Anda di halaman 1dari 13

TOKSOPLASMOSIS

A. Definisi & Etiologi


Toksoplasmosis merupakan infeksi oleh parasit intraseluler obligat
Toxoplasma gondii. Infeksi akut yang terjadi setelah lahir biasanya
asimtomatik namun individu tersebut memiliki kista tokso yang persisten di
jaringan tubuhnya. Pada infeksi akut maupun kronis, infeksi toksoplasmosis
dapat menimbulkan gejala seperti limfadenopati, ensefalitis, miokarditis, dan
pneumonitis. Sedangkan toksoplasmosis kongenital merupakan infeksi pada
bayi baru lahir yang didapat dari penularan parasite transplasental dari ibu
yang terinfeksi pada janinnya, yang memiliki gejala yang beragam1.
T. gondii merupakan parasite intraseluler yang dapat menginfeksi burung
dan mamalia. Terdapat dua siklus hidup dari T. gondii, yaitu masa nonfeline
dan masa feline. Pada masa nonfeline, kista jaringan yang mengandung
bradiozit (ookist) akan tertelan oleh intermediate host (manusia, tikus,
kambing, babi). Saat terkena asam lambung di saluran pencernaan, bradiozit
tersebut akan keluar dari kistanya dan masuk ke dalam epitel usus halus, dan
berubah menjadi takizoit. Bentukan takizoit ini dapat menginfeksi dan
bereplikasi pada semua sel di tubuh mamalia, kecuali sel darah merah.
Replikasi pada sel host tersebut akan terus berlanjut sampai pada saat sel
tersebut rupture dan takizoit tersebut akan menginfeksi sel lainnya.
Kebanyakan dari takizoit akan dieliminasi oleh respon imun humoral dari host
tersebut. Setelah infeksi takizoit berlangsung 7-10 hari, maka akan terbentuk
kista yang mengandung bradiozit yang biasanya terletak pada CNS dan otot.
Hal ini menandai bahwa masa nonfeline telah selesai1.
Masa feline ditandai dengan masa hidup pada kucing dan mangsanya.
Masa ini terjadi pada siklus enteroepitelial yang meliputi teringestinya kista
jaringan bradiozit sehingga memproduksi gamet. Gamet yang menyatu akan
membentuk zigot yang berdinding rapuh dan dikeluarkan melalui feses dalam
bentuk ookist nonifeksius. Setelah 2-3 hari terpapar udara luar, ookist ini akan
menjadi ookist yang infeksius dan akan tertelan oleh host intermediet.
Selanjutnya siklus tersebut akan terus berulang1.

Gambar 1. Siklus hidup Toxoplasmosis gondii

B. Epidemiologi
Infeksi T. gondii terjadi pada rentan yang luas mulai dari burung sampai
ke mamalia. Infeksi ini merupakan infeksi ketiga tertinggi yang diperantarai
oleh makanan, setelah salmonellosis dan listeriosis2. Prevalensinya lebih
sedikit pada daerah yang beriklim panas. Pada negara-negara di Amerika dan
Eropa, prevalensinya meningkat seiring dengan pertambahan usia dan
paparannya. Sekitar 5-30% individu usia 10-19 tahun, dan 10-67% individu
usia >50 tahun memiliki bukti paparan infeksi T.gondii yang positif secara
serologi di Amerika1.
C. Transmisi
Transmisi oral
Transmisi oral dapat terjadi melalui paparan tanah yang mengandung
ookist Ookist yang terdapat didalam tanah dapat bertahan selama bertahun-
tahun. Selain itu, transmisi oral dapat pula terjadi melalui konsumsi daging
yang belum sepenuhnya matang yang mengandung bradiozit. Diketahui di
Amerika bahwa sekitar 10-20% produksi daging domba dan 25-35% produksi
daging babi mengandung bradiozit. Pada daging sapi diketahui angkanya lebih
rendah, hanya sekitar 1%1.

Transmisi darah atau organ


Transmisi ini lebih sering terjadi pada individu yang menerima transfusi
darah. Diketahui bahwa T. gondii merupakan parasit yang dapat dikultur dari
darah yang disimpan di lemari pendingin menggunakan antikoagulan.
Transmisi ini juga dapat terjadi pada transplantasi organ, seperti jantung dan
ginjal1.

