Anda di halaman 1dari 57

MAKALAH KEBENCANAAN DI INDONESIA

DAN TINDAKAN KESEHATAN PRA-SAAT-PASCA BENCANA


Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Kesehatan dan Penanggulangan Bencana
Yang Dibimbing Oleh Ibu Novida Pratiwi

Disusun Oleh :
Oleh Kelompok 1
Nama Anggota Kelompok :
1. Ana Fitria Azzmi (150351600876)
2. Diana Rahma Ayunita (150351600834)
3. Nadia Nurmalita (150351600597)
4. Savira Mahdia (150351608353)
5. Silva Ayu Indah P (150351606820)
Offering B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
SEPTEMBER 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 8 September 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana menyebutkan definisi bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan
baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia, sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam. Berikut in beberapa bencana alam, antara lain.
1. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang
disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api
atau runtuhan batuan.
2. Letusan gunung api merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan
istilah erupsi. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran
material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.
3. Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (tsu
berarti lautan, nami berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian
gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut
akibat gempa bumi.
4. Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,
ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya
kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.
5. Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau
daratan karena volume air yang meningkat.
6. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang
besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.
7. Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk
kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang
dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan
pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang
dibudidayakan .
8. Kebakaran hutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda
api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan
kerugian ekonomis dan atau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali
menyebabkan bencana asap yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan
masyarakat sekitar.
9. Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba,
mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50
km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat
(3-5 menit).
10. Gelombang pasang atau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena
efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat
menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi
keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin
kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.
11. Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut
yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis
pantai akibat abrasi ini dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai
tersebut. Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering
disebut sebagai penyebab utama abrasi.
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi,
dan wabah penyakit. Berikut ini contoh beberapa banana nonalam, antara lain.
1. Kebakaran adalah situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti
rumah/pemukiman, pabrik, pasar, gedung dan lain-lain dilanda api yang
menimbulkan korban dan/atau kerugian.
2. Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat,
laut dan udara.
3. Kecelakaan industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu
perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya
(unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada
macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses
kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.
4. Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah
dalam kurun waktu tertentu. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004.
Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok
atau antarkomunitas masyarakat, dan teror. (web.bpbd.jatimprov.go.id)
Konflik Sosial atau kerusuhan sosial atau huru hara adalah suatu gerakan massal
yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh
kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai pertentangan
antar suku, agama, ras (SARA).
Aksi Teror adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror
atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat
masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa
dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital
yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik internasional.
Sabotase adalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui
subversi, penghambatan, pengacauan dan/ atau penghancuran. Dalam perang, istilah ini
digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas individu atau grup yang tidak berhubungan
dengan militer, tetapi dengan spionase. Sabotase dapat dilakukan terhadap beberapa
sruktur penting, seperti infrastruktur, struktur ekonomi, dan lain-lain.
Kejadian Bencana adalah peristiwa bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan
tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana, korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi
bencana pada tanggal yang sama dan melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung
sebagai satu kejadian.
Diantara berbagai macam bencana tersebut, baik bencana alam, bencana nonalam
dan bencana sosial sebagian besar pernah terjadi di Indonesia. Salah satunya adalah
banjir yang sering melanda ibu kota Jakarta.
Kesehatan merupakan salah satu dari hak asasi manusia, seperti tercantum dalam
UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin,
bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan. Kesehatan sebagai hak asasi manusia, mengandung
suatu kewajiban untuk menyehatkan yang sakit dan berupaya mempertahankan yang
sehat untuk tetap sehat. UU Kesehatan RI nomor 23 tahun 1992 menyatakan bahwa
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinan
setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Hal ini melandasi pemikiran
bahwa sehat adalah investasi. Meskipun pembangunan kesehatan yang telah
dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan mampu meningkatkan status
kesehatan masyarakat dengan cukup bermakna, namun masih terdapat berbagai masalah
dalam pembangunan kesehatan yang mencakup:
a. Status kesehatan masyarakat masih rendah, terutama pada masyarakat lapisan
bawah atau masyarakat miskin. Dari data yang ada dapat dikemukakan bahwa
kematian bayi pada kelompok masyarakat termiskin adalah sekitar 3,5 kali lipat
lebih tinggi dari kematian bayi pada kelompok masyarakat terkaya. Belum lagi
disparitas status kesehatan antar wilayah, yaitu antar antar perdesaan dan perkotaan,
antar daerah maju dengan daerah tertinggal/terpencil.
b. Angka kesakitan dan kematian karena penyakit infeksi atau menular masih tinggi.
Di lain pihak angka kesakitan penyakit degeneratif mulai meningkat. Di samping
itu kita juga menghadapi berbagai masalah kesehatan akibat bencana. Sementara
itu perilaku masyarakat belum sepenuhnya mendukung upaya pembangunan
kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
c. Masalah pokok lainnya dalam pembangunan kesehatan adalah pemerataan,
keterjangkauan atau akses pelayanan kesehatan yang bermutu/berkualitas masih
rendah. Masalah akses pelayanan kesehatan oleh masyarakat, dapat disebabkan
karena geografi, ekonomi, dan ketidaktahuan masyarakat.
d. Berkaitan dengan masalah akses dan mutu pelayanan kesehatan, masalah
kurangnya tenaga kesehatan dan penyebarannya yang tidak sesuai dengan
kebutuhan di lapangan juga merupakan masalah yang rumit. Pelayanan kesehatan
di daerah tertinggal, daerah terpencil, dan daerah perbatasan masih kurang dapat
dilayani oleh tenaga kesehatan yang memadai, baik jumlah maupun mutunya.
Beberapa permasalahan kesehatan tersebut hanya dapat diatasi dengan kerjasama
lintas sektor yang sinergis juga dukungan dari masyarakat. Seperti yang dimaksudkan
dalam visi Indonesia Sehat 2025, bahwa perilaku masyarakat yang diharapkan adalah
perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan ;
mencegah risiko terjadinya penyakit; melindungi diri dari ancaman penyakit dan
masalah kesehatan lainnya; sadar hukum; serta berpartisipasi aktif dalam gerakan
kesehatan masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah kebencanaan yang pernah terjadi di Indonesia?
2. Bagaimana tindakan kesehatan yang dilakukan ketika pra bencana?
3. Bagaimana tindakan kesehatan yang dilakukan ketika saat bencana?
4. Bagaimana tindakan kesehatan yang dilakukan ketika pasca bencana?

1.3. Tujuan
1. Menjelaskan kebencanaan yang pernah terjadi di Indonesia.
2. Menjelaskan tindakan kesehatan yang dilakukan ketika pra bencana.
3. Menjelaskan tindakan kesehatan yang dilakukan ketika saat bencana.
4. Menjelaskan tindakan kesehatan yag dilakukan ketika pasca bencana.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kebencanaan di Indonesia


