Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ISI

2.1 PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL


Interaksi sosial pada dasarnya merupakan siklus perkembangan dari struktur sosial
yang merupakan aspek dinamis dalam kehidupan masyakarat. Soekanto (2006), mengatakan
bahwa interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut
antara orang perorangan, antara orang dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
Namun dipihak lain Roucek dan Warren (dalam Syani, 1994), menyatakan bahwa interaksi
sosial adalah suatu proses melalui tindakan balasan tiap-tiap kelompok berturut-turut menjadi
unsur penggerak bagi tindak balas dari kelompok yang lain.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat diartikan bahwa interaksi adalah suatu
hubungan pengaruh-mempengaruhi yang secara timbal balik antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
Hal ini sejalan dengan L. Bonner dalam bukunya Sosial Psichology mengemukakan bahwa
interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu yang satu mempengaruhi,
mengubah atau memperbaiki kelakuan individu lainnya atau sebaliknya (Ahmadi, 2003).
Lebih tegas lagi Soekanto (2006), mengatakan bahwa di dalam interaksi tidak mungkin
terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu kontak sosial dan komunikasi.
Selanjutnya, Soekanto (2006), mengatakan bahwa kontak sosial meliputi kontak sosial
primer dan sekunder. Kontak sosial primer merupakan kontak dalam bentuk tatap muka,
bertemu, jabat tangan, bercakap-cakap antara pihak yang melakukan kontak sosial.
Sedangkan kontak sosial sekunder merupakan kontak sosial tidak langsung dimana melalui
perantara, misalnya melaui telpon, radio, surat dan sebagainya. sedangkan komunikasi adalah
proses penyampaian pesan. Menurut Lasswell (Effendy, 1986), mengatakan bahwa
komunikasi adalah Proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk
memberitahu dan mengubah sikap. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang-
lambang yang mengandung arti atau makna yang perlu dipahami oleh pihak-pihak yang
terlibat dalam proses komunikasi.
Dalam pelayanan kesehatan berlangsung, kontak sosialpun juga berlangsung antara
perawat sebagai pemberi asuhan perawatan kesehatan dengan pasien sebagai individu yang
memerlukan perawatan kesehatan atau dengan dokter dan pasien ataupun juga dokter dengan
perawat dan sebaliknya.
Selain berwujud asosiatif, interaksi sosial juga dapat berwujud disasosiatif yang
merubah integritas menjadi perceraian atau perpisahan karenan perselisihan atau
pertentangan (konflik). Konflik adalah interaksi yang antagonistis, mencakup tingkah laku
lahiriah yang tampak jelas, mulai dari bentuk-bentuk perlawanan halus, terkontrol,
tersembunyi, tidak langsung, sampai pada bentuk perlawanan terbuka, kekerasan, perjuangan
yang tidak terkontrol, benturan laten, pemogokan, huru-hara, perang dan lain-lain (Kartono,
1992).
2.2 BENTUK BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Interaksi Sosial Asosiatif
-> adalah bentuk interaksi sosial yang menghasilkan kerja sama. Pembagiannya : a

1. Kerja sama (cooperation)


-> bentuk utama dari proses interaksi sosial karena pada dasarnya interaksi sosial yang
dilakukan oleh seseorang bertujuan untuk memenuhi kepentingan atau kebutuhan bersama. 4
macam kerjasama :
- Kerja sama spontan (spontaneous cooperation) -> kerjasama yang timbul secara spontan.
- Kerja sama langsung (directed cooperation)
-> kerjasama karena adanya perintah atasan/penguasa.
- Kerja sama kontrak (contractual cooperation)
-> kerjasama yang berlangsung atas dasar ketentuan tertentu yang disetujui dalam jangka
waktu tertentu.
- Kerja sama tradisional (traditional cooperation)
-> kerjasama karena sistem tradisi yang kondusif.

