Anda di halaman 1dari 13

Duktus Arteriosus Paten pada Neonatus Kurang Bulan

Pendahuluan
Duktus arteriosus paten merupakan suatu kelainan jantung kongenital yang paling
umum terjadi. Duktus arteriosus paten, yang didefinisikan sebagai kegagalan duktus
arteriosus untuk menutup segera setelah bayi dilahirkan, dapat menimbulkan morbiditas dan
mortalitas pada bayi secara signifikan. Selain itu, beberapa komplikasi serius yang dapat
ditimbulkan oleh duktus arteriosus paten setelah lahir meliputi gagal jantung, disfungsi renal,
enterocolitis nekrosis, perdarahan intraventrikular, dan terganggunya nutrisi dan pertumbuhan
pascanatal. Tentunya komplikasi ini akan timbul apabila duktus arteriosus paten tidak
ditangani dengan tepat.
Melalui ulasan ini, penulis akan membahas mengenai pengertian, etiologi,
epidemiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi dan prognosis
dari pasien dengan duktus arteriosus paten.

Pembahasan
Untuk mengetahui secara jelas mengenai keluhan yang dialami oleh pasien, kita harus
mempunyai pengetahuan tentang keluhan-keluhan yang dialami pasien dan harus memahami
langkah-langkah dalam mendiagnosis keluhan yang dialami pasien. Langkah pertama yang
harus dilakukan dalam mendiagnosis keluhan pasien adalah dengan melakukan anamnesis
terhadap pasien.

Anamnesis
Anamnesis atau wawancara medis merupakan tahap awal dari rangkaian pemeriksaan
pasien, baik secara langsung pada pasien yang bersangkutan atau tidak langsung melalui
keluarga ataupun kerabat pasien yang bertujuan untuk mendapatkan informasi secara
menyeluruh dari pasien yang bersangkutan seperti identitas pasien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat pribadi, dan
riwayat sosial-ekonomi.1 Anamnesis dapat dilakukan baik secara langsung pada pasien
(autoanamnesis) apabila kondisi pasien memungkinkan atau dapat dilakukan secara
alloanamnesis pada orang terdekat atau mengantar pasien untuk berobat bila keadaan pasien
tidak memungkinkan atau bila pasien tersebut adalah seorang anak kecil.

1
Dalam kasus di atas, anamnesis yang dilakukan adalah anamnesis dalam bentuk
alloanamnesis. Beberapa hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesis sesuai dengan kasus di
atas antara lain sebagai berikut:

1. Identitas Pasien
Identitas pasien yang ditanyakan adalah nama pasien, usia pasien, nama orang tua,
usia orang tua, pekerjaan orang tua, dan alamat tempat tinggal.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang membuat pasien datang berobat ke dokter. Selain
itu, kita juga perlu menanyakan sejak kapan keluhan tersebut dirasakan. Dalam kasus
ini keluhan utama yang dirasakan oleh pasien adalah frekuensi jantung dan
frekuensi nafas meningkat.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Hal-hal yang perlu ditanyakan untuk mendapatkan keterangan penyakit yang diderita
pasien ke pada orang tuanya meliputi berapa lama keluhan tersebut terjadi, bagaimana
sifat dari keluhan yang dirasakan oleh pasien, lokasi keluhan yang dirasakan, faktor-
faktor yang memperberat keluhan yang dirasakan pasien, dan apakah ada keluhan lain
yang dirasakan seperti demam, batuk, pilek, muntah, dan lainnya.
4. Riwayat Pengobatan
Apakah pasien sudah dibawa untuk berobat sebelumnya atau apakah pasien sedang
mengonsumsi obat-obatan.
5. Riwayat Penyakit Dahulu
Menanyakan apakah pasien pernah mengalami suatu penyakit tertentu (misalnya,
riwayat alergi, asma, disentri, dan lainnya).
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami keluhan yang sama dengan
keluhan pasien saat ini.
7. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Hal yang perlu ditanyakan antara lain usia ibu saat melahirkan, usia kehamilan,
ada/tidaknya infeksi saat kehamilan seperti infeksi Rubella, apakah ibu mengonsumsi
obat-obatan tertentu saat sedang hamil, apakah ibu menjaga kebutuhan gizinya
dengan baik saat hamil, dan bagaimana proses persalinan yang berlangsung. Pada
kasus ini, bayi dilahirkan prematur/kurang bulan pada usia kehamilan 33
minggu.

