Anda di halaman 1dari 33

BAHAN BAKU DAN BAHAN PENDUKUNG UTAMA Formatted: Font: Bold, Indonesian

Bahan Baku Formatted: Font: Bold, Indonesian


Eucalyptus
Tanaman Eucalyptus adalah sejenis pohon dari Australia. Ada lebih dari 700 spesies dari
Eukaliptus, kebanyakan asli dari Australia, dengan beberapa dapat ditemukan di Papua
Nugini dan Indonesia dan juga sampai Filipina.adalah kayu yang ditanam dan dikembangkan oleh
perusahaa Tanaman Eucalyptus berserat pendek dan dikelompokkan dalam tanaman pohon dengan
struktur tanaman yang keraskayu keras. Dalam pengolahan di pabrik dipisahkan karena tanaman
secara homogen sehingga mudah dikelompoEucalyptus hybrid adalah Eucalyptus yang
dikembangkan oleh perusahaan dari hasil kloning grandis dengan urophylla yang memiliki ciri-
ciri lebih menguntungkan, yaitu kulit tipis, mudah lepas dan lebih mudah hancur dibanding yang
lain.

Kayu yang akan diolah menjadi pulp adalah kayu Eucalyptus hybrid berusia 5 tahun. Kayu akan
dipanen dari setiap sektor dan kemudian akan dibawa ke lokasi pulp mill untuk diolah menjadi
pulp. Sebelum memasuki tahap persiapan kayu atau perlakuan awal, gelondongan kayu yang telah
dipanen dari sektor maupun yang telah dijemur beberapa hari dipastikan kualitasnya. Adapun
spesifikasi kayu yang diinginkan berasal dari pohon dengan tinggi maksimal 5 meter, diameter
batang maksimum 0,8 m dan minimum 0,1 m, batang pohon tidak lapuk dan terbakar. Batang
pohon yang ditimbun di lapangan harus memenuhi aturan berikut, yang pertama: masuk ke pabrik
harus diproses terlebih dahulu dengan rapi, dimana kayu disusun berdasarkan jenis atau kelompok.
Pengelompokkan timbunan kayu diatur berdasarkan ukuran kayu, yaitu kayu panjang dan kayu
pendek. Timbunan kayu juga dikelompokkan berdasarkan berkulit dan tidak berkulit.

Bahan Pendukung Utama


Dalam industri pulp (bubur kayu) chemical plant adalah pabrik pendukung yang Formatted: Font: Italic

memproduksi bahan kimia untuk mendukung proses produksi pulp, Power Plants dan Effluent
Treatment Plant di PT. Toba Pulp Lestari, Tbk. Konsumsi produk dari chemical plant ini Formatted: Font: Not Italic

paling banyak digunakan pada fiberline. adalah pabrik terintegrasi di mana di dalamnya Formatted: Font: Not Italic

terdapat unit-unit plant yang memproduksi berbagai jenis bahan kimia. Formatted: Indonesian
Bahan baku yang digunakan di Chemical Plant ada dua jenis, bahan baku utama dan bahan
pendukung baku tambahan. Bahan baku utama Chemical Plant:
1. Garam (NaCl)

2. Sulfur padat (S)

3. Udara

Sedangkan bahan baku tambahan adalah sebagai berikut:

1. Soda ash (Na2CO3)

2. Flocculant

3. Asam sulfat (H2SO4) pekat 98%

4. Natrium Dichromate (NaCr2O7)

Bahan kimia utama yang diproduksi plant adalah klorin dioksida (ClO2), natriumsodium
hidroksida (NaOH), klorin (Cl2), oksigen (O2) dan sulphur dioxide (SO2). Produk
sampingannya adalah natrium hipokloritsodium hypochlorite (NaOCl), asam klorida (HCl),
nitrogen (N2) dan hidrogen (H2). Produksi pulp menggunakan paling banyak bahan kimia
pada proses bleaching. Instalasi pengolahan air Water treatment plant juga menggunakan
natriumsodium hidroksida dan asam klorida untuk regenerasi ion exchanger dan telah
menggunakan sodium hypochlorite untuk kontrol pertumbuhan bakteri. Namun, ada juga yang
digunakan dalam internal chemical plant itu sendiri sebagai pendukung proses produksi.
Produk dan penggunaannya dapat disimak pada Tabel 1.1.
Tabel 1.2 Produk Chemical Plant dan Pendistribusiannya

(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)


Tabel 1. 1 Produk Chemical Plant dan Pendistribusiannya
(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)
Produk Unit Pengguna Formatted: Indonesian

Sodium Hidroksida (NaOH) Bleaching plant, Incinerator, Water treatment, Formatted: Indonesian

Konsumsi internal
Klorin (Cl2) Instalasi sintesis asam kloridaHCl synthesis unit Formatted: Indonesian

Hidrogen (H2) Instalasi sintesis asam kloridaHCl synthesis unit Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Sodium Hipoklorit (NaOCl) Pengolahan airWater treatment
Formatted: Indonesian
Klorin Dioksida (ClO2) Bleaching plant Formatted: Indonesian
Asam Klorida (HCl) ClO2 Plant, Bleaching plant, Brine treatment, Water Formatted: Indonesian

treatment Formatted: Indonesian


Formatted: Indonesian
Sulfur Dioksida (SO2) Bleaching plant, Pulp machine, Anolyte treatment
Formatted: Indonesian
Oksigen (O2) Bleaching plant
Formatted: Indonesian
Nitrogen (N2) Purging in chemical plant (ClO2 plant, HCl synthesis Formatted: Indonesian
unit, Chlor alkali cell Formatted: Centered, Keep with next

Formatted: Indonesian
Secara garis besar chemical plant dibagi atas 2 seksi yaitu: Formatted: Table of Figures, Space After: 0 pt, Line
spacing: single
1. Chlor Alkali Plant
2. Chlorine Dioxide Plant

