Anda di halaman 1dari 9

Diagnosa Stroke

1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting dilakukan untuk memastikan pasien mengalami stroke atau
bukan. Anamnesis yang cermat sangat membantu untuk menegakkan diagnosis yang
tepat
- Bagaimana permulaan serangan, apakah sangat akut ( mendadak) sehingga dalam
beberapa detik pasien menjadi tidak sadar, subakut dalam beberapa jam atau kronis?
- Adakah tanda defisit neurologi fokal ( lumpuh separuh, kesemutan separuh badan,
gangguan penglihatan, tidak bisa berbicara)?
- Berapakali serangan telah dialami pasien?
- Adakah faktor resiko penyakit vaskular seperti DM, hipertensi, dislipidemia, jantung
, penyakit ginjal dan pastikan tidak ada riwayat trauma sebelumnya?

Pada pasien yang dicurigai mengalami stroke dan fasilitas kesehatan kurang memadai
untuk melakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI maka dapat digunakan beberapa cara
skoring stroke seperti dibawah ini untuk membedakan pasien mengalami stroke
perdarahan atau stroke iskemi :

- Skor Stroke Siriraj


Skor stroke siriraj merupakan salah satu parameter yang sering digunakan untuk
membedakan jenis stroke yang dialami pasien.
Variabel Tanda klinis skor
Tingkat Kesadaran 15 0 x 2,5
berdasarkan Glow Coma 9-14 1 x 2,5
Scale ( GCS) 3-8 2 x 2,5
Muntah Ya 1x2
Tidak 0x2
Nyeri kepala ( dalam 2 Ya 1x2
jam )
Tidak 0x2
Tekanan darah diastole x 0,1
(mmHg)
Atheroma
J
( DM, angina, Ya 1x3
penyakit arteri perifer) Tidak 0x3
i
Konstanta -12
k
Jika jumlah skor < -1 maka kemungkinan pasien mengalami stroke iskemi,
sedangkan apabila jumlah skor > 1 kemungkinan pasien mengalami stroke
perdarahan.
- Algoritma Stroke Gajah Mada
Algoritma Stroke Gajah Mada merupakan salah satu sistem penilaian untuk
membedakan stroke perdarahan atau stroke iskemik yang biasanya digunakan selain
sistem Skor Stroke Siriraj

- Skor Stroke Hasanuddin


Skor stroke hasanuddin merupakan skor yang dikembangkann oleh Bagian
Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin untuk membedakan jenis
stroke yang dialami pasien
Jika jumlah skor < 15 maka pasien kemungkinan mengalami stroke iskemi,
apabila jumlah skor 15 maka pasien kemungkinan mengalami stroke perdarahan.
Nilai terendah dalam Skor Stroke Hasanuddin adalah 2 dan nilai tertinggi adalah

Pada kasus perdarahan harus dibedakan apakah perdarahan intraserebral (PIS) atau
perdarahan Subarakhnoidal (PSA) sebagai berikut
Gejala Intraserebral Subarakhnoidal
Nyeri kepala ++ +++
Kaku kuduk + +++
Kernig/ brudzinki + +++
Ganguan N. III, IV + +++
( bila besar)
Kelumpuhan Biasanya hemiplegi Hemiparesis
Cairan serebrospinal Eritrosit > 1000 Eritrosit > 25000
hipertensi ++ -

2. Pemeriksaan Objektif
Setelah pemeriksaan interna yang teliti, maka dilakukan pemeriksaan neurologis yang
rutin. Pada pemeriksaan neurologis pasien stroke harus diperhatikan pemeriksaan
neurovaskuler. Pemeriksaan ini adalah
- Palpasi dan auskultasi dari arteri atau cabang arteri karotis yang terletak dekat
permukaan
- Mendengar dan mencari bruit cranial atau cervical
- Mengukur tekanan darah pada kedua lengan dalam posisi berbaring dan duduk
- Mengukur tekanan arteria optalmika, apakah menurun atau tidak
- Melihat dengan oftalmoskop ke retina terutama ke pembuluh darahnya.
3. Pemerisaan Penunjang lain
Pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk ketepatan dan kecepatan diagnosis selain
menggunakan sistem skoring sebagai berikut
- CT ( Computed Tomography) Scan
Pemeriksaan CT Scan kepala tanpa kontras harus dilakukan sesegera mungkin
setelah pasien tiba di ruang gawat darurat. Pemeriksaan CT Scan dapat
mendeteksi dengan segera adanya perdarahan otak dan merupakan gold standart
pada pasien stroke. Pada CT Scan atau MRI dapat memberikan informasi tentang
lokasi, ukuran infark, perdarahan dan ada atau tidak penyebaran perdarahan ke
ruang intra ventrikuler serta dapat membantu perencanaan operasi
Gambar perdarahan subarakhnoid