2
8. Riwayat Kelahiran
Hal yang perlu ditanyakan meliputi berat badan bayi saat lahir, kondisi bayi saat lahir,
apakah bayi menangis atau tidak menangis saat dilahirkan, dan apakah terdapat
sianosis atau tidak. Pada kasus ini diketahui bahwa berat badan lahir pasien adalah
sebesar 1400 gram, pasien tidak langsung menangis saat dilahirkan, dan pasien
tidak mengalami sianosis.
9. Riwayat Sosial
Hal yang perlu ditanyakan meliputi kondisi tempat tinggal pasien dan kondisi
penduduk sekitar tempat tinggal pasien.

Pemeriksaan Fisik
Sesuai dengan kasus, pemeriksaan fisik pada pasien neonatus tersebut dilakukan
dengan melakukan pemeriksaan terhadap keadaan umum pasien, kesadaran pasien,
memeriksa tanda-tanda vital, dan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik umum dan
pemeriksaan fisik terhadap jantung pasien.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit berat
disertai sesak nafas dan hasil tanda-tanda vital pasien menunjukkan:

- Frekuensi Nadi: 160-180 kali/menit (takikardia), nadi teraba sangat kuat


- Frekuensi Nafas: 70-80 kali/menit (takipnea)
- Tekanan Darah: 80/50 mmHg (hipotensi)
- Saturasi Oksigen (SpO2): 94% (normal)
1. Inspeksi
Pada inspeksi, hal yang perlu diperhatikan adalah warna kulit pasien, ada/tidaknya
lesi kulit ataupun massa, bentuk thorax pasien, tampak/tidaknya ictus cordis, dan
ada/tidaknya kelainan pada bagian tubuh lain seperti ekstremitas. Dari hasil inspeksi
diperoleh adanya hyperdynamic precordium, ictus cordis terlihat, pasien tidak
mengalami sianosis, dan tidak ada edema pada ekstremitas pasien.
2. Palpasi
Pada palpasi, dilakukan palpasi sela iga untuk mengetahui apakah ada retraksi
ataupun pelebaran dari sela iga, palpasi thorax, dan abdomen untuk mengetahui
apakah terdapat cardiomegali ataupun hepatomegali. Pada pemeriksaan didapati
bahwa ictus cordis teraba tidak kuat angkat, ada retraksi sela iga, dan hepar
teraba 2 cm di bawah subcostal margin dengan tepi tumpul.

3
3. Perkusi
Pada pasien anak-anak, perkusi dilakukan dari perifer ke sentral untuk melihat besar
dari jantung, terutama jika terdapat kardiomegali yang nyata. Perkusi sulit dilakukan
pada bayi dikarenakan bunyi sonor paru dan bunyi redup jantung sulit dibedakan.
4. Auskultasi
Pada pemeriksaan auskultasi, pemeriksa kesehatan dapat mendengarkan suara nafas
dan suara jantung dengan menggunakan alat bantu stetoskop, baik bunyi yang normal
maupun yang patologis. Dari pemeriksaan auskultasi terdengar adanya continuous
murmur di sela iga ke-2 linea parasternal kiri dan bunyi P2 yang prominent.

