Anda di halaman 1dari 16

STATUS PSIKIATRI

I. Identitas Pasien
Nama Pasien : Tn. Sahlan
Umur : 21 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Dusun Bajur Timur, Kopang, Lombok Tengah
Agama : Islam
Suku : Sasak
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Status : Belum menikah
MRS : 16 Agustus 2017
Pemeriksaan : Selasa, 22 Agustus 2017
Pasien dibawa oleh keluarganya ke IGD RSJ Mutiara Sukma pada tanggal 16
Agustus 2017. Ini merupakan keenam kalinya pasien dibawa ke RSJ Mutiara Sukma.

II. Identitas Keluarga Pasien


Nama Keluarga : Ny. Marniah
Jenis kelamin : Perempuan
Usia : 49 tahun
Hubungan : Ibu Kandung
Alamat : Dusun Bajur Timur, Kopang, Lombok Tengah
Agama : Islam
Suku : Sasak

III. Riwayat Psikiatri


Data diperoleh dari:
Autoanamnesis dengan pasien pada hari Selasa 22 Agustus 2017 pukul 15:00
WITA di Ruang Mawar RSJ Mutiara Sukma.
Alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada tanggal 16 Agustus 2017.

1
A. Keluhan Utama
Mata melirik ke atas, lidah dan leher terasa kaku

B. Riwayat Gangguan Sekarang


Alloanamnesis
Pasien datang diantar oleh ibu dan saudaranya ke IGD RSJMS dengan
keluhan mata melirik ke atas, lidah dan leher terasa kaku sejak 1 hari sebelum
pasien dibawa ke RSJMS. Menurut keluarga pasien, kedatangan kali ini
merupakan kedatangan pasien untuk yang kesekian kalinya. Selain mata melirik
ke atas dan lidah terasa kaku, keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien
nampak bingung dan sulit tidur. Keluarga pasien juga mengatakan bahwa pasien
pernah berlari ke arah sumur dan berusaha menceburkan diri.

Autoanamnesis
Pasien datang diantar oleh ibu dan saudaranya ke IGD RSJMS dengan
keluhan mata melirik ke atas, lidah dan leher terasa kaku sejak 1 hari sebelum
pasien dibawa ke RSJMS. Pasien mengalaminya pada pagi hari, kemudian oleh
keluarganya, pasien dibawa ke RSJMS pada malam harinya. Menurut pasien,
pasien datang ke RSJMS kali ini untuk yang keenam kalinya. Pasien
mengeluhkan hal tersebut setelah pasien meminum obat yang biasa
dikonsumsinya. Saat dilakukan wawancara, keluhan tersebut sudah tidak ada.
Selain hal tersebut, pasien juga mengaku mendengar bisikan-bisikan yang
hanya dapat didengar oleh pasien. Bisikan-bisikan tersebut sudah dirasakan
pasien sejak tahun 2006 saat pasien masih bekerja sebagai TKI di Malaysia. Saat
itu pasien mengaku suara yang terdengar seperti banyak orang dan mengajak
pasien berbicara. Pasien juga mengaku dapat melihat sesosok wanita berbaju
merah. Karena hal tersebut kemudian pasien kembali ke Indonesia dan baru
mendapat perawatan pada tahun 2012. Saat ini pasien mengaku mendengar suara-
suara yang menyuruh pasien untuk melakukan ibadah. Pasien juga mengaku
dapat melihat sesosok laki-laki yang diyakini pasien sebagai tuan guru. Tuan
guru tersebut sering mengajak pasien berbincang dan sering mengaji di depan

2
pasien. Menurut pasien, hanya pasien yang dapat mendengar suara dan melihat
sosok tuan guru tersebut.
Saat ini pasien tinggal hanya berdua dengan ibu kandungnya. Kakak dan
adik pasien sudah berkeluarga semua. Menurut pasien, pasien merasa dan
meyakini bahwa kakak ipar pasien ingin mencelakai pasien. Saat ditanya
alasannya, pasien tidak mengetahuinya. Pasien hanya yakin akan hal tersebut.
Pasien menyangkal saat ditanya mengenai adanya masalah dengan kakak ipar
pasien tersebut.
Pada keseharian pasien, pasien rutin kontrol dan minum obat. Saat ini
pasien tidak bekerja dan ingin sekali mendapatkan pekerjaan. Dalam melakukan
aktifitas sehari-harinya, pasien dapat melakukan secara mandiri. Dalam hal
ibadah, pasien mengaku jarang melakukan ibadah. Tidur pasien juga terganggu
setelah berada di RSJMS. Pasien mengaku sulit untuk memulai tidur karena
dapat melihat matahari yang bersinar terang jika pasien menutup mata pada
malam hari. Pasien juga sering terbangun pada tengah malam.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


