Anda di halaman 1dari 6

Batasan Usia Remaja

Tahap prapuber
Tahap ini bertumpang tindih dengan satu atau dua tahun terakhir masa kanak-kanak pada saat
anak dianggap sebagai prapuber yaitu bukan lagi seorang anak tapi belum juga seorang remaja.
Dalam tahap prapuber atau tahap pematangan, perubahan fisik pada anak sudah mulai tampak
tetapi organ-organ reproduksi belum sepenuhnya berkembang. Kelenjar endokrin adalahkelenjar
yang berada dalam saluran darah. Zat-zat yang dikeluarkannyadisebut hormone. Hormone ini
menyebabkan timbulnya suatu rasa tidak tenang dalam diri anak. Suatu rasa yang belum pernah
dialami oleh anak.1

Tahap puber
Tahap ini terjadi pada garis pembagi antara masa kanak-kanak dan masa remaja saat dimana
criteria kematangan seksual muncul haid pada anak perempuan dan pengalaman mimpi basah
pada anak laki-laki. Selama tahap remaja, perubahan fisik pada anak telah namapak dan sel-sel
direproduksi dalam organ-organ seks. Perubahan pesat yang terjadi pada masa puber
menimbulkan keraguan, perasaan tidak mampu dan tidak aman, sehingga mengakibatkan
terjadinya sebuah perilaku yang krang baik.2

Tahap pasca puber


Tahap ini bertumpang tindih dengan tahun pertama atau kedua masa remaja. Selama tahap ini,
perubahan fisik yang terjadi pada diri seseorang telah berkembang dengan baik, dan organ-organ
seks mulai berfungsi secara matang.

Monks, dkk (2002) membagi fase-fase masa remaja ke dalam tiga tahap, yaitu:

a. Remaja awal (12-15 tahun)

Pada tahap ini, remaja mulai beradaptasi terhadap perubahan perubahan yang terjadi pada dirinya
dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan tersebut. Individu berusaha untuk
menghindari ketidaksetujuan sosial atau penolakan dan mulai membentuk kode moral sendiri
tentang benar dan salah. Individu menilai baik dan buruk terhadap apa yang disetujui orang lain
dan apa yang ditolak orang lain. Pada tahap ini, minat remaja pada dunia luar sangat besar dan
juga tidak mau dianggap sebagai kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola
kekanakannya. Pada masa ini mulai meninggalkan perannya sebagai anak-anak dan berusaha
mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua.

b. Remaja pertengahan (15-18 tahun)

Pada tahap ini, remaja berada dalam kondisi kebingungan dan terhalang dari pembentukan kode
moral karena ketidak konsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukannya dalam

1
F.J. Monks, Psikologi perkembangan, hal :263, 1982
2
. Hurlock, psikologi perkembangan hal : 185, 1980
kehidupan sehari-hari.3 Keraguan semacam ini juga jelas dalam sikap terhadap masalah
mencontek pada waktu remaja duduk di sekolah menengah atas. Karena hal ini sudah agak
umum, remaja menganggap bahwa teman-teman akan memaafkan perilaku ini, dan
membenarkan perbuatan mencontek bila selalu ditekan untuk mencapai nilai yang baik agar
dapat diterima di sekolah tinggi dan yang akan menunjang keberhasilan dalam kehidupan sosial
dan ekonomi di masa-masa mendatang. Pada tahap ini, mulai tumbuh semacam kesadaran akan
kewajiban untuk mempertahankan aturan-aturan yang ada, namun belum dapat
mempertanggungjawabkannya secara pribadi. Masa ini ditandai dengan berkembangnya
kemampuan berfikir yang baru. Teman sebaya memiliki peran yang penting. Pada masa ini
remaja juga mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar membuat keputusan sendiri dan
selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu

c. Masa remaja akhir (18-21 tahun)

Pada tahap ini, individu dapat melihat sistem sosial secara keseluruhan.4 Individu mau diatur
secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi. Alasan mematuhi peraturan bukan
merupakan ketakutan terhadap hukuman atau kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa
hukum dan aturan harus dipatuhi untuk mempertahankan tatanan dan fungsi sosial. Remaja
sudah mulai memilih prinsip moral untuk hidup. Individu melakukan tingkah laku moral yang
dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. Pada tahap ini, remaja
mulai menyadari bahwa keyakinan religius penting bagi mereka. Nilainilai yang dimiliki juga
akan menuntun remaja untuk menjalin hubungan sosial dan keputusan untuk menikah atau tidak.
Selain itu, individu juga mulai merasa bahwa hidupnya tidak akan dapat secara terus-menerus
bergantung pada orang tua sehingga individu mulai memikirkan mengenai pekerjaan atau
jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang dapat dipilih untuk masa depannya.

