Anda di halaman 1dari 22

RESUME ILMU NEGARA

DISUSUN OLEH :

I MADE SUHANTARA
1510115096/ 1 D

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PANCA BHAKTI
2015
BAB II

PENGERTIAN ILMU NEGARA

Istilah Ilmu Negara berasal dari bahasa Belanda, Staatsleer yang diambil dari istilah bahasa
Jerman Staatslehre. Dalam bahasa Inggris disebut The General Theory of State atau Political
Theory. Istilah Ilmu Negara pertama kali diperkenalkan oleh George Jellinek yang disebut
sebagai Bapak Ilmu Negara. George Jellinek memandang ilmu negara sebagai suatu keseluruhan
dan membaginya ke dalam bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain. Menurut
Kranenburg, Ilmu Negara adalah ilmu tentang negara, dimana diadakan penyelidikan tentang
sifat hakekat, struktur, bentuk, asal mula, ciri-ciri serta seluruh persoalan di sekitar negara.
Selanjutnya, Kranenburg berpendapat bahwa Ilmu Negara merupakan cabang penyelidikan
ilmiah yang masih muda walaupun menurut sifat dan hakekatnya merupakan cabang ilmu
pengetahuan yang tua karena sebenarnya Ilmu Negara sudah dikenal sebagai suatu ilmu
pengetahuan sejak zaman Yunani Kuno.
Ilmu negara adalah ilmu yang menyelidiki pengertian-pengertian pokok dan sendi-sendi pokok
dari negara dan hukum negara pada umumnya. Pengertian menitik beratkan pada suatu
pengetahuan, sedangkan sendi menitik beratkan pada suatu asas atau kebenaran.
Ilmu negara mempelajari negara secara umum, mengenai asal-usulnya, wujudnya, lenyapnya,
perkembangannya dan jenis-jenisnya.

OBYEK ILMU NEGARA


Menurut Kranenburg, obyek penyelidikan Ilmu Negara adalah dimana dalam ilmu negara
diselidiki asal mula, sifat, hakekat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan negara. Ilmu Negara
menitikberatkan penyelidikannya kepada pengertian negara secara umum.
Obyek penyelidikan ilmu negara adalah negara secara umum, sehingga ia sering disebut sebagai
ilmu negara umum.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup serta obyek penyelidikan Ilmu Negara adalah
negara dalam pengertian abstrak, terlepas dari waktu dan tempat, bukan suatu negara tertentu
yang secara positif ada pada suatu waktu dan tempat tertentu. Ilmu Negara menyelidiki
pengertian-pengertian pokok (grondbegrippen) dan sendi-sendi pokok (grondbeginselen) dari
negara yang berlaku untuk dan terdapat pada setiap negara.
BAB III

TEORI-TEORI TENTANG ASAL MULA NEGARA

A. Jaman Yunani Kuno


1. Socrates
Pencetus ajaran demokratis. Menurutnya Negara bukanlah suatu keharusan yang bersifat
obyektif, yang asal mulanya dari pekerti manusia. Tugas Negara adalah menciptakan hukum
yang dilakukan oleh para pemimpin atau penguasa yang dipilih oleh rakyat. Maka tersimpul
pemikiran yang demokratis.
2. Plato (429 SM 347 SM)
Pencetus ajaran idealisme. Menurutnya tujuan Negara adalah mengetahui, mencapai atau
mengenal ide yang sesungguhnya, sedang yang dapat mengetahui atau mencapai ide adalah ahli
filsafat saja. Maka pemerintahan sebaiknya dipegang oleh ahli filsafat.
3. Aristoteles (348 SM 322 SM)
Pencetus ajaran realisme. Menurutnya Negara merupakan suatu kesatuan yang tujuannya
mencapai kebaikan yang tertinggi.
4. Epicurus (342 SM 271 SM)
Pencetus ajaran individualisme. Menurutnya Negara adalah hasil daripada perbuatan manusia
yang diciptakan untuk menyelenggarakan kepentingan angota-angotanya.
5. Zeno
Pencetus ajaran universalisme.

B. Jaman Romawi Kuno


1. Polybius
Penemu ajaran cyclus theory (perubahan bentuk bentuk Negara) menurutnya bentuk negara ada
enam bentuk, yaitu : monarki, tyranny, aristokrasi, oligarki, demokrasi dan okhlorasi
2. Cicero
Menurutnya Negara adalah suatu keharusan dan harus di dasarkan atas rasio manusia.
Menurutnya hukum yang baik adalah hukum yang di dasarkan atas rasio yang murni dan karena
itu hukum positif harus berdasarkan dalil dalil hukum alam kodrat.
3. Seneca
Pernah menjadi guru kasisar Nero. Cara berpikirnya mengenai Negara dan hukum dipengaruhi
kaum Stoa.
C. Jaman Abad Pertengahan
1. Augustinus (354 M 430 M)
Ajarannya bersifat theokratis, menurutnya kedudukan gereja yang dipimpin paus lebih tinggi
daripada kedudukan Negara yang dipimpin oleh seorang raja.
2. Thomas Aquinas (1225 M 1274 M)
Filsafatnya bersifat finalistis, artinya bahwa apa yang menjadi tujuannya itu dikemukakan
terlebih dahulu, baru kemudian harus diusahakan supaya tujuan itu dapat tercapai.
3. Marsilius Van Padua (1270 M 1340 M)
Filsafatnya bersifat nominalis. Menurutnya Negara itu dianggap sebagai kekuasaan sedunia,
diganti oleh Negara sebagai pusat kekuasaan yang tetap, yang berdiri sendiri, yang terlepas
hubungan dari suatu kekuasaan yang lebih tinggi, seperti gereja.

D. Jaman Renaissance
1. Niccolo Machiavelli (1469 M 1527 M)
Menurutnya tujuan Negara adalah mengusahakan terselengaranya ketertiban, keamanan dan
ketrentaman. Ajarannya kebanyakan berupa ilmu kenegaraan praktis (hukum tatanegara)
daripada teori tentang Negara dan hukum ( ilmu Negara)
2. Thomas Morus (1478 M 1535 M)
Pengarang buku De optimo rei publicae statu deque nova insula Utopia tentang susunan
pemerintahan yang paling baik dan tentang pulau yang tidak dikenal. Yang tidak lain adalah
kritikan yang tajam terhadap ketidakadilan di Inggris pada waktu itu.
3. Jean Bodin (1530 M 1596 M)
Menurutnya Negara adalah keseluruhan dari keluarga-keluarga dengan segala miliknya, yang
dipimpin oleh akal dari seorang penguasa yang berdaulat.