Pasien sering datang ke RSJMS untuk mendapatkan perawatan. Pasien
pertama kali datang ke RSJMS dibawa oleh keluarganya pada tahun 2012. Pasien
mengatakan bahwa saat itu pasien diantar ke RSJMS karena keluyuran sambil
membawa baju dalam milik ibunya. Pasien mengaku bahwa pasien melakukan
hal tersebut karena disuruh oleh suara-suara yang didengarnya. Saat itu pasien
juga dapat melihat sesosok laki-laki yang diyakini pasien sebagai tuan guru.
Pasien mengatakan bahwa pasien dapat mendengar suara-suara dan melihat sosok
yang tidak dapat dilihat oleh orang lain sejak tahun 2006 saat pasien masih
bekerja di Malaysia. Saat itu pasien merasa terganggu karena hal itu sehingga
pasien memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Selepas perawatan di RSJMS pada tahun 2012, pasien rutin kontrol dan
minum obat. Pasien mengaku datang kontrol setiap bulan. Selama menjalani
perawatan dan minum obat di rumah, pasien mengaku tidak pernah ada keluhan
seperti kaku leher dan lidah, tangan bergetar, tangan atau kaki yang kaku, dan
berjalan seperti robot.

3
Pasien datang terakhir ke RSJMS sebelum perawatan yang sekarang adalah
sekitar tahun 2016. Saat itu pasien dibawa ke RSJMS karena pasien mengamuk
sambil membawa parang besar. Pasien mengatakan bahwa pasien melakukan hal
tersebut karena disuruh oleh suara-suara yang didengarnya. Pasien juga mengaku
sering keluyuran keluar rumah tanpa tujuan yang jelas. Saat itu pasien masih
dapat melihat sesosok tuan guru yang sebelumnya pernah dilihat. Pasien juga
mengaku pernah mencoba menceburkan diri kedalam sumur, namun digagalkan
oleh keluarga pasien. Pasien melakukan hal tersebut tanpa tujuan yang jelas. Saat
ditanya mengenai ada atau tidak suara atau sosok yang menyuruh pasien
melakukan hal tersebut, pasien menyangkal.
Pasien mengaku pernah mengalami kecelakaan. Kepala pasien terbentur
sehingga mengeluarkan darah. Namun pasien mengaku tidak sampai pingsan atau
mengalami penurunan kesadaran. Selanjutnya pasien dibawa ke PKM untuk
mendapatkan perawatan. Pasien mengaku kecelakaan tersebut terjadi bukan
sebelum pasien dapat melihat dan mendengar suara-suara yang dialaminya.
Riwayat penggunaan napza dan alkohol disangkal oleh pasien. Riwayat
penggunaan rokok diakui pasien sejak pasien duduk di bangku SD.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat prenatal
Pasien merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara. Pasien dikatakan lahir
cukup bulan, lahir di rumah di tolong oleh dukun, dan dikatakan secara umum
kelahiran pasien dalam keadaan normal. Pasien tidak pernah sakit-sakit
selama bayi dan ibu pasien tidak pernah sakit selama mengandung pasien.
2. Masa kanak-kanak awal (<3 tahun)
Pasien diakui tidak pernah mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangannya. Secara umum sesuai usia dan seperti anak lainnya.
3. Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya bergaul dengan
teman-teman sekitar rumah.

4
4. Masa kanak-kanak akhir dan remaja (11-19 tahun)
Keluarga mengatakan pasien memiliki banyak teman dan sering melakukan
aktivitas bersama teman-temannya. Setelah putus sekolah, pasien mulai
bekerja menjadi buruh kelapa sawit di Malaysia.
5. Masa dewasa
Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah SMP dan tamat selama 3 tahun.
Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja sebagai buruh kelapa sawit di Malaysia selama 1 tahun.
Riwayat pernikahan
Pasien belum pernah menikah.
Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum sampai
dipenjara selama ini.

E. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Pasien saat ini tinggal
bersama ibu kandungnya. Ayah pasien sudah bercerai dengan ibunya dan saat ini
ayahnya bekerja di Malaysia. Saudara-saudara pasien sudah menikah dan tinggal
bersama dengan keluarga intinya di tempat lain. Menurut pasien, kakak dari
ayahnya pernah mengalami masalah kejiwaan dan pernah mendapatkan
perawatan di RSJMS.
Genogram keluarga pasien:

5
Keterangan:
: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Gangguan kejiwaan

: Pasien

F. Situasi Sosial-Ekonomi Sekarang


Pasien tinggal bersama ibu kandungnya yang berusia 49 tahun. Keseharian
pasien banyak diam diri di rumah dan kamar. Saat ini pasien tidak bekerja dan
menginginkan untuk bekerja.

G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien merasa dirinya sakit dan ingin sembuh, pasien merasa dirinya lebih
baik dengan minum obat dan mau melanjutkan minum obat agar badan sehat.

H. Persepsi dan Harapan Keluarga


Menurut keluarga pasien, seluruh keluarga telah mengetahui pasien
mengalami gangguan jiwa. Diakui olehnya, keluarga dapat menerima kondisi
pasien dan menginginkan pasien dapat beraktivitas normal kembali. Keluarga
juga menginginkan pasien dapat terus mau berobat rutin, tidak keluar masuk
rumah sakit jiwa lagi dan pasien agar pasien dapat kembali bekerja dan
beraktivitas.

Pemeriksaan Status Mental


Pemeriksaan status mental dilakukan pada tanggal 22 Agustus 2017 di Ruang Mawar
Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma.
A. Deskripsi Umum
1) Penampilan
Laki-laki, penampilan tampak sesuai usia, tampak rapi dan terawat.

6
2) Kesadaran
Jernih (Compos Mentis)
3) Psikomotor
Normoaktif
4) Sikap terhadap Pemeriksa
Kooperatif
5) Pembicaraan
Spontan, volume cukup, artikulasi jelas.
B. Alam perasaan dan emosi
Mood : Hipotimia
Afek : Luas
Keserasian : Tidak serasi
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik (+)
Halusinasi visual (+)
D. Pikiran
Bentuk pikir : Non-realistik
Arus pikir : Koheren
Isi pikir : Waham kejar (+)
E. Fungsi Kognitif
a. Taraf pendidikan pengetahuan dan kecerdasan
Pasien menempuh pendidikan sampai SMP. Tingkat pengetahuan dan
kecerdasan pasien kesan sesuai dengan taraf pendidikan.
b. Orientasi :
Waktu kesan baik. Pasien dapat mengetahui waktu saat dilakukan
wawancara adalah siang hari.
Tempat kesan baik. Pasien mengetahui bahwa saat ini dirinya
berada di RSJ Mutiara Sukma di ruang Mawar.
Orang kesan baik. Pasien mengenali keluarga yang mengantarnya
ke RSJ.

7
c. Daya Ingat :
Jangka panjang kesan baik. Pasien dapat mengingat nama teman-
teman SD pasien.
Jangka sedang kesan baik. Pasien dapat mengingat tempat pasien
beribadah saat lebaran kemarin.
Jangka pendek kesan baik. Pasien dapat mengingat menu sarapan
tadi pagi.
Jangka segera kesan baik. Pasien dapat mengulang benda-benda
yang disebutkan pewawancara.
d. Konsentrasi dan Perhatian
Kesan baik. Pasien tampak memusatkan perhatian pada pemeriksa saat
wawancara.
e. Kemampuan Berhitung, Membaca, dan Menulis
Kesan baik. Pasien dapat berhitung, membaca dan menulis kalimat
sederhana.
f. Kemampuan Visuospasial
Kurang baik, pasien tidak dapat menggambar jam yang menunjukkan
11.10.
g. Pikiran Abstrak
Kesan baik, pasien dapat memberikan persamaan antara jeruk dan durian
atau motor dan mobil.
h. Pengetahuan Umum
Kesan baik, pasien mengetahui presiden Indonesia saat ini.
F. Pengendalian Impuls
Selama wawancara, pasien dapat mengendalikan diri dengan baik.
G. Daya Nilai dan Tilikan
Daya Nilai Sosial : terganggu
Uji Daya Nilai : terganggu
Reality Test Ability : terganggu
Tilikan : derajat 4
H. Taraf Dapat Dipercaya
Secara umum, informasi lain yang disampaikan oleh pasien cukup dapat dipercaya.

