Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kata stroke digunakan sinonim dengan kejang apoplekritik sejak awal
tahun 1599. Apopleksia berasal dari bahasa Yunani, yang berarti pukulan dengan
kekerasan. Hippocrates (460-370 SM) pertama kali menjelaskan kelumpuhan
mendadak (paralisis akut) yang berkaitan dengan stroke (Agoes et al., 2013).
Penyakit ini disebut-sebut sebagai salah satu penyakit yang mematikan
dan menyebabkan kecacatan serius. Secara global, stroke menduduki urutan ke-2
sebagai penyakit mematikan selain jantung dan kanker. Penyebab terjadinya
stroke pun beragam, ada yang dikarenakan pembuluh darah pecah, pembuluh
darah yang tersumbat, dan masih banyak lagi penyebab stroke. Tekanan darah
yang terlalu tinggi atau sering disebut hipertensi juga merupakan salah satu
penyebabnya (Arum, 2015).
Angka kejadian stroke di dunia kira-kira 200 per 100.000 penduduk dalam
setahun. Terdapat kira-kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke yang
mempunyai beberapa kecacatan. Persentase penderita stroke adalah usia 35-44
tahun 0,2%, usia 45-54 tahun 0,7%, usia 55-64 tahun 1,8%, usia 65-74 tahun
2,7%, dan usia 75-85 tahun 10,4%. Di Amerika angka kematian setiap tahun
akibat stroke baru atau rekuren adalah lebih dari 200.000 (Pudiastuti, 2013; Price
& Wilson, 2012).
Di Indonesia stroke menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian
di rumah sakit. Penduduk yang terkena stroke berjumlah 500.000 penduduk, 1/3
dapat pulih kembali, 1/3 terjadi gangguan fungsional ringan sampai sedang dan
1/3 lainnya mengalami gangguan fungsional berat. Insiden stroke secara nasional
diperkirakan adalah 750.000 per tahun atau satu orang setiap 45 menit, dengan
200.000 merupakan stroke rekuren (Pudiastuti, 2011; Price & Wilson, 2012).
2

Menurut survei yayasan stroke Indonesia (Yastroki) (2004), stroke


merupakan pembunuh nomor satu di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.
Menurut Yastroki, terdapat kecendrungan peningkatan jumlah penyandang stroke
dalam 1 dasawarsa terakhir. Selain itu, tren terjadinya stroke pada generasi muda
yang masih produktif semangkin meningkat, dengan dampak berupa penurunan
produktivitas dan masalah dalam kehidupan sosial ekonomi keluarga (Agoes et
al., 2013).
Angka kejadian stroke meningkat seiring pertambahan usia mulai dari
umur 30-an ke atas karena berbagai sebab. Usia lanjut merupakan salah satu
faktor risiko, sekitar 95% kasus stroke terjadi pada mereka yang berumur 45 tahun
atau lebih, dan dua pertiga diantaranya terjadi pada mereka yang berumur 65
tahun atau lebih (Agoes et al., 2013).
Berdasarkan laporan penelitian University of Cambridge, Inggris, yang
dimuat dalam majalah kedokteran ilmu penyakit saraf Neurology, 4 maret 2008
didapatkan bahwa pada 20.000 orang berumur antara 41-80 tahun (rentang waktu
8,5 tahun) diperoleh 595 mengalami stroke dan 167 di antaranya berakhir dengan
kematian. Kelompok stres dengan depresi berisiko 40% lebih tinggi terkena stroke
(Agoes et al., 2013).
Prevalensi penyakit stroke di Indonesia pada kelompok yang didiagnosis
tenaga kesehatan (Nakes) meningkat seiring dengan bertambahnya umur, tertinggi
pada umur diatas 75 tahun sebesar 43,1%. Prevalensi stroke yang terdiagnosis
nakes sama tinggi pada laki-laki dan perempuan (Rikesdas, 2013). Pria memiliki
risiko 1/4 kali lebih banyak menderita stroke dibandingkan perempuan, tetapi
60% kematian akibat stroke terjadi pada wanita. Mungkin karena golongan ini
lebih panjang umurnya, yang menderita stroke juga lebih tua sehingga lebih
banyak yang meninggal (Agoes et al., 2013).
Prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan
pendidikan rendah baik yang didiagnosis nakes (16,5%) maupun diagnosis nakes
atau gejala (32,8%). Prevalensi stroke di kota lebih tinggi dari di desa, baik
berdasarkan diagnosis nakes (8,2%) maupun berdasarkan diagnosis nakes atau
gejala (12,7%). Prevalensi lebih tinggi pada masyarakat yang tidak bekerja baik
3

yang didiagnosis nakes (11,4%) maupun yang didiagnosis nakes atau gejala
(18%) (Rikesdas, 2013).
Sumatera Utara menempati urutan ke-18 dengan prevalensi stroke
berdasarkan diagnosis nakes (6,0%). Prevalensi stroke tertinggi di Sulawesi utara
(10,8%), diikuti DI Yogyakarta (10,3%), Bangka Belitung, DKI Jakarta masing-
masing 9,7 per mil, dan terendah di Papua (2,3%) (Rikesdas, 2013). Berdasarkan
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (2014), provinsi Sumatera
Utara memiliki estimasi jumlah penderita stroke sebanyak 151.080 (16,9%).
Dari hasil penelitian yang dilakukan Miravianti (2005) di Rumah Sakit
Umum Herna Medan 2002-2003, proporsi penderita stroke yang dirawat inap di
rumah sakit tersebut pada tahun 2002 adalah 3,18% dan 3,43% pada tahun 2003
dengan karakteristik laki-laki sebanyak 115 orang (56,9%), dan perempuan
sebanyak 87 orang (43,1%).
Sementara itu, Rumah Sakit Haji Medan pada tahun 2002-2003 memiliki
pasien stroke yang lebih banyak dari pada Rumah Sakit Umum Herna Medan, hal
ini dapat dilihat berdasarkan hasil penelitian Sinaga (2008) yang diperoleh di
Rumah Sakit Haji Medan tahun 2002-2006. Proporsi penderita stroke rawat inap
dari tahun 2002 sebesar 30,55% (173 orang), tahun 2003 sebesar 38,92% (223
orang), tahun 2004 sebesar 40,32% (224 orang), tahun 2005 sebesar 20,76% (162
orang) dan tahun 2006 sebesar 17,44% (160 orang).
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas maka penulis ingin
melakukan penelitian dengan judul Prevalensi dan Karakteristik Pasien Stroke di
Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2014 - Juni 2014.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana prevalensi dan karakteristik pasien stroke di Rumah Sakit Haji
Medan Periode Januari 2014 - Juni 2014.
4