1. Chlor Alkali Plant

Produksi utama chlor alkali plant adalah caustic (NaOH) 32% dari bahan baku NaCl yang
melalui beberapa tahapan proses. Chlor alkali plant terdiri dari beberapa plant di dalamnya, Formatted: Indonesian

antara lain:
a. Brine treatment

b. Chlor alkali cell electrolyzer


c. Chlorine treatment

d. Hypo plant

e. Sulfur dioxide plant

f. PSA Unit (Oxygen and Nitrogen plant)

A. Brine Treatment

Brine treatment ialah penanganan terhadap larutan garam (brine) yang bertujuan untuk
menghasilkan larutan garam dengan kadar impurities sekecil mungkin atau sesuai dengan
standar yang diizinkaan. Adanya impurities dalam larutan garam dapat merusak membran
di chlor alkali cell electrolyzers, berikut adalah batasan kadar impurities dalam larutan
garam yang ditetapkan:
Ca dan Mg : < 30 ppb Formatted: Indonesian

ClO3 : < 20 gpl Formatted: Indonesian

SO4 : 5 10 gpl Formatted: Indonesian

Excess CO3 : 0,3 0,7 gpl Formatted: Indonesian

Excess OH : 0,25 0,8 gpl Formatted: Indonesian

Brine concentration : 290 320 gpl Formatted: Indonesian


Formatted: Indonesian
Brine treatment dibagi menjadi 3 proses utama:

1. Primary Treatment

Perlakuan primer (primary treatment) terdiri atas 4 proses:

a. Salt dissolver
Gambar 3.1 Salt Dissolver
Gambar 1. 1 Salt Dissolver
(Dokumentasi Praktek Kerja, 2017)
Garam padat dilarutkan dalam kolam yang disebut salt dissolver untuk
mendapatkan larutan garam dengan konsentrasi 290 325 gpl. Garam dilarutkan
dengan demineralized water (air demineralisasi) dan steam untuk meningkatkan
temperatur air agar garam lebih mudah terlarut. Weak brine sisa elektrolisis juga
dikembalikan ke salt dissolver dengan penambahan SO2 dan NaOH. SO2
ditambahkan untuk menghilangkan klorin (Cl2). Penambahan NaOH dilakukan
untuk mengontrolkontrol pH, sehingga pH brine naik menjadi 9-11.
b. Tangki Persiapan

b. Precipitation Tank

Dalam precipitation tanktangka persiapan, ketidakmurnianimpurities (Ca, Mg,


ClO3, SO4, dsb.) yang larut dalam larutan garam direaksikan dengan soda
ashnatrium karbonat (Na2CO3).

c. Settler

KetidakmurnianImpurities yang telah bereaksi dengan Na2CO3 diendapkan dalam


settler dengan bantuan flocculant yang ditambahkan ke larutan garam sebelum
masuk settler. Fungsi flocculant di sini yaitu untuk mempercepat proses
pengendapan impurities.
d. Gravel Filter

Partikel impurities yang tidak mengendap disaring dalam gravel filter. Media
filter yang digunakan ialah pasir karbon. Filter yang sudah jenuh dibersihkan
dengan cara back wash menggunakan air demin dan udara.

Gambar 1. 2 Diagram Alir Proses Primary dan Secondary Treatment


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2016)

2. Perlakuan SekunderSecondary Treatment

Pemurnian larutan garam dengan menggunakan resin di penukar ion ion exchanger untuk
memastikan larutan garam layak untuk masuk proses selanjutnya.
a. Ion Exchanger (Penukar Ion)

Penukar ion yang digunakan di sini ialah penukar kation. Penukar kation berisi resin dengan
tangan terluar Na+. Prinsip kerjanya ialah resin mengikat ion Ca2+ dan menggantinya dengan
ion Na+. Reaksi yang terjadi:
Ca2+ + R-Na R-Ca + Na+

Semakin lama digunakan, resin semakin jenuh dengan ion Ca2+, sehingga perlu dilakukan
regenerasi agar resin dapat digunakan kembali. Regenerasi resin dilakukan dengan
menggunakan HCl 32% dan NaOH 10%.
Reaksi regenerasi resin:

R-Ca + 2 HCl R-H + CaCl2 3-


2 R-H + 2 NaOH 2 R-Na + 2 H2O 3-

Gambar 1. 3 Penukar Kation


(Dokumentasi Praktek Kerja, 2017)

b. Tangki Anak Garam Murni

b. Pure Brine Baby Tank

Larutan garam ditambahkan HCl untuk menurunkan pH menjadi 5-6 karena sel elektrolisis
bekerja pada rentang pH tersebut.

b.c. Pure Brine Tank

Penyimpanan larutan garam sebelum masuk ke proses selanjutnya.


3. Anolyte Treatment

Merupakan penanganan terhadap weak brine (200-260 gpl) dalam anolyte hasil elektrolisis.
Anolyte terdiri dari weak brine dan gas klorin, setelah melewati anolyte separator gas klorin
terpisah menuju chlorine treatment sedangkan weak brine dan klorin yang masih terlarut
masuk ke dechlorination tank. Dalam dechlorination tank, weak brine direaksikan dengan
HCl untuk melepaskan gas klorin yang terikat. Dalam weak brine klorin terikat membentuk
senyawa NaOCl, yang bila ditambahkan dengan HCl akan terjadi reaksi sebagai berikut:
2 NaOCl + 2 HCl NaCl + NaOCl + Cl2 + H2O

Weak brine di-stripping dengan udara untuk membebaskan gas klorin (Cl2) dan
mengeluarkannya dalam bentuk sniff gas. Weak brine dialirkan kembali ke salt dissolver
dengan penambahan NaOH dan SO2 untuk memastikan tidak ada lagi gas klorin, karena gas
klorin dapat merusak resin dalam ion exchanger.

