Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

DINASTI SAILENDRA / SANJAYA

DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

SEJARAH INDONESIA 1

Oleh kelompok 8 :

Ely Rahma Wati (140210302065)

Bahrul Ulum (140210302057)

Ahmad Fatih Rizqi (140210302060)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014/2015
Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya


sehingga kami dapat menyelesaikan makalah berjudul Dinasti Sailendra ini
semaksimal mungkin. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sejarah Indonesia I yang dibimbing oleh Bapak Sucitro.
Dalam penulisan makalah ini, kami tak lupa mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing, dan memberi dukungan
kepada kami dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun kami harapkan
dari pembaca makalah ini.

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ 1


DAFTAR ISI ....................................................................................................... 2
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 3
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4
1.3 Tujuan ................................................................................................ 4
1.4 Manfaat .............................................................................................. 4
BAB 2. PEMBAHASAN .................................................................................... 5
2.1 Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme .................................... 5

2.2 Penyebab Bangsa Eropa Datang ke India....................................... 6


2.3 Kolonialisme dan Imperialisme Inggris di India .......................... 7
2.4 Akibat Dari Kolonialisme dan Imperilisme Inggris di India......... 11
BAB 3 PENUTUP................................................................................................ 12
3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

1.2 Rumusan masalah


1. Bagaimana asal-usul Dinasti Sailendra ?
2. Siapa nama raja-raja yang pernah memerintah Dinasti Sailendra ?
3. Apa hubungan antara Dinasti Sailendra dengan Dinasti Sanjaya?
4. Apa penyebab runtuhnya Dinasti Sailendra ?
1.3 Tujuan pembahasan
1. Untuk mengetahui asal-usul Dinasti Sailendra.
2. Untuk mengetahui nama raja-raja yang pernah memerintah Dinasti
Sailendra.
3. Untuk mengetahui hubungan antara Dinasti Sailendra dengan Dinasti
Sanjaya.
4. Untuk mengetahui penyebab runtuhnya Dinasti Sailendra.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asal-Usul Dinasti Sailendra