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui prevalensi dan karakteristik pasien stroke di Rumah
Sakit Haji Medan Periode Januari 2014 - Juni 2014.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan usia.
2. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan jenis
kelamin.
3. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan
pendidikan.
4. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan
pekerjaan.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam memperoleh
informasi tentang prevalensi dan karakteristik penderita stroke.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian yang lebih lanjut
mengenai karakteristik penderita stroke dan untuk menambah bahan
bacaan bagi mahasiswa-mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Sumatera Utara.
1.4.3 Bagi Pasien
Sebagai bahan masukan bagi pasien tentang pencegahan stroke.
1.4.4 Bagi Masyarakat
Untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat dalam menjaga kesehatan
dan mengubah pola pikir agar lebih peduli kepada masalah kesehatan.
5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stroke
2.1.1 Definisi
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa kematian sel-sel
saraf neurologik akibat gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak. Secara
spesifik hal itu terjadi karena terhentinya aliran darah ke otak karena sumbatan
atau perdarahan. Gangguan saraf atau kelumpuhan yang terjadi bergantung pada
bagian otak mana yang terkena (Suiraoka, 2015).
Stroke merupakan sebagai sebuah sindrom yang memiliki karakteristik
tanda dan gejala neurologis klinis fokal dan atau global yang berkembang dengan
cepat, adanya gangguan fungsi serebral, dengan gejala yang berlangsung lebih
dari 24 jam atau menimbulkan kematian tanpa terdapat penyebab selain yang
berasal dari vaskular (Tanto et al., 2014).
Menurut World Health Organization (WHO) stroke adalah gejala-gejala
defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak
dan bukan oleh yang lain dari itu (Pudiastuti, 2013). Istilah stroke atau penyakit
serebrovaskular mengacu kepada setiap gangguan neurologik mendadak yang
terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri
otak. Istilah stroke biasanya digunakan secara spesifik untuk menjelaskan infark
serebrum. Istilah yang lebih lama dan masih sering digunakan adalah
Cerebrovascular Accident (CVA) (Price& Wilson, 2012).

2.1.2 Epidemiologi Stroke


Kasus stroke di Indonesia menunjukkan peningkatan, baik dalam kejadian,
kecacatan, maupun kematian. Insidens stroke sebesar 51,6/100.000 penduduk.
Sekitar 4,3% penderita stroke mengalami kecacatan yang memberat. Angka
kematian berkisar antara 15 27 % pada semua kelompok usia. Stroke lebih
6

banyak dialami laki-laki dibandingkan perempuan. Jumlah penderita stroke


meningkat seiring dengan bertambahnya usia (Tanto et al., 2014).
Anggota keluarga dapat memiliki predisposisi genetik untuk stroke. Jika
pernah mendapat stroke, kemungkinan terjadinya serangan ulangan semangkin
besar. Pengulangan serangan lebih sering terjadi pada tahun pertama serangan dan
semakin berkurang pada tahun-tahun selanjutnya (Agoes et al., 2013).
Menurut National Rural Health Association (2001) dalam Price & Wilson
(2012), di Amerika Serikat perempuan membentuk lebih dari separuh kasus stroke
yang meninggal, lebih dari dua kali dari jumlah perempuan yang meninggal akibat
kanker payudara. Sekitar 43% kasus stroke pertahun terjadi pada perempuan dan
menyebabkan 62% kematian.

2.1.3 Klasifikasi
Secara umum, stroke dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu stroke
iskemik yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah dan stroke
hemoragik, stroke yang disebabkan oleh pendarahan (Sunaryati, 2014).
1. Stroke hemoragik adalah stroke karena pecahnya pembuluh darah sehingga
menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke dalam suatu
daerah otak dan merusaknya. Hampir 70% kasus stroke hemoragik diderita
oleh penderita hipertensi. Stroke hemoragik ada 2 jenis, yaitu:
a. Hemoragik intraserebral: pendarahan yang terjadi didalam jaringan otak.
b. Hemoragik subaraknoid: pendarahan yang terjadi pada ruang
subaraknoid (ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan
yang menutupi otak) (Pudiastuti, 2011).
Menurut Smeltzer (2001) dalam Pudiastuti (2011) stroke hemoragik
disebabkan oleh:
1) Iskemia
Merupakan penurunan aliran darah ke otak.
2) Trombosit
Merupakan penyebab stroke paling utama, umumnya karena
arterosklerosis, hipertensi juga merupakan suatu faktor dasar yang penting,
7

trombus mengakibatkan oklusi lumen arteri dan menurunkan perfusi yang


kemudian dapat menyebabkan iskemia dan infark.
3) Embolisme Cerebral
Bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh
yang lain.
4) Hemoragik Cerebral.
2. Stroke iskemik: terjadi karena tersumbatnya pembuluh darah yang
menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti. Hal ini
disebabkan oleh aterosklerosis yaitu penumpukan kolesterol pada dinding
pembuluh darah atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh
darah ke otak.
Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83 mengalami stroke jenis ini.
Penyumbatan bisa terjadi disepanjang jalur pembuluh darah arteri menuju
otak (Pudiastuti, 2013).
Stroke iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Stroke trombotik: proses terbentuknya trombus hingga menjadi
gumpalan.
b. Stroke embolik: tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
c. Hipoperfusion sistemik: aliran darah keseluruh bagian tubuh berkurang
karena adanya gangguan denyut jantung (Pudiastuti, 2013).
Selain dua jenis stroke di atas, menurut Ramadhan (2009) dalam Sunaryati
(2014) ada beberapa jenis stroke yang merupakan bagian keduanya, yaitu:
1. Thrombotic Stroke
Stroke ini terjadi apabila terdapat pembekuan (thrombus) yang terbentuk di
dalam arteri dan menghambat aliran darah ke otak.
2. Embolic Stroke
Stroke ini terjadi apabila ada benda-benda asing (pembekuan darah atau
plaque) yang terbentuk dalam pembuluh darah. Jika pembuluh darah pecah,
maka benda-benda asing itu mengalir ke pembuluh darah otak sehingga
akhirnya menyumbat arteri otak.
8