Transmisi transplasental
Transmisi ini bergantung pada usia kehamilan saat sang ibu mendapatkan
infeksinya. Jika sang ibu terinfeksi saat kehamilan masuk usia trimester satu,
maka insidensi terjadinya transmisi plasenta adalah paling rendah, yaitu
sekitar 15%. Namun jika terjadi, maka gejala klinis yang ditimbulkan sangat
berat. Berbeda jika infeksi terjadi pada usia kehamilan trimester 3. Transmisi
transplasental insidensi terjadinya mencapai 65%, namun kebanyakan bayi
yang dilahirkan tidak menunjukkan gejala apapun. Bayi yang terinfeksi
namun tidak menunjukkan gejala apapun saat dilahirkan ini, lebih cenderung
mengalami gangguan perkembangan neurologis pada kehidupan selanjutnya1.

D. Patogenesis
Saat parasit masuk ke dalam tubuh host melalui saluran gastrointestinal
dalam bentuk takizoit. Parasit yang sudah mencapai pada organ-organ tertentu
akan mengakibatkan kematian sel dan nekrosis fokal yang dikelilingi oleh
respon inflamatori akut. Pada host yang memiliki sistem imun normal, parasit
ini akan dikelilingi oleh berbagai mekanisme imun, seperti antibodi spesifik
parasit yaitu IgA, mengaktifasi makrofag, memproduksi interferon gamma,
dan menstimulasi limfosit T yaitu CD8. Limfosit ini dapat membunuh parasit
ekstraseluler dan sel yang terinfeksi oleh parasit. Setelah takizoit hilang dari
sirkulasi tubuh, akan mulai muncul kista bradizoit yang sering berada di SSP
dan retina. Pada bentukan ini, infeksinya lebih lama bertahan dan biasanya
tidak menimbulkan gejala. Hal ini yang menimbulkan titer antibodi yang tetap
meninggi pada individu tersebut. Pada individu yang terinfeksi T. gondii juga
didapatkan peninggian dari serum antibody IgM dan IgG1.
Pada individu dengan imunukompremis, respon imun yang terjadi tidak
adekuat dalam melawan parasite. Hal ini menimbulkan destruksi yang
progresif sehingga menghasilkan kegagalan organ1.

E. Gejala Klinis
Pada individu dengan imunokompeten, 80-90% pasiennya tidak
menunjukkan gejala. Hal ini pula yang menyebabkan sulitnya mendeteksi
infeksi T. gondii pada ibu hamil. Gejala yang muncul pada bayi yang
terinfeksi secara kongenital dapat meliputi gangguan neurologis berat seperti
hidrosefalus, mikrosefali, retardasi mental, dan koreoretinitis. Jika infeksi
selama kehamilan sangat berat, dapat menyebabkan kegagalan multiorgan
yang berujung pada kematian janin1.
Gejala-gejala yang ditimbulkan pada individu dengan imunokompeten
sangat beragam, meliputi1:
Limpadenopati
Limfadenopati yang sering ditemukan adalah limfadenopati servikal,
meskipun limfadenopati lainnya dapat pula ditemukan, seperti pada
supraclavicular, inguinal, dan mediastinal. Limfadenopati tersebut dapat
single ataupun multiple dengan konsistensi keras dan memiliki berbagai
bentuk. Sekitar 20-30% pasien yang bergejala memiliki limfadenopati
generalisata.
Nyeri kepala dan pusing
Malaise
Demam < 40C
Nyeri tenggorokan
Nyeri perut
Meningoensefalitis
Gejala yang lebih jarang namun dapat terjadi meliputi1:
Pneumonia
Myokarditis
Ensefalopati
Pericarditis
Gejala-gejala ini dapat menghilang dalam beberapa minggu pada infeksi akut,
kecuali pada limfadenopati yang dapat bertahan selama beberapa bulan.
Pada individu dengan imunokompremis, infeksi ini akan berakibat fatal
jika tidak ditangani. Gejala yang muncul pada individu dengan
imunokompremis lebih cenderung terjadi pada sistem saraf pusat. Hal ini
termasuk ke dalam stadium klinis 4 pada pasien dengan HIV3. Kelainan
sistem saraf pusat ini meliputi1:
Ensefalopati
Meningoensefalitis
Kelainan status mental
Demam
Kejang
Nyeri kepala
Gangguan saraf lainnya seperti gangguan motorik, visual, dan afasia
Gejala-gejala tersebut akan terus bertambah seiring dengan berkembangnya
infeksi. Gejala lain juga dapat muncul akibat dari gejala sekunder yaitu
perdarahan dan edema pada sistem saraf pusat. Bagian sistem sarah pusat yang
sering terkena adalah batang otak, ganglia basalis, dan kelenjar pituitary. Jika
batang otak yang terkena, dapat menimbulkan palsi saraf kranial dan ataksia.
Jika ganglia basalis yang terkena, dapat menimbulkan hidrosefalus dan
koreoatetosis. Selain melibatkan sistem saraf pusat, infeksi T. gondii pada
individu dengan imunokompremis juga dapat terjadi pada organ lain. Pada
sistem respiratori, dapat terjadi sesak nafas dan batuk yang tidak produktif.
Gejala tersebut dapat berkembang dengan cepat menjadi kegagalan respirasi
dengan batuk darah, asidosis metabolik, hipotensi, dan intravaskular
koagulasi1.
Pada toksoplasmosis kongenital, gejala yang muncul dapat pula beragam.
Gejala-gejala tersebut meliputi4:
Prematuritas
Pertumbuhan janin terhambat
Ikterus kongenital
Hepatosplenomegali
Trombositopenia purpura
Kelainan jumlah sel darah
Mikrosefali ataupun hidrosefalus
Hipotonia
Kalsifikasi intracranial
Mikroftalmia
Strabismus
Koreoretinitis