Media informasi (rado, telivisi, koran, wajalah, web site, dll) seringkali
menjadikan bencana sebagai berita utama mereka, seakan tak ada berita lain yang
mampu mengalahkan semaraknya kabar duka tersebut. Bahkan informasi yang
demikian telah menjadi santapan pagi, siang dan malam yang lumrah untuk kita
konsumsi sehari-hari.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang
menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan
bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam (Poerwadarminta,
2006)
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana merupakan
pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang
dipicu oleh suatu kejadian.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan
kerusakan lingkungan, kerugian materi, maupun korban manusia (Kamadhis UGM,
2007).
Bencana juga didefinisikan sebagai suatu gangguan serius terhadap keberfungsian
suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan
manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan
masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya
mereka sendiri. (UNISDR Terminology on Disaster Risk Reduction 2009).
Bencana seringkali didefinisikan dalam berbagai arti. Beberapa definisi
cenderung merefleksikan karakteristik yang mengikuti, seperti:
Penyimpangan yang terjadi didalam pola hidup yang normal. Beberapa
penyimpangan umumnya terjadi dan juga tiba-tiba, tidak diharapkan dan meluas
(meliputi wilayah yang luas).
Menyebabkan penderitaan pada manusia, seperti kematian, terluka/ cedera,
kesulitan hidup serta gangguan kesehatan.
Menyebabkan kerusakan struktur sosial seperti terganggunya sistem pemerintahan,
kerusakan gedung, komunikasi dan infrastruktur pelayanan publik ataupun
pelayanan yang penting.
Terganggunya kebutuhan masyarakat, seperti tempat tinggal, makanan, pakaian,
kesehatan dan pelayanan sosial. Definisi diatas kurang mencakup karena hanya
melihat satu, dua sisi dari bencana dan kurang melihat perkembangan terkini dari
kompleksitas bencana yang dapat terjadi di masyarakat modern sekarang ini. Agar
lebih jelas kiranya perlu kita melihat definisi kata bencana dari kamus, yaitu antara
lain:
Oxford Dictionary: Sudden or great misfortune, calamity (Suatu ketidak
beruntungan atau malapetaka yang datang tiba-tiba).
Websters Dictionary: A sudden calamitious event producing great material
damage, loss and distress (Kejadian yang sangat membahayakan yang datang
tiba-tiba yang menghasilkan kerusakan besar pada material, korban jiwa,
kerugian finansial dan penderitaan).
Melihat amat bervariasinya definisi bencana seringkali menimbulkan
perdebatan utamanya pada saat suatu kejadian/peristiwa yang menimbulkan penderitaan
masyarakat terjadi dalam dalam lingkungan kita. Hal ini berkaitan dengan
permasalahan: siapa yang bertanggung jawab, bagaimana penanggulangannya,
pembagian kewenangan, penentuan areal terdampak dan sebagainya. Merujuk pada
Handbook Disaster Management, bencana didefinisikan dengan: An event, natural or
manmade, sudden or progressive, which impacts with such severity that effected
community has to respond by taking exceptional measures (kejadian, yang disebabkan
oleh alam atau hasil perbuatan manusia, baik tiba-tiba maupun secara perlahan lahan/
sedikit demi sedikit, yang berpengaruh kuat pada masyarakat).
Definisi di atas lebih mencakup karena dalam definisi tersebut disebutkan juga
penyebab bencana,akibat bencana serta penekanan pada respon masyarakat. Menurut
definisi di atas bencana dapat disebabkan oleh alam dan hasil perbuatan manusia.
Dilihat dari penyebab bencana maka ada 4 kategori penyebab bencana, yaitu bencana
geologi, bencana iklim,bencana lingkungan dan bencana sosial. Bencana geologi antara
lain gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan tanah longsor. Bencana iklim
antara lain banjir, kekeringan dan badai. Bencana lingkungan antara lain pencemaran
lingkungan (air, tanah, udara),eksploitasi sumber daya alam berlebihan termasuk
penjarahan hutan, alih fungsi lahan di kawasan lindung, penerapan teknologi yang keliru
dan munculnya wabah penyakit. Bencana sosial antara lain kehancuran budaya, budaya
tidak peduli, KKN, politik tidak memihak rakyat, kesenjangan sosial ekonomi budaya,
konflik, kerusuhan dan lainlain.
Dalam buku Disaster Management (1991:3-6), ancaman bencana dapat
diklasifikasikan, antara lain:
1. The Traditional Disaster Threats, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir,
tanah longsor, kekeringan dan sebaginya;
2. The New Disaster Threats, seperti kerusuhan sosial,terorisme, pembajakan, konflik,
kecelakaan kerja, ledakan padareaktor nuklir, kecelakaan pada transportasi umum
dan sebagainya;
3. The Geography of Disaster, seperti kemiskinan yang umumnya menimpa negara-
negara Afrika dan Asia Selatan;
4. Modern Loss Factor, halhal yang dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana
harus dikoordinasikan antar daerah maupun antar negara dan dunia internasional
sehingga penanggulangan benarbenar efektif, tidak justru menyebabkan
kerugian/kehilangan pada kelompok tertentu.
Bencana yang terjadi membawa sebuah konsekuensi untuk mempengaruhi
manusia dan / atau lingkungannya. Kerentanan terhadap bencana dapat disebabkan oleh
kurangnya manajemen bencana yang tepat, dampak lingkungan, atau manusia sendiri.
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kapasitas ketahanan komunitas terhadap
bencana.
Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang rentan akibat berbagai
bencana alam, terutama banjir. Banjir sudah biasa melanda Indonesia, terutama pada
musim hujan. Hal ini mengakibatkan dampak yang sangat buruk pada kehidupan
manusia, ekonomi, dan lingkungan. Banjir disebabkan oleh 2 (dua) kategori, yaitu banjir
akibat alami dan banjir akibat aktivitas manusia. Banjir akibat alami dipengaruhi oleh
curah hujan, fisiografi, erosi dan sedimentasi, kapasitas sungai, kapasitas drainase dan
pengaruh air pasang. Sedangkan banjir akibat aktivitas manusia disebabkan karena ulah
manusia yang menyebabkan perubahan-perubahan lingkungan, seperti perubahan
kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan permukiman di sekitar bantaran,
rusaknya drainase lahan, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan
(vegetasi alami), dan perencanaan sistem kontrol banjir yang kurang/tidak tepat. Risiko
banjir tidak dapat dihindari sepenuhnya sehingga harus dikelola. Manajemen bencana
banjir memang tidak berusaha untuk menghilangkan bahaya banjir tetapi untuk
menanggulanginya. Risiko banjir tergantung pada komponen yang terdiri dari bahaya
dan kerentanan. Kombinasi faktor alam dan manusia menciptakan risiko banjir.
Keberhasilan manajemen risiko banjir diperoleh jika langkah-langkah struktural dan
non-struktural dilaksanakan. Pencegahan dan mitigasi banjir mencakup tindakan
pengendalian banjir secara struktural, seperti pembangunan bendungan atau tanggul
sungai dan tindakan non-struktural seperti prediksi dan peringatan banjir, manajemen
risiko banjir, partisipasi komunitas/ masyarakat, penataan institusional, dan sebagainya.
Manajemen bencana banjir dalam tulisan ini mengacu pada studi yang terkait
dengan penanggulangan bencana oleh Tun Lin Moe & Pairote Pathranarakul (2006, hal.
396-413). Berdasarkan waktu, peristiwa bencana dapat dikategorikan dalam 3 (tiga)
bagian sebelum, saat dan sesudah. Pada saat yang sama, ada 4 (empat) kegiatan, yaitu:
mitigasi dan kesiapsiagaan (sebelum), respons (saat), dan pemulihan (setelah). Selain
itu, pemahaman tentang manajemen bencana banjir sebagai persoalan umum (common
issue) memerlukan pemetaan struktur interaksi, keterlibatan, dan partisipasi berbagai
pemangku kepentingan dalam kontak langsung dengan akar penyebab dan korban
bencana itu. Sebagai konsep Governance seperti dari Kooiman (1993) dan Pedroso
(1999), para pemangku kepentingan (stakeholders) dapat mencakup unsur pemerintah,
dan pelaku nonpemerintah, baik, swasta LSM, dan masyarakat. Tentu saja, berbagai
peran dan tanggung jawab akan berbeda. Namun, pemerintah masih memiliki peran
sebagai pembuat kebijakan (policy maker) dan pemangku kepentingan utama (principal
stakeholder).
Selanjutnya, kapasitas komunitas untuk memelihara atau meningkatkan kualitas
hidup dalam menghadapi gangguan eksternal tersebut dapat ditingkatkan, baik dengan
mengurangi banjir atau dengan meningkatkan kapasitas mereka untuk
menanggulanginya. Manajemen bencana banjir yang efektif berupaya untuk
menemukan cara-cara koordinasi dan kerjasama melintasi batasbatas institusional untuk
mencapai keputusan dan untuk melibatkan lembaga-lembaga di tingkat lokal, baik
dalam keputusan maupun pelaksanaannya. Keberhasilan manajemen bencana banjir
tergantung pada hubungan antar stakeholders, dan aturan yang dibuat dengan adil dan
transparan untuk partisipasi stakeholders.
Salah satu banjir yang pernah terjadi di Indonesia adalah banjir di Bojonegoro,
Jawa Timur. Dikutip dari m.tempo.co, Banjir disertai lumpur melanda beberapa desa
di tiga kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa, 4 April 2017. Banjir
bandang itu merupakan imbas dari hujan deras disertai angin selama lebih dari satu jam
pada Senin, 3 April 2017.
Sekitar 150 rumah di Kecamatan Sekar, Tambakrejo, dan Ngraho tergenang air
disertai lumpur. Banjir juga memutus jembatan antardesa dan merusak jalan
antarkecamatan. Sejumlah anak Sungai Bengawan Solo tidak mampu menampung
derasnya air. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro
menyebutkan, di Kecamatan Sekar, sedikitnya 60 rumah terendam banjir rata-rata
setinggi 50 sentimeter, yaitu di Desa Bobol, Miyono, dan Sekar. Air berlumpur juga
menyasar permukiman penduduk di Dusun Sambong Desa/Kecamatan Ngraho.
Sedikitnya 16 rumah terendam banjir setinggi 60 cm. Di Desa Kalirejo, 140 rumah
terendam banjir sekitar 120 cm. Banjir juga sempat menggenangi jalan lintasprovinsi
yang menghubungkan Bojonegoro dengan Ngawi.
Di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo, banjir setinggi 1 meter menggenangi 47
rumah. Jembatan penghubung antardesa rusak parah diterjang banjir. Ya, jembatan
rusak parah, ujar Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Tambakrejo
Suyantoro. BPBD Bojonegoro mendatangi beberapa titik banjir, terutama di Desa
Napis. Sekitar sepuluh warga terpaksa mengungsi akibat rumahnya rusak parah serta
nyaris roboh setelah diterjang air bah dan lumpur.
Kepala BPBD Bojonegoro Andi Sujarwo menuturkan banjir bandang terjadi
akibat anak Bengawan Solo tidak mampu menampung air hujan. Ini banjir dari
selatan, ujarnya dalam siaran pers yang diterima Tempo.
Manajemen bencana merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi
berbagai aspek penanggulangan bencana pada sebelum, saat, dan sesudah terjadi
bencana yang dikenal sebagai Siklus Manajemen Bencana. Siklus ini bertujuan untuk
(1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan manusia; (3) memberikan
informasi kepada masyarakat dan pihak yang berwenang mengenai risiko, serta (4)
mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber
ekonomis. Lalu, mengapa governance? Kooiman (1993) mempertegas pentingnya
governance dengan menyatakan: (Mochamad Chazienul Ulum)
Tidak ada satu pelaku, baik publik maupun privat mempunyai semua pengetahuan
dan informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang kompleks, dinamis
dan beragam; tidak ada pelaku yang mempunyai pandangan yang memadai untuk
aplikasi suatu instrumen yang diperlukan secara efektif, tidak ada satu pelaku yang
mempunyai cukup tindakan yang berpotensi untuk mendominasi secara unilateral dalam
suatu model governance.
Akhirnya, menurut UN-Habitat (2001), pengambilan keputusan hendaknya
merupakan kombinasi dari pendekatan top-down dan bottom-up yang memungkinkan
keterlibatan semua stakeholder atas dasar kesetaraan. Para stakeholder terdiri dari
pemerintah (yang bertanggung jawab), lembaga akademis, sektor swasta, LSM dan
warga masyarakat. Keterlibatan pengetahuan stakeholder dari perspektif yang berbeda
bersama-sama memungkinkan pemahaman risiko banjir yang koheren. Anggota
komunitas yang terkena dampak banjir memiliki kesempatan untuk mengekspresikan
kebutuhan dan untuk mempromosikan integrasi tuntutan mereka dalam pengambilan
keputusan. Keterlibatan stakeholder memungkinkan untuk melakukan identifikasi dan
implementasi tindakan pengelolaan banjir yang efektif dan berkelanjutan karena
sebagian besar stakeholder mendukung mereka.
Manajemen bencana banjir yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan
multipihak dan partisipasi komunitas secara simultan. Partisipasi setiap komponen
komunitas dalam menjalankan manajemen bencana merupakan kunci keberhasilan.
Kiranya semakin besar keterlibatan mereka akan dapat meningkatkan kapasitas dalam
meminimalkan risiko banjir. Manajemen bencana banjir harus dilakukan dengan
pendekatan sistematis dan sinergis dari berbagai pihak dalam upaya untuk mengatasi
bencana tersebut.
Melalui pendekatan ini, diharapkan nanti tidak lagi dilakukan secara parsial oleh
masing-masing pihak, tetapi semua elemen dapat terlibat untuk bekerja sama secara
bahu-membahu. Oleh karena itu, memperkuat sense of crisis, kepedulian, komitmen,
peran dan tanggung jawab kolektif dan kontinuitas kerjasama / kolaborasi dalam
konteks jaringan governance diperlukan untuk keberlanjutan pengelolaan bencana
banjir yang efektif.
Menurut Nurjanah dkk. (2012), kapasitas yang kuat untuk menghadapi ancaman
bencana berkaitan dengan program / kegiatan untuk meningkatkan kapasitas
masyarakat. Tujuan utamanya adalah masyarakat yang mampu mengantisipasi bencana,
mampu menangani keadaan darurat dan mampu pulih dari bencana. Oleh karena itu,
program / kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pe-ngembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi bencana, manajemen bencana melalui penerapan teknologi dan pemetaan
spasial;
2. Sistem peringatan dini dari berbagai jenis bencana;
3. Sosialisasi bencana melalui media massa;
4. Pelatihan manajemen bencana;
5. Pemberian dukungan teknis dan non-teknis, meningkatkan peran aktif masyarakat
dalam penanggulangan bencana, pembangunan kapasitas masyarakat pada
pengenalan ancaman dan kerentanan di wilayahnya.
Dari beberapa identifikasi masalah penanggulangan bencana banjir, maka
rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti, antara lain kebijakan alokasi anggaran yang
dibutuhkan hendaknya juga lebih diprioritaskan untuk keperluan pra bencana dalam
kerangka manajemen bencana yang komprehensif (yang dimulai sejak dari pra hingga
pasca bencana), penguatan kelembagaan di daerah terkait penanggulangan bencana
merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Untuk itu, pemerintah (baik di tingkat
pusat maupun provinsi) hendaknya terus melakukan advokasi dan mengupayakan
program yang dapat mendorong peningkatan kapasitas kelembagaan yang ada di
daerah, sehingga terbentuk masyarakat dan pemerintahan yang saling mendukung guna
mengatasi masalah banjir yang sering terjadi.
2.2. Tindakan Kesehatan Pra Bencana
1. Manajemen Penanggulangan Bencana
Manajemen penanggulangan bencana memiliki kemiripan dengan sifat-sifat
manajemen lainnya secara umum. Meski demikian terdapat beberapa perbedaan,
yaitu:
a. Nyawa dan kesehatan masyarakat merupakan masalah utama;
b. Waktu untuk bereaksi yang sangat singkat;
c. Risiko dan konsekuensi kesalahan atau penundaan keputusan dapat berakibat
fatal;
d. Situasi dan kondisi yang tidak pasti;
e. Petugas mengalami stres yang tinggi;
f. Informasi yang selalu berubah.
Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan penggunaan
sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan melakukan
perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di setiap tahap
penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana. Pada dasarnya, upaya
penanggulangan bencana meliputi:
Pada tahap pra bencana ini meliputi dua keadaan yaitu :
a. Dalam situasi tidak terjadi bencana
Situasi tidak terjadi bencana yaitu kondisi suatu wilayah yang
berdasarkan analisis kerawanan bencana pada periode waktu tertentu tidak
menghadapi ancaman bencana yang nyata.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi
bencana meliputi :
perencanaan penanggulangan bencana;
pengurangan risiko bencana;
pencegahan;
pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
persyaratan analisis risiko bencana;
pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
pendidikan dan pelatihan; dan
persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Dalam situasi terdapat potensi bencana
b. Situasi Terdapat Potensi Bencana
Pada situasi ini perlu adanya kegiatan-kegiatan kesiap siagaan,
peringatan dini dan mitigasi bencana dalam penanggulangan bencana.
Kesiapsiagaan
Peringatan Dini
Mitigasi Bencana
Kegiatan-kegiatan pra-bencana ini dilakukan secara lintas sector dan
multi stakeholder,oleh karena itu fungsi BNPB/BPBD adalah fungsi
koordinasi.