3. Lacubar Stroke
Stroke ini terjadi karena sumbatan pada beberapa pembuluh darah kecil di
otak.
4. Cerebral Hemorragic
Stroke ini terjadi apabila arteri di otak pecah sehingga sel darah pun keluar
dari pembuluh darah. Karena terjadi tiba-tiba, stroke jenis ini tidak memiliki
gejala awal. Tekanan darah tinggi atau hipertensi dan kelainan pembawaan
pada pembuluh darah merupakan penyebab utama serangan ini.
5. TIA (Transient Ischemic Attack)
Stroke ringan ini berupa serangan iskemik sepintas.
6. RIND (Reversible Ischemic Neurologic Deficit)
Stroke ini adalah jenis stroke ringan berupa gangguan saraf oleh iskemik
yang dapat pulih dan sembuh sempurna dalam waktu 24 jam.
7. Stroke Nonhemorrhagic (stroke tanpa pendarahan)
Jenis ini merupakan stroke infark ischemic, terjadi karena aliran darah
berkurang atau terhenti pada sebagian daerah otak. Jika stroke tersebut
menyerang, biasanya penderita masih sadar.
8. Stroke Hemorrhagic (stroke dengan pendarahan)
Stroke tersebut adalah stroke ringan yang terjadi karena pendarahan akibat
robeknya dinding pembuluh darah di otak. Ketika terjadi serangan, kesadaran
penderita biasanya menurun.

2.1.4 Gejala
Ada beberapa tanda dan gejala timbulnya stroke menurut Sunaryati (2014)
yaitu:
1. Gejala Sementara
a. Sakit kepala secara tiba-tiba, pusing, bingung.
b. Penglihatan kabur atau kehilangan ketajaman penglihatan pada satu atau
kedua mata.
c. Kehilangan keseimbangan (limbung), lemah.
d. Rasa kebal atau kesemutan pada sisi tubuh.
9

2. Gejala Ringan
a. Mengalami beberapa atau semua gejala stroke sementara.
b. Kelemahan/ kelumpuhan tangan/ kaki.
c. Bicara tidak jelas.
3. Gejala berat
a. Mengalami beberapa atau semua gejala stroke sementara dan ringan.
b. Koma jangka pendek (kehilangan kesadaran)
c. Kelemahan/ kelumpuhan tangan/ kaki
d. Bicara tidak jelas/ hilangnya kemampuan bicara
e. Sukar menelan
f. Kehilangan kontrol terhadap pengeluaran air seni dan feses
g. Kehilangan daya ingat dan konsentrasi
h. Terjadinya perubahan perilaku misalnya: bicara tidak menentu, mudah
marah, tingkah laku seperti anak kecil, dan sebagainya.

Dari data diatas, gejala stroke yang paling terlihat secara jelas yaitu adanya
gangguan motorik. Walaupun kadangkala ditemukan stroke tanpa gangguan
motorik ini (Arum, 2015).

2.1.5 Faktor Risiko


Dalam memberikan penjelasan mengenai faktor risiko stroke ini,
Ramadhan (2009) dalam Sunaryati (2014) mengatakan bahwa terdapat faktor
yang penting untuk kita pahami yaitu faktor mayor dan minor. Faktor risiko
mayor (faktor dominan) biasanya merupakan penyakit dan gangguan lain yang
sudah bersarang di tubuh penderita stroke, yaitu:
1. Hipertensi
2. Penyakit jantung
3. Aterosklerosis, gangguan pembuluh darah koroner, gangguan pembuluh
darah karotis, klaudikasio intermeten (nyeri yang hilang timbul-timbul), dan
denyut nadi perifer tidak ada.
4. Diabetes mellitus
10

5. Polisitemia
6. Pernah terserang stroke
7. Hiperlipidemia (kadar lemak dalam darah berlebihan)
8. Tingginya jumlah sel darah merah
9. Penyakit pada katup jantung atau otot jantung (endocarditic)
10. Ketidak normalan irama jantung (Sunaryati, 2014).

Faktor risiko minor stroke biasanya terjadi karena gaya hidup dan pola
makan antara lain :
1. Kadar lemak darah tinggi
2. Hematokrit tinggi
3. Merokok
4. Kegemukan
5. Kadar asam urat tinggi
6. Kurang olahraga
7. Kadar fibrinogen tinggi
8. Penyalahgunaan obat-obatan (Sunaryati, 2014).