ailendravama atau wangsa sailendra adalah nama wangsa atau dinasti


raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya, pulau Sumatera; dan di Mda (Kerajaan
Medang), Jawa Tengah sejak tahun 752 M. Sebagian besar raja-rajanya adalah
penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan
manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal
usul wangsa ini masih diperdebatkan. Disamping berasal dari Jawa, daerah lain
seperti Sumatera atau bahkan India dan Kamboja, sempat diajukan sebagai asal
mula wangsa ini.
Di Indonesia nama Wangsa Sailendra dijumpai pertama kali di dalam
prasasti kalasan pada tahun 778 M. Kemudian istilah itu muncul pula di dalam
prasasti dari desa Kelurak pada tahun 782 M (sailendrawansatikelana), dalam
prasasti Abhayagiriwihara pada tahun 792 Masehi
(dharmmatungadewansatikena), prasasti Sojomerto pada tahun 725 masehi
(Selendranamah) dan prasasti Kayumwunan pada tahun 824 Masehi
(Sailendrawansatilaka). Di luar Indonesia Wangsa Sailendra ditemukan dalam
prasasti Ligor pada tahun 775 Masehi dan prasasti Nalda. Prasasti-prasasti
tersebut semuanya menggunakan bahasa Sansekerta. Mengenai asal-usul keluarga
sailendra banyak dipersoalkan oleh beberapa sarjana. Berbagai pendapat telah
ditemukan oleh sejarawan dan arkeologis dari berbagai Negara. Ada yang
mngatakan keluarga Syailendra berasal dari Sumatra dari India, dan dari Funan.
Ada beberapa nama wangsa di India dan daratan Asia Tenggara yang sama
artinya dengan Sailendra, yaitu raja gunung, hal ini menimbulkan berbagai teori
tentang asal-usul wangsa Sailendra di Jawa. Berikut ini teori-teori tentang asal-
usul Dinasti Sailendra :
Teori India
Majumdar beranggapan bahwa keluarga ailendra di Nusantara, baik di
rwijaya (Sumatera) maupun di Mda (Jawa) berasal dari Kalingga (India
Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan
Moens. Moens menganggap bahwa keluarga ailendra berasal dari India yang
menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada tahun 683
Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyang
dengan bala tentaranya.
Teori Funan
George Cds lebih condong kepada anggapan bahwa ailendra yang ada
di Nusantara itu berasal dari Funan (Kamboja). Karena terjadi kerusuhan yang
mengakibatkan runtuhnya kerajaan Funan, kemudian keluarga kerajaan ini
menyingkir ke Jawa, dan muncul sebagai penguasa di Medang pada pertengahan
abad ke-8 Masehi dengan menggunakan nama keluarga ailendra. Namun teori
ini tidak terbukti kuat karena beberapa prasasti dan catatan sejarah menyatakan
bahwa sebelum bermukim di Jawa, keluarga Sailendra telah bermukim turun-
temurun di Sumatera.
Teori Nusantara
Teori Nusantara mengajukan kepulauan Nusantara; terutama pulau
Sumatera atau Jawa; sebagai tanah air wangsa ini. Teori ini mengajukan bahwa
wangsa ailendra mungkin berasal dari Sumatera yang kemudian berpindah dan
berkuasa di Jawa, atau mungkin wangsa asli dari pulau Jawa tetapi mendapatkan
pengaruh kuat dari Sriwijaya.
Menurut beberapa sejarawan, keluarga ailendra berasal dari Sumatera yang
bermigrasi ke Jawa Tengah setelah Sriwijaya melakukan ekspansi ke tanah Jawa
pada abad ke-7 Masehi dengan menyerang kerajaan Tarumanagara dan Ho-ling di
Jawa. Serangan Sriwijaya atas Jawa berdasarkan atas Prasasti Kota Kapur yang
mencanangkan ekspansi atas Bumi Jawa yang tidak mau berbakti kepada
Sriwijaya. Ia mengemukakan gagasannya itu didasarkan atas sebutan gelar
Dapunta Selendra pada prasasti Sojomerto. Gelar ini ditemukan juga pada prasasti
Kedukan Bukit pada nama Dapunta Hiya. Prasasti Sojomerto dan prasasti
Kedukan Bukit merupakan prasasti yang berbahasa Melayu Kuna.
Teori Nusantara juga dikemukakan oleh Poerbatjaraka. Pendapat dari
Poerbatjaraka yang didasarkan atas Carita Parahiyangan kemudian diperkuat
dengan sebuah temuan prasasti di wilayah Kabupaten Batang. Di dalam prasasti
yang dikenal dengan nama prasasti Sojomerto itu disebutkan nama Dapunta
Selendra, nama ayahnya (Santan), nama ibunya (Bhadrawati), dan nama istrinya
(Sampla) (da p nta selendra namah santan nma nda bapa nda bhadrawati
nma nda aya nda sampla nma nda ..). Menurut Boechari, tokoh yang bernama
Dapunta Selendra adalah bakal raja-raja keturunan ailendra yang berkuasa di
Mda.
Nama Dapunta Selendra jelas merupakan ejaan Melayu dari kata dalam
bahasa Sanskerta ailendra karena di dalam prasasti digunakan bahasa Melayu
Kuna. Jika demikian, kalau keluarga ailendra berasal dari India Selatan tentunya
mereka memakai bahasa Sansekerta di dalam prasasti-prasastinya. Dengan
ditemukannya prasasti Sojomerto telah diketahui asal keluarga ailendra dengan
pendirinya Dapunta Selendra. Berdasarkan paleografinya, prasasti Sojomerto
berasal dari sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi.
Menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan-keturunannya itu ialah
raja-raja dari keluarga ailendra, asli Nusantara yang menganut agama iwa.
Tetapi sejak Paamkaran berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahyna,
raja-raja di Matarm menjadi penganut agama Buddha Mahyna juga.
Pendapatnya itu didasarkan atas Carita Parahiyangan yang menyebutkan bahwa
Rakai Sajaya menyuruh anaknya Rakai Panaraban atau Rakai Tamperan untuk
berpindah agama karena agama yang dianutnya (aliran Saiwa) ditakuti oleh semua
orang. Kabar mengenai Rakai Panangkaran yang berpindah agama dari aliran
Saiwa menjadi Buddha Mahayana juga sesuai dengan isi Prasasti Raja Sankhara
(koleksi Museum Adam Malik yang kini hilang).
Kemudian Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sajaya mendirikan
sebuah lingga di bukit Sthraga untuk tujuan dan keselamatan rakyatnya.
Disebutkan pula bahwa Sajaya memerintah Jawa menggantikan Sanna; Raja
Sanna mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian
dikawininya dan melahirkan Sajaya.
Dari prasasti Sojomerto dan prasasti Canggal telah diketahui nama tiga
orang penguasa di Mda (Matarm), yaitu Dapunta Selendra, Sanna, dan Sajaya.
Raja Sajaya mulai berkuasa di Mda pada tahun 717 Masehi. Dari Carita
Parahiyangan dapat diketahui bahwa Sena (Raja Sanna) berkuasa selama 7 tahun.
Kalau Sajaya naik takhta pada tahun 717 Masehi, maka Sanna naik takhta sekitar
tahun 710 Masehi. Hal ini berarti untuk sampai kepada Dapunta Selendra
(pertengahan abad ke-7 Masehi) masih ada sisa sekitar 60 tahun. Kalau seorang
penguasa memerintah lamanya kira-kira 25 tahun, maka setidak-tidaknya masih
ada 2 penguasa lagi untuk sampai kepada Dapunta Selendra.
Dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahawa Raja Mandimiak
mendapat putra Sang Sena (Sanna). Ia memegang pemerintahan selama 7 tahun,
dan Mandimiak diganti oleh Sang Sena yang memerintah 7 tahun. Dari urutan
raja-raja yang memerintah itu, dapat diduga bahwa Mandimiak mulai berkuasa
sejak tahun 703 Masehi. Ini berarti masih ada 1 orang lagi yang berkuasa sebelum
Mandimiak.
Karena teori Poerbatjaraka berdasarkan Carita Parahiyangan, maka
keluarga ailendra diduga berasal dari pulau Jawa yang berada dibawah pengaruh
Sriwijaya. Tokoh Sanna dan Sanjaya berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan
Sunda dan Kerajaan Galuh. Mereka pada awalnya beragama Siwa seperti
kebanyakan keluarga kerajaan permulaan di pulau Jawa seperti Tarumanagara dan
Holing (Kalingga). Penggunaan bahasa Bahasa Melayu Kuna pada prasasti
Sojomerto di Jawa Tengah serta penggunaan gelaran Dapunta menunjukkan
bahwa keluarga Sailendra telah dipengaruhi bahasa, budaya, dan sistem politik
Sriwijaya, hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka adalah vasal atau raja
bawahan anggota kedatuan Sriwijaya.
Hal ini seiring dengan kabar penaklukan Bhumi Jawa oleh Sriwijaya
sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kota Kapur.
Berita Tiongkok yang berasal dari masa Dinasti Tang memberitakan tentang
Kerajaan Ho-ling yang disebut She-po (Jawa). Pada tahun 674 Masehi rakyat
kerajaan itu menobatkan seorang wanita sebagai ratu, yaitu Hsi-mo (Ratu Sima).
Ratu ini memerintah dengan baik. Mungkinkah ratu ini merupakan pewaris takhta
dari Dapunta Selendra? Apabila ya, maka diperoleh urutan raja-raja yang
memerintah di Mda, yaitu Dapunta Selendra (?- 674 Masehi), Ratu Sima (674-
703 Masehi), Mandimiak (703-710 Masehi), R. Sanna (710-717 Masehi), R.
Sajaya (717-746 Masehi), dan Rakai Paamkaran (746-784 Masehi), dan
seterusnya.