2. Upaya Penanggulangan Masalah Kesehatan


Upaya penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana merupakan
serangkaian kegiatan kesehatan yang mencakup kegiatan pada masa pra bencana
meliputi pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, pada masa bencana meliputi tanggap
darurat, dan pada masa pasca bencana meliputi pemulihan/rehabilitasi dan
rekonstruksi.
Mekanisme upaya penanggulangan masalah kesehatan pra bencana, meliputi
kegiatan:
a. Pencegahan dan mitigasi
Upaya ini bertujuan menghindari terjadinya bencana dan mengurangi risiko
dampak bencana. Upaya-upaya yang dilakukan antara lain:
penyusunan kebijakan, peraturan perundangan, pedoman dan standar;
pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah kesehatan
pembuatan brosur/leaflet/poster
analisis risiko bencana
pembentukan tim penanggulangan bencana
pelatihan dasar kebencanaan
membangun sistem penanggulangan krisis kesehatan berbasis masyarakat.
b. Kesiapsiagaan
Upaya kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya bencana. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai
teridentifikasi akan terjadi. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain:
penyusunan rencana kontinjensi;
simulasi/gladi/pelatihan siaga;
penyiapan dukungan sumber daya;
penyiapan sistem informasi dan komunikasi.

3. Pengelolaan Data dan Informasi Penanggulangan Krisis


Informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana harus dilakukan
dengan cepat, tepat, akurat dan sesuai dengan kebutuhan. Pada saat pra-bencana
pelaporan informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dimulai dari
pengumpulan sampai penyajian informasi dan ditujukan untuk
mengoptimalisasikan upaya penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
Dalam pengumpulan data sebaiknya terpilah, sesuai dengan keharusan untuk
mengarusutamakan gender dalam semua kebijakan/program/kegiatan yang
memerlukan data terpilah.
Dalam rangka mendukung upaya-upaya sebelum terjadi bencana diperlukan
data dan informasi yang lengkap, akurat dan terkini sebagai bahan masukan
pengelola program di dalam mengambil keputusan terkait penanggulangan krisis
kesehatan akibat bencana. Salah satu bentuk informasi yang cukup penting adalah
adanya profil yang mengambarkan kesiapsiagaan sumber daya dan upaya-upaya
yang telah dilakukan terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana di daerah, khususnya di tingkat kabupaten/kota.
Informasi yang dikumpulkan dalam bentuk profil terdiri dari:
1) Gambaran umum wilayah, yang meliputi letak geografis, aksesibilitas wilayah
gambaran wilayah rawan bencana, geomedic mapping, data demografi, dan
informasi bencana yang pernah terjadi;
2) Upaya pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan, yang pernah dilakukan;
3) Upaya tanggap darurat dan pemulihan, yang pernah dilakukan;
4) Gambaran pengelolaan data dan informasi.
Dinas kesehatan provinsi/kabupaten/kota diharapkan dapat menyusun
informasi profil penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ini yang
dikumpulkan secara berkala setahun sekali. Informasi profil ini diharapkan sudah
tersedia pada setiap bulan April.
Sumber informasi pra-bencana yang dituangkan kedalam bentuk profil
tersebut berasal dari dinas kesehatan, rumah sakit, instansi terkait dan puskesmas.
Alur penyampaian informasi pra-bencana adalah sebagai berikut :

4. Program Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan


Program penanggulangan bencana dilaksanakan oleh berbagai SKPD dan
Lembaga Kemasyarakatan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Program
penanggulangan bencana pada penelitian ini berfokus pada kesiapsiagaan pada
bidang kesehatan yang dilaksanakan oleh Dinas kesehatan dan instansi yang
memilki kegiatan yang terkait dengan bidang kesehatan.
Dari uraian program kesiapsiagaan penanggulangan bencana bidang
kesehatan diatas, masing-masing institusi harus memainkan peranannya sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya. Kegiatan kesiapsiagaan penanggulangan
bencana meliputi tiga kegiatan yaitu kegiatan pencegahan, mitigasi dan kesiapan
(Kausar, 2012).
Kegiatan pencegahan meliputi kegiatan pembuatan peta rawan bencana,
pengembangan peraturan dan penyebaran informasi. Pembuatan peta rawan
bencana meliputi identifikasi jenis bencana dan peta kerentanan masyarakat. Dalam
pembuatan peta kerentanan masyarakat, harus dapat diidentifikasi status kesehatan
masyarakat dan cakupan pelayanan kesehatan, misalnya cakupan imunisasi, gizi,
KIA. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah kondisi fasilitas kesehatan yang
mencakup sarana dan prasarana, pembiayaan kesehatan atau ada tidaknya alokasi
biaya untuk penanggulangan bencana dan kapasitas tenaga kesehatan yang dimiliki.
Disamping itu yang perlu dilakukan penilaian terhadap struktur kependudukan
terutama penduduk rentan (bayi, anak, lansia dan Bumil) (Bambang, 2010).
Kegiatan mitigasi dalam penanggulangan bencana meliputi kegiatan
struktural dan non struktural. Kegiatan struktural yaitu pembangunan dan
rehabilitasi fisik fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas, Posko), pengadaan sarana
kesehatan (ambulans, alat komunikasi, fasilitas kesehatan lapangan), pengadaan
obat dan bahan habis pakai. Kegiatan non struktural meliputi kegiatan
pembangunan lokasi sarana kesehatan (sarkes) di daerah aman, pengaturan
konstruksi sarkes baru, penguatan dan disain ulang bangunan sarkes yang sudah
ada, pemasangan tanda atau rambu-rambu dan pengaturan jalur evakuasi di setiap
sarkes. Kegiatan kesiapsiagaan penanggulangan bencana meliputi penyusunan
rencana kontingensi, penyiapan sarana dan prasarana kesehatan, dana operasional,
pembentukan tim reaksi cepat, pengembangan sistem peringatan dini dan
penyebaran informasi (Bambang, 2010).

5. Pelatihan dan Peran Tenaga Kesehatan


Tahap pra-bencana dipandang oleh para ahli sebagai tahap yang sangat
strategis karena pada tahap ini masyarakat perlu dilatih tanggap terhadap bencana
yang akan dijumpainya kelak. Latihan yang diberikan kepada petugas dan
masyarakat akan sangat berdampak kepada jumlah besarnya korban saat bencana
menyerang (impact), peringatan dini dikenalkan kepada masyarakat pada tahap pra
bencana. Dengan pertimbangan bahwa, yang pertama kali menolong saat terjadi
bencana adalah masyarakat awam atau awam khusus (first responder), maka
masyarakat awam khusus perlu segera dilatih oleh pemerintah kabapaten kota.
Latihan yang perlu diberikan kepada masyarakat awam khusus dapat berupa :
Kemampuan minta tolong, kempuan menolong diri sendiri, menentukan arah
evakuasi yang tepat, memberikan pertolongan serta melakukan transportasi
Peran tenaga kesehatan dalam fase Pra Disaster adalah:
a. Tenaga kesehatan mengikuti pelatihan dan pendidikan yang berhubungan
dengan penanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya.
b. Tenaga kesehatan ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintah, organisasi
lingkungan, palang merah nasional, maupun lembaga-lembaga
kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan
menghadapi bencana kepada masyarakat
c. Tenaga kesehatan terlibat dalam program promosi kesehatan untuk
meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana yang meliputi
hal-hal berikut ini:
1. Usaha pertolongan diri sendiri ketika ada bencana
2. Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong anggota
keluarga yang lain
3. Tenaga kesehatan dapat memberikan beberapa alamat dan nomor telepon
darurat seperti dinas kebakaran, rumah sakit dan ambulance.
Kompetensi seorang tenaga kesehatan dalam manajemen bencana merupakan
kemampuan mengarahkan dan memobilisasi (respon eksternal multisektoral),
dengan mengakses kebutuhan sumber daya lintas instansi kesehatan secara cepat,
tepat dan terpadu dalam kondisi bencana.
Berikut ini merupakan gambar strategi operasional penyelenggaraan
penaggulangan bencana:

Tenaga kesehatan bukanlah satu-satunya tim yang terlibat dalam proses


penanggulangan bencana, berikut ini merupakan tim penanggulangan bencana
terpadu yang terlibat dalam penanggulangan bencana di Indonesia berdasarkan
jenis kompetensi yang dimiliki.