F. Pemeriksaan Penunjang
Penegakkan infeksi T. gondii selain dilihat dari gejala klinis yang
ditemukan, juga dapat diperkuat dengan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan beragam jenisnya, antara lain1:
1. Jaringan dan cairan tubuh
Infeksi T. gondii akut dapat ditandai dengan ditemukannya kista
jaringan pada biopsi atau ditemukannya takizoid pada limfonodi. Pada
pemeriksaan cairan serebrospinal pada individu terinfeksi dengan gejala
sistem saraf pusat, dapat ditemukan peningkatan mononuclear pleositosis
(10-50 sel/ ml), sedikit peningkatan konsentrasi protein, dan peningkatan
dari gama globulin.
2. Serologi
Pemeriksaan ini sering menjadi pemeriksaan penunjang yang
pertama dilakukan, menggunakan titer antibody IgG dan IgM. Antibodi
IgM dapat meningkat sejak 5 hari sampai beberapa minggu dari infeksi
akut. Titer antibodi ini mencapai puncaknya pada 1-2 bulan sejak infeksi,
dan menurun lebih cepat dibanding dengan IgG. Namun, dalam beberapa
kasus, dapat ditemukan IgM yang tetap meninggi selama bertahun-tahun
sejak didapatnya infeksi sehingga titer antibodi ini kurang dapat dijadikan
patokan untuk mengetahui adanya infeksi akut2.
Antibodi IgG muncul lebih lama dari IgM, biasanya dapat
dideteksi sekitar 1-2 minggu setelah terjadinya infeksi. Puncak dari
antibody ini muncul pada 12 minggu-6 bulan sejak terjadinya infeksi akut.
Antibodi IgG biasanya akan menetap sampai seumur hidup2.
Jika didapatkan IgG dan IgM yang negatif, hal itu menandakan
tidak adanya infeksi atau infeksi akut yang sedang benar-benar terjadi.
Jika hasil tes menunjukkan IgG positif dan IgM negatif, maka hal itu
menunjukkan infeksi lama yang terjadi lebih dari 1 tahun yang lalu. Jika
baik IgG ataupun IgM menunjukkan hasil positif, hal itu menandakan
sedang terjadi infeksi ataupun hasil positif palsu. Jika dicurigai sedang
terjadi infeksi akut, maka disarankan untuk mengulang tes dalam 2-3
minggu. Jika dalam empat kali pemeriksaan didapatkan hasil antibodi IgG
yang selaltu positif, maka hal itu menunjukkan infeksi yang saat ini
sedang terjadi. Titer antibodi lainnya yang dapat diperiksa juga adalah titer
antibody IgA2. Antibodi ini biasanya ditemukan pada toksoplasmosis
kongenital yang ditemukan pada bayi5.
3. Diagnostik molekuler
Pemeriksaan ini dilakukan dengan metode PCR untuk mendeteksi
secara genetic T. gondii yang menginfeksi seorang individu. Pemeriksaan
ini memeriksa gen B1 atau sekuens 529-bp untuk melihat genotip dan
polimorfik dari parasit tersebut.
4. Amniosentesis
Amniosentesis dilakukan dengan memeriksa cairan amnion
menggunakan metode PCR untuk mencari adanya parasite T. gondii.
Pemeriksaan ini harus dilakukan tidak lebih dari usia kehamilan 18
minggu. Jika dilakukan pada usia kehamilan lebih dari yang ditentukan,
maka kemungkinanan hasil positif palsunya akan meningkat. Pemeriksaan
ini juga harus dilakukan tidak lebih dari 4 minggu setelah ibu yang sedang
mengandung dicurigai mengalami infeksi akut. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan jika pemeriksaan serologi tidak dapat mengkonfirmasi infeksi
akut ataupun jika didapatkan kelainan saat pemeriksaan ultrasonografi
pada janin2.
5. Radiografi
Pemeriksaan radiografi meliputi CT-scan dengan kontras dan MRI.
CT-scan dengan kontras dapat digunakan untuk mengetahui lesi yang
terjadi di otak yang disebabkan infeksi T. gondii. Pada pemeriksaan ini,
dapat melihat lesi single ataupun multiple yang ukurannya < 2 cm.
Pemeriksaan CT juga dapat digunakan untuk membantu saat pemeriksaan
biopsy1.
Pada MRI, biasanya digunakan untuk lesi multiple yang berlokasi
di kedua hemisfer dan ganglia basalis. Pemeriksaan MRI diketahui lebih
sensitive dalam mengevaluasi terapi dibandingkan dengan CT. Kelainan
yang ditemukan pada pemeriksaan radiografi ini baik CT ataupun MRI
dapat mengalami resolusi dalam 3 minggu sampai 6 bulan. Namun
beberapa pasien menunjukkan perbaikan gejala meskipun gambaran
radiografiknya mengalami perburukan1.