- EKG ( elektrokardiografi)
Pemerisaan EKG perlu dilakukan karena gangguan pada jantung merupakan
salah satu faktor resiko pada pasien stroke akut.
- Kadar gula darah
Pemeriksaan kadar gula darah sangat diperlukan karena pentingnya diabete
melitus sebagai salah satu faktor resiko utama stroke. Tingginya kadar gula darah
pada stroke akut berkaitan pula dengan tingginya angka kecacatan dan kematian.
Selain itu, dengan pemeriksaan dapat diketahui adanya hipoglikemia yang
memberikan gambaran klinik menyerupai stroke
- Elektrolit serum dan faal ginjal
Pemeriksaan ini berkaitan dengan pemberian obat osmoterapi pada pasien
stroke yang disertai peningkatan tekanan intrakranial dan keadaan dehidrasi. Pada
keadaan terjadi gangguan fungsi ginjal pemberian obat osmoterapi (manitol) tidak
boleh diberikan karena kontra indikasi
- Darah lengkap
Pemeriksaan darah lengkap diperlukan untuk menentukan keadaan
hematologik yang dapat mempengaruhi stroke seperti anemia
- Faal hemostatis
Pemeriksaan jumlah trombosit, waktu protrombin (PT) dan
tromboplastin(aPTT) diperlukan terutama berkaitan dengan pemakaian obat
antikoagulan dan trombolitik
- X-foto thoraks
Pemeriksaan radiologi thorak berguna untuk menilai besar jantung, adanya
kalsifikasi katup jantung, edema paru, adanya infeksi paru TBC ( dikaitkan
dengan vaskulitis)
- Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan pada pasien dengan kondisi tertentu adalah
tes faal hati, saturasi oksigen, analisis gas darah, toksikologi, kadar alkohol dalam
darah, pungsi lumbal ( bila ada dugaan perdarahan subaraknoid, tetapi gambaran CT
Scan normal) dan EEG.
Penatalaksanaan

Prinsip utama terapi stroke adalah mencegah kerusakan otak yang bersifat irreversibel,
mencegah komplikasi, mencegah kecacatan yang lebih berat dan mencegah serangan ulang.
Penatalaksanaan stroke meliputi :

1. Penatalaksanaan umum
- Breath
Menjaga agar fungsi pernafan dan oksigenasi adekuat terutama pada pasien dengan
kesadaran menurun.
- Blood
Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat hingga normotensi pada stroke fase
akut harus dihindarkan karena dapat menurunkan perfusi ke otak. Penurunan tekanan
darah rata rataa tidak boleh lebih dari 20% dari tekanan darah arterial rata- rata.
Pemberian antihipertensi dipertimbangkan terutama pada penderita muda dengan
tekanan darah 180/110 mmHg atau penderita tua dengan tekanan darah 210/120
Bila tekanan darah sistolik > 200 mmHg atau MAP > 150 mmHg, turunkan
tekanan darah secara agresif dengan labetalol, nikardipin dan diltiazem.
Bila tekanan sistolik > 180 mmHG atau MAP > 130 mmHg dan ada bukti
peningkatan TIK, turunkan TD dengan target CPP > 60-80 mmHg
Bila tekanan sistolik >180 mmHg, atau MAP >130 mmHg dan tidak ada bukti
peningkatan TIK, turunkan TD dengan target TD 160/90 mmHg atau MAP 110
mmHg, monitor TD setiap 15 menit
Pada fase akut tekanan darah tidak boleh diturunkan lebih dari 20% - 25% dari
tekanan darah arteri rerata
Bila tekanan sistolik < 180 mmHg dan tekanan diastolik < 105 mmHg, tidak
boleh diberikan obat anti hipertensi
Pada penderita dengan riwayat hipertensi, penurunan tekanan darah harus
dipertahankan dibawah tekanan arterial rata rata 130 mmHg
Tekanan darah arterial rata rata lebih dari 110 mmHg pada waktu pasca operasi
dekompresi harus segera dicegah
Bila tekanan darah sistolik turun <90 mmHg harus diberikan obat menaikkan
tekanan darah ( vasopresor)

Selain tekanan darah, terapi cairan perlu diberikan. Keseimbangan cairan


diperhitungkan dengan mengukur produksi urin sehari ditambah dengan pengeluaran
cairan yang tidak dirasakan ( 500 ml) dan ditambah 300 ml setiap penambahan 1
derajat celcius suhu pasien.

