Anda di halaman 1dari 25

JENIS JENIS TEMPAT SUCI

OLEH :

KELOMPOK II

1. NI WAYAN YUNITA ( 25 )
2. NI PUTU SULISTYAWATI K.D ( 19 )
3. NI PUTU SRI JULI ( 17 )
4. NI WAYAN PRINAYOGA ( )

SMA Negeri 1 Kintamani

2016
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Pujisyukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang


Widhi Wasa atas tuntunannya, karena makalah tentang JENIS
JENIS TEMPAT SCI AGAMA HINDU telah dapat diselesaikan
dalam bentuk sederhana tepat pada waktunya . Makalah ini disusun
sebagai tugas pendidikan Agama hindu

Tujuan penulisa makalahini memenuhi permitaan dan harapan


para umat se Dharma yang mengetetahui jenis tempat suci .

Berpangkal dari harapan dan tujuan tersebut akhirnya


dengan penuh semangat dan kami antarkan makalah sederhana ini
dengan ucapan terimakasih kepada para pembacanya , apabila ada
tegur sapa yang konstruktif atas kekurangan untuk
penyempurnaannya lebih lanjut.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa tetap asung kertha


wara nugraha memberikan tuntunannya kepada dharma bhakti
umatnya , yang selalu berusaha mendekatkan dirinya , guna
mendapatkan penerangan terhadap ajaran ajaranNy untuk
diamalkan kepaada yang memerlukan

Om Santih, Santih , Santih , Om


DAFTAR ISI

Kata pengantar.. ii

Daftar isi ii

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang masalah . 1


1.2 Rumusan masalah..1
1.3 Tujuan penulisan 2
1.4 Manfat penulisan . 2

BAB II KAJIAN TEORI/ PUSTAKA.. 3

BAB III METODE/CARA .4

BAB IV PENYAJIAN PEMBAHASAN 5

BAB V PENUTUP ..13

5.1 Kesimpulan ..13

5.2 Saran 13
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Setiap agama di dunia ini pasti mempunyai tempat suci


untuk beribadah .Banyak tempat beribadah di bangun untuk di
buat memuja Tuhan . Pura merupakan tempat suci bagi Agama
Hindu .Pada mulanya istilah Pura yang berasal dari kata
sanskerta itu. Sebelum dipergunakan kata pura untuk menamai
tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakanlah kata
Kahyangan atau Hyang . berarti kota atau benteng yang
sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang Widhi
Agama hindu memiliki konsep mengenai jenis - jenis
tempat suci yang bermacam macam yang melatarbelakangi
kami membuat makalah ini karena belum semua warga hindu
mengenal jenis jenis tempat suci yang baik dan benar agar
agama hindu mengetehui jenis jenis tempat suci .

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah dimaksud dengan tempat suci ?


2. Apkah nama tempat suci ?
3. Apa fungsi dari tempat suci ?
4. Sebutkan jenis jenis pura ?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan makalah ini memenuhi permitaan dan
harapan para umat se Dharma agar bisa mengetahui cara
membangun tempat suci maupun mengetahui pengertian tempat
suci , jenis jenis tempat suci dan fungsi tempat suci sesuai
dengan sastranya .

1.4 MANFAAT PENULISAN

Agar siswa dapat mempelajari tempat suci utamanya jenis


jenis tempat suci yang ada di dalam ajaran agama hindu dan
bermanfaat untuk pembaca (masyarakat ) yang membaca
makalah tentang jenis jenis tempat suci ini agar mereka dapat
memahami pengertian tempat suci , fungsi tempat suci , cara
mengetahui tempat suci dengan baik dan benar , dan jenis jenis
tempat suci yang dapat digunakan sebagai pemujaan tuhan dan
manifestasinya
BAB II

KAJIAN PUSTAKA / TEORI

Menurut buku GENITRI pendidikan agama hindu yang disusun


oleh Drs I MD Suparta Dkk, teempat suci bagi penganut agama yang
bersangkutan merupakan sarana / salah satu tempat / alat untuk
mengadakan hubungan kehadapan tuhan , ditempat sucilah umat
melakukan konsentrasi memuja kebesaran tuhan mengguna berbagai
macam bentuk tempat suci dengan cara caranya masing masing .
contohnya pura , pura adalah tempat suci untuk memuja Ida hyang
Widhi Wasa dan segala prabawhanya serta atma siddha dewata .
Tempat suci umat hindu selain disebut dengan nama pura , juga
disebut dengan nama kahyngan dan sanggah