Suiraoka (2015) juga membagi faktor risiko stroke ini dalam 2 bagian,
yaitu faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan dan faktor risiko yang dapat
dikendalikan.
1. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan
a. Umur
Risiko stroke meningkat seiring pertambahan usia. Setelah umur
memasuki 55 tahun ke atas, risiko stroke meningkat dua kali lipat setiap
kurun waktu 10 tahun. Namun bukan berarti stroke hanya terjadi pada
kelompok usia lanjut melainkan stroke juga dapat menyerang kelompok
berbagai umur.
b. Jenis kelamin
Pria memiliki risiko terkena stroke lebih besar dari pada wanita. Risiko
stroke pada pria lebih tinggi 20 persen daripada wanita. Namun setelah
11

seorang perempuan menginjak usia 55 tahun, saat kadar estrogennya


menurun karena menopause, risikonya justru lebih tinggi dibandingkan
pria.
c. Garis keturunan
Risiko stroke lebih tinggi jika dalam keluarga terdapat riwayat keluarga
penderita stroke. Perlu diwaspadai apabila ada anggota keluarga
(orangtua dan saudara) yang mengalami stroke atau serangan transien
iskemik.
d. Ras atau etnik
Berdasarkan data American Heart Association(AHA), ras Afrika
Amerika memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke dibandingkan dengan
ras kaukasia.
e. Diabetes
Penderita diabetes mempunyai risiko 2 kali lebih besar mengalami
stroke, hal ini dapat terjadi akibat gangguan metabolisme pada para
penderita diabetes.
f. Arterosklerosis
Kondisi dimana terjadi penyumbatan dinding pembuluh darah dengan
lemak, kolesterol ataupun kalsium.
g. Penyakit jantung
Orang dengan penyakit jantung mempunyai risiko dua kali lipat terkena
stroke dibandingkan orang berjantung sehat.

2. Faktor risiko yang dapat dikendalikan


a. Obesitas
Risiko stroke akan meningkat pada orang dengan Indeks Massa Tubuh
(IMT) lebih dari 30 kg/m2 (obesitas).
b. Kurang aktifitas fisik dan olahraga
Efeknya adalah meningkatkan risiko hipertensi, rendahnya kadar High
Density Lipoprotein (HDL) dan diabetes. Berolahraga yang dilakukan
secara rutin 30-40 menit per hari dapat mengurangi risiko tersebut.
12

c. Merokok
Peluang terjadinya stroke pada orang yang mempunyai kebiasaan
merokok 50 persen lebih tinggi dari pada yang bukan perokok.
d. Mengkonsumsi alkohol dan penggunaan obat-obatan
Risiko stroke iskemik akan meningkat dalam dua jam setelah
mengkonsumsi minuman beralkohol. Penggunaan obat-obatan terlarang
seperti halnya kokain juga dapat menyebabkan stroke dan serangan
jantung.
e. Tekanan darah tinggi (Hipertensi)
Hampir sekitar 40% kejadian stroke disebabkan atau dialami oleh
penderita hipertensi.
f. Tingkat kolesterol darah yang berbahaya
Kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) yang tinggi akan
meningkatkan risiko terjadinya pergeseran pembuluh nadi
(arterosklerosis), karena kolesterol cenderung menumpuk pada dinding
pembuluh darah dan membentuk plak.
g. Sleep apne (mendengkur disertai berhenti bernafas selama 10 detik).
Penderita sleep apnea beresiko mengalami hipertensi dan kekurangan
suplai oksigen dalam darahnya yang dapat menyebabkan stroke
(Suiraoka, 2015)

2.1.6 Patofisiologi
Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi arteri di otak, yang dapat
disebabkan trombosis maupun emboli. Trombosis merupakan obstruksi aliran
darah akibat penyempitan lumen pembuluh darah atau sumbatan. Penyebab
tersering adalah aterosklerosis. Gejala biasanya memberat secara bertahap.
Emboli disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah dari tempat yang lebih
proksimal. Emboli bukan biasanya bersumber dari jantung atau arteri besar,
seperti aorta, arteri karotis, atau arteri vertebralis, gejalanya biasanya langsung
memberat atau hanya sesaat kemudian menghilang lagi seketika saat emboli
terlepas kearah distal, seperti pada TIA (Tanto et al., 2014).
13

Stroke hemoragik disebabkan oleh ruptur arteri, baik intraserebral maupun


subrarakhnoid. Pendarahan intraserebral merupakan penyebab tersering, dimana
dinding pembuluh darah kecil yang sudah rusak akibat hipertensi kronik srobek.
Hematoma yang terbentuk akan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial
(TIK). Perdarahan subrarakhnoid disebabkan oleh pecahnya aneurisma atau
malformasi arteri vena yang perdarahannya masuk ke rongga subrarakhnoid,
sehingga menyebabkan cairan serebrospinal (CSS) terisi oleh darah. Darah
didalam CSS akan menyebabkan vasospasme sehingga menimbulkan gejala sakit
kepala hebat yang mendadak (Tanto et al., 2014).

2.1.7 Diagnosis
Kemungkinan penyebab stroke seperti hipertensi, diabetes, kadar
kolesterol yang tinggi, kebiasaan merokok atau riwayat penyakit jantung dalam
keluarga, perlu diselidiki (Agoes et al., 2013).
Menurut Tanto et al (2014), diagnosa stroke ditegakkan melalui
anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis
a) Gejala yang mendadak pada saat awal, lamanya awitan, dan aktivitas saat
serangan.
b) Deskripsi gejala yang muncul beserta kelanjutannya, progresif memberat,
perbaikan, atau menetap.
c) Gejala penyerta: penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual, muntah, rasa
berputar, kejang, gangguan penglihatan, atau gangguan fungsi kognitif.
d) Ada tidaknya faktor resiko stroke.
2. Pemeriksaan Fisis
a) Tanda vital
b) Pemeriksaan kepala dan leher (mencari cedera kepala akibat jatuh, bruit
karotis, peningkatan tekanan vena jugularis, dan lain-lain).
c) Pemeriksaan fisis umum
d) Pemeriksaan neurologis, meliputi:
- Pemeriksaan kesadaran
14

- Pemeriksaan nervus kranialis


- Pemeriksaan kaku kuduk (biasanya positif pada perdarahan
subrarakhnoid)
- Pemeriksaan motorik, refleks, dan sensorik
- Pemeriksaan fungsi kognitif sederhana berupa ada tidaknya afasia
atau dengan pemeriksaan mini mental state examination (MMSE)
saat diruangan.
3. Pemeriksaan penunjang
a) Elektrokardiografi
b) Laboratorium (kimia darah, fungsi ginjal, hematologi, hemostasis, gula
darah, urinalisis, analisis gas darah, dan elektrolit).
c) Foto toraks: untuk melihat adanya gambaran kardiomegali sebagai
penanda adanya hipertensi untuk faktor resiko stroke.
d) Computed Tomography (Ct scan)/ Imaging Resonance Magnetik (MRI).
e) Transcranial dopler (TCD) dan dopler karotis, antara lain untuk melihat
adanya penyumbatan dan patensi dinding pembuluh darah sebagai resiko
stroke.
f) Analisis cairan serebrospinal jika diperlukan.

