Anda di halaman 1dari 13

Metabolisme dan Respirasi Molekuler

Disusun Oleh :

Yogi Wahyudi

08011181722009

Jurusan Matematika

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Sriwijaya

Indralaya

2017
Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat serta
bimbingan-Nya penulis berhasil menyelesaikan makalah yang penulis beri judul Respirasi
Molekuler. Makalah ini telah penulis susun dengan semaksimal mungkin.
Terlepas dari semua itu penulis menyadari makalah ini masih jauh dari nilai
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan
oleh penulis demi menjadikan makalah ini bisa lebih baik lagi.
Akhir kata semoga makalah "Respirasi Molekuler" ini bisa memberikan informasi
yang berguna bagi masyarakat serta bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Indralaya, 19 September 2017

Yogi Wahyudi
Pengertian Metabolisme :
Metabolisme merupakan totalitas proses kimia di dalam tubuh. Metabolisme meliputi
segala aktivitas hidup yang bertujuan agar sel tersebut mampu untuk tetap bertahan hidup,
tumbuh, dan melakukan reproduksi. Semua sel penyusun tubuh makhluk hidup memerlukan
energi agar proses kehidupan dapat berlangsung. Sel-sel menyimpan energi kimia dalam
bentuk makanan kemudian mengubahnya dalam bentuk energi lain pada proses metabolisme.
Metabolisme dibedakan atas anabolisme dan katabolisme
Anabolisme adalah pembentukan molekul-molekul besar dari molekul-molekul kecil.
Misalnya pembentukan senyawa-senyawa seperti pati, selulosa, lemak, protein dan asam
nukleat. Pada peristiwa anabolisme memerlukan masukan energi.
Katabolisme adalah penguraian molekul-molekul besar menjadi molekul-molekul kecil,
dan prosesnya melepaskan energi. Contoh : respirasi, yaitu proses oksidasi gula menjadi H2O
dan CO2.\
Karbohidrat menjadi salah satu komponen makanan yang kompleks. Komponen inilah
yang menjadi salah satu bahan dalam proses metabolisme. Karbohidrat merupakan senyawa
yang terbentuk dari molekul karbon, hidrogen dan oksigen. Senyawa biologis ini hanya
terdapat dalam jumlah 1% dari keseluruhan tubuh manusia, diolah dalam tubuh sebagai bahan
makanan, dicadangkan dalam bentuk glikogen dan digunakan sebagai bahan bakar sel, juga
dibutuhkan dalam pembentukan tulang rawan. Sumber karbohidrat yang paling banyak
berasal dari tumbuhan.
Dalam proses untuk menghasilkan energi, semua jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan
masuk ke dalam sistem pencernaan dan juga usus halus, terkonversi menjadi glukosa untuk
kemudian diabsorpsi oleh aliran darah dan ditempatkan ke berbagai organ dan jaringan tubuh.
Molekul glukosa hasil konversi berbagai macam jenis karbohidrat inilah yang kemudian akan
berfungsi sebagai dasar pembentukan energi di dalam tubuh. Melalui berbagai tahapan dalam
proses metabolisme, sel-sel yang terdapat di dalam tubuh dapat mengoksidasi glukosa
menjadi CO2 & H2O dimana proses ini juga akan disertai dengan produksi energi. Proses
metabolisme glukosa yang terjadi di dalam tubuh ini akan memberikan kontribusi hampir
lebih dari 50% bagi ketersediaan energi. Di dalam tubuh, karbohidrat yang telah terkonversi
menjadi glukosa tidak hanya akan berfungsi sebagai sumber energi utama bagi kontraksi otot
atau aktifitas fisik tubuh, namun glukosa juga akan berfungsi sebagai sumber energi bagi
sistem syaraf pusat termasuk juga untuk kerja otak. Selain itu, karbohidrat yang dikonsumsi
juga dapat tersimpan sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen di dalam otot dan hati.
Glikogen otot merupakan salah satu sumber energi tubuh saat sedang berolahraga sedangkan
glikogen hati dapat berfungsi untuk membantu menjaga ketersediaan glukosa di dalam sel
darah dan sistem pusat syaraf.
Molekul-molekul yang terkait dengan proses metabolisme
1. ATP
merupakan molekul berenergi tinggi. Molekul ini merupakan ikatan adenosin yang mengikat
tiga gugusan pospat, dengan ikatan yang lemah / labil sehingga mudah melepaskan ikatan
pospatnya pada saat mengalami hidrolisis.