Menurut materi yang kami dapatkan dari pasilitas internet


menyatakan bahwa setiap agama di dunia ini pasti mempunyai tempat
suci untuk beribadah di bangun untuk di buat memuja Tuhan . Pura
merupakan tempat suci bagi Umat Hindu .Pada mulanya istilah pura
yang berasal dari kata Sansekerta itu. Sebelum dipergunakan kata
Pura untuk menamani tempat suciatauntempat pemujaan
dipergunakanlahkata Kahyanganatau Hyang . berarti kota atau
benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat pemujaan Hyang
Widhi . Tempat tempat yang dianggap suci disebutkan pada bagian
awal dari tulisan ini ( Tantra Samuccaya I.1.28 ) , yakni di Tirtha atau
partirthan , di tepi sungai , tepi danau , tepi pantai , pertemuan dua
sungai atau lebih , di muarasungai , dipuncak puncak gunung atau
bukit bukit ,di lereng ; lereng pegunungan , dekat pertapaan , di desa
desa, di kota atau pusa-pusat kota dan di tempat tempat lain yang
dapat memberikan suasanabahagia .
BAB III

METODE /CARA

Sebelum kami membuat makalah ini , Guru pendidikan Agama


kami memaparkan panjang lebar mengenai metode / cara dan langkah-
langkah membuat makalah dengan baik dan benar , dan apa yang
sudah dipaparkan tersebut , salah satu kelompok kami mencatat
langka langkah untuk membuat makalah , dan pada tanggal 17 -19
maret kami memprateknya di sekolah .

Dan kami mencari materi dan beberapa sumber diantaranya yaitu:

1. Menggunakan pasilitas INTERNET


2. Buku pendidikan agama hindu GENITRI
3. Buku pendidikan Agama hindu DHARMIKA
4. Buku pendidikan Agama hindu WIDYA DHARMA
5. Dari proses perundingan kelompok
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Tempat Suci bagi Umat Hindu

Setiap agama di dunia ini pasti mempunyai tempat suci untuk beribadah.
Banyak tempat beribadah di bangun untuk di buat memuja Tuhan. Pura
merupakan tempat suci bagi Umat Hindu. Pada mulanya istilah Pura yang
berasal dari kata Sanskerta itu. Sebelum dipergunakan kata Pura untuk manamai
tempat suci atau tempat pemujaan dipergunakanlah kata Kahyangan atau
Hyang. berarti kota atau benteng yang sekarang berubah arti menjadi tempat
pemujaan Hyang Widhi
Tempat-tempat yang dianggap suci disebutkan pada bagian awal dari
tulisan ini (Tantra Samuccaya I.1.28), yakni di Trtha atau Patrthan, di tepi
sungai, tepi danau, tepi pantai, pertemuan dua sungai atau lebih, di muara
sungai, dipuncak-puncak gunung atau bukit-bukit, di lereng-lereng pegunungan,
dekat pertapaan, di desa-desa, di kota atau pusat-pusat kota dan di tempat-
tempat lain yang dapat memberikan suasana bahagia. Untuk itu banyak pura-
pura yang di bangun di tempat-tempat yang disebutkan itu sejatinya untuk
memperoleh ketenangan pada saat memuja Sang Hyang Widhi Wasa. Istilah
Pura pertama kali berasal dari masyarakat Hindu di Bali namun sekarang nama
Pura sudah di pakai untuk menamai tempat suci Umat Hindu secara nasional.
Konsepsi Pura sebagai tempat pemujaan untuk dewa manifestasi Hyang Widhi
di samping juga untuk pemujaan roh leluhur yang disebut Bhatara. Hal ini
memberikan salah satu pengertian bahwa Pura adalah simbul Gunung
(Mahameru) tempat pemujaan dewa dan bhatara.
2. Jenis jenis Tempat Suci Umat Hindu

1. Pura
Istilah pura berasal dari kata Pur yang artinya Kola, bening. Pura berarti
suatu tempat yang khusus dipakai untuk dunia kesucian. Sebelum Pura
diperkenalkan sebagai tempat suci atau tempat pemujaan, dipergunakan Hyang
atau Kahyangan untuk tempat pemujaan umat Hindu.