STUDI KASUS
Penelitian dilakukan di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2011, untuk
mendapatkan informasi tentang kesiapsiagaan penanggulangan bencana. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan focus group
disscussion (FGD) terhadap Bagian Penanggulangan bencana Dinas Kesehatan, BPBD, RS.
dr. M. Djamil, PMI, POLDA, TNI AD dan studi dokumentasi atau material lain yang
relevan, seperti Perda, SK dan prosedur tetap (protap).
Kebijakan untuk penanggulangan bencana di Indonesia diatur oleh Undang-
Undang No. 24 tahun 2007, kebijakan di Provinsi Sumatera Barat, sejalan dengan Undang-
Undang tersebut. Dalam upaya mengimplementasikan kebijakan nasional, Provinsi
Sumatera Barat telah membuat peraturan daerah (Perda), ini ditandai dengan keluarnya
Perda No. 5 tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana. Berdasarkan Perda tersebut yang
dimaksud dengan Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana,
kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi.
2.3. Tindakan Kesehatan Saat Bencana

Jam-jam pertama adalah masa kritis bagi korban bencana. Banyak korban yang
akhirnya meninggal atau menjadi cacat seumur hidup karena tidak mendapatkan
pertolongan segera. Selain luka fisik yang didapat oleh korban saat bencana, terdapat
pula luka batin yang mengakibatkan mental para korban bencana menjadi sangat lemah.
Mental para korban saat terjadi bencana akan mengalami guncangan yang sangat besar.
Luka fisik dapat diatasi dengan pertolongan pengobatan secepat mungkin agar tidak
semakin parah atau berakibat fatal yang berujung kematian. Dalam penanganan
kesehatan pada pertolongan pertama saat bencana, diperlukan masyarakat luar untuk
membantu dan mengulurkan tangan kepada para korban bencana yang dalam kondisi
lemah. Masyarakat luar yang membantu korban saat terjadi bencana biasa disebut
relawan atau sukarelawan, baik dalam bidang medis maupun bidang yang lain.
Relawan atau sukarelawan adalah sumber daya manusia yang tersedia secara
sementara yang seharusnya menawarkan diri kepada masyarakat anda keahlian atau
keterampilan tertentu yang diperlukan saat bencana. Sering banyaknya orang yang
datang menawarkan diri sehingga perlu diatur dengan baik. Masyarakat setempat berhak
untuk mengatur relawan-relawan tersebut. Misalnya dengan cara memasang
pengumuman agar para relawan itu mendaftarkan diri di desa / daerah yang
bersangkutan.
Relawan dapat sangat berguna untuk dua maksud utama :
Untuk menyediakan ketrampilan khusus yang dibutuhkan pada saat bencana,
seperti penterjemahan, penggalian dana, penyusunan data, dukungan medis yang
khusus, dlsb.
Menjadi tenaga tambahan bagi anggota regu yang ada dalam bencana berskala
besar, atau ketika banyak dari anggota regu penanggulangan tidak ada/tidak
tersedia saat bencana terjadi.
Tidak dapat dipungkiri bahwa, saat bencana terjadi pada suatu daerah pada jam-
jam pertama merupakan fase kritis, dimana bidang medis atau kesehatan yang sangat
dibutuhkan oleh para korban.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan
VISI dan MISI BASARNAS 2015 - 2019

VISI Badan SAR Nasional


Mewujudkan Badan SAR Nasional yang andal, terdepan, dan
unggul dalam pelayanan jasa SAR di wilayah NKRI

MISI Badan SAR Nasional


1. Menyelenggarakan siaga terus-menerus dalam pencarian dan pertolongan,
penyelamatan, dan evakuasi kepada masyarakat dalam kecelakaan, bencana,
dan kondisi membahayakan manusia secara andal, efektif, cepat, efisien, serta
aman.
2. Melaksanakan koordinasi dengan instansi/organisasi nasional maupun
internasional dalam rangka menyelenggarakan operasi pencarian dan
pertolongan (SAR), serta melakukan pemasyarakatan SAR untuk
memaksimalkan potensi SAR.
3. Menyelenggarakan peningkatan kemampuan teknis dan manajerial organisasi
dan senantiasa tumbuh, berkembang dan melakukan perbaikan di segala aspek
secara berkesinambungan.
4. Melaksanakan pembinaan kemampuan dan kesiapan sumberdaya manusia
serta koordinasi berkelanjutan agar setiap saat dapat melaksanakan tugas
operasi pencarian dan pertolongan dengan sebaik-baiknya.

TUGAS dan FUNGSI BASARNAS


A. KEDUDUKAN
Kedudukan Badan SAR Nasional sesuai Peraturan Presiden Nomor 99
Tahun 2007 tentang Badan SAR Nasional, berada di bawah dan
bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia.

B. TUGASPOKOK
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2007 tentang Badan SAR
Nasional, Badan SAR Nasional memiliki tugas membantu Presiden dalam
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pencarian dan
pertolongan (search and rescue).

C. FUNGSI
1. Perumusan kebijakan nasionaldan kebijakan umum di bidang SAR;
2. Perumusan kebijakan teknis di bidang SAR;
3. Koordinasi kebijakan, perencanaandan program di bidang SAR;
4. Pembinaan, pengerahan dan pengendalian potensi SAR;
5. Pelaksanaan siaga SAR;
6. Pelaksanaan tindakawaldan operasi SAR;
7. Pengoordinasian potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR;
8. Pendidikan, pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di
bidang SAR;
9. Penelitian dan pengembangan di bidang SAR;
10. Pengelolaan data dan informasi dan komunikasi di bidang SAR;
11. Pelaksanaan hubungan dan kerja sama di bidang SAR;
12. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung
jawab Badan SAR Nasional;
13. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum;
14. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Badan SAR
Nasional; dan
15. Penyampaian laporan, saran dan pertimbangan di bidang SAR.

Dikutip dari sumber e-book Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis


Masyarakat (PBBM) Modul A Persiapan dan pencegahan oleh Yayasan IDEP.
(www.idepfoundation.org/pbbm)

Contoh dari sekian banyak relawan atau sukarelawan yang terorganisir yaitu
Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB). Tugas utama Kelompok
Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB) ini adalah membuat perencanaan untuk
mengurangi dampak bencana yang mungkin terjadi di wilayahnya. Apabila diperlukan,
KMPB bisa bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam menanggulangi bencana
dibawah koordinasi Satlak PBP.
Berikut struktur yang dibentuk oleh KMPB untuk relawan menanggulangi bencana:
1. Koordinator Bagian Penanggulangan (PN), yang bertanggung jawab untuk:
PN-1 Regu Peringatan Dini
PN-2 Regu Pemetaan
2. Koordinator Bagian Operasi (OP), yang bertanggung jawab untuk:
OP-1 Regu Perintis
OP-2 Regu SAR & Tandu
OP-3 Regu Keamanan
OP-4 Regu Pengungsian / Fasilitas Sementara
OP-5 Regu Kebakaran
3. Koordinator Bagian Komunikasi (KM), yang bertanggung jawab untuk:
KM-1 Regu Dokumentasi & Administrasi
KM-2 Regu Media & Hubungan Luar
KM-3 Regu Relawan
4. Koordinator Bagian Kesejahteraan (SJ), yang bertanggung jawab untuk:
SJ-1 Regu Pertolongan Pertama & Kesehatan
SJ-2 Regu Dapur Umum
SJ-3 Regu Hubungan Sosial

Tugas PN1 - Regu Peringatan Dini Dalam Tahap Penanganan


Memantau perkembangan suatu bencana dan terus mengawasi kemungkinan bencana
susulan
Menilai dampak bencana yang terjadi. Tugas ini bisa merupakan kerjasama dengan
instansi deteksi dini.
Tugas PN2 Regu Pemetaan Dalam Tahap Penanganan
Membantu Bagian Operasi

Tugas OP1 - Regu Perintis Dalam Tahap Penanganan

Menjamin kelancaran jalur keluar masuk dari lokasi bencana dan membantu dalam
menyiapkan tempat penampungan pengungsi. Pada kasus bencana tertentu, terkadang
lokasinya sulit dijangkau atau karena rusaknya jalan ke wilayah tersebut. Pada kondisi
seperti ini, Regu Perintis berperanan penting dalam memperbaiki jalan atau membuka jalan
baru untuk jalur pengungsi dan bantuan.

Gambar 1.1 Regu Perintis

Tugas OP2 - Regu SAR dan Tandu Dalam Tahap Penanganan

Menolong, menyelamatkan, mencari korban dan menangani korban yang meninggal


Mencari orang yang belum ditemukan
Melakukan pemilahan korban bencana menurut kondisinya
Menyediakan laporan orang yang belum ditemukan, dan kondisi korban ke posko
KMPB

Tugas OP3 - Regu Keamanan Dalam Tahap Penanganan

Mengamankan jalur, menutup daerah bencana dari orang yang tidak berkepentingan dan
menjamin keamanan
Melarang orang yang tidak berwenang untuk masuk ke daerah bencana
Menjaga keamanan lokasi bencana agar regu lain bisa melakukan tugas tanpa gangguan
Menutup daerah bencana dengan memberikan tanda batas. Tanda bisa dibuat dengan
tali yang kemudian diganti polisi dengan garis batas polisi.

Tugas OP4 - Regu Pengungsian/Konstruksi Sementara Dalam Tahap Penanganan


Mendirikan posko, fasilitas sementara dan pos-pos bantuan kemanusiaan
Mempersiapkan fasilitas dan lokasi apabila masyarakat perlu melakukan pengungsian
Memperhitungkan kebutuhan kendaraan, memanfaatkan kendaraan yang dimiliki warga
setempat, dan apabila tidak cukup bisa meminta bantuan pada warga sekitar.