2. Akomodasi (accomodation)
-> proses penyesuaian sosial dalam interaksi antarindividu dan antarkelompok untuk
meredakan pertentangan.
Tujuan akomodasi :
- mengurangi perbedaan pandangan, pertentangan politik, atau permusuhan antarsuku atau
antarnegara.
- mencegah terjadinya ledakan konflik yang mengarah pada benturan fisik.
- mengupayakan terjadinya akomodasi di antara masyarakat yang dipisahkan oleh sistem
kelas atau kasta.
- mengupayakan terjadinya proses pembauran atau asimilasi di antara kelompok kesukuan
atau ras.

3. Asimilasi (assimilation)
-> proses ke arah peleburan kebudayaan sehingga masing-masing pihak merasakan adanya
kebudayaan tunggal sebagai milik bersama.

4. Akulturasi (acculturation)
-> proses sosial yang timbul akibat suatu kebudayaan menerima unsur-unsur dari suatu
kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.

Interaksi Sosial Disosiatif


-> adalah bentuk interaksi sosial yang menghasilkan perpecahan. Pembagiannya :

1. Persaingan (competition)
-> perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu agar memperoleh
kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik.
2. Kontraversi
-> bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik.
Bentuk-bentuk kontraversi :
- kontraversi umum : penolakan, keengganan, pengacauan rencana, & kekerasan.
- kontraversi sederhana : memaki, mencerca, memfitnah, & menyangkal pihak lain.
- kontraversi intensif : penghasutan, penyebaran desas-desus, & mengecewakan pihak lain.
- kontraversi rahasia : mengumumkan rahasia pihak lain & berkhianat.
- kontraversi taktis : intimidasi, provokasi, & membingungkan pihak lawan.

3. Pertentangan / Konflik Sosial


-> proses sosial antarperorangan atau kelompok masyarakat tertentu akibat adanya perbedaan
paham dan kepentingan yang sangat mendasar sehingga menimbulkan adanya semacam
jurang pemisah diantara mereka.

2.3 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI SOSIAL


Interaksi sosial sebagai aksi dan reaksi yang timbal balik dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang berada diluar individu. Hal ini memang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang
menjadi dasar terbentuknya proses interaksi sosial. Menurut Soekanto (2006) bahwa ada
empat faktor yaitu:

a. Imitasi
Imitasi dapat medorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang
berlaku. Namun, di sisi lain imitasi dapat bersifat negatif apabila hal yang ditiru merupakan
tindakan-tindakan menyimpang. Yang ditiru dalam imitasi berupa sikap, tindakan, tingkah
laku dan sebagainya.
b. Sugesti
yaitu pemberian pengaruh atau pandangan dari suatu pihak kepada pihak lain. Sugesti
akan berhasil apabila yang memberi pandangan adalah orang berwibawa atau yang berkuasa.
c. Identifikasi
yaitu kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang
yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Identifikasi merupakan bentuk lanjut dari
proses sugesti yang pengaruhnya sangat kuat.
d. Simpati
yaitu suatu proses dimana seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Rasa tertarik ini
didasari atau didorong keinginan-keinginan untuk memahami orang lain, memahami
perasaannya ataupun bekerja sama dengannya.
e. Empati
empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengindentifikasi
dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.
Misalnya, jika melihat seseorang mengalami kecelakaan dan luka berat. kita berempati
seolah-olah juga ikut merasakan sakit orang tersebut. Dengan kata lain, kita memposisikan
diri kita pada orang lain
2.4 INTERAKSI SOSIAL ANTARA PERAWAT,PASIEN DAN TENAGA KESEHATAN
LAINNYA
Perawat menjalankan peran yang membutuhkan interaksi dengan berbagai anggota tim
pelayanan kesehatan. Unsur yang membentuk hubungan perawat klien juga dapat diterapkan
dalam hubungan sejawat, yang berfokus pada pembentukan lingkungan kerja yang sehat dan
mencapai tujuan tatanan klinis. Komunikasi ini berfokus pada pembentukan tim, fasilitasi
proses kelompok, kolaborasi, konsultasi, delegasi, supervisi, kepemimpinan, dan manajemen.
Dibutuhkan banyak keterampilan komunikasi, termasuk berbicara dalam presentasi, persuasi,
pemecahan masalah kelompok, pemberian tinjauan performa, dan penulisan laporan. Didalam
lingkungan kerja, perawat dan tim kesehatan membutuhkan interaksi sosial dan terapeutik
untuk membangun kepercayaan dan meperkuat hubungan. Semua orang memilki kebutuhan
interpribadi akan penerimaan, keterlibatan, identitas, privasi, kekuatan dan kontrol, serta
perhatian. Perawat membutuhkan persahabatan, dukungan, bimbingan, dan dorongan dari
pihak lain untuk mengatasi tekanan akibat stress pekerjaan dan harus dapat menerapkan
komunikasi yang baik dengan klien, sejawat dan rekan kerja. (Potter & Perry, 2009).
Agar efektif sebagai profesional keperawatan, itu tidak cukup untuk sangat berkomitmen
untuk klien. Pada akhirnya, iklim perusahaan tempat kerja akan memiliki efek pada hubungan
yang terjadi antara perawat dan klien pribadi. Kegagalan dalam komunikasi antara penyedia
layanan kesehatan adalah salah satu faktor yang paling umum. Komitmen untuk kolaborasi
dalam hubungan kerja dengan para profesional lain membantu mempertahankan kualitas
tinggi dari perawatan klien. Keberhasilan kelompok bergantung pada hubungan baik
diantara tim, terutama pemimpin tim dengan anggota tim yang lain. Untuk mendorong
terjadinya komunikasi, pemimpin tim harus selalu mengamati prinsip komunikasi menurut
WHO, 1999 :
Seluruh anggota tim harus bebas mengemukakan dan menjelaskan pandangan mereka dan
harus didorong untuk bertindak seperti itu.
Sebuah pesan atau komunikasi, baik lisan maupun tertulis harus dinyatakan dengan jelas dan
dalam bahasa atau ungkapan yang dapat dimengerti
Komunikasi mempunyai 2 unsur yaitu mengirim dan menerima, bila pesan yang dikirim
tidak diterima komunikasi tidak berjalan. Dengan demikian pemimpin tim harus selalu
meggunakan suatu cara untuk memeriksa apakah efek yang diharapkan terjadi.
Perselisihan atau pertentangan adalah normal dalam hubungan antar manusia, hal ini sudah
diatur sedemikian sehingga dapat mencapai hasil yang konstruktif.
Pengaturan ruangan untuk membantu komunikasi cobalah dengan mengatur
ruangan, kantor kelas dan ruangan kelompok, pendidikan lainnya sehingga komunikasi dapat
berjalan dengan efektif. Diagram dibawah menunjukkan pengaturan komunikasi dengan 1
pemimpin dan 4 anggota. (WHO, 1999. )
Selalu ingat bahwa :
Dalam satu kelompok yang terdiri dari tidak lebih enam atau tujuh orang, semua
orang dapat ikut serta dalam diskusi. Dengan demikian, sebuah kelompok besar lebih baik
dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil.
Meja dapat dihalangi komunikasi karena permukaan atau bentuknya, atau cara benda
tersebut ditempatkan. Bila tidak diperlukan maka disingkirkan. Hindarkan meja berbentuk
huruf U
Pengaturan tempat duduk harus mencerminkan tujuan atau maksud pertemuan atau
kelompok. Gunakan pengaturan tersebut untuk mempermudah komunikasi, bila hal ini
penting untuk maksud dan tujuan tersebut. Sesuaikan pengaturan tempat duduk ini dengan
tujuan, bukan tujuan menyesuaikan dengan pengaturan tempat duduk.