2. Candi
Candi berasal dari kata Candika Grha artinya Rumah Durga. Dan pengertian ini
akhirnya candi dijadikan tempat pemujaan untuk Dewi Durga. Di India candi
merupakan sarana pemujaan, dan merupakan simbol gunung Mahameru sebagai
tempat para Dewa. Maka itu, candi merupakan tempat pemujaan kepada dewa.
Nama lain candi adalah Prasada, Sudarma, Mandira. Menurut Dr. Sukmono
mengatakan bahwa fungsi candi seperti:
a. Candi berfungsi sebagai tempat pemujaan, seperti Candi Dieng, Candi
Prambanan, Candi Penataran.
b. Candi berfungsi sebagai pemujaan roh suci, seperti Candi Kidak, Candi
Jago, Candi Singosari, Candi Simpino, Candi Jaui.
c. Candi berfungsi sebagai tempat semedi, seperti Candi Borobudur, Candi
Pauon, Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Sari.
3. Kuil atau Mandir
Kuil (Mandir) adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil.
Fungsi Kuil adalah tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Dewa) yang
dikagumi.

4. Balai Antang
Balai Antang adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini
dibuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya mirip dengan pelangkiran
di Bali. Fungsi Balai Antang adalah sebagai tempat menstanakan roh leluhur
yang sudah di sucikan yang bersifat sementara.

5. Balai Kaharingan
Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk
hampir mirip bangunan rumah, dan di ruangan diletakkan sebuah tiang yang
besar sebagai penyangga. Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil.
Fungsi Balai Kaharingan adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan
berbagai manifestasinya. Balai Kaharingan dibangun ditengah-tengah wilayah
masyarakat atau pada tempat yang mudah dijangkau oleh umat Hindu
Kaharingan untuk melaksanakan persembahyangan.

6. Sandung
Sandung adalah tempat suci umat Hindu Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu
dirangkai berbentuk pelinggih rong satu, bentuk atapnya segi tiga sama kaki dan
memakai satu tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah atau
dipekarangan. Fungsi Sandung adalah sebagai Stana roh leluhur yang telah
disucikan.

7. Inan Kapemalaran Pak Buaran


Adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja, dengan ciri-cirinya terdapat
Lingga/batu besar, Pohon Cendana dan Pohon Andong. Pak Buaran merupakan
tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu Desa (di Bali sama
dengan Pura Desa).

8. Inan Kapemalaran Pedatuan


Adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja. dengan ciri-cirinya, terdapat
lingga / batu besar. pohon cendana dan pohon andong. Pedatun ini merupakan
tempat sembahyangyang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (di
Bali = Banjar). Pedatuan ini biasanya terleiak dilereng Gunung.
9. Inan Kapemalaran Pak Pesungan
Adalah tempat sembahyang bagi umat Hindu di Tanah Toraja, yang digunakan
dalam lingkungan rumah tangga (di Bali = merajan).

10. Sanggar
Adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa.
Sanggar ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan
satu buah Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.

11. Pajuh-Pajuhan
Pajuh-pajuhan adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Pajuh-
pajuhan terbuat dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat. Pajuh-pajuhan
biasanya dibangun dekat mata air dan sifatnya umum yaitu tempat sembahyang
secara umum. Fungsinya adalah stana roh leluhur yang telah disucikan.

12. Cubal cubalan


Adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo Cubal-Cubalan bentuknya
sejenis pelangkiran yang diletakkan didalam rumah yang Tujuannya untuk
melakukan persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan
Hyang Widhi.
2.3 Bentuk bentuk Tempat Suci Umat Hindu

1. Prasada
Bentuknya serupa tugu, terdiri dari tiga bagian yaitu Dasar. Badan dan Atap.
Atap atau kepalanya memakai gelung mahkota segi empat bertingkat semakin
keatas semakin kecil. Denah bangunan bujur sangkar, tinggi bangunannya dapat
berkisar setinggi Tugu sampai sekitar 10 meter. Bahan bangunannya dipakai
batu alam, batu padas, batu karang dan batu-batu merah. Fungsi Prasada adalah
sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi. Bangunan prasada dapat kita saksikan
di Pura Prasada desa Kapal kabupaten Badung, Candi Margarana, Pura Maos
Pahit Desa Tatasan Badung.