Gambar 1. 4 Diagram Alir Proses Anolyte Treatment


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)
B. Chlor Alkali Cell Electrolyzer

Larutan garam dielektrolisis dalam sel elektrolisis bermembran. Bahan membran ialah
perflouro polymer. Membran dalam sel dapat dilewati ion Na+ tetapi tidak dapat dilewati
ion Cl-. Dalam sel terdapat anoda dari bahan titanium sedangkan katoda dari bahan nikel.
Pure brine (290 320 gpl NaCl) masuk ke bagian anoda dan terelektrolisis menjadi ion
Na+ dan Cl-. Ion Na+ melewati membran masuk ke bagian katoda. Di anoda ion klorida
(Cl-) dioksidasi menjadi gas klorin (Cl2). Caustic (NaOH) 29 30 % masuk ke bagian
katoda, di katoda yang terelektrolisis ialah air (H2O) menjadi ion H+ dan OH-. Ion Na+ dari
anoda yang melewati membran bereaksi dengan OH- membentuk NaOH, sehingga kadar
NaOH meningkat menjadi 31 32%. Sedangkan ion H+ tereduksi menjadi gas hidrogen
(H2). Berikut reaksi yang terjadi di anoda dan katoda:
Gambar 1. 5 Diagram Alir Proses Chlor Alkali Cell Electrolyzer
(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)

Produk dari bagian anoda disebut dengan anolyte yang mengandung weak brine (200 260
gpl NaCl) dan gas klorin (Cl2). Dari anoda, anolyte masuk ke anolyte header dan dipisahkan
di anolyte separator. Weak brine dialirkan ke dechlorination tank, sedangkan gas klorin
menuju chlorine treatment. Produk katoda disebut dengan catholyte yang mengandung NaOH
32% dan gas hidrogen (H2). Catholyte dari katoda masuk ke catholyte header, dipisahkan di
catholyte separator, NaOH 32% didinginkan lalu masuk ke NaOH storage tank, sedangkan
H2 didinginkan dan menuju HCl burner.
Gambar 1. 6 Chlor Alkali Cell Electrolyzer
(Dokumentasi Praktek Kerja, 2017)

C. Chlorine Treatment
Proses chlor alkali menghasilkan gas klorin sebagai hasil sampingnya, tetapi gas klorin
termasuk gas yang berbahaya dan beracun bila dihirup sehingga gas ini tidak dapat dibuang
begitu saja karena akan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan kerja. Oleh karena
itu di Chemical Plant PT Toba Pulp Lestari, Tbk. gas klorin tidak dibuang melainkan dibakar
dengan gas hidrogen membentuk HCl. Namun, sebelumnya gas klorin harus melalui
treatment terlebih dahulu untuk membentuk klorin cair. Gas klorin dari anolyte separator
bersifat basah karena masih bercampur dengan air dari anolyte. Gas klorin basah memiliki
sifat yang sangat korosif, jadi tujuan utama chlorine treatment ialah mengeringkan gas klorin
untuk menurunkan korosifitas gas klorin. Pengeringan dilakukan dengan H2SO4 98% dalam
dua 2 drying column yang disusun seri. Sifat H2SO4 yang higroskopis dapat dengan baik
menyerap air dalam gas klorin.

Klorin dan asam sulfat pekat dikontakkan dalam kolom bahan isian (packed column) dengan
jenis packing berbentuk saddle berbahan pvc. Gas klorin masuk dari bawah menara
sedangkan asam sulfat dari atas menara. Gas klorin kering dihisap oleh Cl2 compressor,
masuk ke liquefier lalu disimpan dalam Cl2 storage (penyimpan gas klorin). Klorin dari Cl2
storage diuapkan oleh evaporator menuju 550 header menuju HCl burner. Namun, saat ini
proses pencairan klorin tidak dilakukan sehingga gas klorin dari compressor langsung
dialirkan ke 550 header. Gambaran proses pada chlorine treatment dilihat pada Gambar 1.7.

Gambar 1. 7 Diagram Alir Proses Chlorine Treatment


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)
C. Hypo Plant

Gambar 1. 8 Diagram Alir Proses Hypo Plant


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)
Hypo plant disebut sebagai environment plant di chemical plant karena fungsinya yang
menyerap semua sniff gas (klorin sisa) dari chemical plant dan direaksikan dengan NaOH di
Cl2 scrubber untuk membentuk sodium hipoklorit (NaOCl). Natrium Sodium hipoklorit
dipakai di unit water treatment untuk pengolahan air.
Reaksi pembentukan sodium hipoklorit:

Cl2 + 2 NaOH NaOCl + NaCl + H2O

Terdapat 2 unit scrubber yang dipasang secara seri. Scrubber berupa menara bahan isian dengan
bahan isian jenis saddle, dengan material pvc. Produk sodium hipoklorit harus mengandung
excess NaOH berlebih sebesar 5 10 gpl, NaOH < 5 gpl akan terjadi reaksi dekomposisi,
sedangkan bila NaOH >10 gpl menjadi tidak ekonomis. Sniff gas dari seluruh plant di chemical
plant langsung masuk ke Cl2 scrubber dari bagian bawah, sedangkan NaOH masuk ke weak
hypo tank terlebih dahulu setelah itu dikontakkan dengan gas Cl2 dari atas scrubber. Kontak
NaOH dan gas klorin terjadi secara counter current. Keluaran scrubber tersebut masuk ke weak
hypo tank, lalu disirkulasikan lagi ke scrubber sampai tercapai konsentrasi yang diinginkan dan
disimpan dalam hypo storage.