E. Kaum Monarkomaken
1. Hotman
Menerbitkan buku karangan bernama Pranco Gallia pada tahun 1573. Dasar yang digunakan
adalah untuk menentang absolutism bukanlah dasar-dasar ajaran agama melainkan dasar-dasar
ajaran sejarah.
2. Brutus
Pengarang buku Vindiciae contra Tyrannos (alat-alat hukum melawan tyrani) merupakan salah
satu tinjauan yang prinsipiel tentang perlawan terhadap raja-raja yang mempunyai kekuasaan
absolute.
3. Buchaman
Pengarang buku De Jure regni apud Scotos (tentang kekuasaan raja bangsa Scot).
4. Mariana
Pengarang buku De Rege ac Regis Institutione (tentang hal raja dan kedudukannya) yang
ditujukan untuk raja Philip III di Spanyol.
5. Bellarmin
Pengarang buku Disputationes yang mengajarkan bahwa Paus tidak mempunyai kekuasaan di
lapangan keduniawian. Dan Tractuatus de Potestate Summi Pontivicius in Rebus Temporalibus
tentang kekuasaan Paus dalam lapangan keduniawian.
6. Suarez
Pengarang buku Tractacus de Ligibus ac Deo Legislatore (uraian tentang undang-undang dan
Tuhan, pembentuk undang-undang). Berpendapat bahwa suatu Negara tidak dapat berdiri sendiri
tanpa mengadakan hubungan dengan Negara lain.
7. Milton
Seorang penyair termasyhur. Ketika hidupnya ia mengalami masa pembunuhan raja Charlie I.
dank arena pembelaannya ia menjadi terkenal.
8. Althusius
Pengarang buku Politica methodice Digesta. Menurutnya Negara merupakan suatu kesatuan
keluarga dalam bentuk yang tertinggi dan mempunyai tujuan beraneka macam, dengan secara
berangsur-angsur kesatuan itu berkembang dan akhirnya mencapai bentuknya sebagai Negara.
Jadi ajarannya bersifat Organistis.

F. Jaman Berkembangnya Teori Hukum Alam


1. Teori Hukum Alam Abad ke XVII
a. Grotius (1583-1645 M)
Pencipta hukum alam modern. Menurutnya hukum alam adalah segala ketentuan yang benar dan
baik menurut rasio dan tidak mungkin salah, lagi pula adil.
b. Thomas Hobbes (1588-1679 M)
Menurutnya tujuan hidup, yaitu kebahagiaan itu hanya dapat dicapai dengang cara berlomba,
dengan gerak. Adapun alat untuk mencapai kebahagiaan adalah kekuasaan, kekayaan dan nama
baik.
c. Benedictuz de Spinoza (1632-1677 M)
Tugas Negara menurutnya adalah menyelenggarakan perdamaian, ketentraman dan
menghilangkan ketakutan. Menurunya Negara aristokrasi yang dipimpin oleh beberapa orang
lebih kokoh dan kuat daripada monarki yang hanya dipimpin oleh seorang raja.
d. John Locke (1632-1704 M)
Menurutnya hukum alam adalah tetap mempunyai dasar rasional dari perjanjian masyarakat yang
timbul dari hak-hak manusia dalam keadaan alamiah, tetapi cara berpikir yang bersifat logis
deduktif matematis telah dilepaskan dan diganti dengan suatu cara berpikir yang realistis.
2. Teori Hukum Alam Abad ke XVIII
a. Frederik Yang Agung (1712-1786 M)
Ajarannya menantang dan membantah ajaran Niccolo Machiavelli yang ditulis dalam bukunya
yang berjudul Antimachiavelli.
b. Montesquieu (1688-1755 M)
Ajarannya bersifat empiris-realistis. Menurutnya kekuasaan Negara dibagi menjadi tiga yaitu :
legislatif, eksekutif, judikatif. Yang terkenal dengan trias politica.
c. J.J. Rousseau (1712-1778 M)
Menurutnya raja itu berkuasa hanya sebagai wakil daripada rakyat, dan menjalankan kekuasaan
itu atas nama rakyat. Maka setiap waktu raja dapat diganti atau digeser apabila raja tidak
melaksanakan kemauan rakyat atau kemauan umum tadi.
d. Immanuel Kant (1724-1840 M)
Seorang nasionalis. Ajaran filsafatnya bersifat kritis di mana ia menguraikan ajarannya tentang
Negara dan Hukum. Menurutnya Negara adalah suatu keharusan adanya karena Negara harus
menjamin terlaksananya kepentingan umum di dalam keadaan hukum.

G. Jaman Berkembangnya Teori Kekuatan


1. F. Oppenheimer
Mengatakan bahwa Negara merupakan suatu alat dari golongan yang kuat untuk melaksanakan
suatu tertib masyarakat dan dilakukan oleh golongan yang lemah.
2. Karl Marx
Menurutnya Negara adalah suatu alat pemaksa atau dwang organizatie untuk melaksanakan dan
melangsungkan suatu jenis system produksi yang stabil dan pelaksanaan sistem produksi semata-
mata menguntungkan golongan yang kuat.
3. H.J. Laski
Menurutnya Negara merupakan penjelmaan daripada pertentangan-pertentangan kekuatan
ekonomi. Digunakan mereka yang berekonomi kuat untuk menindas ekonomi lemah.
H. Teori Positivisme
1. Hans Kelsen
Menyatakan bahwa tak usah mempersoalkan asal mula Negara, sifat serta hakekat Negara dan
sebagainya, karena kita tidak mengalaminya sendiri.
I. Teori Modern
1. Prof. Mr.R. Kranenburg
Menurutnya Negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekeompok manusia
yang disebut bangsa.
2. Prof. Dr.J. H. A. Logemann
Menurutnya Negara adalah suatu organisasi kekuasaan yang meliputi atau menyatukan
kelompok manusia yang kemudian disebut bangsa.
BAB IV