Tugas OP5 - Regu Kebakaran Dalam Tahap Penanganan


Memadamkan kebakaran
Mematikan aliran listrik
Memindahkan barang berbahaya
Membantu regu SAR dalam pencarian korban

Tugas KM1 - Regu Dokumentasi dan Administrasi Dalam Tahap Penanganan

Menyimpan Buku Panduan PBBM asli


Mengatur POSKO KMPB, memberi keterangan kepada orang yang datang dan mengatur
hubungan ke luar
Mempersiapkan daftar-daftar tugas untuk semua regu dan membagikannya kepada regu-
regu sesuai dengan tugasnya. Daftarnya bisa didapat dari Buku Formulir dan Tugas Relawan
pada saat penanganan bencana
Memperbanyak dan menyebarkan formulir, mengarsip hasilnya, membantu mengisi
formulir
Membantu pelapor dalam mengisi permohonan pencarian
Memerima laporan daftar kelompok kondisi korban dan membuat laporan jumlah korban
Mengurus papan pengumuman - dan mengisi keterangan umum yang bisa dilihat oleh
masyarakat
Mengisi daftar orang yang belum ditemukan. Hasilnya ditempelkan pada papan
pengumuman di Posko KMPB dan diserahkan kepada Regu SAR dan Tandu untuk
pelaksanaan pencarian
Menjaga komunikasi diantara setiap regu dan bagian

Tugas KM2 - Regu Media dan Hubungan Luar Dalam Tahap Penanganan

Menghubungi instansi gawat darurat


Menyampaikan informasi bantuan yang diperlukan di lapangan
Melaporkan keadaan kepada SATLAK PBP
Menjaga hubungan dengan organisasi-organisasi yang bisa memberi bantuan pada saat
darurat seperti ini dan mendorong pengunaan sumber daya dan SDM lokal

Gambar 1.2 Regu Media dan Hubungan Luar

Tugas KM3 Regu Relawan Dalam Tahap Penanganan


Membuat daftar kebutuhan relawan
Menghubungi instansi relawan
Mencatat data-data pribadi relawan
Menempatkan relawan dalam regu terkait
Mengatur penginapan dan kebutuhan relawan

Tugas SJ1 - Regu Pertolongan Pertama dan Kesehatan Dalam Pertolongan Pertama
dan Kesehatan
Dibawah pengawasan dokter yang ada mengumpulkan semua persediaan obat-obatan
yang sudah ada pada masyarakat. Bisa diminta dari Puskesmas, klinik, dokter praktek,
bidan praktek, dsb
Mengurus Pos Kesehatan
Melakukan Pertolongan Pertama Gawat Darurat dan pertolongan medis untuk
mengurangi penderitaan korban bencana
Memberikan alternatif tempat untuk melakukan perawatan bagi korban
Membuat penelitian dan laporan tentang perkiraan kebutuhan kesehatan umum
Menilai kondisi mental korban dan langkah-langkah pertolongannya

Gambar 1.3 Regu Pertolongan Pertama dan Kesehatan

Tugas SJ2 - Regu Dapur Umum Dalam Tahap Penanganan


Membawa perlengkapan memasak. Memberikan saran kepada penduduk tentang
peralatan yang mampu dibawa
Membawa barang yang berguna untuk keadaan darurat (terpal, tali, dsb)
Memenuhi kebutuhan dasar seperti minuman, makanan dan lainnya, untuk masyarakat
dan semua orang yang bertugas

Gambar 1.4 Regu Dapur Umum

Tugas SJ3 - Regu Hubungan Sosial Dalam Tahap Penanganan


Mengurus Pos Kesejahteraan
Mengumpulkan perkiraan kebutuhan dasar dan melaporkannya kepada regu media dan
hubungan luar
Mencari sumber daya yang ada di sekitar untuk memenuhi kebutuhan darurat
Menyalurkan langsung barang yang sudah diperoleh kepada regu atau bagian yang
membutuhkannya

Dikutip dari e-book Pedoman Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat


Kedaruratan Kompleks oleh Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan (PPMK) Sekretariat
Jenderal Departemen Kesehatan Tahun 2001, menyebutkan bahwa Masalah kesehatan yang
timbul secara mendadak (acut) ditandai dengan jatuhnya korban manusia, rusaknya infra
sruktur dan pelayanan publik lainnya, rusaknya saluran air bersih dan sanitasi lingkungan,
terputusnya aliran listrik sarana telekomunikasi dan transportasi, lumpuhnya sistem
kesehatan serta dapat mengakibatkan ribuan dan ratusan ribu penduduk harus mengungsi ke
wilayah lain.
Penanggulangan masalah kesehatan akibat kedaruratan kompleks memerlukan
keterpaduan dan kerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. Untuk itu diperlukan
pedoman sebagai acuan pelaksanaan kegiatan penanggulangan kedaruratan kompleks di
Provinsi dan Kabupaten/Kota sesuai kekhususan daerah.
Kedaruratan Kompleks mengakibatkan peningkatkan angka kesakitan dan kematian,
perpindahan penduduk, konsentrasi maasa/pengungsi, kurangnya persediaan pangan dan
berpotensi terjadinya wabah penyakit menular akibat menurunya status gizi masyarakat dan
gangguan pemberantasan vector, penyediaan air bersih yang terganggu, buruknya sanitasi
lingkungan, lumpuhnya pelayanan kesehatan, Post traumatuic Stress (PTS) terutama pada
anak-anak dan wanita, polarasi pelayanan kesehatan, banyaknya tenaga kesehatan yang
meninggalkan tempat, terganggunya evakuasi korban dan komunikasi antar petugas.

Terdapat kebijakan tujuan umum berupa :


Untuk mengurangi keterlambatan respons penanggulangan yang pada gilirannya dapat
menurunkan penderitaan korban yang berkepanjangan secara efektif serta memelihara akses
pelayanan kesehatan
Tujuan Khusus :
Tercapainya koordinasi, pemahaman langkah pelaksanaan dan penanggulangan
Terwujudnya keterpaduan pengendaliaan dan pemantauan penanggulangan
Terwujudnya kesatuan gerak dan pola tindak upaya penanggulangan
Menurunnya angka kesakitan dan kematian

Dasar Hukum Yang Melandasi


(1) Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
(2) Keputusan Presiden No. 3 tahun 2001 tentang BAKORNAS PBP
(3) Instruksi Presiden No. 4 tahun 2001 tentang Langkah-langkah Komprehensif
Penyelesaian Masalah Aceh
(4) Keputusan Menteri Kesehatan No. 130 tahun 2000 tentang Organisasi dan Tata kerja
Departemen Kesehatan
(5) Keputusan Menteri Kesehatan No. 446 tahun 2001 tentang Tatakerja Departemen
Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
(6) Keputusan menteri Kesehatan No. 1277 tahun 2001 tentang Tata Kerja Departemen
Kesehatan
(7) Keputusan Menteri Kesehatan No. 979/Menkes/SK/IX/2001 tentang Prosedur Tetap
Pelayanan Kesehatan Penanggulangan Bencana dan
Penanganan Pengungsi
(8) Keputusan Sekretaris BAKORNAS PBP No. 2 tahun 2001 tentang Pedoman Umum
Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi

Strategi / Langkah Pokok


1. Menggunakan sarana/sistem yang sudah ada
2. Keikutsertaan masyarakat
3. Kerjasama intersektoral
4. Bantuan tambahan dari Nasional dan Internasional

Manajemen Penanggulangan Korban Masal


Penanggulangan korban masal akibat kedaruratan kompleks harus mengutamakan
keselamatan penolongnya baru menyelamatkan korban. Penanggulangan korban
kedaruratan harus dilaksanakan secepat mungkin (dua hari pertama dan umumnya korban
menderita, cedera dan kematian).
Pada penanganan korban masal dikelompokan menjadi 3 tahap yaitu tahap pencarian
(search), penyelamatan korban (rescue) dan pertolongan pertama (Life Saving) dan
pertolongan pertama (Life Saving), stabilisasi korban, tahap evakuasi dan pengobatan
devenitive serta tahap rujukan ke RS yang lebih tinggi kemampuannya bila diperlukan.
Pada tahap pencarian dan penyelamatan korban dilakukan triase, pemitaan. Triase
bertujuan untuk melakukan seleksi korban berdasarkan tingkat kegawat daruratan untuk
memberikan prioritas pertolongan. Upaya yang dilakukan dalam penanganan korban adalah
untuk menyelamatkan korban sebanyak-banyaknya sehingga diharapkan angka morbiditas
dan mortalitas rendah. Hal ini dipengaruhi
oleh jumlah korbannya, keadaan korban, geografis lokasi, fasilitas yang tersedia dilokasi dan
sumber daya manusia yang ada dilokasi. Selain itu juga tergantung dari organisasi, fasilitas,
komunikasi, dokumen dan tata kerja. Yang dimaksud dengan fasilitas adalah sarana dan
prasarana yang berguna sebagai pendukung pelaksanaan pelayanan medik dilapangan,
selama perjalanan dan di puskesmas atau rumah sakit
terdekat. Kematian sangat tergantung pada cepatnya pertolongan.
Dari kenyataan tersebut dapat dirumuskan definisi : Pasien gawat darurat adalah
pasien yang memerlukan pertolongan segera (TEPAT, CEPAT, CERMAT) untuk mencegah
kematian atau kecacatan. Dari definisi tersebut berkembang doktrin TIME SAVING IS
LIVE SAVING (WAKTU ADALAH NYAWA).
Penjabaran doktrin itu memerlukan indikator mutu yang berupa RESPONS TIME (WAKTU
TANGGAP) sebagai indicator proses untuk mencapai indikator hasil yang berupa
SURVIVAL RATE (ANGKA KELANGSUNGAN HIDUP).
Disamping itu gawat darurat dapat terjadi pada SIPA SAJA, KAPAN
SAJA, dan DIMANA SAJA.
Hal itu menjadikan satu keharusan bahwa pendekatan pelayanan gawat darurat.
Penanganan Korban
Dalam situasi kedaruratan kompleks sering terjadi korban luka dan bahkan korban
meninggal dunia, untuk itu diperlukan kesiapan dalam penanggulangannya yang antara lain
:
A. Transportasi dan alat kesehatan
1. Fasilitas Kesehatan
Sarana evakuasi/transportasi
Kendaraan roda dua kesehtan lapangan
Kendaraan ambulans biasa
Kendaraan ambulans rusuh masal
Kapal motor sungai/laut
Helikopter udara
Pesawat
Sarana pelayanan kesehatan
Beberapa sarana yang perlu dipersiapkan dalam
penanggulangan kedaruratan kompleks yaitu :
Pos kesehatan lapangan
Rumah sakit lapangan
Puskesmas/poliklinik/RS Swasta/RSLSM.
Rumah sakit rujukan tingkat Kabupaten RSUD/RS
Polri/TNI
Rumah sakit rujukan tingkat Provinsi
Rumah sakit pusat rujukan Depkes/Polri/TNI

2. Obat dan alat kesehatan


Obat rutin
Obat Khusus
Bermacam-macam pembalut cepat
Kit Keslap
Minor surgery
Oxigyn dan perlengkapannya

3. Fasilitas pendukung non medis


Seragam berupa rompi dan topi khusus (bertuliskan
identitas kesehatan daerah dan ditengah ada simbol
palang merah)
Tandu
Alat Komunikasi
Kendaraan taktis untuk pengawalan evakuasi

4. Posko satgas kesehatan


Posko kesehatan di lapangan
Posko kesehatan koordinator wilayah

B. Ketenagaan
Tenaga kesehatan yang diperlukan pada situasi kedaruratan kompleks adalah sebagai
berikut :
1. Di tempat kejadian/peristiwa sebagai koordinator adalah kasatgas lapangan
(dokter/para medik senior) yang berkedudukan di poskes lapangan atau di salah satu
ambulans dan mengatur seluruh kegiatan dilapangan.
2. Pada setiap ambulans minimal terdiri dari 2 orang para medik dan satu pengemudi
(bila memungkinkan ada 1 orang dokter).
3. Pada Puskesmas / Poliklinik / RS Swasta / RS Polri / RS TNI tim penanggulangan
korban minimal dipimpin seorang dokter dan telah menyiapkan ruang pelayanan
khusus atau perawatan khusus.
4. Rumah sakit rujukan dipimpin oleh dokter bedah dan telah menyiapkan ruang
pelayanan dan rawat khusus.
5. Pada Puskesmas dan RS rujukan dapat dibentuk tim khusus untuk pembuatan visum
at repertum yang dipimpin oleh dokter dan dibantu 2 orang tenaga administrasi.