Reaksi metabolisme merupakan reaksi enzymatis yang melibatkan enzim


2. Enzim
adalah biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam protoplasma, yang
terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein.
Enzim mempunyai dua fungsi pokok sebagai berikut.
1. Mempercepat atau memperlambat reaksi kimia.
2. Mengatur sejumlah reaksi yang berbeda-beda dalam waktu yang sama.
Enzim disintesis dalam bentuk calon enzim yang tidak aktif, kemudian diaktifkan dalam
lingkungan pada kondisi yang tepat. Misalnya, tripsinogen yang disintesis dalam pankreas,
diaktifkan dengan memecah salah satu peptidanya untuk membentuk enzim tripsin yang aktif.
Bentuk enzim yang tidak aktif ini disebut zimogen.
Enzim tersusun atas dua bagian. Apabila enzim dipisahkan satu sama lainnya menyebabkan
enzim tidak aktif. Namun keduanya dapat digabungkan menjadi satu, yang disebut holoenzim.
Kedua bagian enzim tersebut yaitu apoenzim dan koenzim.
Kerja Enzim
ada 2 teori yang mengungkapkan cara kerja enzim yaitu:
1. Teori kunci dan anak kunci (Lock and key)
Teori ini dikemukakan oleh Emil Fisher yang menyatakan kerja enzim seperti kunci
dan anak kunci, melalui hidrolisis senyawa gula dengan enzim invertase, sebagai
berikut:
1. Enzim memiliki sisi aktivasi, tempat melekat substrat
2. hubungan antara enzim dan substrat terjadi pada sisi aktivasi
3. Hubungan antara enzim dan substrat membentuk ikatan yang lemah

b. Hipothesis Koshland :
1. Enzim dan sisi aktifnya merupakan struktur yang secara fisik lebih fleksibel daripada
hypothesis Fischer.
2. Terjadi interaksi dinamis antara enzim dan substrat
3. Jika substrat berkombinasi dengan enzim, akan terjadi perubahan dalam struktur
(konformasi) sisi aktif enzim sehingga fungsi enzim berlangsung efektif.
4. Struktur molekul substrat juga berubah selama diinduksi sehingga kompleks enzim-
substrat lebih berfungsi.
Inhibitor
Merupakan zat yang dapat menghambat kerja enzim. Bersifat reversible dan irreversible.
Inhibitor reversible dibedakan menjadi inhibitor kompetitif dan nonkompetitif (Gambar 3.4B )
a. Inhibitor kompetitif
Menghambat kerja enzim dengan menempati sisi aktif enzim. Inhibitor ini besaing dengan
substrat untuk berikatan dengan sisi aktif enzim. Pengambatan bersifat reversibel (dapat
kembali seperti semula) dan dapat dihilangkan dengan menambah konsentrasi substrat.
Inhibitor kompetitif misalnya malonat dan oksalosuksinat, yang bersaing dengan substrat
untuk berikatan dengan enzim suksinat dehidrogenase, yaitu enzim yang bekerja pada substrat
oseli suksinat.
b. Inhibitor nonkompetitif
Inhibitor ini biasanya berupa senyawa kimia yang tidak mirip dengan substrat dan berikatan
pada sisi selain sisi aktif enzim. Ikatan ini menyebabkan perubahan bentuk enzim sehingga
sisi aktif enzim tidak sesuai lagi dengan substratnya. Contohnya antibiotik penisilin
menghambat kerja enzim penyusun konsentrasi substrat. dinding sel bakteri. Inhibitor ini
bersifat reversible tetapi tidak dapat dihilangkan dengan menambahkan
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi enzim
Konsentrasi substrat
Konsentrasi enzim
Suhu
pH
Aktivator dan inhibitor

Keterkaitan Metabolisme, Karbohidrat, Lemak dan Protein


di dalam sel reaksi metabolisme tidak terpisah satu sama lain yaitu membentuk suatu jejaring
yang saling berkaitan. Di dalam tubuh manusia terjadi metabolisme karbohidrat, protein, dan
lemak. Bagaimana keterkaitan ketiganya?