Selain dari teori tersebut di atas dapat diliat dari beberapa Prasasti yang
ditemukan, yaitu :
a. Prasasti Sojomerto
Prasasti yang berasal dai pertengaan abad ke-7 itu berebahasa Melayu Kuno di
desa Sojomerto, Kabupaten Pekalongan yang menjelaskan bahwa Dapunta
Syailendra adalah penganut agama Siwa.
b. Prasasti Kalasan
Prasasti yang berangka tahun 778 M merupakan prasasti peniggalan Wangsa
Sanjaya. Prasasti ini menceritakan tentang pendirian Candi Kalasan oleh Rakai
Panagkaran atas permintaan keluarga Syailendra serta berbagai penghadiahan di
desa Kalasan untuk umat Bundha.
c. Prasasti Klurak
Prasasti yang berangka tahun 782 M, di daerah prambanan menyebutkan tentang
pembuatan Arca Manjustri yang merupakan perwujudan Sang Bundha, Wisnu dan
Sangha. Prasasti ini juga menyebutkan nama raja yang berkuasa saat itu yang
bernama Raja Indra.
d. Prasasti Ratu Boko
Prasasti berangka tahun 865 M menyebutkan tentang kekalahan Raja Balaputra
Dewa dalam perang saudara melawan kakanya Pradhowardhani dan melarikan
diri ke Palembang.
2.2 Raja- raja Syailendra
Adapun Raja- raja yang pernah berkuasa, yaitu :
1. Bhanu ( 752- 775 M )
Raja banu merupakan raja pertama sekaligus pendiri Wangsa Syailendra.
2. Wisnu ( 775- 782 M)
Pada masa pemerintahannya, Candi Brobudur mulai di banugun tepatnya 778 M
3. Indra ( 782 -812 M )
Pada masa pemerintahannya, Raja Indra membuat Klurak yang berangka tahun
782 M, di daerah Prambanan.
4. Samaratungga ( 812 833 M )
Raja Samaratungga berperan menjadi pengatur segala dimensi kehidupan
rakyatnya. Sebagai raja Mataram Budha, samaratungga sangat menghayati nilai
agama dan budaya pada masa pemerintahannya Candi Borobudur selesai di
bangun.
5. Pramodhawardhani ( 883 856 M )
Pramodhawardhani adalah putrid samaratungga yang dikenal cerdas dan cantik.
Beliau bergelar Sri Kaluhunan, yang artinya seorang sekar keratin yang menjadi
tumpuan harapan bagi rakyat. Pramodhawardhani kelak menjdi permaisuri raja
Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.
6. Balaputera Dewa ( 883 850 M )
Balaputera Dewa adalah putera Raja Samaratungga dari ibunya yang bernama
Dewi Tara, Puteri raja Sriwijaya. Dari Prasasti Ratu Boko, terjadi perebutan tahta
kerajaan oleh Rakai Pikatan yang menjadi suami Pramodhawardhani. Belaputera
Dewa merasa berhak mendapatkan tahta tersebut karena beliau merupakan anak
laki-laki berdarah Syailendra dan tidak setuju terhadap tahta yang diberikan Rakai
Pikatan yang keturunan Sanjaya. Dalam peperangan saudara tersebut Balaputera
Dewa mengalami kekalahan dan melatrikan diri ke Palembang.