1. Komunikasi antara perawat-dokter


Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang telah cukup
lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien. Perawat bekerja sama dangan dokter
dalam berbagai bentuk. Perawat mungkin bekerja di lingkungan di mana kebanyakan asuhan
keperawatan bergantung pada instruksi medis. Perawat diruang perawatan intensif dapat
mengikuti standar prosedur yang telah ditetapkan yang mengizinkan perawat bertindak lebih
mandiri.
Perawat dapat bekerja dalam bentuk kolaborasi dengan dokter.Contoh : Ketika
perawat menyiapkan pasien yang baru saja didiagnosa diabetes pulang kerumah, perawat dan
dokter bersama-sama mengajarkan klien dan keluarga begaimana perawatan diabetes di
rumah.Selain itu komunikasi antara perawat dengan dokter dapat terbentuk saat visit dokter
terhadap pasien, disitu peran perawat adalah memberikan data pasien meliputi TTV,
anamnesa, serta keluhan-keluhan dari pasien,dan data penunjang seperti hasil laboraturium
sehingga dokter dapat mendiagnosa secara pasti mengenai penyakit pasien.Pada saat perawat
berkomunikasi dengan dokter pastilah menggunakan istilah-istilah medis, disinilah perawat
dituntut untuk belajar istilah-istilah medis sehingga tidak terjadi kebingungan saat
berkomunikasi dan komunikasi dapat berjalan dengan baik serta mencapai tujuan yang
diinginkan.
Komunikasi antara perawat dengan dokter dapat berjalan dengan baik apabila dari
kedua pihak dapat saling berkolaborasi dan bukan hanya menjalankan tugas secara individu,
perawat dan dokter sendiri adalah kesatuan tenaga medis yang tidak bisa dipisahkan. Dokter
membutuhkan bantuan perawat dalam memberikan data-data asuhan keperawatan, dan
perawat sendiri membutuhkan bantuan dokter untuk mendiagnosa secara pasti penyakit
pasien serta memberikan penanganan lebih lanjut kepada pasien. Semua itu dapat terwujud
dwngan baik berawal dari komunikasi yang baik pula antara perawat dengan dokter.

Tips untuk permintaan kejelasan kepada dokter:


1. Mengidentifikasi semua nama (Sebutkan nama dokter, sebutkan nama dan posisi,
mengidentifikasi klien dan diagnosis klien atau orang-orang lain yang terlibat dalam
masalah dengan nama.
2. Meringkas masalah (data faktual singkat tentang masalah),
3. Menyatakan tujuan ,
4. Menyarankan solusi pemecahan masalah yang relevan sesuai dengan praktek klinik,
5. Menulis kesimpulan (menjelaskan siapa yang akan bertanggung jawab untuk pelaksanaan,
mengklarifikasi informasi terutama jika ini percakapan telepon, menentukan kerangka waktu
pelaksanaan). (Arnold & Boogs, 2007).

2. Komunikasi antara Perawat dengan Perawat


Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien komunikasi antar tenaga
kesehatan terutama sesama perawat sangatlah penting. Kesinambungan informasi tentang
klien dan rencana tindakan yang telah, sedang dan akan dilakukan perawat dapat
tersampaikan apabila hubungan atau komunikasi antar perawat berjalan dengan
baik.Hubungan perawat dengan perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan dapat
diklasifikasikan menjadi hubungan profesional, hubungan struktural dan hubungan
intrapersonal.
Hubungan profesional antara perawat dengan perawat merupakan hubungan yang
terjadi karena adanya hubungan kerja dan tanggung jawab yang sama dalam memberikan
pelayanan keperawatan.Hubungan sturktural merupakan hubungan yang terjadi berdasarkan
jabatan atau struktur masing- masing perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan
wewenang dan tanggungjawabnya dalam memberikan pelayanan keperawatan.
Laporan perawat pelaksana tentang kondisi klien kepada perawat primer, laporan
perawat primer atau ketua tim kepada kepala ruang tentang perkembangan kondisi klien, dan
supervisi yang dilakukan kepala ruang kepada perawat pelaksana merupakan contoh
hubungan struktural.Hubungan interpersonal perawat dengan perawat merupakan hubungan
yang lazim dan terjadi secara alamiah. Umumnya, isi komunikasi dalam hubungan ini adalah
hal- hal yang tidak terkait dengan pekerjaan dan tidak membawa pengaruh dalam
pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