2.1.8 Penatalaksanaan
Stroke merupakan sebuah kegawatdaruratan. Tujuan tatalaksana adalah
memastikan kesetabilan pasien dan mencegah/ membatasi kematian neuron
(Tanto et al., 2014).
1. Stroke iskemik
a. Tata laksana hipertensi
b. Tata laksana hipoglikemia dan hiperglikemia
c. Trombosis pada stroke akut
Recombinant Tissue Plasminogen Activator (rTPA) dengan dosis 0,9
mg/KgBB maksimal 90 mg direkomendasikan pada pasien dengan
presentasi stroke antara 3-4,5 jam. Kontra- indikanya: pasien berusia >80
15

tahun, konsumsi antikoagulan oral (berapapun nilai International


Normalized ratio (INR)),
pasien dengan bukti jejas iskemik lebih dari 1/3 area arteri serebri media,
dan pasien dengan riwayat stroke dan diabetes mellitus.
d. Antitrombosit
Aspirin dengan dosis awal 325 mg dalam 24-48 jam setelah awitan
stroke. Pada pasien yang alergi terhadap aspirin atau telah mengkonsumsi
aspirin secara teratur, berikan klopidogrel 75 mg/hari.
e. Obat neuroprotektor sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang
efektif. Akan tetapi, citicolin sampai saat ini masih memberikan manfaat
pada stroke akut. Dosis awal 2x1000 mg intravena selama 3 hari
dilanjutkan 2x1000 mg per oral(PO) selama 3 minggu (Tanto et al,
2014).

2. Stroke hemoragik
1) Diagnosis dan penilaian gawat darurat
a. CT scan dan MRI untuk membedakan stroke iskemik dengan
perdarahan.
b. Apabila dicurigai terdapat lesi struktural seperti malformasi vaskular
dan tumor dapat dilakukan pemeriksaan angiografi CT, venografi
CT, CT dengan kontras, atau MRI dengan kontras, MRA (Magnetik
Resonance Angiography), dan MRV (Magnetik Resonance
Venography).
2) Tatalaksana medis perdarahan intrakranial, meliputi:
a. Penggantian faktor koagulasi dan trombosit jika pasioen mengalami
defisiensi. Apabila terdapat gangguan koagulasi dapat diberikan:
- Vit K 10 mg intravena pada pasien dengan INR meningkat
- Plasma segar beku (fresh frozen plasma) 2-6 unit
b. Pencegahan tromboemboli vena dengan stoking elastis
c. Heparin subkutan dapat diberikan apabila perdarahan telah berhenti
(harus terdokumentasi) sebagai pencegahan tromboemboli vena.
16

3) Kontrol tekanan darah dan kadar glukosa darah.


4) Pemberian antiepilepsi apabila terdapat kejang.
5) Prosedur/ operasi
a. Indikasi operasi evakuasi bekuan darah secepatnya
b. Perdarahan serebelum dengan perburukan neurologis
c. Adanya kompresi batang otak
d. Hidrosefalus akibat obstruksi ventrikel
Pada pasien dengan bekuan darah di lobus dengan jumlah >30ml dan
terdapat di 1 cm dari permukaan dapat dikerjakan kontraniotomi standar
untuk mengevakuasi perdarahan intrakranial supratentorial. Drainase
ventrikuler sebagai tata laksana hidrose falus dapat dipertimbangkan
pada pasien dengan penurunan kesadaran (Tanto et al., 2014).

2.1.9 Komplikasi
Pasien stroke berisiko tinggi mengalami komplikasi medis serius yang
disebabkan oleh aterosklerosis (iskemia/infark miokard), tirah baring yang lama
dan mobilitas rendah (ulkus dekubitus, DVT (Deep Vein Thrombosis), emboli
paru, depresi, malnutrisi), dan akibat langsung stroke itu sendiri (peningkatan
tekanan intrakranial, kejang, ulkus saluran cerna yang diinduksi stress, masalah
berkemih, pneumonia aspirasi). Komplikasi perdarahan utama dapat juga terjadi
pada penggunaan antikoagulan dan trombolitik (Goldszmidt & Caplan, 2011)
Menurut Laila & Henderson (2002) dalam Pudiastuti (2013) pada stroke
berbaring lama dapat menyebabkan masalah emosional dan fisik, diantaranya:
1. Bekuan Darah
Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkakan selain itu juga menyebabkan embolisme paru yaitu sebuah
bekuan yang terbentuk dalam satu arteri yang mengalirkan darah ke paru.
2. Dekubitus
Bagian yang biasa mengalami memar adalah pinggul, pantat, sendi kaki dan
tumit bila memar ini tidak bisa dirawat bisa menjadi infeksi.
17

3. Pneumonia
Pasien stroke tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini
menyebabkan cairan berkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan
pneumonia.
4. Atrofi dan kekakuan sendi
Hal ini disebabkan karena kurang gerak dan mobilisasi.