Perhatikan Gambar di bawah ini! Pada bagan terlihat karbohidrat, protein, dan lemak bertemu
pada jalur siklus Krebs dengan masukan asetil koenzim A. Tahukah Anda bahwa Asetil Ko-A
sebagai bahan baku dalam siklus Krebs untuk menghasilkan energi yang berasal dari
katabolisme karbohidrat, protein, maupun lemak. Titik temu dari berbagai jalur metabolisme
ini berguna untuk saling menggantikan bahan bakar di dalam sel, Hasil katabolisme
karbohidrat, protein, dan lemak juga bermanfaat untuk menghasilkan senyawa-senyawa lain
yaitu dapat membentuk ATP, hormon, komponen hemoglobin ataupun komponen sel lainnya.
Hubungan antara metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein.

Lemak (asam heksanoat) lebih banyak mengandung hidrogen terikat dan merupakan senyawa
karbon yang paling banyak tereduksi, sedangkan karbohidrat (glukosa) dan protein (asam
glutamat) banyak mengandung oksigen dan lebih sedikit hidrogen terikat adalah senyawa
yang lebih teroksidasi. Senyawa karbon yang tereduksi lebih banyak menyimpan energi dan
apabila ada pembakaran sempurna akan membebaskan energi lebih banyak karena adanya
pembebasan elektron yang lebih banyak. Jumlah elektron yang dibebaskan menunjukkan
jumlah energi yang dihasilkan.

Perlu Anda ketahui pada jalur katabolisme yang berbeda glukosa dan asam glutamat dapat
menghasilkan jumlah ATP yang sama yaitu 36 ATP. Sedangkan katabolisme asam heksanoat
dengan jumlah karbon yang sama dengan glukosa (6 karbon) menghasilkan 44 ATP, sehingga
jumlah energi yang dihasilkan pada lemak lebih besar dibandingkan dengan yang dihasilkan
pada karbohidrat dan protein. Sedangkan jumlah energi yang dihasilkan protein setara dengan
jumlah yang dihasilkan karbohidrat dalam berat yang sama.