Pemeriksaan Antropometri
Pada pemeriksaan antropometri, yang bertujuan untuk menilai status tumbuh
kembang anak, aspek umum yang dilakukan oleh seorang petugas pemeriksa kesehatan
adalah mencatat panjang badan/tinggi badan, berat badan anak, dan lingkar kepala pada kartu
standar yang telah disediakan (lihat Tabel 1).
Tabel 1. Aspek Pengukuran Antropometri pada Neonatus dan Cara Pengukurannya

Pemeriksaan Apgar Score


Pemeriksaan Apgar Score adalah pemeriksaan pertama yang dilakukan segera setelah
bayi dilahirkan. Pemeriksaan ini mendeskripsikan mengenai tonus otot, warna, pernapasan,
denyut nadi, dan respon terhadap rangsangan. Setiap unsur diberikan nilai 0, 1, dan 2,

Pengukuran Cara Pengukuran


Panjang Badan Bayi diletakkan terlentang di atas papan ukuran, tanpa sepatu atau topi. Panjang
badan diukur dengan meletakkan vertex bayi pada kayu yang tetap (statis),
sedangkan kayu yang dapat bergerak (dinamis) menyentuh tumit bayi.
Berat Badan Ditimbang menggunakan timbangan khusus untuk anak. Bayi ditimbang tanpa baju
atau hanya dengan popoknya saja. Berat badan yang kurang atau lebih menunjukkan
adanya masalah pada status gizi.
Lingkar Kepala Harus diperiksa selama 2 tahun pertama kehidupan anak, namun pengukuran juga
dapat berguna pada setiap saat untuk mengetahui pertumbuhan kepala. Lingkar
kepala pada bayi menggambarkan pertumbuhan tengkorak dan otak. Pengukuran
dilakukan dengan meletakkan pita melingkari kepala melalui glabella pada dahi,
bagian atas alis mata dan bagian belakang kepala bayi yang paling menonjol yaitu
protuberantia occipitalis.

4
memberikan nilai total maksimum sebesar 10. Bayi yang sehat umumnya memiliki nilai
Apgar 8-10 pada 1 dan 5 menit, sedangkan bayi dengan nilai Apgar kurang dari 8 pada 5
menit membutuhkan evaluasi lanjutan sampai dipastikan bahwa bayi tersebut dalam kondisi
sehat. Berikut adalah kriteria pemeriksaan Apgar Score (lihat Tabel 2).
Tabel 2. Nilai Apgar
Skor 0 1 2
Denyut Nadi Tidak ada <100 x/menit > 100 x/menit
Lambat dan
Pernapasan Tidak ada Baik: kuat
ireguler
Gerakan fleksi
Tonus Otot Lumpuh Gerakan aktif
kaki/lengan
Iritabilitas Menangis keras,
Tidak ada Gerakan sedikit
terhadap Rangsang bersin, atau batuk
Badan merah, Seluruh tubuh
Warna Kulit Biru, pucat
ekstremitas biru kemerah-merahan
Nilai Apgar 1 Menit Nilai Apgar 5 Menit
8-10 Normal 8-10 Normal
5-7 Depresi sistem saraf 0-7 Berisiko tinggi untuk
Depresi berat, timbul disfungsi sistem
0-4 membutuhkan resusitasi saraf pusat dan organ
cepat lainnya

Pemeriksaan Penunjang

- Elektrokardiografi
Pemeriksaan ektrokardiografi (EKG) bertujuan untuk merekam aktivitas listrik
jantung. Elektrokardiogram adalah hasil rekaman aktivitas listrik jantung. Bentuk
garis yang naik dan turun pada elektrokardiogram disebut gelombang (wave).
EKG pada orang dewasa hanya menggunakan 6 elektroda tetapi pada bayi dan
anak ada penggunaan tambahan elektroda, yaitu V3R, V4R dan V7. Pemeriksaan
ini dapat membantu untuk menentukan diagnosis kelainan pada jantung. Dari hasil
EKG pada pasien neonatus tersebut, didapatkan adanya sinus takikardia,
dengan axis 120, dan tidak ada hipertrofi jantung.
- Foto Rontgen Thorax