3. Komunikasi antara perawat dengan Ahli terapi.


Ahli terapi respiratorik ditugaskan untuk memberikan pengobatan yang dirancang untuk
peningkatan fungsi ventilasi atau oksigenasi klien.Perawat bekerja dengan pemberi terapi
respiratorik dalam bentuk kolaborasi. Asuhan dimulai oleh ahli terapi (fisioterapis) lalu
dilanjutrkan dengan dievaluasi oleh perawat. Perawat dan fisioterapis menilai kemajuan klien
secara bersama-sama dan mengembangkan tujuan dan rencana pulang yang melibatkan klien
dan keluarga. Selain itu, perawat merujuk klien ke fisioterapis untuk perawatan lebih jauh.
Contoh : Perawat merawat seseorang yang mengalamai penyakit paru berat dan merujuk
klien tersebut pada ahli terapis respiratorik untuk belajar latihan untuk menguatkaan otot-otot
lengan atas, untuk belajar bagaimana menghemat energi dalam melakukan aktivitas sehari-
hari, dan belajar teknik untuk mempertahankan bersihan jalan nafas.

4. Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Farmasi


Seorang ahli farmasi adalah seorang profesional yang mendapat izin untuk merumuskan
dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau
mungkin juga terlibat dalam konferensi perawatan klien atau dalam pengembangan sistem
pemberian obat. Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan
mempertahankan dengan mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan.
Dengan demikian, perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas
tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.
Perawat harus selalu mengetahui kerja, efek yang dituju, dosis yang tepat dan efek smaping
dari semua obat-obatan yang diberikan. Bila informasi ini tidak tersedia dalam buku referensi
standar seperti buku-teks atau formula rumah sakit, maka perawat harus berkonsultasi pada
ahli farmasi.
Saat komunikasi terjadi maka ahli farmasi memberikan informasi tentang obat-obatan
mana yang sesuai dan dapat dicampur atau yang dapat diberikan secara bersamaan.
Kesalahan pemberian dosis obat dapat dihindari bila baik perawat dan apoteker sama-sama
mengetahui dosis yang diberikan. Perawat dapat melakukan pengecekkan ulang dengan tim
medis bila terdapat keraguan dengan kesesuaian dosis obat. Selain itu, ahli farmasi dapat
menyampaikan pada perawat tentang obat yang dijual bebas yang bila dicampur dengan obat-
obatan yang diresepkan dapat berinteraksi merugikan, sehingga informasinini dapat
dimasukkan dalam rencana persiapan pulang. Seorang ahli farmasi adalah seorang
profesional yang mendapat izin untuk merumuskan dan mendistribusikan obat-obatan. Ahli
farmasi dapat bekerja hanya di ruang farmasi atau mungkin juga terlibat dalam konferensi
perawatan klien atau dalam pengembangan sistem pemberian obat.

5. Komunikasi antara Perawat dengan Ahli Gizi.


Kesehatan dan gizi merupakan faktor penting karena secara langsung berpengaruh
terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Pelayanan gizi di RS merupakan hak setiap
orang dan memerlukan pedoman agar tercapai pelayanan yang bermutu.
Agar pemenuhan gizi pasien dapat sesuai dengan yang diharapkan maka perawat harus
mengkonsultasikan kepada ahli gizi tentang obatan yang digunakan pasien, jika perawat
tidak mengkonunikasikannya maka dapat terjadi pemilihan makanan oleh ahli gizi yang bisa
saja menghambat absorbsi dari obat tersebut. Jadi diperlukanlah komunikasi dua arah yang
baik antara kedua belah pihak.