Dari penjelasan itu dapat disimpulkan jika kita makan dengan mengkonsumsi makanan yang
mengandung lemak akan lebih memberikan rasa kenyang jika dibandingkan dengan protein
dan karbohidrat. Karena rasa kenyang tersebut disebabkan oleh kemampuan metabolisme
lemak untuk menghasilkan energi yang lebih besar.
I. KATABOLISME
1. Respirasi merupakan contoh peristiwa Katabolisme.
Respirasi merupakan oksidasi senyawa organik secara terkendali untuk membebaskan energi
bagi pemeliharaan dan perkembangan makhluk hidup.
Produk antara pada respirasi sel dipakai sebagai bahan dasar untuk metabolisme.
Berdasarkan kebutuhan terhadap tersedianya oksigen bebas, dibedakan :
a. Respirasi aerob : respirasi yang membutuhkan oksigen bebas. Oksigen merupakan
penerima hidrogen terakhir.
b. Respirasi anaerob : respirasi yang tidak membutuhkan oksigen bebas. Sebagai penerima
hidrogen terakhir bukan oksigen,tetapi senyawa lain seperti asam pyruvat, dan asetaldehid.
A. Tempat terjadi atau belangsungya respirasi
Reaksi respirasi sebagian berlangsung dalam mitokondria dan sebagian yang lain terjadi di
sitoplasma mitokondria mempunyai membrane ganda ( luar dan dalam ) dengan ruangan
intermembran ( di antara membrane luar dan dalam).
Berdasarkan pernyataan yang berbunyi baik menggunakan oksigen atau tidak terkandung
pengertian ada respirasi yang menggunakan oksigen ( respirasi aerob) dad an respirasi yang
tidak memerluka oksigen ( respirasi anaerob).respirasi anaerob hanya dapat di lakukan oleh
kelompok mikroorganisme tertentu (bakteri), sedangkan pada organisme tingkat tingi belum
di ketahui kemampuannya untuk malakukan respirasi anaerob, dengan demikian bila tidak
tersedia oksigen, organisme tingkat tinggi tidak akan melakukan respirasi anaerob melainkan
akan melakukan proses permentas. Sementara itu, berdasarkan pernyataan yang berbunyi
menjadi senyawa yang lebih sederhana terkandung pengertian ada respirasi yang hasil
akhirnya berupa CO2 dan H2O ( respirasi sempurna ) dan respirasi yang hasil akhirnya
berupa senyawa organic ( respirasi tidak sempurn )
B. Tahapan proses respirasi
Respirasi merupakan fungsi kumulatif dari tiga tahapan metabolic, yang diperlihatkan
melalui tiga tahapan penting, yaitu : Glikolisis, Siklus Krebs, Rantai transpor elektron dan
fosforilasi oksidatif. Dua tahapan yang pertama, glikolisis dan siklus Krebs, merupakan jalur
katabolic yang menguraikan glukosa dan bahan baker organic lainnya. Glikolisis terjadi di
dalam sitosol yang mengawali perombakan dengan pemecahan glukosa menjadi dua molekul
piruvat. Siklus Krebs terjadi di dalam matriks mitokondria yang menguraikan turunana
piruvat menjadi karbon dioksida. Sebagian tahap glikolisis dan siklus Krebs ini merupakan
reaksi redoks dimana enzim dehidrogenase mentransfer electron dari substrat ke NAD+, dan
membentuk NADH. Energi yang dilepas pada setiap langkah setiap rantai tersebut disimpan
dalam suatu bentuk yang digunakan oleh mitokondria untuk membuat ATP. Modus sintesis
ATP ini disebut fosforilasi oksidatif karena sintesis ini digerakkan oleh reaksi redoks yang
mentransfer electron dari makanan ke oksigen.
Respirasi menukar satuan energi yang besar yang ditumpuk dalam glukosa dengan suatu
perubahan kecil ATP, yang lebih praktis untuk digunakan sel dalam melakukan kerjanya.
Untuk setiap molekul glukosa yang dirombak nmenjadi karbon dioksida dan air oleh respirasi,
sel ini menghasilkan kira kira 38 molekul ATP.
1. Glikolisis
Kata glikolisis berarti menguraikan gula. Glukosa, gula berkarbon-enam, diuraikan
menjadi dua gula berkarbon-tiga. Gula yang lebih kecil ini kemudian dioksidasi, dan atom
sisanya disusun ulang untuk membentuk dua molekul piruvat. Jalur katabolic glikolisis terdiri
dari sepuluh langkah, yang masing - masing dikatalisis oleh enzim spesifik.
Kesepuluh langkah itu dibagi menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi mencakup lima
langkah pertama dan fase pembayaran energi mencakup lima langkah berikutnya. Selama fase
investasi energi, sel sebenarnya menggunakan ATP untuk memfosforilasi molekul bahan
bakar. Investasi ini terbayar dengan dividennya selama fase pembayaran energi, ketika ATP
dihasilkan oleh fosforilasi tingkat substrat dan NAD+ direduksi menjadi NADH melalui
oksidasi makanan. Fase investasi energi yang terdiri dari lima langkah pertama, yaitu :
a. Glukosa memasuki sel dan difosforilasi oleh enzim heksokinase, yang mentransfer