D. Sulphur Dioxide Plant


Pengolahan gas sulfur dioksidasulphur dioxide (SO2) merupakan salah satu bagian proses
produksi di pabrik kimia yang menghasilkan larutan sulphur dioxide. Proses produksi gas
SO2 dilakukan dalam enam tahap utama, yaitu:
1. Pencairan Sulfur

2. Pembakaran Sulfur

3. Pendinginan pertama gas hasil pembakaran dalam menara pendingincooling tower

4. Pendinginan kedua gas hasil pembakaran dalam SO2 cooler

5. Penyerapan hasil pembakaran dengan SO2 absorber

6. Penyimpanan larutan SO2

6.
Gambar 1. 9 Diagram Alir Proses Sulphur Dioxide Plant
(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)
Pertama, sulfur dalam bentuk granule dimasukkan ke dalam melter pada suhu antara 126 -
133 oC untuk mencairkan sulfur. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemompaan sulfur.
Selanjutnya sulfur dipompakan masuk ke sulfur burner, disini sulfur dibakar dengan
mereaksikan sulfur cair dengan oksigen dari udara pada temperature pembakaran 400 600
o
C. Pembakaran mengunakan Fuel oil untuk starting up. Untuk selanjutnya pada temperatur
tersebut sulfur akan terbakar dengan sendirinya. Reaksi pembakaran sulfur menjadi SO2:
S + O2 SO2

Gas SO2 hasil pembakaran masuk ke cooling tower, dalam proses ini SO2 gas didinginkan
menggunakan cooling water. Cooling water dikontakkan dengan SO2 gas menggunakan
metode spray. SO2 gas (70 72 oC) yang keluar dari cooling tower masuk ke SO2 shell and
tube cooler didinginkan dengan chilled water sampai suhu sekitar 28,3 oC, kemudian masuk
ke absorber tower. Absorber tower berjenis packed bed tower dengan bahan isian berbentuk
saddle. Gas SO2 diabsorbsi dengan chilled water membentuk larutan SO2 kemudian disimpan
dalam storage.
Konsentrasi SO2 di storage berkisar antara 3 7 gpl.
E. PSA Unit

Oxygen Plant

Gambar 1. 10 Diagram Alir Proses Oxygen Plant


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2016)
Produksi oksigen didasarkan pada prinsip PSA (Pressure Swing Adsorbtion). Adsorbent yang
digunakan dalam plant ini adalah molecular sieve dan alumina. Molecular sieve berfungsi
untuk menangkap nitrogen dan melepaskan oksigen untuk masuk ke proses selanjutnya,
sedangkan alumina berfungsi untuk menyerap uap air, karena uap air dapat merusak
molecular sieve. Plant ini terdiri dari tiga adsorber yang bekerja secara bergantian dan diatur
oleh valve. Valve yang digunakan adalah valve otomatis yang bekerja berdasarkan waktu.
Proses kerja unit ini yaitu mula mula udara dihisap oleh kompresor, lalu didinginkan karena
menaikkan tekanan udara akan menaikan suhu juga, kondensat yang terbentuk dipisahkan
dalam separator, kemudian udara masuk adsorber. Dalam adsorber, nitrogen diadsorbsi oleh
molecular sieve, sedangkan oksigen lewat dan masuk ke receiver yang kemudian dialirkan ke
proses bleaching untuk membantu kerja H2O2.

Ketiga adsorber berjalan bergantian, saat adsorber 1 menyerap nitrogen, adsorber 2 regenerasi,
dan adsorber 3 melepaskan oksigen. Regenerasi adsorben dilakukan dengan cara mengalirkan
kembali oksigen ke adsorber untuk melepaskan nitrogen dari adsorben ke atmosfer.
Kemurnian oksigen yang dihasilkan ialah 85-96%.

Nitrogen Plant

Gambar 1. 11 Diagram Alir Proses Nitrogen Plant


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2016)
Proses yang digunakan pada nitrogen plant sama persis dengan yang ada di oxygen plant yaitu
Pressure Swing Adsorbtion (PSA). Adsorbent yang digunakan dalam plant ini juga sama
seperti yang digunakan dalam Oxygen Plant yaitu molecular sieve dan alumina, bedanya
molecular sieve yang digunakan menangkap oksigen dan nitrogen lewat ke proses selanjutnya.
Nitrogen plant hanya memiliki 2 adsorber yang berukuran lebih kecil dari adsorber oksigen,
karena kebutuhan nitrogen yang lebih sedikit disbanding oksigen. Dalam storage nitrogen
terdapat analisa kandungan nitrogen dan oksigen, karena dalam proses purging tidak
diinginkan adanya oksigen. Batas kandungan oksigen (O2) dalam nitrogen (N2) yang
dihasilkan ialah 1-2%.
2. Chlorine Dioxide Plant
Chlorine dioxide (ClO2) adalah bahan kimia utama dalam proses bleaching yang berfungsi
untuk memutihkan pulp. Kebutuhan ClO2 di unit bleaching dipenuhi seluruhnya oleh chlorine
dioxide plant di chemical plant. Chemical plant memiliki dua chlorine dioxide plant dengan
kapasitas berbeda. Plant 1 dengan 16 sel elektrolisis dan plant 2 dengan 40 sel elektrolisis.
Bila unit fiberline memproduksi Toba Cell Pulp (DKP) hanya plant 2 saja yang beroperasi,
tetapi bila memproduksi Toba Pulp (BKP) kedua plant beroperasi dengan kapasitas load
maksimal. Saat ini yang diproduksi ialah Toba Cell Pulp, sehingga hanya plant 2 saja yang
dioperasikan, sedangkan plant 1 standby. Chlorine dioxide terdiri dari beberapa plant yang
saling berhubungan, yaitu:
a. Chlorate Cell Electrolyzer

b. Chlorine Dioxide Genenrator

c. HCl Synthesis Unit

d. Chiller Unit

e. Chlorate Cell Electrolyzer

Proses ini bertujuan untuk memproduksi sodium chlorate (NaClO3) dengan jalan elektrolisis
larutan elektrolit (larutan NaCl). Berbeda dengan sel elektrolisis di chlor alkali plant, sel
elektrolisis ini tidak menggunakan membran. Anoda sel berbahan titanium sedangkan katoda
berbahan carbon steel.

Larutan garam (brine) diumpankan ke dalam electrolyte tank dengan penambahan NaOH dan
HCl untuk mengatur pH. Ke dalam electrolyte tank juga ditambahkan sodium dichromate
(NaCr2O7) untuk membentuk lapisan kromium oksida pada katoda sehingga terlindung dari
korosi. Reaksi yang berlangsung dalam sel elektrolisis:
NaCl + 3 H2O + 6e- NaClO3 + 3 H2

Parameter yang dijaga pada electrolyte tank ialah:

1. pH pada rentang 5,8 6,4 jika pH < 5,8 maka Cl2 meningkat dan mengurangi produksi
NaClO3 jika pH > 6,4 maka O2 akan terbentuk, bila bereaksi dengan H2 akan
mengakibatkan ledakan.
2. Kadar sodium dichromate pada rentang 4 6 gpl. Jika < 4 gpl tidak akan terbentuk
perlindungan korosi pada katoda. jika > 6 g/lpl menjadi tidak ekonomis.