5
Foto rontgen thorax PA dapat dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan
jantung ataupun paru. Adanya suatu kondisi kardiomegali dapat diketahui dengan
melakukan pengukuran cardiothoracic ratio (CTR). Pada orang dewasa, nilai
normal CTR adalah kurang dari 50%, sedangkan pada bayi dan anak-anak nilai
normal CTR adalah kurang dari 55%. Bayi ataupun anak yang memiliki nilai CTR
55% dapat dikatakan suspek kardiomegali, sedangkan apabila nilai CTR sudah
melebihi 55%, maka dapat dikatakan bahwa pasien tersebut mengalami
kardiomegali.
Pada kasus ini, nilai CTR pasien neonatus tersebut adalah sebesar 55%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut suspek kardiomegali. Selain itu
didapatkan juga tampak adanya peningkatan pulmonary blood flow tanpa
pembesaran ventrikel. Hal ini berarti menunjukkan adanya kemungkinan patensi
suatu duktus yang menyebabkan berlebihnya aliran darah ke arteri pulmonalis.
- Ekokardiografi
Ekokardiografi dilakukan untuk mengetahui adanya suatu defek di lokasi tertentu
pada jantung, arah dan gradien aliran, perkiraan tekanan ventrikel kanan dan
pulmonal, gambaran beban volume ventrikel kiri, dan beberapa kelainan lainnya.
- Kateterisasi Jantung
Kateterisasi jantung dapat digunakan untuk menentukan tekanan serta resistensi
dari pembuluh darah jantung, reversibilitas resistensi dengan menggunakan
oksigen, kadar nitric oxide, prostaglandin atau adenosin, dan untuk mengukur
saturasi oksigen.

Diagnosis Kerja
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan, maka diagnosis yang didapat dari pasien tersebut adalah neonatus kurang
bulan sesuai masa kehamilan (NKB-SMK) dan pasien tersebut didiagnosis menderita
penyakit jantung bawaan asianotik et causa suspek duktus arteriosus paten/patent ductus
arteriosus (PDA).

Diagnosis Banding

6
Selain penyakit jantung bawaan asianotik tipe duktus arteriosus paten, beberapa
penyakit jantung bawaan asianotik lain yang dapat dijadikan sebagai diagnosis banding
antara lain:

- Defek Septum Atrium


Defek septum atrium atau lebih dikenal sebagai atrial septal defect (ASD) adalah
suatu kondisi di mana terdapat suatu lubang pada sekat atrium yang menyebabkan
hubungan antara atrium kanan dan kiri. Kasus ini sulit terdeteksi pada masa bayi atau
anak-anak karena bising jantung yang tidak mudah didengar dan lebih sering bersifat
asimtomatik.2 Berdasarkan variasi kelainan anatominya, ASD diklasifikasikan
menjadi:
1. Defek Septum Atrium Primum
Kondisi ini disebabkan oleh gangguan pada perkembangan tepi bawah sekat
primum yang disertai dengan kelainan perkembangan bantalan endokardium,
sehingga tidak mempunyai jaringan sekat atrium tepi inferior.3 Insidensi ASD
primum ini adalah sekitar 30% kasus dari seluruh tipe ASD.2
2. Defek Septum Atrium Sekundum
ASD tipe ini merupakan suatu defek pada bagian sentral sekat yang berhubungan
dengan foramen ovale sebagai akibat dari penutupan yang tidak adekuat sekat
sekundum ke atas lubang sentral pada sekat primum, yang sebenarnya lebih tepat
disebut sebagai defek fossa ovalis.3 ASD sekundum merupakan tipe ASD yang
paling sering terjadi, yaitu berkisar 70% kasus ASD yang ada.2
3. Defek Sinus Venosus
Tipe ASD ini terdapat dalam bagian superior sekat atrium dan biasanya meluas ke
dalam vena cava superior.3