C. Pelaksanaan Dilapangan
1) Pertolongan dan evakuasi korban masyarakat umum
Petugas lapangan menilai tingkat kegawatan korban untuk korban luka ringan dan
sedang diberi pertolongan pertama di tempat kejadian atau pos kesehatan lapangan.
Korban luka berat segera dievakuasi ke RS rujukan wilayah /RS Swasta/RS Polri/RS
TNI terdekat. Korban yang memerlukan perawatan lebih lanjut dapat dievakuasi ke
pusat rujukan melalui jalan darat/sungai/laut/ udara sesuai sarana yang dimiliki.

2) Pertolongan dan evakuasi korban petugas/aparat pengamanan


Korban luka ringan dan sedang diperlakukan sama seperti masyarakat umum.
Korban luka berat segera dievakuasi dengan prioritas ke Rumah Sakit terdekat.
Korban yang memerlukan rawat lanjut dievakuasi ke RS Pusat rujukan.
Penanganan Korban Meninggal

o Sasaran
Semua korban yang mati akibat kerusuhan masal
o Pelaksanaan Penanganan Korban meninggal
1. Korban meninggal akibat kerusuhan seluruhnya dievakuasi ke satu tempat khusus
yaitu RSUD/RS Polri/RS TNI setempat.
2. Pada tempat tersebut jenazah yang datang dilakukan registrasi dan pencatatan
(minimal diberi nomor, tanggal dan tempat kejadian) oleh petugas.
3. Kemudian jenazah dimasukan keruang pemeriksaan untuk dilakukan identifikasi
medik, pemeriksaan luar oleh dokter.
4. Pemeriksaan dalam (otopsi) untuk mengetahui sebab kematian bisa dilakukan
setelah ada permintaan dari pihak kepolisian setempat dan persetujuan dari keluarga
korban serta sesuai peraturan yang berlaku.
5. Pemeriksaan medik dilakukan sesuai dengan formulir yang ada.
6. Barang bukti berupa pakaian, perhiasaan surat-surat dan lai-lain dimasukan dalam
kantong plastik tersendiri diberi nama, nomor sesuai dengan nama dan nomor
jenazah.
7. Jenazah dan barang bukti setelah selesai pemeriksaan dokter diserahkan kepada
petugas kepolisian.
Komando dan Pengendalian
Komando dan pengendalian penanggulangan korban mengikuti komando dan
pengendalian pengamanan pada keadaan :
a. Tertib sipil (aman dan rawan) :
Kadinkes selaku Kasatgaskes, dibantu instansi kesehatan terkait.
b. Tertib sipil gawat :
Kadisdokes Polda / Kasikes Polwil selaku Kasatgaskes, dibantu instansi kesehatan
terkait
c. Darurat Sipil :
Kakesdam selaku Kasatgaskes, dibantu instansi kesehatan terkait.
d. Darurat militer : Kakesdam selaku Kasatgaskes, dibantu instansi
kesehatanterkait.Pelaksanaan Pertolongan Kesehatan
Pada saat terjadi kedaruratan kompleks berupa kondisi kacau
disiapkan tim medik pertolongan korban yang terdiri dari :
A. Pos Kesehatan lapangan.
Adalah pos kesehatan yang didirikan atau bergerak dan berada didekat tempat
kejadian, terdiri dari subsatgaskes yang berasal dari :
o Tim medis lapangan dari puskesmas, RS terdekat dan ambulans
o Tim medis bantuan (mobile) dari poskes depan dan poskes belakang
o Tim evakuasi
1. Tugas
o Seleksi awal korban
o Melaksanakan koordinasi arus penanganan korban, melaporkan jumlah dan
keadaan korban, terutama yang harus dirujuk.
o Mengusahakan kelancaran kouniksi pengiriman / evakuasi korban.
2. Petugas komunikasi
o Melaporkan jumlah korban, keadaan korban dan tindakan yang dilakukan dan
keadaan lapangan serta sarana pendukung.
o Menjamin kelancaran komunikasi antara poskes lapangan dengan poskes lainnya.
B. Sarana kesehatan depan
Adalah rumah sakit yang paling dekat ditinjau dari ukuran jarak dan waktu
tempuh dari lokasi kejadian, dapat berada didalam maupun diluar wilayah
administrative dapat berupa : Puskesmas, RS terdekat atau RS lapangan.
1. Tugas :
o Seleksi lanjutan
o Stabilisasi lanjutan
o Terapi definitive untuk kasus ringan
o Rawat inap
o Evakuasi lanjutan ke pos belakang

C. Sarana kesehatan belakang


Adalah rumah sakit dengan fasilitas lengkap dan mampu bertanggung jawab
menangani korban yang dirujuk. Dapat berupa rumah sakit koordinator wilayah, RS
rujukan wilayah atau RS pusat rujukan. Apabila diperlukan untuk memperkuat
pelayanan medik pada penanggulangan bencana berupa penambahna tenaga medis
beserta logistik pendukung (ambulans, komunikasi medik dan lain lain) dari daerah
lain atau pusat, Depkes memobilasasi potensi yag ada di wilayah rumah sakit rujukan.
1. Tugas :
o Seleksi dan stabilisasi lanjutan
o Terapi definive untuk kasus berat
o Koordinasi manajemen medik untuk musibah
o Menyiapkan tenaga dan dukungan lain untuk pos depan

Penilaian Kebutuhan Awal (Initial Need Assessment)


Pada tahap awal penanggulangan hal paling penting dilakukan adalah kegiatan
penilaian kebutuhan awal (Initial Need Assessment). Tujuan kegiatan ini adalah untuk
menggambarkan keadaan korban dan luasnya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
kerusuhan dengan kekerasan, mengidentifikasi dan mengantisipasi kebutuhan yang
diperlukan, sumberdaya lokal dan potensi resiko sekunder bagi kesehatan, dan menyediakan
fakta dan data dan menghindari laporan yang berlebihan serta mencegah adanya issu yang
menyesatkan.
Adapun jenis informasi yang diperlukan adalah area geografi, perkiraan populasi,
lokasi terjadinya kerusuhan, keadaan sarana transportasi, keadaan sarana komunikasi,
ketersediaan air bersih, makanan , sanitasi, dan penampungan, jumlah korban yang
meninggal, luka maupun hilang, keadaan dan kemampuan fasilitas kemampuan fasilitas
pelayanan kesehatan (Puskesmas, RS), kebutuhna tenaga kesehatan (dokter,perawat)
kebutuhan obat, lokasi dan jumlah penduduk yang mengungsi. Pedoman laporan penilaian
awal (lihat lampiran) Kegiatan penanggulangan yang dilaksanakan pada prinsipnya adalah :
1. Melaksanakan penilaian kebutuhan dan dampak kesehatan secara cepat (rapid health
assessment) sebagai dasar untuk program bantuan pelayanan kesehatan dan
pemantauan.
2. Melaksanakan eskalasi pelayanan gawat darurat sehari-hari menjadi pelayanan darurat
bencana yaitu dengan memberikan bantuan pelayanan kedaruratan medik dan
membangun pelayanan kesehatan sementara dilokasi kejadian dapat berupa tenda
darurat atau perumahan sementara di samping penyediaan air minum dan jamban
keluarga (latrin), serta pemberian bantuan makanan terutama untuk bayi dan anak balita
(blended atau compact food).