2.3 Hubungan Dinasti Sailendra dengan Dinasti Sanjaya


Selama ini kerajaan Medang dianggap diperintah oleh dua wangsa yaitu
Wangsa Sailendra yang beragama Buddha dan Wangsa Sanjaya yang beragama
Hindu Siwa, pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Bosch. Pada awal era
Medang atau Mataram Kuno, wangsa Sailendra cukup dominan di Jawa Tengah.
Menurut para ahli sejarah, wangsa Sanjaya awalnya berada di bawah pengaruh
kekuasaan wangsa Sailendra. Mengenai persaingan kekuasaan tersebut tidak
diketahui secara pasti, akan tetapi kedua-duanya sama-sama berkuasa di Jawa
Tengah.
Sementara Poerbatjaraka menolak anggapan Bosch mengenai adanya dua
wangsa kembar berbeda agama yang saling bersaing ini. Menurutnya hanya ada
satu wangsa dan satu kerajaan, yaitu wangsa Sailendra dan Kerajaan Medang.
Sanjaya dan keturunannya adalah anggota Sailendra juga. Ditambah menurut
Boechari, melalui penafsirannya atas Prasasti Sojomerto bahwa wangsa Sailendra
pada mulanya memuja Siwa, sebelum Panangkaran beralih keyakinan menjadi
penganut Buddha Mahayana.
Raja-raja yang berkuasa dari keluarga Sailendra tertera dalam prasasti
Ligor, prasasti Nalanda maupun prasasti Klurak, sedangkan raja-raja dari keluarga
Sanjaya tertera dalam prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih. Berdasarkan
candi-candi, peninggalan kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8 dan ke-9 yang
bercorak Budha (Sailendra) umumnya terletak di Jawa Tengah bagian selatan,
sedangkan yang bercorak Hindu (Sanjaya) umumnya terletak di Jawa Tengah
bagian utara.
Berdasarkan penafsiran atas prasasti Canggal (732 M) Sanjaya memang
mendirikan Shivalingga baru (Candi Gunung Wukir), artinya ia membangun dasar
pusat pemerintahan baru. Hal ini karena raja Jawa pendahulunya, Raja Sanna
wafat dan kerajaannya tercerai-berai diserang musuh. Saudari Sanna adalah
Sannaha, ibunda Sanjaya, artinya Sanjaya masih kemenakan Sanna. Sanjaya
mempersatukan bekas kerajaan Sanna, memindahkan ibu kota dan naik takhta
membangun kraton baru di Mdang i Bhumi Mataram. Hal ini sesuai dengan adat
dan kepercayaan Jawa bahwa kraton yang sudah pernah pralaya, diserang, kalah
dan diduduki musuh, sudah buruk peruntungannya sehingga harus pindah mencari
tempat lain untuk membangun kraton baru
Hal ini serupa dengan zaman kemudian pada masa Mataram Islam yang
meninggalkan Kartasura yang sudah pernah diduduki musuh dan berpindah ke
Surakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini bukan berarti berakhirnya wangsa
yang berkuasa. Hal ini sama dengan Airlangga pada zaman kemudian yang
membangun kerajaan baru, tetapi ia masih merupakan keturunan wangsa
penguasa terdahulu, kelanjutan Dharmawangsa yang juga anggota wangsa Isyana.
Maka disimpulkan meski Sanjaya memindahkan ibu kota ke Mataram, ia tetap
merupakan kelanjutan dari wangsa Sailendra yang menurut prasasti Sojomerto
didirikan oleh Dapunta Selendra.