Bayi dan anak-anak dengan ASD umumnya tidak menunjukkan gejala dan
biasanya ASD diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan kesehatan rutin.
Namun pada beberapa kasus, anak dengan ASD memiliki berat badan yang rendah,
mengalami sesak nafas, dan sering mengalami infeksi pada saluran nafas atas. Bayi
dan anak-anak dengan defek yang besar dapat menunjukkan gejala-gejala gagal
jantung kongestif, terutama jika mereka memiliki jejas yang berkaitan seperti duktus
arteriosus paten, atau penyakit paru.4

- Foramen Ovale Paten

7
Foramen ovale paten, dikenal juga sebagai patent foramen ovale (PFO) merupakan
suatu kondisi di mana foramen ovale, celah antara septum primum dan sekundum
pada lokasi fossa ovalis, tidak menutup dan tetap terbuka setelah dilahirkan.3
Pada beberapa bayi, walaupun hubungan tekanan atrium normal tetap terjadi
sesudah lahir, katup foramen ovale tidak secara sempurna menutupi foramen ovale
karena terlalu pendek atau karena foramen ovale telah membesar dan melebar pada
bayi yang mengalami peningkatan tekanan dan volume atrium kiri, seperti pada
duktus arteriosus paten, defek sekat ventrikel (VSD), atau obstruksi saluran keluar
ventrikel kiri yang disebabkan oleh stenosis aorta.3
Manifestasi klinis yang ditemukan pada PFO tanpa penyakit jantung bawaan
umumnya tidak ada, namun adanya foramen ovale paten dengan pirau kanan-ke-kiri
harus dipertimbangkan pada bayi dengan sianosis generalisata.5
- Stenosis Pulmonal
Stenosis pulmonal menyumbang sekitar 10% kasus penyakit jantung kongenital dan
tipe-tipe yang dapat terjadi berupa valvar, subvalvar, atau supravalvar. Stenosis
pulmonal terjadi akibat gagalnya perkembangan, pada awal gestasi, dari 3 daun katup,
insufisiensi dari resorpsi jaringan infundibulum, dan insufisiensi dari kanalisasi arteri
pulmonalis perifer.6
Gejala yang ditimbulkan bergantung dari derajat obstruksi yang ada. Stenosis
pulmonal yang ringan umumnya asimtomatik. Stenosis pulmonal yang sedang dan
berat dapat menyebabkan sesak nafas dan mudah mengalami kelelahan. Bayi-bayi
yang mengalami stenosis yang berat dapat menimbulkan gejala dan bahkan
mengalami sianosis akibat adanya pirau kanan-ke-kiri pada atrium.6 Anak dengan
stenosis yang berat (tekanan ventrikel kanan lebih besar daripada sistemik) harus
menjalani valvuloplasti pulmonal dengan balon atau bila hal tersebut tidak bisa
dilakukan, maka harus dilakukan valvotomi pulmonal.3

Pengertian Duktus Arteriosus Paten


Selama kehidupan janin, kebanyakan dari darah arteri pulmonal dialirkan melalui
duktus arteriosus ke dalam aorta. Penutupan fungsional duktus arteriosus normalnya terjadi
segera sesudah lahir, tetapi jika duktus tetap terbuka ketika tahanan vaskuler pulmonal turun,
darah aorta dialirkan ke dalam arteri pulmonalis (lihat gambar 1). Duktus arteriosus paten
merupakan kelainan jantung kongenital yang paling sering terjadi akibat infeksi Rubella ibu

8
selama awal kehamilan dan merupakan
masalah yang sering terjadi pada unit
perawatan intensif neonatus, di mana ia
mempunyai beberapa sekuele besar pada
bayi prematur.7
Pada bayi cukup bulan yang
menderita duktus arteriosus paten,
ditemukan adanya defisiensi lapisan
endotelial mukoid maupun media muskuler
duktus. Namun, pada bayi prematur,
Sumber: www.health-writings.com
duktus paten biasanya memiliki struktur
Gambar 1. Sirkulasi Darah pada Jantung Normal
anatomi yang normal: pada bayi ini,
dan Sirkulasi Darah pada Jantung dengan Duktus
Arteriosus Paten. patensi duktus disebabkan oleh karena
hipoksia dan imaturitas. Dengan demikian,
duktus arteriosus paten yang menetap sesudah umur beberapa minggu pertama pada bayi
cukup bulan jarang menutup secara spontan, sedangkan pada bayi prematur, jika intervensi
farmakologis atau bedah awal tidak diperlukan, penutupan spontan dapat terjadi pada
sebagian besar kasus.7