TEORI-TEORI TENTANG HAKEKAT NEGARA

Teori sifat hakekat negara berfungsi untuk mengetahui dan memahami apa sebenarnya suatu
negara itu. Dari sisi sosiologis, maksud suatu negara adalah memahaminya sebagai anggota
masyarakat atau zoon politicon. Negara sebagai wadah bangsa menggambarkan cita-cita
kehidupan bangsanya.
Berikut ini adalah pandangan dan karya-karya pemikiran dari beberapa pakar mengenai hakekat
negara:
1. Socrates
Menurut socrates, semua masyarakat pada dasarnya menginginkan kehidupan yang tentram,
aman, dan lepas dari gangguan yang memusnahkan harkat manusia. Pada saat itu, orang-orang
ini akan berkumpul dan membangun benteng sehingga menjadi satu kelompok yang dinamakan
sebagai Polis oleh Socrates. Dalam pandangannya, Socrates mengidentikkan polis dengan
masyarakat dan masyarakat indentik dengan negara.
2. Plato
Plato merupakan murid dari Socrates sehingga memiliki pandangan yang hampir serupa. Paham
Plato mengenai negara adalah keinginan kerjasama antar manusia untuk memenuhi keinginan
mereka. Kesatuan mereka inilah yang kemudian disebut masyarakat dan masyarakat merupakan
negara. Menurut Plato, antara masyarakat dan negara memiliki beberapa kesamaan sifat, seperti
sifat pemikir manusia identik dengan golongan penguasa, sifat keberanian manusia identik
dengan golongan tentara sedangkan sifat membutuhkan aneka kebutuhan identik dengan
golongan pekerja dalam negara.
3. Aristoteles
Menurut Aristitoles, yang juga merupakan murid dari Plato, negara adalah gabungan keluarga
sehingga membentuk sebuah kelompok besar. Kebahagiaan dalam negara akan tercapai bila
terciptanya kebahagiaan individu. Sebaliknya, bila manusia ingin bahagia, ia harus bernegara,
karena manusia saling membutuhkan satu sama lain untuk kepentingan hidupnya. Berbeda
dengan Plato yang merupakan peletak dasar ajaran idealisme, Aristoteles merupakan
pengembang ajaran realisme.

4. F. Oppenheimer
Dalam bukunya yang berjudul Die Sache, Oppenheimer menyatakan bahwa negara adalah alat
dari golongan yang kuat untuk melaksanakan suatu tertib masyarakat, golongan yang kuat tadi
dilaksanakan pada golongan yang lemah. Maksudnya untuk menyusun dan membela kakuasaan
dari penguasa.
5. Leon Duguit
Dalam bukunya berjudul Traite de Droit Constitutionel, Duguit menyatakan bahwa negara
adalah kekuasaan orang-orang kuat memerintah orang-orang lemah, bahkan dalam negara
moderen, kekuasaan orang-orang yang kuat diperoleh dari faktor-faktor politik.
6. R. Kranenburg
Negara itu pada hakekatnya adalah suatui organisasi kekuasaan, yang diciptakan oleh
sekelompok manusia yang disebut bangsa. Jadi menurut Kranenburg, terlebih dahulu harus ada
sekelompok manusia yang memiliki kesadaran untuk medirikan suatu organsasi dengan tujuan
untuk memelihara kepentingan dari kelompok tersebut.
Kranenburg Juga beranggapan bahwa pengelompokkan manusia didasarkan atas 4 macam
ukuran, yaitu:
a. Pengelompokkan berada pada suatu tempat tertentu dan teratur
b. Pengelompokkan berada pada suatu tempat tertentu dan tidak teratur,
c. Pengelompokkan tidak berada pada suatu tempat tertentu tetapi teratur, dan
d. Pengelompokkan tidak pada suatu tempat tertentu dan tidak teratur.

7. Logemann
Dalam pandangannya, Logemann mengatakan bahwa negara itu pada hakekatnya adalah suatu
organisasi kekuasaan yang meliputi atau menyatukan kelompok manusia yang disebut bangsa.
Jadi, pertama negara itu adalah suatu organisasi kekuasaan, maka organisasi ini memiliki suatu
kewibawaan, dalam makna bisa memaksakan kehendaknya pada semua orang yang diliputi oleh
organisasi itu.
BAB V

TEORI TENTANG TUJUAN NEGARA

Beberapa teori tujuan negara:


1. Teori Fasisme
Tujuan negara menurut teori fasisme adalah imperium dunia. Pemimpin bercita-cita untuk
mempersatukan semua bangsa di dunia menjadi satu tenaga atau kekuatan bersama. Beberapa
negara yang pernah menganut fasisme antara lain Italia ketika dipimpin oleh Benito Mussolini,
Jerman ketika dipimpin Adolf Hitler, dan Jepang ketika dipimpin Tenno Heika.
2. Teori Individualisme
Teori individualisme berpendapat bahwa negara tidak boleh campur tangan dalam urusan
pribadi, ekonomi, dan agama bagi warga negaranya. Tujuan dibentuknya negara hanyalah
berfungsi untuk menjaga keamanan dan ketertiban individu serta menjamin kebebasan seluas-
luasnya dalam memperjuangkan kehidupannya.
3. Teori Sosialisme
Teori sosialisme berpendapat bahwa negara mempunyai hak campur tangan dalam berbagai
bidang kehidupan masyarakat. Hal ini dilakukan agar tujuan negara dapat tercapai. Tujuan
negara sosialisme adalah memberikan kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan merata bagi setiap
anggota masyarakat.
4. Teori Integralistik
Teori integralistik berpendapat bahwa tujuan negara merupakan gabungan dan paham
individualisme dan sosialisme. Paham integralistik ingin menggabungkan kemauan rakyat
dengan penguasa (negara). Paham integralistik beranggapan bahwa negara didirikan bukan
hanya untuk kepentingan perorangan atau golongan tertentu saja, tetapi juga untuk kepentingan
seluruh masyarakat negara yang bersangkutan.
BAB VI

TEORI LEGITIMASI KEKUASAAN

1. Tentang Sumber kekuasaan

Legitimasi dapat dibedakan dari segi obyek. Dari segi obyek yang melakukan keabsahan dan dari
segi kriteria menilai keabsahan itu.dari segi objek sini dibedakan antara dua pertanyaan
legitimasi materi wewenang dan legitimasi subjek wewenang. Legitimasi materi wewenang
mempertanyakan wewenang dari segi fungsinya yaitu untuk tujuan apa wewenang dapat
dipergunakan dengan sah. Sedangkan legitimasi subjek kekuasaan mempertanyakan apa yang
menjadi dasar wewenang seseorang atau sekelompok orang untuk membuat undang-undang dan
peraturan bagi masyarakat dan untuk memegang kekuasaan negara.Menurut Magnis,pada
prinsipnya terdapat tiga macam legitimasi subjek yaitu kekuasaan legitimasi Religius,legitimasi
Eliter dan legitimasi demokrasi.