3. Kadar oksigen dijaga pada 2 2,8 % v/v jika melebihi batas tersebut maka akan
terbentuk campuran gas yang dapat mengakibatkan ledakan.
4. Kadar NaClO3 470 540 g/lpl

Gambar 1. 12 Diagram Alir Proses Chlorate Cell Electrolyzer


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2017)

Gambar 1. 13 Chlorate Cell Electrolyzer


(Dokumentasi Praktek Kerja, 2017)
Larutan elektrolit dari electrolyte tank mengalir ke distributed header lalu ke sel elektrolisis,
terjadi reaksi elektrolis, terbentuk NaClO3 dan gas H2. Terbentuknya gas H2 dan panas
(mengakibatkan perbedaan suhu dengan header) membantu cairan untuk naik ke atas menuju
degasifier header lalu kembali ke electrolyte tank. Degasifier header dilengkapi dengan
cooler untuk menurunkan temperatur. Sirkulasi tersebut berjalan terus menerus tanpa
menggunakan pompa untuk mengalirkan larutan elektrolit.

Gas hidrogen yang terbentuk setelah masuk electrolyte tank mengalir ke hydrogen cooler
untuk memisahkan kondensat dari gas hidrogen sebelum menuju HCl burner. Sodium klorat
dari electrolyte tank dipompa menuju generator. Bagian atas electrolyte tank dilengkapi
dengan rupture disc yang berfungsi sebagai safety pressure. Bila terjadi kenaikan tekanan
melebihi batas yang diijinkan, rupture disc akan pecah/rusak sehingga tekanan pada sistem di
dalam electrolyte tank dapat terjaga.
a. Chlorine Dioxide Generator

Gambar 1. 14 Diagram Alir Proses Chlorine Dioxide Generator


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2016)
Sodium chlorate (NaClO3) direaksikan dengan HCl di ClO2 generator membentuk ClO2 gas.
ClO2 generator merupakan reaktor dengan 6 tray, di mana reaksi terjadi pada tray 1 4, tray
5 dan 6 berfungsi sebagai evaporator untuk menguapkan air yang terbentuk. Pada tray 5 dan
6 juga dihembuskan mill air (udara) untuk meluruhkan men-stripping gas produk yang
terbentuk (ClO2 dan Cl2). Uap air dari proses evaporasi di tray 5 dan 6 keluar dari tray 5
menuju vapor condenser. Kondensat yang dihasilkan dialirkan ke ClO2 pump tank karena ada
kemungkinan kondensat mengandung produk ClO2. Proses pembuatan ClO2 ini dikenal
dengan Proses Munish.Munich Process.
Reaksi yang terjadi:

NaClO3 + 2 HCl NaCl + H2O + ClO2 + 1/2 Cl2

Jika terlalu banyak HCl, maka ada kemungkinan terjadi reaksi samping sebagai berikut. Pada
tray 1 terjadi reaksi utama, sedangkan tray 2 4 hanya lanjutan dari reaksi pada tray 1.
Temperatur pada tray 1 harus dijaga pada rentang 30 35oC, karena pada suhu 40 oC akan
terjadi reaksi decomposed dan efeknya ialah ledakan. Bagian atas ClO2 generator dilengkapi
dengan rupture disc seperti pada electrolyte tank yang berfungsi sebagai safety pressure.
Larutan NaClO3 sebelum masuk ke generator harus melalui filter terlebih dahulu untuk
menghilangkan pengotorimpurities. Media filter berupa kain teflon seperti pada Gambar 3.15
(b).

(a) (b)

Gambar 1. 15 (a) Chlorate Filter (b) Kain Teflon


(Dokumentasi Praktek Kerja, 2017)
Dari filter, Llarutan natriumsodium klorat didinginkan dengan chlorate cooler berjenis shell and
tube bermedia pendingin cooling water. Temperatur larutan klorat diturunkan dari sekitar 75 oC
menjadi sekitar 35 oC. HCl dipompakan ke generator dari HCl storage. ClO2 yang terbentuk
berfase gas, untuk mendapatkan ClO2 larutan maka klorin dioksida gas diabsorbsi dengan chilled
water dalam ClO2 absorber. Digunakan chilled water karena kelarutan klorin dioksida dalam air
meningkat seiring dengan penurunan temperatur air. Selain klorin dioksida, ada juga gas klorin
yang terbentuk, tetapi kelarutan gas klorin dalam air rendah jika dibandingkan dengan klorin
dioksida, sehingga didapatkan konsentrasi ClO2 7,4 8 gpl, dan konsentrasi Cl2 1 1,8 gpl.
Larutan klorin dioksida dari absorber masuk ke ClO2 pump tank lalu dipompakan ke ClO2 storage.
Gas klorin keluaran absorber dialirkan menuju HCl plant.
b. HCl Synthesis Unit

Gambar 1. 16 Diagram Alir Proses HCl Synthesis Unit


(PT Toba Pulp Lestari Tbk, 2016)
HCl dihasilkan dari proses pembakaran gas Cl2 dengan gas H2. Pembakaran dilangsungkan
pada pembakarburner tegak berbahan grafit, sedangkan tungku api burner berbahan keramik.
Di dalam burner terdapat tabungtube yang berfungsi sebagai tempat kontak antara gas HCl
dengan weak HCl, burner juga dilengkapi dengan pendingin. Temperatur pembakaran klorin
dengan hidrogen dalam burner berkisar antara 2000 2500 oC. Reaksi pembakaran:
H2 + Cl2 2 HCl