Etiologi dan Faktor Risiko


Mekanisme yang menyebabkan patensi duktus disebabkan oleh ketidakmampuan
duktus arteriosus pada bayi prematur untuk berespons secara normal pada peningkatan
tekanan oksigen dan terhadap perubahan kadar prostaglandin.3
Patensi duktus arteriosus pada bayi cukup bulan yang dilahirkan di tempat tinggi, di
mana insidennya lebih besar bila dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan pada ketinggian
permukaan laut, kemungkinan disebabkan oleh tekanan oksigen atmosfer yang lebih rendah.
Sedangkan patensi duktus pada bayi cukup bulan dan kadang-kadang bayi kurang bulan yang
dilahirkan pada ketinggian yang lebih rendah biasanya terjadi karena kelainan struktur duktus
arteriosus itu sendiri.3
Beberapa kelainan kromosom memiliki kaitan dengan patensi duktus arteriosus.
Beberapa implikasi teratogenik yang terlibat meliputi infeksi Rubella kongenital pada
trimester pertama kehamilan, sindroma alkohol pada janin, penggunaan amfetamin ibu, dan
penggunaan fenitoin ibu.8

9
Prematuritas bayi pada saat persalinan berkontribusi pada patensi dari duktus
arteriosus. Beberapa faktor yang terlibat meliputi ketidakmatangan otot polos dalam struktur
duktus arteriosus atau ketidakmampuan paru-paru yang belum matang dalam membersihkan
sisa-sisa prostaglandin dari masa kehamilan yang masih beredar.8
Penyebab-penyebab lain yang mungkin dapat menyebabkan patensi duktus meliputi
berat badan lahir (BBL) rendah dan hipoksia.8

Epidemiologi
Duktus arteriosus paten yang nyata secara klinis dapat ditemukan pada 30-40% bayi
yang dilahirkan prematur dengan berat badan di bawah 1750 gram; insiden kira-kira adalah
sekitar 8 per 1000 kelahiran hidup.3 Penderita wanita melebih penderita laki-laki dengan
perbandingan 2:1.7

Patofisiologi7
Sebagai akibat tekanan aorta yang lebih tinggi, aliran darah melalui duktus arteriosus
berjalan dari aorta ke arteri pulmonalis. Luasnya pirau bergantung pada ukuran duktus dan
rasio tahanan vaskuler pulmonal dan sistemik. Pada kasus yang ekstrem, 70% dari curah
ventrikel kiri dapat dialirkan melalui duktus ke sirkulasi pulmonal. Pada duktus arteriosus
paten kecil, tekanan dalam arteri pulmonalis, ventrikel kanan, dan atrium kanan akan bersifat
normal. Namun pada duktus arteriosus paten yang besar, tekanan arteri pulmonalis dapat
meningkat ke tingkat sistemik selama sistole dan diastole, sehingga penderitanya berisiko
mengalami penyakit vaskuler pulmonal jika dibiarkan dan tidak dioperasi. Adanya tekanan
nadi yang lebar diakibatkan karena kebocoran darah ke dalam arteri pulmonalis selama
diastole.

