Anda di halaman 1dari 3

Membangun Masyarakat Madani dengan

Ilmu dan Iman


Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Puji dan syukur kita hadirkan hanya kepada Allah subhanahu wa taala atas pelbagai nikmat,
anugerah dan karunia-Nya yang melimpah dan tak terhitung. Shalawat dan salam sejahtera
atas teladan kita Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, yang telah membawa Risalah
Islam sebagai landasan untuk meraih kebahagian dalam kehidupan dunia dan akhirat, baik itu
pada level individu maupun komunal.

Pada kesempatan ini pula, hendaknya kita semua senantiasa kembali menguatkan dan
meningkatkan komitmen ketundukan dan ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa taala,
sebagai konsekuensi kita sebagai seorang Mukmin.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah
dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (33/36).

Agama yang kita pahami, bukanlah agama yang sekadar mengatur kehidupan pribadi seorang
manusia dengan Sang Pencipta, Allah subhanahu wa taala. Namun kita meyakini bahwa
Islam sebagai sebuah entitas agama, adalah juga minhj yang mengatur hubungan
antarsesama atau yang kerap disebut sebagai hubungan mumalah. Oleh sebab itu, selain
untuk mengantarkan seorang Muslim menjadi pribadi yang saleh, Islam juga memiliki konsep
untuk mengantarkan sebuah masyarakat yang saleh, baik itu secara material maupun spiritual,
jasmani ataupun ruhani.

Konsep Islam atas pembentukan masyarakat itu dapat disebut sebagai Konsep Madan, yakni
sebuah model yang merujuk bagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam membangun
kerangka masyarakat Madinah, masyarakat yang dibangun atas tiga landasan utama yaitu:
masyarakat yang berbasis masjid; berdasarkan persaudaran; dan masyarakat yang diatur oleh
hukum (Piagam Madinah).

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: kenapa langkah pertama yang dilakukan
Rasulullah SAW saat membangun masyarakat Islam di Madinah adalah membangun masjid?
Maka, untuk mencoba menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan cara melihat bagaimana
Rasulullah memfungsikan masjid itu sendiri.

Adalah sangat disayangkan, masih ada di kalangan ummat Islam yang menempatkan
masjid sebagai elemen bagian dari kehidupan masyarakat, bukan elemen utama dalam
membangun masyarakat. Cara pandang seperti itu dikarenakan adanya ideologi sekular yang
menafikan peran agama dalam pembangunan masyarakat.

Padahal sejak awal kemunculannya, islam tidak hanya sekadar suatu sistem teologi
saja, Islam adalah suatu peradaban yang komplit. Dalam kaitan inilah, ada baiknya kita
merenungkan kata-kata yang dilontarkan oleh seorang pembaharu asal Mesir, Syaikh Hasan
Al Bann, yang mengatakan bahwa Islam itu aqdah dan ibadah, tanah air dan
kewarganegaraan, toleransi dan kekuatan, moralitas dan materi, wawasan dan hukum.

Oleh karena itu, hendaknya kita kembali mengoreksi cara pandang kita terhadap
Islam, yang dengan cara itu niscaya kita dapat kembali menempatkan masjid seperti yang
telah difungsikan oleh Rasulullah dan generasi emas setelahnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Masjid pada hakikat utamanya adalah sebuah tempat untuk manifestasi ketundukan dan
ketaatan seorang Mukmin kepada Allah subhanahu wa taala. Dengan kata lain, masjid
merupakan ekspresi

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu
menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (72/18).

Jadi kesimpulan besar dari fungsi masjid itu adalah sebagai lokasi yang dikhususkan untuk
beribadah kepada Allah. Lalu, secara faktual Rasulullah dan generasi setelahnya ternyata
menjadikan masjid bukan sekadar tempat untuk beribadah shalat, namun lebih dari itu.
Karena ibadah seperti dijelaskan oleh Ibn Taymiyyah adalah sebuah sebutan yang mencakup
segala hal yang disukai dan diridlai Allah, baik itu berupa lisan atau tindakan yang lahir atau
pun yang tersembunyi. Perspektif ibadah seperti inilah yang harus ditanamkan oleh kita
semua, sehingga kita semua selalu bersemboyan seperti yang digambarkan oleh Allah:

Katakanlah: Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam. (6/162)

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Selain untuk menggelar shalat secara berjamaah, Rasulullah juga telah menjadikan masjid
sebagai basis talm dan tarbiyyah (pendidikan dan pengajaran). Bagi Rasulullah, masjid
adalah sekolah untuk internalisasi nilai-nilai kebaikan dan kebajikan serta pengetahuan.

Menarik diperhatikan hadits Rasulullah berikut ini:

Dari Ab Ummah, dari Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Siapapun berangkat
menuju masjid dan ia tidak menginginkan kecuali untuk belajar kebaikan atau mengetahui
kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala yang hajinya sempurna. (HR. Ath Thabrn).

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada benang merah kenapa langkah paling pertama yang dilakukan Rasulullah saat tiba di
Madinah adalah masjid, yakni memberikan pesan bahwa sebuah masyarakat hendaknya
dibangun atas landasan iman dan ilmu.

Dalam Islam, iman dan ilmu merupakan dua hal yang saling terkait dan integratif serta tidak
bisa dipisahkan. Dalam pandangan Islam, ilmu/sains/pengetahuan tidak malah menciptakan
ideologi semacam agnostik atau ateistik. Islam memandang bahwa untuk mencapai keimanan
yang benar, haruslah ditempuh melalui proses belajar atau proses mengetahui. Hadirin
yang dimuliakan Allah,
Dari paparan singkat tadi, dapat disimpulkan bahwa peradaban suatu ummat manusia akan
mencapai keemasannya ketika mereka dapat menguasai sains dan ilmu pengetahuan. Sains
dan ilmu pengetahuan yang unggul hanya akan lahir dari rahim pendidikan yang berkualitas.
Perdaban Islam lalu Barat telah membuktikan bagaimana sains dan ilmu pengetahuan telah
mengantarkan kepada masyarakat yang maju dan terdepan. Hanya saja peradaban Ummat
Islam memiliki nilai tambah, yakni dilengkapi juga dengan peradaban spiritual, sehingga
tidak terjadi ketimpangan antara peradaban material dengan peradaban jiwa kerohaniaan.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jadi, kata kunci terbentuknya masyarakat Madan yang beradab dan maju adalah dengan
meningkatkan kualitas pendidikannya

Padahal Rasulullah mengatakan:

Dari Anas bin Mlik berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, Mencari
ilmu itu kewajiban atas setiap Muslim. (HR. Ibnu Mjah)

Akhirnya, marilah kita bergandengan tangan untuk secara bersama-sama menjadikan


pendidikan anak-bangsa ini menuju pendidikan yang berkualitas, sehingga membawa bangsa
Indonesia khususnya, dan ummat Islam pada umumnya menuju masyarakat madan,
masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.

Izzatul_29112013metro