8
IV. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 22 Agustus 2017 di Ruang Mawar Rumah
Sakit Jiwa Mutiara Sukma, Provinsi NTB.
Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : E4V5M6, compos mentis
Tanda vital
o Tekanan darah : 110/70 mmHg
o Heart Rate : 88x/mnt
o Respiration Rate : 20 x/mnt
o Suhu : 36,4C (suhu aksila)
Kepala/Leher : normosefali, anemis -/-, ikterik -/-
Thoraks : sesak (-), retraksi (-)
Abdomen : distensi (-), massa (-)
Ekstrimitas : akral hangat +/+, edema -/-
Status Neurologis
Tanda rangsang meningeal : negatif
Refleks patologis : negatif
Refleks fisiologis : normal
Motorik : +5/+5
Sensorik : baik
Gejala ekstrapiramidal :
o Tremor : negatif
o Rigiditas : negatif
o Bradikinesia : negatif
o Cara berjalan : normal
o Keseimbangan : baik

V. Ikhtisar Penemuan Bermakna


Dilaporkan seorang pasien laki-laki usia 21 tahun, agama Islam, suku Sasak, tidak
bekerja, pendidikan SMP, status belum menikah, dibawa ke IGD RSJ Mutiara Sukma pada
tanggal 16 Agustus 2017 dengan keluhan mata melirik ke atas, lidah dan leher terasa kaku.
9
Keluhan tersebut dirasakan pasien sejak pagi hari sebelum pasien dibawa ke IGD pada
malam harinya. Kedatangan pasien kali ini merupakan kedatangan keenamnya. Pasien
pertama kali datang pada tahun 2012 dan terakhir datang pada tahun 2016. Pasien
mengaku rutin kontrol dan minum obat. Riwayat trauma kepala diakui pasien, namun hal
itu terjadi bukan sebelum gejala pasien pertama kali muncul. Riwayat penggunaan napza
dan alkohol disangkal oleh pasien. Dalam keluarga pasien terdapat keluarganya yang
memiliki gangguan kejiwaan juga, yaitu kakak dari ayah pasien.
Pada pemeriksaan fisik umum dan neurologis tidak ditemukan kelainan bermakna,
masih dalam batas normal. Pada pemeriksaan status mental didapatkan penampilan rapi,
bersih, dan terawat. Perilaku pasien normoaktif dan sikap terhadap pemeriksa koperatif.
Bicara pasien spontan, volume cukup, dan artikulasi jelas. Mood pasien diutarakan
hipotimia dengan afek meluas, sehingga tidak serasi. Pada proses pikir ditemukan koheren
dan isi pikir terdapat waham kejar. Ditemukan gangguan persepsi yakni halusinasi
auditorik dan halusinasi visual. Orientasi, daya ingat, atensi, kemampuan berpikir abstrak,
kemampuan membaca, menulis, dan berhitung terkesan cukup baik. Kemampuan
visuospasial, uji daya nilai, dan RTA terganggu. Tilikan pasien adalah derajat 4.

VI. Formulasi Diagnostik


Berdasarkan data dari anamnesis riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik
serta status mental, pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, dan perasaan yang
secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya
(disability) dalam fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III
dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa1.
Gangguan mental organik (F00-F09) dapat disingkirkan, karena kemungkinan
adanya penyakit medis berat yang pernah dialami pasien disangkal. Pasien pernah
mengalami trauma kepal, namun hal itu terjadi bukan sebelum gejala pertama yang dialami
pasien. Pasien juga tidak memiliki riwayat penggunaan NAPZA dan alkohol, sehingga
kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif
(F10-F19) juga dapat disingkirkan1.
Pada pasien ini ditemukan gejala-gejala definitif adanya skizofrenia yaitu adanya
halusinasi pengelihatan dan pendengaran, adanya waham kejar, serta adanya riwayat gejala
katatonik (gaduh-gelisah) yang berlangsung selama lebih dari 1 bulan dan menimbulkan

