseorang terhadap unsure vaksin
dengan latar belakang genetik. Reaksi alergi dapat terjadi terhadap protein telur (vaksin
campak, gondong, influenza, dan demam kuning), antibiotik, bahan preservatif (neomisin,
merkuri), atau unsure lain yang terkandung dalam vaksin.
Kejadian yang bukan disebabkan efek langsung vaksin dapat terjadi karena kesalahan
teknik pembuatan, distribusi serta penyimpanan vaksin, kesalahan prosedur dan semata-mata
kejadian yang timbul secara kebetulan. Sesuai telaah laporan KIPI oleh Vaccine Safety
Committee, Institute of Medicine (IOM) USA menyatakan bahwa sebagian besar KIPI terjadi
karena kebetulan saja.6 Kejadian yang memang akibat imunisasi tersering adalah akibat
kesalahan prosedur dan teknik pelaksanaan.
Gejala Klinis KIPI
Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi
gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya.1 Pada umumnya makin
cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.

Reaksi KIPI Gejala KIPI


Lokal Abses pada tempat suntikan
Limfadenitis
Reaksi lokal lain yang berat,
misalnya selulitis
SSP Kelumpuhan akut
Ensefalitis
Meningitis
Kejang

Lain-lain Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis,


edema
Syok anafilaksis
Demam tinggi >38,5C
Osteomielitis
Menangis menjerit yang terus
menerus
Sindrom syok septic

KESIMPULAN

Imunisasi merupakan bagian yang penting dalam tahap kehidupan seorang anak
karena berfungsi sebagai pencegahan primer terhadap penyakit infeksi. Dalam imunisasi aktif
atau vaksinasi, sistem imunitas tubuh dirangsang untuk mengenali dan memproduksi antibodi
terhadap suatu bakteri atau virus penyebab penyakit tertentu sehingga tubuh memiliki
pertahanan yang lebih baik jika sewaktu-waktu terinfeksi. Oleh karena itu, sangat penting
bagi orang tua dan petugas kesehatan untuk memastikan seorang anak mendapatkan imunisasi
sesuai jadwalnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ranuh, Suyitno H, Hadinegoro. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi 5. Jakarta :


Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2014.

2. Abbas, Lichtman, Pillai, S. Basic Immunology: Functions and Disorders of Immune


System. 4th Edition. Philadelpia: Elsevier; 2014.

3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi IDAI 2014 [online]. Available from
http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014.html [Diunduh
pada 1 Januari 2016]

5. Depkes RI. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Depkes RI; 2005.

6. Hidayat. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2005.