gugus fosfat dari ATP ke gula.
b. Glukosa 6 fosfat disusun ulang untuk mengubahnya menjadi isomernya, yaitu
fruktosa 6 fosfat. Enzim yang digunakan yaitu enzim fosfoglukoisomerase.
c. Dalam langkah ini, molekul ATP lain masih diinvestasikan dalam glikolisis. Dengan
gugus fosfat pada ujung ujung yang berlawanan, gula ini sekarang siap diuraikan menjadi
setengahnya. Enzim yang digunakan pada tahapan ini adalah fosfofruktokinase.
d. Dari reaksi inilah muncul nama glikolisis. Enzim aldolase menguraikan dua molekul
gula menjadi dua gula berkarbon tiga yang berbeda : gliseraldehida fosfat dan
dihidroksiaseton fosfat. Kedua gula ini merupakan isomer satu sama lain.
e. Enzim lain mengkatalisis perubahan bolak balik ( reversible ) antara kedua gula
berkarbon tiga tersebut, dan jika dibiarkan dalam tabung reaksi akan mencapai
kesetimbangan. Akan tetapi, ini tidak akan terjadi dalam sel karena enzim isomerase dalam
glikolisis hanya menggunakan gliseraldehida fosfat sebagai substratnya dan tidak menerima
dihidroksiaseton fosfat. Jadi, selisih hasil langkah 4 dan 5 ialah penguraian gula berkarbon
enam menjadi dua molekul gliseraldehida fosfat.
Fase pembayaran energi yang mencakup lima langkah berikutnya, antara lain :
f. Suatu enzim triosfosfat dehidrogenase mengkatalisis dua reaksi berurutan ketika
enzim itu mengikat gliseraldehida fosfat dalam tempat aktifnya. Gula dioksidasi oleh transfer
electron dan H+ ke NAD+, yang membentuk NADH. Reaksi inisangat eksergonik, dan enzim
tersebut menggunakan energi yang dilepas untuk mengikat gugus fosfat ke substrat
teroksidasi, menghasilkan prosuk dengan energi potensial yang sangat tinggi. Sumber fosfat
ialah fosfat anorganik yang selalu ada dalam sitosol.
g. Glikolisis menghasilkan sejumlah ATP dengan bantuan enzim fosfogliserkinase.
Gugus fosfat yang ditambahkan dalam langkah sebelumnya ditransfer ke ADP dalam suatu
reaksi eksergonik. Untuk setiap molekul glukosa yang memulai glikolisis, langkah ini
menghasilkan 2 molekul ATP karena setiap produk setelah langkah penguraian gula ( langkah
ini ) digandakan.
h. Suatu enzim fosfogliseromutase merelokasi gugus fosfat yang tersisa.
i. Suatu enzim enolase membentuk ikatan ganda dengan substrat dengan cara
mengekstraksi suatu molekul air untuk membentuk posfoenolpiruvat, atau PEP. Ini
menyebabakan electron substrat disusun ulang sedemikian rupa sehingga ikatan fosfatnya
yang tersisa menjadi sangat tidak stabil.
j. Reaksi terakhir glikolisis ini menggunakan enzim piruvat kinase yang menghasilkan
lagi ATP dengan mentransfer gugus fosfat dari PEP ke ADP. Langkah g dan j masing
masing menghasilkan 2 ATP sehingga keseluruhan membayar empat, tetapi hutang ATP telah
dilakukan pada langkah a dan c. Energi tambahan disimpan oleh langkah f dalam NADH yang
dapat digunakan untuk membuat ATP melalui fosforilasi oksidatif jika oksigen ada.Secara
ringkas reaksi glikolisis dapat ditulis sebagai berikut : Glukosa + 2 NAD+ + 2 ADP2- + 2
H2PO4 2 Piruvat + 2 NADH + 2 H+ + 2 ATP3- + 2 H2O
2. Siklus Krebs ( Siklus Asam Sitrat )
Glikolisis melepaskan energi kurang dari seperempat energi kimiawi yang tersimpan
dalam glukosa; sebagian besar energi itu tetap tersimpan dalam dua molekul piruvat. Jika ada
oksigen molekuler, piruvat itu memasuki mitokondria, dimana enzim-enzim siklus Krebs
menyempurnakan oksidasi bahan bakar organiknya.
Setelah memasuki mitokondria, piruvat mula-mula diubah menjadi suatu senyawa yang
disebut asetil CoA. Langkah ini merupakan junction ( persambungan ) antara glikolisis dan
siklus Krebs, yang diselesaikan oleh kompleks multienzim yang mengkatalisis tiga reaksi: 1)
Gugus karboksil piruvat, yang memiliki sedikit energi kimiawi, dikeluarkan dan dilepas
sebagai molekul CO2. 2) Fragmen berkarbon dua yang tersisa dioksidasi untuk membuat
senyawa yang dinamai asetat. 3) Koenzim A, senyawa yang mengandung sulfur turunan dari
vit. B, diikatkan oleh asetat tadi oleh ikatan tak stabil yang membuat gugus asetil sangat
reaktif.
Siklus Krebs dinamai berdasarkan nama Hans Krebs, saintis Jerman Inggris yang paling
bertanggung jawab dalam pembeberan jalur ini pada tahun 1930-an. Siklus ini memiliki
delapan langkah, masing-masing dikatalisis oleh suatu enzim spesifik dalam matriks
mitokondria. Setiap putaran sikluls Krebs, dua karbon masuk dalam bentuk asetat yang