2. Tentang Pemilik/Pemegang Kekuasaan Tertinggi


a. Teori Kedaulatan Tuhan
Menurut sejarahnya yang paling tua diantara beberapa teori yaitu adalah teori kedaulatan
Tuhan,yang mengatakan bahwa kekuasaan tertinggi itu yang memiliki atau ada
pada Tuhan. Dalam perkembangan teori ini sangat erat hubungannya dengan
perkembangan agama baru yang timbul pada saat agama kristen, yang kemudian
diorganisir dalm sutu organisasi keagamaan,yaitu gereja yang dikepalai oleh
seorang paus. Pada permulaan perkembangan agama baru ini mendapatkan pertentangan
yang sangat hebat. Oleh karena agama baru ini dianggap bertentangan dengan
kepercayaan yang dianut pada waktu itu.
b. Teori Kedaulatan Negara
Dari pada penganut teori kedaulatan negara ini menyatakan bahwa kedaulatan itu tidak
ada pada Tuhan, seperti yang dikatakan oleh para penganut teori kedaulatan tuhan(God-
souvereiniteit), tetapi ada pada negara.Negaralah yang menciptakan hukum, jadi segala
sesuatu harus tunduk kepada Negara. Negara disini dianggap sebagai suatu keutuhan
yang menciptakan peraturan-peraturan hukum, jadi adanya hukum itu karena adanya
Negara dan tiada satu hokum pun yang berlaku jika tidak dikehendaki oleh negara.
Penganut teori ini yaitu Jeaan bodin, georg jellineks.
c. Teori Kedaulatan Hukum
Menurut teori kedaulatan hukum tersebut yang memiliki bahkan yang merupakan
kekuasaan tertinggi di dalam suatu negara adalah hukum itu sendiri.Karena baik raja atau
penguasa maupun rakyat atau warga Negara, bahkan negara itu sendiri semuanya tunduk
pada hukum. Semua sikap atau tingkah laku dan perbuatannya harus sesuai atau
menurut hukum. Jadi menurut Krabbe yang berdaulat itu hukum.
d. Teori Kedaulatan Rakyat
Teori kadaulatan rakyat diikuti oleh Samuel kant, yang mengatakan bahwa tujuan negara
itu adalah untuk menengakkan hukum dan menjamin kebebasan dari pada
warga negaranya. Dalam pengertian bahwa kebebasan disini adalah kebebasan dalam
batas-batas perundang-undangan, sedangkan undang-undang disini yang berhak membuat
adalah rakyat itu sendiri. Maka kalau begitu undang-undang itu adalah merupakan
penjelmaan daripada kemauan atau kehendak rakyat.Jadi rakyatlah yang mewakili
kekuasaan tertinggi,atau kedaulatan. Jadi pembicaraan ini adalah bahwa kiranya orang
tidak perlu terlalu menteoritiser ada pada siapakah kedaulatan itu.Sebab yang penting
adalah ada pada siapakah kedaulatan itu sehari-harinya dilaksanakan,karena yang kita
usahakan adalah apa yang melaksanakan.

3. Tentang Pengesahan Kekuasaan

Pengesahan kekuasaan atau legitimasi dari organisasi Negara, jangan dicampur adukkan
dengan pengesahan kekuasaan atau persoalan legitimasi daripada badan-badan yang
menjalankan organisasi itu, karena jatuhnya orang yang memegang jabatan itu tentu
mengakibatkan jatuhnya organisasi itu,tapi jatuhnya organisasi itu selalu membawa akibat artian
jatuhnya badan-badan yang menjalankan organisasi itu, dengan sendirinya jatuhnya orang yang
memegang jabatan dari badan-badan tersebut.

Jadi, persoalan legitimasi kekuasaan sangat erat hubungannya dengan tujuan Negara. Sebab yang
sebenarnya kita dapat mengakui atau tidak, mengakui sah atau tidak kekuasaan daripada
pemerintah itu pertama-tama tergantung dari pada tujuan yang direncanakan dan diusahakan
hendak di capai oleh pemerintah demi rakyat yang diperintah.
BAB VII
KLASIFIKASI NEGARA

1. Klasifikasi Negara Klasik Tradisional


a. Bentuk negara terbagi: Monarkhi, Aristrokasi, dan Demokrasi.
b. Bentuk negara tirani, oligarkhi, dan anarkhi tidak dianggap karena hanya sebagai ekses dari
bentuk Negara yang baik.
c. Kriteria yang digunakan:
Susunan pemerintahan
Siapa dan berapa jumlah orang yang memegang kekuasaan: tunggal, beberapa orang, atau
seluruh rakyat.
Sifat pemerintahan
Ditujukan untuk kepentingan umum (baik) atau segolongan tertentu (buruk).