Komplikasi lain dari stroke adalah:


1. Disritmia
2. Peningkatan tekanan intra cranial
3. Kontraktur
4. Gagal nafas
5. Kematian (Pudiastuti, 2011)

2.1.10 Prognosis
Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 750.000 penduduk yang terkena
stroke pertahun. Dari jumlah tersebut, sepertiganya dapat pulih kembali, sepertiga
lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga
sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan pasien
berbaring terus menerus di tempat tidur. Sekitar 25% pasien yang mengalami
stroke akan mengalami serangan stroke berikutnya dalam 5 tahun yang akan
datang (Agoes et al., 2013).
18

2.2 Kerangka Konsep


Berdasarkan tujuan penelitian dan tinjauan pustaka diatas maka kerangka
konsep dalam penelitian ini adalah:

Prevalensi

Karakteristik:
Stoke
1. Usia Pasien
2. Jenis Kelamin
3. Pendidikan
4. Pekerjaan

Pekerjaan
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Prevalensi dan Karakteristik pasien stroke.
19

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk
mengetahui prevalensi dan karakteristik pasien stroke di Rumah Sakit Haji
Medan. Metode deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan untuk
mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang ada di masyarakat
(Sastroasmoro & Ismael, 2013). Desain penelitian yang akan digunakan adalah
survei morbiditas (Morbidity survey), yaitu suatu survei deskriptif yang bertujuan
untuk mengetahui kejadian dan distribusi penyakit dalam masyarakat atau
populasi. Survei ini dapat sekaligus digunakan untuk mengetahui incidence atau
kejadian suatu penyakit maupun prevalensi (prevalence) (Notoatmodjo, 2012).

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai pada bulan Oktober 2015, hingga jumlah
sampel terpenuhi dan mencatat data rekam medis prevalensi dan karakteristik
pasien stroke di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2014 - Juni 2014.

3.2.2 Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dibagian rekam medis Rumah Sakit Haji
Medan. Rumah sakit ini merupakan Rumah Sakit Umum Swasta Islam kelas B
yang memiliki luas tanah 62.348 m2 dan luas bangunan 13.837 m2. Rumah sakit
ini terletak di JL. RS. Haji Medan Estate kabupaten Deli Serdang.
20

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah data semua penderita stroke baik
rawat inap maupun rawat jalan di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2014
sampai Juni 2014 yang berjumlah 140 penderita stroke.

3.3.2 Sampel Penelitian


Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan metode
total sampling. Sampel pada penelitian ini adalah semua data penderita stroke di
Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2014 sampai Juni 2014 yang
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi yang sudah ditetapkan.

Adapun kriteria inklusi dan ekslusi pada penelitian ini.


Kriteria inklusi:
1. Semua rekam medis pasien stroke periode Januari 2014 Juni
2014 yang memuat seluruh data yang dibutuhkan peneliti seperti
umur, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.
Kriteria eksklusi:
1. Seluruh rekam medis pasien stroke diluar periode Januari 2014
sampai Juni 2014.
2. Seluruh data rekam medis pasien yang bukan pasien stroke.

3.4 Definisi Operasional


3.4.1 Prevalensi adalah jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada
suatu waktu tertentu di suatu wilayah.
3.4.2 Rekam Medis adalah keterangan baik yang tertulis maupun yang terekam
tentang identitas, anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium diagnosis,
segala pelayanan dan tindakan medis yang diberikan kepada pasien dan
pengobatan baik yang dirawat inap, rawat jalan, ataupun yang
mendapatkan pelayanan gawat darurat.
21

3.4.3 Penderita stroke adalah paien yang berdasarkan diagnosa dokter


dinyatakan menderita stroke dan telah dirawat inap sesuai dengan yang
tercatat pada kartu status.
3.4.4 Usia adalah umur penderita stroke sesuai yang tercatat pada kartu status,
yaitu:
1. <45 tahun
2. 45-64 tahun
3. 65 tahun
3.4.5 Jenis kelamin adalah ciri khas tertentu yang dimiliki penderita stroke yang
dibedakan atas laki-laki dan perempuan seperti yang tercatat pada kartu
status, yaitu:
1. Laki-laki
2. Perempuan
3.4.6 Pendidikan adalah pendidikan formal yang ditamatkan oleh penderita
stroke seperti yang tercatat pada kartu status, yaitu:
1. Pendidikan Tingkat Rendah (Tidak sekolah sampai SMP sederajat)
2. Pendidikan Tingkat Menengah (SMA sederajat)
3. Pendidikan Tingkat Tinggi (Akademi/perguruan tinggi)
3.4.7 Pekerjaan adalah aktivitas utama penderita stroke seperti yang tercatat di
kartu status, yaitu:
1. PNS/ABRI/POLRI
2. Pegawai Swasta
3. Wiraswasta
4. Pensiunan
5. Ibu Rumah Tangga
6. Lain-lain (Petani dan Buruh)

3.5 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data (Notoatmodjo, 2012). Dalam penelitian ini instrument yang
22

digunakan adalah data rekam medis pasien stroke dari bulan Januari 2014 sampai
bulan Juni 2014.

3.6 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari rekam medis pasien
stroke di Rumah Sakit Haji Medan dari bulan Januari 2014 sampai bulan
Juni 2014. Data rekam medis yang dikumpulkan meliputi: usia, jenis
kelamin, pendidikan, dan pekerjaan.

3.7 Pengolahan Data

Data data yang telah dikumpulkan akan diolah dengan bantuan computer
dengan langkah langkah sebagai berikut :
a. Coding
Memberi kode terhadap variabel variabel yang diperoleh sebelum
pengolahan selanjutnya.
b. Editing
Melakukan pengecekan ulang terhadap data yang sudah diperoleh
apakah sudah lengkap dan sesuai dengan yang diharapkan dan apakah
masih terdapat kekurangan yang mungkin akan menyulitkan dalam
pengolahan.
c. Entry
Kegiatan memasukkan data data yang telah diperoleh ke dalam
komputer dengan program yang sesuai.
d. Cleaning
Pembersihan data dilakukan untuk melihat kesalahan yang masih
terjadi.
23

3.8 Analisa Data


Untuk mendapatkan hasil yang akurat, dibutuhkan pengolahan dan analisis
data secara cepat. Pada penelitian ini, data yang telah dikumpulkan, dimasukkan
ke dalam komputer kemudian di analisis secara deskriptif dengan menggunakan
program SPSS (Statistical Product and Service Solutions).
24

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian


4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi pada penelitian ini berada di Rumah Sakit Umum Haji Medan yang
bertempat di Jln. RS Haji Medan Estate, Kec. Percut Sei Tuan Kab. Deli Serdang
Sumatera Utara. RSU Haji Medan adalah Rumah Sakit Negeri kelas B. Rumah
sakit ini memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas.
Rumah sakit ini juga menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten.
Tempat ini tersedia 223 tempat tidur rawat inap dengan dokter sebanyak 131
dokter.