6. Komunikasi antara Perawat dan pasien


Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dan pasien sebagai yang membutuhkan
perawatan hendaknya keduanya saling membangun komunikasi dengan baik. Salah satu
penyebab ketidakpuasan pasien dalam proses keperawatan adalah tidak adanya komunikasi
diantara keduanya baik perawat maupun pasien, sikap dan perilaku perawat yang tidak sopan
dan ramah, perawat bersikap arogan, sehingga membuat pasien menjadi kesal, bingung
dengan perawatannya dan bahkan kecewa dengan sikap para perawat ditambah lagi dengan
kata-kata yang pakai perawat yang tidak dipahami oleh pasien yang kurang berpengetahuan
sehingga bisa membuat pasien bartambah bingung.
Hal ini dapat memicu timbulya konflik antara perawat dengan pasien, keluarga dan
masyarakat. Dimana pasien sebagai yang awam tidak mampu menginterpretasikan kata-kata
perawat apalagi jika perawatnya mengunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti oleh
pasien (Friedson, 1970). Interaksi antar perawat sangat penting dalam proses pelayanan
kesehatan dimana sangat membantu pasien dalam penyembuhannya.
Dalam memberikan asuhan keperawatan seorang perawat harus memperhatikan kode
etiknya sebagai perawat sehingga diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan
kesehatan sesuai standar profesinya. Kode etik perawat adalah pedoman perawat dalam
menjalankan tugasnya sebagai perawat. Hubungan pasien dan perawat adalah suatu proses
dinamis yang meliputi usaha kolaborasi perawat dan pasienuntuk mengatasi masalah dan
untuk meningkatkan kesehatan dan kemampuan beradaptasi (Potter & Perry, 2005). Perawat
menggunakan komunikasi interpersonal untuk mengembangkan hunbungan
dengan pasien yang dapat meningkatkan pemahaman mereka sebagai manusia
seutuhnya. Menurut Sobur (2004) komunikasi interpersonal adalah komunikasi tatap muka
antara dua orang atau lebih. Komunikasi interpersonal dipercaya sebagai bentuk komunikasi
yang efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena
sifatnya yang dialogis, berupa percakapan.

7. Komunikasi terkait kasus pemicu


Fokus dalam segmen model komunikasi kesehatan dapat melukiskan hubungan
interpersonal dalam tim kesehatan. Northouse (1998) mengungkapkan ada 3 area
permasalahan yang dimiliki dalam hubungan interprofesional yaitu:
1) Stres Peranan (Role Stress)
2) Rendahnya pemahaman interpersonal (lack of interpersonal understanding)
3) Otonomi yang keras (autonomy struggle)

Bertemu dengan orang sakit setiap hari merupakan tugas yang tidak mudah. Pekerjaan
profesional kesehatan secara konstan menempatkan mereka dalam kontak dengan pasien
yang sedang bergelut dengan kondisi kritis dalam hidupnya dan mereka sedang mencoba
mengatasi emosi atau penyakit yang serius. Sumber masalah role stress yang dialami para
professional kesehatan berhubungan dengan penyelesaian peran professional itu sendiri. Jenis
role stress dibagi dua jenis yaitu role conflict dan role overload. Kasus role conflict dapat
ditunjukan salah satunya dengan reality shock.