2. Klasifikasi Negara dalam bentuk Monarki dan Republik


a. Menurut Niccolo Machiaveli dalam bukunya Il Principe
Bentuk Negara: Monarkhi dan Republik.
Negara dalam pengertian genus; sedangkan bentuk Negara Monarkhi dan Republik dalam
pengartian species.
Menurut Georg Jellinek dalam bukunya Allgemene Staatslehre.
Bentuk Negara: Monarkhi dan Republik; keduanya saling berlawanan dalam system
pemerintahannya (bentuknya).
Dasar kriteria yang digunakan: Bagaimana cara terbentuknya kemauan Negara? Kemauan
Negara yang abstrak diwujudkan konkrit melalui hukum yang diciptakan Negara, terbagi
dalam 2 cara:
1. Ditentukan oleh satu orang tunggal yang disebut Monarkhi.
2. Ditentukan oleh dewan secara yuridis yang terdiri dari beberapa orang yang disebut
Republik.
Yang dijadikan tolak ukur adalah pada siapa yang memegang kekuasaan tadi, hal ini
dikritik oleh Kranenburg.
Hukum kebiasaan ada jika diakui dan ditetapkan Negara.
Wahl-monarchie adalah suatu Negara di mana kepala negaranya dipilih dan diangkat
oleh suatu badan khusus, dan setelah itu menjadi bawahan daripada kepala Negara
tersebut. Kekuasaan kepala Negara menjadi sangat besar dalam lingkup pemerintahan
dan undang-undang. Contoh: Kerajaan Jerman, Negeri Polandia.
Leon Deguit
Bentuk Negara: Negara kesatuan, Negara Serikat, dan Perserikatan Negara-negara.
Bentuk Pemerintahan: Monarkhi dan Republik.
Dasar kriteria yang digunakan: Cara atau system penunjukan atau pengangkatan kepala
Negara.
a. Kepala Negara yang mendapat kedudukan karena pewarisan disebut Monarkhi. Sistem
pemerintahan Monarkhi terbagi:
1. Monarkhi Absolut
2. Monarkhi Terbatas
3. Monarkhi Konstitusiil
b. Kepala Negara yang mendapat kedudukan bukan karena pewarisan (misal: pemilu,
kudeta) disebut Republik. Sistem pemerintahan Republik terbagi:
1. Referendum, sistem pemerintahan rakyat secara langsung.
2. Parlementer, sistem pemerintahan perwakilan rakyat.
3. Presidensiil, sistem pemisahan kekuasaan.

3. Klasifikasi Negara Autoritaren Fuhrerstaat


Diajarkan oleh Prof. Otto Koellreutter yang bersifat nasional-sosialis. Autoritaren
Fuhrerstaat adalah sebuah bentuk Negara yang memadukan antara Monarkhi (asas
ketidaksamaan) dengan Republik (asas kesamaan), dengan penjelasannya bahwa pemegang
kekuasaan pemerintahan Negara bukan pewarisan dari satu dinasti saja. pengangkatan kepala
Negara berdasarkan pada pandangan autoritet Negara, yaitu kemampuan memerintah dan
menguasai rakyatnya.

4. Klasifikasi Negara Menurut Prof. DR. R. Kranenburg


Terdapat dua macam kriteria pengelompokkan manusia:
a. Sifat Ketempatan
b. Sifat Keteraturan
Klasifikasi kelompok manusia:
a. Kelompok manusia yang sifatnya setempat tetapi tidak teratur.
Sifat: insidentil, tidak saling mengenal, tidak teratur
Ciri istimewa: sifatnya sangat sugestif
b. Kelompok manusia yang sifatnya setempat dan teratur (objektif)
Keadaan teratur Adanya tujuan bersama
c. Kelompok manusia yang sifatnya tidak setempat dan tidak teratur
Bersifat golongan mempunyai kepentingan bersama yang kuat dirasakan
Menimbulkan: suasana golongan, kerjasama golongan, kepentingan golongan
d. Kelompok manusia yang sifatnya tidak setempat tetapi teratur
(merupakan kelompok tertinggi/subyektif)
Faktor pokok: kelompok itu sendiri mempunyai kepentingan bersama kehendak
bersama (mengadakan tata tertib) untuk mencapai dan melaksanakan tujuan kelompok
Klasifikasi Negara (pertama):
a. Negara di mana semua fungsi atau kekuasaan negara dipusatkan pada satu organ
(sistem absolut)
1. Bersifat tunggal monarki
2. Bersifat beberapa orang aristokrasi/oligarki
3. Bersifat jamak demokrasi
b. Negara di mana fungsi-fungsi atau kekuasaan-kekuasaan negara dipisahkan
1. Negara dengan Sistem Pemerintah Presidensil
badan legislatif dengan badan eksekutif tidak dapat saling memengaruhi
2. Negara dengan Sistem Pemerintahan Parlementer
Kedua badan saling memengaruhi dan bersifat politis. Jika kebijaksanaan suatu
badan tidak disetujui, badan tersebut dapat dibubarkan.
3. Negara dengan Sistem Pemerintahan Referendum
Badan eksekutif hanya sebagai badan pelaksanaan dari apa yang telah
diputuskan badan legislatif.
5. Klasifikasi Negara menurut Hans Kelsen
Hans Kelsen penganut ajaran Positivisme. Dalam ajaran Hans Kelsen negara itu pada
hakekatnya adalah merupakan Zwangsordnung, yaitu suatu tertib hukum atau tertib masyarakat
yang mempunyai sifat memaksa, yang menimbulkan hak memerintah dan kewajiban tunduk.
Jadi dalam hal ini ada pembatasan terhadap kebebasan warga negara padahal menurut Hans
Kelsen kebebasan warga negara itu merupakan nilai yang fundamental atau pokok dalam suatu
negara. Menurut Hans Kelsen sifat kebebasan warga negara itu ditentukan oleh dua hal, yaitu :
a. Sifat mengikatnya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan atau dibuat oleh
penguasa yang berwenang.
b. Sifat keleluasaan penguasa atau pemerintah dalam mencampuri atau mengatur peri
kehidupan daripada warga negaranya.
Berdasarkan kriteria tersebut Hans Kelsen mengklasifikasikan negara menjadi :
1) Berdasarkan kriteria yang pertama maka :
a) Pada azasnya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan oleh penguasa yang
berwenang itu hanya mengikat atau berlaku terhadap rakyatnya saja, jadi tidak
berlaku atau mengikat pada penguasa yang membuat peraturan-peraturan hukum
tersebut.
b) Pada azasnya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan oleh penguasa yang
berwenang itu kecuali mengikat warga negaranya atau rakyatnya juga mengikat si
pembuat peraturan-peraturan hukum itu sendiri.
2) Berdasarkan kriteria yang kedua maka :
a) Pada azasnya penguasa atau negara mempunyai keleluasaan untuk mencampuri atau
mengatur segala segi kehidupan daripada para warga negaranya.
b) Pada azasnya penguasa atau negara hanya dapat mencampuri atau mengatur perihal
kehidupan daripada para warga negaranya yang pokok-pokok saja, yang
menyangkut kehidupan warga negara secara keseluruhan.