Gambar 2. Hasil MRI pada individu terinfeksi T. gondii dengan HIV

G. Tatalaksana
1. Tatalaksana individu imunokompeten
Pada individu dengan imunokompeten yang hanya memiliki gejala
imunokompeten, tidak membutuhkan terapi spesifik. Terapi spesifik
diberikan jika individu tersebut memiliki gejala persisten dan berat. Pasien
dengan toksoplasmosis okular dapat diterapi menggunakan pirimetamin
ditambah sulfadiazine atau klindamisin selama 1 bulan1.

2. Tatalaksana individu imunokompremis


Terapi diberikan terutama pada pasien HIV dengan CD4+ < 100/l.
Penggunaan kombinasi trimethoprim-sulfametoxazole dosis harian
diketahui efektif dalam mengatasi infeksi oportunistik T. gondii.
Penggunaan kombinasi lain juga diperbolehkan seperti pirimetamin dan
sulfadiazine atau dapson-pirimetamin. Pemberian terapi tunggal seperti
penggunaan dapsone, pirimetamin, azitromisin, klaritromisin, juga dapat
dipertimbangkan. Pada individu HIV dengan CD4+ > 200/ l selama 3
bulan dan berespon terhadap penggunaan ART, penggunaan obat yang
ditujukan untuk toksoplasmosis dapat dihentikan1.
3. Tatalaksana pada ibu hamil6:
Obat anti parasit pada toksoplasmosis akut segera setelah dibuat
diagnosis pasti dapat menurunkan risiko toksoplasmosis kongenital.

Spiramisin 4 x 750 mg/hari selama 3 minggu, istirahat 3 minggu dan
diulangi lagi sampai persalinan.
Atau Spiramisin 3 MIU : 3 x 1 /hari selama 3 minggu, istirahat 3
minggu dan diulangi lagi sampai persalinan.
Azitromycin 1 x 500 mg, atau 5 hari perminggu, 4 minggu per bulan.

Clindamycin 3 x 300 mg 5 hari perminggu, diteruskan hingga akhir
kehamilan.
Dapat pula diberikan pyrimetamine sejak amniosintesis memberi hasil
positif :
o Pirimetamin (50 mg/kg/hari) + Sulfadiazine (3 g/hari) +
Kalsium folinat (50 mg/minggu).
o Pirimetamin (2 kali mg/hari) + Sulfadoksin (500 mg/minggu) +
Kalsium folinat (50 mg/minggu).
Bila infeksi janin (-) pengobatan dihentikan.
Janin yang terinfeksi, pada masa neonatus hingga 1 tahun pertama
pengobatan diteruskan dengan Pyrimetamine.
Janin yang terinfeksi, pada masa bayinya di follow up untuk
kemungkinan retinitis, hepatitis, carditis dan hidrocephalus.