Proses sintesis HCl terdiri dari 3 proses yaitu combustion, cooling dan scrubbing. Klorin
dibakar dengan hidrogen pada tungku api menghasilkan gas HCl, gas HCl masuk ke tube
dalam burner dan kontak dengan weak HCl membentuk strong HCl lalu masuk ke HCl
storage. Waste HCl gas (yang tidak kontak dengan weak HCl) masuk ke HCl scrubber untuk
dikontakkan dengan demin water membentuk weak HCl. Weak HCl dari scrubber masuk
kembali ke tube dalam burner, kontak dengan gas HCl membentuk strong HCl dan masuk ke
storage. Produk yang dihasilkan dan disimpan di dalam storage ialah HCl 32 %.

c. Unit PendinginChiller Unit

Unit Pendingin Chiller unit bertujuan untuk memproduksi air dingin (chilled water) pada
temperatur 8 oC. Namun, saat ini chiller yang bekerja hanya mampu memproduksi chilled waterair
dingin pada rentang temperature 10 12 oC. Ada 3 jenis chiller yang ada di chemical plant, yaitu:
1. Vapor-compression absorption chiller

2. Refrigerant chiller

3. Steam jet chiller

Natrium Klorida (NaCl) Formatted: Font: Times New Roman, Font color: Auto,
Indonesian
Natrium klorida adalah zat kimia industri yang diekstrak dari laut dengan cara penguapan
dengan memanfaatkan panas sinar mataharipenguapan matahari, dan merupakan produk
dasarbahan baku dalam industri kimia aupun dalam industri pangan aplikasi kimia maupun
aplikasi yang berhubungan dengan makanan. Selain digunakan secara tradisional sebagai
pengawet di industri pengolahan makanan, garam juga merupakan bahan baku utama untuk
pabrik klor-alkali yang memproduksi natrium hidroksida, hidrogen dan klorin.
Natrium klorida adalah bahan baku utama untuk banyak sekali senyawa kimia seperti
natrium hidroksida (NaOH), natrium sulfat (Na2SO4), hidrogen klorida (HCl), natrium fosfat
(Na3PO4), natrium klorat (NaClO3), natrium hipoklorit (NaOCl), dan masih banyak lagi
turunan lainnya. Hampir semua klorin (Cl2) di dunia diproduksi dari proses elektrolisis
natrium klorida.
Tabel 1. 2 Sifat Fisis Natrium Klorida
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (Formula) NaCl
Berat Molekul 58.44 g/mol Formatted: Indonesian
3
Kerapatan (density) 2.163 g/cm Formatted: Indonesian
3
Bulk Density 1 g/ cm Formatted: Indonesian

Titik Leleh 800 oC Formatted: Indonesian


o
Titik Didih 1465 C Formatted: Indonesian
o
Specific Heat (25 C) 50.795 J/mol.grd. Formatted: Indonesian

Panas larutan - 4.87 KJ/mol Formatted: Indonesian

Warna Putih Formatted: Indonesian

Formatted: Indonesian

Klorin (Cl2) Formatted: Font: Times New Roman, Font color: Auto,
Indonesian
Klorin (Cl2) adalah bahan kimia penting dalam pemurnian air, dalam desinfektan, dalam
Formatted: Indonesian
pemutih, dan gas mustard. Klorin juga digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk
termasuk dalam produksi kertas, antiseptik, zat warna, makanan, insektisida, cat, produk
minyak bumi, plastik, obat-obatan, tekstil, pelarut, dan banyak produk konsumen lainnya.
Senyawa Unsur ini juga digunakan untuk membunuh bakteri dan mikroba dari pasokan air Formatted: Indonesian

minum. Klorin juga digunakan untuk pemutih pulp kayu sebelum digunakan untuk membuat Formatted: Font: Italic, Indonesian

kertas, serta menghilangkan tinta pada kertas daur ulang. Unsur ini digunakan pula dalam Formatted: Indonesian

produksi klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan ekstraksi brom. Sebagian klorin yang
diproduksi digunakan untuk penanganan langsung seperti pada industri pulp and paper,
pemutihan tekstil, pengolahan air, dan pengolahan limbah. Sebagian lainnya klorin diproduksi
sebagai salah satu komponen dalam produk tertentu seperti vinyl, vinylidene polymers,
chlorinated rubber dan plastik lainnya. Klorin hampir seluruhnya diproduksi dari elektrolisis Formatted: Indonesian

larutan garam atau dari reaksi fusi klorida. Elektrolisis larutan garam memproduksi klorin di
bagian anoda, sedangkan gas hidrogen dan natrium hidroksida di bagian katoda. Untuk
memperoleh klorin dan natrium hidroksida, keduanya harus dijaga agar tidak bercampur. Saat
ini ada tiga jenis sel elektrolisis yang digunakan di industri yang ada di dunia, yaitu sel
diafragma, sel membrane dan sel merkuri (Austin, 1984).
Formatted: Indonesian
Tabel 1. 3Sifat Fisis Klorin
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (Formula) Cl2 Formatted: Indonesian

Berat Molekul 70.906 g/mol Formatted: Indonesian


3
Kerapatan (density) gas 3.214 Kg/Nm Formatted: Indonesian
3
Density Densitas (gas; air =1) 2.49 Kg/ m Formatted: Font: Not Italic, Indonesian
o
Density (cairan, 0 C, 3.65 bar) 1.47 Kg/l Formatted: Indonesian
Formatted: Font: Not Italic
Titik Didih - 34 oC
Formatted: Indonesian
Titik Leleh - 101 oC Formatted: Indonesian
Specific HeatSpesifik Panas (gas) 33.84 J/mol grd. Formatted: Indonesian