2. Meru
Pada umumnya atapnya adalah dari ijuk, bagian dasar pada umumnya terbuat
dari batu alam dan badan Meru terbuat dari bahan kayu, kecuali beberapa Meru
di Pura Besakih di Kabupaten Karangasem bahwa badan meru terbuat dari batu
cadas dan ukurannya lebih besar dari pada badan Meru yang terbuat dari kayu.
Fungsi Meru adalah tempat memuja Hyang Widhi dengan segala
manifestasinya.

3. Gedong
Gedong juga merupakan salah satu bangunan Tempat suci Hindu di Bah.
Bentuk Gedong pada umumnya bujur sangkar atau segi empat. Bangunan ini
terdiri dari tiga bagian yaitu : dasar, badan, dan puncak atau atap. Bagian dasar
pada umumnya terbuat dari batu bata atau padas diisi ukiran yang didukung
oleh seekor empas (kura-kura) dengan dibelit oleh seekor naga. Bagian badan
ada yang terbuat dari batu bata atau batu padas tetapi ada juga yang terbuat dari
kayu. Bagian badan dilengkapi dengan relief atau ukiran para dewa. Bagian atas
selalu terbuat dari konstruksi kayu, atapnya terbuat dari alang-alang dan bisa
juga ijuk dan genteng.

4. Rong tiga
Bentuk bangunan Rong Tiga pada umumnya sama dengan bangunan gedong
yakni empat persegi panjang. Bangunan ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian
dasar dibuat dari batu padas, disusun sesuai dengan bentuk bangunan.
Bagian badan, letaknya agak ke atas, terbuat dari kayu dengan tiga ruangan
menghadap kedepan. Bagian atas terbuat dari konstruksi kayu dengan atap
alang-alang ijuk dan bisa juga genteng. Rong Tiga merupakan salah satu bagian
bangunan merajan (tempat pemujaan keluarga). Fungsi rong tiga adalah tempat
untuk memuja Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Tri Murti dan Roh
Leluhur yang sudah disucikan.
5. Tugu
Bentuk bangunan tugu hampir sama dengan bangunan prasada cuma ukurannya
lebih kecil dan fungsinya juga berbeda. Fungsi Tugu adalah untuk tempat
bersemayamnya para Bhuta agar tidak mengganggu aktifitas manusia pada saat
malaksanakan upacara suci. Bangunan tugu di letakkan di halaman luar Pura.
Tidak seperti bangunan Padmasana, Gedong dan Meru yang terletak pada
bagian halaman utama Pura.

6. Padmasana
Istilah Padmasana banyak kita jumpai dalam mantram-mantram untuk
menstanakan Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Di Jawa bentuk Padmasana
digambarkan dengan bentuk bunga teratai sebagai simbol stana Hyang Widhi,
sedangkan di Bali Padmasana diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta pada
abad ke 16 masehi. Jenis-jenis Padmasana dikalangan umat Hindu banyak yang
tidak dapat membedakan yang mana disebut Padmasana, Padmasari, Padma
Capah maupun Padma Kurung. Menurut lontar Catur Winasari disebutkan
bermacam-macam Padmasana berdasarkan atas arah. rong (ruang). pepalihan
(tingkatan).
a. Berdasarkan arah (pengider-ideran)
1. Padma Kencana di timur menghadap ke barat adalah stana Hyang Iswara.
2. Padmasana di selatan menghadap ke utara adalah stana Dewa Brahma.
3. Padmasana sari bertempat di barat menghadap ke timur stana Dewa
Maheswara.
4. Padmasana Lingga di Utara menghadap ke selatan adalah stana Dewa Wisnu.
5. Padma Saji di timur laut manghadap ke barat daya adalah stana Dewa
Sambhu.
6. Padma Asia Sedana bertempat di tenggara menghadap ke barat laut adalah
stana Dewa Mahesora.
7. Padmanoja di Barat Daya menghadap ke timur laut adalah stana Dewa
Mahadewa.
8. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Sangkara.
9. Padma Kurang di Tengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah stana
Trimurti.

b. Berdasarkan ruang dan tingkatannya dapat dibedakan, menjadi :