relative tereduksi ( langkah 1 ), dan dua karbon yang berbeda keluar dalam bentuk CO2 yang
teroksidasi sempurna ( langkah 3 dan 4 ). Asetat bergabung dalam siklus ini melalui
penambahan enzimatiknya ke senyawa oksaloasetat, yang membentuk sitrat. Langkah-
langkah berikutnya menguraikan sitrat kembali menjadi oksaloasetat, yang melepaskan CO2
sebagai buangan.
Sebagian besar energi yang dipanen oleh langkah oksidatif siklus ini disimpan dalam
NADH. Untuk setiap asetat yang memasuki siklus ini, tiga molekul NAD+ direduksi menjadi
NADH ( langkah 3, 4, dan 8 ). Dalam satu langkah oksidatif ( langkah 6 ), electron tidak
ditransfer ke NAD+, tetapi ke akseptor electron lainnya, FAD. Ada juga satu langkah dalam
siklus Krebs ini ( langkah 5 ) yang membentuk molekul ATP secara langsung dengan
fosforilasi tingkat-substrat, serupa dengan langkah glikolisis yang membentuk ATP. Tetapi
sebagian besar keluaran ATP respirasi berasal dari fosforilasi oksidatif, apabila NADH dan
FADH2 yang dihasilkan oleh siklus Krebs melerai ( melewatkan dan menguatkan ) electron
yang diekstraksi dari makanan ke rantai transpor elektronnya.
3. Transpor Elektron dan Fosforilasi Oksidatif
Jika NADH dan FADH2 yang dihasilkan dari glikolisis maupun siklus Krebs dioksidasi,
maka akan dihasilkan ATP. Elektron yang terlibat ditransfer melalui beberapa senyawa
perantara sebelum H2O dibentuk. Pengangkutan elektron berlangsung mulai dari senyawa
perantara yang secara termodinamis sulit direduksi menuju senyawa yang mempunyai
kecenderungan yang lebih besar untuk menerima elektron. Setiap senyawa pembawa elektron
dalam sistem ini hanya menerima elektron dari senyawa pembawa lainnya yang letaknya
berdekatan dengannya. Senyawa-senyawa pembawa elektron ini tersususn secara terbaris
pada bagian dalam membran mitokondria.
Seperti halnya system pengangkutan electron pada kloroplas, pada mitokondria juga
terlibat enzim sitokhrom dan berbagai bentuk kuinon, terutama ubikuinon. Juga terdapat
beberapa flavoprotein ( protein yang mengandung riboflavin ), protein yang mengandung
belerang dan besi ( Fe-S protein ) yang mirip dengan ferredoksin, enzim sitikhrom oksidase
dan beberapa senyawa lainnya yang belum teridentifikasi.
C. Faktor- faktor apa yang mempengaruhi proses respirasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses respirasi suatu organisme antara lain: umur/usia
organisme tersebut, bobot dari kegiatan yang dilakukan, ukuran organisme itu sendiri,
keadaan lingkungan sekitar, serta cahaya juga mempengaruhi rata-rata pernapasan. Untuk
mengetahui bahwa kecambah kacang hijau melakukan respirasi atau tidak, maka kita dapat
mengamati tabung respirometer. Jika kecambah kacang hijau dalam tabung berespirasi maka
kita akan menemukan uap air yang menempel dalam tabung respirometer, tetapi jika tidak ada
uap air itu artinya kecambah kacang hijau tidak berespirasi. Adanya uap air dijadikan
indikator respirasi karena dalam proses respirasi akan dilepaskan karbon dioksida dan uap air.
Dalam pengamatan ini kita harus teliti dalam mengoleskan vaselin pada sumbat, jangan
sampai ada rongga udara yang masih terbuka karena hal ini bisa mengganggu pengamatan.
Respirasi aerob pada pengukuran respirasi kecambah berarti diperlukan oksigen dan
dihasilkan karbodioksida serta energi. Sedangkan respirasi anaerob berarti respirasi dengan
kadar oksigen yang kurang atau tidak dan dihasilkan senyawa selain karbodioksida seperti
alkohol, asetildehida atau asam asetat dengan sedikit energi. Adapun persamaan reaksi dari
respirasi + KOH adalah :

C6H12O6 + KOH 2C2 H5OH + 2CO2 + K + ENERGI


Respirasi aerob pada pengukuran respirasi kecambah berarti diperlukan oksigen dan
dihasilkan karbodioksida serta energi. Sedangkan respirasi anaerob berarti respirasi dengan
kadar oksigen yang kurang atau tidak dan dihasilkan senyawa selain karbodioksida seperti
alkohol, asetildehida atau asam asetat dengan sedikit energi. Laju respirasi dapat diketahui
dari waktu yang digunakan kecambah kacang hijau untuk menarik eosin, sedangkan
banyaknya oksigen yang diperlukan selama proses respirasi dapat diketahui dari sejauh mana
eosin naik. Kecambah kacang hijau menarik eosin dalam dua tahap. Tahap pertama adalah
kenaikan eosin secara lambat. Kenaikan ini terjadi, sejauh 200 pada skala respirometer
dengan menggunakan akuades. Sedangkan pada tahap kedua, yaitu tahap kenaikan 160 pada
skala respirometer dengan menggunakan KOH 10 %.