Spesifik Panas Specific Heat (liquid) 67.1 J/mol grd. Formatted: Indonesian
Formatted: Font: Not Italic, Indonesian
Panas Penguapan (@ -34 oC) 20.42 Kj/mol
Formatted: Font: Not Italic
Warna (gas) Kuning kehijau hijauan
Formatted: Indonesian
Warna (cairan) Kuning terang Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Hidrogen (H2) Formatted: Indonesian
Hidrogen merupakan unsur pertama dalam tabel periodik. Hidrogen dalam temperatur dan Formatted: Indonesian
tekanan ruang Dalam kondisi normal, hidrogen merupakan gas yang tidak berbau dan tidak Formatted: Font: (Default) Times New Roman, Font
color: Auto, Indonesian
berwarna yang dibentuk oleh molekul diatomik, H2. Hidrogen merupakan salah satu unsur
Formatted: Indonesian
utama dalam air dan semua bahan organik serta tersebar luas tidak hanya di bumi tetapi juga
Formatted: Indonesian
di seluruh alam semesta. Hidrogen adalah yang paling mudah terbakar dari semua zat yang
dikenal. Atom hidrogen adalah agen reduktif kuat, bahkan pada suhu kamar. Unsur ini
bereaksi dengan oksida dan klorida berbagai logam, seperti perak, tembaga, timbal, bismut
dan merkuri, untuk menghasilkan logam bebas. Hidrogen adalah bahan baku penting dalam
industri kimia dan petrokimia. Hidrogen dibuat dari penurunan senyawa karbon, hidrokarbon
dan/atau air. Hidrogen didapatkan dari dekomposisi yang melibatkan energi listrik, kimia atau
panas. Contohnya elektrolisis air, steam reforming hidrokarbon dan thermal dissociation
hidrokarbon (Austin, 1984).
Formatted: Indonesian
Tabel 1. 4 Sifat Fisis Hidrogen
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (Formula) H2
Berat Molekul 2.016 g/mol Formatted: Indonesian

3
Density (kerapatan) 0.08987 Kg/ Nm Formatted: Indonesian

o
Titik Didih - 252.8 C Formatted: Indonesian

Specific Heat (25 oC) 28.83 J/mol - grd Formatted: Indonesian

Panas Pembakaran 287 KJ/mol Formatted: Indonesian

Warna Tidak berwarna Formatted: Indonesian

Formatted: Font: Times New Roman, Font color: Auto,


Indonesian
Hidrogen Klorida (HCl)
Hidrogen klorida adalah senyawa dari unsur hidrogen dan klorin, pada temperatur ruang Formatted: Indonesian

berwujud gas. Larutan hidrogen dalam air disebut asam klorida. Karena sifatnya yang korosif,
material yang sering digunakan untuk menanganinya ialah plastik, keramik, kaca dan
tantalum. Hidrogen klorida terbentuk dari reaksi langsung antara gas klorin (Cl2) dan gas
hidrogen (H2), reaksi berlangsung pada temperatur di atas 250 oC. (482 oF). Hidrogen klorida Formatted: Indonesian

biasa dipasarkan dalam bentuk larutan 28-35% berat yang disebut konsentrat asam klorida
(Encyclopaedia Britannica Online, 2016). Asam klorida walaupun tidak diproduksi dalam Formatted: Indonesian

jumlah besar seperti asam sulfat, merupakan salah satu bahan kimia yang penting. Pembuatan Formatted: Indonesian

hidrogen klorida dapat ditempuh dengan beberapa proses, yaitu produk samping klorinasi
hidrokarbon aromatic aromatic dan alifatik, reaksi antara garam (NaCl) dan asam sulfat Formatted: Indonesian

(H2SO4), reaksi pembakaran klorin (Cl2) dengan hidrogen (H2), dan operasi Hargreaves-type.

Pada proses pembuatan hidrogen klorida dengan pembakaran klorin dan hidrogen, reaksinya Formatted: Indonesian

berlangsung sangat eksotermis dan spontan. Produk yang dihasilkan berupa 99% gas HCl,
yang kemudian diadsorbsi oleh air dalam absorber berbahan tantalum atau grafit. Larutan HCl
di-stripping dengan gas HCl sehingga didapatkan larutan strong HCl (Austin, 1984).
Formatted: Indonesian
Tabel 1. 5 Sifat Fisis Hidrogen Klorida
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (Formula) HCl
Berat Molekul 36.465 g/mol Formatted: Indonesian

Density (kerapatan) 1.639 Kg/Nm3 Formatted: Indonesian

o
Titik didih - 85 C Formatted: Indonesian

Titik Leleh - 114 oC Formatted: Indonesian

o
Specific Heat (25 C) 29.12 J/mol - grd Formatted: Indonesian

Panas absorption 62.3 KJ/mol Formatted: Indonesian

Warna Tidak berwarna Formatted: Indonesian

Formatted: Indonesian

Sodium Hidroksida (NaOH) Formatted: Font: (Default) Times New Roman, Font
color: Auto, Indonesian
Pada suhu kamar, natrium hidroksida atau biasa disebut sebagai causic soda adalah kristal
Formatted: Indonesian
putih tidak berbau padat yang menyerap kelembaban dari udara. Ketika dilarutkan dalam air
atau dinetralkan dengan asam itu membebaskan panas yang cukup besar, yang mungkin cukup
untuk menyalakan bahan mudah terbakar. Natrium hidroksida sangat korosif. Hal ini
umumnya digunakan sebagai padat atau larutan 50%. Natrium hidroksida digunakan sebagai
bahan baku untuk memproduksi digunakan untuk memproduksi sabun, rayon, kertas, bahan Formatted: Indonesian

peledak, zat warna, dan produk minyak bumi. Hal ini juga digunakan dalam pengolahan kain
katun, pencucian dan pemutihan, pembersihan dan pengolahan logam, lapisan oksida,
elecktroplating, dan ekstraksi elektrolit (National Center for Biotechnology Information, Formatted: Indonesian

2005).
Tabel 1. 6 Sifat Fisis Natrium Hidroksida
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)

Rumus (formula) NaOH


Berat Molekul 40 g/mol Formatted: Indonesian

Density (Kkerapatan) 2.490 g/cm3 Formatted: Indonesian

Titik leleh o
319 C Formatted: Indonesian
Formatted: Indonesian
Specific Heat (25 oC) 59.45 J/mol - grd
Formatted: Indonesian
Panas absorpsi (penyerapan) 32.5 KJ/mol (@50% NaOH) Formatted: Indonesian