6. Klasifikasi Negara menurut R. M. Mac Iver


Terhadap hal ini Mac Iver mengemukakan keberatan-keberatan atau kritikan yang
dianggap sebagai kelemahan sistem tersebut, yaitu pemerintahan pada negara-negara bukan
primitive pasti selalu berada pada tangan ruling-class, kelas atau golongan yang
memerintah.kalau kekuasaan tertinggi negara hanya dipegang oleh satu orang saja, maka
sesungguhnya telah memuat bentuk-bentuk pemerintahan yang sangat berbeda sekali, sebab
dapat meliputi monarki kadang-kadang dapat juga sebagai dictator ataupun tyranni. Dalam
mengklasifikasikan negara tidak cukup kalau hanya mempergunakan satu kriteria saja.

Jadi penggolongan negara dengan sistem ini menghasilkan dua golongan besar, yaitu demokrasi
dan oligarki. Menurut Mac Iver perlu untuk diketahui bahwa dalam proses perubahan politik
pada setiap bentuk pemerintahan atau negara sering didapatkan ciri-ciri yang sesuai atau sama
daripada beberapa bentuk negara.
7. Klasifikasi Negara menurut Maurice Duverger
Maurice Duverger dalam mengklasifikasikan negara menggunakan kriteria
bagaimanakah sifat relasi atau hubungan antara para penguasa dengan rakyat yang diperintah.
Relasi tersebut nampak dengan jelas pada cara atau sistem pemilihan atau pengangkatan para
penguasa tersebut. Cara atau site mini dapat digolongkan dalam dua cara, yaitu :
a. Dalam pengangkatan para penguasa itu dimana rakyat tidak diikutsertakan dalam
pengangkatan/pemilihan orang-orang yang akan memegang kekuasaan pemerintahan
negara.
b. Dalam pengangkatan para penguasa dimana dalam pengangkatan tersebut rakyat
diikutsertakan.
c. Dalam pengangkatan atau pemilihan para penguasa adalah suatu siste campuran antara
sistem demokrasi dengan sistem autokrasi, yang akan menimbulkan negara oligarki.

8. Klasifikasi Negara menurut H.J Laski.


Ia mengatakan bahwa yang menjadi inti dalam organisasi negara adalah hubungan antara
rakyat dan undang-undang. Berdasarkan kriteria ini maka negara diklasifikasikan menjadi :
a. Bila rakyat mempunyai wewenang ikut campur dalam pembuatan undang-undang,
maka bentuk negara tersebut adalah demokrasi.
b. Bila rakyat tidak mempunyai wewenang ikut campur dalam pembuatan undang-
undang, maka bentuk negara tersebut adalah autokrasi.
H.J Lasky berpendapat dalam tiap-tiap penyelidikan tentang sistem peraturan-peraturan
hukum menunjukkan akan kebutuhan tiga jenis kekuasaan yaitu:
a. Adanya badan yang menetapkan peraturan-peraturan umum. Badan ini disebut badan
perundang-undangan.
b. Adanya badan yang bertugas melaksanakan peraturan-peraturan hukum. Badan ini
adalah pemerintah.
c. adanya badan yang berwenang memberikan keputusan dalam pelaksanaan terjadinya
pelanggaran-pelanggaran. Badan ini disebut pengadilan.

9. Klasifikasi negara menurut Sir John A.R. Marriott.


Marriott mengajukan klasifikasi yang dapat mencakup semua bentuk negara modern.
Dalam klasifikasinya ia menggunakan dasar sistem kenegaraannya yaitu :
mengenai susunan pemerintahannya : negara kesatuan dan negara federasi
mengenai sifat konstitusinya: negara yang konstitusinya mempunyai sifat-sifat istimewa
dan negara yang undang-undang dasarnya bersifat fleksibel.
mengenai sistem pemerintahannya : negara yang memakai sistem pemerintahan
presidensil dan negara memakai sistem pemerintahan parlementer.
10. Klasifikasi negara menurut S.D Leacock.
Leacock mengklasifikasikan negara modern dalam dua jenis:
a. Despotis
b. Demokratis :
1. Republik : 1. Federal : a. Tidak berparlemen
b. Berparlemen

2. Kesatuan : a. Tidak berparlemen


b. Berparlemen

2. Kerajaan terbatas : 1. Federal : a. Tidak berparlemen


b. Berparlemen
2. Kesatuan : a. Tidak berparlemen
b. Berparlemen.

11. Klasifikasi negara menurut H.N. Sinha


H.N Sinha mengklasifikasikan negara modern dalam 3 jenis :
a. Demokratis :
1. Republik : 1. Kesatuan : a. Berparlemen
b. Tidak berparlemen
2. Federal : a. Berparlemen
b. Tidak berparlemen
2. Kerajaan terbatas : 1. Kesatuan : a. Berparlemen
b. Tidak berparlemen
2. Federal : 1. Berparlemen
2. Tidak berparlemen
b. Anti-demokratis :
1. Republik : 1. Kesatuan
2. Federasi

2. Kerajaan terbatas : 1. Kesatuan


2. Federasi
BAB VIII
SUSUNAN NEGARA

Maksud dari susunan negara ini ialah membicarakan bentuk-bentuk negara dari segi
susunannya. Negara apabila ditinjau dari segi susunannya akan menghasilkan dua susunan
negara, yaitu:
a) Negara yang bersusun tunggal, yang disebut Negara Kesatuan; dan
b) Negara yang bersusun jamak, yang disebut Negara Federasi.