1. Padmasana Anglayang, beruang tiga mempergunakan Badawang Nala dengan
Palih Tujuh.
2. Padma Agung, beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan
Palih Lima.
3. Padmasana, beruang satu mempergunakan Bedawang Nala dengan Palih
Lima.
4. Padmasari, bangunan padmasari menyerupai Padmasana.
Perbedaannya adalah sebagai berikut:
Bangunan padmasana menggunakan dasar Bedawang Nala yang dililit oleh
naga sedangkan Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga.
Padmasari beruang satu dengan Pali Tiga yaitu Pali Taman (bawah), Palih
Sancak (tengah) dan Palihsari (atas).
5. Padma Capah, bangunan ini mirip Padmasari tetapi lebih rendah, tidak
memakai Palih (tingkatan) biasanya tidak lebih tinggi dari mata manusia berdiri.
Padma Capah adalah beruang satu dengan Palih Dua yaitu Pali Taman (bawah)
dan Palih Capah (atas) tidak mempergunakan Bedawang Nala. Padma Capah
adalah stana makhluk alus atau makhluk yang derajatnya lebih rendah dari
manusia.

Pura Teritorial

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah ( teritorial) sebagai tempat pemujaan
dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh
kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut.Wilayah banjar sebagai
kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura
tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura
disebut Kahyangan Tiga yaitu : Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem yang
merupakan tempat pemujaan bersama.Dengan perkataan lain, bahwa
Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat
bersangkutan. Nama nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada
beberapa desa di Bali, Pura desa sering juga disebut Pura Bale Agung. Pura
Puseh ada juga disebut Pura Segara, bahkan Pura Puseh Desa Besakih disebut
Pura Banua.

Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun Pura Dalem yang merupakan
unsur Kahyangan Tiga adalah Pura Dalem yang memiliki Setra ( Kuburan). Di
samping itu banyak juga terdapat Pura yang disebut Dalem juga tetapi bukan
unsur Kahyangan Tiga seperti : Pura Dalem Mas Pahit, Pura Dalem Canggu,
Pura Dalem Gagelang dan sebagainya (PanitiaPemugaran Tempat- tempat
berseiarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru
terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Dalem yang tidak merepunyai
hubungan dengan Pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai
hubungan dengan Pura Watukaru. Masih banyak ada Pura Dalem yang tidak
mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti Pura Dalem Puri
mempunyai hubungan dengan Pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai
hubungan dengan Pura Luhur Uluwatu.
Jenis Pura

Terdapat beberapa jenis pura yang berfungsi khusus untuk menggelar beberapa
ritual keagamaan Hindu dharma, sesuai penanggalan Bali.

1. Pura Kahyangan Jagad: pura yang terletak di daerah pegunungan.


Dibangun di lereng gunung, pura ini sesuai dengan kepercayaan Hindu
Bali yang memuliakan tempat yang tinggi sebagai tempat
bersemayamnya para dewa dan hyang.
2. Pura Segara: pura yang terletak di tepi laut. Pura ini penting untuk
menggelar ritual khusus seperti upacara Melasti.
3. Pura Desa: pura yang terletak dalam kawasan desa atau perkotaan,
berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat Hindu dharma
di Bali.

Sad Kahyangan

Sad Kahyangan atau Sad Kahyangan Jagad, adalah enam pura utama yang
menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali.
Masyarakat Bali pada umumnya menganggap pura-pura berikut sebagai Sad
Kahyangan:

1. Pura Besakih di Kabupaten Karangasem.


2. Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
3. Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung.
4. Pura Uluwatu di Kabupaten Badung.
5. Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
6. Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik) di Kabupaten Gianyar.

Selain pura-pura Sad Kahyangan tersebut di atas, masih banyak pura-pura di


lainnya di berbagai tempat di pulau Bali, sesuai salah satu julukannya Pulau
Seribu Pura.

Pura Besakih adalah komplek pura utama di Pulau Bali, dan merupakan pusat
kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih terletak di Desa
Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia.a

Salah-satu pura terkenal lainnya adalah Pura Tanah Lot di Desa Beraban,
Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Di Tanah Lot terdapat dua buah pura
yang terletak di atas tebing batu besar, yang merupakan tempat pemujaan dewa-
dewa penjaga laut.
HINDUALUKTA-- Bicara mengenai Pura maka pikiran kita terfokus pada
Bali, dimana terdapat ribuan pura dengan berbagai jenis. Bali terkenal
dengan sebutan Pulau Seribu Pura. Banyaknya Pura ini bukan berarti
Umat Hindu menyembah banyak Tuhan, tetapi karena manifestasinya.
Dari berbagai Pura yang ada bisa dikelompokan dalam 2 golongan
besar yaitu berdasarkan fungsi dan karakternya.