4.1.2 Hasil Analisa Deskriptif


Analisa dilakukan untuk menggambarkan dan mendeskripsikan masing-
masing variabel penelitian. Oleh karena itu variabel penelitian diukur dalam
bentuk ordinal dan hasilnya berupa tabel distribusi frekuensi.

1. Usia
Karakteristik yang diteliti pertama adalah berdasarkan usia.

Tabel 4.1 Distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan usia

No Umur (Tahun) Frekuensi %


1. < 45 7 5
2. 45-64 91 65
3. 65 42 30
Total 140 100
25

Berdasarkan tabel 4.1. dapat dilihat bahwa proporsi penderita stroke


tertinggi pada kelompok umur 45-64 tahun yaitu 65% (91 orang), kemudian
diikuti kelompok umur 65 tahun 30% (42 orang) dan terendah pada kelompok
umur < 45 tahun 5% (7 orang).

2. Jenis Kelamin
Karakteristik yang diteliti kedua adalah berdasarkan jenis kelamin.

Tabel 4.2 Distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan jenis kelamin


No Jenis Kelamin Frekuensi %
1. Laki-laki 66 47
2. Perempuan 74 53
Total 140 100

Berdasarkan tabel 4.2. dapat dilihat bahwa proporsi penderita stroke


berdasarkan jenis kelamin tertinggi adalah perempuan yaitu 53% (74 orang) dan
laki-laki 47% (66 orang).

3. Pendidikan
Karakteristik yang diteliti ketiga adalah berdasarkan pendidikan.

Tabel 4.3 Distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan pendidikan.


No Pendidikan Frekuensi %
1. Pendidikan Tingkat Rendah 55 39
2. Pendidikan Tingkat Menengah 53 38
3. Pendidikan Tingkat Tinggi 32 23
Total 140 100
26

Berdasarkan tabel 4.3. dapat dilihat bahwa proporsi penderita stroke


berdasarkan pendidikan tertinggi adalah pendidikan tingkat rendah yaitu 39% (55
orang), diikuti pendidikan tingkat menengah 38% (53 orang), dan terendah
pendidikan tingkat tinggi 23% (32 orang).

4. Pekerjaan
Karakteristik yang diteliti keempat adalah berdasarkan pekerjaan.

Tabel 4.3 Distribusi proporsi penderita stroke berdasarkan pekerjaan.


No Pekerjaan Frekuensi %
1. PNS/ABRI/POLRI 19 14
2. Pegawai Swasta 4 3
3. Wiraswasta 33 23
4. Pensiunan 16 11
5. Ibu Rumah Tangga 56 40
6. Lain-lain (Petani dan Buruh) 12 9
Total 140 100

Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat bahwa proporsi penderita stroke


berdasarkan pekerjaan tertinggi adalah ibu rumah tangga yaitu 40% (56 orang),
diikuti oleh wiraswasta 23% (33 orang), PNS/ABRI/POLRI 14% (19 orang),
pensiunan 11% (16 orang), lain-lain (petani dan buruh) 9% (12 orang), dan
terendah pada pekerjaan pegawai swasta 3% (4 orang).

4.2 Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan data
sekunder rekam medis di Rumah Sakit Haji Medan periode Januari 2014 - Juni
2014, diperoleh data mengenai prevalensi dan karakteristik pasien stroke.
Pada tabel 4.1 diketahui bahwa mayoritas penderita stroke adalah
kelompok umur 45-64 tahun yaitu sebanyak 65% (91 orang), kemudian diikuti
kelompok umur 65 tahun 30% (42 orang) dan terendah pada kelompok umur
27

<45 tahun 5% (7 orang). Bertambahnya usia menyebabkan terjadinya kemunduran


pada organ manusia yang terjadi secara alamiah. Salah satunya adalah perubahan
struktur anatomis pada pembuluh darah yang merupakan penyebab terjadinya
hipertensi pada usia lanjut sehingga memungkinkan seseorang untuk terkena
stroke (Agoes et al., 2013).
Menurut pernyataan Feigin (2006) dalam Sinaga (2008), bahwa resiko
terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Hal ini terjadi karena pada usia 45
tahun keatas banyak orang yang menderita hipertensi yang merupakan faktor
resiko utama terjadi stroke.
Disamping itu, stroke merupakan penyakit sistem saraf yang dapat
mengakibatkan cacat tubuh yang dapat berlangsung kronis dan dapat terjadi pada
orang-orang berusia lanjut serta pada orang-orang berusia pertengahan yaitu
antara 40-50 tahun, dimana pada usia ini orang berada dalam keadaan aktif dan
produktif (Pudiastuti, 2013).
Hal ini sesuai dengan penelitian Miravianti (2005) di Rumah Sakit Herna
Medan yang memperoleh proporsi tertinggi penderita stroke berada pada
kelompok umur 45-65 tahun sebesar 56,4%
Dari tabel 4.2 didapatkan bahwa mayoritas penderita stroke adalah
perempuan yaitu sebanyak 53% (74 orang) diikuti laki-laki 47% (66 orang). Hal
ini berlawanan dengan teori Agoes (2013) yang menyebutkan bahwa pria
berkemungkinan satu seperempat kali lebih banyak menderita stroke dibanding
perempuan.
Namun jika dicermati lebih mendalam, tingginya kejadian stroke pada
wanita disebabkan oleh karena pada penelitian ini kelompok umur tertinggi 45-64
tahun diamana pada usia tersebut kadar estrogen wanita menurun karena
menopause. Hal ini sesuai dengan teori IP. Suiraoka (2015) pria memiliki resiko
terkena stroke lebih besar dari pada wanita. Resiko stroke pada pria lebih tinggi
20 persen daripada wanita. Namun setelah seorang perempuan menginjak usia
>45 tahun, saat kadar estrogennya menurun karena menopause, resikonya justru
lebih tinggi dibandingkan pria.
28