1. Negara kesatuan
Negara kesatuan lebih dikenal dengan uni (Inggris) atau eenheidstaats (Jerman). Bentuk
Negara Kesatuan adalah bentuk negara yang terdiri dari satu negara saja pun besar dan kecilnya,
dan kedalam maupun keluar merupakan kesatuan.

a. Pembagian wewenang dalam negara kesatuan dapat diklasifikasikan pada dua hal,
yakni pada negara kesatuan organisasi dari bagian-bagian pada negara kesatuan
pada garis besarnya telah ditentukan oleh pembuat undang-undang di pusat.
b. Pada negara kesatuan, wewenang secara terperinci terdapat pada propinsi-propinsi,
dan residu powernya ada pada pemerintah pusat negara kesatuan.
Adapun ciri-ciri negara kesatuan adalah:
1. Negara kesatuan mewujudkan kebulatan tunggal, mewujudkan
kesatuan unity.
2. Negara kesatuan hanya mempunyai satu negara dengan hanya mempunyai
satu pemerintahan, satu kepala negara, satu badan legislatur bagi seluruh
daerah negara.
3. Negara kesatuan merupakan negara tunggal yang monosentris (berpusat satu).
4. Hanya ada satu pusat kekuasaan yang memutar seluruh mesin pemerintahan
dari pusat sampai ke pelosok-pelosok, hingga segala sesuatunya dapat diatur
secara sentral, seragam dan senyawa dalam keseluruhannya.
5. Pengaturan oleh pusat kepada seluruh daerah tersebut lebih bersifat
koordinasi saja namun tidak dalam pengertian bahwa segala-galanya diatur
dan diperintahkan oleh pusat.
2. Negara federal (federasi)
Akar kata federalisme yang berasal dari bahasa Latin feodus memang berarti serikat atau
aliansi. Berbagai wujud federalisme bisa ditemukan di dunia saat ini. Salah satu wujudnya yang
paling populer adalah negara serikat.

Ada beberapa istilah yang sering disebut, yang terkait dengan bentuk negara federal.
Istilah-istilah ini antara lain yaitu federasi, federal, federalisme, maupunfederalisasi, yang
sebenarnya mempunyai makna yang berbeda.
a. Negara federal (serikat) adalah tata cara kenegaraan yang mengasumsikan adanya negara
dalam negara. Kemudian dijelaskan bahwa negara federal terjadi pembagian wewenang
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat dalam hal ini hanya
berwenang dalam urusan moneter, pertahanan keamanan (atas ancaman dari luar), dan
berbagai urusan luar negeri yang berkaitan dengan negara secara utuh. Negara federal
adalah negara yang merupakan gabungan dari beberapa negara yang berdiri sendiri, masing-
masing dengan perlengkapannya yang cukup, dengan kepala negara sendiri, dengan
pemerintahan sendiri, dan dengan badan-badan legislatif dan yudikatif sendiri.
b. Federalisme adalah paham atau prinsip yang menganjurkan pembagian negara atas bagian-
bagian yang berotonomi penuh menguasai urusan dalam negeri atau wilayah otonominya,
artinya ada pendelegasian wewenang yang sistematis dari kekuasaan di tingkat atas menuju
kekuasaan di tingkat bawah, dalam satu kesatuan wadah dan aturan.
c. Federalisasi adalah sebuah proses dimana terjadi alur kesepakatan-kesepakatan secara
struktural tentang ide pembentukan negara federal di antara pihak-pihak, daerah-daerah atau
negara-negara untuk membentuk negara federal;
d. Federasi adalah sifat yang menunjukkan bahwa sebuah negara tersebut menerapkan ciri-ciri
sebagai negara federal.

3. Perbedaan Negara Serikat Dengan Perserikatan Negara Menurut Georg Jellinek


Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di
wilayah tertentu.
Georg Jellinek mengemukakan empat status bangsa, yaitu:
1.Status positif, yaitu status yang memberikan hak kepada warga negara untuk
menuntut tindakan positif negara mengenai perlindungan atas jiwa raga, hak milik,
kemerdekaan, dan sebagainya;
2.Status negatif, yaitu status yang menjamin warga negara bahwa negara tidak ikut
campur terhadap hak-hak azasi (hak-hak privat) warga negaranya.
3.Status aktif, yaitu status yang memberikan hak kepada setiap warga negara untuk
ikut serta dalam pemerintahan, misalnya melalui hak pilih (aktif: memilih, pasif:
dipilih).
4.Status pasif, yaitu status yang memberikan kewajiban kepada setiap warga negara
untuk taat dan tunduk kepada negara.
4. Perbedaan Negara Serikat Dengan Perserikatan Negara Menurut Roelof Krannenburg
Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau
bangsanya sendiri.
Perbedaan antara negara serikat dan perserikatan negara:
Dalam negara serikat, keputusan yang diambil oleh pemerintah negara serikat dapat
langsung mengikat warga negara bagian sedangkan dalam serikat negara keputusan yang
diambil oleh serikat itu tidak dapat langsung mengikat warga negara dari negara anggota.
Dalam negara serikat, negara-negara bagian tidak boleh memisahkan diri dari negara
serikat itu; sedangkan dalam serikat negara, negara-negara anggota boleh memisahkan diri
dari gabungan itu.
Dalam negara serikat, negara bagian hanya berdaulat ke dalam; sedangkan dalam serikat
negara, negara-negara anggota tetap berdaulat ke dalam maupun ke luar.

5. Perserikatan Bangsa-Bangsa

Pengertian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ialah sebuah organisasi internasional yang


anggotanya hampir diseluruh negara bagian dunia. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
ini dibentuk untuk dapat menangani permasalahan hukum internasional, pengamanan
internasional, perlindungan sosial bangsa-bangsa di seluruh dunia , dan juga lembaga ekonomi.

Sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini pertama kalinya dilahirkan pada tanggal 24
Oktober 1945.Sejak didirikan sampai sekarang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini telah
banyak berperan aktif didalam memelihara dan juga meningkatkan perdamaian, keamanan dunia,
serta memajukan kesejahteraan hidup bangsa-bangsa didunia.

Pengertian Dan Sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa


(PBB) tersebut terletak di kota New York, Amerika Serikat tetapi tanah dan juga bangunannya
ialah merupakan wilayah internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki bendera,
kantor pos, dan juga perangko sendiri.
BAB IX

NEGARA DEMOKRASI MODERN

Demokrasi Modern

1. Tipe-tipe demokrasi modern, yaitu :

a. Demokrasi representatif dengan sistem presidensial

Dalam sistem ini terdapat pemisahan tegas antara badan dan fungsi legislatif dan
eksekutif. Badan eksekutif terdiri dari seorang presiden, wakil presiden dan menteri yang
membantu presiden dalam menjalankan pemerintahan. Dalam hubungannya dengan badan
perwakilan rakyat (legislatif), para menteri tidak memiliki hubungan pertanggungjawaban
dengan badan legislatif. Pertanggungjawaban para menteri diserahkan sepenuhnya kepada
presiden. Presiden dan para menteri tidak dapat diberhentikan oleh badan legislatif.