H. Pencegahan
Pencegahan juga bisa dilakukan dengan cara2,5,6:
1. Menggunakan sarung tangan dan membersihkan dengan baik tangan dan
kuku saat berkontak dengan barang-barang yang berpotensi terkontaminasi
kotoran kucing seperti tanah, pasir, dan saat berkebun.
2. Mengurangi resiko paparan dari kucing peliharaan dengan: a) menjaga
kucing tetap di dalam rumah; b) hanya dan selalu memberi makan kucing
makanan yang dimasak matang atau makanan kering.
3. Mengganti tempat kotoran kucing dan membuang kotoran kucing setiap
harinya.
4. Hanya memakan daging yang telah dimasak dengan matang sempurna (>
67C/ 153F).
5. Membekukan daging paling tidak -20C/ -4F untuk membunuh kista T.
gondii.
6. Membersihkan permukaan dan peralatan yang telah kontak dengan daging
mentah.
7. Tidak menyentuh mata dan mulut saat mengolah daging mentah.
8. Tidak mengkonsumsi telur mentah ataupun susu mentah.
9. Selalu mencuci buah dan sayur yang tidak dimasak sebelum dikonsumsi.
10. Mencegah kontaminasi silang dengan selalu mencuci tangah setelah
memegang daging mentah ataupun sayuran.
11. Tidak meminum air yang berpotensi mengandung ookist.
Selain hal tersebut pencegahan pada wanita hamil dapat dilakukan dengan
cara:
1. Melakukan pemeriksaan sebelum kehamilan
Ada baiknya memeriksakan tubuh sebelum merencanakan kehamilan,
apakah dalam tubuh terdapat virus atau bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi T. gondii.
2. Melakukan vaksinasi
Vaksinasi bertujuan untuk mencegah masuknya parasit penyebab TORCH,
yang salah satunya adalah toksoplasmosis. Seperti vaksin rubela dapat
dilakukan sebelum kehamilan. Setelah vaksin ini tidak boleh hamil dahulu
sampai 2 bulan kemudian.
3. Mengkonsumsi makanan yang matang
Menghindari memakan makanan tidak matang atau setengah matang.
Parasit penyebab toksoplasmosis bisa terdapat pada makanan dan tidak
akan mati apabila makanan tidak dimasak sampai matang. Untuk
mencegah kemungkinan tersebut, selalu mengkonsumsi makanan matang.

4. Memeriksakan kandungan secara teratur


Selama masa kehamilan, pastikan juga agar memeriksakan kandungan
secara rutin dan teratur. Tujuannya adalah agar dapat dilakukan tindakan
secepatnya apabila di dalam tubuh individu ternyata terinfeksi T. gondii.
Penanganan yang cepat dapat membantu agar kondisi bayi tidak menjadi
buruk.
5. Menjaga kebersihan tubuh
Menjaga higiene tubuh, prosedur higiene dasar, seperti mencuci tangan,
merupakan hal yang sangat penting.

I. Prognosis
Prognosis pada individu yang terinfeksi T. gondii bervariasi, bergantung pada
respon imun yang dimiliki individu tersebut1.

J. Kesimpulan
Toksoplasmosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasite T.
gondii. Infeksi tersebut dapat mengenai semua individu. Namun insidensinya
meningkat seiring meningkatnya usia dan paparan, serta lebih cenderung
rendah angka kejadiannya pada daerah yang panas. Toksoplasmosis pada
individu dengan imunitas yang kompeten, dapat tidak menimbulkan gejala
dan bahkan hilang dengan sendirinya. Namun pada individu dengan
imunokompremis, jika tidak ditangani dengan baik dan tepat, maka dapat
berakibat fatal.
Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi parasite ini beragam. Hal ini
dikarenakan infeksi parasite ini dapat mengenai semua sel pada tubuh host-
nya, kecuali sel darah merah. Pada bayi juga dapat dikenai infeksi ini yang
didapat dari ibunya yang sebelumnya mengalami infeksi.
Penanganan pada infeksi T. gondii bertujuan untuk membunuh parasite
yang ada di dalam tubuh hostnya. Sehingga penangannya dapat menggunakan
berbagai macam pilihan obat. Prognosis dari infeksi ini beragam, bergantung
pada respon imun dari individu tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hasper L.H. Toxoplasma Infections. Dalam Fauci A.S., Braunwald E.,


Kasper D.L., et al. Harrisons Principles of Internal Medicine 17th Edition.
2008. McGraw Hill: New York. pp1305-1311.
2. Paquet C., Yudin M.H. Toxoplasmosis in Pregnancy: Prevention,
Screening, and Treatment. 2013. J Obstet Gynaecol Can; 35:S1-S7.
3. WHO. WHO Case Definitions of HIV For Surveillance And Revised
Clinical Staging And Immunological Classification of HIV-Related
Disease In Adults And Children. 2007. WHO: France.
4. Pudjiadi A.H., Hegar B., Handryastuti S., et al. Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi II. 2011. Badan Penerbit IDAI:
Jakarta.
5. Wahyuni S. Toxoplasmosis Dalam Kehamilan. 2013. Balaba. Vol 9, No.
3:27-32.
6. Standar Pelayanan Medik Obgyn. 2008. RSUP NTB: FK Unram.