Dari tabel 4.3 didapatkan bahwa mayoritas penderita stroke adalah


masyarakat dengan pendidikan tingkat rendah (tidak sekolah sampai SMP
sederajat) yaitu 39% (55 orang) dan terendah pendidikan tingkat tinggi 23% (32
orang). Hal ini sesuai riset kesehatan dasar (Rikesdas) (2013) yang menyebutkan
bahwa prevalensi stroke cenderung lebih tinggi pada masyarakat dengan
pendidikan rendah baik yang didiagnosis nakes (16,5) maupun diagnosis nakes
atau gejala (32,8).
Hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar pengunjung Rumah Sakit
Haji Medan adalah pendidikan tingkat rendah sehingga proporsinya lebih tinggi
dibandingkan tingkat pendidikan lainnya. Selain itu, peran tingkat pendidikan
formal secara tidak langsung berhubungan terhadap upaya-upaya pengenalan
penyakit , dampak yang ditimbulkan dan penanganannya (Sinaga, 2008)
Dari tabel 4.4 didapatkan bahwa mayoritas penderita stroke adalah bekerja
sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 40% (56 orang) dan terendah bekerja
sebagai pegawai swasta dengan proporsi 3% (4 orang).
Berdasarkan jenis kelamin, perempuan lebih banyak daripada laki-laki
sehingga peluang pekerjaan ibu rumah tangga lebih besar dibandingkan pekerjaan
yang lainnya. Menurut Feigin (2006) dalam Sinaga (2008), hal ini juga dapat
disebabkan karena ibu rumah tangga pada umumnya cenderung mengalami
obesitas dimana obesitas berhubungan dengan hipertensi, diabetes melitus,
kolesterol dan penyakit jantung yang dapat mengakibatkan terjadinya stroke.
Selain itu, ibu rumah tangga juga cenderung mengkonsumsi kontrasepsi oral
dimana pil yang mengandung gabungan antara estrogen dan progesteron, dapat
meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan darah mudah membentuk
bekuan/gumpalan sehingga meningkatkan risiko untuk terkena stroke.
Penelitian Miravianti (2005) di Rumah Sakit Umum Herna Medan juga
memperoleh proporsi penderita stroke terbesar adalah ibu rumah tangga sebesar
28,7%. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Sinaga (2008) di Rumah Sakit Haji
Medan yang memperoleh proporsi terbesar penderita stroke adalah ibu rumah
tangga sebesar 32,7%.
29

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dibagian rekam medik
Rumah Sakit Umum Haji Medan dari bulan Januari Juni 2014 diperoleh data
mengenai prevalensi dan karakteristik penderita stroke terbanyak adalah pada
kelompok usia 45-64 tahun sebanyak 65% (91 orang) dan jenis kelamin
perempuan yaitu 53% (74 orang), dengan pendidikan terbanyak adalah pendidikan
tingkat rendah (Tidak sekolah sampai SMP sederajat) sebanyak 39% (55 orang),
dan berdasarkan pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 46% (56
orang) penderita.

5.2 Saran
1. Bagi penderita hipertensi dengan umur 45-64 tahun, untuk selalu melakukan
kontrol secara rutin dan menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah
terjadinya stroke.
2. Penderita stroke sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit jika ada kelainan yang
mendadak.
3. Kepada bagian Rekam Medik Rumah Sakit Haji Medan agar melengkapi
pencatatan data penderita pada kartu status seperti pendidikan dan pekerjaan.
30

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, A., Agoes, A., and Agoes, A., 2013. Penyakit di Usia Tua. Jakarta: EGC.

Arum, S.P., 2015. Stroke Kenali Cegah dan Obati. Yogyakarta: Notebook.

Goldszmidt, A.J., Caplan, L.R., 2011. Esensial Stroke. Jakarta: EGC.

Miravianti., 2005. Karakteristik Penderita Stroke yang Dirawat Inap di Rumah


Sakit Umum Herna.Medan Tahun 2002-2003. Skripsi FKM-USU,
Medan.

Notoatmodjo, S., 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Price, S.A., Wilson, L.M., 2012. Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Pudiastuti, R.D., 2011. Penyakit Pemicu Stroke. Yogyakarta: Nuha Medika.

Pudiastuti, R.D., 2013. Penyakit-penyakit Mematikan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2014. Situasi Kesehatan
Jantung 2014. Avalaible from:

http://www.depkes.go.id/download.php?file=download%2Fpusdatin%2Finfod
atin%2Finfodatin-jantung.pdf [Accessed on 7 Septrmber 2015].

Riset Kesehatan Dasar, 2013. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI.Avalaible from:

http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesd
as%202013.pdf [Accessed on 7 September 2015].

Sastroasmoro, S., Ismael, S., 2013. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.


Edisi IV. Jakarta: Sagung Seto.

Sinaga, S.A., 2008. Karakteristik Penderita Stroke Rawat Inap di Rumah Sakit
Haji Medan Tahun 2002-2006. Skripsi FKM-USU, Medan.
31

Siswanto., Susila., Suyanto., 2014. Metedologi Penelitian Kesehatan dan


Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Suiraoka, I.P., 2015. Penyakit Degeneratif. Yogyakarta: Nuha Medika.

Sunaryati, S.S., 2014. 14 Penyakit Paling Sering Menyerang dan Sangat


Mematikan. Yogyakarta: Flash Books.

Tanto, C., Liwang, F., Hanifati, S., and Pradipta, E.A., 2014. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi IV. Jakarta: Media Aesculapius.