Kramer (1974) dalam teorinya tentang Reality Shock menjelaskan bahwa stress dapat
disebabkan oleh adanya kesenjangan atau perbedaan antara lingkungan pendidikan dengan
pelayanan. Hal itu biasanya dialami oleh lulusan perawat baru. Perawat Yanti sebagai
perawat baru yang bekerja di sebuah Rumah Sakit merasakan bahwa pendidikan yang ia
tempuh selama ini ternyata belum cukup untuk mempersiapkan dirinya dalam lingkungan
kerja. Perawat Yanti akhirnya mengalami reality shock yang menyebabkan terhambatnya
komunikasi terapeutik antara perawat dan klien. Karena baru pertama masuk dunia kerja,
perawat Yanti juga merasakan kesulitan berkomunikasi dengan tim kesehatan lain, apalagi
untuk berbicara di depan suatu forum tim kesehatan. Hubungan interpersonal antara perawat
dan profesi lain pun harus terpelihara dengan baik. Hubungan tersebut dapat diwujudkan
dengan meningkatkan pemahaman interpersonal mengenai peran masing-masing individu
atau profesi.

Perawat Yanti harus paham benar tentang perannya sebagai perawat dan berusaha tidak
memasuki batas wilayah peran profesi lainnya sehingga tidak memicu konflik internal tim
kesehatan. Kolaborasi antara perawat Yanti dengan perawat atau tim kesehatan lain dapat
terwujud jika hubungan interpersonal perawat Yanti berjalan dengan baik. Area-area rentang
konflik seperti yang digambarkan di atas merupakan hal yang perlu diwaspadai, terutama
dalam menjalin kolaborasi antar anggota tim kesehatan atau interprofesional. Untuk
mempertahankan hubungan yang harmonis serta mengurangi beban stress di lingkungan
kerja, akhirnya para professional kesehatan membuat jadwal pertemuan rutin yang digunakan
sebagai sarana sharing atau berdiskusi tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan
kerja. Pertemuan tersebut antara lain rapat rutin tim kesehatan dan case conference.

Rapat Tim Kesehatan


Rapat tim kesehatan adalah media komunikasi antara tim kesehatan (rapat
multidisiplin) untuk membahas manajerial ruang untuk membicarakan hal-hal yang terkait
dengan manajerial.Tujuan rapat tim keehatan yaitu menyamakan persepsi terhadap informasi
yang didapat dari masalah yang ditemukan (khususnya masalah manajerial), meningkatkan
kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan, mengurangi kesalahan informasi, dan
meningkatkan koordinasi antara anggota tim kesehatan.

Case conference
Konferensi kasus meliputi pertemuan-pertemuan yang dijadwalkan secara rutin
(Regularly Scheduled Series or Conferences). Pertemuan tersebut dilaksanakan harian,
mingguan, atau bulanan untuk diskusi tentang masalah-masalah manajemen pasien spesifik
untuk meningkatkan perawatan pasien dalam sebuah institusi. Case conference adalah diskusi
kelompok tim kesehatan tentang kasus asuhan keperawatan klien atau keluarga. Setiap tim
kesehatan memiliki jadwal case conference masing-masing dan biasanya diadakan dua kali
tiap bulannya. Peserta case conference melibatkan tim kesehatan yang terkait seperti perawat,
dokter, atau anggota profesi lainnya jika diperlukan. Waktu pertemuan dua kali dalam
sebulan atau disesuaikan dengan kondisi atau tingkat urgensi kasus, dan lamnya pertemuan
tentatif.

Tujuan diadakannya case conference yaitu mengenal kasus dan permasalahannya,


mendiskusikan kasus untuk mencari alternatif penyelesaian masalah asuhan keperawatan,
meningkatkan koordinasi dalam rencana pemberian asuhan keperawatan, dan meningkatkan
pengetahuan dan wawasan dalam mengangani kasus.Case conference juga digunakan untuk
mengembalikan konflik dalam kolaborasi (Arnold & Boggs, 2007), yaitu dengan cara
mengutarakan inisiatif untuk mendiskusikan masalah, menggunakan keterampilan mendengar
aktif, menyediakan dokumentasi data yang relevan terhadap isu, mengajukan resolusi,
menciptakan iklim dimana para pertisipan memandang negosiasi sebagai sebuah usaha
kolaborasi, membuat ringkasan yang jelas terhadap hasil feedback, merekam semua
keputusan dalam sebuah catatan. Kegiatan case conference ini harus melalui tahap persiapan
sebelumnya. Perawat Dewi dapat memilih salah satu topik yang akan disampaikan dalam
case conference.