Berdasarkan fungsi, Pura dikelompokan menjadi:

1. Pura Jagat yaitu Pura yang berfungsi sebagai tempat suci untuk
memuja Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya. Contoh
Pura Kahyangan Tiga dan Pura Kahyangan Jagat.
2. Pura Kawitan, yaitu Pura yang berfungsi sebagai tepat suci untuk
memuja Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Contoh Pura Paibon,
Pura Dadia, Pura Padharman.

Berdasarkan karakternya Pura dibedakan menjadi 4 yaitu:


1. Pura Kawitan, untuk membina kerukunan famili.
2. Pura Kahyangan Desa, untuk membina kerukunan umat secara
teritorial.
3. Pura Swagina, membina kerukunan umat berdasarkan profesi.
4. Pura Kahyangan Jagat, membina kerukunan secara universal.

Pura Kawitan
Pura Kawitan adalah Pura yang penyiwinya (masyarakat pemujanya)
ditentukan oleh ikatan wit atau leluhur berdasarkan kelahiran.
Pembangunan Pura ini untuk membina kerukunan keluarga, dari
keluarga inti sampai tingkat klan.

Yang termasuk dalam kelompok Pura Kawitan adalah


Sanggah / Merajan
Pretiwi
Ibu
Panti
Dadia
Batur
Penataran Dadia
Dalam Dadia
Pura Padharman

Pura Kahyangan Desa


Pura ini merupakan tempat pemujaan bersama umat yang berada dalam
satu desa pakraman. Contoh:

1. Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Puseh, dan Dalem).


2. Pura Penataran.
3. Pura lain sesuai dengan sejarah desa pakraman bersangkutan.

Tiap-tiap jenis Pura ini mempunyai simbol untuk pemujaan pada


manifestasi Tuhan sebagi berikut:

Pura Puseh Linggih Dewa Wisnu


Pura Dalem Linggih Dewa Siwa
Pura Prajapati Linggih Dewi Durga Pura Desa Bale Agung Linggih
Dewa Brahma

Pura Swagina (Pura fungsional)


Pura ini dibangun sesuai dengan kesamaan profesi, untuk membina
kerukunan profesional. Misalnya Pura Melanting, dibangun untuk para
pedagang; dibangun di hulu atau tengah pasar, untuk pemujaan Tuhan
sebagai Dewi Laksmi. Pura Subak untuk pemujaan para petani, untuk
memajukan fungsi pertanian dan memakmurkan masyarakat.

Pura Ulun Danu subak penggarap sawah


Pura Alas Arum subak penggarap ladang
Pura Melanting pedagang
Pura Segara nelayan

Pura Kahyangan Jagat


Sebagai pemujaan Tuhan dengan segala manifestasinya, dan untuk
membina kerukunan yang universal. Pura di Bali berdasarkan mata
anginnya dapat dikelompokkan dalam Padma Bhuana yaitu

Pura Besakih timur laut


Pura Lempuyang timur
Pura Andakasa selatan
Pura Gua Lawah tenggara
Pura Uluwatu barat daya Pura
Batukaru barat
Pura Puncak Mangu barat laut
Pura Batur utara
Pura Pusaring Jagat tengah

Selain berdasarkan fungsi dan karakteristiknya, ada Pura yang


fungsinya untuk memuja Atma Sidha Dewata (roh suci leluhur).

TEMPAT SUCI
PURA UMUM

Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan


Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa ).Pura
yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu,
sehingga sering disebut Kahyangan Jagat . Pura pura yang
tergolong mempunyai ciri ciri tersebut adalah pura
Besakih, Pura Batur, Pura Caturlokapala dan Pura
Sadkahyangan, Pura Jagat Natha, Pura Kahyangan
Tunggal.