b. Demokrasi representatif dengan sistem parlementer

Sistem ini menggambarkan hubungan yang erat antara badan eksektif dan legislatif.
Badan eksekutif terdiri dari kepala negara dan kabinet (dewan menteri), sedangkan badan
legislatifnya dinamakan parlemen. Yang bertanggung jawab atas kekuasaan pelaksanaan
pemerintahan adalah kabinet sehingga kebijaksanaan pemerintahan ditentukan juga olehnya.
Kepala negara hanyalah simbol kekuasaan tetapi mempunyai hak untuk membubarkan
parlemen.

c. Demokrasi representatif dengan sistem referendum (badan pekerja)

Dalam sistem ini tidak terdapat pembagian dan pemisahan kekuasaan. Hal ini dapat
dilihat dari sistemnya sendiri di mana BADAN eksekutifnya merupakan bagian dari badan
legislatif. Badan eksekutifnya dinamakan bundesrat yang merupakan bagian
dari bundesversammlung (legislatif) yang terdiri dari nationalrat-badan perwakilan nasional-
danstanderat yang merupakan perwakilan dari negara-negara bagian yag disebut kanton.
BAB X
NEGARA AUTOKRASI MODERN

Negara Autokrasi Modern

Negara autokrasi modern sering disebut Negara dengan system satu partai, Auto berarti
sendiri, sedang kratos atau kratein berarti kekuasaan. jadi Negara autokrasi dalam artian yang
murni, adalah Negara dimana pemerintahan Negara itu betul-betul hanya dipegang atau
dilaksanakan oleh satu orang saja.

1. Perbedaan Antara Negara Autokrasi Modern Dengan Demokrasi Modern

a. Pandangan terhadap hakekat Negara

Negara yang mendukung Negara yang system autokrasi mengemukakan pandangannya ,


bahwa Negara itu pada hakekatnya adalah merupakan suatu organisme, sebab Negara yang
melaksanakan sistem autokrasi ini rakyat atau individu tidak mempunyai kepribadian serta
kepentingan sendiri, terutama dalam hubungannya dengan penyelenggaraan pemerintah Negara ,
atau kebahagiaan individu itu tergantung daripada kebahagiaan Negara .

Sedangkan Negara yang mendukung Negara sistem demokrasi, mengemukakan pandangannya,


bahwa Negara itu pada hakekatnya adalah merupakan suatu kumpulan atau kesatuan daripada
individu. jadi disini Negara sifatnya sekunder, sedangkan individulah yang primer. Dalam arti
bahwa individu mempunyai peranan yang pokok yang harus menentukan dan mengusahakan
kebahagiaan serta kesentausaan Negara.

b. Pandangan terhadap tujuan Negara

Negara yang mendukung sistem autokrasi berpendapat bahwa tujuan Negara adalah
menghimpun kekuasaan sebesar-besarnya pada Negara.

Sedangkan yang mendukung sistem demokrasi berpendapat bahwa tujuan Negara adalah kalau
kiranya dapat dirumuskan secara singkat untuk mengusahakan serta menyelenggarakan
kebahagiaan serta kesejahteraan rakyatnya.

Perbedaan antara kedua badan perwakilan rakyat tersebut terletak pada :

a) cara pengangkatan atau pemilihan

anggota-anggota badan perwakilan rakyat tersebut. rakyat mempunyai peranan yang penting,
oleh karena itu ikut menentukan secara langsung siapa-siapakah yang akan terpilih menjadi
perwakilan rakyat. Oleh karena itu mereka harus tetap dijaga agar tetap bersifat representatif.
b) Sifat susunan daripada badan perwakilan rakyat

Badan perwakilan rakyat pada Negara autokrasi modern, sesuai dengan pendapat mereka tentang
hakekat Negara, yaitu bahwa Negara dianggap sebagai suatu organisme, maka sifat susunan
daripada badan perwakilan rakyatnya adalah korporatif, olehkarena badan perwakilan rakyat
tersebut bukanlah merupakan wakil-wakil individu ,melainkan wakil daripada kesatun-kesatuan
sosial yang ada dan diakui sah oleh Negara didalam masyarakat tersebut.

Sedangkan badan perwakilan rakyat pada Negara demokrasi modern sifatnya adalah atoomistis,
oleh karena badan perwakilan rakyat tersebut merupakan wakil-wakil daripada rakyat pemilih.

2. Cara-cara Pembatasan Kekuaasaan Penguasa

Menurut Maurice Duverger timbulnya dan terselenggaranya pembatasan kekuasaan penguasa itu
bukanlah karena hasil dari suatu pemikiran, melainkan adanya kesukaran-kesukaran dan
kesulitan-kesulitan serta rintangan-rintangan yang bersifat kebendaan atau materil, yang
merintangi maksud penguasa untuk melaksanakan kekuasaannya.

Menurut Maurice Duverger, ada 3 macam usaha untuk dapat melaksanakan pembatasan
kekuasaan penguasa itu, yang masing-masing bergerak dalam lapangan tersendiri. Tiga macam
usaha tersebut ialah:

1) Usaha yang ditujukan untuk melemahkan atau membatasi kekuasaan penguasa dengan secara
langsung. Didalam usaha ini ada 3 macam cara yang umum dipergunakan:

a. Pemilihan para penguasa

b. Pembagian kekuasaan

c. Kontrol yurisdiksionil

Dengan ini yang dimaksudkan ialah adanya peraturan-peraturan hukum yang menentukan hak-
hak atau kekuasaan-kekuasaan tersebut dan, yang semuanya itu pelaksanaannya diawasi dan
dilindungi oleh organ-organ pengadilan dari lembaga-lembaga lainnya dengan tujuan membatasi
kekuasaan penguasa.

Jadi, dengan demikian jelaslah bahwa sistem demokrasi semi langsung yang dimaksud oleh
Maurice Duverger itu tidak ada hubungnnya dngan pemilihan para penguasa,dan bahwa adanya
persamaan antara demokrasi langsung,demokrasi semi langsung,dan demokrasi perwakilan itu
tidak bersifat asasi. Lagi pula system-sistem hak inisiatif, hak referendum dan hak veto itu tidak
ada halangannya, jadi dapat dipergunakan atau dilaksanakan dalam suatu sistem pemerintahan
autokrasi, dimana para penguasa itu terjamin kekuasaannya,misalnya oleh aturan-aturan
keturunan.