Warna Putih Formatted: Indonesian

Formatted: Indonesian

Sodium Natrium Klorat (NaClO3) Formatted: Font: (Default) Times New Roman, Font
color: Auto, Indonesian
Natrium klorat diproduksi dalam jumlah besar sebagai pembunuh gulma. Hal ini juga
Formatted: Font: (Default) Times New Roman, Font
digunakan dalam pencetakan dan pencelupan tekstil. Natrium klorat tidak dapat digunakan color: Auto, Indonesian
dalam bahan peledak karena sifat higroskopisnya. Natrium klorat diproduksi dengan Formatted: Indonesian

elektrolisis larutan garam yang ditambahkan dengan natrium dikromat untuk mengurangi Formatted: Indonesian

korosifitas asam hipoklorit karena adanya asam klorida. Proses elektrolisis larutan garam
menghasilkan natrium hidroksida di katoda dan klorin di anoda, tetapi dengan tidak adanya
diafragma dalam sel, terjadi pencampuran dan terbentuk natrium hipoklorit yang kemudian
dioksidasi menjadi natrium klorat (Austin, 1984)
Tabel 1. 7 Sifat Fisis Natrium Klorat
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (formula) NaClO3
Berat Molekul 106.44 g/mol Formatted: Indonesian

3
Density (kerapatan) 2.490 g/cm Formatted: Indonesian

Titik didih Decompose Formatted: Indonesian

o
Titik Leleh 255 C Formatted: Indonesian

Specific Heat (25 oC) 100.8 J/mol grd. Formatted: Indonesian

Panas absorpsi (penyerapan) - 22.5 KJ/mol Formatted: Indonesian

Warna Putih Formatted: Indonesian

Klorin Dioksida (ClO2) Formatted: Font: Bold, Indonesian

Klor dioksida (ClO2) adalah bahan kimia sintetis, gas berwarna hijau kekuningan dengan bau Formatted: Indonesian

seperti klorin, menyengat. Klorin dioksida adalah senyawa klorin netral. Klorin dioksida
sangat berbeda dari klorin, baik dalam struktur kimianya ataupun karakteristiknya. Klorin
dioksida adalah molekul kecil, mudah menguap dan sangat kuat. Larutan klorin dioksida
adalah radikal bebas. Pada konsentrasi tinggi bereaksi kuat dengan agen pereduksi. Klorin
dioksida adalah gas yang tidak stabil yang terurai menjadi gas klorin (Cl2), gas oksigen (O2)
dan panas. Salah satu sifatnya ialah kelarutannya yang tinggi dalam air, terlebih pada air Formatted: Indonesian

dingin. (chilled water). Klorin dioksida tidak terdisosiasi dalam air, melainkan menjadi gas Formatted: Indonesian

yang terlarut dalam air. Kelarutannya sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan gas klorin (Cl2)
(Lenntech BV, 2016). Klorin dioksida adalah oksidator kuat, 2,5 kali lebih kuat dari Formatted: Indonesian

kemampuan mengoksidasi klorin (Cl2). Klorin dioksida mampu memutihkan banyak warna
dalam bahan selulosa tanpa merusak selulosa. Oleh karena itu banyak digunakan dalam
industri pulp dan tekstil, khususnya di pemutihan akhir kertas kraft (Austin, (1984).
Tabel 1. 8 Sifat Fisis Klorin Dioksida
(SOP PT. Toba Pulp Lestari Tbk, 2008)
Rumus (formula) ClO2

Berat Molekul 67.45 g/mol Formatted: Indonesian

Density (kerapatan) 3.01 Kg/Nm3 Formatted: Indonesian

Density (air =1) 2.4 Formatted: Indonesian

Titik Didih 11 oC Formatted: Indonesian

Titik Leleh - 59 oC Formatted: Indonesian

Panas larutan 26.8 KJ/mol Formatted: Indonesian

Specific Heat (25 oC) 41.84 J/mol-grd Formatted: Indonesian

Persamaan oksidasi 5 Formatted: Indonesian

Warna Kuning hijau Formatted: Indonesian

Bau Iritasi ozon (gangguan Formatted: Indonesian

terhadap udara)
Formatted: Indonesian

Sodium Hipoklorit (NaOCl) Formatted: Font: Bold, Indonesian

Sodium hipoklorit digunakan sebagai desinfektan dan deodoran di perusahaan susu, creameries, Formatted: Font: Bold, Not Italic, Indonesian
Formatted: Indonesian
pemasok air, pembuangan limbah, dan untuk keperluan rumah tangga. Hal ini juga digunakan
sebagai pemutih di laundry. Selama Perang Dunia Pertama, sodium hipoklorit digunakan untuk
pengobatan luka sebagai larutan isotonik stabil. Sebagai agen pemutih, sangat berguna pada katun,
linen, rami, sutra buatan dan bubur kertas (paper pulp). Kebanyakan klorin diubah menjadi
natrium hipoklorit sebelum digunakan untuk memutihkan selulosa. Metode produksi yang paling
umum adalah reaksi larutan natrium hidroksida dengan klorin gas. Metode lain yang digunakan
adalah elektrolisis larutan garam terkonsentrasipekat. Sel-sel elektrolitik tidak memiliki diafragma Formatted: Indonesian

apapun dan beroperasi pada kepadatan arus tinggi dalam larutan hampir netral. Sel-sel yang
dirancang untuk berfungsi pada suhu rendah dan untuk membawa katoda larutan soda kaustik
dalam kontak dengan klorin dilepaskan pada anoda (Austin, 1984). Metode lain yang digunakan
adalah elektrolisis larutan garam terkonsentrasipekat. Sel-sel elektrolitik tidak memiliki diafragma
apapun dan beroperasi pada kepadatan arus tinggi dalam larutan hampir netral. Sel-sel yang
dirancang untuk berfungsi pada suhu rendah dan untuk membawa katoda larutan soda kaustik
dalam kontak dengan klorin dilepaskan pada anoda (Austin, 1984)
Cl2 + 2 NaOH NaCI + H2O + NaOCI