10
perubahan kualitas hidup yang bermakna sehingga berdasarkan PPDGJ III pasien dapat
didiagnosis dalam kategori skizofrenia (F20-F29)1. Waham pada pasien adalah waham
kejar, yaitu keyakinan pasien akan kakak iparnya yang ingin mencelakai pasien. Pada
pasien ini juga didapatkan halusinasi auditorik dan visual yang menyuruh pasien
melakukan sesuatu. Oleh karena gejala-gejala menonjol tersebut, berdasarkan PPDGJ III
pada aksis I dapat didiagnosis Skizofrenia Paranoid (F.20)1. Berdasarkan DSM V gejala
pasien juga sudah memenuhi kriteria diagnosis skizofrenia yaitu adanya delusi, halusinasi,
dan perilaku katatonik (295.90)1.
Dari hasil alloanamnesis, pasien tidak didapatkan gangguan kepribadian, sehingga
pada aksis II dapat dikatakan tidak ada diagnosis. Pada pasien ini tidak ditemukan adanya
kelainan pada pemeriksaan fisik, namun memiliki riwayat EPS sehingga Aksis III Riwayat
EPS. Pada aksis IV, terdapat masalah pekerjaan. Pada Aksis V GAF (Global Assessment of
Functioning) Scale pasien pada saat ini adalah 60-51 yaitu gejala sedang, disabilitas
sedang, dan pada 1 tahun terakhir adalah 70-61, yaitu beberapa gejala ringan dan menetap,
disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik1,2.

VII. Evaluasi Multiaksial


Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Riwayat EPS
Aksis IV : Masalah pekerjaan
Aksis V : GAF sekaranh 60-51, 1 tahun terakhir 70-61

VIII. Daftar Masalah


A. Organobiologik : Ketidakseimbangan neurotransmiter
B. Psikologi :
Halusinasi auditorik
Halusinasi visual
Waham kejar

11
C. Lingkungan dan Sosio ekonomi :
Keluarga mengerti bahwa gangguan jiwa yang dialami pasien memerlukan
pengobatan lama dan rutin.

IX. Rencana Intervensi


A. Psikofarmaka :
Risperidon 2 x 2mg
Clobazam 1 x 10mg (malam)
B. Psikoterapi dan Psikoedukasi :
Psikoterapi Suportif
Kepada pasien dilakukan psikoterapi suportif dengan cara mendukung pasien.
Sistem pendukung pasien harus kuat, tidak terlalu mencampuri maupun
menjauhi pasien. Pasien juga diberikan edukasi mengenai penyakitnya, gejala,
penyebab, pengobatan, bagaimana dampak bila tidak kontrol atau tidak minum
obat dan bagaimana jika keluhan kembali muncul.
Psikoedukasi
a. Edukasi terhadap pasien :
- Memberi informasi dan edukasi pada pasien mengenai gangguan yang
diderita, mulai gejala, dampak, faktor resiko, tingkat kekambuhan, dan
tata cara dan manfaat pengobatan agar pasien tetap taat meminum obat,
dan segera berobat bila mulai timbul gejala serupa.
- Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa suara-suara itu tidak
nyata, dan mendorong pasien untuk belajar mengabaikan suara yang
timbul.
- Memberi edukasi mengenai keuntungan pengobatan sehingga pasien
termotivasi untuk minum obat secara teratur.
- Menjelasakan kepada pasien bahwa obat yang diberikan bisa
memberikan efek samping bagi pasien namun dapat diatasi.
b. Edukasi kepada keluarga :
- Memberikan penjelasan tentang penyakit pasien (penyebab, gejala,
hubungan antara gejala dengan perilaku, perjalanan penyakit, serta
prognosis). Pada akhirnya diharapkan agar keluarga selalu bisa

12
menerima dan memahami keadaan pasien serta terus mendukung proses
penyembuhannya dan mencegah kekambuhan.
- Menjelaskan bahwa sakit yang diderita oleh pasien merupakan penyakit
yang membutuhkan dukungan dan peran aktif keluarga dalam
membantu proses penyambuhan penyakit.
- Memberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada pasien
(kegunaan obat terhadap gejala pasien serta efek samping yang
mungkin muncul pada pengobatan). Selain itu juga ditekankan
pentingnya pasien kontrol dan minum obat secara teratur.