Manajemen Penanggulangan Masalah Kesehatan


Kedaruratan kompleks selalu menimbulkan pengungsian yang merupakan
masalah dan memerlukan perhatian serta penanganan tersendiri. Pengungsi adalah orang
atau kelompok orang warga negara Indonesia yang meninggalkan tempat tinggal akibat
tekanan berupa kekerasan fisik dan atau mental akibat ulah manusia dan bencana alam guna
mencari perlindungan maupun kehidupan yang baru. Masalah pengungsi bukanlah yang
mudah untuk diatasi lebih-lebih saat negara kita sedang kesulitan ekonomi seperti saat ini.
Pengungsi sesuai dengan hak azasi manusia harus mendapatkan fasilitas-fasilitas seperti
tempat penampungan, makanan bersih, sanitasi, pelayanan kesehatan dan sebagainya yang
semua itu merupakan dari pemerintah.
Pada tahap tanggap darurat, langkah-langkah yang dilakukan adalah :
a. Penilaian awal secara cepat tentang kebutuhan dasar, penyediaan penampungan,
imunisasi campak penyediaan makanan dan bahan makanan yang bergizi terutama bagi
kelompok rentan (bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan lanjut usia) penyediaan air
bersih pelayanan kesehatan bagi yang sakit, surveilans penyakit dan pelaporan secara
teratur, pemberantasan vektor, pelatihan bagi pengungsi dan koordinasipelaksanaan.
b. Setelah keadaan memungkinkan penilaian dilanjutkan untuk mendapatkan data /
inforkasi untuk pengambilan keputusan penyelesaian masalah pengungsi.
Untuk menanggulangi kekurangan tenaga kesehatan bisa dilakukan dengan
pengiriman tenaga dari provinsi lain atau dari pusat. Untuk menanggulangi kekurangan
tenaga kesehatan dilakukan pengiriman tenaga kesehatan gabungan yang terdiri dari tenaga
kesehatan gabungan yang terdiri dari tenaga kesehatan sipil dan TNI / POLRI. Untuk logistik
baik obat maupun bahan habis pakai diupayakan dengan menggunakan stok yang ada di
daerah, menggunakan obat esensial, dan jika memang dirasa kurang dikirimkan dari pusat
dengan menggunakan stok nasional selain bantuan dari donor maupun LSM. Untuk bantuan
dari LSM maupun organisasi internasional perlu diperhatikan masa kadaluawarsa, kadar zat
berhasiat dan etiketnya.Pelayanan kesehatan dapat dilayani dengan menggunakan dana yang
tersedia di unit kesehatan daerah seperti dana operasional maupun dana lain yang ada,
apabila sangat mendesak dibantu dari pusat.
Surveilans Epidemiologi dan Pemberantasan Penyakit
Pada kedaruratan kompleks penyakit yang paling banyak terjadi dan paling banyak
menyebabkan kematian adalah campak, diare, ISPA, meningitis dan malaria. Prinsip
pencegahan dan pengawasan penyakit menular pada kedaruratan adalah mencegah
terjadinya pajanan; melindungi kelompok rentan dari terjadinya infeksi; mencegah
meningkatnya penyakit infeksi, pengobatan kasus penyakit dengan mencegah kematian,
kecacatan, dan penularan, dan memutus rantai penularan dengan memperbaiki lingkungan,
perilaku dan peraturan. Adapun yang menyebabkan kondisi rawan terjadinya peningkatan
penyakit menular adalah adanay kuman patogen baru, adanya populasi yang cocok (
tergantung imunitas populasi atau individu), peningkatan penularan (kepadatan penduduk
dan buruknya sanitasi) serta buruknya pelayanan kesehatan. Pengawasan Penyakit menular
pada kedaruratan dilakukan sebagai berikut :
Difokuskan pada penyakit penyebab kematian utama
Ditekankan pada pencegahan penyakit dan perbaikan sistem sistem pelayanan
Pembentukan dan penggerakan surveilans terhadap penyakit potensial KLB
Potensi penyakit camapak dengan pemberian imunisasi.
Penyuluhan kesehatan dengan melibatkan kader kesehatan.
Berdasarkan analisis yang tertera dalam kutipan literatur diatas, dirasa cukup
kompleks dalam tindakan kesehatan saat bencana, sehingga dapat mengurangi jumlah
korban meninggal dan atau korban luka parah saat bencana terjadi pada suatu daerah.

2.4. Tindakan Kesehatan Pasca Bencana


Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pasca bencana
meliputi:
1. Rehabilitasi; dan
2. Rekonstruksi.
Tahap pemulihan meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Upaya yang
dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk mengembalikan kondisi daerah yang
terkena bencana yang serba tidak menentu ke kondisi normal yang lebih baik, agar
kehidupan dan penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali atau perbaikan dan
pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang
memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau
berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada
wilayah pascabencana.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Perbaikan lingkungan daerah bencana;
2. Perbaikan prasarana dan sarana umum;
3. Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;
4. Pemulihan sosial psikologis;
5. Pelayanan kesehatan;
6. Rekonsiliasi dan resolusi konflik;
7. Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya;
8. Pemulihan keamanan dan ketertiban;
9. Pemulihan fungsi pemerintahan; dan
10. Pemulihan fungsi pelayanan publik
Sedangkan tahap rekonstruksi merupakan tahap untuk membangun kembali
sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana secara lebih baik dan sempurna
kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun
masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian,
sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta
masyarakat .Oleh sebab itu pembangunannya harus dilakukan melalui suatu
perencanaan yang didahului oleh pengkajian dari berbagai ahli dan sektor terkait.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi:
1. Pembangunan kembali prasarana dan sarana;
2. Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
3. Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat
4. Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih
baik dan tahan bencana;
5. Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan,
dunia usaha dan masyarakat;
6. Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
7. Peningkatan fungsi pelayanan publik; atau
8. Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.
(Peraturan kepala badan nasional penanggulangan bencana nomor 4 tahun 2008)

PENANGGULANGAN MASALAH KESEHATAN AKIBAT BENCANA


A. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat korban bencana didasarkan pada penilaian
situasi awal serta data informasi kesehatan berkelanjutan, berfungsi untuk
mencegah pertambahan/menurunkan tingkat kematian dan jatuhnya korban akibat
penyakit melalui pelayanan kesehatan seperti,
a. Memakai standar pelayanan Puskesmas setempat, Puskesmas Pembantu,
Bidang Desa dan Pos kesehatan yang ada.
b. Bila mungkin, RS Swasta, Balai pengobatan Swasta, LSM Lokal maupun
LSM Internasional yang terkait dengan bidang kesehatan bekerja sama serta
mengkoordinasikan upayaupaya pelayanan kesehatan bersama.
B. Kesehatan Reproduksi
Kegiatan yang harus dilaksanakan pada kesehatan reproduksi adalah :
1. Keluarga Berencana (KB)
2. Kesehatan Ibu dan Anak antara lain :
a. Pelayanan kehamilan, persalinan dan nifas.
b. Pelayanan pasca keguguran.
3. Deteksi Dini dan penanggulangan PMS dan HIV/AIDS
4. Kesehatan Reproduksi Remaja
C. Kesehatan Jiwa
Penanggulangan penderita stress paska trauma bisa dilakukan di lapangan sampai
ketingkat rujukan tertinggi, dalam bentuk kegiatan penyuluhan, bimbingan, konseling,
dalam bentuk kegiatan penyuluhan, bimbingan, konseling, yang tentunya disesuaikan
dengan kemampuan dan kewenangan petugas di setiap jenjang pelayanan.

Penanggulangan penderita stress paska trauma di lapangan dapat dilakukan oleh


para relawan yang tergabung dalam lembaga/organisasi masyarakat atau keagamaan
maupun petugas pemerintah ditingkat desa dan atau kecamatan, Penanggulangan
penderita stress paska trauma bisa dilakukan dalam 3 (tiga) jenis kegiatan, yaitu :
1. Penyuluhan kelompok besar (lebih dari 20 orang)
2. Ahli Psikologi
3. Kader masyarakat yang telah dilatih.
Persyaratan sarana rujukan penderita Post Traumatic Stress (PTS)

1. Puskesmas
2. Klinik Psikologi
3. Rumah Sakit Umum
4. Rumah sakit Khusus Jiwa

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR

A. Vaksinasi
Vaksinasi campak harus dijadikan prioritas sedini mungkin dalam kekeadaan
darurat. Program vaksinasi harus segera dimulai begitu tenaga kesehatan, vaksin,
peralatan dan perlengkapan lain sudah tersedia, tanpa menundanunda lagi.

Tidak perlu menunggu sampai vaksin vaksin lain tersedia, atau sampai sudah
muncul laporan adanya penderita campak dilokasi, Mungkin (namum sangat jarang
terjadi) tim penilai situasi awal memutuskan bahwa vaksinasi campak tidak perlu
dilakukan. Bila demikian keputusan ini haruslah di dasari oleh faktor - factor
epidemiologis, misalnya pelaksanaan kampanye vaksinasi sebelumnya didaerah itu,
tingkat cangkupan vaksinasi yang sudah dijalankan, serta perkiraan jumlah penduduk
yang paling rentan terkena campak. Dampak kondisi lain, tim penilai situasi awal
mungkin merekomendasikan agar setiap orang yang telah berusia lebih dari 15 tahun
harus pula divaksin, dengan alasan kuat bahwa nampak terbukti tingkat usia ini pun
rawan terkena campak.

1) Bila muncul satu kasus campak (yang baru dalam tahap diduga ataupun sudah
dipastikan) ini berarti harus diadakan pemantauan dilokasi termasuk mengenai status
vaksinasi dan usia pasien .
2) Dalam pengendalian wabah campak pemberian vaksin kepada anak usia 6
bulan sampai 15 tahun atau lebih dan pemberian dosis vit A yang tepat adalah kuncinya.
3) Cacar air (10% dari penduduk berusia 6 bulan sampai 5 tahun belum
diimunisasi.
4) Penyakit infeksi pernafasan (ada kecenderungan peningkatan kasus)
5) Diare (ada kecenderungan peningkatan kasus)
Bila yang dihadapi di lapangan adalah situasi pengungsian, para pendatang baru
ke lokasi/kamp/penampungan/pemukiman sementara secara sistematis harus divaksin.
Semua anak usia 6 bulan hingga 15 tahun menerima vaksin campak dan vitamin A
dengan dosis yang tepat.
1) Dilaksanakan oleh Puskesmas dibawah koordinasi Dinas Kesehatan
Kabupaten dan bekerja sama dengan instansi terkait.
2) Sampai 100% dari semua anak dalam kelompok sasaran (termasuk para
pendatang baru di kamp pengungsian ) sudah divaksin.
3) Pasokan vaksin di lokasi setara dengan 14% kelompok sasaran, termasuk
15% untuk kemungkinan terbuang/tidak terpakai dan 25% cadangan : kebutuhan bagi
pendatang baru diproyeksikan : bila belum tersedia vaksin harus didatangkan.
4) Yang digunakan hanyalah vaksin dan jarumjarum suntik sekali pakai yang
memenuhi ketentuan WHO.
5) Rantai pasokan harus terus dipantau sejak pembuatannya sampai kelokasi
pemberian vaksin untuk menjamin kelayakannya.
6) Persediaan jarum suntik di lokasi setara dengan 125% kelompok sasaran,
termasuk 25% cadangan jarumjarum suntik berkapasitas 5 mililiter untuk melarutkan
dosisdosis jamak tersedia. Diperlukan satu jarum suntik untuk setiap zat yang akan
dilarutkan bersama.
7) Kotak pengaman yang sesuai dengan rekomendasi WHO tersedia untuk
masingmasing jarum suntik sebelum dibuang sesudah digunakan. Kotak kotak
dibuang sesuai ketentuan WHO.
8) Pasokan vitamin A setara dengan 125% kelompok sasaran termasuk 25%
cadangan bila akan digunakan bersamaan dengan kampanye vaksinasi campak.
9) Kepala Puskesmas merencanakan kebutuhan vaksin, KMS. Buku induk
khusus penanganan kesehatan pengungsi, peralatan dan tenaga kesehatan (juru
imunisasi) dengan memperhitungkan jumlah sasaran sekaligus pemberian vitamin A
10) Tanggal pemberian vaksin dicatat setiap catatan kesehatan anak (memakai
buku induk). Bila mungkin disediakan juga catatan kesehatan.
11) Bayi yang divaksin sebelum usia 9 bulan memerlukan revaksinasi bila
usianya mencapai 9 bulan.
12) Puskesmas melaksanakan memastikan vaksinasi berkesinambungan yang
rutin terhadapa setiap pendatang baru di kamp pengungsian, dan
mengidentivikasi anakanak yang butuh vaksinasikedua (bayi yang mencapai usia 9
bulan)
13) Pesan pesan yang relevan dalam bahasa daerah etempat disebarluaskan
kepada kelompok kelompok ibu atau pengasuh anak yang tengah menunggu giliran
mencakup antara lain manfaat vaksin, apa kemungkinan efek sampingnya, kapan harus
kembali untuk memperoleh revaksinasi, dan mengapa harus menyimpan Kartu Menuju
Sehat (KMS).
B. Manajemen Kasus

Semua anak yang terkena penyakit menular dirawat selayaknya agar risiko
risiko lebih jauh terhindarkan, termasuk kematian.