Elektrolit ( sodium, potasium, kalsium dan magnesium) harus selalu diperiksa


dan diganti bila terjadi kekurangan sampai tercapai nilai normal
Asidosis dan alkalosis harus dikoreksi sesuai dengan hasil analisa gas darah
Cairan isotonis seperti 0,9% salin dengan dosis 1 mL/kg/jam adalah cairan yang
dianjurkan pada pasien perdarahan intraserebral
Cairan yang mengandung dekstrose dihindari kecuali ada hipoglikemia
Sistemik hipoosmolality (,280 mmol/kg) harus segera diterapi dengan manitol
atau hipertonik salin 3%
Status euvolume harus dipertahankan dengan memantau keseimbangan cairan,
central venous pressure, dan berat badan.
- Brain
Penurunan kesadaran
Tingkat kesadaran dipantau dengan GCS serta tanda tanda vital ( tekanan
darah, derajat nadi, frekuensi pernafasan) serta waspada agar jangan sampai
mengalami aspirasi
Kejang
Kejang seringkali terjadi pada lesi kortikal daripada subkortikal. Segera
berikan diazepam iv. Kejang dapat mengakibatkan kerusakan neuron dan
menyebabkan ketidakstabilan pada pasien yang sudah kritis, karena itu harus
segera diterapi. Pada pasien perdarahan intraserebral terapi antiepilesi profilaksis
( lebih disukai pemakaian fenitoin dengan dosis titrasi tergantung kadar obat
dalam darah 14-23 gr/mL), diberikan selama satu bulan dan kemudian
diturunkan dan dihentikan bila tidak ada kejang selama pengobatan. Kejang akut
dapat juga diterapi dengan lorazepam ( 0,05 0,1 mg/kg) diikuti dengan fenitoin
loading dose 15-20 mg/kg, asam valproat 15-45 mg/kg atau fenobarbital 15-20
mg/kg. Pemberian antikonvulsi profilaksis pada stroke perdarahan tidak
dianjurkan.
Peningkatan TIK
TIK dapat diturunkan dengan cara tirah baring dengan kepala ditinggikan 20 -30
derajat, hipotermi, hiperventilasi dengan ventilasi hinga Pa CO2 30 -35 mmHg,
manitol 20% 100 ml atau 0,25 0,5 gram/KgBB/kali dalam waktu 15 30 menit
sebanyak 4 6 kali sehari.
Manajemen suhu tubuh
Suhu tubuh harus dipertahankan dalam keadaan normal. Paracetamol 650
mg dan kompres dingin harus segera diberikan bila suhu lebih dari 38,5
derajat celcius karena memperburuk prognosa
Pada pasien febris atau beresiko infeksi, harus dilakukan kultur dan hapusan
( trakheal, darah dan urine) dan diberikan antibiotik. Jika memakai kateter
ventrikuler, analisa LCS harus dilakukan untuk mendeteksi meningitis.
Jika didapatkan meningitis segera berikan antibiotik
- Bowel
Nutrisi enternal harus segera dimulai setelah 48 jam untuk mencegah terjadinya
malnutrisi
Bisa juga memakai NGT untuk mengurangi resiko terjadinya aspirasi
- Bone dan Body skin
Posisi tidur miring kekanan dan kekiri secara bergantian tiap selang waktu
beberapa jam dilakukan untuk mencegah komplikasi seperti decubitus,
postural pneumoni dll.
Pasien dapat dikatakan mengalami stroke apabila :
- Onset mendadak atau akut
- Terdapat defisit neurologi
- Kejadian lebih dari 24 jam
- Terdapat faktor resiko penyakit vaskular
-
Selanjutnya dipastikan pasien mengalami stroke iskemik atau perdarahan dengan
melihat tanda dan gejala seperti tabel dibawah ini
Gejala Perdarahan Infark
Permulaan Sangat akut Sub akut
Waktu serangan Saat aktivitas Bangun pagi
Peringatan sebelumnya - ++
Nyeri kepala ++ -
Muntah ++ -
Kejang kejang ++ -
Kesadaran menurun ++ +/-
Bradikardi +++ +
( dari hari 1) (terjadi hari ke 4)
Perdarahan di retina ++ -
Papil edema + -
Kaku kuduk, kernig, ++ -
brudzinki
Ptosis ++ -
lokasi subkortikal Kortikal/subkortikal

Pada stroke perdarahan karena letaknya di subkortikal maka pada pemeriksaan fisik
pasien dapat mengalami dystonic posture, gangguan sensibilitas dan kedua mata dapat
melihat ke hidung.

Pada kasus stroke perdarahan harus dibedakan letak perdarahan berada di


intraserebral atau subarakhnoidal seperti berikut
Gejala Intraserebral Subarakhnoidal
Nyeri kepala ++ +++
Kaku kuduk + +++
Kernig/ brudzinki + +++
Ganguan N. III, IV + +++
( bila besar)
Kelumpuhan Biasanya hemiplegi Hemiparesis
Cairan serebrospinal Eritrosit > 1000 Eritrosit > 25000
hipertensi ++ -