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis bergantung pada besarnya pirau kiri-ke-kanan melalui duktus
arteriosus, juga pada usia dan maturitas bayi. Bayi yang terlahir prematur kurang mampu
mengatasi pirau dibandingkan dengan bayi yang lahir secara matur sehingga pada bayi
prematur gejala dimulai cukup dini, dan dengan pirau yang relatif kecil. Pada bayi prematur
yang memiliki berat badan lahir kurang dari 750 gram dapat mengalami sindrom gawat napas
idiopatik. Kegagalan ventrikel kiri sekunder akibat duktus arteriosus paten dapat terjadi
menumpang pada sindrom gawat napas idiopatik pada bayi prematur dengan berat kurang
dari 1000 gram. Sebagian besar bayi prematur dengan berat 1000-1250 gram yang memiliki

10
duktus arteriosus paten yang besar memiliki tekanan nadi yang lebar dengar nadi melambung
yang nyata, hiperaktivitas prekordial yang jelas, takikardia, dan seringkali ditemukan irama
gallop. Komponen pulmonal bunyi kedua biasanya menguat.3
Pada kasus duktus arteriosus paten dengan defek yang besar dapat menyebabkan
terjadinya gagal jantung kongestif yang serupa dengan gagal jantung kongestif pada bayi
dengan defek septum ventrikel.7 Selain itu juga dapat menyebabkan kesulitan makan dan
pertumbuhan yang buruk selama masa bayi, ditandai sebagai gagal tumbuh.8 Duktus
arteriosus dengan pirau kiri-ke-kanan yang sedang hingga besar dapat menyebabkan suara
parau, batuk, infeksi saluran nafas bawah, atelektasis, atau pneumonia.8
Bayi dengan duktus arteriosus paten yang berusia 3 hingga 6 minggu dapat memiliki
gejala berupa takipnea, diaforesis, kesulitan dalam menyusu, dan mengalami penurunan atau
tidak ada kenaikan berat badan.8

Penatalaksanaan Farmakologis
Penatalaksanaan farmakologis yang dapat dilakukan pada pasien dengan duktus
arteriosus paten adalah dengan memberikan obat-obatan penghambat siklooksigenase (COX)
seperti indomethacin dan ibuprofen. Obat-obatan penghambat COX menginduksi konstriksi
dan penutupan duktus dengan menghambat sintesis dan pelepasan dari prostaglandin, yang
memiliki peran besar dalam menjaga patensi duktus selama kehidupan janin. Pada pasien
dengan duktus arteriosus paten yang simtomatik, dapat juga diberikan obat-obatan diuretik.9
Indomethacin memiliki efek penghambat COX-1 yang lebih kuat, sehingga
penggunaannya dapat memberikan efek samping terhadap saluran pencernaan, otak, dan
ginjal yang tidak terduga. Sedangkan ibuprofen memiliki efek penghambat COX-1 yang
lemah, sehingga efek vasokonstriksi terhadap organ vital ini juga kurang begitu kuat.10
Profilaksis dapat dilakukan dengan indomethacin sebagai pilihan obatnya,
dikarenakan ibuprofen kurang efektif dalam membuat penutupan dari duktus. Namun,
ibuprofen lebih disukai karena tingkat toksisitasnya lebih aman dibandingkan dengan
indomethacin.10

Penatalaksanaan Non Farmakologis


Penatalaksanaan non farmakologis meliputi terapi konservatif dan tindakan
pembedahan. Terapi konservatif meliputi restriksi cairan, pemantauan secara berkala dan
dengan menggunakan alat bantu ventilator, namun tindakan ini memiliki rasio kegagalan
yang tinggi terutama pada bayi dengan berat badan yang rendah.10

11
Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan untuk menangani duktus arteriosus paten
meliputi tindakan ligasi ataupun kombinasi dari ligasi dan pembagian duktus arteriosus
dengan menggunakan clip bedah atau benang jahit yang nonabsorbable. Video-assisted
thoracoscopic surgery (VATS) dapat dilakukan untuk mempermudah dokter bedah untuk
melakukan ligasi yang aman dan efektif dengan tindakan invasif yang minimal.11
Tindakan bedah biasanya diindikasikan sebagai pilihan terakhir penatalaksanaan
terhadap pasien yang tidak dapat ditangani dengan penanganan farmakologis. Berdasarkan
literatur yang ada, tidak ada perbedaan antara efek dari tindakan bedah dan farmakologi
terhadap mortalitas saat pasien menjalani rawat inap. Namun, tindakan ligasi bedah memiliki
kaitan dengan risiko tinggi untuk terjadinya dysplasia bronkopulmonal, penurunan
neurosensorik, retinopati berat pada prematuritas, pneumothorax, infeksi, paralisis nervus
laryngeus, penutupan yang salah dari nervus phrenicus atau pembuluh-pembuluh darah besar
lain, dan terganggunya sistem pernapasan.11 Sehingga dapat disimpulkan bahwa tindakan
bedah hanya dijadikan sebagai pilihan terakhir dalam menangani duktus arteriosus paten.