Tugas-tugas perkembangan masa remaja

Perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari
proses kematangan dan pengalaman.5 Perkembangan tidak dapat diukur karena perkembangna
berarti bersifat kualitatif. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar penambahan berapa
sentimeter pada tinggi seseorang tetapi, suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi
yang kompleks. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat
diputar kembali ( Werner, 1969 )

Menurut Hurlock (1990), seluruh tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada
penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan

3
. yusufLN, psikologi perkembangan anak dan remaja, 2006

4
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html

5
Hurlock, psikologi perkembangan hal : 2, 1980
untuk menghadapi masa dewasa. Tugas perkembangan berkaitan dengan domain identitas yang
digunakan untuk melihat identitas diri remaja. Adapun domain identitas tersebut adalah
pekerjaan, keyakinan idiologis dan keyakinan seksualitas. Adapun tugas perkembangan remaja
sebagai berikut :

1. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.


Belajar melihat kenyataan, anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria,
berkembang menjadi orang dewasa di antara orang dewasa lainnya, belajar bekerja sama
dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama; dan belajar memimpin orang lain
tanpa mendominasinya.

2. Mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita.


Remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang
dijunjung tinggi oleh masyarakat.

3. Menerima keadaan fisik


Tugas ini bertujuan agar remaja merasa bangga, atau bersikap toleran terhadap fisiknya,
menggunakan dan memelihara fisiknya secara efektif, dan merasa bersyukur atass
pemberian dariNya. Seorang remaja juga harus bisa menerima sebuah perubahan yang
terjadi dalam dirinya.

4. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.


membebaskan diri dari sikap dan perilaku yang kekanak-kanakan atau bergantung pada
orangtua, mengembangkan afeksi (cinta kasih) kepada orangtua, dan mengembangkan
sikap respek terhadap orang dewasa lainnya tanpa bergantung kepadanya.

5. Mencapai jaminan kemandirian ekonomi.


Agar remaja merasa mampu menciptakan suatu kehidupan (mata pencaharian). Penting
buat remaja pria dan tidak terlalu penting buat remaja wanita.

6. Memilih dan mempersiapkan karier (pekerjaan)


memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, dan mempersiapkan diri-
memiliki pengetahuan dan keterampilan- untuk memasuki pekerjaan tersebut.
7. Mempersiapkan pernikahan dan hidup berkeluarga.
mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga, dan memiliki
anak, memperoleh pengetahuan yaang tepat tentang pengelolaan keluarga dan
pemeliharaan anak.
8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang diperlukan bagi warga
negara.
Mengembangkan konsep-konsep hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, geografi,
hakikat manusia, dan lembaga-lembaga sosial yang cocok dengan dunia modern, dan
mengembangkan keterampilan berbahasa dan kemampuan nalar (berfikir) yang penting
bagi upaya memecahkan masalah-masalah secara efektif.
9. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab sebagai masyarakat, dan
memperhitungkan nilai-nilai sosial dalam tingkah laku dirinya.
10. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing dalam
bertingkah laku.
membentuk seperangkat nilai yang mungkin dapat direalisasikan, mengembangkan
kesadaran untuk merealisasikan nilai-nilai, mengembangkan kesadaran akan
hubungannya dengan sesama manusia dan juga alam sebagai lingkungan tempat
tinggalnya, dan memahami gambaran hidup dan nilai-nilai yang dimilikinya, sehingga
dapat hidup selaras (harmoni) dengan orang lain.

11. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Mencapai kematangan sikap, kebiasaan dan pengembangan wawasan dalam
mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan dalam kehidupan
sehari-hari, baik pribadi maupun sosial.

Hurlock (1981) menyebut tugas tugas perkembangan ini sebagai social expectations
yang artinya setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan
tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia
sepanjang
rentang kehidupan.

Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society perkembangan pada awal masa
remaja (12 tahun) Anak belajar membuang masa kanak kanaknya dan belajar memusatkan
perhatian pada diri sendiri. Remaja merupakan masa berkembangnya identity (identitas)
(Erik Erickson (Adams & Gullota, 1983 : 36 37; Conger, 1977 : 92 93)).
Identity adalah suatu pengorganisasian dorongan dorongan (drives), kemampuan
kemampuan (abilities), keyakinan keyakinan (beliefs), dan pengalaman pengalaman
individu kedalam citra diri (images of self) yang konsisten (Anita E. Woolfolk).

Lustin Pikunas (1976 : 257 259), masa remaja akhir ditandai oleh keinginan yang kuat
untuk tumbuh dan berkembang secara matang agar dapat diterima oleh teman sebaya,
orang dewasa, dan budaya.

Robert J. Havighurst (1961)


a. Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
b. Mencapai peranan sosial sebagai pria atau wanita.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.
d. Mencapai kemadirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
e. Mancapai jaminan kemandirian ekonomi.
f. Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan).
g. Belajar merencanakan hidup berkeluarga.
h. Mengembangkan keterampilan intelektual.
i. Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
j. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai petunjuk/pembimbing
dalam bertingkah laku.
k. Mengamalkan nilai nilai keimanan dan ketakwaan kepada tuhan dalam
kehidupan sehari hari, baik pribadi maupun sosial.

Charlotte Buhler (1930)


Belajar melepaskan diri dari persoalan tentang diri sendiri dan lebih mengarahkan
minatnya pada lapangan hidup konkret, yang dahulu dikenalnya secara subjektif
belaka.

Elizabeth B. Hurlock (1978)


Belajar menyesuaikan diri terhadap pola pola hidup baru, belajar untuk memiliki
cita cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai
belajar memantapkan identitas diri
Erik Erikson (1963)
Anak mulai memusatkan perhatian pada diri sendiri, mulai menentukan pemilihan
tujuan hidup, belajar berdikari, belajar bijaksana.

Robert J. Havighurst (1961) mengartikan tugas tugas perkembangan itu merupakan


suatu hal yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu yang apabila
berhasil mencapainya mereka akan merasa berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal
akan kecewa dan dicela orangtua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan
mengalami kesulitan. Faktor seorang remaja yang mampu melaksanakan tugas-tugas
perkembanganyan dengan baik disebabkan karena mereka sudah mencapai kematangan fisik,
adanya tuntutan masayarakat atau budaya dan nilai-nilai serta aspirasi individu. Tugas
perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan

Sikap dan pola perilaku pada anak menuju remaja yang cenderung kekanak kanakan dan akan
mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa adalah suatu tugas bagi seorang remaja.6
Perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak.
Akibatnya hanya sedikit anak laki-laki dan perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas
tersebut selama awal masa remaja, apalagi jika matangnya terlambat. Remaja akan meletakkan dasar-
dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Tugas perkembangan pada masa remaja akan
menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan
itu sendiri. Pada dasarnya pentingnya menguasai tugas perkembangan dalam waktu yang relative singkat
yang dimiliki oleh remaja. Serigkali sulit bagi remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-
kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya.
Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki
penampilan diri sehingga lebih sesuai apa yang dicita-citakan. Menerima peran seks dewasa yang diakui
masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki mereka telah didorong dan
diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi, berbeda dengan ank perempuan , mereka diperbolehkan

6
Hurlock, psikologi perkembangan hal : 185, 1980
bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminine
dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut yang mmerlukan penyesuaian selama
bertahun-tahun. Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering kali berkembang selama
akhir masa kanak-kanak dan masa pubrtas maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti
harus dimulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus
bergaul dengan mereka sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman
sebayanya juga tidak mudah.

Bagi remaja yang mendambakan kemandirian usaha untuk mandiri secara emosional dari orang
tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun kemandirian
emosi tidak sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri tetapi juga
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosional pada orang tua atau orang
dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan tau
memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok. Kemandirian ekonomis tidak dapat di capai
sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlkan pelatihan yang lam, maka tidak ada jaminan untuk memperoleh kemandirian
ekonomis jika mereka menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomis mereka masih harus bergantung selama
beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.

Yusuf LN, Syamsu, H., Dr., M.pd. 2006. Psikologi perkembangan anak dan remaja. Bandung :
PT Remaja Rosdakarya.

Sobur, Alex, Drs., M.si. 2003. Psikologi umum. Bandung : Pustaka Setia.

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html