PURA FUNGSIONAL

Pura ini mempunyai karakter fungsional karena umat


penyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan seperti:
mempunyai profesi yang sama dalam sistem mata
pencaharian hidup seperti: bertani, berdagang, nelayan.
Contohnya Pura Subak.
PURA TERETORIAL

Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah sebagai


tempat pemujaan
suatu desa adat.
Ciri khas suatu
desa adat pada
dasarnya
memiliki tiga
buah pura yang
disebut
Kahyangan Tiga
yaitu Pura Desa,
Pura Puseh, Pura
Dalem

PURA KAWITAN

Memuja leluhur, dan ikatan keluarga. Contoh pura Pasek,


sanggah
jenis pura di bali

Pura di Bali

Bali terkenal dengan keindahan alam, buadaya dan hasil karya seni yang
menarik, sehingga Bali yang dengan mayoritas agama Hindu memiliki buadaya
yang religius, sehingga dikenal juga dengan Pulau Seribu Pura. Setiap
penduduk di Bali, yang beragama Hindu, rumahnya sudah pasti ada satu pura
keluarga, pura yang dikategorikan memiliki ruang lingkup paling kecil dalam
sebuah keluarga. Pura ini di sebut Pura/ sanggah merajan. Aset yang dimiliki
Bali ini cukup membuat para pelancong yang wisata di Bali.
Dari karakternya ada 4 jenis pura, yaitu:

Pura Kawitan: Pura ini sudah bersifat spesifik di mana para pemujanya
ditentukan oleh asal usul keturunan atau wit dari orang tersebut, ini akan diikuti
secara turun temurun oleh generasi berikutnya, lokasi pura biasanya disuatu
tempat yang berdekatan dengan kumpulan keluarga dari orang-orang tersebut.
Bisa dilihat dari golongan/kasta/warna dari pemujanya Termasuk ke dalam
kategori ini adalah; Sanggah-Pemerajan, Pratiwi, Paibon, Panti, Dadia atau
Dalem Dadia, Penataran Dadia, Pedharman dan sejenisnya.

Pura Swagina: Dari namanya Gina yang artinya pekerjaan, dikelompokkan


berdasarkan fungsinya sehingga sering disebut pura fungsional. Pemuja dari
pura-pura ini disatukan oleh kesamaan di dalam kekaryaan atau di dalam mata
pencaharian seperti; untuk para pedagang adalah Pura Melanting, para petani
dengan Pura Subak, Pura Ulunsuwi, Pura Bedugul, dan Pura Uluncarik, pura
yang dibangun di sebuah tempat usaha, baik itu hotel, pabrik , perkantoran
pemerintah maupun swasta.

Pura Kahyangan Desa: Di Bali ada desa yang disebut Desa Pekraman, desa-
desa yang dibagi berdasarkan adat, dan mempunya tanggung jawab dan
keterikatan oleh Adat. Di Desa ini akan di bangu pura yang namanya
Kahyangan Tiga, yaitu tiga buah pura yang melingkupi desa ialah Pura Desa
atau Bale Agung sebagai tempat pemujaan Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai
pencipta yaitu Brahma, Pura Puseh sebagai tempat pemujaan Tuhan dalan
manifestasi-Nya sebagai pemelihara yaitu Wisnu dan Pura Dalem sebagai
tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai pelebur yaitu iwa.

Pura Kahyangan Jagat dan Pura Dang Kahyangan: Pura Kahyangan jagat
tergolong pura untuk umum, dan di puja oleh seluruh umat Hindhu yang ada di
Indonesia. Pura ini sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widi Wasa
Tuhan Yang Maha Esa dalam segala prabhawa-Nya atau manifestasi-Nya.
Sedangkan Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa
pandita (guru suci). Pura Dang Kahyangan dikelompokkan berdasarkan sejarah.
Di mana, pura yang dikenal sebagai tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali,
dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat, seperti Pura
Besakih, Pura Goalawah, Pura Andakasa, Pura Rambut Siwi, Pura Silaukti,
Pura Lempuyang dan banyak lagi yang lainnya. Dan karena latar belakang
sejarah, pura ini sering dijadikan tujuan objek wisata di Bali.
Bagi wisatawan yang ingin berwisata, mengunjungi pura/ masuk ke areal pura
yang ada di Bali, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: bagi wanita yang
lagi datang bulan tidak diperbolehkan masuk ke areal pura, wajib menggunakan
sarung dan selendang, tidak melakukan hal asusila di areal pura, tidak berkata-
kata kotor, mendahulukan/ memprioritaskan orang yang lagi sembahyang.
Berikut beberapa informasi mengenai Pura-pura yang ada di Bali:

Pura Segara Rupek


Bali yang selain memiliki objek wisata yang indah seperti dengan pantainya,
wisata alam pegunungannya juga sebagai Pulau seribu pura. Salah satunya Pura
Segara Rupek, terletak di ujung Barat Pulau Bali, tepatnya di desa
Sumberklampok, Kecamatan Grokgak, Buleleng. Jika anda ke lokasi lewat
darat, dengan kendaraan bermotor atau mobil

Pura Pulaki
Pura Pulaki lokasinya di desa Banyupoh, kecamatan Grokgak, kabupaten
Buleleng sekitar 53 kilometer arah Barat kota Singaraja, terletak di bukit karang
yang bertebing batu curam yang langsung menghadap ke laut, dengan
pemandangan alam yang indah ini, pemedek atau umat Hindhu yang melakukan
persembahyangan pasti akan merasa takjub.

Pura Andakasa
Pura Luhur Andakasa merupakan salah satu Pura Kahyangan jagat di Bali,
terletak di ketinggian 200 meter dari permukaan laut di banjar Pekel, desa
Gegelang, Kecamatan Manggis, Karangasem, sekitar 60 km dari Denpasar, 20
km dari Klungkung atau sekitar 15 km ke arah Timur objek wisata Pura Goa
Lawah, tepat di persimpangan menuju pelabuhan Padang bay, san satu-satunya
rambu lalu lintas (traffic light) belok kiri.

Pura Kehen
Bali memang memiliki ribuan pura, seperti Pura Kehen yang unik, pintu masuk
pura menggunakan Candi Kurung tidak seperti pura kahyangan jagat yang lain
yang menggunakan candi bentar, hal unik lainnya Bale Kulkul ditempatkan di

atas pohon beringin yang sudah berusia ratusan tahun, menurut cerita warga jika
ada salah satu ranting beringin yang patah akan terjadi musibah.
Pura Silayukti
Pura Silayukti adalah Pura Dang Kahyangan sebagai penghormatan kepada
Guru Suci bagi umat Hindu di Bali yaitu Mpu Kuturan. Mpu Kuturan tokoh
spiritual Hindu di abad ke-11 Masehi, beliau adalah salah seorang tokoh yang
berbuat dengan landasan niskama karma. Artinya, berbuat tanpa pamerih akan
hasilnya. Pura terletak di Desa Padangbai.

Pura Luhur Batukaru


Pura Luhur Batukaru termasuk salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali, terletak
di desa Wongaya Gede, kecamatan Penebel, kabupaten Tabanan. Sudah
merupakan suatu ciri, tempat suci agama hindhu terletak ditempat-tempat di
areal pegunungan ataupun pantai yang jauh dari keramaian, begitu juga
keberadaan Pura Luhur Batukaru.

Pura Pusering Jagat


Menurut lontar Kusumadewa, Salah satu Pura Sad kahyangan di Bali adalah
Pura Pusering jagat yang terletak di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring,
kabupaten Gianyar, lima pura lainnya adalah Pura Watukaru, Pura Besakih
(Pura Gunung Agung), Pura Lempuyang, Pura Goalawah dan Pura Uluwatu.
BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN

Daru uraian di atas kelompok kami dapat menyimpulkan bahwa agama


hindu memiliki berbagai jenis jenis tempat suci , ditinjau dari ajaran falsafat
agama hindu mengenai tempat yang di pakai untu memuja Ida Sang Hyang
Widhi Wasa beserta manifestasinnya adalah menggunakan tempat suci
diantaranya yaitu : pura umum , pura territorial dll .

5.1. SARAN

Kami sangat menyadari dalam pemaparan ini banyak kekurangan


kekurangannya , terlebih lebih adanya berbedaan penapsiran dari berbagai
sumber , oleh karenanya kami sangat mengharapkan saran dari berbagai pihak
demi kesempurnaan makalah ini .

Walaupun demikian besar pula harapan kami semoga apa yang dapat
kami sajikan dan paparkan ada manfaatnya serta mohon maaf yang setulus
tulusnya apabila ada yang tidak berkenan dalam hati pembaca.