X. Prognosis
Hal yang meringankan prognosis:
Pasien memiliki jaminan kesehatan
Gejala psikotik pasien merupakan gejala positif
Sebagian besar fungsi kognitif pasien masih baik
Keluarga mendukung pengobatan pasien
Hal yang memperburuk prognosis:
Pasien sering kambuh
Pasien belum menikah
Adanya riwayat gangguan kejiwaan dalam keluarga pasien
Riwayat keluarga dengan skizofrenia
Prognosis Pasien:
Ad vitam : bonam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

XI. Pembahasan Kasus


Diagnosis skozifrenia dapat tegak pada pasien ini karena didapatkan gejala utama
yaitu adanya halusinasi auditorik dan waham kejar. Selain itu juga terdapat adanya gejala
minor berupa halusinasi visual dan riwayat perilaku katatonik. Hal-hal tersebut
menyebabkan pasien mengalami hendaya fungsi secara global. Gejala-gejala ini juga telah
berlangsung lebih dari 1 bulan1. Diagnosis Skizofrenia Paranoid juga dapat tegak karena
13
adanya halusinasi yang khas pada pasien yaitu bersifat menyuruh pasien melakukan
sesuatu dan juga adanya waham kejar. Pasien terus-menerus kambuh berulang diduga
akibat dosis obat yang diberikan kurang atau cara pemberian obat yang salah namun diakui
keluarga terdapat masa ketika pasien hampir stabil, oleh karena itu pola perjalanan
penyakit ini dapat tergolong episodik berulang.
Pencetus terjadinya gangguan jiwa pada pasien pertama kali disebabkan oleh faktor
pekerjaan. Namun, kekambuhan berulang yang terjadi pada pasien masih belum dapat
digali. Sejauh ini, keluarga juga cukup baik memahami bahwa pasien memerlukan
pengobatan dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini perlu dipertahankan dengan
membentuk edukasi yang baik antara keluarga dan pihak medis.
Pada pasien ditemukan gejala psikotik yang muncul adalah gejala positif yaitu
adanya halusinasi dan waham. Pada pasien ini juga didapatkan adanya riwayat gejala
ekstrapiramidal sindrom. Obat antipsikotik memiliki 2 golongan yaitu golongan tipikal dan
atipikal. Golongan tipikal disebut juga sebagai Dopamin Antagonis (DA) karena hanya
memblok reseptor dopamin, sedangkan golongan atipikal disebut juga sebagai Dopamin
Serotonin Antagonis karena memblok reseptor dopamin dan serotonin.
Risperidone merupakan obat golongan atipikal yang bekerja dengan cara memblok
reseptor dopamin sehingga gejala yang dialami pasien dapat berkurang. Obat antipsikotik
atipikal juga memiliki efek samping ekstrapiramidal yang lebih minimal2,3. Pada pasien
diberikan dosis awal 2 x 2 mg dan diberikan selama kurang lebih 8-12 minggu hingga
memasuki tahap stabilisasi, kemudian dapat di tappering off hingga mencapai dosis
maintenance.
Terapi lain yang dapat diberikan pada pasien selain terapi farmakologi adalah
terapi non farmakologi yaitu psikoterapi suportif dan psikoedukasi. Psikoterapi suportif
bertujuan agar pasien merasa aman, diterima dan dilindungi. Psikoedukasi terutama pada
keluarga penting dilakukan agar keluarga mengetahui tentang penyebab, gejala,
pentingnya pengobatan, dan pentingnya dukungan keluarga bagi pasien.

14
Kurva Perjalanan Penyakit

Tahun 2006 Tahun 2012 Tahun 2012-2016 Tahun 2017


Awal muncul MRS MRS berulang kali. MRS keenam
gejala. pertama kali. - Keluyuran kali.
Belum MRS - Keluyuran - Halusinasi - Halusinasi
- Halusinasi - Mengamuk - Waham
- Mencebur diri - Gejala EPS
ke sumur

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2013.
2. Kusumawardhani A, Husain AB, dkk. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia. Konsensus Penatalaksanaan Gangguan
Skizofrenia. Jakarta : PDSKJI. 2011.

16