Komplikasi8
Komplikasi pada pasien duktus arteriosus paten yang tidak tertangani meliputi
endokarditis bakterialis, gagal jantung kongestif, dan perkembangan penyakit obstuksi
vaskular pulmonal. Duktus arteriosus paten juga dapat menimbulkan komplikasi lain berupa:

- Ruptur aorta
- Fisiologi Eisenmenger
- Gagal jantung kiri
- Iskemia miokardium
- Enterocolitis nekrosis
- Hipertensi pulmonal
- Hipertrofi jantung kanan dan gagal jantung kanan

Prognosis8
Prognosis umumnya dianggap sangat baik pada pasien yang hanya memiliki masalah
duktus arteriosus paten. Pada bayi prematur dengan gejala-gejala lainnya dari prematuritas,
gejala lain ini cenderung mendikte prognosis dari pasien duktus arteriosus paten.

12
Kesimpulan
Duktus arteriosus paten merupakan masalah kongenital yang umumnya lebih sering
terjadi pada bayi yang terlahir secara prematur dibandingkan dengan bayi yang terlahir
dengan cukup bulan. Bila ditangani secara tepat, maka pasien dengan duktus arteriosus paten
akan memiliki prognosis yang lebih baik. Namun, bila tidak ditangani, pasien duktus
arteriosus akan cenderung menimbulkan komplikasi yang serius.

Daftar Pustaka

1. Abdurrahman N, Markum HMS, Suwondo A, Rani HAA, Harun S, Manurung D,


dkk. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2005. h.11-8.
2. Wahab AS. Kardiologi anak: penyakit jantung kongenital yang tidak sianotik. Jakarta:
EGC; 2009. h.11, 14-5.
3. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD. Buku ajar pediatri Rudolph. Edisi ke-20.
Volume 3. Jakarta: EGC; 2007. h. 1608, 1615, 1635.
4. Carr MR. Pediatric atrial septal defects (cited, 2015 September 12). Available from
url:http://emedicine.medscape.com/article/889394-clinical.
5. Love BA. Pediatric patent foramen ovale atrial septal defects (cited, 2015 September
12). Available from url:http://emedicine.medscape.com/article/894483-clinical.
6. Marcdante KJ, Kliegman RM. Nelson essentials of pediatrics. 7th ed. Philadelphia:
Elsevier; 2015. p.494.
7. Kliegman RM, Stanton BMD, Geme JS, Schor N, Behrman RE. Nelson textbook of
pediatrics. 19th ed. Philadelphia: Elsevier; 2011. p.1582.
8. Kim LK, Milliken JC, Berger S. Patent ductus arteriosus (cited, 2015 September 12).
Available from url: http://emedicine.medscape.com/article/891096-overview.
9. Mezu-Ndubuisi OJ, Agarwal G, Raghavan A, Pham JT, Ohler KH, Maheshwari A.
Patent ductus arteriosus in premature neonates. Drugs 2012;72(7):907-916.
10. Sekar KC, Corff KE. Treatment of patent ductus arteriosus: indomethacin or
ibuprofen?. J Perinatol 2008;28:S60-S62.
11. Dice JE, Bhatia J. Patent ductus arteriosus: an overview. J Pediatr Pharmacol Ther
2007;12(3):138-146.

13