Tolok ukur Kunci :

1) Sistem pelacakan yang meliputi seluruh penduduk dengan menggunakan


definisi kasus standar dan merujuk kepada kasuskasus campak, yang dicurigai
maupun yang sudah dikonfirmasi, dijalankan.
2) Setiap pasien menerima vitamin A dan perawatan untuk komplikasi seperti
misalnya pneumonia, gastroenteritis, kekurangan gizi yang parah, dan
miningoencephalitis, yang dapat mengakibatkan kematian.
3) Status anak penderita campak dipantau, dan bila perlu dimasukkan dalam
program pemberian bantuan pangan/gizi

C. Surveilans
Surveilans dilakukan terhadap beberapa penyakit
menular. Tolok Ukur Kunci :

1) Puskesmas dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten bertanggung jawab atas


pemantauan dan pengendalian secara jelas ditetapkan (Protap penaggulangan
Masalah Kesehatan akibat bencana dan penanganan Pengungsi), dan seluruh LSM
kemanusiaan di lokasi mengetahui kemana harus mengirimkan laporan bila
menjumpai kasus penyakit menular, baik yang baru dalam tahap dicurigai ataupun
sudah dikonfirmasikan.
2) Pemantauan dilangsungkan sepanjang waktu agar bisa secepatnya melacak dan
mengambil tindakan jika didapati kasus penyakit menular sedini mungkin.
GIZI DAN PANGAN

GIZI DAN PANGAN

A. penanggulangan masalah gizi dipengungsian adalah sebagai berikut:

1. Melakasnakan profesionalisme tenaga lapangan untuk penanganan gizi pengungsi melalui


orientasi dan pelatih

2. Menyelenggarakan intervensi gizi dilaksanakan berdasarkan tingkat kedaruratan dengan


memperhatikan prevalensi, keadaan penyakit, ketersediaan seumberdaya (tenaga, dana dan
sarana), kebijakan yang ada, kondisi penampungan serta latar belakang social
budaya.Melakukan surveilans gizi untuk memantau perkembangan jumlah pengungsi,
keadaan status gizi dan kesehatan

3. Meningkatkan koordinasi lintas program, lintas sektoral, LSM, dan ormas


dalampenanggulanganmasalah gizi pada setiap tahap, dengan melibatkan
tenaga ahli di bidang : Gizi, Sanitasi, Evaluasi dan Monitoring (Surveilans) serta Logistik

4. Pemberdayaan pengungsi di bidang pemenuhan kebutuhan pangan dilakukan sejak awal


pengungsian. Prinsip penanganan gizi darurat terdiri dari 2 tahap yaitu tahap penyelamatan
dan tahap tanggap darurat serta melakukan pengamatan/Surveilans gizi.

Tahap Penyelamatan

Tahap penyelamatan merupakan kegiatan yang bertujuan agar para pengungsi tidak lapar
dan dapat mempertahankan status gizi.

Tahap ini terdiri dari 2 fase yaitu :

1. Fase pertama (fase 1) adalah saat :

a. Pengungsi baru terkena bencana.

b. Petugas belum sempat mengidentifikasi pengungsi secara lengkap

c. Belum ada perencanaan pemberian makanan terinci sehingga semua golongan


umur menerima bahan makanan yang sama

Fase ini maksimum selama 5 hari. Fase ini bertujuan memberikan makanan kepada
masyarakat agar tidak lapar.
Sasarannya adalah seluruh pengungsi, dengan kegiatan :

A. Pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin.

B. Pendataan awal , jumlah pengungsi, jenis kelamin, golongan umur.


C. Penyelenggaraan dapur umum (merujuk ke Depsos),
dengan standar minimal.

2. Fasse kedua (fase II) adalah saat :

Pengungsi sudah lebih dari 5 hari bermukim ditempat pengungsian.


Sudah ada gambaran keadaan umum pengungsi (jumlah, golongan umur, jenis
kelamin keadaan lingkungan dan sebagainya), sehingga perencanaan pemberian
bahan makanan sudah lebih terinci,
Pada umumnya bantuan bahan makanan cukup tersedia.

Sasaran pada fase ini adalah seluruh pengungsi dengan kegiatan :

a. Pengumpulan dan pengolahan data dasar status gizi.


b. Menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi.
c. Merencanakan kebutuhan pangan untuk suplementasi gizi
d. Menyediakan paket Bantuan pangan (ransum) yang cukup, mudah dikonsumsi oleh
semua golongan umur dengan syarat minimal ssebagai berikut ;
1. Setiap orang diperhitungkan menerima ransum senilai 2.100 Kkal, 40 gram
lemak dan 50 gram protein per hari.
2. Diusahakan memberikan pangan sesuai dengan kebiasaan dan ketersediaan
setempat, mudah diangkut, disimpan dan didistribusikan.
3. Harus memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral.
4. Mendistribusikan ransum sampai ditetapkannya jenis intervensi gizi
berdasarkan hasil data dasar (maksimum 2 minggu)
5. Memberikan penyuluhan kepada pengungsi tentang kebutuhan gizi dan cara
pengolahan bahan makanan masingmasing anggota keluarga.

Tahap Tanggap Darurat

Tahap ini dimulai selambatlambatnya pada hari ke 20 di tempat pengungsian.

Kegiatan

a. Melakukan penapisan (screening) bila prevalensi gizi kurang balita 1014.9% atau
59.0% yang disertai dengan factor pemburuk.
b. Menyelenggarakan pemberian makanan tambahan sesuaidengan jenis intervensi yang
telah ditetapkan pada tahap 1 fase II (PMT darurat/Ransum, PMT darurat terbatas serta
PMT terapi).
c. Melakukan penyuluhan baik perorangan atau kelompok dengan materi penyuluhan sesuai
dengan butir b.
d. Memantau perkembangan status gizi melalui surveilans.
e. Melakukan modifikasi/perbaikan intervensi sesuai dengan perubahan tingkat kedaruratan
:
ika prevalensi gizi kurang > 15% atau 1014% dengan factor pemburuk,
diberikan paket pangan dengan standar minimal per orang perhari (ransum), dan
diberikan PMT darurat untuk balita, ibu hamil ibu meneteki dan lansia serta
PMT terapi bagi penderita gizi buruk. Ketentuan kecukupan gizi pada PMT
darurat sama seperti standar ransum.
Jika prevalensi gizi kurang 1014.9% atau 59.9% dengan factor pemburuk
diberikan PMT darurat terbatas pada balita, ibu hamil, ibu meneteki dan lansia
yang kurang gizi serta PMT terapi kepada penderita gizi buruk.
Jika prevalensi gizi kurang < 10% tanpa factor pemburuk atau < 5% dengan
factor pemburuk maka dilakukan penganan penderita gizi kurang melalui
pelayanan kesehatan setempat.
DAFTAR PUSTAKA

Aini, Asmaripa, 2010. Desa Siaga dan Manajemen Kesehatan Bencana, Vol. 1,
No.1, Pp. 1-11.

Bambang, 2010. Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana.


Bahan Ajar Manajemen Bencana, Minat Studi Manajemen Surveilans dan
Informasi Kesehatan, FKM, Unair.

BNPB (2010). Buku Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan Upaya


Mitigasi-nya di Indonesa.

Carter, Nick. 1991. Disaster Management: A Disaster Managers Handbook.


Manila: ADB.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Teknis


Penaggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana. Jakarta.

e-book Pedoman Penanggulangan Masalah Kesehatan Akibat Kedaruratan


Kompleks oleh Pusat Penanggulanagn Masalah Kesehatan (PPMK)
Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. 2001. www.depkes.go.id

e-book Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Modul A


Persiapan dan Pencegahan

Kamadhis UGM. 2007. Eka-Citta Bersatu dalam Dharma. Buletin Kamadhis UGM
Nomor.XXVII/September/2007. Yogyakarta: Kamadhis UGM.

Kausar As, 2012. Manajemen Bencana. http://publik.


ub.ac.id/simple/us/jurnal/pdffile/2.%20Manajemen%20Bencana.pdf.

Kooiman, Jan. 1993. Modern governance. Social-political Governance. London:


Sage.

m.tempo.co/read/news/2017/04/04/058862429/banjir-bandang-terjang-3-
kecamatan-di-bojonegoro, Diakses pada tanggal 8 September 2017.
Nurjanah, dkk. 2012. Manajemen Bencana. Bandung: Alfabeta.

Pedroso, Leonora. 1999. Eastern Regional Organization for Public


Administration: From Government to Governance. World Confrerence
on Governance.

Poerwadarminta, W.J.S. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai


Pustaka.

Raharja, Eddie, 2010. Pengaruh Kompetensi Kepemimpinan dalam


Pengorganisasian Kesiapsiagaan dan Penggerakan Ketanggapdaruratan
Bencana terhadap Kinerja Petugas Pusat Penanggulangan Krisis
Kesehatan Regional Sumatera Utara. Tesis, Sekolah Pascasarjana,
Universitas Sumatera Utara.

Ristrini, dkk, 2012. Analisis Implementasi Kebijakan Kesiapsiagaan


Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat,
Vol.15, No.1, Pp. 91-102.

Tun Lin Moe & Pathranarakul P. 2006. An integrated approach to natural


disaster management. Disaster Prevention and Management Journal.
Vol. 15 No. 3. hal. 396-413.

Undang-Undang Republik Indonesia No.24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan


Bencana

UNISDR. 2009. 2009 UNISDR Terminology on Disaster Risk Reduction. Geneva:


UNISDR.

UN-Habitat. 2001. Tools toSupportParticipatory Urban Decision Making, Nairobi:


United Nations Centre for Human Settlements (Habitat).

web.bpbd.jatimprov.go.id/2017/06/01/definisi-dan-jenis-bencana/, Diakses pada


tanggal 8 September 2017.

oleh Yayasan IDEP www.idepfoundation.org.pbbm

www.basarnas.go.id/halaman/220816-visi-dan-misi-basarnas

www.basarnas.go.id/halaman/tugas-dan-fungsi