Topik tersebut meliputi kasus pasien baru, kasus pasien yang tidak ada perkembangan,
kasus pasien pulang, kasus pasien yang meninggal, dan kasus pasien dengan masalah yang
jarang ditemukan. Pemilihan topik dapat dilakukan dengan mengkaji terlebih dahulu data-
data pasien yang selama ini dipegang oleh perawat Yanti. Dengan data-data tersebut, perawat
Yanti dapat membuat suatu analisa permasalahan yang akan disampaikan saat case
conference.

Case conference sebagai salah satu kegiatan penting dalam proses kolaborasi antara tim
kesehatan. Kolaborasi merupakan proses kompleks yang membutuhkan sharing pengetahuan
yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat pasien. Kolaborasi
dalam case conference ini meliputi suatu pertukaran pandangan atau ide yang memberikan
perspektif kepada seluruh kolaborator tentang suatu permasalahan dalam asuhan
keperawatan. Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik
setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Partnership kolaborasi
merupakan usaha yang baik sebab dapat menghasilkan outcome yang lebih baik bagi pasien.

Menangani masalah-masalah staf perawat


Langkah-langkah dalam pemecahan masalah antar kelompok petugas kesehatan : Mengatur
pelaksanaan untuk komunikasi kolaboratif, melakukan pertemuan untuk menyatukan
perspektif kelompok, mengidentifikasi masalah utama, memiliki tujuan yang jelas dan
relevan, saling menghormati dan menghargai nilai-nilai dan martabat semua pihak, anggota
kelompok dapat bersikap tegas tapi tidak manipulatif, bersikap objektif, mendiskusikan
solusi dengan mengidentifikasi manfaat/kekurangan dari solusi, menghargai alternatif solusi
demi kepentingan klien, menghincari situasi konflik, menghindari emosi, memutuskan untuk
mengimplementasikan solusi terbaik, menentukan orang yang bertanggung jawab untuk
implementasi, membangun garis waktu dan metode evaluasi.(Armold & Boogs, 2007).

Komunikasi interpersonal ditempat kerja yang multikultural meliputi verbal, nonverbal,


dan mendengar. Komuikasi nonverbal meliputi pengaturan ruang, lingkungan, penampilan,
kontak mata, postur tubuh, gerak, ekspresi, waktu dan isayarat suara. Komunikasi verbal
dengan prilaku asertif, sedangkat komunikasi diam dengan menjadi pendengar yang baik
dengan menyadari pengalaman, sikap yang mepengaruhi dalam mempresepsikan pesan.

Hambatan lain dalam berkomuniksi dengan Tim Kesehatan Lain meliputi: menjadi
emosional daripada berfokus pada masalah, menyalahkan orang lain, tertutup dan tidak
menghargai serta memahami perspektif orang lain. ( Arnold & Boggs, 2007).
BAB III
KESIMPULAN
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut
antara orang perorangan, antara orang dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
Bentuk bentuk interkasi sosial terbagi menjadi 2 yaitu
Interaksi Sosial Asosiatif (terbagi menjadi 4)
Kerja sama,akomudasi,asinilasi,dan kulturisasi
Interaksi Sosial Disosiatif (terbagi menjadi 3)
Persaingan,kontroversi,pertentangan/konflik sosial
Interaksi sosial dibidang kesehatan terdiri dari

Perawat dengan perawat


Perawat dengan dokter
Perawat dengan pasien
Perawat dengan ahli farmasi
Perawat dengan ahli gizi
Perawat dengan ahli terapi
Komunikasi terkait kasus pemicu