2.4 Penyebab Runtuhnya Dinasti Sailendra


Berapa sejarahwan berusaha menjelaskan berakhirnya kekuasaan
Sailendra di Jawa Tengah mengaitkannya dengan kepindahan Balaputradewa ke
Sriwijaya (Sumatera). Selama ini sejarahwan seperti Dr. Bosch dan Munoz
menganut paham adanya dua wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling
bersaing; Sanjaya-Sailendra. Mereka beranggapan Sailendra yang penganut
Buddha kalah bersaing dan terusir oleh wangsa Sanjaya yang Hindu aliran Siwa.
Dimulai dengan adanya ketimpangan perekonomian serta perbedaan
keyakinan antara Sailendra sang penguasa yang beragama Buddha dengan rakyat
Jawa yang kebanyakan beragama Hindu Siwa, menjadi faktor terjadinya
ketidakstabilan di Jawa Tengah. Untuk memantapkan posisinya di Jawa Tengah,
raja Samaratungga menikahkan putrinya Pramodhawardhani, dengan anak
Garung, Rakai Pikatan yang waktu itu menjadi pangeran wangsa Sanjaya. Sejak
itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram,
menggantikan agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan menyerang Balaputradewa,
yang merupakan paman atau saudara Pramodhawardhani.
Sejarah wangsa Sailendra berakhir pada tahun 850, yaitu ketika
Balaputradewa melarikan diri ke Suwarnadwipa yang merupakan negeri asal
ibunya. Setelah terusirnya wangsa Sailendra dari Jawa Tengah, Munoz
beranggapan berakhir pula kekuasaan Sriwijaya atas Jawa selama satu abad.
Munoz beranggapan bahwa orang-orang Jawa pengikut Balaputradewa merasa
terancam dan akhirnya menyingkir, mengungsi ke Jawa Barat untuk mendirikan
kerajaan Banten Girang. Hal ini berdasarkan temuan arca-arca bergaya Jawa
Tengahan abad ke-10 di situs Gunung Pulasari, Banten Girang.
Sementara itu, sejarahwan seperti Poerbatjaraka dan Boechari percaya
bahwa hanya ada satu wangsa yaitu Sailendra, dan tidak pernah disebutkan
Sanjayavama dalam prasasti apapun. Sanjaya dan keturunannya dianggap masih
masuk dalam wangsa Sailendra. Secara tradisional, selama ini kurun kekuasaan
Sailendra dianggap berlangsung antara abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, dan hanya
terbatas di Jawa Tengah, tepatnya di Dataran Kedu, dari masa kekuasaan
Panangkaran hingga Samaratungga.
Hal ini sesuai dengan penafsiran Slamet Muljana yang menganggap
Panangkaran sebagai Raja Sailendra pertama yang naik takhta. Akan tetapi
penafsiran paling mutakhir berdasarkan temuan Prasasti Sojomerto serta
kelanjutan Sailendra di Sriwijaya mengusulkan; bahwa masa kekuasaan wangsa
Sailendra berlangsung jauh lebih lama. Dari pertengahan abad ke-7 (perkiraan
dituliskannya Prasasti Sojomerto), hingga awal abad ke-11 masehi (jatuhnya
wangsa Sailendra di Sriwijaya akibat serangan Cholamandala dari India).
Dalam kurun waktu tertentu, wangsa Sailendra berkuasa baik di Jawa
Tengah maupun di Sumatra. Persekutuan dan hubungan pernikahan keluarga
kerajaan antara Sriwijaya dan Sailendra memungkinkan bergabungnya dua
keluarga kerajaan, dengan wangsa Sailendra akhirnya berkuasa baik di Kerajaan
Medang Mataram di Jawa Tengah sekaligus di Sriwijaya, Sumatera.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran